AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Spekulasi [Visual]



Pramugari telah memberikan informasi jika mereka akan tiba di bandara internasional pusat kota sekitar sepuluh menit lagi.


Linda larut dalam lamunan. Ia terjaga sepanjang perjalanan. Semua hal yang membebani sanubarinya menyisakan kegundahan.


Setelah ia dijemput polisi, kini teringat akan nasib suaminya yang bisa jadi dinyatakan terlibat atas kebakaran mobil itu. Tidak bisa dipungkiri, Linda adalah saksi kunci pada kasus itu selain paman Setyadhi yang masih terbaring di rumah sakit dan amnesia.


Siapakah korban kebakaran itu?


Apakah identitasnya telah ditemukan?


Lalu, apa hubungannya dia dengan paman Setyadhi?


Batin Linda berkecamuk. Mengingat tentang paman Setyadhi, ia jadi ingat nasihat pamannya beberapa tahun yang lalu saat paman Setyadhi mengunjunginya. Ya, paman Setyadhi adalah orang yang sangat menentangnya saat Linda memutuskan ingin terjun ke dunia hiburan.


"Ini profesi yang haram dan dosanya besar, Lin. Profesi sebagai artis, profesi guru akting. Termasuk di dalamnya adalah para artis baik bintang film maupun para penyanyi," ujar paman Setyadhi pada saat itu.


Paman Setyadhi menganggap jika profesi sebagai artis telah melakukan dosa secara terang-terangan. 


"Mengapa demikian Paman? Banyak kok artis yang baik dan justru jadi teladan kaula muda karena prestasinya," sangkal Linda.


"Linda, kenapa Paman mengatakan dosa mereka sangat besar? Karena mereka terus-menerus mengajak orang lain berbuat dosa," kata paman Setyadhi.


"Tapikan itu kembali lagi pada sifat dan prilaku artisnya Paman, tolong jangan dipukul rata."


"Kamu lihat saja tuh artis-artis wanita yang buka aurat, terus tampil di media. Jika satu laki-laki melihatnya, berarti dia menyebabkan laki-laki itu berdosa. Maka dia juga akan ikut menanggung dosa laki-laki itu. Bayangkan kalau yang melihatnya ada 10 laki-laki. Bayangkan kalo 100 laki-laki dan seterusnya," tegas paman Setyadhi.


Pendapat paman Setyadhi membuat Linda bingung.


"Begini Linda, intinya kalau memang kamu benar-benar ingin jadi artis, maka jadilah artis yang bisa jadi teladan. Kamu harus menutup aurat, mengedepankan etika, dan tidak menerima tawaran atau kontrak kerja acara-acara yang mengundang syahwat."


"Dengan kamu terkenal, sebenarnya bisa membawa kebaikan lebih banyak lagi, asalkan yang kamu lakukan adalah hal positif."


Jujur, hingga saat ini, Linda merasa belum menjalankan amanat dari pamannya itu. Jika berandai-andai dulu Linda mengikuti saran pamannya, bisa jadi Agam Ben Buana pun mungkin tidak melecehkan dan memperkosanya. Karena sejatinya tujuan menutup aurat adalah untuk memuliakan wanita dan menjaga pandangan kaum pria dari berbagai hal yang diharamkan.


Tapi, hingga saat ini Linda masih enggan menutup aurat. Terakhir memakai jilbab ya saat aqiqah Keivel.


"El, kamu bukannya istirahat," Hikam menghampiri kursi Linda. Padahal ada misi lain, ingin melihat dokter Rita.


"Aku tidak bisa istirahat, Hikam. Lagipula sebentar lagi mau sampai kok."


"Iya juga sih. Syukurlah, Keivel tidak rewel."


"Iya tidak rewel, kalau gelisah langsung aku beri ASI," terang Linda sambil merapikan posisi earmuff yang terpasang di telinga Keivel.


...❤...


...❤...


...❤...


Hingga akhirnya merekapun sampai di tujuan. Pesawat kelas ekonomi yang sepi penumpang itu mendarat di bandara internasional kota pusat.


"Jangan terburu-buru. Ambil dulu barang-barang di bagasi sesuai nomor penerbangan. Cek kembali barang apa saja yang dititipkan di bagasi. Cek lagi nomor bagasi yang diberikan saat check in, stikernya yang ditempelkan ke boarding pass milik Anda. Pastikan tak ada barang yang tertinggal atau tertukar dengan penumpang lain," seru Pak Polisi.


"Aku tahu Pak Polisi, ini bukan pertama kalinya aku naik pesawat. Tapi naik pesawat mewah, bukan kelas ekonomi seperti ini," ketus Hikam. Sebelumnya, Hikam memang selalu membeli tiket pesawat kelas eksekutif.


"Pak Agam kan kaya-raya, naik pesawat pribadipun ya wajar," kata Pak Polisi.


"Coba tadi naik kapal yang bagus. Lagipula LB kok yang membayarnya." Hikam masih berulah.


"Anda jangan bawel, penerbangan ini memakai uang negara," tegas polisi yang lain.


"Hahaha, yang pakai uang negara kan hanya LB, aku tidak bodoh Pak."


"Hikam, cukup!" sela Linda.


"Maafkan temanku, Pak," lanjut Linda.


.


.


"Itu LB, Elbiii," teriak seseorang yang diduga wartawan, suara itu berasal dari jalur terluar bandara.


Sontak Linda kaget, demikian juga dengan polisi dan yang lainnya.


"Wartawan?"


Polisi melongo. Ini tidak sesuai agenda. Dari awal, operasi ini memang tidak akan melibatkan wartawan.


"Pak, mana janji Anda?! Kenapa ada wartawan?!" teriak Hikam. Ia segera melindungi tubuh Linda. Dokter Rita dan dua orang suster pun ikut membantu. Mereka mengelilingi Linda.


Sementara Linda yang sedang memangku Keivel, sontak memeluk erat putranya dengan tangan tremor. Ia tidak ingin putranya tersorot kamera dengan cara seperti ini. Ibu mana sih yang tega menjadi tahanan di hadapan putranya? Ya, Keivel masih bayi, tapi flash kamera dan suara kebisingan ini tentu saja kurang baik untuk perkembangan emosi dan psikologis putranya.


"Pak tolong usir wartawan-wartawan itu!" kata polisi pada petugas keamanan bandara.


"Mereka sudah memiliki izin untuk berkerumun di sana, Pak."


"Apa?! Kenapa bisa jadi begini?" Polisi bingung. Segera melakukan koordinasi dengan tim penyidik untuk mengkorfirmasi masalah ini.


"LB, kami mohon penjelasannya."


"Kenapa Anda ditangkap?"


"Ini untuk kasus apa?"


"Apa benar ini berhubungan dengan skandal s e k s Anda bersama politisi inisial RP?"


"Apa kasus obat terlarang?"


"Apa suami Anda sudah tahu?"


"Kali ini kami tidak melihat Pak Agam di sisi Anda, bisa Anda jelaskan?"


Wartawan memberondong Linda dengan banyak pertanyaan. Mereka mulai merangsek mendekati. Petugas keamanan dan polisi kewalahan.


"Hei, jangan dorong-dorong, dong!" teriak Hikam.


"Tidak, Pak. Tim kita tidak ada yang menghubungi wartawan," suara itu berasal dari ujung telepon milik polisi.


"LB, bicara dong!" Mereka memaksa.


"Dokter Rita, amankan Keivel, mau tidak mau aku harus memberikan pernyataan," kata Linda.


"Baik, Bu." Dokter Rita segera meraih Keivel. Linda maju kedepan. Polisi mengapit Linda.


"Hei, jangan pegang-pegang LB! Pak Agam bisa marah!" teriak Hikam.


"Hikam, kamu cepat bawa dokter Rita dan yang lain. Aku di sini saja sama polisi. Jangan sampai wajah Keivel tersorot kamera ya," desak Linda pada Hikam saat tangan wanita cantik itu ditarik polisi untuk mengalihkan fokus wartawan dari keberadaan Keivel.


"Minggir, beri jalan!" teriak polisi.


Namun wartawan tetap merangsek.


"Minggiiir!"


'DOR.'


Karena wartawan tak bisa dikendalikan. Akhirnya tembakan peringatan berbunyi juga. Para wartawan wanita beteriak kaget. Mereka menepi ke tempat yang lebih luas.


"Ayo kita kembali lagi ke dalam bandara," kata dokter Rita.


"Baik, ide bagus. Tutupi Keivel." Hikam memeluk bahu dokter Rita sambil berjalan, dua suster menyusul. Mereka berjalan cepat.


"LB!"


Teriakan itu masih terdengar. Hikam melirik sekilas. Ada tiga polisi yang mendampingi Linda, setidaknya Hikam yakin jika posisi Linda terlindungi.


"Cepat-cepat!" Ners Sinta mengingatkan agar mereka segera ke dalam bandara.


Flash kamera benar-benar menyilaukan. Beberapa kali ia mengerjapkan mata. Linda yang kali ini tidak memakai kaca mata maupun lensa merasa sedikit terganggu.


Pak Agam, ternyata aku tidak sanggup hidup tanpa kamu. Batinnya.


Tiba-tiba merindukan pria itu. Pria yang selalu melindunginya. Tapi, Linda berusaha tenang, tetap menyapa, melambaikan tangan, dan tersenyum pada wartawan.



"Bu LB, cepat bicara. Tapi ingat jangan sampai menyinggung masalah hukum. Bicara yang lain saja," kata polisi.


"Baik," lirih Linda.


Setelah kondisi mulai kondusif, Linda akhirnya berbicara.


"Pertama-tama, aku mengucapkan terima kasih atas keantusiasan awak media dalam rangka menyambut kedatanganku. Ya, aku memang dijemput karena terlibat masalah hukum tapi ---."


"Kasus apa?" sela wartawan.


"Sabar dong," sahut polisi.


"Untuk kasusnya, bukan kapasitasku untuk menyampaikan itu. Intinya, sebagai warga negara yang baik, taat hukum adalah kewajibanku," terang Linda.


"Tahu," jawab Linda, berbohong.


"Kenapa beliau tidak mendampingi Anda?"


"Suamiku sedang bekerja. HGC bisa diartikan sebagai kepentingan umum, jadi dia pasti akan mengedepankan kepentingan HGC dari pada kepentinganku," kata Linda.


"Apa Anda yakin akan berhenti dari dunia hiburan? Apakah benar banyak perusahaan periklanan dan perfilman yang Anda tolak?" Pertanyaan mulai melenceng.


"Untuk saat ini, aku akan fokus dulu sebagai seorang istri dan ibu. Untuk ke depannya aku juga belum tahu."


"Bu LB tolong beri tahu kami sedikit saja tentang kasus ini, minimal identitas pelapornya."


"Maaf, aku tidak bisa."


Tiba-tiba, dari belakang para wartawan ada dua buah mobil yang melaju cepat. Wartawan kaget, sebagian menepi. Linda pun melongo. Polisi yang mengawal Linda saling menatap keheranan. Tiba-tiba ....


'Syuuug.'


'Syuuung.'


Sebuah peluru berbentuk panah menyerang leher polisi. Panah itu berasal dari balik kaca mobil itu.


"Aaaa."


Para wartawan beteriak saat melihat polisi yang mengawal Linda tiga-tiganya tumbang ke lantai dan langsung tak sadarkan diri.


Sontak mereka berhamburan menyelamatkan diri. Penumpang yang keluar dari bandarapun sama paniknya. Mereka berlari mencari perlindungan. Suasana benar-benar kacau-balau.


Linda terpaku, termangu dan bingung. Hanya melirik kesana kemari tanpa melakukan apapun. Untungnya, Keivel sudah tidak ada di tempat ini, pikirnya. Jadi, Linda tetap tenang karena merasa yakin jika putranya dan yang lainnya dalam keadaan aman.


'DOR.'


Terdengar ada suara tembakan lagi. Jelas, wartawan, dan pengunjung bandara kian panik. Teriakan memekik tak terelakan. Petugas keamanan menghubungi polisi yang berada di sekitaran bandara.


Bantuanpun tiba.


"Tenang semuanya, tenaaang," teriak polisi yang baru saja datang. Polisi yang lainnya segera mengamankan petugas yang tadi pingsan karena tertembak panah yang berisi obat bius.


Setelah polisi datang, keadaanpun mulai kondusif. Mobil yang tadi menyerang telah pergi. Wartawan kembali ke tempat terakhir mereka melakukan wawancara bersama LB.


"Pak, LB-nya mana?" tanya seorang wartawan pada polisi.


"LB?"


Seketika mereka sadar jika LB tidak ada di tempat. Saat terjadi keributan, LB luput dari pandangan, dan tidak ada satupun yang menyadari kepergiannya.


"Gawat, ini gawat! Cepat sisir seluruh area bandara! Periksa CCTV kalau perlu."


"Baik, Pak," seru polisi yang lain.


Para wartawan saling menatap kebingungan, mengobrol satu sama lain. Namun yang sedang mereka bicarakan tidak terdengar begitu jelas karena bising.


"Ah, ini sih sepertinya setingan," ucap salah satu dari mereka.


"Bubar, bubar!" seorang petugas keamanan tiba-tiba menghalau wartawan.


.


.


"Apa LB ada di sini?" Polisi bertanya pada Hikam yang berada di bagian dalam bandara. Tengah berkumpul di rest area.


"Apa?! Jangan bercanda ya!" sentak Hikam. Pria itu langsung berdiri dan bertolak pinggang.


"Kami serius Pak, kami kehilangan LB."


"Apa?! K u r a n g a j a r kalian!" Hikam langsung marah, menyerang polisi. Ia tidak terima. Jika Linda hilang, apa yang harus ia katakan pada Agam?


"Hentikan, ini tidak akan menyelesaikan masalah," dokter Rita melerai. Hikam patuh.


Hikam kemudian menelepon Agam, tapi nomor Agam tidak aktif. Menelepon pengacara Vano, tapi masih tidak diangkat. Hikam akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke rumah Agam namun ingin mendapat pengawalan dari polisi untuk menjamin keamanan Keivel. Setelah berunding, polisipun setuju dengan permintaan Hikam.


Suasana bandara kembali menegang, desas-desus hilangnya LB sampai jua ke telinga wartawan. Sontak mediapun cepat beropini. Spekulasi berseliweran.


"LB hilang."


"Terjadi penyerangan misterius saat wartawan mewawancara LB."


"Tiga orang polisi diserang oleh peluru obat bius."


"CCTV bandara rusak, hilangnya LB tidak bisa dilacak."


"LB diduga sengaja kabur karena tidak terima dijadikan tahanan."


"Hilangnya LB bisa jadi adalah rekayasa polisi, atau sengaja direkayasa oleh LB untuk menaikan kembali popularitasnya."


"Bisa juga ada pihak lain yang terlibat dalam kejadian aneh ini."


Media online sibuk, nama LB kembali menjadi trending di kolom pencarian.


...❤...


...❤...


...❤...


Satu jam dari hilangnya LB, wartawan berbondong-bondong menuju HGC, mereka ingin mengetahui tanggapan Dirut HGC alias suami LB atas kasus yang janggal ini.


Karena hari sudah sore, petugas keamamanan HGC mengatakan jika pak Dirut telah pulang ke rumahnya. Tak putus asa, wartawan pun pergi ke kediaman Agam Ben Buana.


...❤...


...❤...


...❤...


Tapi, saat tiba di rumah Agam, mereka hanya mendapati keberadaan asisten rumah tangga bernama Bu Ira.


"Pak Agam belum pulang, hanya ada saya di rumah ini," terang Bu Ira pada wartawan.


"Bu, kami ingin mendapatkan informasi lebih banyak. Bolehkah kami mewawancara Ibu?"


"Tidak bisa, saya keberatan. Tolong hormati privasi bos saya. Saya permisi," Bu Ira berlalu. Segera menutup pintu gerbang dengan raut wajah yang garang dan tidak bersahabat.


"Bu, tunggu."


Tapi, Bu Ira tidak peduli lagi.


Lalu, di manakah Linda?


Siapa yang menculik Linda?


Jika Bu Ira mengatakan hanya ada dirinya di rumah itu, lantas kemanakah Keivel? Bukankah Hikam akan membawa Keivel ke rumah Agam?


...❤...


...❤...


...❤...


Wanita cantik itu terbaring lemah di dalam mobil. Tadi, saat terjadi keributan di depan bandara, seseorang yang belum diketahui identitasnya menyelinap di antara kerumunan dan tiba-tiba memukul tengkuk Linda hingga Linda tak sadarkan diri. Lalu Linda dibawa oleh si pemukul tersebut ke dalam sebuah mobil.


Percayalah, hingga saat ini Linda bahkan belum sadar. Selain Linda, di dalam mobil itu ada tiga orang penumpang. Supir, seseorang di samping supir, dan satu lagi ada di kursi belakang bersama Linda. Selain Linda, semua yang ada di mobil itu memakai masker hitam, topi hitam, dan sarung tangan hitam.


Siapakah mereka?


BRN?


Anonymous?


Musuh Agam?


Polisi?


Atau ... ada orang lain yang dicurigai?


"Uhhuk, uhhuk," Linda sadar. Ia mengerjapkan mata dan mengitari sekeliling.


Saat hendak begerak, Linda kaget. Kaki dan tangannya ternyata terikat. Mau berusaha bangunpun sulit. Lalu tersadar jika kepalanya tengah bersandar pada paha seseorang.


"Siapa kalian? Lepaskan!" teriak Linda. Tapi orang-orang yang berada di dalam mobil itu tetap terdiam.


Linda kembali meronta, mencoba menjauhkan kepalanya dari paha pria misterius itu. Tapi gagal.


"Kalian mau uang berapa? To-tolong lepaskan aku," ratap Linda seraya menangis.


Lagi-lagi hening, tidak ada sepatah katapun dari para penculik itu. Benar-benar misterius ya?


...~Tbc~...