
"Tensi darahnya sulit turun, sampai mencapai angka 190/120, kami sudah berusaha dengan obat dosis maksimal, tapi belum berhasil."
Ayah Berli mengingat kembali ucapan dokter yang menangani Linda saat dokter tersebut menjelaskan kondisi Linda padanya dan pada Paman Yordan.
"Tadi sempat sadar setelah pemberian obat anti kejang, dan therapi protap eklampsia, namun kejang lagi dan kembali tidak sadar."
"Lindaaa, maafkan Ayah, Nak ...," lirihnya.
Di depan ruang ICU Ayah Berli menangis.
"Sabar, semoga masih ada harapan. Jujur aku juga sedih Pak."
Paman Yordan yang ada di sampingnya mencoba menguatkan.
Enda melongo, ia baru faham jika paman Agam dan ayahnya Linda menyembunyikan kondisi Linda dari Agam. Enda terhenyak, iapun larut dalam suasana sedih itu.
"Bagaimana kondisi bayinya, Dokter?"
Ayah Berli memanggil Paman Yordan dengan sapaan 'Dokter.' Ia bertanya karena Paman Yordan baru saja keluar dari ruang ICU untuk mengkonfirmasi kondisi terkini dari Linda.
"Kondisi bayinya sejauh ini masih bertahan, tapi melemah."
Paman Yordan menghela napas, sedang mencoba menghempaskan beban berat di dadanya.
"Kapan ditindak untuk operasinya, Dok? Apa masih ada harapan untuk dia hidup? Walaupun aku juga menginginkan cucu, tapi ... jika dengan mengakhiri kehamilannya kondisi Linda akan lebih baik, aku lebih memilih untuk segera dioperasi saja, huuu .... Nak ... kenapa nasibmu seperti ini? Ayah merasa sangat bersalah."
Ayah ingin marah pada orang yang sudah menghamili kamu, tapi ... Ayah tidak bisa melakukan apapun setelah tahu betapa dia begitu tulus mencintai kamu.
Batin Ayah Berli terguncang.
"Operasinnya baru bisa dilakukan setelah tensi darahnya mencapai MAP (Mean Arterial Pressure) atau sudah mencapai tekanan arteri rata-rata yang disarankan oleh dokter spesialis anastesi," terang Paman Yordan.
Paman Yordan mengusap punggung Ayah Berli dengan perasaan tidak menentu. Ia sedih, bingung dan juga khawatir dengan reaksi Agam jika tahu kondisi Linda yang sebenarnya.
Tapi ... jika Agam dan Linda tidak segera menikah, ia takut Linda tidak tertolong dan terbebani. Maksudnya, terbebani karena 'Pergi' tanpa ikatan yang sah dalam keadaan mengandung di luar nikah.
Tidak, jangan. Jangan sampai terjadi, kamu harus panjang umur dan hidup bahagia bersama Ben. Ya Allah, tolong selamatkan dia. Panjangkan umurnya, ampuni kesalahannya, selamatkan juga bayi dalam kandungannya. Aamiin.
Aku yakin, Allah telah memaafkanmu, cantik. Karena, tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.
Ternyata, batin Paman Yordanpun sama halnya dengan Ayah Berli, terguncang.
"Kata dokter penanggung jawab, spesialias anastesinya belum acc tindakan sebelum tensinya mencapai MAP," tambahnya.
"Penyebabnya apa sih? Kenapa putriku bisa seperti itu? Linda, tolong cepat sadar, Nak .... Ayah akan menikahkan kamu dengan orang yang kamu cintai, bukan dengan Hikam."
Ayah Berli meratap dalam rengkuhan Paman Yordan.
"Hingga saat ini, penyebab terjadinya preeklampsia dan eklampsia belum diketahui dengan pasti. Namun, diduga diakibatkan oleh adanya kelainan pada fungsi dan formasi plasenta."
"Faktor pencetusnya banyak. Salah satu faktor yang ada pada Linda adalah kehamilan pertama, dan kehamilan kembar. Walaupun saat ini yang ada hanya satu, namun bisa jadi karena faktor itu juga."
"Apakah stres bisa menjadi faktor pemicu?" Ayah Berli bertanya dengan suara semakin gemetar.
"Bisa ya, bisa tidak."
Sebuah jawaban yang terdengar sangat tidak memuaskan. Padahal, Ayah Berli memerlukan jawaban yang bisa membuatnya tenang.
"Kehamilan adalah proses alamiah, sebuah sistem tubuh yang terbentuk istimewa, hanya bisa terjadi pada manusia istimewa yang disebut sebagai wanita. Kehamilan memang normal, namun penerimaan tubuh terhadap kehamilan itu sendiri berbeda-beda."
"Penyakit dalam kehamilan bisa saja sangat ringan seperti mual di pagi hari lalu sembuh, atau sangat berat seperti perdarahan ataupun kejadian yang baru saja dialami Linda."
"Pak Berli, wanita hamil itu istimewa, hingga Allahpun mengistimewakannya."
Paman Yordan sedang berusaha menenangkan Ayah Berli.
"Ketika ibu hamil mengerjakan ibadah salat, maka salat ibu hamil lebih diutamakan dibanding dengan perempuan yang tidak hamil. Dua rakaat salat ibu hamil menjadi lebih baik dibandingkan dengan 80 rakaat salat yang dilakukan perempuan tidak hamil."
"Pak ..., Linda sedang diistimewakan oleh Allah. Apa yang menimpanya saat ini, termasuk rasa sakitnya, insyaaAllah dapat mengangkat derajatnya dan menghapuskan dosa-dosanya."
"Karena mereka teramat istimewa, Allah bahkan menjanjikan mati syahid kepada ibu hamil yang meninggal dunia ketika melahirkan buah hatinya."
Paman Yordan mengakhiri pemaparan itu ketika ponselnya berdering. Harapnya, semoga motivasi itu bisa menenangkan Ayah Berli.
"Huuu, Linda ... maafkan Ayah, Nak." Ayah Berli kembali menangis.
Deg, Paman Yordan kaget, yang menelepon adalah Agam, ponakan paling tampan dan paling ia banggakan.
"Pak Berli, ini Ben yang menelepon. Bagimana selanjutnya? Sepertinya rapatnya sudah selesai." Ia belum berani mengangkat telepon dari Agam.
Dan sekilas ada notifikasi pesan dari Gama, ia sempat membacanya.
"Paman, mahar sudah siap. Aku dan Maxim ada di parkiran rumah sakit sakit. Paman ada di mana?"
"Kita ke masjid depan rumah sakit saja, mau tidak mau kita harus menceritakan kondisi Linda padanya. Aku berpikir saat ini Linda sudah sadar dan akan bahagia ketika tahu aku sudah merestuinya. Tapi ... kenapa? Kenapa dia masih belum sadar? Ya Allah, Linda ... cepat sadar, Nak ...."
"Tolong tenang dan sabar Pak. Kita jangan berputus asa, harus tetap berprasangka baik sama Allah, perbanyak istighfar dan shalawat ya ...."
Paman Yordan kembali memberikan motivasi positif saat ia dan Enda memapah Ayah Berli memasuki lift.
"Gama, kamu dan Maxim ke masjid depan rumah sakit ya. Paman, Pak Berli dan Enda sedang on the way ke sana juga," perintah Paman Yordan pada Gama melalui pesawat teleponnya.
...*...
...*...
...*...
...*...
"Pak Yudha, benar kan bajunya sudah cocok?"
Agam yang sedang becermin terus bertanya tentang penampilannya pada Pak Yudha. Padahal, setelan yang ia pakai saat ini adalah yang termahal, tercocok, dan telah dipilihkan secara khusus oleh sang desainer tertama yang berada di butik super besar itu.
Ya, seusai rapat, Agam langsung meluncur ke butik untuk memilih baju yang akan ia gunakan saat ijab kabul.
Tadi, saat Agam rapat, Pak Yudha sudah menjalankan misi dari Agam untuk menghubungi pemilik butik agar membuka kembali butiknya malam ini juga, dan menyediakan layanan khusus.
Misi Pak Yudha tentu saja berhasil, karena dalam hal ini uang yang berbicara. Bahkan, pemilik butiknya sendiri yang melayani Agam secara langsung.
Agam ingin terlihat istimewa di hari spesialnya.
"Sangat cocok, Pak. Jadi lebih tampan ribuan kali lipat," puji Pak Yudha.
"Anda sempurna," ucap desainer yang saat ini tengah menyematkan pin swarovski di jas Agam, tepat di atas saku jas sebelah kiri.
Sementara hair stylist terlihat fokus menyelesaikan sentuhan terakhirnya pada rambut Agam yang indah.
"Perpecto," katanya. Sambil menatap Dirut HGC penuh kekaguman.
"Saya tidak menyangka akan mendapatkan tamu spesial," ucap desainer sekaligus pemilik butik.
Dia adalah seorang pria tinggi besar, wajahnya tidak asing. Ia sering wara-wiri dilayar kaca sebagai pembawa acara atau sebagai komentator gaya busana atau penampilan artis-artis baru di ajang pencarian bakat.
"Saya juga tidak menyangka Anda bisa meluangkan waktu untuk saya, terima kasih," kata Agam.
"Kliennya Dirut HGC, mana mungkin saya tolak," jawabnya.
"Bagimana dengan gaun wanitanya? Apa sudah siap?"
"Siap dong, Pak."
Seorang wanita datang dari ruangan lain, medorong hanger khusus yang di atasnya sudah berdiri anggun sebuah gaun cantik.
Sekilas gaun berwarna putih itu terlihat sederhana, namun semakin dekat, kemewahannya semakin terpampang nyata.
"Ini desainnya simpel, tapi bahannya dari sutra, dan manik-manik yang menghiasinya adalah yang termahal dari semua gaun pengantin yang ada di sini."
"Yang menghiasi bagian dadanya adalah perak murni, logam mulia paling populer selain emas. Yang berwarna putih keabun di ujung gaunnya adalah palladium dengan campuran platinum."
"Wah wah wah," Pak Yudha melongo.
Sementara Agam tersenyum-senyum, ia sedang membayangkan bagiamana cantiknya Linda saat memakai gaun itu.
"Nah, ini dia yang paling spesialnya. Gaun bagian bawahnya saya hiasi dengan rhodium. Rodium itu logam perak paling langka dan sangat reflektif," terang desainer itu.
"Siapa gerangan pasangannya, Pak? Saya jadi penarasan. Baju ini awalnya hanya akan dijadikan koleksi saat pameran saja, tapi ... karena Pak Agam telah membayarnya dengan harga fantastik, ya tidak ada alasan lagi, hehehe."
Desainer itu tertawa puas dan bangga pastinya.
"Pak Agam luar biasa, baru Bapak yang berani membayar dengan harga itu. Sebelumnya tidak ada yang berani, padahal gaun ini sudah sering dipinang," kata hair stylist.
"Saya memilih ini karena menurut saya gaun ini paling simpel. Saya tidak tahu kalau gaun ini paling mahal dan spesial. Alasan utama saya memilihnya, karena di bagian perut gaun ini mengembang dan lebar," kata Agam.
Ucapan Agam membuat desainer dan stafnya saling menatap. Namun mereka tidak berani bertanya lebih jauh lagi.
"Kemasi dengan baik," kata Agam.
Lalu iapun bersiap untuk meninggalkan butik itu.
"Pak, apa calon pengantinnya tidak perlu dimakeup? Saya siap membantu," ucap desainer.
"Tidak perlu, dia sudah sangat cantik walaupun tanpa makeup," tegas Agam.
...*...
...*...
...*...
...*...
"Pak Yordan menyuruh kita langsung ke masjid depan rumah sakit," kata Pak Yudha saat mereka hampir tiba.
"Aduh, kok saya tidak tenang Pak," Agam mengatur napas berkali-kali sambil merapikan dasinya.
Malam ini, Agam begitu tampan. Ia turun dari mobil dengan jantung berdegupan. Wangi Agam menguar, hingga Pak Yudhapun terlena.
Di halaman masjid, jantung Agam semakin berdegup saat ia disambut oleh tatapan sendu dari mata Paman Yordan dan Ayah Berli.
Sementara itu, Gama, Enda dan Maxim terlihat tertunduk.
Sekilas, Agam melihat tangan Gama yang memegang mahar berupa cincin terlihat gemetar. Semoga ia salah lihat, Agam berharap seperti itu.
Deg, hati Ayah Berli bedebar, sakit, sedih, dan seolah tersayat-sayat. Ia memegang dadanya.
Agam Ben Buana laksana pangeran, dia teramat tampan dan memesona. Benarkah pria itu calon menantunya? Tidak salah, kan?
"Ben, kamu tampan sekali," decak Paman Yordan.
Paman Yordan segera memeluk Agam sebelum Agam mengatakan apapun.
"Mari kita ke dalam," ajak Paman Yordan tanpa melepaskan rangkulannya dari pundak Agam.