AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Episode Spesial; Pengantin Baru



Kini, pria berkulit seputih salju itu menyadari jika pernikahan sudah semestinya dilakukan hanya sekali dalam seumur hidup. Ia bersyukur karena bisa memulai mengarungi bahtera rumah tangga bersama orang yang ia sayangi.


"Seani Benazir Imshani. Namamu sungguh cantik. Secantik hati kamu."


Ia kembali mencium kening wanita pujaan hati yang kini sudah menjadi istrinya seraya mengingat kembali nasihat pernikahan yang disampaikan oleh penghulu.


"Menikah adalah separuh perjalanan ketakwaan kepada Allah dan bagian dari sunah Rasulullah. Istri adalah tulang rusukmu, ia bukanlah wanita yang bisa engkau suruh-suruh. Perlakukanlah ia dengan kelembutan, maka ia akan lebih lembut dari perlakuanmu."


"Menikah adalah ibadah terpanjang dan terlama. Karena dengan menikah, engkau akan menyempurnakan setengah perjalanan agama dan kehidupanmu. Tiada satu pun cara yang dapat menyatukan dua manusia yang sedang jatuh cinta kecuali dengan menikah."


"Berumahtanggalah dengan agama, ilmu, dan sifat saling percaya sebagai pilarnya. Jauhilah kecemburuan dan saling curiga karena akan menjadi rayap bagi bangunan yang kukuh sekalipun."


"Seorang suami dapat menjadi pintu surga bagi istrinya sebagaimana ia dapat pula menjadi pintu neraka untuk istrinya. Tiada komunikasi terindah kecuali komunikasi dan saling menyapa antara suami dan istri."


Yohan dan Sea masih berada di kamar hotel. Setelah melaksanakan shalat Subuh berjamaah, mereka bergelung kembali di balik selimut.


...❤...


...❤...


...❤...


Pagi ini, Pulau Jauh diguyur hujan lebat. Jalanan kota nyaris menggelap karena kabut, bahkan lampu jalanpun masih dinyalakan. Sebagian mobil menepi, atau terus melaju dengan kecepatan lambat.


Pejalan kaki memakai payung, yang menggunakan rok berjalan perlahan karena hujan kali ini disertai dengan hembusan angin yang lumayan kencang.


Di warung-warung sisi jalan, tampak sekelompok bapak-bapak tengah berbincang sambil beradu asap dan menikmati kopi hitam pekat. Entah apa yang mereka perbincangkan, biasanya 'sih seputar politik.


...❤...


...❤...


...❤...


Mari kembali lagi ke kamar pengantin. Semalam, Yohan baru bisa menikmati bibir ranum istrinya. Itu juga harus dengan perjuangan. Sebab ternyata, Sea berontak, tertawa-tawa dan meminta Yohan untuk segera mengakhirinya.


"Ge-geli Tuan Yo, a-aku tak sanggup," ucap Sea kala itu.


Hal itu membuat Yohan sedikit putus asa. Padahal, ia ingin segera merenggut mahkota indah yang dulu pernah dicicipinya.


Rasa yang dulu pernah tercipta, terus memanggil jiwanya. Namun, ia tak tega melihat wajah polos itu mengiba. Akhirnya, membiarkan Sea melanjutkan tidurnya hingga azdan Subuh berkumandang.


Sayang seribu sayang, setelah shalat Subuh berjamaah, istri belianya itu malah kembali tertidur.


"Di luar hujan, Tuan Yo. Enak lho kalau kita tidur lagi," ucap Sea sebelum ia mengurung sekujur tubuhnya dengan selimut.


Yohan tersenyum, tingkah Sea membuatnya kembali mengingat akan kehidupan gelap dan kelam di masa lalunya. Ia beristighfar, lalu kembali memeluk Sea dengan penuh rasa syukur. Sebab, wanita muda ini telah berhasil mengubah hidupnya seratus delapan puluh derajat.


"Sarapannya sudah siap, Tuan," seru seseorang dari luar kamar.


"Biarkan di depan kamar, aku akan makan di kamar saja," jawab Yohan.


Lalu beranjak, membuka pintu, dan menarik meja yang di atasnya telah terhidang berbagai jenis menu sarapan pagi.


Ia mendekatkan meja saji itu di dekat tempat tidur. Asap yang mengepul dari sup, perlahan mencapai hidung Sea. Wanita muda itu menghidu-hidu dalam keadaan mata masih tertutup. Kemudian terbangun dan mencari arah bau sambil mengendus.


"Hahaha," Yohan tak kuasa menahan tawa. Segera menghadang wajah Sea dengan wajahnya.


"Tu-Tuan?" Sea membuka mata dan kaget sebab hidungnya malah menabrak bibir Yohan.


"Mari sarapan," ajak Yohan.


Harapannya, setelah sarapan, Sea bisa melayaninya. Serius, ia sudah tak sanggup menanggung beban biologis ini. Ingin segera dilampiaskan.


"Banyak sekali. Ini tak akan habis untuk kita berdua, Tuan. Lain kali, aku tak perlu makanan sebanyak ini. Secukupnya saja ya." Sea protes sambil mengecek menu satu-persatu.


"Maaf," ucap Yohan pelan.


Saat ini, ia sebenarnya tak ada selera untuk makan. Sebab, bukan makanan itu yang ia mau. Yohan maunya makan Sea. Sabar .... ratap Yohan dalam benaknya.


"Yuk pimpin doa, Tuan," ajak Sea.


Yohan patuh, setelah Sea mengamini doanya, merekapun makan dalam keheningan. Hanya suara kecapan dari kunyahan mereka yang terdengar, serta suara yang berasal dari dentingan sendok dan piring.


Setelah makan, Sea nangkring di balik jendela. Ia menyibak sedikit tirai. Menatap curah hujan yang berjatuhan.


Yohan mendekat, gaun Sea yang menerawang begitu menusuk mata. Akhirnya, ia mendekati Sea dan memeluknya dari belakang. Secara tidak langsung, sedang menyadarkan Sea jika saat ini ada sesuatu yang tengah menantikan kepedulian dan belaiannya.


Sea terkejut, ia menelan salivanya, gugup. Tangannya yang memegang ujung tirai gemetar. Pemandangan di depan mata yang berkabut, mengingatkannya akan kejadian itu. Kejadian mengerikan di mana ia harus rela kehilangan kesuciannya dengan cara yang begitu keji dan menyakitkan.


Perlahan Sea menunduk, menatap tangan putih bersih yang tengah melingkar di pinggangnya.


Tangan itu ... dulu pernah menyakitinya, menjamah tubuhnya tanpa ampun dan semena-mena, serta merenggut mahkota yang selama ini ia jaga.


Mata beningnya berkaca-kaca. Ya, Yohan memang sudah menjadi suaminya. Tapi, kisah pilu itu kembali mengusik relung hatinya tanpa bisa dicegah.


'Tes.'


Cairang bening dari pelupuk mata Sea mengalir, lalu membasahi tangan Yohan. Yohan terkejut. Batinnya seolah ditoreh.


Apa Sea belum benar-benar menerimanya? Apa Sea belum memaafkannya? Apakah Sea menyetujui pernikahan ini karena terpaksa?


"Se-Sea ...."


Yohan melepas dekapannya. Ia mundur, lantas bersimpuh menghadap Sea yang masih membelakanginya. Yohan teramat ketakutan. Takut sendirian lagi, takut ditinggalkan lagi, dan takut terjerembab kembali ke dunia yang gelap itu. Ia tertunduk. Siap menerima apapun keputusan Sea.


Sea membalikan badan perlahan. Ia mendekati Yohan, lalu memegang bahunya. Dengan lirih ia berkata ....


"Kenapa berhenti memelukku, Tuan? Apa tubuhku kurang hangat?" Yohan mengangkat kepalanya perlahan.


"A-apa kamu tak marah? Aku malu sama kamu Sea. Aku 'kan ---."


"Ssst, apa yang membuat Tuan malu?"


"Tapi, kamu menangis Sea."


"Ya, aku memang menangis."


"Lalu, apa yang membuatmu menangis?" Yohan menatapnya lekat.


"Aku menangis karena teringat pada peristiwa awal mula pertemuan kita, Tuan. Hanya itu."


"A-apa kamu masih membenciku?" Memegang tangan Sea.


"Tentu saja tidak Tuan. Ya, aku memang mengingat kembali momen itu, tapi bukan berarti aku membencimu. Kalau aku membenci Tuan, aku tak mungkin menerima Tuan untuk menjadi suamiku."


"Be-benarkah?"


Sea mengangguk. Yohan lantas memeluknya.


"Aku tak percaya diri Sea. Aku khawatir. Terima kasih karena kamu mau menerimaku yang hina ini. Masa laluku buruk, tapi kamu tak merasa jijik." Sekarang, Yohan membopong tubuh Sea menuju sofa.


"Tuan Yo, Islam amat melarang sepasang suami istri mengungkit masa lalu, terutamanya yang berkaitan dengan kemaksiatan. Suami istri tidak perlu menjelaskan masa lalu masing-masing. Malah, jika difikirkan dengan baik-baik, apakah faedahnya jika kita mengungkit masa lalu pasangan? Kurasa, hanya akan membuat kegaduhan, bahkan dapat menimbulkan perceraian."


"Lagi pula, kita tak bisa menilai keburukan seseorang di masa lalu sebagai perbuatan yang memalukan ataupun semena-mena menjudgenya. Kenapa demikian? Karena boleh jadi, keburukan di masa lalu itu telah diampuni karena pelakunya sudah bertaubat."


"Bisa jadi, di hadapan Tuhan, orang yang masa lalunya buruk, malah lebih mulia karena taubatnya diterima." Sea berbicara seraya menyandarkan kepalanya di bahu Yohan.


"Aku kagum sama kamu, Sea. Tuhan Maha Baik, di saat aku tak memiliki kepercayaan diri untuk melanjutkan hidup hingga prustasi dan bekerja sama dengan perompak, aku malah menemukan kamu. Maafkan aku yang dulu, Sea. Saat itu, hidupku dipenuhi oleh bara dendam. Aku memiliki dendam kesumat pada salah satu petinggi militer di angkatan laut. Dia adalah orang yang memfitnahku."


"Tuan Yo, tak baik menyimpan dendam. Dalam hukum Islam pertikaian seorang muslim lebih dari tiga hari kepada sesama muslim lagi adalah perbuatan yang tidak halal, bahkan dapat mendatangkan dosa."


"Ya, Sea. Aku juga pernah mendengarnya. Aku sudah memaafkan orang yang memfitnahku." Lalu ia menghidu rambut Sea. Yohan tak bisa lagi merangkai kata untuk mengungkap rasa cinta dan terima kasihnya pada Sea.


"Tuan." Sekarang, Sea merebahkan kepalanya di pangkuan Yohan.


"Ya?"


"Apa yang harus kita lakukan? Kata Tuan, acara jalan-jalan kita ditunda dulu karena hujan lebat."


Serius, Yohan tidak nyaman, kepala Sea mengganggunya. Spontan menyentuh bagian tubuh Sea karena gemas.


"Tuan Yo! Issh, geli. Jangan sentuh di bagian itu."


Sea bergidik. Yohan kembali menghela napas. Seperti ini ternyata rasanya menahan gejolak.


Apa ini karma?


Dulu, ia sering menjahili wanita-wanita minim moral dengan obat kuat dosis tinggi. Lalu membiarkan wanita-wanita itu tersiksa dan memohon kepadanya untuk dipuaskan. Namun Yohan tak melakukannya. Melainkan hanya menontonya dan tertawa-tawa.


"Aku geli kalau disentuh di bagian ini, ini, ini, dan ini, ini, ini." Menunjukkan bagian-bagian itu.


"Wah, banyak sekali. Oiya, aku bisa melakukan sesuatu untuk menyembuhkannya. Ke depannya, tak akan geli lagi." Berbisik sambil mencium pipi Sea.


"Begini," Yohan mengulum senyumnya. Ia memangku Sea ke tempat tidur.


"Tapi, kamunya harus ikhlas. Kalau kamu tidak ikhlas dan patuh, lebih baik jangan."


"Ya Tuan, aku ikhlas. Yang penting penyakit geliku hilang."


"Hahaha,"


Yohan tertawa lepas. Baru kali ini ia mendengar istilah penyakit geli. Ia heran, apa Sea benar-benar tak sadar sedang diperdaya? Atau ... mungkin saja ini cara Sea untuk menyembunyikan kegugupannya. Pikir Yohan, usia 20 tahun dan sudah lulus sekolah, pastinya sudah tahu dan mengenal ilmu pengetahuan tentang sistem reproduksi dan sejenisnya.


...❤...


...❤...


...❤...


Dramapun berlanjut.


"Sekarang kamu tiduran ya. Terlentang oke? Anggap saja kalau aku adalah dokter spesialis ahli geli."


"Ba-baik," jawab Sea. Pipinya merona.


"Pasien geli harus diikat dulu. Apa kamu bersedia? Kalau kamu tak mau diikat, tak masalah. Asal jangan berontak atau melawan. Bagaimana?"


"I-ikat saja Tuan," jawab Sea. Sekarang tubuhnya mulai panas dingin. Ia tahu suaminya akan melakukan apa.


"Aku akan bereksperimen. Tenang ya istriku."


Yohan mengambil dasi. Lalu mengangkat dan mengikat kedua tangan Sea di atas kepala wanita muda itu. Napas Sea naik turun. Jantungnya berdebar. Perasaannya kacau-balau kala Yohan mulai menciumi lehernya.


Saat ia hendak beteriak karena geli. Yohan membekap bibirnya dengan kecupan mematikan. Membungkam bibirnya dengan kehangatan dan kelembutan. Sea memejamkan mata. Kakinya meronta mengacak sprei, hingga si guling menggelinding ke lantai.


Baru juga Sea bisa bernapas lega, bibir Yohan kembali berulah. Kali ini ke bagian itu. Lagi, saat Sea hendak beteriak, ia kembali dibungkam. Sea meremang.


Kini ... Sea sedikit terbiasa. Lalu membelakan mata saat tangan seputih salju itu berusaha melepas busana yang ia gunakan.


"Tu-Tuan ...."


"Ssstt, pasien tak boleh protes." Yohan menyeringai.


"Ta-tapi Tuan ...."


"Pejamkan matamu, katupkan bibirmu, oke?" bisiknya.


"Tuan, to-tolong tutupi mataku. Tutupi mulutku juga. Kalau perlu, kakiku juga boleh Tuan ikat."


"A-apa?!" Yohan melongo. Sea seolah tengah menantangnya.


"Benar Tuan. Daripada Tuan tak nyaman dengan teriakanku, atau terganggu dengan bahasa penolakanku, lebih baik ikat saja."


"Ta-tapi Sea." Sekarang Yohan yang gugup.


"Cepat lakukan Tuan. Jangan sampai aku berubah pikiran," tegasnya.


"Baiklah, tapi, hanya menutup matamu. Aku janji tak akan merasa terganggu walaupun kamu beteriak ataupun memakiku."


Ia mengabulkan permintaan Sea. Menutup matanya dengan sapu tangan. Sea merasa lega, setidaknya, ia tak akan melihat hal yang bisa membuatnya ketakutan. Sungguh, ia belum melupakan sesuatu yang mengerikan itu.


Yohan melanjutkan aksinya. Melakukan hal yang sejak semalam ia inginkan. Berulang kali Sea meronta dan beteriak. Namun hal itu, tak membuat Yohan mengurungkan niatnya. Sebab, saat Yohan sejenak berhenti, Sea bergumam ....


"La-lanjutkan Tuan ... ja-jangan berhenti."


"A-apa kamu yakin?" tanya Yohan. Ia menatap yang elok dipandang itu dengan mata berbinar. Dengan jakun yang begerak karena menenelan saliva.


"Ya, Tuan ...."


"Kamu menyukainya?" bisik Yohan.


"Emmh ... a-aku tidak tahu," jawab Sea pelan.


"Apa harus aku mengikat kakimu?"


"Y-ya Tuan, ikat saja."


"Sepertinya tak perlu diikat, aku bisa menahanmu. Apa kamu lupa? Aku klan Haiden. Aku kuat."


Sea tak menjawab. Ia pasrah saat Yohan kembali menikmati setiap detail tubuhnya.


Hingga ....


Sea lepas kendali dan tak bisa menolak terjangan perasaan itu. Tubuh Sea gemetar hebat. Tak sadar m e n d e s a h, melenguh, dan memanggil nama Yohan dengan nada yang membuat dirinya sendiri terkejut dan merasa malu.


Yohan tersenyum. Setelah Sea tenang, ia melepas penutup mata dan ikatan di tangan Sea. Sea membuka mata perlahan seraya mengatur napas. Karena teramat malu, iapun menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Bagaimana rasanya, hmm?" tanya Yohan. Sebuah pertanyaan yang tak akan dijawab Sea sampai kapanpun.


...❤...


...❤...


...❤...


Hujan masih mengguyur saat kedua insan itu terombang-ambing, terlena, dan terjerat kenikmatan surgawi yang tak terbantahkan. Sea dan Yohan telah menyatukan rasa dan asa mereka. Seolah satu tubuh dan satu jiwa.


"Ada saatnya kita bekerja, dan ada saatnya kita bercinta seperti tadi. Hingga tidak ada lagi waktu tersisa kecuali untuk saling mencintai dan mengungkapkan kerinduan di antara kita," gumam Yohan sambil memeluk tubuh nan indah itu ke dalam dekapan hangatnya.


"Ternyata ... sudah lama waktu berlalu semenjak aku dan Tuan Yo bercinta. Sekarang, aku bahkan tidak ingat lagi siapa di antara kita yang merasa paling kelelahan," jawab Sea sembari meraba dan mengecupi dada seputih salju milik suaminya.


"Cinta tidak membuat dunia berputar. Tapi, bercinta mampu memutarkan pikiran manusia," timpal Yohan.


"Dulu, Tuan Yo sering mengatakan ' Sea, cintai aku selamanya.' Sekarang, tolong Tuan katakan, 'Sea, bercintalah denganku sepanjang malam.' Apa Tuan bersedia?" sahut Sea. Tak mau kalah dari Yohan. Yohan tersenyum. Istrinya ternyata tak sepolos yang ia pikirkan.


"Dalam kamus bercinta, suami istri itu diibaratkan sedang berperang. Saling menikam dan menyerang, bahkan terkadang saling melukai. Tapi saling menikmati, hehehe." Yohan nyaris kehabisan kata.


"Jika suatu hari Tuan Yo merasa kesal dan marah karena ulah atau sifatku. Sebelum menasihatiku, ajak aku bercinta dulu ya."


"Apa?! Hahaha. Dengan senang hati."


"Sea, sebenarnya, tak ada banyak hal yang ingin kupinta dari kamu. Cukup jadikan aku cinta sejatimu. Oiya, menjadi temanmu adalah keinginanku. Menjadi suamimu adalah cita-citaku, dan bercinta denganmu adalah puncak dari segalanya," rayunya. Sea tersanjung.


"Terima kasih, Tuan Yo. Tuan telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta." Lantas mengangkat kepala, mengecup kening Yohan.


"Sea, istriku yang cantik dan baik hati. Dengar ya, cintaku padamu tak butuh banyak kata. Aku hanya ingin memiliki dan mencintai kamu hingga akhir hayatku. Tolong selalu bersamaku, di sisiku, menyayangiku, dan menerima kekuranganku." Mata Yohan berkaca-kaca.


"Tuan Yo ... a-aku sangat mencintamu."


"A-ku juga Sea. Aku juga sangat mencintai kamu."


Lalu mereka berpelukan. Sea tak kuasa menahan tangis. Ia tersedu-sedan dalam rengkuhan Yohan.


...❤...


...❤...


...❤...


Adegang selanjutnya, secara naluriah, mereka kembali melakukan hal yang teramat melenakan. Merenggut manisnya, menyesap lembutnya, dan menikmati setiap desirannya.


Kamar pengantin itu, kembali memanas. Erangan dan gumaman Yohan kembali terdengar. Rintihan merdu Sea kembali mengalun.


Bahagianya ....


Indahnya ....


Nikmatnya ....


Semoga, kebahagiaan, keindahan, dan kebahagian itu ... tidak akan lekang oleh sang waktu. Mereka menyatu dalam satu kata ... CINTA.


Hmm, cinta itu memang terlalu suci untuk dinodai, terlalu tinggi untuk dikhianati, dan terlalu indah untuk dikotori.


Kenapa demikian?


Karena cinta adalah anugerah yang harus dijaga kesuciannya, diagungkan ketinggiannya, dan dikagumi keindahannya.


Cinta layaknya angin, apapun yang ditiupnya, akan digerakkannya. Cinta itu seperti air yang menghidupkan segalanya. Cinta juga seperti bumi yang bisa menumbuhkan apapun. Cinta tidak menuntut kesempurnaan. Karena cinta itu akan menerima, memahami, dan rela berkorban.


Cinta itu ... AGAPE.


...~Belum TAMAT juga~...