
"Mister X, please," seru Agam. Ia sedang menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Pak Agam, tidak bisa Pak. Saya tidak bisa ikut misi ini."
"Kenapa X?!" sentak Agam.
"Saya 'kan harus menjaga Keivel."
"Bukankah kamu mengatakan sudah memiliki teman di rumah itu?! Saya yakin temanmu bukan orang sembarangan. Jadi Keivel untuk sementara waktu bisa dijaga oleh temanmu. Dia masih jaringan anonymous, kan?"
"Aduh Pak Dirut, Anda salah persepsi. Temanku ini wanita biasa. Dia bahkan tuna netra."
"Apa katamu?! Ya sudah kamu iku misi retas saja! Cepat retas monitor kontrol menara pengawas! Penerbangan milik Yohan hilang kontak!"
"Apa?! Maksud Anda penerbangan kapten Yo?!"
"Benar!"
"Sejak kapan Anda peduli pada tuan Yohan?"
"Mister X, Yohan sudah berubah, masalahnya adalah ibu saya berada di penerbangan komersil milik kapten Yo."
"Apa?! Serius?! Ya sudah Pak Agam, saya akan mulai bekerja. Semoga ibunda Anda dan seluruh penumpang dalam keadaan sehat selamat."
Panggilan berakhir, mobil Agam melesat menuju kantor pusat BRN.
Namun saat Agam baru saja tiba di depan gedung BRN, ada panggilan lagi dari Mister X.
"Kenapa Mister X? Keivel baik-baik saja, kan?"
"Pak Agam, Anda sepertinya dijebak."
"Apa?!"
"Pak, menurut menara pengawas, penerbangan kapten Yo baik-baik saja. Kapten Yo tidak pernah hilang kontak."
"Kamu serius X? Saya dapat info ini dari Pak Yudha. Pak Yudha tidak mungkin membohongi saya!"
"Mungkin pelakunya sengaja memperalat pak Yudha supaya Anda percaya. Anda harus cepat pergi Pak."
Ternyata, apa yang dikatakan Mister X bukan isapan jempol. Baru saja Agam hendak memutar arah, mobilnya telah dikepung oleh beberapa orang yang tentu saja anggota BRN.
Tidak ada kata mundur bagi Pak Dirut, apapun rintangannya ia pantang menyerah sebelum bertanding. Agam membuka pintu dengan percaya diri.
"Mau apa kalian? Apa kalian merindukanku?" tanya Agam. Mereka tidak menjawab, kedelapan orang itu malah menodongkan senjata ke bagian dada dan kepala Agam.
"Ikut dengan kami, Pak!" kata seseorang.
"Siapa takut?" ledek Agam sambil tersenyum.
Padahal sejatinya tengah mencari celah untuk menyerang mereka. Tapi Agam sadar kalau ia tangan kosong, masalah jumlah ia tak masalah. Namun ia manusia biasa, kulitnya tentu saja tidak tahan peluru.
Agam digelandang menuju ke dalam gedung BRN. Ia pasrah sambil melihat-lihat, belum ada yang berubah pada gedung ini. Semuanya terlihat sama seperti dulu.
Agam dibawa ke ruang bawah tanah. Agam tahu ia akan dibawa kemana. Pasti ke ruangan eksekusi yang menakutkan itu. Pak Dirut menghela napas, di saat seperti ini, ia hanya bisa berdoa dam memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa.
Agam sadar benar jika perbuatannya membongkar noktah hitam ketua BRN akan berakibat fatal. Ya, ia memang mendapat dukungan, bahkan dukungan dari orang nomor satu di negara ini. Tapi dukungan itu tidak serta-merta menjamin keamanan dan keselamatannya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tiba-tiba merasakan takut akan kematian. Biasanya ia tidak pernah takut, tapi setelah ada Linda dan Keivel di sisinya, ketakutan itu melanda. Ia takut tidak ada yang melindungi Keivel dan Linda jika pergi secepat ini.
Dulu, ia mungkin bisa menggantungkan harapan pada Gama, tapi saat ini adiknya itu tidak bisa diandalkan. Kepala Pak Dirut tertunduk, ia sedang membayangkan wajah Linda, Keivel, ibunya dan juga Gama.
Hingga tak terasa jika ia sudah menginjakan kaki di ruang yang dituju. Di ruangan ini, Agam sudah ditunggu. Agam terkejut, seluruh petinggi dan anggota BRN sepertinya hadir di ruangan ini. Mungkinkah mereka akan menyaksiksan kematiannya? Pak Dirut mengedarkan bola mata.
...❤...
...❤...
...❤...
Di kamar mandi, Freissya memakai kembali bajunya dengan tangan gemetar dan deraian air mata. Tak menyangka jika dirinya akan sejalang ini. Dengan modal cinta dan alasan dendam kesumat itu, ia berani bercinta dengan pasien pasca koma yang bahkan masih mengalami amnesia dan halusinasi.
Untung saja tidak ada petugas lain yang masuk, kalau saja ia tepergok, maka kariernya sebagai perawat bisa tamat hari ini juga. Surat registrasi perawatnyapun mungkin akan dicabut dan ia tidak bisa melayani pasien lagi seumur hidupnya.
Freissya berulang kali mengeringkan rambutnya agar tidak kentara. Sementara si suami palsu alias Gama, sudah mandi terlebih dahulu dan tidur kembali di bed pasiennya seolah tidak terjadi sesuatu.
Freissya berjalan mengendap. Cara jalannya sedikit berbeda. Namun tidak terlalu jelas jika tidak diperhatikan dengan seksama. Mungkin masih belum nyaman di bagian itu.
"Istriku, kamu mau kemana?"
Freissya yang hendak membuka pintu terkejut sempurna. Ia kira Gama tidur. Tadinya mau segera pergi dari kamar ini dan menenangkan diri barang sejenak.
"V-Val, a-aku mau pergi dulu ya." Masih mematung di depan pintu, menatap Gama.
"Istriku kemarilah." Nada bicara Gama sangat serius, Freissya terpaksa mendekat.
"Sebelum kamu pergi, kamu harus menjawab dulu pertanyaanku." Gama memegang tangan Freissya. Yang dipegang terus menunduk, sedang dihantui rasa bersalah atas kejadian tidak beradab yang melenakan itu.
"Ma-mau menanyakan apa, Val?"
"Hei, panggil aku 'suamiku.' Jangan memanggil Val lagi," titahnya.
"Baik, ada apa suamiku?"
"Nah begitu dong istriku." Gama terseyum sambil mengecup punggung tangan Freissya.
"Cepat katakan, ada apa suamiku?" Terpaksa masuk ke dalam halusinasi Gama.
"Kenapa kamu tidak memberikan tanda cinta di tubuhku, hmm? Padahal aku mau sekali diberi tanda itu, tapi kamu terus menolak, kenapa?"
"A-apa?" Sebuah pertanyaan absurd, pikir Freissya.
"Jawab dong," desak Gama.
"Ma-maaf suamiku, aku menolaknya karena kita berada di rumah sakit, kalau tanda cinta itu dilihat oleh dokter atau suster, mereka bisa curiga dan aku malu," jelas Freissya.
"Kenapa mereka harus curiga, kitakan suami-istri."
"Val, sudah aku bilang padamu kalau kita belum menikah," Freissya mencoba menjelaskan lagi, walaupun ia tahu itu sia-sia.
"Terserah kamu mau mengatakan apa, pokoknya sekarang aku adalah suami kamu dan aku akan pulang denganmu. Aku tidak mau terus dirawat di ruangan yang pengap ini." Gama bangun, duduk di sisi Freissya.
"Aku akan ikut denganmu, kemanapun kamu pergi," tambahnya.
"Val, dengarkan aku." Freissya memegang tangan Gama.
"Apa kamu ingat? Kamu itu masih pelajar, Val. Hari ini, rencananya guru kamu akan datang ke sini dan membawa soal ujian. Mereka akan mengetes nilai akademik kamu setelah sadar dari koma. Kalau kamu lulus, tahun ini kamu bisa kuliah, Val," kata Freissya dengan tatapan berbinar.
"Aku masih pelajar? Ice, kamu pasti salah, saat aku menikah denganmu, usiaku sudah 25 tahun Ice, kamu jangan membohongiku," tegasnya.
"Val, percaya padaku."
"Ice, kamu jangan mengelak lagi. Tadi kita bercinta, kan? Aku yakin yang tadi itu bukan mimpi."
"Val, a-aku tidak merasa melakukan itu, i-itu halusinasi kamu," sanggah Freissya. Hanya dengan cara ini Freissya bisa mengelak.
Syukurlah, karena kondisinya belum sembuh total, Gama sepertinya agak terpengaruh oleh sandiwara Freissya.
"Benarkah itu hanya halusinasiku? Tapi kenapa terasa real sekali? Lemasnya bahkan masih terasa hingga saat ini." Alis Gama mengernyit. Sementara pipi Freissya langsung merona.
"Tunggu, aku mengingat sesuatu, aku ingat menyematkan tanda cinta di tubuh kamu, sini aku mau lihat perut kamu," paksa Gama. Ia mendekat dan memegang bahu Freissya.
"Val, apa yang akan kamu lakukan? Hei, jangan!" tolaknya.
Karena kebohongannya takut terbongkar oleh Gama, Freissya akhirnya menekan bel emergency untuk meminta bantuan pada tim medis yang berada di nurse station.
"Aku mau lihat!" Gama mendorong tubuh Freissya hingga terlentang di tempat tidur.
"Val, jangan! To-tolong," teriak Freissya saat Gama memaksa menyingkap bajunya.
"Tuan! Hentikan!" Beberapa tim medis datang. Segera menahan tangan Gama.
"Hei lepas! Dia istriku, berani sekali kalian melarangku!"
Gama berontak, dua orang petugas medis jelas tak bisa menahannya. Gama menendang mereka hingga terjungkal ke lantai.
"Panggilkan yang lain, cepat! Dia harus diikat! Tuan Gama sepertinya mulai gila," kata salah satunya. Lalu temannya merangkak meminta bantuan.
"Cukup! Dia tidak gila! Dia hanya halunasi. Berani sekali Kakak mengatakan dia gila!" teriak Freissya sambil memeluk Gama.
"Tenang istriku, tenang, jangan menangis ya."
Lalu yang lain datang.
"Ada apa ini? Suster Frei, cepat jelaskan!" kata dokter jaga.
"Emm, tidak apa-apa, Dok. Tadi Tuan Gama berusaha membersihkan bajuku. Aku kaget, jadi spontan menekan bel emergency."
"Suster Frei, kenapa Anda tidak jujur? Tadi kami berdua melihat Anda hampir dilecehkan. Jangan karena kalian berpacaran, Anda membelanya."
"Hei, omong kosong apa ini?! Siapa bilang dia kekasihku. Dia itu istriku! Aku dan dia sudah menikah. Tadi, kami bahkan melampiaskan kerinduan dengan bercinta di kamar ini," terang Gama.
"Apa?!" Tim medis melongo. Sementara lutut Freissya jelas melemas.
Namun tim medis tentu saja tidak akan percaya pada Gama. Halusinasi dan pengakuan semacam ini bukan kali pertamanya terjadi pada pasien pasca koma. Bahkan pernah ada yang mengaku sebagai Presiden, mentri, dan lain-lain.
Freissya menghela napas, sedikit lega, tapi kasihan pada Gama karena menjadi tertuduh.
"Ayo istriku, mengakulah kalau kita baru saja bercinta."
"Iya, iya, aku mengaku," kata Freissya sembari tersenyum.
Tim medis mengira jika ucapan Freissya merupakan usaha untuk menenangkan Gama, padahal faktanya Freissya sedang mengiyakan dan mengakui perbuatannya.
"Tuh, kan! Apa kataku?!" Gama merasa di atas angin.
Lalu tim guru dari sekolah Gamapun datang di waktu bersamaan. Gama marah, ia tidak suka dengan keadaan ramai seperti ini.
"Mau apalagi kalian!" teriaknya.
"Val, mereka gurumu," terang Freissya.
"Aku tidak kenal kalian semua! Pergiii!" usirnya dengan wajah memerah karena marah.
"Val, lihat ini!" Freissya memberikan kartu siswa milik Gama dan memberinya cermin.
Gama membelalak saat melihat kartu siswa itu. Ya, ia mengakui jika foto di kartu itu memang mirip dengan wajahnya. Namanyapun sama dengan identitas gelang pasien yang dipakainya.
"Hemat saya, biar suster Freissya saja yang berada di ruangan ini dan membantu Tuan Gama mengerjakan soal," kata dokter kepala.
"Tapi kita harus mengawasi, jangan sampai mencontek ataupun dibantu jawabannya oleh suster," ucap bapak guru dengan sedikit ragu.
Pak guru sebenarnya tidak tega memberikan soal ujian akhir pada Gama, tapi Agam Ben Buana memaksanya dengan alasan demi kebaikan Gama agar tetap lulus sekolah di tahun ini.
"Aku janji tidak akan membantunya Pak," kata Freissya sambil tetap menggenggam tangan Gama agar tidak berulah.
"Ya sudah, untuk mencegah kecurangan, bagaimana kalau ponsel suster Freissya kita sita sementara. Maksudnya supaya mengurangi risiko mencontek melalui mesin pencarian," sahut guru lain yang juga hadir di ruangan ini.
"Baik," Freissya menyetujui. Ia menyerahkan ponselnya.
.
Merekapun pergi. Kini hanya ada Gama dan Freissya di ruang rawat yang terlihat seperti kamar hotel bintang lima tersebut.
"Mau kapan mulai mengerjakannya? Mau pelajaran apa dulu?" tanya Freissya, tangannya sibuk menyiapkan alat tulis dan kertas yang telah disediakan oleh tim guru.
"Mau mencium kamu dulu, setelah itu baru ujian. Kalau pusing, aku juga mau istirahat dulu sambil peluk kamu," jawab Gama sambil merangkul Freissya dari belakang dan mengendus tengkuknya.
"V-Val, ja-jangan begini, nanti tidak selesai-selesai," protes Freissya.
"Ice, kita suami-istri, tidak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan, ya 'kan?" Sambil menengadahkan kepala Freissya dan menyatukan kembali bibirnya dengan milik Freissya.
Saat Freissya mengeluh, barulah Gama berhenti. Lanjut merebut kertas soal sambil tersenyum.
"Aku mau mengerjakannya sambil tiduran di paha kamu."
"Val, kan sudah disedikan mejanya, tak baik membaca sambil tiduran," tolak Freissya.
"Ice, please," matanya mengiba.
"Baiklah."
Freisnya menyelonjorkan kaki. Gama segera merebahkan kepalanya. Freissya menatap Gama yang sedang membaca soal sambil menahan tangis. Ia ingat betul jika dirinya pernah berjanji akan melakukan semua keinginan Gama asalkan Gama cepat sadar dari komanya.
Friessya membelai rambut Gama. Yang dibelai asyik membaca soal dengan wajah berseri-seri. Friessya membelalakan mata saat sadar jika Gama mengerjakan soal matematika tanpa kertas coretan.
"K-kamu? Ti-tidak dihitung dulu? Coba cek lagi Val, jangan asal pilih jawaban!" Freissya panik, ia takut nilai Gama dibawah standar.
"Hahaha, istriku, aku sudah menghitungnya di dalam pikiranku. Kalau dibelah, kamu mungkin bisa melihat otakku penuh dengan coretan," jawab Gama dengan santainya.
"Ya ampun, Val. Aku tidak percaya. Coba lihat."
Freissya yang penasaran mencoba mengecek jawaban Gama. Ternyata Freissya juga tidak bodoh. Ia terlihat kompeten saat mengerjakan soal bersama langkah-langkahnya.
Lalu Freissya mengecup kening Gama karena merasa bangga. Pria yang merenggut kesuciannya ternyata pria jenius. Tak salah jika BRN ingin merekrutnya.
"Ice," panggil Gama.
"Ya."
"Aku mau dikecup di sini," ujar Gama sambil menunjuk pada bibirnya yang dikerucutkan.
...❤...
...❤...
...❤...
"Pak Yudha, Anda di mana?!" teriak Vano pada teleponnya.
"Saya di rumah Pak Agam, sedang menjaga LB. Memangnya Anda belum tahu kalau penerbangan kapten Yo yang membawa bu Nadia hilang kontak?" Suara Pak Yudha.
"Apa?! Omong kosong apa itu?! Pak Yudha, kenapa Anda bisa bicara sembarangan seperti itu?!"
"Maksud Pak Vano apa ya?! Kenapa bentak-bentak saya?!" Pak Yudha terdengar emosi.
"Pak Yudha, dengar ya! Saya baru saja ditelepon tuan Yohan untuk segera menjemput bu Nadia di bandara. Tuan Yohan sudah menghubungi pak Agam tapi tidak aktif."
"Apa?!" Pak Yudha terkejut.
"Sekarang begini, Pak. Biar saya saja yang menjemput bu Nadia, tapi Anda harus ke rumah sekarang juga."
"Ke rumah sakit? Sepertinya tidak bisa, Pak. Sebab saya disuruh pak Agam untuk tetap di rumah dan menjaga LB," kata Pak Yudha.
"Pak Yudha, hari ini tim guru dari sekolahnya Gama akan datang. Gama mau ujian akhir. Tugas kita adalah memastikan kalau Gama tidak mendapatkan nilai yang baik."
"Aduh, maaf Pak Vano, saya tidak mengerti."
"Pak Yudha, kalau nilai Gama baik, maka kerja keras pak Agam membatalkan Gama jadi anggota BRN bisa gagal. Kita harus membuat skenario seolah-olah Gama jadi bodoh akibat kecelakaan itu. Kalau BRN tahu Gama tidak sepandai dulu, maka Gama akan didiskualifikasi," terang Vano.
"Oh, begitu ya. Oke saya faham," timpal Pak Yudha.
Setelah memastikan Pak Yudha mengerti, pengacara Vano mengakhiri panggilan. Lanjut ke agenda selanjutnya, menjemput bu Nadia.
...❤...
...❤...
...❤...
"Ya hallo, ini dengan Pak Heri," kata suara di ujung telepon.
Pak Yudha menautkan alisnya.
"Maaf, saya ingin bicara dengan suster Freissya."
"*Emm b*egini Pak, saya gurunya Gama. Sengaja menyita ponsel suster Freissya karena saat ini suster Freissya sedang mendampingi Gama mengerjakan ujian," jelasnya.
"A-apa? Oh, oke. Baiklah, terima kasih," Pak Yudha menutup panggilan.
Setelah itu, Pak Yudha bersiap untuk menuju rumah sakit.
Sepeninggal Pak Yudha, mobil yang sedari tadi mengintai rumah Agam mendekat. Di dalamnya ada lima orang pria misterius. Mereka lantas meneropong rumah Agam dari balik kaca mobil menggunakan teleskop canggih.
Setelah memastikan kondisi sekitar aman terkendali, satu orang dari mereka turun dari mobil dan menekan bel yang ada di gerbang. Bu Ira membuka pintu gerbang karena mengira pak Yudha kembali lagi tanpa mengecek kamera terlebih dahulu.
"Ha ---."
Bu Ira terkejut, namun langsung dibekap dengan obat bius. Lalu diseret ke dalam mobil dan diikat tanpa mampu melakukan perlawanan. Setelah Bu Ira berhasil dilumpuhkan, empat orang dari mereka turun dari mobil dan membobol pintu rumah pak Dirut menggunakan laser.
Senyum menyeringai di bibir mereka. Salah satu dari mereka kemudian berkata ....
"Sebelum kita menyerahkan LB pada tuan Reynaldi, kita harus mencicipinya terlebih dahulu, setuju?"
"Hahaha, setuju," sahut yang lain.
...~Tbc~...
Tuan Reynaldi. Adakah yang masih ingat siapa dia? Jika ada yang masih ingat, nyai angkat jempol.
...___...
...nyai sangat menantikan kunjungan teman-teman ke sini. Ditunggu ya, terima kasih....