AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Dejavu yang Memilukan



"Aku saja yang memandikan Keivel, Dok. Hari ini aku mau full mengurus Keivel," kata Linda.


Selagi tidak ada Agam pikirnya. Sepuluh hari kemarin saat ada Agam, Linda merasa jika kebersamaannya bersama Keivel benar-benar minimalis. Ia lebih banyak memomong bayi besarnya dari pada Keivel. Hanya turun ke lantai satu untuk makan saja, selebihnya ya dihabiskan di dalam kamar. Bercumbu dan peluk-pelukan. Malam hari dan paginya bercinta.


"Baik, tapi saya tetap dampingi ya, Bu."


"Sip," sahut Linda antusias.


"Bagaimana kabar Gama, Bu LB?"


"Masih koma. Oiya, hari ini kita akan mengadakan acara pengajian untuk mendoakan Gama," terang Linda.


"Oh, pantas saja dari semalam Hikam sibuk."


"Ya, Dok. Hikam jadi ketua panitia lagi."


Setelah memandikan Keivel, Linda membawa Keivel ke taman untuk dijemur. Rencananya akan berjemur di taman belakang rumah. Suster Dini dan Ners Sinta mendampingi. Dokter Rita membuat laporan.


.


.


"Kenapa bayi harus sering dijemur, Sus?" tanya Linda.


"Karena tubuh manusia itu tidak dapat memproduksi vitamin D dengan sendirinya, Bu. Bahkan ASI saja pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D bagi bayi. Jadi, sinar matahari pagi adalah solusi praktis dan ekonomis untuk memenuhi kebutuhan bayi akan vitamin D," terang suster.


"Bagusnya jam berapa sih kalau berjemur untuk bayi?" Linda bertanya lagi.


"Kalau tujuannya untuk mendapatkan vitamin D, sebenarnya dianjurkan berjemur di atas jam 10. Tapi dari sisi kesehatan kulit ada risikonya. Jadi, para ahli menyarankan berjemur di bawah jam 10 pagi, yaitu pada saat paparan sinar ultraviolet atau UV masih relatif aman."


"Nah, karena kulit bayi masih sensitif, lazimnya dokter akan menyarankan bayi dijemur sebelum jam 10. Tapi, jika defisit vitamin D terjadi pada orang dewasa, maka lebih baiknya berjemur di atas jam 10. Penelitian terbaru malah menyarankan untuk berjemur pada pukul 12.00."


"Katanya, di jam tersebut adalah waktu terbaik terpapar sinar matahari untuk mengaktifkan vitamin D yang ada dalam tubuh sehingga tak mengalami defisiensi. Namun disarankan harus memakai tabir surya dengan kandungan SPF lebih dari 15," jelas suster Dini. Sementara Ners Sinta tengah asyik memandangi bunga.


"Oh begitu ya, terima kasih penjelasannya, Sus."


"Sama-sama Bu LB."


Tiba-tiba Hikam datang dengan tergesa. Bahkan terengah-engah.


"Ada apa Hikam?"


"El, di depan ada tamu."


"Ya ajak masuk Hikam. Ada tamu doang kok kamu ribut sih?"


"El, masalahnya mereka polisi."


"A-pa?" Linda terkejut pun dengan suster.


"Aku serius, El."


Belum juga Linda mengatakan apapun, Bu Ana datang membawa Yolla dan Yolli.


"Linda, Ibu takut, di depan ada polisi."


"Hwaaa, huuu," Yolla dan Yolli menangis.


Ya, Bu Ana, Yolla dan Yolli memang mengalami trauma saat bertemu dengan polisi pasca ditangkapnya Linda setelah dituduh melakukan percobaan pembunuhan dan penganiayaan terhadap Agam Ben Buana.


"Ibu tenang ya. Hikam, kamu cepat jemput ayahku. Suster Dini tolong bawa Ibu dan adikku ke kamar atas. Ners Sinta bawa Keivel. Aku akan menemui polisi. Oiya, jangan ada yang berani menelepon pak Agam. Dia sekarang sedang bersedih karena adiknya koma. Aku tidak mau menambah bebannya," kata Linda. Ia berusaha tegas dan bijak. Padahal dalam batinnya, ia juga ketakutan.


Kenangan menyedihkan saat dikurung beberapa hari di kantor polisi teringat kembali. Tapi, ini bukan saatnya untuk menyerah. Linda harus berani menghadapi dan kuat.


"Istrinya Agam Ben Buana itu harus tegar dan cerdas." Linda teringat kembali kalimat yang diucapkan oleh tuan Deanka untuknya.


"Hati-hati, Nak." Bu Ana khawatir.


"Ibu berdoa saja, aku yakin pasti baik-baik saja." Linda berpelukan sejenak dengan ibunya, lalu mencium pipi Keivel dan beranjak menemui polisi.


.


.


"Bu, polisinya ada di ruang tamu," kata Yuli, ia langsung sigap mengantar Linda ke ruang tamu. Keberadaan polisi tentu saja membuat Yuli penasaran.


"Oke, terima kasih, Yuli."


Linda menghela napas, lalu menegakkan badan dan melangkah percaya diri menuju ruang tamu.


"Selamat pagi, Bapak-bapak polisi," sapa Linda. Ia menyodorkan tangan. Sejenak tiga orang polisi itu hanya melongo. Ya, mereka terkagum-kagum dengan kecantikan LB.


Di balik pintu ruang tamu, Yuli mengintip.


"Selamat pagi, Bu LB. Maaf jika kedatangan kami mengganggu kegiatan pagi Anda." Mereka kemudian bersalaman.


"Silahkan dinikmati dulu minuman dan kuenya, Pak." Ternyata, sebelum Linda datang, Yuli sudah menghidangkan minuman dan kue-kue untuk polisi-polisi itu.


"Terima kasih, Bu LB."


"Ada apa gerangan Pak? Kenapa mendadak sekali?"


"Kami jauh-jauh ke sini karena ingin menangkap Anda, Bu. Mohon maaf, ini surat perintahnya."


Deg, Linda terhenyak. Yuli mengulum senyum.


LB mau ditangkap? Wah, kabar yang sangat bagus. Batin Yuli.


"Ja-jadi, Bapak-bapak ini dari kesatuan pusat kota?"


"Benar Bu."


"Untuk kasus apa aku ditangkap?" Linda mengambil surat itu dengan tangan sedikit gemetar.


"Silahkan Anda baca saja, Bu. Di situ ada dua tuntutan, kasus pencemaran nama baik, dan penipuan."


"A-pa?" Linda kemudian membaca surat itu.


Syukurlah, batin Yuli.


"Tuntutan ini sangat mengada-ada, Pak."


"Bu LB, kami hanya menjalankan tugas. Untuk kesaksian Anda, mungkin baru bisa diutarakan di dalam persidangan."


Kemudian Hikam dan Ayah Berli datang, suasana jadi menegang.


"Ada apa ini? Kenapa Bapak-bapak polisi datang kemari?"


"Kami dari kesatuan pusat kota, Pak."


"Ayah, tenang dulu, Yah. Ayah duduk ya," ajak Linda. Hikam pun memegangi bahu Ayah Berli agar tenang.


"Cepat jelaskan, ada apa?!" desak Ayah Berli.


"Ya ampun, Nak. Hal apa lagi yang kamu lakukan sih? Kenapa kamu sering berurusan dengan polisi?" Ayah Berli memijat kepalanya.


"Maafkan aku Ayah, aku dijebak dan difitnah," terang Linda.


"Cepat kabari suami kamu, El." Kata Hikam.


"Ya, Hikam benar. Kamu kan punya tim kuasa hukum," timpal Ayah Berli.


"Ayah, Hikam, untuk saat ini aku tidak ingin pak Agam tahu dulu, adiknya sedang koma Ayah. Tolong mengerti keadaannya. Untuk sementara waktu, aku akan meladeni keinginan mereka walaupun tanpa pak Agam."


"Tapi, El. Pak Dirut itu suami kamu," tegas Hikam.


"Hikam, ya aku juga tahu. Tapi tidak sekarang. Aku juga nanti akan memberitahunya. Tapi sekali lagi, bukan sekarang, faham? Tolong hargai keputusannku."


Hikam dan Ayah Berli saling menatap, hingga pada akhirnya merekapun terpaksa menyetujui keinginan Linda.


"Terus sekarang bagaimana? Anakku akan diapakan?"


"Begini Pak, karena surat penangkapannya sudah ada, LB akan kami tahan dulu."


"Apa?! Memangnya kapan sidangnya? Kurasa LB tidak perlu ditahan, dia tidak akan kabur. Dia punya bayi yang baru berusia 42 hari, Pak," kata Hikam dengan lantangnya.


"Maaf Pak, kami hanya menjalankan tugas. Masalah itu harus dibicarakan lagi dengan penuntut," jelas polisi.


"Ya Pak. Tolong beri kebijakan pada putriku," Ayah Berli tak kuasa menahan keharuan. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Ayah jangan menangis, maafkan aku karena selalu membuat Ayah khawatir." Linda memeluk Ayah Berli.


"Ayah tidak perlu khawatir, kan aku bisa pumping selama ditahan."


"Iya Pak, kami juga ada peraturan khusus untuk ibu menyusui."


"Pak Polisi, apa bisa jika aku mengajukan diri untuk menjamin LB? LB tidak akan kabur Pak. Aku rela menjadi jaminannya," sela Hikam.


"Aku sebagai ayahnya mau juga menjaminkan diri," timpal Ayah Berli.


"Mohon maaf, Pak. Pengajuan jaminan ada prosesnya. Kami bukan pihak yang memiliki kewanangan. Tugas kami hanya menangkap LB."


"Pak, aku akan ditahan di daerah ini, kan?"


"Tidak Bu LB. Kami akan membawa Anda ke pusat kota."


"APA?!" Linda, Ayah Berli, dan Hikam terkejut.


"Pak, apa tidak bisa kalau aku ditahan di Pulau Jauh saja?"


"Mohon maaf tidak bisa Bu LB. Kasus Bu LB terjadi di wilayah pusat. Untuk saat ini, belum ada pelimpahan kewenangan dari sektor kepolisian pusat ke daerah."


"El, ini tidak bisa kita hadapi sendiri. Kita harus tetap menghubungi Pak Agam. Kamu jangan kukuh!" sentak Hikam.


"Hikam begini saja, aku mau beritahu pak Vano. Semoga pak Vano bisa diajak kerja sama dan tidak langsung melaporkan masalah ini pada pak Agam."


"Pengacara Vano ya? Kami mengenalnya. Bagaimana kalau kami saja yang menghubungi pak Vano?" tanya salah satu polisi.


Tuh kan? Sok-sok an bisa sendiri, ternyata tidak mampu, kan? Miris sekali. Batin Yuli. Ternyata dia belum sepenuhnya bertaubat.


"Pak Polisi, kalau sudah terhubung dengan pak Vano, aku saja yang berbicara ya," kata Linda.


"Ba-baik, Bu." Pesona Linda membuat Pak Polisi patuh.


"Maaf Bu LB, sepertinya Pak Vano tidak mengangkat telepon. Mungkin sedang sibuk."


"Permisi, boleh saya masuk?" terdengar suara dokter Rita dari arah ruang tengah.


"Boleh, masuk saja," Hikam membukakan pintu. Tampaklah dokter Rita yang sedang memangku Keivel. Yuli tidak tampak. Kemana dia ya?


"Keivel? Sayang, huuu," LB yang awalnya kuat, tak kuasa menahan tangis saat ia melihat wajah putranya.


"Ada apa ini? Pak Polisi saya dokter pribadi LB, sekaligus pengasuh putrahnya. Apa saya boleh melihat suratnya?"


"Boleh, Dok. Silahkan."


"Pak Polisi, saya sebenarnya menyayangkan penangkapan mendadak seperti ini, harusnya ada pemberitahuan dulu."


"Maaf Dok, ini surat resmi. Kami memang terkendala jarak, tapi kami tidak melanggar hukum," tegas polisi.


"Ya baguslah seperti itu. Masa ya ada polisi kebal hukum atau melanggar hukum? Malu dong dengan seragam," sindir dokter Rita.


Para polisi itu hanya mesem-mesem.


"Maafkan dia, Pak." Bela Hikam. Menjadi tameng bagi dokter Rita.


Linda merebut Keivel dari tangan dokter Rita.


"Kami tetap harus membawa LB. Ini perintah," tegas polisi.


"Begini saja, beri kami waktu. LB harus menyusui, bayi ini terpaksa harus dibawa juga," kata dokter Rita.


"Apa?! Tidak, tidak boleh!" teriak Ayah Berli.


"Ayah tenang Yah. Kita sedang berusaha mencari jalan terbaik," kata Hikam.


"Hikam, aku tidak rela mengorbankan cucuku."


"Ayah, maaf ... sepertinya dokter Rita benar, Keivel harus ikut denganku," lirih Linda.


"Ya ampun, Nak. Kenapa jadi begini sih?" Ayah Berli kembali memeluk Linda.


"Sa-sabar ya Ayah, kita sedang diuji."


"Ya sudah, siapkan saja semuanya. Kami beri waktu satu jam untuk bersiap," kata polisi.


Ayah Berli termenung bingung. Tidak menyangka jika hari ini akan terulang kembali. Harus melihat putrinya dijemput polisi untuk yang kedua kalinya. Ini terasa seperti dejavu yang memilukan.


"Sabar ya Bu LB, Anda memang harus pulang. Di pusat kota ada pak Agam. Anda dan Keivel akan lebih aman jika berada di dekat pak Agam." Dokter Rita menguatkan.


Ternyata, hal ini sudah diprediksi oleh Agam. Tanpa sepengetahuan siapapun, Agam telah mengatakan masalah ini pada dokter Rita. Kata Agam, suatu hari Linda pasti akan dijemput polisi. Bila hal itu terjadi, Agam berpesan pada dokter Rita dan dokter Dani agar membawa Linda dan Keivel pulang.


"Ayah dan ibu harus bagaimana, Nak?"


Linda tidak menjawab, ia bingung.


"Hemat saya, Ayah Berli dan bu Ana tetap di sini. Rumah ini harus ada yang menjaga," kata dokter Rita.


"Dokter Rita benar, Yah. Gerai buah juga kan membutuhkan Ayah. Ayah tenang saja, aku akan mendampingi Linda," kata Hikam.


"Apa saya boleh ikut?" Tiba-tiba Yuli datang dan menawarkan diri.


"Tidak boleh," jawab Linda, dokter Rita dan Hikam, serempak.


...~Tbc~...