AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Aqiqah Keivel [Visual]



Tibalah hari ini, atau tepat 40 hari lahirnya Keivel Agler Alf B. Buana, dan mendiang Khalil Agler Ale B. Buana andai bayi tersebut tidak meninggal dunia karena keguguran.


Acara diadakan dengan mengundang 300 anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan dan yayasan. Digelar besar-besaran. Keluarga Linda tidak menyangka jika Agam akan menggelar rangkaian acara dan hidangan mewah sefantastis ini. Tamu undangan berdecak kagum.


Yang hadir adalah keluarga Linda dan rekan sejawat Ayah Berli yang merupakan sesama pedagang buah. Selebihnya adalah para tetangga sekitar perumahan mewah itu dan tetangga jauh. Yaitu tetangga Ayah Berli di rumah lamanya.


Banyak para undangan yang terkejut saat mereka menyadari jika tuan rumah yang mengundang mereka adalah mantan penyiar televisi sekaligus bintang iklan yang kontroversial karena kasus pemerkosaan itu. Kakagetan mereka kian bertambah saat pelaku pemerkosaan itu yaitu Dirut HGC, ada di hadapan mereka.


Aqiqah merupakan sebuah ajaran dan tradisi dalam Agama Islam yang menandakan lahirnya seorang anak ke dunia. Acara aqiqah biasanya cukup dilakukan dalam satu hari dengan serangkaian proses yang harus dijalani sang anak bersama kedua orang tuanya.


Di dalam tata cara aqiqah yang disunnahkan tersebut terdapat juga syarat wajibnya.


Salah satunya yakni penyembelihan hewan ternak seperti kambing. Dua kambing untuk anak laki-laki, dan satu kambing untuk anak perempuan. Usai dilakukan penyembelihan tersebut, daging hewan ternak kemudian dapat dibagikan kepada sanak saudara hingga tetangga di sekitar rumah.


.


.


Agam dan Linda tampil sederhana namun elegan, mereka menjadi pusat perhatian. Linda berhijab, menghasilkan decak kagum tamu udangan.


Bayi Keivel sebagai pemeran utama acara ini tentu saja tak mau ketinggalan. Dia tampil bak pangeran kecil yang memesona. Bajunya berkerlap-kerlip. Memakai peci dan sorban. Oh, lucunya.


"Berdasarkan istilahnya, aqiqah merupakan proses kegiatan menyembelih hewan ternak yang dilakukan pada hari ke tujuh usai bayi dilahirkan ke dunia. Tujuannya untuk memanjatkan doa dan rasa syukur. Di negara kita biasa dilakukan pada hari ke 40 dari bayi lahir, hal ini tidak perlu menjadi perdebatan," ucapa Pak Kyai.


"Ungkapan syukur itu sebenarnya bukan berarti harus syukuran besar-besaran seperti ini. Wujud sykur yang paling utama ialah mentaati dzat Sang Pencipta dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."


"Untuk acara sebesar ini, agama kita tidak memaksakan, ini hanya dilakukan bagi mereka yang mampu saja. Kebetulan Pak Agam Ben Buana diberi rizki yang berlimpah, jadi beliau mampu melaksanakan acara sebesar ini," tambahnya.


Agam dan Linda menyimak, pun dengan yang lain. Bayi Keivel malah tertidur nyaman di pangkuan Parennya. Dokter Rita dan suster duduk di belakang Agam dan Linda. Ayah Berli dan Bu Ana mengapit Agam dan Linda. Yolla dan Yolli membaur dengan sebayanya.


Hikam sibuk kesana kemari, kali ini sedang mengarahkan seksi prasmanan atau buffet.


Ia memang dipilih Agam untuk menjadi ketua panitia acara ini. Yuli ada di barisan belakang, ia tidak jadi dipecat. Linda dan Bu Ana memberikan kesempatan terakhir pada wanita itu untuk memperbaiki sikap.


"Pemotongan hewan aqiqah yang telah ditentukan memang dilangsungkan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi. Tapi, sedekah dari daging hewan yang dipotong pada acara cukur rambut pada hari lainpun misal di hari ke-40, tetap menjadi unsur dari amal shaleh sebagai sedekah selama niatnya ikhlas."


"Sebelum dilanjutkan ke acara pemotongan rambut, apa Pak Agam atau Pak Berli mau menyampaikan sepatah dua patah kata?" tanya Pak Kyai.


"Ayo Pak Dirut," bujuk Ayah Berli.


"Ya cinta," bisik Linda.


"Hah? Apa harus?" Agam sedikit gugup.


"Ayo dong, Pak." Linda membujuk lagi. Lalu mengambil Keivel dari pangkuan Agam.


"Baiklah."


Agam akhirnya berdiri. Suasana saat ini tentu saja berbeda. Ia bukan berbicara di hadapan para manajer, direktur, ataupun dewan direksi, melainkan ibu dan bapak yang tidak ia kenal, dan tatapan polos yang terpancar dari mata suci anak-anak yatim piatu.


"Assalamu'alaikuum. Wr. Wb. Terima kasih atas kesempatannya, dan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan. Pada kesempatan kali ini sebenarnya banyak yang ingin saya katakan, tapi ... saya tidak percaya diri."


"Anak-anak yang hadir di sini, mungkin tidak tahu-menahu tentang saya. Tapi ... saya yakin jika di antara bapak dan ibu sekalian banyak yang tahu tentang saya dan keburukan saya."


Agam berbicara seraya menunduk. Linda memegang tangan Agam. Ia tahu perasaan seperti apa yang dirasakan Agam pada saat ini.


"Bapak, ibu dan anak-anak sekalian, saya bukan orang baik, kalau suatu hari kalian mengetahui berita tentang saya, jika itu hal yang negatif tolong jangan ditiru."


"Untuk Keivel, bagi saya, kamu begitu berharga. Tapi tolong jangan jadi seperti saya. Tidak ada hal baik yang bisa ditiru dari saya. Suatu hari, Keivel juga pasti akan tahu sisi buruk saya."


Tamu undangan terdiam. Ya, mereka tahu jika Agam memperkosa Linda. Linda memegang tangan Agam kian erat. Airmatanya berderai, terharu.


"Keivel harus jadi anak yang berguna bagi orang-orang di sekitar. Jangan takut melangkah, jangan takut jatuh, karena saya akan senantiasa menjaga dan melindungi kamu."


"Oiya, maafkan Paren jika selama ini kurang memperhatikan kamu. Saya sebetulnya sangat memperhatikan kamu, hanya saja caranya berbeda dari Momca. Emm, Momca itu istri saya, LB," terang Agam. Disambut senyuman tamu undangan.


Agam memangku Keivel kembali. Microphonenya dipegang Ayah Berli.


"Ketika dia terlahir ke dunia, betapa bersyukurnya saya atas semua karunia yang diberikan-Nya. Dalam perasaan bersedih dan merasa bersalah itu, saya lebih banyak diam karena memang tak pandai untuk menangis. Saya menangis di dalam hati karena sadar jika saya bukanlah sosok ayah yang baik, dan tidak pantas ditauladani."


"Tapi ... saya ingin membuat dia bangga, meski yang terjadi tak selalu sama dengan apa yang saya harapkan. Maafkan saya karena tidak bisa seperti paren atau ayah teman-temanmu, tapi ... saya berjanji untuk memberimu semua hal terbaik yang bisa saya berikan sebelum saya kembali kepada-Nya." Agam menatap Keivel, ia mengelus pipi Keivel yang masih terlelap.


"Keivel, setiap orang punya masa lalu, termasuk Paren. Tolong jangan mempermasalahkan masa lalu Paren, ya ...."


Agam sejenak mengatupkan bibirnya, ia berharap, suatu hari nanti Keivel bisa melihat dan mendengar apa yang ia ucapkan saat ini. Agam tahu, jika di antara tamu undangan ada wartawan yang membidiknya dengan ponsel mereka.


"Di masa depan, Keivel harus hati-hati pada pujian, pujian jangan membuat Keivel menjadi sombong. Kamu adalah gantengnya Paren. Paren akan berdoa agar kamu selalu bahagia setiap harinya. Jadilah anak yang sholeh, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab."


"Dan harapan terbesar saya adalah ... Keivel bisa menolong saya dan Linda dari panasanya api neraka. Bisa menjadi wasilah penyambung amal dan doa yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, aamiin."


Diamini juga oleh tamu undangan.


"Saya rasa cukup, terima kasih. Wassalamu'alaikuum. Wr. Wb."


"Waalaikumussalaam. Wr.Wb." Dijawab serempak oleh seluruhnya.


"Apa ada harapan dari Pak Agam untuk Bu Linda?" goda Pak Kyai, ia tahu jika sedari tadi Agam dan Linda selalu menatap penuh cinta dan berpegangan tangan.


"Emm," Linda dan Agam jadi salah tingkah. Melepas pertautan tangan mereka.


"Sekarang bagian LB," celetuk salah satu tamu dari kalangan ibu-ibu, entah siapa.


"Harapanku, Keivel tumbuh jadi anak yang sehat, sholeh, cerdas, dan berguna," kata Linda saat mike diarahkan kepadanya oleh Ayah Berli.


"Aamiin."


"Pak Agam yakin tidak ada pesan untuk istri tercinta?" Pak Kyai rupanya masih menggoda.


Inikan acara aqiqah, masa harus ada pesan untuk istri segala? Batin Agam.


"Katakan yang singkat saja, Dirut," bujuk Ayah Berli.


"Oh, ehm ... untuk istriku yang cantik, terima kasih telah melahirkan Keivel, jadilah ibu yang kuat dan tangguh. Kuat menghadapi kekurangan saya, dan tangguh membesarkan Keivel sampai dia menjadi anak yang sukses," kata Agam sambil merapikan jilbab Linda.


Para hadirin senyum-senyum. Ayah Berli dan Bu Ana merasa bahagia. Saat diberi kesempatan untuk bicara, Ayah Berli menolak. Pun dengan Bu Ana.


.


.


Acara selanjutnya adalah potong rambut. Setelah doa terpanjat, shalawat menggema dilantunkan oleh anak-anak yatim dan para tamu saat bayi Keivel dipangku oleh Agam berjalan berkeliling mendatangi para tamu yang akan memotong rambut Keivel.


Agam menjadi yang pertama memotong, Ayah Berli yang kedua. Syukurlah, walaupun suasana saat ini bising, tapi bayi Keivel tidak rewel ataupun menangis. Tetap tertidur, dan sesekali tampak tersenyum dalam lelapnya. Konon, bidadari tengah mengajaknya bermain.


Ada juga yang mengatakan bayi tertawa saat tidur karena bayi sedang bermain dengan ari-arinya. Sementara sebagian orang lagi mengaitkannya dengan kehadiran makhluk halus.


Namun para ahli menduga bahwa hal itu terjadi karena gerak refleks, dan bukan respons atas hal-hal eksternal maupun respons emosi.


Refleks tersebut sama seperti refleks lain seperti gerakan mengisap atau mencari puting sang ibu. Fungsi refleks senyum ini berperan penting untuk perkembangan dan fungsi sistem saraf pada bayi.


"Tampan sekali."


"Lucu sekali."


Decak kagum terlontar dari para tamu.


.


.


Setelah acara potong rambut, dilanjutkan dengan acara santunan pada anak yatim. Lanjut makan malam bersama yang diiringi musik dan lagu religi.


Linda sebenarnya ingin bernyanyi, tapi tangan posesif itu menahannya.


"Jangan sayang, kamu hanya boleh bernyanyi jika saya mengizinkan," larang Pak Dirut.


"Iya," jawab Linda.


Keivel sudah dibawa ke kamar lagi oleh dokter Rita karena bayi lucu itu berkali-kali menggeliat sambil buang angin. Suara buang anginnya terdengar imut dan lucu, membuat Agam dan Linda terkikik.


"Saya bawa ke atas ya Pak, Bu," kata dokter Rita.


"Kenapa?" tanya Agam.


"Ini sudah ada pertanda kalau Keivel mau buang air, Pak," jelas dokter Rita sambil tersenyum.


"Kalau bayi, mau buang air juga lucu ya, beda dengan orang dewasa," sela Hikam pada saat itu.


"Ya iyalah, jangan disamakan!" sentak dokter Rita pada Hikam.


"Hei, dokter Rita, Anda kenapa sih? Perasaan, kalau Anda bicara denganku selalu saja dengan nada marah. Salah aku apa, hah?! Heran deh," kata Hikam.


"Salah kamu itu banyak," timpal dokter Rita sambil berlalu.


"Apa?! Maksudnya?!" teriak Hikam.


Pada saat itu, Agam dan Linda saling menatap. Interaksi antara Hikam dan dokter Rita seperti ada sesuatu. Linda tersenyum saat mengingat kembali momen itu.


"Dokter Rita sudah punya pacar belum, Pak?"


"Kenapa kamu bertanya itu? Ya saya tidak tahu lah." Mengambil lagi kudapan itu sambil memperhatikan bentuknya.


"Kalau dokter Rita sama Hikam, menurut Bapak cocok tidak?"


'Nyam, nyam, nyam.' Sembari menautkan alisnya.


"Emm, cocok-cocok saja, Hikam tampan kok, badannya juga bagus, tinggal teratur olah raga dan mengolah tubuh," jawab Agam.


"Ish, Pak Agam. Memangnya dokter Rita tidak suka pada yang tinggi tapi sedikit kurus? Jangan sok tahu," ejek Linda.


"Hahaha, sayang dengar ya. Berdasarkan hasil penelitian, 90 persen wanita itu menyukai pria yang tubuhnya seperti saya. Dokter Rita juga pasti termasuk," bisik Agam.


"Ish, Belum tentu tahu. Temanku ada kok yang tidak suka dengan pria roti sobek. Katanya, yang memiliki roti sobek itu terlihat sangar, angkuh dan sok mendominasi."


"Hahaha, halah, itu hanya speak dia saja sayang. Dari hasil penelitian lagi ni, katanya wanita yang tidak suka pria six pack, justru memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi pada pria six pack. Mereka hanya sedikit takut dan ragu saja."


"Jadi pada dasarnya semua wanita suka dengan pria yang berpostur ideal dan memiliki roti sobek, khususnya kamu. Kamu suka sekali kan belai-belai badan saya? Hahaha," goda Agam. Sambil mengambil kembali kudapan berwarna putih itu untuk yang kesekian kalinya.


"Apa?" Linda mencubit perut pejal Agam. Pipinya merona.


"Sayang, ini kue apa sih? Enak, saya suka."


"Oh, ini namanya kue bangkit susu," jelas Linda.


"A-pa?!" Pak Dirut kaget hingga sejenak berhenti mengunyah.


"Nama lainnya sagon susu, Pak. Kenapa memangnya?" Linda keheranan.


"Tidak apa-apa sayang, saya hanya bertanya. Setelah dipikir-pikir, saya memang sangat menyukai makanan yang berbahan dasar susu."


"Oh, pfft."


Linda menutup bibirnya. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Yang jelas, pipinya kembali merona.


.


.


Rangkaian acara hampir usai. Sekarang sedang berlangsung acara ramah-tamah. Linda dan Agam menyalami anak yatim, tak lupa mencium tangan dan kepala mereka.


"LB cantik dan baik, semoga sehat selalu dan panjang umur," ucap salah satu pengurus panti.


"Pak Agam dan LB pasangan serasi. Semoga rizkinya berkah dan melimpah ruah," kata yang lain.


"Aamiin, terima kasih," sahut Agam dan Linda.


Dan merekapun berangsur pulang satu persatu, berkelompok hingga seluruhnya. Yang tersisa hanya jejak-jejaknya saja. Tim aqiqah organizer kembali sibuk merapikan sisa acara. Bu Ana dan Pak Berli masih berbincang dengan handai tolan yang belum pulang.


Agam segera menuntun Linda ke sana. Ke mana lagi kalau bukan ke kamar.


"Pak Agam, kita tidak makan dulu?"


"Makan dong." Menuntun Linda menaiki tangga.


"Kok tidak ke dapur?"


"Di dapur masih banyak pekerja, El. Saya sudah menyuruh seseorang untuk membawakan makan malam kita ke kamar."


"Baiklah."


Tidak ada alasan untuk tak patuh. Linda menyeimbangkan diri dengan langkah Agam.


"Pak Agam, aku mau lihat Keivel dulu," kata Linda saat melewati kamar Keivel.


"Nanti saja sayang, Keivelnya juga pasti sedang tidur," sangkalnya.


"Ya ya ya," Linda mengiyakan.


Oiya, seperti inilah penampilan sederhana Linda dengan jilbabnya. Masih jauh dari kata sempurna, tapi setidaknya, ia ada sedikit perubahan ke arah yang lebih baik.


Cantik dan menggemaskan bukan? Jadi wajar kalau Agam Ben Buana dimabuk asmara tiap detiknya.



...❤...


...❤...


...❤...


"Seluruh makanannya lezat sekali. Malam ini saya benar-benar harus bekerja keras membakar kalori," ucap Agam setelah ia selesai santap malam.


"Apa Anda ingin makanan yang lain?" tanya pelayan yang sedang membereskan piring.


Linda masih asyik menikmati menu cuci mulut.


"Saya lihat tadi ada es krim. Kalau masih ada bawakan ke seni ya," titahnya.


"Baik, Pak. Masih ada kok. Tadi tidak dibekalkan semua pada anak yatim. Oleh pak Hikam, saya disuruh menyimpan sebagian kecilnya untuk si kembar Yolla dan Yolli," jawab pelayan.


"Baik, yang lainnya rapikan saja. Es krimnya untuk dua porsi ya," kata Pak Dirut.


"Siap, Pak." Pelayan itu dan dua orang temannya berlalu.


.


.


Beberapa saat kemudian, es krim pun datang.


"Terima kasih," ucap Agam.


"Sama-sama Pak, kami permisi."


Agam berniat memakan es krim itu bersama Linda. Lindanya masih berada di kamar Keivel, sedang memberi ASI.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Agam. Entah sedang menelepon siapa.


"Lusa saya ke kota, saya mau bawa anak dan istri saya. Siapkan saja semuanya. Untuk jadwal penyerangan, nanti saya jadwalkan lagi."


Agam mengakhiri panggilan saat Linda masuk ke kamar.


"Halo sayang," katanya sambil melepaskan jilbab Linda.


"Ya," jawab Linda singkat.


"Sayang, kamu tahu itu apa?" Agam menujuk pada dua cup es krim di atas meja.


"Itu es krim, kenapa?" Linda acuh tak acuh. Fokus mengganti pakaian.


"Mari kita bereksperimen dengan es krim itu sayang," ajaknya sembari bergelayut di punggung Linda.


"Hahh, ma-maksudnya?"


"Kamu tidak mengerti maksud saya?"


"Be-belum Pak. Belum mengerti." Perasaan Linda sudah tidak enak. Pak Dirut pasti ada maunya.


"Kalaupun kamu belum mengerti, jangan khawatir, akan saya ajari." Agam memeluk Linda, dan tangannya segera bergerilya.


"Pak, ja-jangan ...."


"Ssst, jangan membantah sayang, nanti es krimnya keburu dingin."


"Hah, es krim kan dingin Pak."


"Oiya, maksud saya meleleh."


"Ayo sayang, saya tidak sabar. Ini perdana, saya belum pernah melakukannya."


"Hah, terus Pak Agam terispirasi dari mana?"


"Dari film." Eh, Agam menutup bibirnya.


"Hah, dari film apa? Bukan film biru kan?" duga Linda.


"Hahaha, bu-bukan sayang. Hanya film komedi romantis, serius," tegasnya.


Apa yang akan dilakukan Agam? Entahlah.


...~Tbc~...