
Dalam kelupaan itu Agam secepatnya tergelak.
"Hahaha, wajah kalian lucu sekali, apa akting saya bagus?" tanyanya sambil garuk-garuk padahal tidak gatal.
Kini giliran Agam dan Yohan yang terkejut saat wanita satu-satunya di ruangan itu terkikik-kikik sambil memukul bahu Yohan dengan gaya sok akrab.
'Puk puk puk.'
"Hihihi, Tuan Yohan, aku tertipu. Aku kira Pak Agam benar-benar cemburu dan tertarik padaku. Eh, ternyata sedang berakting." Sambil kembali memukul bahu Yohan.
"Siapa yang tertarik padamu? Tidak mungkin. Jangan harap," kata Agam.
Berani sekali kamu sok kenal dan sok dekat dengan pria bajingan itu. Kamu tidak tahu siapa Yohan, Linda. Sambung Agam dalam batinnya.
Agam berusaha bersikap biasa. Ia duduk kembali di kursinya saat Linda dan Yohan masih beradu senyum dan tawa. Ia marah luar biasa. Ingin merobek mulut Yohan detik itu juga.
Tapi berusaha tetap tenang sampai urat-urat tangannya menegang, meregang dan menyembul hijau kebiruan. Agam menyembunyikan tangan siap jotosnya itu di balik meja kerjanya.
"Tuan Yohan!" panggilnya. Lebih tepatnya menghardik, buka memanggil.
Spontan Linda dan Yohan berhenti tertawa. Yohan merasa hatinya berbunga-bunga. Siapa sih yang tidak ingin akrab dengan wanita yang cantik dan seksi?
"Ya, Pak Dirut. Hahaha, akting Anda bagus sekali."
Dan tangannya tak sungkan merayap membelai rambut LB. Tidak bisa dideskripsikan semarah apa Agam Ben Buana pada saat ini.
Beraninya dia menyentuh calon istriku! Awas, kamu Yohan! Dan kamu, Linda. Gerammya dalam hati.
Karena takut amarahnya meledak, Agam pun segera melakukan gencatan mendadak melalui kesepakatan.
"Kamu sedang mencari investor, kan?" tanya Agam, tanpa melirik ke arah Yohan. Ia tidak sudi melihat rambut Linda dibelai-belai.
"Hahaha, kok kamu tahu sih, Gam? Ya aku memang sedang mencari investor untuk studio rekamanku. Bisakah kamu menjadi investor ku? Aku butuh dana untuk mendebutkan Lica. Serius Pak Dirut, suara dia, aaah ... indah sekali, ck ck." Yohan berdecak kagum.
Agam menghela napas berat. Untungnya tadi ia sempat mempelajari bahan dari Fanny, setidaknya ada cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan rambut indah itu dari tangan si maniak.
"Mari bicara," tegas Agam.
Pria yang tangannya masih menegang itu berdiri. Kali ini tangan marahnya disembunyikan di dalam saku jasnya.
"Tidak bicara di sini?" tanya Yohan.
"Tidak, mari kita bicara di lantai 89, di sana ada taman dan kafe."
"Wah, sudah lama sekali aku tidak ke sana, baiklah." Yohan pun beranjak.
"Tuan Yo apa saya boleh ikut?" tanya Linda.
"Terserah," yang menjawab adalah Agam. Rupanya masih marah pada Linda.
"Ya benar, terserah kamu mau ikut atau tidak?" sahut Yohan.
Saat tangan Yohan mendekati handle pintu di saat itulah Agam mencuri pandang pada Linda.
Ting,
Agam mengedipkan satu matanya pada Linda, lalu membuat gerakan seperti sedang menulis di telapak tangannya. Di saat Linda masih berpikir, Yohan menoleh ke arah Agam.
Linda terkejut, namun kembali tenang saat Agam mengatakan ....
"Aduh, telapak tangan saya gatal sekali. Gatalnya di dalam kulit, kalau saya garuk, bukannya sembuh malah geli. Hahaha," kata Agam.
Disambut tawa Yohan dan kekaguman Linda karena pria itu ternyata pandai mengalihkan dan bisa menempatkan diri menjadi pusat perhatian.
"Hahaha, benar Gam, aku juga pernah gatal di dalam kulit telapak kaki, saat aku garuk gatalnya pindah ke dalam celana. Hahaha."
Agam melongo.
Kenapa jadi gatal ke dalam celana? Dasar maniak pikirnya.
Tapi tidak ada cara lain kecuali meladeni Yohan sambil merapikan berkas.
"Kamu masih bisa ditolerir gatal di dalam celana, saya pernah gatal di dalam usus. Susah kan garuknya?" kata Agam. Serius ia asal bicara saja.
"Hahaha," Linda tak kuasa menahan tawa.
"Kamu?" Agam dan Yohan menatap ke arah Linda.
"Kalau gatal di dalam usus namanya cacingan Pak Agam, artinya di dalam usus Bapak ada cacing parasit yang bersemayam dan menyesap seluruh saripati makanan yang dimakan Pak Agam," terang Linda.
"Apa?!"
Agam terkejut sampai map di tangannya terjatuh.
"Hahahha."
Yohan kembali tertawa, hari ini ia merasa terhibur setelah melewati kepenatan di dalam penjara.
"Kalau benar Pak Agam sering gatal di dalam usus, dan Bapak tidak minum obat cacing, lama-lama Bapak bisa jadi kurus kering, dan perut Bapak membesar karena cacing di dalam usus Bapak menggendut, heheheh."
"Apa?! Berani sekali kamu menuduh saya cacingan!" teriaknya pada Linda.
"Hahaha, maafkan Lica, Gam. Dia memang sering melucu," kata Yohan sambil menggandeng bahu Agam untuk keluar dari ruangan.
Saat Yohan menghadap ke arah luar, Agam kembali melirik pada Linda.
Ting,
Kembali mengedipkan mata, plus memberikan kecupan jarak jauh.
Deg,
Jantung Linda hampir loncat. Bibir tipis yang merah alami itu laksana tengah menggodanya dan mengatakan ....
"Mari kita berciuman lagi."
Linda menutup wajahnya karena malu, kenapa otaknya tidak semurni dulu? Apa bawaan orok? Pikirnya.
Dan sayup-sayup ia masih bisa mendengar ucapan Agam dan Yohan sebelum memasuki lift menuju lantai 89.
"Kalau aku menjual berita Dirut HGC cacingan, laku tidak ya?"
"Diam kamu bajingan! Atau saya tidak akan sudi membantu perusahaanmu."
"Hahaha, tapi serius Gam, memangnya benar kamu pernah gatal di dalam usus?"
"Tidak pernah, hidung belang! Saya hanya bercanda. Sama sepertimu saya juga sering gatal di dalam celana.
"Apa?!"
"Hahaha."
Terdengar Agam dan Yohan tertawa.
"Mereka gila, kenapa membahas gatal di dalam celana sih?" dengus Linda saat menutup pintu ruangan tersebut.
.
.
.
Kini hanya ada Linda seorang diri, ia langsung bersimpuh di lantai dan menangis.
Sebuah tangisan bahagia karena ia berhasil bertemu lagi dengan satu-satunya orang yang paling bisa ia andalkan. Pria yang dulu ia benci namun kini ia cintai.
"Huhuuu, kupikir tidak akan bisa bertemu lagi denganmu, Pak ...." Lalu duduk di kursi dan mengusap airmatanya dengan tissue.
"Pak Agam, aku takuuut ... Tuan Yohan sering menatapku tanpa berkedip," keluhnya.
"Aku takut tubuhku ternodai lagi oleh pria lain selain kamu, huuuks ... huukss ...."
Kembali terisak, namum sejurus kemudian Linda mengingat kode kedipan Agam dan Agam yang menulis di tangannya.
Sambil mengusap air mata Linda berpikir keras untuk memahami maksud Agam.
Pak Agam menulis di tangannya, artinya ... dia menginginkan aku menulis juga. Benar, Pak Agam pasti sadar jika aku mengirim pesan lewat ponsel bisa jadi beresiko.
Yes, aku mengerti maksudmu. Pak. Tapi di mana aku menulis ya?
Linda mengedarkan pandangan, lalu terfokus pada tumpukan berkas dan beberapa memo di meja Agam. Oiya, di sisi meja Agam ada printer dan dua rim kertas kosong.
Ia mendekati meja kerja milik Agam.
Sebelum jemarinya mengambil satu lembar kertas, tangan Linda menelusuri terlebih dahulu kursi itu.
"Sayang ... ini kursi kerja Papa." Sambil tersenyum dan mengelus perutnya.
Lalu kembali pada misi sebelumnya. Menulis sesuatu untuk Agam. Diambilnya satu kertas dan pulpen yang tergeletak.
Berpikir, berpikir, berpikir.
Linda mulai menulis.
..."Pak Agam, aku diculik Tuan Yohan. Tuan Yohan tidak tahu kedekatan kita. Tuan Yohan akan mengeksploitasi kemampuanku. Dia tahu aku hamil."...
..."Dia bermaksud membocorkan kehamilanku ke publik kalau aku tidak memberinya sejumlah uang. Tuan Yohan menyuruhku mendekati Anda untuk mengambil lebih banyak keuntungan."...
Selesai menulis Linda malah bimbang dan bingung.
Di mana aku menyimpan surat ini?
Apa yakin surat ini tidak akan diketemukan orang lain dan hanya akan dibaca oleh pak Agam?
Linda ragu, takut, dan khawatir.
Bisa jadi pak Agam mempunyai musuh di dalam selimut.
Dengan tangan gemetar, Linda meremas kertas itu, merobeknya, dan membuangnya ke tempat sampah. Kembali menulis dengan kening mengkerut.
...~Cerpen~...
...Ada induk burung merpati yang sayapnya patah, dia sedang menunggu seseorang dan terbaring lemah. Di balik sayap patahnya, ia menyembunyikan burung kecil yang harus dilindungi....
...Sang induk masih memejamkan mata saat elang jahat datang menerkam. Membawa si induk yang lemah ke sebuah istana, istana para elang....
...Di istana elang, ia tidak langsung diterkam, sayapnya yang patah diobati, dan burung kecil di balik sayapnya dijadikan tawanan....
...Kelak, saat si induk merpati tidak mengikuti keinginan sang elang. Maka burung merpati itu akan dimakan hidup-hidup, dan burung kecil itu akan dipamerkan ke seluruh dunia. Mungkin untuk dipermalukan....
...Karena si elang berpikir jika burung kecil dan induknya ... kotor dan hina....
...Suatu hari, si elang menyuruh merpati itu untuk menggoda raja burung walet agar mendapat keuntungan. Raja burung walet terkenal kaya-raya. Burung walet itu memiliki tanda lahir berbentuk hati di tubunya....
...Si merpati tidak bisa menolak dan mengelak. Walaupun ia kelak dirudapaksa, walaupun kelak seluruh bulunya dicabuti, asal bukan kehormatannya, maka merpati tidak akan menolak....
...Kenapa?...
...Karena ia ingin melindungi burung kecil dan melindungi burung walet itu....
...~Selesai~...
Linda menyimpan cerpen tulisan tangannya di balik laptop Agam yang ditutup. Lalu berdoa kepada-Nya agar surat itu tidak difahami oleh orang jahat.
Lama ia menunggu, hingga iapun terlelap di sofa.
.
.
.
.
Sementara di lantai 89 HGC, Agam dan Yohan masih terlibat adu argumentasi.
"Saya mau-mau saja jadi investor untuk perusahaan rekamanmu, asalkan kamu tidak melibatkan artis bau kencur seperti LB," kata Agam.
"Agam, kenapa?! Apa masalahnya?! Dia berbakat, Gam. Aku mendengar suaranya, penjiwaan dia saat bernyanyi itu pokoknya amazing, suaranya khas. Tidak ada suara penyanyi di negara ini yang identik dengan warna suara dia, Gam."
"Kamu tidak tahu sih suara dia semerdu apa." Yohan bersungut-sungut.
Aku bahkan sudah mendengar suara dia saat mendesah, bodoh. Batin Agam.
"Pokoknya saya tidak setuju, lagipula yang menilai bukan musisi, mana bisa saya percaya padamu. Saya tidak mau rugi. Suara kamu saja mirip suara kodok tersedak biji kedondong! Kamu sulit dipercaya, Yohan. Cari artis senior saja," tegas Agam.
"Apa katamu?! Suaraku tidak sejelek itu Agam Ben Buana! Pak Dirut, dengar ya! Yang namanya debut ya artis baru, tidak mungkin artis senior. Ini debut Agam! Debut. Bukan come back." Yohan sampai berdiri dan melotot, ingin menyerang Agam, tapi tahu diri kalau dia pasti kalah.
"Terserah asal jangan LB." Agam bersikeras.
"Saat dia bernyanyi aku sampai menangis, kamu tidak percaya?! Walaupun aku bukan musisi tapi aku punya perasaan, Gam!" Yohan kesal.
Ya, dan saat dia mendesah aku jadi gila, bahkan terus gila sampai saat ini, batin Agam. Agam menyentil kepalanya sendiri.
"Begini saja, saya akan membawa dia untuk tes vokal. Saya ada kenalan musisi ternama. Proyek kerja sama ini tidak ada hubungannya dengan HGC. Jadi, saya tidak mau merugi Tuan Yohan." Agam beranjak.
Agam tahu Yohan licik, maka dari itu, Agam akan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan ini melibatkan Linda, wanita yang sangat ia cintai.
Tidak mungkin Agam membiarkan wanitanya bernaung di agensi milik Yohan. Sedangkan gosip yang beredar, Yohan dikabarkan suka mencicipi artis yang ia sukai.
"Agam, kita belum selesai bicara, begini saja kalau kamu tidak mau berinvestasi, maka aku akan membuat berita bahwa kamu menipu LB dan memanipulasi uang kontrak."
"Silahkan," kata Agam.
"Kamu mau proyekmu gagal?!" Yohan menguntit.
"Anda sudah jatuh miskin rupanya ya. Gagal ataupun tidak, tidak ada urusan denganmu," tegas Agam.
"Baiklah, karena aku sangat butuh uang, kali ini aku mengalah. Apa yang kamu inginkan agar kamu bisa berinvestasi di perusahaanku?" tanya Yohan.
Yohan mengorbankan rasa malunya, memohon pada Agam demi membangun kembali kerajaan bisnisnya.
"Saya belum bisa memutuskan sebelum melihat kemampuannya," kata Agam saat ia dan Yohan sudah berada di dalam lift.
"Gam, kamu kan sudah lihat perfoma dia saat jadi bintang iklan, harusnya kamu tidak perlu ragu."
Dan mata kedua pria itu membeliak. Saat sudah kembali ke ruangan. Ada yang sedang tidur cantik di sofa.
"Lica?" sapa Yohan.
Dan Linda langsung terbangun.
"Mmm-maaf." Linda merapikan gaunnya.
Agam berlalu begitu saja seolah tidak peduli pada Linda, kembali duduk di kursinya tanpa ekspresi.
"Su-sudah selesai?" tanya Linda.
"Hari ini cukup." Yohan berkemas, memasukkan berkas ke dalam tasnya.
Dengan berat hati, Lindapun beranjak untuk bersiap kembali ke mansion bersama Yohan.
"Lica, kamu tetap di sini," kata Yohan.
"A-apa?!" Linda pura-pura kaget.
Padahal hatinya mengatakan, "Yes."
Dan ternyata tanpa diketahui siapapun, di balik mejanya tangan Agam tengah mengepal melakukan gerakan kegirangan.
"Yes, yes, yes."
"Kenapa aku harus tetap di sini, Tuan?"
Linda menunduk karena tak kuasa ingin segera meluapkan kebahagiaan dan kerinduannya pada Agam.
"Kamu akan dites vokal dan menemani Pak Agam karaoke. Jangan mengecewakan aku ya Lica. Keputusan Pak Agam tergantung keberhasilanmu," terang Yohan. Ia sudah di ambang pintu.
"Apa?!"
Untuk yang kesekian kalinya Linda pura-pura terkejut.
"Nanti kalau urusanmu dengan Pak Agam selesai, supirku akan menjemput kamu. Agam, maksudku Pak Dirut, aku permisi." Dan Yohan pun berlalu.
Klik,
Pintu ruangan itu tertutup. Yohan meninggalkan dua orang manusia yang saat ini tengah saling menatap lekat.
"Pak Agam ...."
Lirih Linda langsung berdiri dan hendak mendekat ke arah Agam, namun kakinya terhenti saat Agam meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"Ssstt ...," kata Agam.
"Hahh, kenapa?" tanya Linda dengan gerakan bibir tanpa suara.
Lalu Agam menulis sesuatu di kertas HVS.
"Saya melihat ada kamera mikro di selempang tas milikmu. Jadi, jangan menggodaku walaupun di sini tidak ada Yohan."
"Hahh?"
Kembali tanpa suara. Linda terkejut.
Lalu Agam menulis lagi.
"Anggap saja tas itu sebagai si Yohan, sekarang Anda ke ruang tengah, tinggalkan tas itu di ruangan ini. Saya akan menyusul."
Agam tersenyum sambil mengangkat jempolnya.
Linda membalas senyuman itu sambil mengatakan oke dengan jari telunjuk dan jari jempol yang dibulatkan. Lalu bergegas ke ruang tengah dengan hati berdebar dan berdesir-desir.
Semakin tak menentu manakala mendengar langkah Agam yang menyusulnya.
.
.
.
.
Di ruang tengah Linda mematung. Menatap bunga imitasi di salah satu sudut ruangan.
Deg,
Jangtungnya berjingkrak ketika seseorang memeluknya dari belakang.
"Saya bahagia kamu selamat, terima kasih, terima kasih." Agam mendekap Linda.
"Pak Agam ...."
Linda membalikkan badan. Langsung menangis di dada bidang pria itu yang selalu menguarkan wangi dan seolah mengandung feromon.
"Huuu ... huuu ...."
"Sssh ... ssshhhh ... kamu pasti ketakutan."
"I-iya ... saya takut sekali."
"Linda ... lihat mata saya."
"Ya ...." Linda mendongakan wajahnya perlahan.
"Apa saja yang dia lakukan padamu?" Bibir merah Agam tampak gemetar saat menanyakan hal itu.
"Di-dia memperlalukan saya dengan baik, Pak."
"Benarkah? Yakin? Apa saja yang sudah dia sentuh?" Agam meraup wajah Linda agar semakin dekat.
"Pak ... apa penting menanyakan hal itu sekarang? Apa tubuh saya lebih penting dari keselamatan saya?" Linda memalingkan wajahnya.
"Linda ... saya hanya bertanya. Hanya ingin tahu, katakan dengan jujur .... Saya tidak akan marah." Kata Agam sambil mengelus rambut Linda.
"Pak Agam ... kalau saya katakan Tuan Yohan telah menodai saya, apa yang akan Anda lakukan?" Agam bergeming. Perlahan melepaskan dekapannya dari tubuh Linda.
"Kalau saya mengatakan telah memberikan tubuh saya pada tuan Yohan demi keselamatan anak kita, apa yang akan Anda lakukan? Huuu ... Anda menyakiti perasaan saya Pak ...." Perlahan Linda menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di lantai dan menangis.
Agam mematung, diam dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Harusnya dari awal saya sudah membunuh dia! Berani sekali dia .... AARRGGH!!!"
'PRANG.'
Agam menendang pot bunga. Linda terkejut, ketakutan. Tubuhnya gemetar.
Agam lalu meninggalkan Linda begitu saja menuju ke arah kamar mandi dengan wajah dan telinga yang memerah.
"Pak Agam, tungguuu."
Linda menyusul dengan langkah gontai.
'Brak.'
Agam menutup pintu kamar mandi saat Linda hampir saja meraih tangannya.
"Pak Ag ---."
Suara Linda tercekal oleh kerasnya suara pintu yang dibanting.
Linda menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar mandi dan terisak.
Di kamar mandi ... setelah mengatur napasnya, Agam segera berwudhu, niatnya untuk meredakan emosinya, tapi ... tidak cukup berhasil. Namun ya, ia jadi sedikit lebih tenang.
Lalu terdengar suara Linda dari luar.
"Pak Agam ... jika Anda hanya mencintai tubuh saya ... saya menyerah. Saya tidak akan memaksakan diri untuk terus mencintai Bapak."
"Saya menginginkan seseorang yang mencintai saya secara 'Agape.' Mencintai saya tanpa pamrih apapun. Menerima kekurangan dan keburukan saya. Huuuks ...."
Agam membuka pintu kamar mandi saat Linda hendak pergi. Tangan Linda dicekal.
.
.
.
"Linda ... saya cemburu! Siapa yang tidak akan marah kalau calon istrinya ditiduri pria lain, hahh?! Kamu diam di sini, saya akan membuat perhitungan!" tegasnya dengan rahang mengeras.
Calon istri?? Linda terhenyak.
Agam berjalan cepat ke kamarnya dan saat keluar lagi sudah membawa senjata api.
"Saya akan membunuh dia! Saya membunuh demi harga diri kamu!" sungutnya.
"Pak Agaaam!!" teriak Linda. Mendekat ke arah Agam, dan ....
'PLAK PLAK.'
Linda menampar pipi Agam kiri dan kanan.
"Li-Linda?" terkejut sampai pistolnya terjatuh.
"Rasakan itu!" kata Linda sambil meringis. Mungkin telapak tangannya sakit setelah menampar Agam.
"Baru kali ini saya ditampar wanita," keluh Agam, seraya kembali mendekap Linda dengan kuat, agar wanita itu tidak bisa melarikan diri lagi.
"Saya akan berusaha mencintai kamu secara 'Agape' seperti yang kamu maksudkan." Agam menengadahkan kepala Linda, lalu menatapnya lekat-lekat.
"Jikapun benar si keparat itu te-telah me-menikmati kk-kamu ... pastinya ... tidak akan pernah merubah perasaan saya padamu." Sambil mencium puncak kepala Linda.
"Huukks ...."
Linda hanya bisa menangis mendengar ucapan Agam.
"Saya yakin ... kamu melakukannya karena terpaksa, kan? Saya tidak apa El ... tapi ... tolong izinkan saya membuat perhitungan pada manusila laknat itu."
"Pak Agam ... sekarang tatap lagi mataku," titah Linda.
"Oke," Kembali bersitatap.
"Tuan Yohan tidak melakukan itu ... demi Tuhan, hanya saja dia ...."
"Benarkah? Dia apa? Apa yang dia lakukan?"
"Dia membelai rambut saya ...."
"Lalu ---." Kata Agam
"Mengelus pipi saya ...."
"Lalu ---."
"Mengendus leher ...."
"Lalu ---."
"Menatap saya tanpa berkedip."
"Lalu ---."
"Memandangi d-ddada saya," katanya. Linda gugup.
"Ada lagi?" selidiknya sambil membopong Linda ke .... Kamarnya.
"Pak Agam, ke-kenapa ke kamar? Kita be-belum ..., Pak ...."
.
.
.
"Sekarang ayo praktikkan apa yang dilakukan si Yohan padamu," kata Agam saat mendudukkan Linda di sisi tempat tidur.
"Mm-maksudnya?"
"Saya akan berperan sebagai kamu, dan kamu sebagai Yohan."
"A-apa?"
"Ayo ... lakukan. Belai rambut saya, elus pipi saya, endus leher saya, tatap saya tanpa berkedip, lalu ... tatap dada saya, mudah bukan?" sambil mengurung Linda.
"Hahhh? A-apa?"
"Oiya, kenapa dia memanggilmu Lica?"
"I-itu nama panggilan sa-saya waktu kecil, Pak." Sambil mengatur napas.
"Kok dia bisa tahu?"
"Sa-saya yang memberi tahunya, Pak."
"Ohh .... Emm, Lica itu kepanjangan Linda cantik, kan?" tanyanya.
"Kok ... ta-tahu?" Linda semakin gugup.
"Pasti tahu lah, kan kamunya cantik, sekarang ayo mulai."
Agam merebahkan kepalanya di pangkuan Linda.
"Mu-mulai apa?" Linda pura-pura tidak faham.
"Belai rambut saya." Agam meraih tangan Linda dan meletakkan di kepalanya.
❤❤ Bersambung ....