AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
To Be Responsible



"Mari kita bicara di tempat tidur," ajaknya.


Apa? Bicara di tempat tidur?


Linda jelas menolak.


"Tidak mau Pak, kenapa harus di tempat tidur?"


Linda mematung.


"Jangan salah faham, El. Maksud saya duduk di tempat tidur," elaknya.


"Oh," Linda mengulum senyum.


"Kenapa? Apa yang ada dalam pikiranmu?" Agam juga sebenarnya mengulum senyum, karena sempat memikirkan yang iya iya.


"Sudahlah Pak Agam jangan dibahas lagi, sekarang cepat katakan, ada apa? Oiya Pak, ada yang perlu aku jelaskan lagi. Aku berbohong pada tuan Yohan karena dia memaksaku untuk tidur bersama."


"Kurang ajar! Memang dia itu, dari dulu sampai sekarang selalu menginginkan milik orang lain."


Agam naik pitam, ditonjoknya bantal yang ada di sampingnya hingga meletup dan busanya menyembul.


Linda sampai melongo, sekuat apa Agam sebenarnya? Hingga bisa tinjunya bisa merobek sarung bantal.


"Pak Agam cukup, lagipula aku baik-baik saja, jangan merusak barang-barang Pak, mereka tidak bersalah." Linda merapikan bantal itu, memasukan kembali busanya.


"Terus kenapa pria bejad itu sampai menjual berita itu ke publik?" tanya Agam, dia langsung tiduran. Terlentang.


"Pak tidak bisakah kita bicara sambil duduk? Kenapa Bapak sampai tiduran seperti itu?" Linda menjauh dan berdiri di sisi.


"El, tadi saya marah dalam keadaan duduk, baiknya saat kita marah dalam keadaan duduk, maka harus rebahan. Kan saat kita marah saat berdiri kita dianjurkan duduk, bukan?"


"Iya sih Pak?"


"Cepat katakan apa saja yang dia lakukan?"


"Setelah kita berpisah pada malam itu, tuan Yohan meminta tidur bersama. Aku lari dan kabur. Dia mengamcamku. Jika aku menolak, maka berita itu akan ia jual dan disebarluaskan."


Linda menunduk, mengingat lagi kejadian itu, hatinya kembali sakit.


"Aku lebih baik dicap sampah yang kotor daripada harus menyerahkan tubuhku pada laki-laki selain suamiku."


"Ya benar, dan calon suamimu adalah saya," timpal Agam.


Linda tetap menunduk, bahkan saat Agam dudukpun, Linda masih menunduk.


"Kamu adalah mutiara, El. Saya akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Saya akan memikirkan cara terbaik tanpa menggangu kestabilan HGC dan tanpa berdampak buruk pada keanggotaanku."


"Hmm ...." Agam memijat kepalanya.


"Hari itu ... sebenarnya ... saya berniat tidak menumpahkannya di sana. Tapi Linda ... kamu sangat cantik, indah, dan seksi. Maaf ... saya tidak bisa mengendalikan diri," lirihnya.


"Cukup Pak Agam. Aku benci Bapak membahas itu. Jangan sampai ucapan Bapak didengar oleh calon anak kita." Linda mengusap perutnya.


"Maaf ...." Kini kepala Agam yang menunduk, sampai dagunya menempel di dada.


"Maafkan saya, saat itu ... kamu pasti kesakitan, kamu sampai pingsan, dan mahkotamu berdarah lumayan banyak," lirihnya lagi. Lalu berdiri dan memeluk Linda.


"Dari dulu saya ingin meminta maaf untuk masalah ini, tapi saya terlalu malu, dan baru sekarang saya berani mengatakannya."


"Ya, itu memang menyakitkan, aku sakit berhari-hari," kata Linda, sambil mencoba melepaskan diri, tapi Agam mencekalnya semakin kuat.


"Linda ... saya menyesali hari itu. Bodohnya saya, saya tidak menyesali telah menikmati tubuh kamu, yang saya sesali adalah ... gara-gara kesalahan itu, kamu jadi terfitnah dan terhinakan oleh sesuatu yang tidak kamu perbuat."


"Pak ... aku sudah mengambil keputusan, tolong hargai keputusanku, harus berapa kali aku mengatakan pada Pak Agam kalau apa yang aku pilih adalah murni keputusanku."


Linda akhirnya membalas memeluk Agam, dan menepuk-nepuk punggung kokoh pria itu.


"Ya Linda, karena itu pilihanmu saya terima. Tapi kamu harus tahu El ..., semakin kamu berusaha melindungi saya, maka rasa bersalah saya semakin bertambah dalam, dan apa kamu tahu? Semua yang kamu lakukan melukai perasaan saya."


"Apa? Kenapa seperti itu, Pak? Aku berani membohongi publik justru karena ingin melindungi Pak Agam," jelas Linda. Masih mengusap punggung Agam.


"Nah, itu dia alasannya El ... saat kamu sudah berhasil melindungi saya dengan mengorbankan nama baik kamu, saya justru gagal melindungi kamu."


"El ... kamu sudah berjalan beberapa langkah di depan saya untuk membuktikan ketulusanmu."


"Tapi lihat saya El ... saya dengan kekuaaan dan uang yang banyak, justru tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi kamu, orang yang saya cintai." Suara Agam seperti tercekal di kerongkongannya. Terdengar gemetar.


"Pak Agam sudahlah, sekarang ayo katakan ada informasi apa? Pelukannya sudah ya Pak, soalnya aku merasa sesak dan juga mulai lapar."


Linda membuat alasan nyata. Ya, tubuh Agam memang hangat. Namun lama-lama didekap oleh Agam bisa jadi panas. Satu hal lagi, Linda memang lapar.


"Baiklah, kita akan menumpang makan di rumah Tuan Muda. Nona Aiza pandai mamasak. Hari ini sekolah libur, pasti dia sudah masak."


Agam beranjak. Lagi-lagi, Agam memuji nona Aiza, dan Linda kembali kesal.


"Aku tidak mau makan. Tidak jadi laparnya, mau di sini saja, makan angin," ketusnya. Lalu menarik selimut dan menyembunyikan tubuhnya.


"Hahaha, kamu cemburu El? Untuk informasi itu nanti akan saya ceritakan setelah kita sarapan, oke? Jangan membantah."


Agam menggunakan kemampuannya. Ia membopong Linda dengan paksa untuk sampai ke garasi.


"Pak Agam, kamu gila ya? Turunkaaan," teriaknya.


Namun Agam tidak peduli, ia memasukkan Linda ke dalam mobil, lalu melajukan kemudi.


Baru juga akan mencapai rumah nona Aiza dan tuan Deanka, ponsel Agam berdering.


Ada panggilan dari Fanny di hari libur, Agam sedikit kaget. Menautkan alisnya penuh tanya.


"Angkat, Pak. Takutnya ada hal penting," kata Linda.


"Oke." Agam menerima panggilan tersebut.


"Bapak ke mana saja? Saya sudah telepon Bapak dari semalam." Suara di sana terdengar panik.


"Benarkah, masa sih?"


Agam biasa saja, ya ia memang tidak mendengar panggilan dari siapapun, karena ponselnya memang sengaja disilent.


"Pak, cepat ke HGC sekarang, ini genting Pak. Ini gawat."


"Hei, Fanny tenang, dong!" Pada akhirnya Agam geram juga.


"Bapak memang tidak lihat berita apa? Di depan HGC ada yang demo, Pak."


"Demo? Sudah biasa, kan? Paling-paling mendemo kebijakan."


"Ya ampun Pak, Bapak ini Dirut lho, harusnya lebih tahu dari saya, maaf bila saya lancang."


"Fanny katakan saja intinya!" bentaknya.


Saat ini, mobilnya sudah berhenti di garasi rumah milik tuan Deanka di mana Juan sudah bersiap menyambutnya.


"Ini gara-gara LB, Pak. Kekacauan ini gara-gara artis murahan itu!"


"Apa? Tutup mulut kamu, Fanny! Atau saya robek mulut kamu."


Agam naik pitam, turun dari mobil dan menjauhkan dir dari area garasi.


Linda yang turun dari mobi dan dibukakan pintu oleh Juan, hanya bisa menatap Agam dengan perasaan bingung.


"Mari masuk, Nona LB," ajak Juan.


"Nona Aiza sudah menunggu Anda."


"Aku di sini dulu, masuk ke dalamnya ingin bersama-sama dengan Pak Agam," ucap Linda. Sambil duduk di kursi yang berada disisi taman.


"Be-begini, Pak. Ada demo dari berbagai federasi. Saya tidak tahu detailnya. Intinya, setelah berita tentang LB dirilis, konsumen HGC katanya merasa kecewa karena produk sebagus itu malah diiklankan oleh artis yang jelas-jelas menipu."


"Apa?!"


Agam memijat kepalanya, masalah ini sebenarnya sudah ia prediksi sebelumnya.


"Demonya menuntut agar kontrak degan LB dibatalkan, dan diganti artis baru."


"Pasti ada yang menggerakan, ya nanti saya ke sana."


"Pak, tolong. Tidak bisa nanti Pak. Harus sekarang. Masalahnya adalah ada tuntutan untuk memboilkot produk baru HGC yang diiklankan oleh LB."


"Apa?! Serius?" Agam mengepalkan tangan kuat-kuat.


"Serius, Pak. Mereka ingin bertemu Bapak. Dewan direksi sepertinya sudah tahu, mereka menyerahkan semuanya pada Bapak. Karena produk baru ini, kan programnya Pak Agam."


"Ya sudah, saya kesana sekarang. Padahal jam 7 pagi juga belum, kenapa mereka sudah ramai di HGC?"


"Mereka sudah berdemo dari jam tiga pagi, Pak. Bapak saja yang tidak tahu. Aargh, iblgara atis sok cantik itu, Pak."


"Cukup, Fanny. Cukuuup!" Agam mengakhiri panggilan.


Ia mengepalkan tangan berniat menonjok apa saja benda di dekatnya. Namun saat berbalik, Linda sudah berada di belakangnya, menatapnya.


"Linda?"


"Peregangan, hehehe," kata Agam. Di saat Linda masih menatapnya keheranan.


"Peregangan yang aneh," sahut Linda.


"El, mari saya antar ke dalam, saya harus pergi sekarang juga."


"Bapak mau ke mana? Aku ikut." Linda malah bergeming.


"El, kamu di sini bersama Nona. Oke?"


"Pak, tapi aku canggung, aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak bisa memasak," rengeknya.


"Apa yang kamu bisa?" tanyanya saat mereka sudah berada di ruang tamu.


"Beryanyi, menari, jadi MC, berenang, akting, main gundu, main piano, gitar, dram sama biola juga bisa tapi masih tahap basic, oiya aku juga bisa basic dansa jenis salsa, cha cha cha dan rumba. Satu lagi, aku bisa pole dance," jawabnya.


"A-apa?!"


Agam mematung. Entah terkejut atau terpukau, tidak bisa dibedakan. Dia gila, kenapa bisa semua itu? Pikirnya. Dan kenapa semua yang dia bisa hampir semua hal yang mengundang hasrat.


"Kamu bi-bisa pole dance?" Mengusap wajahnya tidak percaya.


"Iya bisa, aku suka karena olah raga ini sangat indah dan menyehatkan."


"Linda, duduk," printahnya.


Lalu bertolak pinggang dan menatap Linda dalam-dalam. Agam sampai tidak sadar jika di balik nakas raksasa yang ada di ruangan itu ada dua pasang mata berbeda manik sedang mengintip.


"Siapa yang mengajari kamu semua itu, hahh?"


"Yang mana?" Linda bingung, dan dia juga ternyata tidak sadar kalau ada yang mengintip.


"Semuanya, di mana kamu bisa semua itu?"


"Kenapa memangnya? Bernyanyi, menari, dan berenang, dari tingkat sekolah dasar aku sudah bisa. Piano dan gitar aku belajar saat sekolah tingkat menegah dan atas. Biola dan drum aku belajar saat kuliah, dansa belajar dari YT. Pole dance diajari teman," terangnya."


"Teman perempuan, kan?"


"Ya, iyalah Pak."


'Prok, prok, prok.'


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan, sepasang insan keluar dari balik nakas. Yang tepuk tangan seorang wanita muda, yang tampak lucu, cantik, dan ramah. Sedari tadi ia melempar senyum pada Linda.


Satu lagi, seorang pria tampan, tinggi, bermata hazel, seperti tidak tertarik pada Linda, tatapannya tetap fokus pada wanita muda yang sedang bertepuk tangan


"Ini Kak Linda, ya? Wah, cantik sekali," menatap Linda dengan tatapan terpukau.


"Nona Aiza, Tuan Deanka," Agam langsung menyapa.


Linda terkejut, akhirnya ia bisa bertemu juga dengan pasangan ini. Lindapun berdiri dan membungkukkan badan. Namun yang bernama Nona Aiza menahan bahu Linda.


"Kak Linda, tidak perlu membungkuk, aku tidak suka, kita di sini sama-sama sedang mengontrak," ucapnya. Malah menarik tangan Linda dan cium tangan. Sadar benar jika dirinya lebih muda.


"Mengontrak?"


Agam dan pria yang disebut sebagai Tuan Deanka menatap pada Nona Aiza secara bersamaan. Linda hanya menunduk, ia canggung dan bingung.


"Hahaha, iya mengontrak, aku tidak salah, kan? Kita semua sedang mengontrak di dunia ini, pada akhirnya aku, Kak Dean, Pak Agam, dan Kak Linda akan pergi dari kontrakan dunia ini saat waktunya tiba. Ya, kan?" terangnya.


"Benar, Nona." Kata Agam. Lindapun mengangguk.


"Baby, aku kira mengontrak di mana? Hahaha."


Linda melongo mendengar kata 'Baby.' Serius, terdengar menggelikan di telinga Linda. Tapi melihat penampilan imut pewaris tunggal HGC ini, Linda jadi setuju-setuju saja kalau wanita muda ini dipanggil 'Baby.' Toh, wajahnya memang baby face dan menggemaskan.


Pantas saja Pak Agam mengatakan pernah suka sama wanita ini. Batin Linda.


"Cepat pergi ke HGC bodoh! Ayah sudah meneloponku, kamu jangan mencari masalah, Gam!" bentak Tuan Muda itu.


Linda terkejut, Tuan Muda ini sangat-sangat tidak sopan pada Agam, memanggilnya nama dan mengatai bodoh. Linda sedikit mendelik.


"Ini, saya baru mau berangkat, Tuan." Kata Agam.


"Sayang, cukup. Jangan memanggil bodoh lagi pada Pak Dirut. Ini Pak Dirut HGC, Kak. Orang berpengaruh. Termasuk jajaran pengusaha yang kaya-raya di usia muda."


"Oiya, hahaha, maaf Pak Dirut," ucapnya. Lanjut memeluk Agam dan mengatakan sesuatu yang membuat Linda terkejut.


"Saranku, Pak Dirut harus tegas, katakan pada pendemo kalau Anda juga menyayangkan sikap LB. Batalkan kontrak dengan LB hari ini juga. Baiknya, iklan itu juga tidak ditayangkan lagi," tegasnya.


"Tidak bisa Tuan Muda, saya akan mengatakan kalau berita yang beredar itu tidak ada korelasinya dengan iklan produk HGC. Saya tidak setuju," tegasnya.


"Pak Dirut! Ini masalah penting! Apa kamu mau semua orang curiga kalau kamu pemerkosa, hahh? Posisimu sedang dipantau, Agam Ben Buana. Ingat, kalau kamu lalai, maka HGC akan jatuh ke tangan asing sebelum Aiza menggantikan kamu."


Pria bermanik hazel itu mendorong bahu Agam. Terlihat marah pada Agam.


"Cukup, jangan menekan Pak Agam dengan cara seperti itu Tuan Muda, di sini aku yang salah. Katakan apa yang terjadi? Kenapa iklanku harus ditarik?" Linda memberanikan diri berbicara.


"Linda, kamu tenang." Agam memegang tangannya.


"Hahaha, kamu belum tahu? Aku beritahu ya kalau ---."


"Ja-jangan Tuan Muda, saya mohon jangan membebaninya. Kandungan dia lemah. Kita baru saja kehilangan satu janin. Awalnya Linda mengandung anak kembar," jelas Agam.


"Apa?!" Tuan Muda dan Nona itu kaget.


"Tidak apa-apa, katakan saja. Ada apa?"


Lalu ....


"Tuan Deanka, Tuan Deanka," panggil Juan. Ia terengah-engah saat tiba di ruang tamu.


"Ada apa Juan?" tanya si Tuan Muda.


"HGC di demo, LB dan produk baru HGC mau diboikot, saham HGC di pasar saham gonjang-ganjing, kabarnya cenderung menurun."


"A-APA?!"


Jelas, hanya Linda yang terkejut, tubuh wanita itu tidak seimbang. Linda tidak menyangka keputusannya pergi dari Yohan akan berdampak sefatal ini.


Dan saat ini, Yohan pasti sedang bersuka cita, karena selain bisa mendapatkan keuntungan dari menjual berita kehamilan LB, Yohan juga berhasil membuat tekanan pada saham HGC dan reputasi Agam.


Linda menepis Agam, ia beridiri tegak seraga mengatur napasnya.


"Pak Agam, Tuan Muda, dan Non Aiza. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


"Linda, kamu tetap di sini, saya akan mengurus semuanya," sela Agam.


"Pak Agam, jika Anda benar mencintaiku, tolong beri aku waktu. Ide boikot itu muncul gara-gara aku. Jadi ini tanggung jawabku. Terlebih aku mampu atau tidak, lihat saja hasilnya," tegasnya.


Agam bingung, Linda selalu mengkaitkan semua hal dengan pembuktian cintanya.


"Juan, pergi." Kata Tuan Deanka.


"Ba-baik," Juan berlalu penuh tanya dan praduga.


"Aku setuju dengan LB," kata Tuan Muda.


"Aku juga setuju Pak Agam. Apa Pak Agam tidak sadar kalau Kak Linda itu ajaib? Dulu saat iklannya diluncurkan, saham HGC naik. Saat Kak Linda bekerja di TV KITA, saham TV KITA meroket, terus warung yang diendorse Kak Linda juga jadi fenomenal, kan?" kata Nona Aiza.


"Ba-baiklah, saya akan memberimu kesempatan," kata Agam.


"Ya sudah, kalau sudah sepakat, mari kita makan bersama," ajak Nona Aiza. Ia menggandeng Linda untuk menuju ke ruang makan.


Dan di tengah perjalanan menuju ruang makan, Nona muda itu terus mengoceh.


"Kak LB, aku iri dengan Kakak. Kakak Cantik dan bisa semuanya. Di rumah ini ada drum, ada piano, ada gitar juga, dan alat musik yang lain, tapi aku hanya bisa menatapnya. Hehehe."


"Kan Nona bisa kursus," kata Linda.


"Aku tidak ada waktu untuk kursus, Kak. Selalu ada penganggu, hehehe."


"Zaa," sela Tuan Deanka.


Linda jadi teringat pada suara itu, mungkin yang dimaksud pengganggu adalah suaminya Nona Aiza.


"Pak Agam beruntung bisa mendapatkan Kak Linda. Jika Pak Agam sudah menikah dengan Kak Linda, kan bisa bercinta sambil pole dance."


"A-apa?!" Linda dan Agam melotot bersamaan.


"Baby!" Tuan Deanka langsung menggigit tangan Nona Aiza detik itu juga.


Berbeda dengan Agam, pria itu langsung berlari ke dapur dan menenggak air putih. Kerongkongan Agam mendadak mengering mendengar ucapan Nona Muda itu.


Kenapa Agam begitu panik ya?


Jangan-jangan ... Pak Dirut ingin segera mempraktikkannya.


❤❤ Bersambung ....