
Ada yang beranggapan bahwa rasa cemburu adalah bumbu dari sebuah hubungan asmara. Perasaan ini muncul karena ada rasa memiliki terhadap pasangan. Meski dianggap bumbu, bukan berarti rasa cemburu selalu berakhir positif.
Pada kadar tertentu perasaan tersebut bisa saja merusak suatu hubungan. Rasa cemburu yang berlebihan nyatanya dapat memicu pertengkaran dalam sebuah hubungan.
Linda menghela napas, tiba-tiba merasa khawatir jika perasaan cemburunya akan berubah menjadi malapetaka. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Segera ia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Agam.
Linda sadar jika rasa cemburunya muncul karena ia membiarkan pikiran negatif mengganggunya. Padahal, besar kemungkinan jika Agam hanya diundang di acara makan malam itu, dan benar-benar sedang sibuk hingga lupa memberi kabar kepadanya.
"Pak Agam, maaf ya ... aku tadi lagi di kamar mandi." Pesan terkirim.
Tak dinyana Agam langsung menelepon.
"Sayang, kamu membuat saya khawatir, cepat kabari dokter Rita, pintunya tidak jadi didobrak," kata Agam.
"Maksud Bapak, apa? Pintu apa yang mau didobrak?" Linda melongo, gugup juga karena ia telah membohongi suaminya.
"Kamu tidak bisa saya hubungi, saat saya minta bantuan dokter Rita, dia juga tidak bisa menemui kamu. Saya panik, El. Lain kali, jika tidak sedang bersama saya jangan keseringan mengunci pintu kamar," tegas Agam.
Glek, Linda menelan saliva. Tidak menduga jika Agam akan merusak pintu demi dirinya. Memang sih, pintu dapat diperbaiki. Tapi ... itu terdengar sedikit berlebihan.
"Pak, aku di kamar mandi, pastinya tidak akan dengar kalaupun dokter Rita memanggilku."
"Nah, itu karena kamu mengunci pintu, sayang. Janji sama saya kalau kamu tidak akan membuat saya khawatir lagi," tegasnya.
"I-iya, Pak .... Maaf," ucap Linda.
"Hmm, saya takut terjadi apa-apa padamu, sayang ...."
Suara Agam terdengar lirih. Ya, Agam pastinya khawatir pada Briliant dan wawancara ilegal itu. Pada kenyataannya, keselamatan Linda memang sedang terancam.
"Aku baik-baik saja," kata Linda. Walaupun perasaannya masih kesal dan cemburu. Tapi sebisa mungkin ia tahan.
"Kapan pulang?" tanya Linda.
"Emm, saat aqiqah Keivel." Sekarang Pak Dirut yang berbohong.
"Oh," jawab Linda singkat.
"Persiapan aqiqahnya sudah sampai mana, El?"
"Katanya hampir 90 persen, Pak."
"Baik, semoga tidak ada kendala ya."
"Apa hari ini Pak Agam sangat sibuk?" Linda mulai memancing.
"Lumayan sayang, memangnya kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa, Pak. Hanya mau bertanya saja, boleh, kan?" Mulut Linda mengatakan itu, padahal dalam hatinya, ia berkata ....
Dasar sok kaya! Dasar sok ganteng! Beraninya kamu senyum-senyum pada wanita lain! Beraninya kamu berkumpul dengan wanita-wanita seksi yang gatel itu! Awas kamu ya! Apa kamu tidak sadar sudah punya anak dan istri?!
"El, sayang .... El ...." Agam memanggil Linda berulang-ulang.
"I-iya, Pak." Gugup.
"Em, begini sayang, besok kamu mulai olah raga ya, saya sudah berkoordinasi dengan dokter Dani untuk mendatangkan pelatih."
"Hah, olah raga?!" Sampai duduk karena kaget.
"Ya sayang, atau lebih tepatnya senam nifas."
"Ke-kenapa harus mendatangkan instruktur, Pak? Aku bisa sendiri," elak Linda.
"Sayang, segala sesuatu akan lebih tepat jika dikerjakan oleh ahlinya. Kamu harus banyak berlatih, terutama untuk kekuatan kaki dan panggul," jelas Agam. Dan percayalah, di sana Agam berbicara sambil tersenyum.
"Ke-kenapa kaki dan panggul? Perasaan panggul dan kakiku baik-baik saja, aku tidak mau," tolaknya.
"Baik, kalau kamu tidak mau, saya yang akan jadi pelatihnya, kamu bersedia?"
"Hah, a-a-apa?" Linda panik. Tangannya gemetar.
"Hahaha, ya sayang, saya jamin kamu akan ketagihan berolahraga jika instrukturnya adalah saya."
"Aku menolak!" tegas Linda.
"Saya memaksa." Agam tidak mau kalah.
"Tidak mau!"
"Saya mau, El."
"Ihhh, Pak Agam, pokoknya aku tidak mau!" Linda kesal.
"Ahhh ... sayang, pokoknya saya mau," suara Agam malah terdengar menggoda.
"Cukuuup!" teriak Linda.
Dan ....
'BRAK.' Linda terkejut.
"Aaaa," teriak Linda.
"Suara apa itu?!" Di sana Agam pun kaget.
Linda melongo.
"Hallo, hallo, hallo," seru Agam.
Mata Linda membulat, pintu kamarnya benar-benar didobrak. Dokter Dani, Hikam, dan Ayah Berli telah berdiri tegap di atas pintu yang telah menjadi korban. Dokter Rita dan suster saling bertatapan.
"Kenapa sayang? El?" panggil Agam.
"P-Pak ... maaf, pi-pintu kamar kita, em didobrak."
"A-APA?!"
"Kan ngobrol terus, aku jadi lupa memberitahu dokter Rita."
"Oiya ya, hahaha, saya juga lupa mengingatkan lagi. Tidak apa-apa sayang, itu hanya pintu, bisa diganti lagi dengan pintu yang baru," kata Agam.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"A-ampun, Bapak ... a-aku tidak melakukan kejahatan itu, aku tidak menjual diri pada siapapun," kilah Freissya.
Di kamarnya, Freissya tengah dijambak oleh ayahnya. Pipi Freissya memar. Mama Freissya hanya bisa menangis di pojokan kamar. Ia tidak menyangka jika putri sulung kebanggaannya berani melakukan perbuatan amoral itu.
Kemarahan ayah Freissya berawal dari info yang didapatinya dari dokter Gio. Dokter Gio mengatakan, tanpa sengaja ia menemukan black card asli di dompet milik Freissya. Freissya juga kedapatan memberikan sumbangan tunai bernilai puluhan juta rupiah ke sebuah yayasan amal.
Selain itu, pada dokter Gio, Freissya mengatakan sudah tidak suci lagi dan mengatakan jika hubungan mereka benar-benar telah berakhir.
Dari informasi itulah ayah Freissya dan sang mama naik pitam. Lantas mereka menggeledah kamar Freissya saat gadis itu tengah membersihkan kandang ayam. Benar saja, black card itu ada. Pantas saja Freissya selalu diantar jemput oleh taksi.
"Jujur pada Bapak, Freissya! Apa kamu jadi simpanan sugar daddy?! Atau kamu sengaja menjual kesucian kamu pada seorang bos?!"
'Plak.'
'Plak.'
'Plak.'
Freissya ditampar lagi hingga tubuhnya tersungkur.
"Bapak! Cukup! Jangan disiksa lagi!" larang Mama. Memeluk tangan Bapak.
"Diam kamu! Apa kamu mau ke neraka gara-gara ulah anak ini?!" sentak Bapak. Mamapun tak luput dari amarahnya. Tubuh Mama didorong hingga tersungkur jua di sisi Freissya.
"Huuu ... huuu ... Bapak ... jangan menyakiti Mama, a-aku yang salah," lirihnya sambil melindungi wajah dari kemurkaan ayahnya.
"Katakan! Apa yang terjadi?! Siapa pria yang sudah membeli kehormatan kamu?!" Bapak berteriak lagi. Sambil menghentakkan kaki ke lantai.
"Aku tidak memiliki sugar daddy, Pak. Aku juga tidak jual diri. S-se-semua ini terjadi karena kesalahfahaman," terang Freissya dengan tubuh gemetar.
"Bohong kamu!"
"A-aku jujur Pak ...."
"Baik, sekarang katakan siapa laki-laki yang terlibat kesalahfahaman dengan kamu, hahh? Siapa?!"
"A-aku tidak bisa mengatakanya Pak ...."
"A-aku lupa ...."
Freissya berpikir keras. Sedang mencari cara untuk mengelabui ayahnya. Dalam hal ini, Freissya sudah berjanji tidak akan melibatkan Gama.
Ting, ada ide, semoga berhasil.
"Bapak, aku dijebak seseorang, saat aku bangun, aku sadar telah kehilangan kesucianku. Dan di dalam tasku sudah ada kartu itu," kata Freissya.
"APA?! Kamu pikir Bapak akan percaya, hahh?! Tidak semudah itu Freissya!"
Pria itu kembali menjambak rambut Freissya lalu membenturkannya pada bantal. Untung saja hanya pada bantal, coba kalau ke tembok? Mungkin, di dalam batin ayah Freissya masih ada sedikit rasa iba.
"Huuks, Pak sudah." Lagi, Mama memohon. Tapi tidak berhasil.
"Sekarang Bapak akan memberikan dua pilihan pada kamu! Pertama, jujur pada Bapak tentang semuanya, atau yang kedua, kamu silahkan bungkam, tapi ... Bapak tidak ingin melihat kamu berada di rumah ini lagi!"
"Ta-tapi Pak ...."
"Kamu bukan anak kecil lagi Freissya! Lagipula anak Bapak bukan kamu saja!"
"Pak, maafkan aku. Jangan mengusirku, huuu."
"Makanya kamu jujur dong FREISSYA!!" teriak Bapak, lalu keluar dari kamar Freissya dan membanting kencang pintu yang tidak berdosa. Tapi, nasib pintu kamar milik Freissya masih lebih baik daripada pintu kamar milik Linda.
Setelah berada di kamar seorang diri, Freissya melamun sambil menangis. Ia bingung sebingung-bingungnya.
"Huuu ... Val ... aku harus bagaimana?" Tanpa disadari, ia memanggil nama itu.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Deg, di sebuah tempat rahasia, Gama tiba-tiba merasa telinganya berdenging. Lalu ia teringat seseorang yang telah mengajarinya sesuatu yang sangat wah. Gama menyebutnya sebagai praktikum pelajaran biologi.
"Jangan melamun Sultan Yasa, lanjutkan pelajaranmu." Lagi, robot suara yang tidak berwujud itu menegurnya.
"Bisa diam tidak?!" bentak Gama.
"Aaaargh," teriak Gama.
"Anggota BRN dilarang berteriak sembarangan."
"Aku bukan anggota BRN, aku baru calon," sanggah Gama.
"Ha ha ha ha." Timpal mesin.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Menunggu atau menanti sesuatu seringkali terasa berat untuk dijalani. Pasalnya, dalam penantian seringkali ada rasa bosan dan putus asa yang menghampiri. Terlebih, jika suatu yang dinanti-nanti tak jua memberi kepastian.
"Aku menunggumu sampai waktu mengizinkan kita untuk bersatu. Ada hati yang menungguku pulang, ada hati yang menungguku kembali, ada hati yang kosong sejak aku pergi. Mungkinkah?" guman Agam. Ia bergumaman sambil merapikan meja kerjanya.
Harusnya, ia pulang lebih awal, namun demi menunggu ACC surat cuti, Agam rela bersabar. Ia akan mengambil full cuti hingga hari aqiqah. Senangnya ....
Aroma kebahagiaan terpancar jelas dari wajah tampannya. Sedari tadi bersiul-siul sambil sesekali menyisir rambut dengan sela jemari tangannya.
Semoga penerbangan malam ke Pulau Jauh tidak ada kendala, harapnya.
Agam pergi seorang diri. Pak Yudha tidak ikut. Karena Gama tidak tinggal di firma, jadi ... selama Agam di Pulau Jauh, maka pak Yudhalah yang harus bertanggung jawab dan melaporkan seluruh kegiatan Gama pada Agam.
Setelah semuanya siap, Pak Dirut diantar Pak Yudha menuju bandara.
"Pak, jangan lupa berikan berkas ini pada pengacara Vano." Agam memberikan map berisi berkas pada Pak Yudha, lumayan tebal.
"Baik, dan saya juga ada hadiah kecil untuk Keivel, ada di bagasi," ucap Pak Yudha.
"Hadiah? Tidak perlu repot-repot, Pak."
"Itu tidak seberapa. Tidak sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh Pak Agam untuk saya dan keluarga," sahut Pak Yudha.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Setelah memberikan ASI secara langsung pada putranya, Linda bergegas ke kamar. Hari ini adalah hari tersuramnnya. Bagaimana tidak?
Dia, ya dia. Dia tidak ada kabar sama sekali. Tidak menelepon maupun mengirim pesan. Parah.
Awalnya Linda ingin menelepon terlebih dahulu, tapi ....
Gengsi, jaga image.
Ia beberapa kali mengecek ponsel sambil menggerutu. Bahkan saat dirinya sudah memakai piyama tidur, Linda masih menggerutu.
Lalu ia ke kamar mandi untuk mengecek darah nifasnya. Takutnya keluar lagi. Hasilnya ....
Bersih.
Berarti secara sistem tubuh, ia benar-benar telah mengakhiri masa nifasnya.
Kembali merebahkan diri, menatap langit-langit kamarya yang menjulang tinggi. Lalu memeluk sang guling dan gelisah.
Kenapa ya? Kok aku jadi insomnia? Batinnya.
Apa karena kelelahan?
Tapi, yang menggendong bayi Alf kan suster, bukan dirinya.
Tapi, menjelang tengah malam, Linda terlelap jua. Memeluk guling.
Sebelum tidur, tak lupa menyiapkan manisan buah kering. Saat terbangun, Linda suka lapar. Dan manisan buah kering adalah menu teraman yang tidak akan membuatnya gendut.
.
.
.
.
Ayah Berli teramat kaget, pukul 01.29, ia harus membuka gerbang demi menantu kayanya.
"Pak Dirut? A-Anda pulang?"
"Ya Ayah," sambil meraih tangan Ayah Berli dan menciumnya.
"Semalam ini?"
"Ya Ayah," sambil menurunkan oleh-oleh dari bagasi mobil taksi yang ditumpanginya.
Membawa oleh-oleh adalah kebiasaan Pak Dirut saat hendak bertamu. Saat mengunjungi rumah seseorang, Agam memang terbiasa membawa buah tangan. Terlebih lagi yang ia kunjungi adalah rumah di mana istri dan putranya berada. Tapi, ini bukan gratifikasi ya.
"Linda sudah tahu?"
"Belum Yah, saya mau memberi kejutan," katanya.
"Oh," dijawab singkat. Bingung juga kalau jawaban menantunya seperti itu. Artinya kepulangan Agam memang dirahasiakan.
"Saya tidak memberitahu siapapun, Yah?" Lagi, meraih tangan Ayah Berli dan menciumnya.
"Pak Dirut, kita tadi sudah bersalaman," Ayah Berli mengingatkan.
"A-apa? Oh, hahaha, tapi tidak apa-apa kan, Yah?"
Serius Agam malu. Karena di dalam kepalanya sudah dipenuhi dengan Linda, Linda, dan Linda, ia sampai lupa kalau sudah bersalaman.
"Ya, tidak apa-apa sih? Tapi aneh saja," jawab Ayah Berli.
"Ini untuk Ayah, ini untuk Ibu, untuk si kembar, yang ini untuk dokter dan sister." Daripada malu, Agam memilih memisahkan oleh-oleh sambil mengulum senyum.
"Ini untuk siapa?"
Ayah Berli juga sebenarnya ingin tertawa tapi ditahan-tahan. Ia tahu jika Agam pasti ingin segera bersua dengan Alf dan Linda. Terbesitlah ide dadakan, ingin mengerjai menantunya. Sesekali boleh, kan?
"Oh, itu untuk Hikam dan keluarganya." Ternyata, Pak Dirut tidak melupakan Hikam.
"Dirut, bagaimana kalau kita makan dulu, aku kebetulan belum makan malam, bisa tidak Dirut menemani? Kita makan bersama," ajaknya.
"A-apa, emm ...." Agam yang baru saja hendak meniti tangga mengurungkan niatnya.
"Tidak bisa ya?" Ayah Berli menatapnya.
"Hahaha, bi-bisa Ayah, sangat bisa."
"Ya sudah ayo kita ke dapur," ajak Ayah Berli. Agam menguntit sambil menghela napas, tidak baik juga kan kalau menolak ajakan mertua?
"Dirut duduk saja, aku mau panaskan dulu makanannya."
"A-Ayah, saya saja yang panaskan, saya pandai memasak, kok," tawar Agam.
"Tidak perlu, aku saja. Sebenarnya, dari kemarin di rumah ini sudah ada yang bekerja, tapi kasihan kalau dibangunkan."
"Baik."
Agam duduk di kursi makan, menjadi penonton. Serius, Agam merasa jika gerakan Ayah Berli saat memanaskan masakan terlihat begitu lambat.
Apa hanya perasaanku saja?
Lagi, Agam menghelas napas. Raganya seolah telah melayang ke sana, memeluk Linda dan menikmatinya.
"Kok, melamun?" Ayah Berli mengagetkan.
"Tidak Yah, tidak melamun," elaknya. Padahal iya, tadi sedang melamunkan si seksi.
Akhirnya yang dihangatkan hangat juga. Setelah berdoa, mereka mulai makan bersama, makan dalam diam, hening ....
Dan pecayalah, Ayah Berli sedikit salah fokus pada menu yang disantap Agam, menantunya itu tidak makan nasi. Hanya makan ikan dan sayur. Tapi, Ayah Berli tidak bertanya alasannya.
"Oiya, katanya, Dirut sangat pandai bermain catur, apa benar tidak pernah ada yang mengalahkan?"
"Ayah tahu dari mana?" Agam berusaha tetap tenang, padahal sedikit kesal. Sedikit ya, tidak banyak.
"Tahu dari Pak Yudha."
"Oh, mungkin itu hanya kebetulan saja, Yah. Kebetulan saya yang menang," jawab Agam.
"Aku ingin mencoba main catur dengan Dirut, bersedia tidak kalau setelah makan kita main catur dulu?"
"A-apa?"
Tidaaak, El sayang, tolooong. Jerit Agam dalam batinnya.
"Tidak bersedia?" tanya Ayah Berli.
"Bersedia Yah, bersedia," jawab Agam, dengan cepat.
Kini, menantu dan mertua itu sudah berada di depan ruang TV. Menghadap bidak catur, sedang menyusun raja, mentri, gajah, kuda, benteng, dan pion.
Agam ingin berteriak. Ayah Berli benar-benar mengerjainya. Ini sudah jam dua malam, bisa-bisanya mengajak main catur di jam segini.
"Yah, Ayaaah," terdengar suara Bu Ana dari kamar yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu.
"Ya Bu ada apa?" teriak Ayah Berli.
"Yolla mau minum susu, Yolli rewel, Ayah cepat kesini, dong."
Teriakan Bu Ana melegakan hati Agam. Bu Ana bak malaikat penolongnya.
Gagal sudah mau mengerjai sang manantu. Ayah Berli mengaku kalah. Tapi, setidaknya telah berhasil menahan Agam di lantai satu selama satu jam.
"Main caturnya?" tanya Agam.
Seolah menyanyangkan karena kebersamaan mereka terhenti begitu saja. Padahal, dalam batinnya mengatakan ....
YES, terima kasih, Bu.
"Kita lanjutkan besok, itu juga kalau Dirut ada waktu, sekarang cepat ke kamar dan istirahat ya," ucap Ayah Berli.
Akhirnya ... Pak Dirut riang-gembira.
Aku datang, sayang ....
Agam berjalan cepat meniti tangga. Empat anak tangga ia langkahi sekaligus agar cepat sampai ke tempat tujuan.
Agam tidak menyadari jika ulahnya melewati anak tangga terlihat oleh Ayah Berli. Spontan Ayah Berli terkekeh, lekas ke kamarnya dan menahan tawa.
...~Tbc~...