
Taman itu berada di jalur lain jalan utama. Untuk mencapai area itu, pengunjung akan melewati jalur jalan beraspal namun sempit.
"Berhenti di sini?" Linda gugup.
"Ya," jawab Agam. Tangannya masih memegang tangan Linda.
"Pak Agam, lepaskan. Tanganku pegal," keluhnya.
"Tidak akan dilepaskan sampai kamu mau memaafkan saya."
Tangan kanan Agam tetap terampil memarkirkan mobil dengan satu tangan. Ia akan memarkirkan mobilnya di sisi kiri, di bawah pohon randu alas atau istilah lainnya pohon bombax ceiba.
Pohon itu terlihat sedap dipandang nan rimbun. Bagian bunga dan daunya seakan menyatu memerahkan sang pohon. Beberapa mobil sudah terparkir di sana. Dua di sisi kiri dan ada banyak di sisi seberang.
"Ba-baik, a-aku maafkan," kata Linda.
"Kenapa cepat sekali tiba-tiba memaafkan, apa tidak mau dicium di ---."
"Tidak mau," sergah Linda. Menyela Agam sebelum pria itu melanjutkan kalimatnya.
"Hahaha, padahal saya hanya bercanda, kenapa kamu ketakutan?" Sekarang ia melepas sabuk pengamannya lalu berbalik nenghadap Linda.
"Walaupun bercanda tapi tidak pantas seperti itu."
Linda mamalingkan wajah, ia memilih menengadahkan kepala di balik kaca untuk menikmati keindahan pohon randu alas.
"Oke maaf, tidak akan diulang lagi. El ... kenapa terus menatap pohon itu? Apa pohon itu lebih menarik dan lebih indah daripada saya?"
"Apa? Pak Agam, kenapa Pak Agam sekarang sering merayu, aku lebih suka Pak Agam yang seperti dulu."
Linda melirik sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangan.
"Saya yang dulu? Yang mana ya? Hahaha," Agam malah tergelak. Lalu ia turun dari mobil entah mau ke mana.
"Pak Agam mau ke mana?"
Linda memanggilnya namun Agam tidak menoleh. Ternyata pria itu masuk ke dalam minimarket, mungkin akan membeli sesuatu.
"Hmm, semakin hari tingkahnya semakin aneh," gumam Linda.
"Oiya, tadi dia bilang kita mau ke rumah sakit. Menjenguk siapa ya? Oh, nona Aiza kali, tidak mungkin menjenguk orang yang mirip dengan pamanku, kan ada di rumah sakit luar kota." Linda terus mengira-ngira sambil menunggu.
Lumayan lama juga Agam ada di minimarket itu, Linda sampai terkantuk-kantuk, hingga akhirnya iapun tertidur.
Linda bahkan tidak sadar saat Agam membuka bagasi. Pria itu membawa dua buah bingkisan berisi kue dan buah-buahan. Ia meletakkannya di bagasi. Lalu kembali lagi ke minimarket, dan saat keluar lagi, Agam membawa dua buah es krim besar berbentuk kerucut dan sebuha coklat berukuran besar.
Tidur? Es krimnya?
Agam menghela napas, tidak mungkin ia membangunkan Linda hanya karena ingin memberinya es krim. Agam ingin makan es krim bersama.
Niatnya sih ingin seperti pasangan lainnya. Namun Linda malah tidur. Dan satu hal lagi, Agam ternyata jarang makan es krim, dan tidak terlalu suka es krim. Pria itu mematung, menatap yang sedang tertidur pulas.
"El," panggilnya.
Syukurlah, suara deringan ponsel milik Agam membangunkan Linda. Linda celingak-celinguk. Menatap kiri-kanan kebingungan. Tapi saat tatapanya jatuh pada benda yang dipegang Agam, ia langsung sumringah.
"Es krim?" katanya.
Spontan mejilat bibirnya sendiri. Mungkin Linda tidak sadar jika aktivitasnya itu membahayakan jantung Agam.
"Buatku, kan?" tanyanya. Di saat mata Agam masih fokus padanya.
"Benar," jawab Agam.
"Wah, terima kasih, Pak."
Langsung mengambil es krim dari tangan Agam. Dan Agam mengerjap, Linda mengambil dua-duanya.
Hei, satunya milikku. Batin Agam.
Tapi tidak mungkin juga ia memintanya lagi. Akhirnya hanya bisa menjawab ....
"Sama-sama. Habiskan ya," katanya.
"Wah, coklatnya besar sekali," Linda kembali berdecak.
"Ya, saya membelinya yang paling besar, ini juga untuk kamu, El. Untuk calon istriku. Hehehe, terima kasih karena hari ini kamu sudah tampil memukau dan menakjubkan." Seraya meletakkan coklat berukuran besar itu di pangkuan Linda.
"Memukau?"
Kening Linda mengkerut, tangannya sibuk membuka es krim. Es krim satunya lagi ia bungkus memakai tissue, lalu diletakkan di saku penyimpanan yang berada di pintu mobil.
"Mau tahu? Saya ada berita baik," katanya. Sambil memandangi yang sedang menikmati es krim pastinya.
"Emm, memangnya ada hubungannya denganku?"
Linda begitu menikmati es krim itu, tak sadar jua jika Agam beberapa kali menelan saliva.
Entah menginginkan es krim, atau ... menginginkan yang sedang memakannya? Ah, pikiran Agam bahkan berkelana ke sana.
Bagaimana rasanya menciumnya sambil memakan es krim?
"Hhh," desis Agam, merutuki dirinya sendiri.
"Kenapa?" Linda meliriknya sesaat.
"Tidak ada. Oiya, penampilan kamu dipuji oleh pak Komisaris. Kata beliau, secara tidak langsung kamu sudah mempromosikan kinerja HGC ke hadapan publik. Malam ini akan ada rapat mendadak antara beliau, dewan direksi, saya, dan tim pemasaran. Untuk menanggapi kasus kamu."
"Pak komisaris itu, tuan Bahir Finley Haiden? Yang tampan itu, kan?"
"Apa?! Ya tuan Bahir, Tuan Besar yang tampan dan gagah, tidak seperti saya si buruk rupa," kata Agam.
Kini tatapannya berpaling dari Linda. Agam memakai sabuk pengaman dan melajukan kemudi. Linda tidak sadar ada yang cemburu lagi.
"Saya minta es krimnya," kata Agam. Ia merebut es krim di tangan Linda.
"Es krimku?" Linda kaget.
"Kamu bisa memakan yang satunya lagi," kata Agam.
"Apa?! Kenapa tidak dari tadi Bapak memakan itu?"
"Terserah saya," jawabnya.
"Tapi, itu bekasku, Pak."
"Tak masalah," kata Agam ketus.
"Bapak kenapa sih? Kok seperti wanita mau haid, marah-marah." Linda kesal. Sambil membuka es krim yang baru, ia cemberut.
"Kamu tidak sadar kesalahanmu?" Sambil bergidik. Agam jarang memakan es krim. Baginya ini terlalu dingin.
"Kesalahan? Apa salahku? Aku sudah jujur pada publik, sekarang aku tidak harus meyembunyikan kehamilanku lagi, aku lega, Pak. Jika menurut Pak Agam itu sebuah kesalahan, maafkan," kata Linda.
"Bukan masalah itu." Sambil menepikan mobil.
"Bapak mau ke mana?"
"Saya tidak tahan, es krimnya dingin sekali, saya mau buang saja."
"Apa?! Jangan Pak, aku yang habiskan, ya." Serius, sekarang Linda yang merebut es krim dari tangan Agam.
Agam melongo. Secara tidak langsung mereka sebenarnya telah berbagi es krim bersama. Agam kembali malajukan kemudi setelah Linda menghabiskan dua es krim itu.
"Masih mau?" tanya Agam.
Alhamdulillaah.
"Cukup, Pak. Terima kasih."
"Sekarang ayo kita pacaran," kata Agam. Ucapan Agam membuat Linda terkikik.
"Apa? Pacaran? Ahhaha. Bapak lucu sekali, aku dihamili, dipacari, terus mau dinikahi, begitu?"
"Memangnya ada yang salah? Tidak, kan? Saya belum pernah punya pacar. Apa kamu mau jadi pacar saya? Sebelum kita menikah kita pacaran dulu, hehehe. Oiya, apa yang kamu sukai dari tuan Bahir?"
"Tuan Bahir? Apa hubungannya tuan Bahir dan kita?" Linda merenung.
"Kamu lupa? Tadi kamu bilang dia tampan, kan?"
"Oh, hahaha, jadi itu masalahnya?" Linda tersadar.
"Aku kagum pada tuan Bahir karena dia bisa menciptakan banyak lapangan kerja untuk banyak orang," terangnya.
"Terus bagaimana? Mau jadi pacar saya?" tambahnya.
"Emm, tidak mau," tegas Linda.
"Kenapa, El?" Kembali menepikan mobil untuk yang kesekian kalinya.
"Kenapa, hahh?" Kali ini sambil memegang tangan Linda.
"Kamu menolak saya, El? Apa alasannya?"
"Pak Agam ini aneh lho. Secara aku sudah calon istri Bapak, masa harus ada istilah pacaran segala?"
"Emm, iya juga sih. Hahaha."
Akhirnya pemilik bibir tipis yang merah alami itu tertawa juga.
***
"Kita mau menjenguk nona Aiza?" tanya Linda saat mobil itu memasuki kawasan mewah sebuah rumah sakit internasional ternama di negara itu.
"Bukan," kata Agam.
"Lalu? Mau menjenguk siapa?"
"Pamanmu."
"A-APA?! P-Pak A-Agam serius, kan? Ti-tidak bercanda, kan?"
Mata Linda membulat, ia memegang dadanya, antara bahagia dan bingung. Bahagia akan bertemu, namun juga bingung. Bingung, kenapa pamannya bisa ada di rumah sakit ini?
"Linda, tolong tenang dulu ya. Akan saya ceritakan."
Setelah tiba di area parkiran rumah sakit, Agam kembali meraih tangan Linda untuk menjelaskan semuanya. Linda terisak, jika benar ini pamannya, ia pasti akan sangat bahagia.
Tapi, kenapa Agam bisa yakin?
"Begini El, karena penasaran, saya menyuruh seseorang untuk memidai sidik jari paman kamu. Saya menyuruh pengacara Vano untuk mengurusnya."
"Dan hasilnya benar saja, pasien itu paman kamu, tuan M. Setyadhi. Dia belum sadar, tapi kata dokter yang menangani, kondisinya semakin membaik."
"Saya membawanya ke sini agar paman kamu bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik. Paman kamu baru tiba di sini tadi pagi, dibawa ke sini menggunakan pesawat khusus dari rumah sakit ini."
"Benarkah? Huuu huuu ... terima kasih Pak."
Tak kuasa menahan haru, dengan sendirinya Linda membuka sabuk pengaman dan spontan memeluk Agam.
Yang dipeluk langsung berseri. Adegan ini sudah sedari tadi ia tunggu-tunggu. Bisa memeluk wanita yang dicintai itu, rasanya ... ada manis-manisnya dan ada hangat-hangatnya.
"Pak Agam, le-lepaskan, aku sesak," keluh Linda. Ternyata, dari tadi Linda sudah berusaha melepaskan diri.
"Eh, hahaha, maaf," kata Agam. Baru sadar jika ia terlalu mendramatisir pelukan itu.
"Sekarang ayo kita turun," ajak Agam.
"Pak, apa saya perlu memakai masker, kalau ada yang curiga karena kita bersama-sama, bagaimana?" Linda ragu.
"Tenang saja, semua sudah saya atur."
"Maksudnya?"
"Pihak rumah sakit tahunya pasien itu paman kamu, dan kamu yang meminta pamanmu dirujuk ke sini."
"Sedangkan saya ke sini ya sebagai kolega kamu, kamu kan bintang HGC, terlepas nanti malam akan ada keputusan kamu lanjut dikontrak atau tidak, di mata saya kamu tetaplah bintang," jelasnya.
"Begitu ya, oiya Pak, biaya rumah sakit ini pasti mahal. Terus bagaimana aku ---."
"Bukankah kamu punya calon suami yang kaya-raya? Kenapa harus dipikirkan?" kata Agam sambil tersnyum. Merasa jijik dengan ucapannya sendiri karena menyombongkan kekayaan.
Padahalkan kekayaan yang ia miliki hanyalah titipan. Bisa lenyap dalam sekejap kapan saja, bila Sang Pemilik mengambilnya.
"Tapi, Pak ... aku merasa tidak enak."
"Kamu enak, El."
"A-apa?" Linda kaget.
"Hahhh, apanya yang apa? Kenapa kamu kaget?" Agam mengernyit. Serius, kalimat tadi spontanitas.
"Tadi Bapak bilang ---."
"Ssstt, mungkin kamu salah dengar, jangan dipikirkan. Intinya untuk masalah keuangan, no debat. Biar saya yang urus. Oke?"
"Begitu ya, tapi ... kalau aku sudah ada uang, mau dibayar kok," kata Linda.
"Hmm, baiklah. Saya tunggu," kata Agam sambil tersenyum.
"Oiya Pak, kenapa mobil itu mengejar kita? Padahal di dalam mobil itukan bukan paman?"
"Nah itu dia masalahnya, El." Masih saya selidiki."
.
.
.
Setelah itu, mereka kemudian berjalan beriringan, untuk menemui paman Linda.
Pada akhirnya Linda dan Agam tetap memakai masker, agar mereka tidak mengundang perhatian.
"Tenang saja, jangan gugup," kata Agam. Saat mereka sudah berada di selasar rumah sakit.
"Aku takut paman tidak selamat. Paman Setyadi adalah paman satu-satunya dari ayahku. Paman Setyadi adiknya ayah satu-satunya Pak," lirih Linda.
"Pasti akan baik-baik saja, dan sehat seperti sedia kala, kalau perlu saya akan membawanya ke luar negeri agar paman kamu mendapatkan penanganan yang terbaik."
"Oiya, Linda ... maaf tidak memberitahu kamu sesuatu. Sebenarnya ...."
"Kenapa Pak? Jangan membuatku semakin panik."
"Begini, setelah saya tahu kalau pasien itu adalah paman kamu, saya mengutus anak buah saya untuk pergi ke Pulau Jauh dan memberi kabar tentang paman kamu pada keluarga kamu."
"A-apa?! Te-terus?" Linda mematung, langkahnya terhenti.
"Informasi terbarunya, ayah kamu mau menyusul ke kota ini."
"A-apa? Ayahku mau ke sini?"
Tubuh Linda sampai mematung karena terharu sekaligus kaget.
Tidak mensia-siakan kesempatan, Agam segera saja memeluknya, dan mujurnya Linda tidak menolak.
Linda seolah lupa tentang perjanjian tidak ada kontak fisik itu. Nonsense, bullshit.
"Jadi ... karena ayah kamu mau ke sini, sepertinya ... pernikahan kita akan berjalan lebih cepat."
"Ta-tapi Pak .... Bagaimana kalau ayahku tidak setuju."
"Pasti setuju."
"Kenapa Pak Agam yakin sekali?" Linda menatapnya.
"Karena kamu," jawabnya.
"Kok, aku?"
"Kamu mencintaiku kan, El?"
Linda mengangguk.
"Saya yakin seorang ayah yang baik tidak akan memaksa putrinya untuk menikah dengan pria yang tidak dicintainya, ya kan?"
"Semoga," kata Linda.
Dan mereka kembali berpelukan di lorong rumah sakit itu. Padahal ada beberapa orang yang lalu lalang, tapi ... Agam dan Linda tidak peduli.
Harapannya, semoga ayah Berli memberi restu, dan mereka bisa segera mengikat cinta mereka dengan ikatan suci pernikahan.
"Pak Agam?"
Tiba-tiba ada yang menyapa Agam. Secepatnya Linda melepaskan diri dari dekapan Agam.