
Perairan Laut Kepulauan Tenggara
"Lepaskan!" teriak Hikam.
Langsung menyerang perompak itu dengan berusaha merebut pisau.
Namun belum juga Hikam menggapainya, ia sudah ditendang kuat, hingga tubuhnya terpental menimpa beberapa tabung yang entahlah apa isi di dalamnya.
"Hikaaam," pekik Ayah Berli.
Ayah Berli berusaha mengelak saat Hikam masih berusaha untuk bangkit.
'BUGH.'
Ayah Berli menyikut perut perompak.
"Kurang ajar! Berani kamu melawan!"
Perompak marah, segera menghujamkan pisau yang terhunus untuk menikam leher Ayah Berli.
Namum saat beberapa inci lagi pisau itu akan mengenai sasaran, seorang pria tegap dari dalam kapal melompat dan menendang tangan perompak hingga pisaunya terjatuh.
"Lepaskan, atau kamu saya tembak!" teriaknya. Seraya menodongkan senjata.
"Siapa kamu?! Jadi suara tembakan tadi berasal dari kawanan kalian?! Kamu pikir aku takut? Ayo tembak saja kalau berani," tantangnya. Sambil menarik sesuatu dari sakunya, dan ternyata perompak itupun memiliki pistol.
"Ayah ayo lari!" teriak Hikam, saat melihat perompak dan pria tegap saling menodong pistol.
"Pak Berli, tolong jangan lari ke anjungan kapal, bergabung saja dengan yang lain di dalam kapal," perintah pria tegap.
"Apa?! Kamu mengenalku?"
Ayah Berli kaget. Namun tangannya segera ditarik oleh Hikam.
"Mari kita bertarung saja," ujar si pria tegap, dan ia menyerang terlebih dahulu. Terjadilah perkelahian dari keduanya.
Sudut mata Ayah Berli masih menatap kebingungan pada pria tegap itu.
"Aku yakin pria tadi anak buahnya Dirut HGC," kata Hikam saat mereka sudah berada di bagian dalam kapal yang kondisinya ternyata sangat mencekam, tegang dan berisik.
Anak-anak menangis, para wanita atau mungkin ibunya tengah berusaha menenangkan sambil menangis juga.
Sedangkan kaum prianya tampak pasrah dengan meletekan kedua tangan di belakang kepala mereka.
.
.
.
.
Dan kondisi di area kabin ternyata lebih menegangkan.
Anak buah Agam sedang berusaha menggagalkan kejahatan komplotan bajak laut itu dengan merebut kendali sang nahkoda palsu yang memakai masker.
Sementara kapten kapal atau nahkoda asli beserta awak kapal feri tersebut sudah tidak berdaya di haluan kapal.
Tangan dan kaki mereka terikat oleh tambang yang terhubung dengan jangkar.
Komplotan perompak itu rupanya berjumlah banyak, yang tampak sekitar sepuluh orang. Tapi kemungkinan lebih dari itu.
Mereka menyebar dengan tugas masing-masing. Ada yang merampas barang berharga milik penumpang, dan lima orang tampak berduel melawan dua orang anak buah Agam di geladak samping kabin.
"Bang sat! Siapa kalian?!" Sambil menyerang membababi buta.
Terjadi pertarungan dua lawan lima.
"Kalian yang bang sat! Di mana-mana juga perompaklah yang bang sat!" teriak anak buah Agam.
Tangannya memutar tambang untuk melumpuhkan lawan. Namum perompak yang dihadapi tidak mudah dikalahkan begitu saja.
"SOS please! SOS!" teriaknya lagi pada sahabatnya yang baru saja berhasil mendorong satu musuh ke dalam lautan.
"AAAA."
'BYUR.'
"Selamat bersenang-senang bersama ikan hiu," teriak anak buah Agam.
Perompak yang didorong ke laut langsung berenang dan teman sesama perompak melemparkan pelampung yang sudah terhubung pada tali penyelamat.
"Haha ---."
Baru juga mau merayakan keberhasilannya, sebuah tendangan mematikan telah mendarat di punggungnya.
'BUGH.'
Dan ia pun tersungkur menimpa kerasnya geladak.
"BODOH kamu Alief! Kamu lengah!" teriak teman Agam yang memutar tambang.
Sebenarnya, anak buah Agam telah berusaha meminta bantuan dengan menembakan peluru ke udara, namum belum ada respon apapun dari mercusuar yang berwenang dalam pengendalian navigasi kapal feri tersebut.
Kemungkinan suara tembakan tersamarkan oleh deru ombak.
Tidak ada waktu lagi, pria itupun berlari ke arah kabin, dan membiarkan Alief terus diserang hingga babak-belur.
Ia bermaksud untuk mengaktifkan tombol darurat agar navigasi GPS signal bahaya segera terhubung ke mercusuar pengendali.
"Ricky help me, please!" teriak pria yang dipanggil Alief saat kepalanya dihujani tendangan dan pistolnya dirampas.
"Uhhh, aduhhh ...," rintihnya.
Darah segar mengucur dari hidung Alief. Dan tentu saja ia tahu jika Ricky tidak akan menolongnya karena prioritas saat ini adalah keselamatan penumpang, dan seluruh awak. Bukan dirinya.
"Kapal ini yakin telah menggunakan sistem GPS, pasti sudah menandai daerah-daerah yang berbahaya seperti karang, daerah laut yang dangkal, dan keadaan darurat," gumam Ricky saat ia berlari menuju ke kabin dan komplotan perompak mengejarnya.
"Berhenti!" teriak perompak.
Ricky terus berlari melewati para penumpang yang semakin panik.
"Jangan ada yang keluar dari kapal! Jika punya, pakai pelampung masing-masing," teriak pria tegap yang tadi menyelamatkan Ayah Berli.
Pria itu kalah, ia sedang diseret menuju kabin oleh dua orang perompak.
"Jangan banyak omong!" ucap perompak yang menyeret sambil meninju punggung anak buah Agam.
Yakin, mereka kalah jumlah. Ditambah perompak juga mempunyai senjata api.
"Dari badan tegapnya mereka mirip dengan orang-orang yang datang ke rumah Ayah beberapa hari yang lalu," bisik Ayah Berli.
"Ya Ayah, sudah aku katakan mereka pasti orang-orang Dirut HGC, bisa jadi para perompak ini juga berkomplot dengan Dirut HGC," bisik Hikam.
"Apa? Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Ayah Berli kaget.
"Ayah, Agam Ben Buana itu anteknya keluarga Haiden. Mereka licik, sikap dan sifat Agam Ben Buana pasti tidak jauh beda dengan keluarga Haiden," bisik Hikam dengan suara lembut dan tatapan polosnya.
"Huft," Ayah Berli menghela napas, mencerna ucapan Hikam.
.
.
.
.
Suasana di kabin masih menegang, anak buah Agam yang sebelumnya bertugas merebut kendali kapal feri masih terlibat perkelahian dengan sang nahkoda palsu.
Dan Rickypun tiba di kabin, untuk mencari tombol darurat.
Namun salah satu komplotan perompak berhasil mengejarnya dan mengkail leher Ricky dengan tambang hingga Ricky tersungkur.
"ARRGH," pekik Ricky dengan suara serak, matanya membulat dan langsung berair. Jeratan tambang itu mencekik dan menyakitinya.
"Veto, Ricky, kita harus menyerah!" teriak pria yang tadi diseret dan sempat menyelamatkan ayah Berli.
'Brugh.'
Iapun didorong kuat hingga menindih Ricky, tak lama kemudian Vetopun tumbang dengan cara yang sama dengan Ricky. Leher Veto dijerat jua oleh tambang besar.
"HAHAHA, baju dan barang-barang kalian terlihat mahal, kita bisa rampas guys," kata salah seorang perompak saat komplotan mereka yang berjumlah banyak itu mengikat Veto, Ricky, dan temannya.
"Pecundang kalian! Beraninya keroyokan!" teriak Ricky.
'PLAK.' Ricky ditampar.
"Diam! Atau kepala kalian akan diledakan lalu jasad kalian dibuang ke laut untuk makanan hiu!" ancam perompak.
"Begini saja, kalian rampok kami saja, kami ada empat orang, sepatu dan jam tangan kami mahal semua. Jangan merampok para penumpang," seru Veto.
"Hahaha, pastinya akan lebih untung jika kami merampok kalian semua," sambil mengencangkan ikatan.
Veto, Ricky, dan temannya diikat dijadikan satu.
"Yang di geladak sudah sekarat, ayo kita mulai bergerak! Oiya, ada penumpang yang lumayan cantik sekitar 8 orang, hahaha. Kita mainkan di kabin," ucap anggota perompak.
"Baji ngan kalian!" teriak Veto.
Lalu seorang gadis cantik didorong oleh seorang perompak masuk ke dalam kabin. Gadis itu histeris, menangis dan berteriak, minta tolong.
"Tolooong, tolooong."
"Lepaskan aku! Kalian mau apa, hahh?! Huuu," teriaknya dengan air mata menganak sungai.
"Kapten, dia yang paling cantik, sepertinya masih gadis, ini untuk Kapten."
Seorang perompak menyeret gadis itu kepada nahkoda palsu yang dipanggil kapten.
"Lucuti bajunya, biarkan dia di sampingku, aku akan menikmatinya di sini dan di kapal induk milik kita," perintahnya.
"Baik, Kapten."
"Aaaa, puih, puih!" Gadis itu meludahi si perompak.
"Kalian keparat! Kalian iblis!" teriak gadis itu saat pakaiannya dilucuti. Hanya disisakan pakaian dalam saja.
Rikcy dan teman-temannya melongo, miris dan geram. Namun apa daya, mereka kalah jumlah.
"Harapan kita hanya si Alief, semoga dia terpikirkan untuk menghubungi big boss," bisik Veto pada temannya.
"Yanyan, kamu kok tidur, sih? Oiya ayah Berli bagaimana?" tanya Ricky.
Mereka berkomunikasi sambil berbisik.
"Gila kamu, aku bukan tidur. Aku tidak tega melihat gadis itu. Lihat, kapten breng sek itu sedang memainkan tubuh gadis itu. Ayah Berli hampir ditikam, tapi aku berhasil menyelamatkannya."
"Syukurlah."
Dan benar saja, kapten biadab itu tengah menjamahi gadis itu sambil mengendalikan roda kemudi joy stick kapal feri. Mengerikan, menjijikkan.
Veto, Yanyan, dan Ricky memejamkan mata saat menyadari jika si kapten yang diyakini sebagai kepala bajak laut akan melakukan tindakan asusila pada gadis malang itu.
Hati mereka sakit, ingin menyelamatkan, tapi tidak berdaya.
Teriakan putus gadis itu terdengar jelas.
"Jangan melihat! Tutup mata kalian!" perintah si nahkoda biadab.
"Arrggh ... uhhh .... Huuu, jangaaan!"
"Sss-sa-sakiiit! Tolooong," jeritnya.
Gadis itu meronta, namun percuma saja.
"Huuu .... Aaaa .... huuks ... huuks ... ahhh ...."
Dan suara gadis itu semakin mengecil. Ia kehabisan tenaga karena sudah meronta dan berteriak sedari tadi.
Kini ... ia hanya bisa pasrah dan putus asa. Gadis itu pastinya sangat kesakitan dan merasa terhinakan. Ia merintih dan terus manangis.
Gadis pingsan saat si kapten laknat telah menyalurkan seluruh hasratnya sambil mengerang-ngerang. Kapten biadab itu meracaukan sesuatu yang menurutnya begitu nikmat.
Menikmati seorang gadis di tengah lautan, rasanya begitu luar biasa, pikirnya.
"Gadis ini milikku, jangan ada yang menyentuhnya," katanya. Ia menatap wajah gadis itu dan menyibak rambut yang jatuh di wajahnya.
"Ambil barang berharga milik mereka," perintahnya lagi.
Akhirnya anak buah Agam yang diketahui bernama Yanyan, Erick, dan Veto pasrah saja saat pistol, sepatu, dompet, jam tangan, dan jaket mereka dilucuti para perompak.
Siapakah kepala bajak laut itu? Dia mahir bela diri. Dia juga pandai mengendalikan kapal feri. Kaliber senjata anak buahnya tergolong tinggi. Batin Veto.
.
.
.
.
Sementara itu harapan mereka satu-satunya yaitu Alief masih tergeletak tidak berdaya di geladak. Beruntung, komplotan perompak tidak membuangnya ke laut.
Perlahan ia membuka mata saat pusing di kepalanya berkurang. Alief berniat merangkak ke dalam kapal, tapi seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakit.
Tadi, punggung dan perutnya diinjak dan ditendang oleh beberapa orang.
"Big boss, maaf ... kami gagal," lirihnya.
Big boss yang dimaksud adalah Agam Ben Buana.
Alief menatap sendu pada langit yang indah, bintang kejora berkerlip-kerlip nun jauh di sana. Deburan ombak memanjakan telinganya, dan angin menjelang pagi mendinginkan tubuhnya.
Diraih kembali ponsel di sakunya. Sementara dompet dan pistolnya sudah raib.
DEG.
Ada secerca harapan yang membuatnya tersenyum.
Ada signal.
Tangannya langsung bergerak cepat.
Calling Big Boss.
***
Rumah Sakit Internasional, The Number One
Pukul 04.07 waktu setempat.
Linda membuka mata karena mendengar ponsel Agam bergetar beberapa kali.
Perlahan Linda bangun, kondisi post operasinya sudah membaik, tidak terasa sakit lagi saat kakinya bergerak. Yang tersisa hanya pusing saja. Itupun tidak parah.
"Pak Agam," panggilnya. Menatap yang tertidur di sofa.
Agam mengurung dirinya menggunakan selimut sampai seluruh tubuhnya tidak terlihat. Namun Agam bergeming.
Pulas sekali.
Ponsel itu terus bergetar, lalu seperti ada pesan masuk.
Linda berusaha bangun, ia meraih cairan infus dan mematikannya.
Linda berjalan lambat ke kamar mandi untuk membuang produksi urine yang hampir penuh, mencuci muka dan menggosok gigi.
Saat Linda keluar dari kamar mandi, ponsel Agam masih bergetar. Diintipnya karena penarasan.
Realief Calling. Tertera di layar.
Lalu ada banyak notifikasi yang tidak sengaja terbaca oleh Linda.
"HELP US !!!"
"Pembajakan kapal feri E452 DT."
"Sekitar 45 derajat lintang tenggara."
"Lokasi perairan Laut Tenggara."
"Sorry Pak, kita kalah jumlah."
"Mereka bersenjata api."
"A-apa?" Spontan lutut Linda lemas
Pembajakan? Tidak bisa dipercaya.
Linda menutup mulutnya. Ponsel Agam diletakan kembali di tempat semula. Dan ponsel itu berhenti bergentar.
"Uhhuk, uhhuk," terdengar Agam batuk.
Linda menghampiri dan menyingkap perlahan selimutnya.
Tampaklah wajah tampan itu masih terlelap, namun wajah Agam sedikit memerah. Ada titik keringat di pelipis dan lehernya.
Spontan tangan Linda menyentuh pelipis Agam.
"Pak," Linda panik lagi.
Agam demam tinggi. Linda mengambil termometer elektrik, lalu perlahan menekan dagu Agam agar bibirnya terbuka dan bisa memasukan ujung termometer ke mulutnya.
'Tiiit ...'
Mata Linda membulat.
39,4 derajat celcius.
"Kamu demam tapi seolah baik-baik saja," gerutunya.
Akhirnya Linda menekan bel, dan dua orang suster datang.
"Pak Agam," panggil suster.
Tangan suster menyentuh kening Agam, dan diluar dugaan, Agam tiba-tiba membuka mata dan mendorong suster itu hingga jatuh bersimpuh.
"Berani kamu menyentuh saya?!" bentak Agam, pria itu duduk dan memelototi suster.
"Maaf, Pak."
"Pak Agam tenang dulu," Linda meraih tangan Agam.
"Kamu sudah bagun? Bagaimana? Sudah tidak sakit?" Ia menatap Linda sambil tersenyum.
Perangai Agam berubah seratus delapan puluh derajat saat berkomunikasi dengan Linda.
"Bap ---."
"Keluar saja, Sus. Saya bukan pasien," kata Agam. Ia bahkan menyela ucapan Linda.
Merekapun keluar. Linda meminta maaf.
"Maaf ya, Sus."
"Tidak apa-apa, Bu LB. Kami asistennya dokter Fatimah, tidak perlu sungkan."
Merekapun keluar.
"Kenapa kamu memanggil suster? Tanpa seizin saya, kamu membiarkan tangan wanita lain menyentuh saya? Tolong jangan lakukan itu lagi, saya tidak suka," protesnya.
Matanya menatap tajam pada Linda, sementara jari telunjuknya menempel di bibir Linda. Seolah tidak ingin mendengar kata bantahan.
"Pak Agam, dengar ya. Bapak sakit, demam tinggi. Sampai 39,4 derajat."
Linda kembali memegang kening Agam bersamaan dengan ponsel Agam yang kembali bergetar.
Linda tersadar, ia ingin menjelaskan, namun Agam sudah terlebih dahulu bangun dari sofa dan meraih ponselnya setelah mengecup tangan Linda.
Alis Agam mengernyit saat ia membuka ponselnya. Lalu balik badan, dan mendadak memeluk Linda.
"El, saya harus pergi," katanya.
"Tapi Bapak sedang sakit, bisakah menyuruh orang lain saja?"
Linda menatap Agam. Kekhawatiran jelas tersirat di wajahnya.
"Tenang saja, saya tidak akan pergi sendiri, tapi jelas harus ke sana, karena di sana ada orang spesial yang harus saya temui." Lalu mengecup kening Linda.
"Spesial? Siapa?" tanya Linda sambil mengusap keningnya. Serius, kecupan dari bibir Agam membekaskan panas di keningnya.
"Nanti juga kamu tahu, hehehe," katanya.
Agam melepaskan dekapannya. Lalu bergerak cepat memakai kemeja, jas, dan mengambil tasnya.
Orang spesial? Siapa? Apa aku tidak spesial? Batin Linda. Sejenak ia merenung.
"Uhhuk," Agam batuk lagi.
"Pak Agam, Bapak sakit, aku khawatir."
Linda mendudukan diri di bed pasien dan menatap Agam lekat-lekat.
"Emm, saya yakin akan baik-baik." Agam sudah siap dan ia mendekati Linda.
"Jangan panik, okey?" ucapnya. Posisi wajah Agam tepat di depan wajah Linda.
Bahkan hembusan napas Agam terasa panas saat menyapu wajah Linda.
"Pak Agam, kenapa keras kepala sih? Kamu sakit, Pak." Linda memegang kedua pipi Agam.
Dan pipinyapun panas juga.
"Kamu sangat cantik, El." Yang dikhawatirkan malah terpesona.
"Pak, aku serius, apa Bapak tidak minum obat dulu? Atau tidak sarapan dulu?" tanya Linda.
Dada Linda sudah naik turun karena wajah Agam teramat dekat dan membuatnya gugup.
"Mau, saya minum obat, dan sarapan," kata Agam.
"Beli di luar?" tanya Linda.
"No. Semuanya ada di sini," jawab Agam. Sambil mengusap bibir Linda dan tersenyum penuh makna.
"Hahh?" Linda kaget.
"Bolehkah?" desak Agam.
"A-apa? Apa benar bi-bisa mengobati?" tanya Linda.
Sebuah pertanyaan bodoh dari seorang manusia yang jelas-jelas tengah dilanda kasmaran.
Mana ada bibir bisa mengobati demam. Linda mendadak bodoh. Mana, katanya tidak ada kontak fisik? Nonsense.
"Ya tentu saja, El .... Harus dicoba dulu agar manfaanya bisa saya rasakan," jawabnya.
Sebuah jawaban yang tak kalah naifnya. Terlontar begitu saja dari seseorang Dirut yang bahkan sebentar lagi akan menyelesaikan kuliah doktoralnya.
Ck ck ck, benar memang, cinta itu buta dan membutakan. Satu hal lagi, cinta bisa membodohkan.
"Bolehkah?" Agam memastikan kembali.
Dan Agam tersenyum saat menyadari jika Linda telah memejamkan mata dan pipinya merona.
Itu berarti boleh, terima kasih, El .... Batin Agam.
Mereka tahu ini dosa, tapi .... Rasa cinta dan rindu itu begitu menuntut.
Lalu ....
Agam memagutnya dengan lembut dan hati-hati. Menyesap dan mengulum. Merenggut, meraih, menelusur dan mencari-cari.
Agam begitu mahir, mumpuni, terkontrol dan terorganisir. Berbeda dengan Linda, Agam tidak menutup mata. Seru ternyata bisa menikmati bibirnya sambil menatap wajah eloknya.
Linda meremang, tubuhnya seolah kehilangan separuh kekuatan, ia melemas. Hingga Agam menahan tengkuk dan merengkuh pinggang indahnya yang bak biola itu.
Bibir Agam benar-benar hot alias panas, tapi ... Linda tidak menolak.
Bahkan, Linda pun membalasnya. Dan kedua tangan Linda kini sudah memeluk erat punggung Agam.
"Mmm ... emmh ....," dan seterusnya.
Agam dan Linda terlena, iblis tertawa. Tolong jangan melakukan adegan ini, kecuali dengan pasangan halalmu.
Kapankah pertautan intim itu akan berakhir? Entahlah.
Tapi sepertinya akan segera berakhir dengan cepat.
Kenapa?
Karena di luar kamar, tampak dokter Fatimah berjalan tergesa ditemani dua asistennya dengan wajah panik.
Dokter Fatimah memiliki akses, dengan mudahnya ia bisa masuk ke kamar itu.
Dan saat ini ia terkejut mendapati pasien tercantiknya tengah bermesumisme. Dokter Fatimah dan asistennya melongo.
Parah, Agam dan Linda tidak menyadari jika mereka terciduk.
Oiya, Agam Ben Buana telinganya telah terlatih, bukan? Nonsense.
Karena faktanya, Agam tidak mendengar apapun, kecuali ... napas Linda dan napasnya sendiri yang tidak beraturan dan mulai tersenggal-senggal.
NB : Wangi pasta gigi dan aroma buah mangga sedang tercampur.
.
.
.
.
___
Happy reading .... jika berkenan mohon votenya agar nyai semangat. Semoga bisa mengintai lagi dalam waktu dekat.
Semoga lonjakan corona, dan delta corona segera berakhir. Aamiin.
Tidak ada kata menyerah untuk sebuah perjuangan.
Oiya, corona delta sering tidak ditandai dengan gangguan penciuman. Ciri khasnya adalah ... sakit perut, hilang selera makan, mual, nyeri sendi, dan gangguan pendengaran.
Patuhi terus PPKM Darutnya ya ...
Salam sehat dan salam sayang dari nyai.
Dan jangan lupakan senjata terampuh kita, DOA. Selalu memohon perlindungan-Nya setiap saat.