
"Tapi ... ini di rumah sakit Pak. Emm ... ma-malu, ja-jangan sekarang ya cintaku. Bagaimana kalau di rumah saja? Kan hari ini juga aku pulang." Merayu dengan kata 'cintaku.' Tak lupa membelai rahang Pak Dirut agar sedikit iba melihatnya.
"Apa katamu? Apa kamu barusan mengatakan cintaku?" Lumayan, Pak Dirut terenyuh. Linda tersenyum, lalu mengecup yang beraroma mint, pipinya, dan keningnya.
"I-ya, cinta, hehehe. Pak Agam kan cintaku."
"Apa kamu merayu karena tidak ingin bercinta? Menolak, hemm?"
"Tidak Pak, aku juga sebenarnya mau, tapi takut ada dokter," kilah Linda. Jujur, Linda juga menginginkannya, tapi durasi Pak Dirut itu lama, dalam hal ini LB harus siap mental.
"Baiklah sayang, cukup puaskan saya seperti apa yang tadi saya lakukan padamu, bagaimana?" bisiknya. Lalu memposisikan diri. Pak Dirut terlentang tak berdaya.
"Oh ya ampun, hehehe."
Linda terkikik sambil melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 01.20. Tapi uniknya, mereka masih berkutat dengan masalah seputar itu dan itu.
"Sayang, jangan tertawa berlebihan tidak baik. Bisa mengeraskan hati. Lagi pula apa yang kita bahas ini adalah seninya berumah tangga sayang, kata lainnya bisa disebut sebagai gurihnya cinta," jelas Pak Dirut. Posisinya masih terlentang pasrah. Menunggu belaian sang istri.
"Hahaha."
Linda jadi tertawa lagi, mendengar kata gurih. Ia jadi teringat pada micin atau vetcin.
"Sayang ... cepat," desak Pak Dirut.
"I-iya Pak, iya ...."
Linda bangun perlahan, lalu mengatur napas, mempersiapkan mental. Serius, sosok Agam yang lain itu sangat mengerikan. Selalu membuat tangannya gemetar dan ketakutan.
Agam menahan tawa, ia tahu istrinya gugup. Jika nona Aiza pura-pura polos, maka Linda itu polos sungguhan. Agam gemas, jadi tak sabaran.
.
.
"Ayo dong sayang, cepat."
Kini, suara Agam yang terdengar oleh Yuli. Tapi, wanita itu tidak menyalakan keran. Malah menajamkan telinganya. Ia bersandar pada wastafel dan membayangkan sosok gagah Agam Ben Buana. Yuli tengah mengumpakan jika Agam sedang memanggil sayang kepadanya.
"Yes ... seperti itu sayang ...."
Suara Agam terdengar lagi. Dan tangan Yuli mulai menyentuh dan membelai tubuhnya sendiri. Lalu membuka penutup tubuhnya.
G i l a! Wanita ini sedang berfantasi menggunakan suara Agam.
"Le-lebih cepat lagi sa-sayang ...."
Kalimat yang diucapkan Agam kian frontal. Yuli semakin berhasrat.
Hingga tiba saatnya ia mendengar suara Agam yang meresahkan, begitu seksi dan macho. Begitu mendamba dan memuja Linda. Agam mengelu-elukan nama Linda.
Pada saat itu, tanpa ada rasa malu, Yuli kian gencar mempermainkan tubuhnya sendiri. Yuli bak j a l a n g yang kerasukan. Dan ketika Agam mengerang-erang, Yuli pun mendesah-desah dan mendesis bak ular betina.
Yuli menikmati kegilaannya, tubuhnya berkeringat, menjerit pelan, sambil sesekali menggigit bibirnya. Wanita itu telah melampau batas.
Ia membekap mulutnya dengan satu tangan saat n a f s u liarnya mulai menguasai dan mencapai ubun-ubunnya, lalu gemetar seorang diri kala tubuhnya menuju puncak nan gemilang, namun bukan cahaya. Mengukir citra yang tak seindah asa.
Yuli merintih, lalu mendesah-desah menikmati dosanya. Matanya membeliak merasakan kenyamanan dan kelezatannya. Hingga tubuhnya merosot, terkulai, tersungkur, dan tergeletak lemah di atas lantai toilet yang basah dalam keadaan hampir polos.
Naudzubillah min dzaalik.
Semua anggota tubuh manusia memang berpotensi melakukan zina. Termasuk hati dan perasaan. Yuli berdosa karena melakukan zina hati. Ia telah membayangkan dan melakukan sesuatu yang haram, membangkitkan syahwatnya, dan menjadikan Agam sebagai objek fantasinya.
Mungkin ia belum tahu jika apa yang dilakukannya memiliki efek negatif bagi rohani, kejiwaan dan kesehatannya. Perbuatan memalukannya itu dapat menghilangkan sifat istiqamah dalam menjalankan ajaran agamanya.
Karena biar bagaimanapun, dalam hati kecilnya ia pasti menyadari bahwa perbuatan itu sangatlah tidak terpuji.
Perbutan Yuli bisa dikategorikan sebagai sikap yang meremehkan agama.
Kenapa?
Karena ia tidak berusaha mensucikan diri dan pikiran, serta telah gagal dalam peperangan melawan n a f s u dan gejolak syahwatnya.
Yuli kemudian tertidur, memeluk tubuhnya sendiri dan membawa kelezatan sesaat dari dosanya itu ke alam mimpinya.
"Se-semangat sa-sayang ...."
Ya ampun, suara Agam masih terdengar. Artinya, aktivitas Pak Dirut dan Linda ternyata belum berakhir.
...***...
"Hmm."
Linda menggeliat pelan, bed pasien ini tentu saja terasa sempit karena keberadaan seseorang. Tubuhnya sulit digerakan, Agam memeluknya erat. Menjadikannya bak guling.
Linda membuka matanya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah dada bidang dengan kulit halusnya, lalu bulu-bulu halus itu. Bulu halus yang membentang hingga ke sana. Linda tersenyum saat mengingatnya. Teringat jua akan dua tanda lahir istimewa berbentuk hati yang terletak di tubuh suaminya.
Kamu priaku, suamiku, kunci surgaku. Batin Linda, seraya mengusap dada Agam, lalu mengecupnya perlahan-lahan.
Karena ASI-nya terasa penuh, Linda segera bangun. Menyibak kungkungan Pak Dirut dengan hati-hati. Harus segera dipompa, pikirnya. Linda mematikan tetesan infus. Lalu meraih handuk untuk bersuci dari segenap hadas besar dan kecil akibat pijatan Pak Dirut.
Keramas lagi, deh. Batinnya.
'Krak.'
Sedikit kaget saat sadar kamar mandi terkunci. Tapi kagetnya terurai kala ia sadar pintunya terkunci dari luar.
'Klak.' Berhasil di buka.
Dan ....
"Ha ---."
Seketika itu juga tangan Linda gemetar. Handuk yang dipeluknya terjatuh. Begitupun dengan infusan.
"Yu-Yuli?" Bibir Linda gemetar.
Siapa sih yang tidak kaget dengan penampakan seperti itu?
Kaki indah dengan kuku berwarna pelangi itu langsung mundur, menutup bibirnya dan memucat.
Ada apa ini?
Kenapa Yuli seperti ini?
Kenapa terkunci dari luar?
Lalu teringat obrolan dia dan seseorang.
"Pak Agam, Yuli mana? Tadikan aku dipijat Yuli."
"Dia tidur di ruang tunggu, sayang."
Deg, detik ini juga hati Linda terguncang. Agam berdusta. Ternyata, Yuli tidak tidur di ruang tunggu, melainkan ada di kamar mandi dalam keadaan yang memalukan.
Tubuhnya setengah polos, sebagian pakainnya tergeletak di wastafel.
"Ti-tidak mungkin ... tidaaak ...," jerit Linda, pelan.
Ia terpuruk di lantai. Mengambil kembali handuk dan cairan infusan sambil berusaha keras untuk menangkan diri dan berpikir positif.
Setelah mengatur napas dan merasa tenang, Linda berdiri dan berjalan mendekati Yuli.
Sebagai wanita yang sering difitnah, dicaci haters, pernah terguncang karena diperkosa Agam, pernah ditahan di kantor polisi, pernah dipermalukan di depan umum, pernah dihina dan digunjing rekan sesama artis, nyatanya membuat Linda Berliana Briliant tumbuh menjadi sosok yang sedikit tegar.
Walaupun ya ... butiran bening itu ... telah mengkristal di sudut matanya. Ia takut pada fakta terburuk jika keadaan Yuli seperti itu karena ulah seseorang yang sangat ia cintai.
Tidak, aku percaya pada suamiku.
Linda meyakinkan hatinya, walaupun kini dadanya mulai terasa sesak dan sedikit panas.
"Yu-Yuli, ba-bangun, kenapa kamu ada di sini?"
Linda mengguncang tubuh Yuli, lalu menutupi bagian yang polosnya dengan handuk. Beberapa kali ia membangunkan Yuli. Menatap wajah wanita itu dengan perasaan bingung.
Kata Hikam, usia Yuli dan dirinya seumuran, tapi Yuli masih gadis dan yatim piatu. Mana tega tangannya berbuat kasar pada seorang anak yatim piatu.
"I-Ibu?"
Yuli terkejut mendapati Linda telah berada di sampingnya dan menyelimutinya. Ia duduk, gelagapan dan kebingungan. Bingung harus mengatakan apa. Dan di saat bingung itulah, ia mendapatkan ide untuk beralasan.
Yuli tiba-tiba merangkul Linda yang tengah berjongkok dan menangis tersedu.
"I-Ibu, huuu ... maafkan saya Bu LB, sa-saya yang salah. Huuu ....."
Deg, dada Linda seakan dihentak gada.
"Yuli? Maksudmu apa? Kenapa?" Sambil perlahan mendorong bahu Yuli.
"Huuu huuu, Ibu ... saya tidak berani mengatakannya, saya hanya ingin memohon maaf, dan mendapatkan maaf dari Ibu, serta tidak dipecat, huuu ....."
Yuli kembali meratap. Sekarang, ia memeluk kaki Linda, seolah sedang bersujud di kaki Linda.
"Yuli, jangan seperti ini, ce-cepat pakai dulu pakaian kamu," Linda menarik kakinya. Hatinya mulai diserang kegundahan dan ketakutan.
Setelah merapihkan diri, Linda meminta Yuli duduk di sisi wastafel dan menjelaskan segalanya.
"Katakan, apa yang terjadi? Jujur ya," kata Linda. Ia juga duduk di sisi wastafel, di samping Yuli.
"Huuks, Bu ... aku tidak berani mengatakannya. A-aku takut Bu, a-aku diancam, huuu." Menunduk, airmata buayanya menganak sungai.
Setelah aku mengatakannya, kujamin hidupmu tidak akan bahagia lagi, LB.
Wow, ternyata ...Yuli benar-benar berhati busuk.
"Siapa yang mengancammu? Tolong jangan bertele-tele," desak Linda.
"Huuuu ... Ibu ...." Yuli kembali memeluk Linda
"Huuks, a-aku mau mengatakannya, tapi ... I-Ibu harus janji tidak akan memecat saya, dan Ibu juga tidak boleh mengatakannya pada siapapun," lirihnya.
"Ya, a-aku janji, asalkan kamu jujur, aku akan mengikuti keinginanmu."
Linda bahkan membalas pelukan Yuli. Linda memang berhati lembut, ia penyayang terhadap sesama.
"Bu ... ka-kalau ini sampai bocor, huuu ... a-aku akan dibunuh," katanya.
"Apa?!"
Jantung Linda seolah tersengat listrik. Tapi ... wanita cantik itu berusaha tetap tegar.
"Ya, lanjutkan. Ceritakan Yuli," kata Linda sambil mengusap rambut Yuli.
Haha, ternyata LB itu bodoh. Batin Yuli. Seraya memikirkan serangan mematikan untuk menghancurkan Linda.
"P-Pak A-Agam Bu .... Pak Agam huuu." Tidak melanjutkan kalimatnya. Malah terisak. Tangannya pura-pura gemetar.
"A-APA?! Yuli, apa maksudmu? Cepat katakan semuanya. Jangan ada yang kamu tutup-tutupi," tegas Linda.
"Begini Bu ...."
Dengan terbata-bata, Yuli mulai bercerita.
"Pak A-Agam mengatakan pada saya, ka-kalau saya lumayan ca-cantik. Te-terus dia meminta saya me-mijatnya di kamar mandi, huuu. Ini salah saya Bu, saya yang memulainya. Huuu ...."
Bagaikan tersambar petir, tubuh Linda mulai berdesir. Ada yang terasa menusuk di dalam batinnya. Tapi ... ia harus memastikan lagi kebenarannya.
"Te-terus? Apa yang terjadi? Ke-kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri?" tanya Linda. Matanya berkaca-kaca.
"Sa-saya salah Bu, saya yang pertama kali menawarkan diri memijat Pak Agam. Huuu, tapi ... ta-tapi saya tidak menyangka kalau Pak Agam akan melakukan itu. Aku menurut saja karena diancam. Kata Pak A-Agam, huuu ... kalau sampai saya mengatakan ini pada Ibu atau pada siapapun, ma-maka sa-saya a-akan di-dibunuh Bu, huuu."
"A-apa? Be-benarkah seperti itu?"
Linda melepaskan diri dari pelukan Yuli. Hatinya berada di persimpangan. Antara percaya dan tidak percaya.
Linda menunduk, airmatanya berlinangan. Jujur, ia tidak langsung percaya begitu saja, tapi ... rasa sakit dan pedih itu tetap saja terasa.
"Pak Agam memintaku memijat miliknya Bu .... Huuu .... Te-terus ... terus ... di-dia melecehkankanku de-dengan ta-tangannya, huuu ... Pak Agam ...." Ia terus mengarang cerita, memfitnah Agam Ben Buana.
"Ma-maaf Bu, sa-saya tidak bisa menolak, saya takut dibunuh, saya sedih dan merasa dihinakan, saya menangis hingga ketiduran di sini. Ta-tangan su-suami Ibu, su-sudah mengambil kesucian sa-saya. Huuu ...."
"Hahh?! Cukup Yuli, jangan menangis lagi. Segera mandi dan pakai baju kamu, setelah kamu mandi, aku yang akan mandi!" tegas Linda. Lalu keluar dari kamar mandi sambil menangis.
Yuli menatap kepergian Linda dengan seringai keji di wajahnya.
.
.
Linda mengusap air mata, beristighfar berulang kali sembari mengusap dadanya. Ia mencuci tangan, lalu memompa ASI sambil mengenang kembali kebaikan dan ketulusan Agam untuknya.
Setelah berulang kali ia berpikir, Linda menarik kesimpulan jika apa yang dikatakan Yuli belum tentu benar.
Agam sudah sering difitnah, Agam pernah menyelamatkan nyawanya dari tembakan peluru saat dirinya dan Agam diserang.
Agam juga pernah difitnah terlibat skandal s e k s bersama sekretaris Fanny, bahkan dirinya sendiri pernah menyakiti Agam. Linda pernah termakan fitnah hingga menuduh Agam sebagai h o m o dan penjahat kelamin.
"Huks, a-aku harus membuktikan kebenarannya dengan caraku sendiri. Aku percaya pada Pak Agam, tapi ... bukan berarti aku tidak waspada. Biar bagaimanapun, Pak Agam tetaplah manusia biasa, dan akupun manusia biasa," gumam Linda.
Selesai memompa ASI, Yuli belum keluar juga dari kamar mandi.
Linda ada ide, ia kembali mengunci Yuli dari luar. Berniat untuk mengamati sikap Agam.
Apakah Agam akan tetap berbohong jika Yuli menginap di ruang tunggu?
Linda mulai menjalankan rencana. Ia tidak ingin salah melangkah dan percaya begitu saja pada Yuli yang notabene hanya orang baru. Sedangkan Agam Ben Buana adalah suaminya.
.
.
.
"Kok dikunci lagi sih?" Yuli gelisah.
LB dan Pak Dirut pasti sedang bersitegang. Batinnya.
Padahal kenyataannya, saat ini Linda sedang menciumi pipi Agam agar segera bangun dan mandi.
"Pak Agam, bangun, sebentar lagi adzan Subuh, mandi bersama yuk," ajaknya.
"Hooaam." Pak Dirut menutup mulutnya saat menguap.
Apa yang dilakukan Pak Dirut sudah benar. Linda mengingat sebuah nasihat tentang menguap.
"Menguap itu dari syaithan, jika salah seorang di antara kamu menguap, maka tutuplah mulutnya sekuatnya. Jika di antara kamu menguap dengan suara 'haa' maka akan tertawalah syaithan dari hal itu." Yang diketahui Linda kurang lebih seperti itu.
"Assalamu'alaikuum, Momca," sapa Agam. Sembari menarik Linda dan mendekapnya.
"Waalaikumussalam, Paren," sahut Linda dengan perasaan berdegupan, ia mengingat kembali ucapan Yuli. Lalu bertanya lagi tentang wanita itu,
Apakah Agam masih berdusta? Tapi, Linda bertanya dengan cara yang lain.
"Pak, mandi yuk!" ajaknya.
"Mandi? Oiya sayang, ada yang harus saya jelaskan," sambil menyisir rambut Linda dengan jemarinya.
"Ada apa?" Linda pura-pura tidak tahu.
"Maaf sayang, semalam saya berbohong. Sebenarnya, Yuli tidak tidur di ruang tunggu."
"Lantas?" Hati Linda mulai hangat, Agam tidak berbohong lagi.
"Dia itu j a l a n g kecil, dia menggoda saya, El. Sampai buka-buka rok di hadapan saya, menjijikkan, saya mengunci dia di kamar mandi," jelasnya.
"A-apa?!" Sekarang jadi Linda yang berbohong karena pura-pura tidak tahu.
Tapi, berbohong untuk misi kebaikan diperbolehkan, kan? Batin Linda. Semoga Yang Maha Kuasa memakluminya, Linda berharap seperti itu.
"Dia berani sekali, tapi kasihan juga, Pak. Pasti kedinginan," kata Linda dengan mimik cemas. Dalam hal berakting Linda ahlinya.
"Kamus mencemaskan dia? Hahaha, kalau menurut saya sih dia itu kejiwaannya bermasalah. Sekelas Clara Mahcota dan aktris Ririn saja saya tak sudi. Apalagi dia," tegasnya.
"Hah? Memangnya nyonya Clara dan kak Ririn pernah menggoda Pak Agam?" Linda jadi tahu fakta baru.
"Ya sayang, bahkan ada banyak lagi. Saya sering diiming-imingi oleh wanita, ada juga yang ingin memberikan gratifikasi gadis, pokoknya macam-macam. Dengan uang jangan ditanya lagi," jelasnya.
"Wah."
Linda terkesiap. Ia semakin percaya pada Agam, dan tentu saja sangat meragukan Yuli.
"Apa tangan ini pernah menyentuh wanita lain selain aku?" tanyanya. Sambil memainkan jemari Agam.
"Menyentuh bagaimana sayang? Banyak arti. Kalau bersalaman dengan wanita, saya sering."
"Ehm, kalau sentuhan nakal?" tanya Linda.
"Hahaha, nakal seperti apa sayang?" Agam jadi heran.
"Seperti yang Pak Agam lakukan padaku?" bisiknya.
"Apa?! Seperti apa sayang? Kamu curiga? Pertanyaanmu terdengar ambigu," tegas Agam. Wajahnya mulai terlihat tidak nyaman.
"Ma-maf Pak ... ti-tidak seharusnya aku bertanya seambigu itu," lirih Linda. Menunduk, merasa bersalah.
"El, jujur ... saya pernah menyimpan rasa kagum pada nona Aiza, tapi saya sadar jika itu hanya kagum, bukan cinta."
"Ya, tangan saya memang pernah nakal, tangan saya pernah berdosa dan berzina, tapi ... wanita yang jadi korban saya hanya kamu sayang. Kamu satu-satunya." Agam menatap Linda, seolah tengah menyelami isi hatinya.
"Huuu ...."
Linda membuat Agam kaget. Istrinya malah terisak hingga semidu, menangis di dada Agam. Linda menyesali dugaannya. Ia bersedih karena Yuli tega memfitnah suaminya.
"Maafkan aku, Pak Agam."
"Untuk?" Agam kian keheranan.
"Untuk semuanya."
"Saya maafkan sayang, apapun itu, kecuali jika kamu syirik atau selingkuh. Oiya, kalau kamu selingkuh, maka saya akan membunuh selingkuhan kamu," tegasnya.
Lalu Pak Dirut bangun, membopong Linda, dan membawanya ke kamar mandi.
Linda melingkarkan tangan di leher Agam, menatap, dan mengaguminya.
'Klak.' Pintu kamar mandi dibuka.
Yuli keluar sambil tertunduk. Dan j a l a n g kecil itu merasa heran.
Kenapa Agam dan Linda tidak betengkar? Pikirnya.
Linda malah berkata ....
"Yuli, kita shalat Subuh berjama'ah ya," ajak Linda.
"Ya Bu," sahutnya.
"Oiya Yuli, tolong buang sampah keluar, itu sudah penuh," titah Agam. Melirik pada tempat sampah dengan sudut matanya.
"Ya, Pak," sahutnya lagi.
Setelah Agam dan Linda masuk ke kamar mandi, Yuli menghampiri tempat sampah yang dipenuhi tissue itu.
Entah kenapa, hati Yuli merasa panas saat melihat sampah itu.
Kenapa dia ya?
Itukan hanya tumpukan tissue.
...❤...
...❤...
...❤...
Seperti manusia pada umumnya, saat adzan Subuh berkumandang Mister X terbangun.
Ia meregangkan otot-ototnya, menggeliat. Mister memakai piyama hitam yang terlihat pas ditubuhnya. Ya ampun, Mister X bahkan memakai masker saat tidur.
Deg, saat ia membuka selimut, ia terkejut. Mata indahnya membelalak.
Se-Senja?
Gadis itu tidur di kasurnya. Sepertinya, Senja tersesat dan tak sengaja masuk ke kamarnya.
Masalah lainnya adalah ... penampilan Senja sangat menggoda iman. Mister X beristighfar, tapi, ia tetap mengintip di balik jemarinya.
Senja hanya memakai t-shirt pendek berwarna hitam miliknya. Sontak, kaki itu terpampang nyata. Seolah melambai-lambai ingin dibelai.
Tidaak, jeritnya dalam hati.
Segera menyelimuti Senja dan menenangkan jantungnya.
Lalu Mister X memasukan satu jari ke dalam maskernya. Saat dikeluarkan jarinya itu memerah, berdarah.
Mimisan lagi?
Ia menatap kaget pada jarinya. Penyakit lamanya kambuh. Ia ternyata suka misisan saat melihat sesuatu yang membangunkan jiwa prianya.
Memalukan, rutuknya dalam hati. Lalu mengendap menuju kamar mandi.
Salahnya, Mister X lupa mengunci pintu kamar mandi.
Dan ia terkejut saat Senja tiba-tiba masuk ke kamar mandi saat dirinya sedang buang air kecil.
"AAAA," teriak Mister X.
Suara aslinya keluar, berat dan ngebass, ia tentu saja belum menseting suaranya dengan suara bu Miss.
"AAAA," Senjapun beteriak. Kaget pastinya. Di kamarnya kok ada suara pria?
"Bibiiii, tolooong, Bibiii," teriaknya.
Senja berusaha keluar dari kamar mandi. Tapi ... bukannya keluar, ia malah mendekati Mister X.
Mister X membekap mulutnya sendiri. Netra indahnya bergulir, sedang mencari ide. Ia gugup dan salah tingkah.
...❤...
...❤...
...❤...
~Bukan epilog~
"Aarrgh! Dokter Fatimaaah!" teriak Tuan Deanka.
"Ya Tuan, ada apa?"
"Apa ada obat yang bisa mempersingkat masa nifas?" tanyanya sambil berkacak pinggang.
"Hahaha," dijawab tawa oleh dokter Fatimah.
...~Tbc~...