AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Episode Spesial; Sepenggal Kisah di Penghujung Pena [Bagian 1]



Akhirnya, penantian itu terbayarkan sudah. Setelah menunggu selama lebih dari sebulan untuk bertemu seorang Agam Ben Buana, hari ini, Senja dijadwalkan bisa menemui Agam.


Saat ini, gadis itu sedang berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh wanita misterius itu. Senja menatap keluar. Padahal, ia tahu tak bisa melihat apapun.


"Kita tamu spesial pak Dirut, jika orang lain datang ke HGC untuk menemuinya, kita malah diundang untuk datang langsung ke rumahnya," ucap wanita yang menamai dirinya sebagai Anda, dan dipanggil An oleh Senja.


"Apa perjalanannya masih lama?"


Senja bertanya sambil menyandarkan kepalanya. Matanya terpejam. Ya, perjalanan yang dilaluinya ternyata sudah cukup jauh.


"Nona tidur saja ya. Sekitar empat puluh lima menit lagi," jawab Anda.


"Hmm," sahut Senja.


Rasanya ingin segera sampai dan bertemu Agam untuk menanyakan banyak hal yang selama ini mengganggu relung hatinya.


"Apa Nona mau makan sesuatu? Haruskah kita berhenti dulu di suatu tempat?"


"Tidak perlu, aku mau segera sampai, An."


"Baiklah, bolehkah aku sedikit cepat?" Anda bertanya lagi.


"Terserah kamu, An. Tapi, An harus memastikan kalau kita datang sampai tujuan dengan selamat."


"Pasti. Jangan khawatir, Nona." Lalu ia tancap gas. Kebetulan, jalur yang dilewati sedang sepi.


"Aaa!" teriak Senja. Ia tak menyangka kalau Anda bisa mengemudikan mobil secepat ini.


"A-Anda?! Hahaha, aku kaget!"


Senja mengusap dadanya sambil tertawa. Baru kali ini ia merasakan naik mobil secepat ini. Tapi, karena ia tuna netra, Senja tidak ketakutan. Andapun kian semangat. Pikirnya, sekalian mengasah kemampuannya dalam bidang ini. Dari caranya menyalip dan ketenangannya dalam mengendara, bisa dipastikan jika wanita dengan nama samaran Anda itu, bukanlah wanita biasa.


"Apa kita tidak akan dikejar polisi?" tanya Senja.


"Tidak akan, Nona. Mobil ini bisa mendeteksi keramaian dan keberadaan polisi."


"Oya? Masa, 'sih? Senja tak percaya.


Wanita bermasker itu tak menjawab. Dari ujung matanya yang meyipit, dia sepertinya sedang tersenyum.


...❤...


...❤...


...❤...


Merekapun tiba di kediaman Agam Ben Buana. Langsung disambut hangat oleh para penjaga yang memang sudah mengetahui prihal kedatangannya. Agam tentu saja sudah menjelaskannya.


"Silahkan masuk," sambut mereka saat Anda membantu Senja turun dari mobil.


"Terima kasih," sahut Senja.


Lalu mereka didampingi menuju ruang kerja pak Dirut. Setelah sampai di ruangan tersebut, Anda dan Senja disuruh menunggu.


"Maaf ya, informasi dari pak Yudha, pak Agam masih ada di kamarnya bersama bu LB. Mohon untuk menunggu. Karena hari ini putra-putri pak Dirut sedang ada jadwal sekolah usia dini, jadi, pak Dirut dan bu LB leluasa berlama-lama di kamar mereka. Hehehe," jelas seorang pengawal. Entah siapa namanya.


Yang jelas, setelah mengatakan kalimat itu, kepalanya langsung ditoyor oleh pengawal yang lain.


"Beraninya kamu mengumpat bos besar! Kalau pak Yudha tahu, kita bisa dipecat!" sentaknya.


Mendengar perselisihan kecil itu, Senja hanya senyum-senyum. Sedangkan Anda, sama sekali tak berekspresi.


"Kami akan sabar menunggu," kata Senja.


"Baiklah, kalau sudah dimengerti dan dimaklumi, kami permisi. Silahkan nikmati kudapan dan minumannya selagi menunggu," kata pengawal yang tadi menoyor kepala temannya.


Senja dan Anda menggangguk. Lalu Anda, atau panggil saja An, langsung mengambil minuman untuk Senja. Wanita itu tampak begitu perhatian dan memerlakukan Senja seumpama mutiara langka yang teramat berharga. Siapakah An? Entahlah. Susah ditebak, sebab dari penampilannya saja, dia begitu misterius.


...❤...


...❤...


...❤...


Sementara itu, sosok yang sedang dinantikan oleh Senja dan An, saat ini, tampak sedang berasyik ria dengan istri istimewanya.


Serius, pak Dirut yang gagah perkasa, saat ini tengah meringis-ringis. Namun, di tengah protes dan pekikkan kesakitannya, ia sesekali tertawa dan m e n d e s a h.


"Ahh! Ahh! Pe-pelan-pelan sayang. Sedikit sakit. Ohh ..., El, ahh! Ahh!" pekik pak Dirut.


"Bisa diam, tidak, Pak? Jangan begerak!" ucap Linda


"Emh ... ahh .... Nah, seperti itu 'dong sayang. Kalau terlalu kuat, kulitnya bisa lecet."


"Manja," ledek Linda. Namun ia tetap fokus pada aktivitasnya saat ini. Saking seriusnya, Linda sampai tertelungkup. Bahkan memakai kacamatanya.


"Ahh, cu-cukup sayang, sa-saya geli, El." Sambil menahan tangan Linda.


"Ihh, sebentar lagi, Pak. Ini belum tuntas tahu." Linda bersikukuh.


"Sa-sayang, please. Saya tak sanggup lagi," keluh Agam. Pria yang b e r t e l a n j a n g dada itu, benar-benar tak nyaman dengan apa yang dilakukan Linda.


"Pak, aku ingin berbakti pada Anda. Salah satunya dengan melalukan hal ini. Selagi anak-anak tidak ada Pak, kalau mereka ada, hmm, mana sempat."


"Ta-tapi sayang, ini pertama kalinya saya melakukan ini. Sebelumnya, selalu dilakukan di salon kecantikan dan oleh dokter pria," terang Agam.


"Pak, sesekali tak apa-apa, kan? Apa Anda tahu? Membersihkan rambut ketiak Pak Agam, adalah salah satu cita-citaku setelah kita menikah. Dan aku baru bisa melakukannya hari ini."


Oh, ternyata demikian. Akhirnya terjawab sudah. Linda sedang mencabuti rambut ketiak pak Dirut menggunakan pinset.


"Sayang, saya biasa diwaxing, jadwalnya juga sudah ditentukan oleh dokter. Harusnya besok sore saya pergi ke salon untuk membersihkan perkara ini."


"Sebenarnya tak masalah, 'sih. Hanya saja, saya tak begitu senang membiarkan tangan indah ini bekerja terlalu keras. Tangan ini hanya boleh dipergunakan untuk mengurus anak-anakku dan melayani saya dalam hal itu," goda Agam.


"Sudah ya sayang, lagi pula, ini belum terlalu lebat," tambahnya. Namun sang istri tak memedulikan. Tetap melanjutkan aktivitasnya sambil tersenyum-senyum.


"Baiklah, lanjutkan, tapi setelah ini, ronde ke tiga ya sayang." Pak Dirut ada ide.


"A-apa?!" Berhasil, Linda langsung mematung.


"Diam berarti ya." Agam menyeringai. Merasa di atas angin.


"Pak, Anda tahu 'kan kalau aku istimewa? Yang tadi saja masih terasa ngilu." Linda cemberut sambil melempar pinset ke tempat sampah.


"Hmm, maaf ya sayang. Saya hanya bercanda. Jangan marah ya. Sebab, kalau kamu marah, jadi makin cantik. Kalau kamu semakin cantik, sayanya tak bisa menahan diri. Pasti akan memakan kamu," ucap Agam.


Lalu meraih tubuh Linda ke dalam dekapannya. Setelah bersitatap sambil melempar senyum, bibir keduanya perlahan terjalin. Awalnya lembut, namun, beberapa saat kemudian, tampak semakin dalam dan kian tak terkendali.


Tangan kekar pak Dirut bahkan menggurita. Menyentuh bagian-bagian yang ia kehendaki, hingga pemiliknya menggelinjang dan melenguh pelan. Linda dan Agam mengatur napas saat tautan manis, hangat, nan lembut itu, terpisahkan oleh rasa sesak yang melanda keduanya.


"P-Pak Agam, tunggu," Linda menahan tangan Agam yang hendak menelusup ke sana dan di sini.


"Kenapa sayang? Saya janji akan pelan-pelan. Atau, sambil berendam air hangat supaya kamu lebih rileks dan nyaman." Pak Dirut malah memosisikan dirinya dan kembali membuka sesuatu yang melekat di tubuhnya.


"Pak, bukankah kata Anda hari ini akan ada tamu khusus? Apa mereka belum datang? Bapak bahkan mengambil cuti satu hari demi bertemu tamu itu. Ya, 'kan?"


"Apa?! Oh, ya ampun. Saya sampai lupa sayang. Harusnya mereka sudah datang. Ini gara-gara kamu, El. Kamu terlalu nikmat untuk diabaikan." Rayuan maut pak Dirut seperti tak ada habisnya.


"Pak, hentikan. Coba dicek, Pak. Apa tamunya sudah datang?" titah Linda. Tangganya sibuk menolak tangan pak Dirut yang sedang merabai tubuhnya.


"Pak, cepat!"


Sentakkan Linda, ampuh membuat Agam menghentikan aktivitasnya.


"Baiklah, akan saya cek sayang." Terpakasa mengalihkan tangannya dari sesuatu yang sering membuatnya mabuk, terlena dan kecanduan.


Pikirnya, daripada si istimewa merajuk, ia lebih baik patuh. Agam pastinya tak ingin istri ajaibnya itu marah atau kecewa. Iapun beranjak untuk mengecek ponselnya. Lalu membuka aplikasi CCTV di ruang kerja yang telah terhubung dengan ponselnya.


"Benar sayang, mereka sudah datang. Saya mandi dulu ya, El. Kamu tolong beri tahu pak Yudha kalau saya akan menemui mereka sekitar tiga puluh menit lagi."


"Siap," jawab Linda sigap. Karena penasaran, iapun mengintip ke layar HP milik Agam. Lalu menautkan alisnya karena merasa tak mengenali mereka.


"Siapa gadis itu? Lalu siapa wanita yang memakai topi dan masker itu? Apa aku pernah melihat mereka?" gumamnya.


Linda jadi gelisah karena ia melihat jika gadis yang tatapannya tak fokus itu, terlihat begitu cantik dan memikat hati. Jika seorang Linda yang cantik jelita saja mengagumi kecantikannya? Lalu, bagaimana dengan penilaian seorang pria?


"Tunggu, gadis itu?"


Linda jadi berpikir yang tidak-tidak. Namun, secepatnya menghapus prasangka buruk itu dan segera menghubungi pak Yudha untuk menyampaikan pesan dari Agam.


"Siapa mereka, Pak?" tanya Linda saat Agam sudah bersiap.


"Tamu sayang."


"Siapa gadis itu?" Sambil memperlihatkan rekaman CCTV.


"Dia tambatan hatinya pangeran Enver?"


"Apa?!"


Linda tercengang. Rupanya, Agam telah menjelaskan pada Linda tentang pangeran Enver Xzavier. Lalu kembali memandangi gadis itu.


"Kalau wanita itu, siapa dia, Pak?"


"Nah, untuk dia, belum bis saya jelaskan sayang."


"Kenapa, Pak?"


"Rahasia sayang, jika saya melanggarnya, itu berarti saya melanggar kode etik. Ingat, kamu juga harus merahasiakan tentang pangeran Enver dan gadis itu dari siapapun."


"Baiklah, aku mengerti."


Linda mengangguk sambil menyisiri rambut Agam yang setengah basah. Lalu merapikan kerah baju kemeja Agam agar tanda cinta yang tersemat di leher pria tampan nan gagah itu luput dari pandangan.


"Apa kamu mau mendampingi saya menemui mereka?"


"Tidak, Pak. Aku lihat dari CCTV saja. Lagi pula, akibat dua ronde itu, aku masih belum nyaman Pak." Sambil mengulum senyum.


"Oh, hehehe. Sabar ya sayang, sebentar lagi, mahkotanya sembuh 'kok. Akan utuh, cantik, dan kembali lagi seperti gadis belia yang tak pernah terjamah. Selama sistem robotiknya sedang melakukan proses pemulihan, memang akan sedikit tak nyaman."


"A-apa?!"


Linda terkejut mendengar penjelasan Agam. Upps, Agam langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan. Pak Dirut sepertinya keceplosan. Segera mengelak agar Linda tak curiga.


"Hahaha, saya berguyon sayang." Sembari memeluk Linda, dan Agam tak yakin kalau Linda memercayainya.


"Oh, ya sudah. Bapak cepat temui mereka. Kasihan kalau mereka menunggu lama."


"Oke, terima kasih sayang."


Agam bergegas setelah memeluk dan menciumi wajah Linda. Alis Linda mengernyit ketika Agam sudah tak berada di kamar. Kalimat Agam tentang sistem robotik, mengganjal pikirannya. Jadi penasaran dan ingin mencari tahu.


...❤...


...❤...


...❤...


...~Next~...