AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Tentang Mereka



"Pak, jangan berlebihan deh," goda Linda. Malah berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher Agam.


"Sayang, saya tidak berlebihan. Kalau tiba-tiba mau, bagaimana? Sekarang juga sepertinya sudah ada yang menggeliat gara-gara kamu seperti ini," protes Agam. Terpaksa mengurai tangan Linda yang melilit di lehernya.


"Issh, Pak Agam 'tuh di dalam otaknya jangan-jangan isinya adegan biru semua," protes Linda.


Setelah mengganti baju dengan yang tertutup, Linda akhirnya pergi. Lebih baik ke kamar Keivel pikirnya daripada tetap di kamarnya tapi sedikit membatin gara-gara ulah kekanak-kanakan pak Dirut. Agam terkekeh. Merasa lucu dengan sikap Linda, dan sebal sendiri pada dirinya yang selalu menginginkan itu.


"Huft."


Pak Dirut menghela napas agar yang tiba-tiba menggeliat itu kembali tertidur. Setelah tenang iapun menyusul Linda ke kamar Keivel. Rasanya tak afdal jika bepergian tanpa mencium Keivel terlebih dahulu. Jika Linda adalah vitaminnya, maka Keivel adalah amunisinya.


"Mmuach, mmuach."


Di kamar, saat Agam datang, Linda sedang sibuk menciumi Keivel yang sudah mandi dan wangi. Bayi itu setiap harinya semakin tampan dan menggemaskan saja. Pipinya bulat bak bakpau. Matanya jeli dan jernih.


Hari ini Keivel memakai celana sebatas lutut, baju lengan pendek dan auter khusus bayi yang menyerupai baju kodok. Terlihat lucu sekali. Suster Dini dan ners Sinta bahkan berulang kali mengeratkan gigi karena tak tahan melihat kelucuan Keivel. Ditambah hari ini Keivel memakai sepatu boot khusus bayi.


"Sekarang giliran saya, sayang."


Pak Dirut merebut Keivel dari pangkuan Linda. Setelah menimang Keivel, lanjut menciumi sekujur tubuh bayi tersebut hingga Keivel tertawa-tawa karena kegelian.


Lalu Agam membawa Keivel ke lantai satu untuk menemaninya sarapan. Linda menguntit, disusul suster Dini dan ners Sinta.


Di ruang makan, pak Yudha dan bu Ira sudah menunggu.


"Ayo semuanya sarapan bersama," ajak Agam.


"Biar saya yang pangku Keivel, Pak," tawar ners Sinta.


"Tidak, saya tetap yang pangku Keivel. Anda makan saja. Sayang, kamu suapi saya ya," suruh Agam pada Linda sambil tersenyum.


"Baik," jawab Linda.


Mereka akhirnya sarapan bersama. Linda dan Agam makan satu piring satu suapan. Karena selain menyuapi Agam, Linda juga menyuap untuk dirinya sendiri. Sebelum acara sarapan bersama usai, ponsel Agam menyala. Pak Yudha sigap mengambil ponsel dan menyerahkannya pada Agam.


Ternyata, itu hanya sebuah pesan singkat yang dikirim melalui aplikasi pesan. Agam membukanya. Tangan Agam yang lain masih mendekap Keivel yang saat ini matanya mulai terpejam terbuka. Rupanya, bersemayam di dada bidang dan lengan kokoh milih parennya, membuat Keivel merasa nyaman hingga terkantuk-kantuk.


"Hahaha."


Tiba-tiba Agam tertawa, sontak Keivel teperanjat dan menangis karena kaget. Linda kesal. Langsung memukul bahu Agam.


"Pak, kenapa 'sih? Keivel kaget 'tuh," protes Linda sambil merebut Keivel dari dekapan Agam dan menghentikan sarapannya. Yang lainpun melongo keheranan.


"Hahaha, hahaha, ini ada pesan dari pak Widi, supirnya tuan Yohan. Katanya, hari ini tuan Yohan mau disunat, minta doanya supaya lancar," terang Agam.


"Apa?!" Linda terkejut. Pun dengan yang lain.


"Untuk apa tuan Yo disunat, Pak? Untuk kesehatan?" tanya Linda.


"Lebih dari untuk kesehatan sayang. Tuan Yo, alhamdulillah mau disunat karena mau bersyahadat," terang Agam.


"Alhamdulillaah," jawab semuanya.


"Semoga operasinya lancar ya Pak. Aku turut bahagia." Linda berbinar.


"Aamiin."


Setelah acara sarapan selesai, Agampun pergi menuju kantor BRN serta akan pergi ke suatu tempat untuk mengurus kepulangan Gama, pembatalan rawat inap, dan pemulihannya di luar negeri.


...❤...


...❤...


...❤...


Hari ini adalah hari paling menegangkan bagi seorang Yohan Nevan Haiden. Bagaimana tidak, hari ini ia harus siap lahir batin untuk dilakukan tindakan sirkumsisi alias sunat.


Keinginannya untuk pindah keyakinan ternyata tidak main-main. Sebelum bersyahadat, ia memilih untuk dilakukan sunat dulu dengan alasan agar hatinya lebih tenang.


Sekarang, setelah keputusannya untuk pindah keyakinan diketahui oleh keluarga besar Haiden, tuan Yohan jadi sering berkomunikasi dengan tuan Bahir dan tuan Deanka prihal agama barunya.


Di keluarga Haiden memang terdiri dari berbagai macam keyakinan. Dan mereka tak pernah mempermasalahkan keyakinan apapun yang akan dipilih oleh anggota keluarga Haiden.


Permusuhan dan ketidakharmonisan di keluarga Haiden tak pernah ada sangkut pautnya dengan agama mereka. Semuanya murni bermusuhan rata-rata karena persaingan bisnis.


"Hihihi," Aiza tak henti terkikik membayangkan Yohan disunat.


Deanka dan Aiza sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit di mana Yohan akan dilakukan operasi. Pak Barata yang menyetir. Aiza dan Deanka tidak membawa bayi mereka.


"Cukup, Za. Apa yang lucu, hah?" Tuan Muda kesal. Mencubit pipi Aiza.


"Apa tuan Yohan akan mengamuk? Bagaimana kalau dokter bedahnya ditendang? Apa kaki tuan akan Yohan diikat?" tanya Aiza yang saat ini tengah bersandari di bahu Deanka. Pak Barata hanya bisa mengulum senyum mendengar celotehan Aiza.


"Baby, disunatnya orang dewasa berbeda dengan anak kecil. Yohan tak akan mengamuk. Dia ditidurkan, dibius, tak akan merasakan sakit, faham?"


"Hahaha."


Aiza masih tertawa. Sebenarnya, Aiza juga faham proses sunat pada orang dewasa. Namun ia merasa lucu dan terharu saja karena mantan maniak s e k s itu akhirnya disunat juga karena mau pindah keyakinan dan katanya mau bertaubat.


"Sebenarnya, di keluarga Haiden walaupun bukan muslim, biasanya tetap disunat, demi alasan kesehatan dan masa depan. Tapi, saat Yohan masih kecil, aku ingat dia menolak disunat," jelas Deanka.


"Menurut penelitian yang disunat itu rasanya lebih mantap daripada yang tidak disunat," bisik Deanka.


"Apa? Rasa apa?" Entahlah Aiza pura-pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu.


'Ctak.' Kening Aiza malah disentil Deanka.


"Ahh, sakit, Kak," keluhnya.


"Jangan pura-pura polos baby."


"Serius Kak, aku tak tahu," kata Aiza. Pipinya merona.


Lalu Deanka berbisik lagi. Entah apa yang ia katakan. Yang jelas, setelah Deanka berbisik, Aiza mengangguk-angguk. Pak Barata geleng-geleng kepala. Kelakuan pasangan muda ini memang sering membuatnya mesem-mesem.


Sementara itu, sosok yang akan disunat, alias tuan Yohan Nevan Haiden tampak sudah bersiap untuk memasuki ruang operasi. Ia didampingi oleh pegawai setianya, pak Widi. Serius, ia gugup. Beberapa kali menghembuskan napas. Wajahnya yang memang sudah putih, semakin memucat saja.


"Tuan, Anda yakin mau pindah keyakinan demi nona Sea?"


"Pak, Sea hanya pelantaranya saja. Selebihnya, aku memang tertarik dengan cara beribadahnya Aiza, Deanka, dan tuan Bahir. Aku sebenarnya sudah memperhatikan sedari dulu."


"Selain itu, setelah aku mempelajari sedikit makna ayat dari Al-Qur'an, aku menemukan banyak sekali fakta di muka bumi ini yang ternyata sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam Al-Qur'an," terang Yohan seraya merenung.


"Kalau misalnya nona tetap Sea menolak Anda, walaupun Anda sudah pindah keyakinan, bagaimana?"


"Pak, aku pindah keyakinan pada dasarnya bukan karena Sea, tapi karena hidayah," tegasnya. Lalu meninggalkan pak Widi saat asisten dokter bedah memanggil namanya.


Pak Widi menghela napas. Ia tak bisa melakukan apapun kecuali mendukung pilihan Yohan dan akan tetap mengabdikan diri pada Yohan walaupun sebentar lagi ia dan Yohan akan berbeda keyakinan.


...❤...


...❤...


...❤...


Freissya harap-harap cemas. Ia telat empat hari dari jadwalnya datang bulan. Di satu sisi ia senang jika bisa mengandung anak dari pria yang dicintainya. Namun di sisi lain, ia takut jika kehamilannya akan berdampak lebih buruk terhadap hubungannya dan kedua orangtuanya.


Di hari berikutnya, barulah Freissya bisa bernapas lega. Sebab, ia datang bulan. Yang artinya, hubungan badannya dengan Gama kala itu, tidak sampai berlanjut ke tahap pembuahan.


Waktu terus berlalu, hingga tak terasa jika ia ternyata telah ditinggalkan oleh Gama ke luar negeri selama lima bulan.


Karena merasa tidak ada kepastian, Freissya akhirnya berusaha keras untuk menghapus jejak dan nama Gama di hatinya. Namun faktanya, ia tetap tidak bisa melupakan pria itu.


Hingga suatu hari, saat hujan di pusat kota turun dengan lebatnya, saat Freissya berteduh di halte karena tidak membawa payung, ia tak sengaja melihat sosok yang sangat mirip dengan Gama. Sedang berteduh juga. Matanya fokus ke jalan raya.


Freissya memegang dadanya. Ia berpikir, karena terlalu merindukan Gama, ia sampai berhalusinasi. Freissya terus mencuri pandang pada sosok itu dengan jantung berdegup.


Lalu sebuah mobil mewah berhenti di depan halte. Beberapa orang pria turun membawa payung dan ternyata akan menjemput sosok pria muda yang mirip dengan Gama.


Deg, jantung Freissya kian bergemuruh. Ia melihat dengan jelas jika para pria tegap yang menjemput pria mirip Gama itu memakai pin yang ia kenali sebagai pin anggota BRN.


Val, apa itu kamu?


Freissya menatap sosok Gama yang saat ini hendak menaiki mobil mewah tersebut. Mobil itu segera berlalu dan hilang dari pandangan Freissya saat batinnya masih dipenuhi rasa kepenasaranan dan keheranan.


Lalu, setelah mengumpulkan keberanian, Friessya mengirim sebuah pesan untuk pak Yudha.


"Pak, mohon maaf menganggu, boleh 'kah aku bertanya tentang kabar tuan Val? Apakah setelah berada di luar negeri keadaannya baik-baik saja?" Pesan terkirim.


Lama Freissya menunggu. Namun tak kunjung ada balasan. Bahkan hingga hujan mereda, pak Yudhapun tak membalas jua. Freissya menyerah. Ia tak lagi menunggu balasan. Segera memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Kemudian bersiap kembali untuk mengayuh sepedanya menuju rumah sakit.


Saat ini, ia hanya bisa mengandalkan doa. Jika Gama memang jodohnya, ia yakin mereka akan bersatu kembali dengan cara apapun. Jika bukan, Freissya berharap agar Gama bahagia bersama wanita pilihannya.


'Tak.'


Freissya merasa ada kerikil yang tak sengaja terlempar ke ban sepedanya. Freissya berhenti sejenak untuk mengecek. Alisnya mengernyit. Ada gulungan kertas yang terselip di jari-jari sepedanya.


"Apa ini?"


Segera diambil. Gulungan kertas itu ternyata berisi kerikil. Tak ada yang aneh pada kerikil itu. Hanya kerikil biasa. Namun saat Freissya memperhatikan kertasnya, keanehan itu ternyata terletak pada kertasnya.


Di kertas itu ada tulisan tegak bersambung yang ditulis menggunakan spidol. Tertulis ....


..."Jangan berani ataupun coba-coba melupakan aku! Ingat, kamu mengatakan akan menungguku! Jika kamu ingkar janji, maka kamu harus siap dengan pembalasanku! Aku memang tak berada di sisimu, tapi itu bukan berarti aku tak bisa melihat kamu. Kalau aku mau, aku bahkan bisa mendengar suara dengkuran kamu!"...


"A-apa?!"


Freissya menelan salivanya dengan susah payah. Tangannya gemetar. Matanya mengitari sekitar.


"Val?" gumamnya.


Seketika, bibirnya yang mungil namun tebal itu tersenyum tipis. Hatinya hangat. Matanya berkaca-kaca. Freissya menangis haru. Cepat-cepat ia mengambil pulpen dari sakunya untuk membalas pesan misterius itu.


..."Aku rindu, aku ingin bertemu."...


Lalu kertas itu digulung kembali dan diletakkan di sisi jalan.


...~Tbc~...


IsyaaAllah, AGAPE akan segera berakhir. Jika sesuai dengan kerangka cerita, AGAPE hanya tersiasa 15 episode lagi. Semoga diberi kelancaran sampai tuntas. Belum siap rasanya nyai berpisah dari keluarga besar AGAPE.