
"Pak Agam, kenapa Anda bodoh sekali? Kalau Anda mati bagaimana? Pak, sadar Pak! Tolong cepat bangun Pak!" teriak Yanyan saat tubuh Agam dipindahkan ke brankar dan dimasukkan ke ruang IGD.
"Tidak boleh ada yang masuk!" seru perawat.
"Pak, aku anak buahnya!" protes Maxim, dia memaksa masuk. Yanyan dan Enda menahan Maxim.
"Yang boleh masuk hanya walinya. Karena walinya tidak ada, kami persilahkan pada polisi saja. Polisi boleh masuk, tapi hanya satu orang," jelas dokter.
"Baik, saya yang akan mendampingi Pak Agam," kata polisi yang merupakan anak buah Aiptu Joey.
"Tolong lakukan penanganan terbaik pada bos kami, Dok. Walaupun kaya-raya, dia tidak memiliki keluarga dekat, seluruh keluarganya berada di luar negeri. Ayahnya sudah meninggal dunia, ibunya ada di luar pulau, adik kandungnya sedang koma, huuu ... malang sekali nasibmu, Pak ...." Ratap Maxim.
"Xim, tak perlu diceritakan, dokter pasti sudah tahu tugas dan tanggung jawab mereka," jelas Enda.
"Ya, Pak. Anda berdoa saja, kami akan melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan kewenangan kami," jelas dokter jaga sambil berlalu dan menutup pintu IGD.
Agam berada di sebuah rumah sakit internasional yang kebetulan berdekatan dengan TKP. Rumah sakit ini hanya berjarak sekitar lima kilometer dari rumah sakit tempat Gama dirawat.
.
.
"Pasang infus dua jalur! Pasang oksigen sungkup! Pasangan monitor! Ambil darah lengkap cito! Lakukan rontgen thorax dan CT-Scan cito!" teriak dokter. Mereka tampak sibuk menangani Agam Ben Buana.
Agam terlentang di meja tindakan, pakaian Pak Dirut dilucuti dengan cara digunting. Kepala Pak Dirut disiram dan dibersihkan dengan cairan elektrolit Nacl. Agam diletakan di ruangan zona merah khusus pasien emergency.
Dalam ketegangan itu, mata seorang dokter nyatanya masih bisa salfok (salah fokus) pada tiga tanda cinta yang berderet rapi di dada Pak Dirut, dan dua lagi ada di leher kanannya. Sang dokter mengulum senyum, ia tentu saja tahu siapa pelakunya.
'Buk.'
Pinggang dokter itu disikut oleh temannya. Seolah tengah mengingatkan agar ia fokus pada tindakan dan tidak terpengaruh oleh tanda cinta itu.
"Siap," tegasnya spontanitas.
Lalu tim radiologi datang, mereka akan melakuan rontgen thorax cito yang bisa dilakukan secara langsung di ruang IGD.
'Tiiit.'
Suara monitor menyala. Hasil tanda-tanda vital Pak Dirut tertera di layar.
"Nadinya sangat lemah, Dok," teriak perawat.
"Guyur cairan, loading RL 500 mil!" sahut dokter.
"Baik, Dok."
Agam masih tak sadarkan diri, perdarahan merembes dari belakang kepalanya. Dokter berusaha menghentikan perdarahan itu dengan cara menekan sumber perdarahan menggunakan kasa steril.
"Ada robekan terbuka di belakang kepalanya," kata seorang dokter, menunjukkan luka robekan itu pada dokter spesialis bedah syaraf.
"Lakukan saja penjahitan situasinal pra CT-Scan," titah dokter spesialis bedah syaraf setelah memeriksa luka di di belakang kepala Pak Dirut.
"Cepat kosultasikan hasil rontgen thorax-nya pada dokter radiologi, beliau ada di lantai empat, sedang visit," kata dokter jaga.
"Baik, Dok."
Suster berlari sambil membawa hasil rontgen milik Agam. Jantungnya berdebar, tiba-tiba merasa begitu simpati pada Pak Dirut. Tak rela jika sosok yang teramat gagah dan tampan itu tak bisa diselamatkan.
"Cepat hubungi lab, tanyakan hasilnya!"
"Siapkan ruangan operasi darurat!"
"Siapkan ruangan ICU!"
"Walinya tidak ada, cepat hubungi LB!"
Kalimat-kalimat itu terlontar dari petugas medis yang menangani Agam Ben Buana.
"Pak Polisi, kami membutuhkan tanda tangan walinya. Dalam hal ini tidak bisa diwakilkan. Kami minta kontak LB," kata seorang suster pada polisi yang berjaga di depan zona tindakan.
"Aduh, bagaimana ya Sus? LB kan hilang," Pak Polisi bingung.
"Oiya ya, saya akan konfirmasi dulu ke dokter penanggung jawab."
"Baik, Sus."
"Karena walinya tidak ada, terpaksa kita minta tanda tangan anak buahnya Pak Agam saja, tapi harus di atas materai," jelas dokter penanggung jawab.
"Baik, Dok."
.
.
"Siapkan alat repaired," kata dokter jaga.
Mereka akan melakukan prosedur penjahitan situasional. Seluruh perlengkapan telah dipersiapkan. Tubuh Pak Dirut dimiringkan ke sisi kiri. Kulit yang mulus itu terlihat kemilau saat lampu operasi dinyalakan dan menyinarinya. Dalam keadaan tak sadarpun, pesona Pak Dirut tetap tak terbantahkan.
"Lidocain."
"Jarum."
"Nalpooder."
"Pinset anatomis."
Dokter sedang mengecek kelengkapan hecting set.
"Awwh ...."
Suara lirih itu terdengar saat dokter menyuntikkan injeksi anastesi di kulit kepala Pak Dirut. Agam Ben Buana siuman, seluruh tim medis terkejut. Bahagia campur kaget.
"Pak Agam, Anda sadar?"
Dokter menepuk bahu Agam, yang ditepuk mengedarkan pandangan, memperhatikan sekitar. Sedang berusaha mengumpulkan kepingan memori yang bercerai-berai akibat kecelakaan itu.
"Pak?" Dokter kembali mengecek respon Agam.
Agam berusaha bangun, tapi belum mengatakan apapun. Entah apa yang dipikirkan Pak Dirut saat ini. Dokter dan perawat mencegahnya. Mereka menahan tubuh Agam agar tetap berbaring.
"Pak, kondisi Anda belum stabil, tolong berbaring lagi," bujuk dokter.
Agam patuh, ia berbaring sambil menutupi tanda cinta hasil karya Linda yang ada di dadanya. Dokter tersenyum, jika Agam mengingat tanda cinta itu, artinya ... otak Pak Dirut tidak mengalami kerusakan.
"Mana baju saya?" tanya Agam. Matanya menyipit karena silau oleh lampu operasi.
"Baju Anda kotor Pak, kami akan menyediakan baju pasien untuk Anda."
"Cepat, saya malu," kata Agam sambil meringis. Kepalanya terasa pusing saat ia berbicara.
"Pak Agam, kami akan melakukan penjahitan. Ada luka terbuka di kepala Anda. Setelah ini, kami akan melakukan CT-Scan," terang dokter jaga.
"Kadar HB saya berapa?" Agam balik bertanya saat seorang perawat membantunya memakaikan baju.
"Kadar HB Anda 12 gram persen," jelas dokter.
"Lumayan turun banyak. HB saya sebelumnya 16 gram persen," kata Agam.
Pak Dirut mamaksa duduk. Namun pandangannya masih sedikit kosong. Agam masih mengingat-ingat kejadian terakhir sebelum ia tak sadarkan diri.
Setelah mengingat semuanya, Agam berkata ....
"Dok, mohon maaf, saya mau pulang paksa saja. Oiya, siapa yang mengantar saya ke sini?"
"Dua orang polisi dan tiga orang anak buah Bapak," jawab dokter.
"Oh, panggilkan salah satunya, saya ingin bicara."
"Baik, Pak. Tapi kepala Anda arus dijahit dulu.
"Cepat lakukan," kata Agam.
Setelah penjahitan selesai, Agam di CT-Scan, lalu dipindahkan ke ruang transit.
Untuk perawatan selanjutnya, tim medis tidak bisa berbuat banyak. Jikapun kondisi Agam tiba-tiba memburuk, mereka tentu saja tidak akan dituntut ataupun disalahkan karena keputusan pulang paksa ini murni keinginan Agam Ben Buana.
...❤...
...❤...
...❤...
"Cepat hubungi pengacara Vano dan dokter Cepy," titah Agam pada Maxim saat mereka sudah berada di ruang transit.
Kepala Agam diverban, infus dan oksigen masih terpasang. Monitornya telah dilepas.
"Tapi, Pak. Bagaimana dengan kondisi Bapak?" Maxim khawatir.
"Max, saya tidak mungkin mengambil risiko terburuk, semua keputusan saya sudah dipertimbangkan. Bagaimana mungkin saya bisa berleha-leha di rumah sakit di saat istri saya terlibat kasus, dan adik saya masih koma."
"Pak, Anda bukan berleha-leha, Anda hampir mati karena kecelakaan itu."
Kali ini Maxim membantah. Ia sampai geleng-geleng kepala karena merasa jika pemikiran bosnya itu sangat tidak masuk akal.
"Maxim!" Pak Dirut bertaring lagi. Mata sayunya memicing.
"Ba-baik, Pak." Maxim ciut. Segera menghubungi dokter Cepy dan pengacara Vano tanpa membantah lagi.
.
.
Beberapa saat kemudian dokter Cepy dan Vano tiba di rumah sakit, mereka panik tiada terkira saat melihat kondisi Agam. Maxim, Enda, dan Yanyan menjadi sasaran. Mereka dimarahi karena dianggap lalai dan terlambat melaporkan keadaan Agam.
"Ya juga sih," jawab pengacara Vano dengan polosnya.
"Vano, gila kamu ya! Kenapa tidak sekalian saja kamu bilang mau menjadikan LB istri kamu kalau Pak Agam meninggal," sela dokter Cepy.
"A-apa?!"
Maxim dan Enda terbengong-bengong. Tak menyangka jika dokter Cepy dan pengacara Vano berani mengatakan itu di hadapan Agam.
"Ampun, saya tidak ikutan Pak Dirut, saya tidak menggilai uang, permisi," Yanyan meninggalkan ruangan, ia berjalan mundur sambil angkat tangan.
"Kami juga permisi," Maxim dan Enda menyusul Yanyan.
"Hahaha," Dokter Cepy dan Vano terbahak.
"S i a l a n, dasar kalian teman tak tahu diri!" Agam kesal. Andai saja kondisinya fit, dokter Cepy dan Vano pasti sudah dihabisi.
"Hahaha, tapi memang benar Gam, kalau takdirnya kamu meninggal, saya yakin si Cepy mau menggantikan kamu jadi imamnya LB."
"Cukup Cepy! Tidak lucu." Pak Dirut cemberut dan semakin tampan saja. Cepy terkekeh.
"Jangan munafik Dok. Saya tahu kok kalau Anda mengkoleksi foto LB di laptop kerja, sampai ditegur istrinya, kan?" ledek Vano tak mau kalah.
Agam terpaksa menyimak.
"Hahaha, jadi pada dasarnya aku dan Vano akan bersaing mendapatkan LB kalau kamu tiada, Gam." Dokter Cepy terus berulah. Wajah Pak Dirut memerah karena marah.
"Kapan lagi kita mengerjai Pak Dirut, selagi dokter melarang Pak Agam begerak, kita bebas, Van. Pak Agam tidak akan menyerang kita."
"Betul, Dok. Kalau Pak Agam sehat kita juga mana berani meledek dia," sahut Vano.
"Haruskah saya berdoa agar kalian meninggal terlebih dahulu? Kalau perlu saya akan mengundang tiga ribu anak yatim untuk mendoakan agar kalian berdua segera diterima imam islamnya dan dilapangkan alam kuburnya," tegas Agam.
"Hahaha," Vano dan dokter Cepy tergelak
Agam menghelas napas, candaan sahabatnya itu benar-benar tidak lucu. Namun ketidaklucuan itulah yang justru membuat Agam tersenyum.
"Ampuni kami Pak Dirut, niat kami hanya menghibur," dokter Cepy memeluk Agam. Vano mengikuti, memeluk punggung dokter Cepy.
"Benar Pak, jangan marah ya. Kalaupun Anda serius marah, tolong pecat saja dokter Cepy jangan pecat saya ya," ratap Vano.
"K u r a n g a j a r kamu, Vano. Aku membela kamu, tapi kamu malah menikamku dari belakang!" Sambil menoyor kening Vano.
"Hahaha, yang suka menikam itu justru Anda dan Pak Agam, bukan saya. Kalian kan sudah menikah, pasti sering main tikam-menikam. Pak Agam menikam LB, dokter Cepy menikam dokter Puput. Hahaha."
"Kurang asem kamu Van, tapi ada benarnya juga sih," sahut dokter Cepy sambil tersenyum.
Pak Dirutpun jadi ikut tersenyum. Melihat Agam tersenyum, Vano dan dokter Cepy bahagia.
"Sudah ya, mari bicara serius, bagaimana hasil rontgen dan CT-Scannya? Cepat jelaskan," kata Agam seraya menatap tajam pada dokter Cepy. Vano menyimak.
"Ehm, ehm, begini," dokter Cepy merubah ekspresi wajah jadi serius.
"Hasil CT-Scannya baik, Pak. Anda hanya mengalami luka robek, dan cidera ringan. Kata dokter syaraf tidak berpotensi kerusakan pada sistem otak, maksudnya tidak akan menyebabkan gegar otak. Efeknya bisa saja pusing, tapi tidak dominan. Hasil rontgennya, Anda mengalami retak pada tulang rusuk nomor sebelas sinistra, dan tulang panggul femoris."
"Tulang panggul? Berarti Pak Agam tidak bisa menikam LB, dong." Sela Vano.
Agam membisu. Ia sadar harus sabar saat berbicara dengan Vano dan dokter Cepy. Seperti halnya mereka yang selalu sabar menghadapi seluruh keinginan dan keputusannya.
"Ya, kamu benar Vano, untuk sementara waktu Pak Agam memang tidak boleh menggerakan panggul secara berlebihan. Rencananya akan dipasang gips penyangga di panggul dan pinggang," jelas dokter Cepy.
"Apa kalian sudah puas menghina saya?! Kalau sudah puas, sekarang ayo pergi! Saya mau pulang!" sentak Agam.
"Baik," Vano segera menarik kursi roda.
"Saya tidak mau naik kursi roda," tolak Agam.
"Tidak bisa Pak Agam, dokter menganjurkan Anda memakai kursi roda." Vano bersikukuh.
"Ya sudah, asalkan jangan sampai saya memakai kursi roda di hadapan istri saya." Pak Dirut rupanya tidak mau terlihat lemah di hadapan Linda.
Setelah urusan administrasi selesai, Agam akhirnya diperkenankan pulang paksa, dan Agam menolak saat polisi hendak mengantarnya.
"Kita sebenarnya mau pulang ke mana, Pak?" tanya Vano.
"Ikuti saja perintah saya. Ingat, jangan sampai ada yang mengetahui keberadaan saya," tegasnya.
Vano dan dokter Cepy saling menatap. Ya, mereka tahu jika Agamlah yang menculik dan menyembunyikan LB dari polisi.
...❤...
...❤...
...❤...
Entah sudah berapa liter air mata yang ia tumpahkan, entah sudah berapa banyak ayat yang ia lantunkan untuk sosok terbujur di hadapannya. Doa kebaikan selalu ia panjatkan di akhir shalatnya demi dia. Demi pria yang tak sengaja telah menodainya.
Ya, dialah Freissya Shaenette Leteshia. Gadis itu setia menemani Gama di waktu jaga ataupun di luar jadwal dinasnya.
"Val ... sampai kamu akan seperti ini?"
Freissya mengelus pipi Gama yang semakin memucat. Di ruangan itu, selain ada Freissya juga ada Pak Yudha. Pak Yudha hanya duduk dan berdoa untuk Gama. Raut kesedihan tampak di wajahnya. Terakhir, Pak Yudha juga baru saja mendapat kabar dari pengacara Vano kalau Agam terlibat kecelekaan setelah melawan musuh. Namun luka Agam tidak parah.
"Apa Nona mencintai Gama?" tanya Pak Yudha dengan suara pelan. Tapi Freissya diam saja.
"Nona, saya sudah tahu alasan kenapa keluarga Anda membenci keluarga Haiden dan keluarga Buana," kata Pak Yudha. Lagi, Freissya tetap diam.
Freissya ternyata sudah protes pada bapak dan mamanya akan permasalahan dan kesalahfahaman di masa lalu itu, namun kedua orang tuanya tetap teguh pendirian ingin menjalankan amanat sang kakek agar anak cucunya tidak memiliki hubungan spesial dengan keluarga Buana ataupun keluarga Haiden.
"Pak, aku tidak ingin membahas masalah itu," jawab Freisya sembari memotongi kuku Gama dengan perlahan dan hati-hati.
"Baiklah, maaf kalau saya membuat Nona Ice tidak nyaman. Oiya saya permisi dulu, mau keluar sebentar, titip Gama ya Nona." Pak Yudha berlalu, Freissya mengangguk menanggapi ucapan Pak Yudha.
"Val ... aku menyesali perbuatanku, tidak seharusnya aku bersikap jahat padamu. Kamu cepat bangun ya .... Aku janji akan melakukan apapun yang kamu inginkan." Freissya mencium punggung tangan Gama, didekap, lalu diletakan di pipinya.
Kepala Freissya bertumpu pada sisi tempat tidur, tangan Gama menjadi bantalan pipinya. Lama ia menatap wajah Gama, hingga tak sadar memejamkan mata dan terlelap.
Dan tanpa diketahui siapapun, telunjuk tangan Gama yang tertindih pipi Freissya tiba-tiba begerak pelan. Tak hanya itu, bibir Gamapun begerak, seperti tengah mengatakan sesuatu namun tanpa suara.
...❤...
...❤...
...❤...
"Gagal, gagal, gagal! Selalu saja gagal! Kenapa kita selalu kalah oleh Agam Ben Buana?!" teriak seorang pria pada anak buahnya.
"Maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha. Laporan terbarunya dua kawanan kita meninggal dunia. Satu tertembak Nyonya, satu lagi meninggal karena kecelakaan."
"S i a l! Cepat hubungi pembunuh bayaran yang berhasil mencelakai adiknya Agam Ben Buana. Setidaknya dia berhasil, tidak seperti kalian!" bentaknya.
"Baik, Tuan."
"Dan polisipun malah kehilangan LB! S i a a a l!" Pria itu beteriak lagi. Lalu menendang vas bunga yang ada di hadapannya.
...❤...
...❤...
...❤...
"Pak Joey, cepat paketkan dokter Rita dan suster Dini ke alamat yang telah saya kirimkan. Ingat, ini rahasia," kata Agam. Ia berbicara pada Aiptu Joey melalui ponsel milik pengacara Vano.
"Jadi di sini Anda menyembunyikan LB, ck ck ck." Dokter Cepy berdecak kagum.
Agam sedang didorong menggunakan kursi roda oleh Vano. Awalnya, Agam ingin memaksa berjalan sendiri dan menahan rasa sakitnya agar Linda tidak khawatir. Tapi setelah dipengaruhi oleh dokter Cepy, Pak Dirut memutuskan mengikuti anjuran Dokter untuk menggunakan kursi roda. Apa modusnya? Tadi, dokter Cepy berkata ....
"Pak Dirut, kalau Anda menggunakan kursi roda, aku yakin LB akan lebih peduli pada Anda. Saat suami sakit, istri yang baik pasti akan lebih menyayangi suaminya. Begitupun dengan LB."
Jadi, motif Agam menggunakan kursi roda adalah untuk menarik perhatian Linda.
"Bu LB sudah diberitahu, Pak. Sebentar lagi akan datang," ucap seorang anggota anonymous yang menatap asing pada Vano dan dokter Cepy. Pun sebaliknya.
"Tugas kalian telah selesai, terima kasih telah menjaga anak dan istri saya," kata Agam.
"Sama-sama, Pak."
.
.
Linda yang tengah meninabobokan Keivel sangat terkejut ketika dikabari bahwa Agam akan segera datang. Linda juga diberitahu jika Agam terluka. Setelah memastikan Keivel aman dan nyenyak, Linda tergesa. Ia berlari keluar dari kamar sambil menangis.
Bukan epilog:
"Jangan tersenyum, Dirut. Usahakan wajah Anda harus meringis, tangan kanan memegang kepala, tangan kiri memegang punggung."
Dokter Cepy sedang mengatur dramatisasi pertemuan Agam dan Linda. Vano manggut-manggut sambil menahan senyum.
"Harus ya seperti ini?" Pak Dirut sedikit keheranan.
"Gam, dengar ya, aku sudah menikah selama delapan tahun. Dari segi pengalaman aku jauh lebih handal."
"Benar Pak. Ikuti saja," Vano memberi dukungan.
"Sstt, itu LB," kata dokter Cepy dengan suara pelan.
Mereka pun bersiap. Agam mempraktikkan saran dokter Cepy. Vano menunduk, dokter Cepy mencuri pandang pada Linda.
...~Tbc~...