
Akhirnya, Pak Dirut HGC bisa bernapas lega setelah dapat memastikan jika wanita yang telah mencuri hatinya itu kemungkinan akan berangkat ke luar negeri 3 hari lagi.
Pada hari itu sudah barang pasti Linda akan pergi ke kantor imigrasi dan kedutaan untuk mengambil dokumennya. Namun hati Agam nyatanya tetap saja tidak tenang. Ia khawatir malam ini Linda tidak tidur di tempat yang layak.
Kekhawatirannya ini dikarenakan hasil pengintaian mata-mata di hotel sekitar bandara, kantor imigrasi dan kantor Kedubes tidak ada nama artis yang ia maksudkan.
"Kamu tidur di mana?" gumam Agam.
Ia berada di kamar yang sebelumnya ditempati Linda guna untuk merasakan kemungkinan masih adanya aroma keberadaan Linda di kamar tersebut. Separah itukah dia menggilai Linda Berliana?
Kegilaan yang terkadang membuat ia tidak bisa membedakan mana cinta, dan mana nafsu.
Jujur, saat pertama kali ia bertatapan dengan Linda, hatinya memang berdesir. Sebuah desiran rasa yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Padahal, ia sudah sering bertemu dengan wanita cantik.
Dan setelah ia merasakan kenikmatan tubuh wanita itu, desiran itu bukan hanya berada di dalam hatinya, tapi telah menguasai sekujur tubuhnya.
Pria yang saat ini tengah memeluk guling itu memiliki harapan kuat agar hanya dirinyalah pria satu-satunya di dunia ini yang bisa menikmati keindahan seorang seorang Linda Berliana.
Ohh, Linda ....
Ia kembali meracaukan namanya.
Sebuah pertanyaan besar yang dulu pernah terbesit di hati Agam adalah ....
Apakah ia mencintai Linda secara tulus?
Atau ... ia tiba-tiba jatuh cinta karena telah menikmati keindahan tubuhnya yang aduhai itu?
Saat itu, Agam masih bingung membedakan antara cinta dan nafsu.
Selama Linda bersamanya, pria itu ternyata terus mencari jawaban akan pertanyaannya tersebut.
Agam takut dan khawatir jika pada kenyataannya ia hanya mencintai tubuh dan kecantikan Linda.
Jika benar seperti itu, artinya cintanya untuk Linda tidak tulus, kan?
Berarti hanya sebatas nafsu sesaat yang bisa menguap kapan saja. Setelah hasrat terpenuhi, ya sudahlah.
Jika seperti itu, lalu ... apa bedanya dia dengan lelaki hidung belang yang menyesap kupu-kupu malam?
Tidak, Agam yakin jika dirinya bukan pria seperti itu.
Begitulah seorang Agam berpikir, ia tidak ingin salah mengartikan perasaannya pada Linda. Dan saat ini ... Agam sadar jika perasaannya pada Linda adalah tulus.
Tapi ... Agam juga sadar jika ketulusannya itu terdiri dari dua komponen yang tidak bisa ia pisahkan.
Ya, betul. Dua komponen itu adalah nafsu dan cinta.
Nafsu,
Nafsu karena ia tidak munafik jika dirinya memang memiliki ketertarikan yang sangat kuat pada fisik Linda.
Agam menginginkan Linda menjadi pasangannya dalam segala hal yang berhubungan dengan aktvitas dan koneksi intimnya dalam memenuhi kebutuhan hormonal dan biologis.
Cinta,
Cinta bagi Agam adalah statement kuat yang lebih dalam dari sekedar nafsu dan seluruh retorikanya.
Agam menyadari jika nafsu dan perasaan cinta adalah hal yang sangat manusiawi.
Nafsu dan cinta adalah dua sisi yang bisa disatukan untuk menciptakan suasana romantis dalam sebuah hubungan.
Namun, pria itu sadar meskipun cinta dan nafsu berjalan beriringan, sebetulnya ada perbedaan yang nyata di antara keduanya.
Ya, ia memang tertarik pada seseorang Linda Berliana karena fisiknya yang menarik dan ternyata sesuai dengan tipe wanita yang dia inginkan.
Agam menikmati setiap sensasi dan gairah yang ia alami ketika melakukan hubungan fisik dengan Linda. Dan pada hari itu iapun mengartikan hal itu sebagai cinta.
Namun, bagaimana bila nafsu dan gairah tersebut memudar?
Bagaimana jika salah satu dari mereka menemukan orang yang lebih menarik?
Apakah Agam masih bisa mengatakan "Cinta" pada Linda?
Atau ... hanya terjebak nafsu sesaat?
Ya ampun, serumit, sepelik, dan sedalam itu ternyata pola pikir seorang Agam tentang cinta dan nafsu. Pantas saja ia tidak bisa dengan mudah menyatakan cintanya pada Linda.
.
.
.
"Bagaimana kabar kalian? Aku merindukan kalian, aku ingin mengelus perut itu dan berkata bahwa aku sangat mencintai kalian," gumam Agam sambil mengelus guling yang didekapnya.
"Maaf ... jika kesalahfahaman ini mempengaruhi kebahagiaan kalian. Linda pasti menangis. Apa kalian bisa mendengar tangisannya? Maafkan aku ...."
"Apa pantas aku menyebut diriku sebagai calon ayah?"
Agam membenamkan kepalanya pada guling itu, ada butiran bening di sudut mata indahnya. Tapi tidak sampai menetes.
Linda ... aku merindukan kamu. Kamu di mana? Kenapa kamu tidak ada di seluruh hotel yang ada di sekitar sini?
Kenapa kamu juga mematikan ponselmu? Apa kamu sengaja menghindari aku? Oke, jika kamu memang sangat ingin ke luar negeri, baiklah aku menyetujuinya. Tapi ... kita akan pergi ke sana bersama-sama.
***
Di penginapan sederhana itu ada yang sedang memeluk lututnya saraya menatap nasi, ikan dan ayam goreng yang di matanya tampak tidak menggugah selera.
Ia sudah mencoba memakannya tapi rasanya benar-benar tidak nyaman di lidahnya. Ayam goreng itu terlalu kering, dan bagi Linda nasinyapun terlalu keras.
Ia makan beberapa suap lalu minum beberapa kali karena tiba-tiba tersedak.
"Maafkan aku ya nasi, ayam goreng, aku sulit memakanmu," katanya.
Lalu tangan lentiknya mengambil ikan goreng, menekan si badan ikan beberapa kali.
"Lumayan, tidak terlalu keras," gumamnya. Mulai mencubit daging ikan tanpa hati-hati.
Dan ....
"Aaawhhh!" teriaknya saat duri ikan menusuk ujung telunjuknya.
"Emm ... sa-sakit. Huuh ... huuuh ...."
Ia meniup jari telunjuknya. Tampak jelas ada duri tertancap di sana.
"Pak Agam ...." Rintihnya. Spontan memanggil nama itu sambil memejamkan mata.
Kepala wanita cantik itu kembali menelusup di antar kedua lututnya, lalu menangis lagi.
"Huukkss ...."
Teringat saat pria bernama Agam menghisap jarinya saat terluka karena serpihan kaca. Pria itu ... bahkan menelan darah yang keluar dari jarinya.
Saat ini ... makanpun ia sudah tergantung dengan kebiasaan di rumah Agam.
Selama di rumah Agam, Linda memang sering makan ikan. Tapi ... ikan di sana telah diolah sedemikian rupa dan tentu saja tanpa ada duri, insang, sirip, patil dan sisik yang mengganggu. Linda bisa menikmati hidangan menu ikan di rumah Agam sambil memejamkan mata.
Lalu ia memberanikan diri mencabut duri itu sambil meringis, lalu secuil tetesan darah muncul, Linda menghisapnya seperti yang pernah dilakukan oleh Agam. Airmatanya kembali mengalir.
Kenapa ia selalu merasa jika Agam menyukainya?
Kenapa?
Batinnya kembali terluka. Dan ia pun tidak bisa memakan ikan itu. Lalu berkata lagi ....
"Maafkan aku ikan, aku tidak bisa memakanmu ...." Sambil membungkus kembali makanan tersebut.
Untungnya ia sudah memberi beberapa camilan dari minimarket. Termasuk membeli kesukaannya. Si manis yang dingin, meleleh dan lumer di mulut, lembut, serta disukai oleh hampir seluruh penduduk di muka bumi ini terutama anak-anak.
Dua es krim rasa buah, dan dua cup rasa coklat.
Bibir merahnya tersenyum.
"Ayo kita makan es krim saja ya sayang," ajaknya pada perut yang saat ini sudah terlihat sedikit membesar.
Ia menyingkap bajunya. Tampaklah si perut yang mulus tanpa linea nigra ataupun linea alba. Lalu mendekatkan es krim pada pusarnya. Setelah berdoa, Linda menikmati es krim itu sambil mengelus perutnya.
"Kata dokter, makan es krim bisa menaikan berat badan janin. Kalian cepat besar ya, tumbuh sehat dan terawat seperti ...."
Ia tidak berani melanjutkan kata-katanya. Karena yang ia pikirkan adalah dia. Dia yang tumbuh besar, sehat, dan terawat.
Seperti Pak Agam. Batinnya.
Dan tidak cukup memakan dua es krim rasa buah. Ia juga memakan dua cup es krim ukuran kecil dengan cara diseruput karena mulai meleleh dan mencair. Lalu memakan biskuit gandum dan susu kotak.
Alhamdulillaah ....
Segera merebahkan diri di kasur, setelah mencuci muka dan gosok gigi.
Matanya sulit terpejam. Bayangan pak Dirut memenuhi pelupuk matanya saat ia memejamkan mata.
Dan suara ini ....
'Kreket, kreket ket ket ....' Suara kipas angin sungguh mengganggu telinganya.
Tapi ... kalau tidak dinyalakan tidak nyaman juga. Kamar ini panas, dan ventilasinyapun kurang memadai.
Akhirnya ia menutup telinganya dengan bantal. Hari ini sangat melelahkan. Hati dan tubuhhya teramat lelah.
Ia mulai memejamkan mata, membawa semua kerisauan dan kesedihannya ke alam mimpi, berharap agar Yang Maha Kuasa membangunkannya kembali dan memberikannya kesempatan untuk hidup lebih baik lagi di hari esok.
.
.
.
"Hmm ... emmhh ... awwwh ... sakiiiit ....."
Linda terkejut dan meringis. Ia terbangun karena tiba-tiba merasakan perutnya mulas.
"Ya Allah ... aku kenapa ...." Mencoba untuk bangun tapi tidak sanggup.
"Huuu ... huuu ... perutku kenapa? Sakiiit ...." Linda panik dan menangis.
Dengan tangan gemetar ia meraba bagian itu dengan perlahan dan hati-hati. Terasa ada yang mengalir dari sana. Hangat, dan membasahi inti tubuhnya.
"Tidaak ...."
Ia berteriak lirih saat menarik kembali tangannya dan melihat darah merah segar menempel di jemarinya.
Linda bingung dan panik, sementara itu perutnya semakin sakit saja. Keringat halus mulai mulai muncul dari sekitar kening dan lehernya.
"Tolong ... ayah ... ibu .... perutku sakiiit," rintihnya.
Saat ini Linda tahu jika ia membutuhkan pertolongan segera. Ya, hari ini ia memang kelelahan.
Tapi ... saat ini ia sedang berusaha berjuang demi masa depan dan kebaikannya. Dia sedang bersembunyi dan menghindar dari kehidupan yang membuat hatinya terluka.
"Ya Allah ... aku harus bagaimana ...?"
Tubuh wanita elok rupa itu perlahan melengking karena semakin kesakitan.
"Ya Allah ... jangan ... jangan ambil mereka ... jangan ambil mereka. Aku berjanji akan merawatnya dengan baik ... hmm ... uhhhh huuhhh .... huumm ...."
Perlahan ia berusaha meraih tas untuk mengambil ponselnya yang dimatikan, sambil berpikir keras untuk mengambil keputusan yang rumit di saat genting seperti ini.
Jika dia menyalakan ponsel, maka Agam bisa melacak keberadaannya.
Tapi jika tidak, siapa yang akan menolongnya?
Tidak mungkin seorang artis terkenal datang ke klinik atau ke rumah sakit seorang diri dalam keadaan .... Hamil.
Sedangkan yang publik tahu dia adalah .... Lajang.
Ia ingin menghubungi sahabat baiknya, Bagas.
Tapi ... ia tidak mau mengecewakan sahabatnya dan membuatnya terkejut dengan kehamilannya. Ya, Bagas memang telah menyakiti perasannya.
Tapi ... di dalam hatinya Bagas tetaplah sahabat terbaiknya.
"Huuukkss ... Ya Allah ... kenapa Kau menempatkanku di posisi sesulit ini ...? Aku bingung Ya Rabb ...."
Ponsel sudah ada di tangannya.
Bismillaah ....
Ia menyalakan ponselnya dengan berat hati, dan terpaksa.
Tapi ... memang tidak ada pilihan lain kecuali mengorbankan perasaannya, melawan rasa malu, dan melawan keegoisannya demi menyelamatkan buah cintanya.
'Tring.'
Ponsel menyala.
Dan ....
Nun jauh di sana, salah satu layar milik manusia misterius bernama "Mister X" menyala.
"Tartas 201 detected."
"Tartas 201 detected."
"Tartas 201 detected."
"Tartas 201 detected."
Tapi ... si manusia misterius itu tengah tertidur dengan kucingnya. Dan saat tidurpun ternyata dia tidak melepas masker, topi dan kacamatanya.
Lalu ....
Di sebuah kamar megah yang letaknya sekitar lima kilo meter dari penginapan Linda, layar komputer di kamar itupun menyala.
"Tartas 201 detected."
"Tartas 201 detected."
"Tartas 201 detected."
"Tartas 201 detected."
Pesan yang sama dengan komputer si pria misterius.
Tapi ... si pemilik kamar itu sedang berada di kamar lain.
.
.
.
Hanya ada dua nomor di ponselnya. Agam dan Bagas. Mata cantik itu nyalang, pandangannya mulai berkunang-kunang. Tangan yang memegang ponsel mulai gemetar.
Dan ....
Darah segar itu terus mengalir dari sana, kini terlihat membasahi sprei dan kakinya. Merembes perlahan hingga mata kaki.
Pak Agam .... Panggilnya dalam hati.
Di saat tangannya akan memanggil nomor itu, kekuatan tangannya melemah, dan ponsel dalam genggamannya terjatuh ke bawah tempat tidur.
'PRAK.'
Suaranya begitu keras saat ponsel itu menyentuh lantai. Mungkin retak, atau bisa jadi ponselnya pecah, rusak dan mati.
Pak Agam ... tolooong ....
Ratapnya dalam hati. Bibirnya gemetar dan memucat.
Pak Agam ... maafkan aku ....
Ya Allah ... tolong hamba-Mu yang lemah, hina, dan berlumur dosa ini.
Tolong datangkan siapapun yang bisa menolongku dan calon anak-anakku.
Ibu ....
Ayah ....
Pak Agam ....
Yolla ....
Yolli .....
Bagas ....
Ia membayangkan satu persatu wajah orang-orang tersebut.
Selanjutnya bibirnya berkomat-kamit mengagungkan nama-Nya.
Ia pasrah, sabar, dan ikhlas pada apapun ketentuan terbaik dari-Nya. Matanya mulai terpejam. Tangannya berada di atas perut. Keringat di wajahnya mulai bercucuran karena menahan rasa sakit.
Linda sadar jika terkadang ekspektasi dalam menjalani kehidupan tidak selalu sesuai dengan harapan. Hal tersebut sesaat membuatnya merasa kecewa.
Namun, ia yakin jika Tuhannya akan memberikan semuanya pada waktu yang tepat. Karena segala rencana yang Tuhan miliki pastil akan lebih baik dari segala rencana yang dia susun.
Apapun yang terjadi dengan hidupnya saat ini, ia yakin jika Tuhannya telah merencanakan yang terbaik untuknya. Jika kebaikan itu tidak untuk saat ini, mungkin ... dia akan mendapatkan kebaikan di hari yang lain.
***
Agam tiba-tiba terbangun saat tersadar jika dirinya belum menjalankan ibadah shalat Isya.
Astaghfirullaah.
Langsung beranjak sambil meraih ponselnya yang diletakkan di bawah bantal untuk bergegas ke mushola.
Tapi ... ia seperti melupakan sesuatu di kamarnya.
Kaki pria itupun berbelok menuju kamarnya sebelum ke mushola.
Dan ....
Terkejut sempurna saat melihat tampilan di layar.
"Tartas 201 detected 8 minutes ago."
"Tartas 201 detected 8 minutes ago."
"Tartas 201 detected 8 minutes ago."
"Tartas 201 detected 8 minutes ago."
Dengan tangan gemetar Agam segera mengecek lokasi diteksi.
"Argh, mister X!" teriaknya kesal. Karena seharusnya info itu langsung terkoneksi ke ponselnya.
Search ....
Dan ....
"Detected."
Terdeteksi lokasi terakhir si pencuri hatinya ada di sebuah penginapan sederhana.
"Damn it!" dengusnya kesal tapi juga bahagia. Bibirnya tersenyum bangga, tapi jantungnya meronta.
Kini tiba saatnya ia beraksi.
Tunggu, Agam menghentikan langkahnya.
Sekarang pukul 01.42 pagi.
Apa harus dirinya memaksakan diri menangkap Linda? Linda pastinya sedang tidur, kan?
Tapi ... aku ingin segera bertemu denganmu sekarang juga. Batinnya.
Apa boleh?
❤❤ Bersambung ....