
Pengalaman bercinta untuk yang pertama kalinya memang bisa menjadi momen yang sangat mendebarkan.
Namun hal itu tidak berlaku untuk Agam Ben Buana, ini bukan yang pertama kali untuknya, tapi bagi Agam ini tetap mendebarkan. Agam gugup, pun dengan Linda. Kejadian menegangkan itu kembali terulang.
Kenapa demikian?
Karena Pak Dirut selalu kesulitan saat memulainya. Serius, pada awalnya Linda selalu menangis. Peristiwa ini tentu saja membuat Pak Dirut semakin takjub, heran, penasaran tapi juga bahagia.
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersusah-payah dahulu, bersenang-senang kemudian.
Setelah melewati drama tangisan, bujukan, dan rayuan maut, setelah beberapa saat Pak Dirut mengendalikan Linda dengan irama nan lembut. Akhirnya, Agam bisa mendapatkan jua kondisi terindah ini. Kondisi dimana Linda tersenyum, menatap wajahnya, membelai rahang dan rambutnya, serta berusaha keras untuk tidak bersuara.
"Sa-sayang ... i love you," bisik Pak Dirut di sela kesenangan itu.
Napasnya memburu, tubuh indahnya sejenak beristirahat, mengecup leher Linda, mengulum cuping telinganya, lalu melakukan buaian-buaian halus yang membuat Linda merasa sangat bahagia, hingga tak sadar bibir Linda merintih pelan, lalu mendesah dengan syahdunya.
"Su-sudah ti-tidak sakit kan sa-sayang?" tanya Pak Dirut saat dirinya merangkul tubuh Linda, membawanya ke atas sofa, tanpa melepaskan jalinan itu.
Linda hanya mengangguk, memasrahkan diri dan menggigit kuat-kuat bibirnya.
"Bagaimana rasanya sa-sayang?" tanya Agam.
Sambil menatap nakal keindahan yang terpampang nyata. Ya, ampun, pertanyaan macam apa itu? Linda teramat malu, pipinya merona, ia tersenyum, lalu mengangkat tubuhnya untuk menikmati kembali yang beroma mint.
Semenggemaskan itu ternyata seorang Linda Berliana. Pak Dirut terbuai, ia menyambut dan merenggut yang merah delima sambil mengalunkan kembali iramanya yang memabukkan itu.
Linda memejamkan mata, bibirnya terbuka. Kata-kata keramat berupa 'ahh' dan 'emh' lolos jua dari bibirnya, mulai memanjakan telinga Pak Dirut. Hingga akhirnya perlahan tapi pasti Pak Dirut mulai menggila dan tak terkendali.
Di saat seperti ini Linda benar-benar harus menguatkan diri. Serius, kekuatan Pak Dirut memang tidak diragukan lagi. Berpegang pada sofa nyatanya tidak cukup membuat pertahanan Linda kokoh. Wanita elok rupa itu mulai bercucuran keringat.
"Hug me baby, hold on to my body (peluk aku sayang, berpeganganlah pada tubuhku)," kata Agam dengan suara beratnya yang terdengar gemetar.
Ya, salah satu cara agar Linda kuat adalah dengan memeluk erat Agam Ben Buana. Linda bergelayut, lalu larut, terseok-seok, terbang dan terhempas. Begitu terus-menerus, tiada jeda dan seolah tidak akan berakhir.
"Pp-pelan-pelan MM-Maga ...," rintih Linda.
"Pa-panggil sa-saya cinta, sayang." Sambil mengusap bibir Linda.
"Emh ... cinta ... a-aku mulai le-la-ahhh ...." Tubuh Linda terkulai di sofa.
"Ta-tapi saya belum lelah sayang, kita pindah ke tempat tidur lagi ya cantik." Lagi, Pak Dirut memboyong Linda dengan entengnya.
Ia merebahkan Linda penuh kasih sayang, lalu mengecupi keningnya.
"Sabar ya sayang," bisik Agam. Lalu Linda merasakan jeratan itu berakhir. Pikir Linda sudah berakhir, tapi ... Linda salah.
Pak Dirut tenyata membuka kulkas dan mengambil minuman. Linda mengintip di balik buku jemarinya. Kemudian memejamkan matanya saat Agam mendekat.
"Minum dulu sayang, ini jus alpukat, supaya kamu kuat," Agam meraih tengkuk Linda dan meminumkan jus tersebut.
Ya ampun, keluh Linda dalam hati saat ia menerima jus tersebut dengan senang hati.
"Sudah siap sayang?"
Ada aba-aba lagi. Linda hanya mengangguk dan spontan beteriak merdu saat Pak Dirut kembali menikamnya. Agam memagut Linda, lalu mengusai tubuh cantik itu seluruhnya, sepenuhnya, seutuhnya dan dan sepuasnya.
Terakhir, Pak Dirut membawa Linda ke kamar mandi mewah milik mereka. Entah apa yang terjadi di sana. Pintunya tertutup rapat.
Tapi ... alunan cinta itu masih terdengar jelas. Bagaimana dua insan yang saling mencintai itu tengah berinteraksi dengan intimnya. Samar-samar terdengar jua rintihan dan lenguhan kenikmatan dari dalam sana. Suara itu mendayu-dayu bersinergi dengan gemericiknya air.
Lalu .... Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Dalam hal ini, hubungan suami-istri merupakan salah satu kegiatan yang bernilai pahala. Bahkan ada yang meyakini jika ibadah sunnah pun hendaknya ditangguhkan atau tidak dilakukan apabila keinginan itu datang tiba-tiba dan begitu mendesak.
Ya, pasangan suami-istri memang tidak dihalangi melakukan hubungan intim kapanpun dan di manapun selama sesuai syariah dan tidak mengganggu ketertiban umum. Kecuali di siang hari bulan Ramadhan saat mereka berpuasa, atau saat tertentu ketika melaksanakan ibadah haji dan umrah, serta ketika istri sedang mengalami menstruasi dan nifas.
.
.
Entah berapa lama waktu berlalu, memutar detik kehidupan, menuakan semesta, mendekatkan manusia pada titik kematian.
'Klak.'
Pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah sosok tampan itu dari sana, hanya berbalut handuk berwarna putih. Rambutnya basah, bahkan masih meneteskan butiran air.
Ia memangku Linda yang bersemayan nyaman di dadanya. Melingkarkan tangan di leher Pak Dirut.
Sementara netra mereka tetap terpaut satu sama lain. Mereka laksana pengantin baru yang baru saja meraih manis dan nikmatnya untaian cinta.
Rambut Linda juga pastinya basah. Ada handuk kecil yang mengerucut di atas kepalanya.
Agam lalu meletakan Linda di kursi yang menghadap meja rias.
"Pengering rambutnya di sebelah mana sayang?" tanyanya.
"Pak Agam, aku saja yang mengeringkan," tolak Linda. Berdiri meraih laci, mengambil pengering rambut.
"El, sama saya saja, oke?" Merebut pengering itu dari tangan Linda. Mulai menyalakan dan mengatur suhunya.
"Ya sudah," Linda patuh. Duduk kembali, lalu menikmati keindahan sosok suaminya dari pantulan cermin.
Wajah tampan itu sumringah, berbinar terang bak bulan purnama. Ingin rasanya Linda menatap wajah itu setiap harinya, lalu memadu cinta di setiap kesempatan yang mereka inginkan, tapi ... perlu waktu lagi untuk sampai ke tahap itu.
"Kenapa melihat saya seperti itu? Masih mau kah?" goda Agam.
"A-apa? Cukup, Pak. Hari ini cukup." Linda segera memalingkan wajah.
"Oke, hari ini cukup. Kalau malam harinya, apa saya boleh meminta lagi?"
"A-apa? Emm, aku mau bawa Keivel ke kamar kita, malam ini aku peluk Keivel saja, tidak peluk Pak Agam dulu." Linda memberi alasan.
"Hahaha, mana bisa seperti itu sayang," Agam terkekeh.
"Bisa lah," sahut Linda.
"Oke sayang, bisa diatur, tapi saya tidak janji ya."
"Sekarang aku yang mengeringkan rambut Pak Agam," tawar Linda.
"Tidak perlu sayang, rambut saya mau diangin-angin saja. Saya lapar, El. Kegiatan tadi kan memakan banyak kalori." Merapikan pengering rambut dan senyum-senyum.
"Baik, aku ambilkan baju untuk Pak Agam."
Linda bergegas, mendekati nakas milik Agam. Lalu mengambil baju untuknya juga. Mereka ke kamar ganti bersama-sama.
"Sayang, saya lupa tidak bereksperimen di ruangan ini. Harusnya kamu mengingatkan saya dong, El."
"A-apa? Pak Agam, aku tidak ingat, sama sekali tidak terpikiran untuk berulah di ruangan ini," Linda tak habis pikir.
"Hahaha, jangan marah dong cantik." Tangannya sibuk membantu Linda memakai baju.
"Tidak marah Pak, serius. Oke, lain waktu, kita lakukan di sini."
Linda mengangkat jari kelingkingnya sebagai tanda janji. Agam meraihnya, menautkan jari mereka.
Selanjutnya, Pak Dirut menautkan bibir mereka. Serangan ini membuat Linda kaget. Tapi ... ini terlalu manis dan lembut untuk dilewatkan. Linda tidak bisa berpaling. Jujur, ia telah kecanduan rasa ini.
...❤...
...❤...
...❤...
Bibi jadi-jadian itu sedang memarahi dirinya sendiri.
Mister X dan Senja tengah berada di ruang makan. Setelah tepergok berada di kamar mandi, ceritanya Mister X dimarahi oleh kakaknya karena sembarangan masuk kamar. Mister X beralasan ia tidak melihat Senja saat memasuki kamar tersebut.
Lelah sebenarnya memerankan dua orang yang berbeda, tapi inilah cara yang bisa dilakukan Mister X untuk menjaga gadis itu dan bisa mengawasinya secara langsung.
Tadi Subuh, Senja mendengar pria yang dipanggil X oleh Bibi Miss dipukuli. Pria itu mengerang kesakitan, mengaduh, bahkan meminta ampun pada Bibi untuk tidak memukulnya lagi.
Senja melerai. Ia melarang Bibi memukuli adiknya.
"Cukup Bibi, jangan memarahinya lagi. Aku sudah memaafkan dia," kata Senja kala itu.
"Makan yang banyak ya Senja, kamu makannya sedikit saja, badanmu kan sudah gendut," kata Bibi jadi-jadian. Ia memaki kursi kosong yang ceritanya diduduki oleh adiknya.
"Ya sudah, kalau Kakak marah-marah terus, aku pergi," kata Mister X.
"Ja-jangan pergi," kata Senja. Mister X tersentuh.
"Bi, kalau keberadaanku membuat Bibi dan adik Bibi tidak akur, lebih baik aku saja yang pergi dari rumah ini," ucap Senja sambil menunduk.
"Ya sudah, mulai hari ini, kamu dan adik Bibi harus berteman. Bibi janji tidak akan memarahi dan memukul dia lagi. Asalkan, kamu tetap tinggal bersama Bibi," bujuk Bi Miss.
"Baik Bi, tapi setelah rumah nenek selesai dibangun, aku akan pergi dari rumah ini."
"Oiya Senja, bagaimana dengan jenazah nenek kamu? Apa sudah dikebumikan?" Mister X baru menyadari hal itu.
"Sudah Bi, pamanku yang mengambilnya dan mengurusnya. Aku sengaja tidak menemui paman, aku takut," lirih Senja.
Mister X menghela napas. Sebenarnya, ia mengetahui fakta lain dari pamannya Senja.
Apa itu?
Berdasarkan data yang ia retas, paman Senja ternyata telah mengambil alih hak waris rumah nenek atas namanya, dan telah mengambil dana tunai asuransi rumah yang kebakaran tersebut. Jadi kedepannya, rumah nenek tidak akan dibangun lagi.
"Sekarang, ada Bibi dan X yang akan menjaga kamu, jangan takut lagi ya."
"Bibi, kenapa baik sekali? Aku jadi terhura, eh maksudku terharu." Air mata Senja berlinangan.
"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong-menolong, tidak perlu dipikirkan," jawab Bi Miss.
"Oiya, nama adik Bibi siapa? X atau Ex?"
"Namaku Example, panggil saja Exam," jawab Mister X dengan suara aslinya.
"Wah, nama yang unik," puji Senja.
"Ya sudah, kamu makan lagi ya. Ngobrolnya kita lanjutkan nanti. Oiya X, mulai hari ini, kalau Kakak tidak ada, kamu harus menjaga Senja, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Senja, kamu akan Kakak usir dari rumah ini, atau kamu jangan anggap Kakak sebagai kakak kamu lagi." Mister sampai tersenyum sendiri, ia merasa jika kalimatnya terlalu berlebihan.
"Bibi, kok jahat sekali? Exam, perkenalkan, aku emm ... Senja," mengulurkan tangan.
Mister X langsung berdebar-debar. Meraih tangan Senja dengan hati-hati.
"Tanganmu dingin," ungkap Senja saat mereka berjabat tangan.
"Aku baru saja minum teh dingin," sanggah Mister X. Padahal, tangannya dingin karena gugup. Untungnya, kali ini tidak sampai mimisan.
Kemudian Mister X menikmati kembali makan sorenya sambil menikmati kecantikan Senja.
...❤...
...❤...
...❤...
Sea berjongkok di salah satu sudut trotoar seraya menatap gedung rumah sakit internasional yang menjulang tinggi. Di sanalah Yohan dirawat. Rumah sakit itu tepat berada di seberang pandangnya.
Semalam, Sea sudah diberi kesempatan kabur oleh supir Yohan. Sea senang, tapi juga bimbang. Dan ia juga bingung harus pergi kemana. Ongkos pulang yang diberikan oleh supir Yohan tidak akan cukup untuk pulang ke panti.
"Dari sini ke Pulau Jauh kan jauh sekali," gumamnya.
Oh, ternyata gadis ini berasal dari daerah yang sama dengan Linda. Tapi tujuannya berlayar seorang diri menaiki kapal feri E452 DT yang ditenggelamkan oleh Yohan belum diketahui.
Setelah ikut mengantarkan Yohan ke ruang perawatan, Sea keluar dari rumah sakit dengan langkah bingung. Ia duduk di trotoar ini sejak semalam. Hanya meninggalkan trotoar saat ia ingin menjalankan shalat. Ia shalat di mushola yang ada di lobi rumah sakit.
Sea sebenarnya ingin beristirahat di mushola rumah sakit, tapi ... kalimat peringatan yang tertera di sana membuatnya mengurungkan niat itu.
Siang tadi, Sea sempat pergi ke parkiran rumah sakit untuk melihat keberadaan mobil Yohan. Tapi ... mobil yang mirip dengan mobil Yohan ada banyak. Sea bingung, ia menyesal tidak menghafal plat nomornya.
"Ya Rabb, aku takut ..., aku ke sini untuk mencari seseorang, tapi ... petunjuk yang aku miliki ikut tenggelam bersama kapal feri itu, huuu, aku harus bagaimana?" Sea menangis, kembali menatap rumah sakit dengan perasaan yang berkecamuk.
Pertama, jika ia pergi, ia tidak memiliki tujuan. Kedua, jika ia tetap bersama Yohan, ia takut dilecehkan lagi.
Aku bingung, oiya begini saja, aku akan menunggu di lobi rumah sakit. Semoga bisa bertemu dengan supir tuan Yohan. Aku akan meminta pekerjaan padanya, aku bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Supirnya tuan Yohan sepertinya orang baik. Batinnya.
'Kruwuuk.' Peristaltik usus gadis itu berbunyi.
"Lapar sekali," gumamnya.
"Tapi ... di sini tidak ada pedagang kali lima, adanya mal, makanan di sana pasti mahal. Tahan ya perut, oiya kan aku masih ada air putih." Sea mengambil air putih yang tersimpan di tasnya. Ia tenggak secukupnya, dan berharap akan sedikit mengurangi rasa laparnya.
Ia kembali melamun, kini menatap langit yang menjingga, sebentar lagi senja akan pergi, dan malam akan tiba.
"Tuan Yohan ... apa Anda sudah siuman?" gumamnya.
...❤...
...❤...
...❤...
"Pak Buana, untuk meretas jaringan milik BRN, kita membutuhkan sidik jari Anda. Kita butuh sidik yang sudah terkoneksi dengan data base BRN," suara Mister X di ujung telepon terdengar lantang.
"Mister X, saya sudah tidak memiliki akses lagi. Id card saya kemungkinan telah dinonaktifkan," kata Agam.
"Oiya Pak Buana, bukankah adik Anda sudah berada di asrama kandidat BRN? Kenapa kita tidak bekerja sama dengan dia saja?"
"Komunikasi saya dan dia kurang baik," keluh Agam.
"Apa tuan Deanka ada di pihak kita?"
"Tidak Mister X, jangan melibatkan tuan Deanka. Dia masih anggota aktif. Jika dia terlibat dengan konspirasi kita, akibatnya bisa fatal. Dia baru saja memiliki bayi, saya tidak ingin misi ini membahayakan dia, atau siapapun. Cukup kita saja," kata Agam.
"Baik, laporan selesai. Selamat beristirahat Pak Buana."
"Terima kasih Mister X."
Agam menutup panggilan.
"Pak Agam, makan malamnya sudah siap."
Si cantik dan putra tampannya menghampiri, Keivel terlihat nyaman di pangkuan Linda. Sepertinya Linda serius dengan ucapannya, akan membawa Keivel tidur di kamar mereka.
"Halo para kesayangan Paren."
Agam menghampiri, memeluk Keivel dan Linda. Hatinya hangat, dua orang terkasihnya ada dalam genggaman. Agam sangat bersyukur.
...~Tbc~...