
"Tidak apa-apa, kan? Kataku juga apa? Kalau kita tidak melakukan kesalahan tidak perlu takut," kata Gama.
Mereka berada di taksi dalam perjalanan pulang, setelah di kantor polisi sempat diintrogasi dan dilakukan tes urine.
Freissya mengangguk setuju.
"Bapak sama mama pasti memarahiku, aku pulang telat lagi. Sekarang sudah hampir jam 9 malam," keluh Freissya.
"Nanti aku yang jelaskan semuanya pada mereka. Oiya Ice, kenapa kamu sebegitu bencinya pada keluarga Haiden? Sampai-sampai kakek dokter Gio saja kamu libatkan dalam kebencianmu, bukankah kakek dokter Gio hanyalah dokter pribadi di keluarga Haiden? Lalu, apa masalahnya?" tanya Gama.
Padahal, kalimatnya itu mengandung unsur jebakan. Gama sebenarnya ingin mengatakan, kenapa Freissya tidak menyukai semua orang yang berhubungan dengan keluarga Haiden?
Gama dan Agam tidak memiliki ikatan darah dengan keluarga Haiden. Pun dengan dokter Gio. Maksudnya, dokter Gio hanyalah cucu dari dokter senior keluarga Haiden.
"Emm, mungkin di masa lalu keluargaku pernah berkonflik dengan keluarga Haiden atau pegawainya. Aku juga tidak tahu, tapi bapak selalu mewanti-wantiku untuk tidak memiliki hubungan khusus dengan keluarga Haiden dan antek-anteknya. Kalau bapak tahu kamu adiknya pak Agam, mungkin aku juga tidak diizinkan jadi suster pribadimu."
"Sebenci itukah? Bagaimana kalau kita berjodoh?" goda Gama.
Freissya diam saja.
"Ice, ini untuk terakhir kalinya aku bertanya, apa aku masih ada kesempatan untuk menjadi kekasihmu?"
"Tidak," jawabnya.
"Hmm, baiklah."
Gama menunduk. Begitu sulit mendapatkan hati Freissya. Namun ia masih berani meraih tangan Freissya, dan mengatakan ....
"Boleh kan aku memegang tanganmu? Aku pasti merindukan tanganmu yang lembut ini," gumamnya. Freissya tidak menolak.
"Serius Ice, aku sangat mencintai kamu, bagaimana caranya agar aku bisa melupakanmu, Ice? Jika kamu ada saran, tolong katakan," lirih Gama.
Pengemudi taksi mengernyitkan alis, mungkin merasa sedikit aneh saat mendengar percakapan Gama dan Freissya.
Namun Friessya diam saja. Tapi, lagi lagi, ia tidak menolak saat Gama mencium tangannya. Ia merasakan lelehan basah di tangannya. Artinya, Gama menangis.
"Maaf Ice, aku sedikit melankolis, hehehe. Hanya ingin mengatakan jika aku tulus, aku berharap kamu adalah wanita satu-satunya yang pernah tidur denganku. Aku juga akan berdoa agar kamu mau mencintaiku."
Pengemudi taksi tentu saja semakin keheranan. Tapi ya sudahlah.
Freissya masih diam seribu bahasa, ia dilema.
"Ice ... sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sampai rumah. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama bersamamu, karena semakin lama bersamamu, aku semakin mencintai kamu, Ice."
"Val," Freissya menoleh.
"Ya Ice, aku mau turun di sini saja. Pak, menepi ya," kata Gama.
"Baik," kata pak supir. Lalu mobil taksi itu menepi.
"Ice, selamat tinggal, maaf karena aku ... kamu jadi kehilangan milikmu yang berharga. Aku memang tidak pantas memiliki kamu. Setelah kejadian itu, aku seharusnya mawas diri dan berkaca. Tidak mungkin kamu jatuh hati dengan pria sepertiku," ucapnya sambil tersenyum getir. Badannya mulai bergeser untuk keluar dari mobil.
Freissya terdiam, namun ia terisak. Menutup wajahnya dan menangis.
"Huuuks, cepat pergi," usirnya.
"Baik, Ice, tapi ... apa boleh aku memelukmu dulu?"
"Tidak, Val. Kita sudah melakukan hal yang paling intim. Apa itu belum cukup? Kamu telah mengambil kehormatanku, kurasa ... apa yang kita sudah lebih dari cukup, anggap saja itu sebagai hadiah karena kamu tulus mencintaiku. Kita tidak perlu pelukan lagi," katanya.
Bahkan Freissya membukakan pintu mobil untuk Gama, tapi ... tangannya gemetar.
"Ice ...." Gama turun dari mobil.
'Bruk.'
Freissya menutup pintu mobil.
"Jalan, Pak," katanya sambil menangis.
Dari spion, ia melihat Gama mengejarnya dan berteriak.
"Freissya, Freissya, Ice," teriak Gama.
"Huuu ...." Tangisan Freissya semakin kencang.
"Apa yakin Anda mau berpisah dengan pria itu, Nona?" tanya Pak Supir.
Friessya tidak menjawab, terus menangis hingga semidu-midu.
Gama yang mengejarnya semakin mengecil seiring lajunya mobil. Lalu menghilang ditelan gelapnya malam.
"Vaaal," spontan bibirnya memanggil nama itu.
Lalu ....
"Pak, cepat putar balik," kata Freissya.
"A-apa?! Ba-baik," Pak Supir kaget, tapi antusis memutar arah.
"Pak, cepaaat," Freissya tidak sabaran.
"Ya, Nona," Pak Supir menambah kecepatan.
Setibanya di area tempat Gama berhenti, Freissya hanya bisa menatap hampa. Gama sudah tidak ada di tempat. Freissya turun dari mobil dan mencarinya.
"Val, Vaaal," panggilnya.
Freissya tidak peduli saat ia menjadi tontonan pengguna jalan. Sayang sekali, mungkin sudah terlambat. Gama tidak ditemukan.
"Vaaal, huuu huuu ...." Freissya berjongkok, di pinggir jalan, ia memeluk lututnya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Linda sedang tidur saat Agam masuk kembali ke kamar itu, ia berjalan mengendap.
"Pak?" ucap Bu Ana dengan gerakan bibirnya.
"Ssst," kata Agam.
"Bu, biar saya yang menemaninya, bisa tinggalkan kami?" kata Agam dengan suara pelan.
"Ya, Bu, ayo kita keluar," ajak dokter Rita dan Pak Yudha.
"Pak Yudha, jangan lupa yang saya perlukan disiapkan semuanya ya," kata Agam.
"Baik," ucap Pak Yudha sigap.
Mereka kemudian meninggalkan kamar perawatan, sekarang di kamar itu hanya ada Linda dan Agam.
Agam mendekat, yang pertama ia lakukan adalah menatap wajah Linda. Lalu ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mengganti pakaian, dan shalat. Setelah itu, Agam naik ke bed pasien. Tak lupa, ia memastikan terlebih dahulu kekuatan bed pasien tersebut. Bisa gawat pikirnya kalau tiba-tiba ambruk.
Kuat, batinnya.
Lalu merebahkan diri, masuk perlahan ke dalam selimut, menempelkan dagu di pundak Linda dan memeluknya. Kemudian meletakan tangan di perut Linda yang saat ini sudah kembali rata.
"Sayang ...," bisiknya.
"Maafkan saya ya," sambil mencium puncak kepala Linda.
Linda tidak ada respon karena tidur. Sebab sudah malam, Agam juga mulai memejamkan mata.
Sementara itu, Pak Yudha dan yang lainnya akan beristirahat di kamar perawatan paman Setyadhi.
Sekitar pukul sebelas malam, Linda terbangun. Cateternya sudah dilepas, jadi harus ke kamar mandi. Ia kaget karena merasakan hangat di punggungnya, ditambah dengan keberadaan tangan yang mendekapnya.
Deg, ia tahu ini tangan suaminya. Perlahan digeser untuk melepaskan diri.
"El," Agam bangun dan mempererat dekapannya.
Linda diam.
"Sayang, maaf ya, saya mengaku salah. Saya tidak akan mengulangi kalimat itu lagi. Saya seperti itu karena cemburu."
"Maaf, maaf, maaf," ungkapnya.
"Huuuks."
Linda menangis pelan. Tapi masalahnya, ia mau ke kamar kecil. Linda diinfus, pasti akan lebih sering ingin buang air kecil daripada biasanya.
"Lepas," katanya. Suara serak basahnya kembali terdengar.
"El, maafkan saya," Agam membalikan tubuh Linda agar menghadap ke arahnya.
"Kamu jahat, lepas! Aku mau ke kamar mandi." Untuk pertama kalinya Linda memanggil 'Kamu.'
"Saya bantu, ya."
"Tidak, aku bisa sendiri," tolaknya.
"Sayang, kamu harus didampingi," Agam menahan tangan Linda.
"Lepas," tolaknya lagi.
Dan Linda yang masih kaku, tentu saja tidak bisa berjalan dengan baik. Di langkahnya yang kedua, ia goyah dan hampir terjatuh, namun sebelum menyentuh lantai, Agam sigap memeluknya.
"Ya, kan belum bisa? Saya bantu," tanpa menunggu jawaban, Agam membopongnya.
"Jang ---."
"Ssst, kamu boleh marah, tapi tidak boleh menolak bantuan," kata Agam.
Setibanya di kamar mandi kecanggungan terjadi. Agam meletakan Linda di toilet duduk.
"Bisa?" tanya Agam.
"Tolong panggilkan ibuku," kata Linda. Serius, ia tidak bisa membukanya sendirian, untuk menunduk perutnya masih sakit.
"Sayang, apa yang bisa saya lakukan, hmm?" tawar Agam.
"Cepat panggilkan saja ibuku," bentak Linda.
Agam mulai tegas. Ia berjongkok dan menyingkap gaun Linda.
"Pak Agam, mau apa? Lepas!" teriaknya.
"Mau membantu kamu, tidak ada yang salah, kan?" katanya seraya mengerjapkan mata. Jujur, ia gugup manakala melihat keindahan yang jengjang dan tanpa cela itu.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," Linda menahan tangan Agam, selera ingin buang air kecilnya mendadak hilang.
"El, tidak baik ditahan-tahan, bahaya, tidak sehat sayang," Agam memaksa. Kembali menyingkap gaun Linda.
"Pak Agam!"
'PLAK.'
Linda tidak bisa mengendalikan emosi, spontan menampar Agam.
"Sa-sayang, ka-kamu?"
Agam memegang pipinya. Posisi masih berjongkok. Linda melihat telapak tangannya memerah. Tidak seharusnya ia menampar Agam.
"Maaf, Pak ...." Katanya. Kemudian menangis.
"Tidak apa-apa El, saya ikhlas. Tapi kamu maafkan saya untuk masalah kemarin ya, please ...." Agam memeluk pangkuan Linda. Linda kaget, menatap rambut Agam.
"A-aku sudah memaafkan, tapi ... tolong jangan diulangi lagi. Itu menyakitkan. Seharusnya, Pak Agam tidak perlu cemburu. Toh, aku juga sudah mengundurkan diri dari dunia hiburan."
"Aku sudah merelakan semuanya demi Pak Agam dan putra kita. Aku lives streaming karena dokter Rita ataupun pak Yudha tidak ada yang mau membantuku untuk preskon," kata Linda.
Perlahan, Linda memegang pundak Agam, Agam mengangkat kepalanya, matanya memerah.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah memaafkanku," Agam menciumi tangan Linda.
Ternyata, tidak begitu sulit untuk melunakan hati Linda, bahkan sebelum pak Yudha menjalankan misinya, Linda sudah memaafkannya.
"Saya rindu, kamu El." Memeluk Linda.
Namun saat Agam hendak mencium bibirnya, Linda menutup bibir Agam dengan telapak tangannya.
"Kenapa sayang?" tanya Agam.
"Aku tidak mau dikiss dulu, Pak. Belum ada selera," katanya.
"Apa? Hmm," Agam menghela napas, artinya Linda belum sepenuhnya memaafkan.
Penilaian awal tentang Linda mudah dilunakan, gagal.
"Ssshh," Linda meringis.
"Kenapa?"
"Emm, Bapak keluar ya." Keinginan buang air kecil muncul lagi.
"Tidak, saya harus mendampingi kamu."
"Pak Agam, aku malu, cepat keluar."
"Tidak sayang," Agam bersikukuh.
"Aku marah lagi," kata Linda.
"Baik, saya balik kanan. Menghadap wastafel, oke?"
Linda setuju, jujur ia juga takut jatuh kalau sendirian. Setelah Agam balik badan, ia bersiap. Memposisikan diri dengan jantung berdegup. Karena gugup, Linda kesulitan buang air kecil. Lalu menyalakan air keran agar Agam tidak mendengarnya.
Akhirnya, tuntaslah sudah. Lega rasanya. Linda tidak gelisah lagi.
Namun muncul masalah baru.
Masalahnya adalah ... segitiga bermudanya terjatuh hingga mata kaki, plus pembalutnya. Dan Linda belum bisa membungkuk. Apa harus meminta bantuan Agam?
Tidaaak, batin Linda menjerit.
"Sudah?" Agam balik badan.
"Aaaa," teriak Linda. Menutup bagian tubuhnya.
"Sa-sayang tidak perlu ditutup, saya sudah pernah melihatnya." Telinga Agam memerah.
Belum juga Linda mengatakan apapun, Agam sudah berjongkok dan meraih segitiga bermudanya.
Ya ampun, malu sekali.
"A-ayo, angkat kakinya, saya bantu pakaikan," kata Agam sambil menelan saliva tentunya.
"Emm, ba-baik."
Linda gugup. Kakinya gemetar. Ia terpaksa memegang bahu Agam untuk tumpuan tubuhnya. Malu, sangat malu. Mata Linda dipejamkan untuk menghilangkan kegugupan.
Bagaimana dengan mata Agam?
Jawabannya adalah ... berbanding terbalik dari mata Linda. Tapi, jantung mereka sama-sama berdebar.
"Pak Agam, cepat. Kenapa lama sekali? Perasaan saat dibantu ibu tidak selama ini." Linda protes.
Agam mengerjap, entah apa yang sedang dilihat dan dipikirkannya. Masih mematung bertumpu pada lututnya.
"Pak Agam," panggil Linda.
"I-iya ss-sa-sayang, sabar ya."
Agam gelagapan. Serius, tangannya gemetar dan badannya gerah seketika.
"Hhmm ...."
Akhirnya selesai juga, keringat Pak Dirut bercucuran. Setelah ini, sepertinya ia harus mandi malam.
Linda menatap keringat di leher Agam saat ia dibopong kembali ke tempat tidur.
"Aku berat? Kok samai berkeringat?" tanya Linda.
"Ti-tidak sayang, saya yang berat. Bukan kamu." Berat menanggung hasrat. Lanjut Agam dalam batinnya.
"Bapak mau kemana?" Linda heran karena Agam bergegas lagi.
"Saya mau mandi sayang, tunggu ya."
"Di jam segini?" tanya Linda.
"Ya," Agam berlari ke kamar mandi.
Di balik kamar mandi, Agam mengatur napas dan mengusap dadanya. Hal yang samapun dilakukan Linda setelah Agam pergi. Linda mengusap dada dan pipinya yang merona merah.
Mari ke kamar mandi lagi.
Oh tidaaak, Pak Dirut sedang membuka bajunya. Indah sekali tubuhnya, Linda seharusnya melihat pemandangan ini.
Pak Dirut mengguyur kepala dan tubuhnya, lalu bersiap membuka hal lainnya. Skip.
Kemudian .... Skip.
Dan .... Skip.
.
.
.
.
Linda menatap pria tampan yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Apa tidak pusing keramas malam-malam?" tanya Linda.
"Lebih pusing lagi kalau tidak keramas," jawabnya.
"Oh," Linda tersenyum sambil memegang sesuatu yang membuat Agam mendekat.
"Apa ini?"
"Ini pompa ASI," kata Linda.
"Emm, bentuknya lucu juga. Cara kerjanya?" goda Agam.
"Masa tidak tahu?" kata Linda.
"Serius sayang ...," katanya. Sambil naik kembali ke tempat tidur dan senyum-senyum tidak jelas.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Val ...." Freissya masih berdiri di bahu jalan.
"Nona, ini sudah malam. Ayo pulang," kata Pak Supir.
"Bapak pulang saja, berapa ongkos semuanya?" tanya Freissya.
"Semuanya sudah dibayar sama teman Anda. Tapi dia berpesan agar saya tetap menjaga Anda."
"Maksudnya?" Freissya bingung.
"Mulai hari ini, saya adalah taksi pribadi Anda. Seluruh keluarga Anda bisa menggunakan jasa saya. Teman pria yang tadi bersama Anda sudah membayar jasa saya untuk masa kerja 4 tahun ke depan."
"A-APA?!" Freissya terlonjak.
"Iya, Nona. Kami sudah merundingkan masalah ini saat kita masih berada di kantor polisi.
"Vaaal, kamu jahaaat, huuu," ratap Freissya.