AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Variety of Love [Bagian 1]



Semilir angin di sore ini begitu mendayu, bergerak perlahan menghantarkan kesegeran. Memainkan dedaunan, menghempas patah ranting-ranting kecil, menggoyang lembut semak dan perdu.


Satu ranting yang patah dipatuk si induk burung, dibawa terbang meloncat-loncat antara dahan ke dahan, menuju ke sebuah sarang kecil di mana beberapa telur tergeletak nyaman di sana.


Lalu si burung kembali mengepak sayap ke sana, ke arah balkon megah yang jendela kacanya sedikit terbuka. Ia hinggap di teralis. Mata bulat kecilnya seolah mengintip ke sana. Ke tempat di mana sepasang insan tengah saling mengagumi.


Mereka tidur saling berhadapan dengan posisi sama-sama menggunakan tangan yang dilipat di sisi kepala sebagai bantalan.


Tangan sang pria tidak berhenti membelai rambut indah dan pipi wanitanya. Sedangkan sang wanita tampak menatap pria itu dengan pipi merona.


"Maaf," lirih si wanita.


"Tidak apa-apa sayang, wanita hamil memang biasanya seperti itu, sering buang air kecil. Ya, kan?" ucap sang pria sambil mengulum senyum.


"Iya, tapi ... Bapak tidak kecewa, kan?"


"Hmm, sedikit," jawabnya seraya mengelus bibir wanita itu.


"Maaf, tadi tiba-tiba saja mau buang air kecil," ucapnya lagi dengan suara semakin pelan.


"Padahal saya merasa belum melakukan banyak hal. Emm, baru me ---."


"Ssstt, Pak ... tidak perlu dijelaskan, aku malu," keluhnya.


"Pfft, kenapa harus malu? Di sini tidak ada siapa-siapa sayang."


"Ada burung kecil, Pak."


"Bu-brung?"


Pria tampan itu menautkan alisnya.


"I-iya, itu hinggap di jendela balkon," telunjuk lentiknya menunjuk ke jendela.


Lalu sang pria meraih jemari telunjuk wanita itu dan mengulumnya seperti memakan permen.


Pemilik jemari lentik terlihat gugup. Apa yang dilakukan pria itu membuat rongga dadanya naik-turun. Ia menarik jarinya cepat-cepat.


"Oh, burung itu? Tidak apa-apa dong sayang, itu hanya burung kecil. Oiya, apa kamu mau melihat burung yang lebih besar?"


"Bu-burung besar?"


Sekarang wanita cantik itu yang menautkan alisnya.


"Ya, El. Saya punya burung besar warna dominannya putih ada corak hitamnya tapi sedikit. Mau lihat?"


"Emm ...."


Dia yang bibirnya sedikit membengkak karena pertautan dahsyat itu, termangu.


"Burungnya keras mak ---." Kalimatnya terputus.


"A-apa?" Pipi wanita itu kian memerah saja.


"Hahaha, maksud saya keras suaranya sayang. Kamu tidak memikirkan yang tidak-tidak, kan? Dia jantan, jadi kekuatan kicauannya bisa mencapai 125,5 desibel."


"Memikirkan apa? Ti-tidak, tuh. Memangnya ada burung yang sekuat dan se-sekeras itu?" elaknya.


Wanita itu bertanya sambil membelai rambut sang pria. Seolah rambut itu begitu dipujanya.


"Ada dong sayang, suaranya bahkan lebih keras daripada suara konser musik rock."


"Wah, unik sekali, aku jadi penasaran, Pak."


"Kalau ada waktu nanti kita ke sana, saya memiliki dua buah burung bellbird. Emm, ada di rumah pak Yudha."


"Oh ...."


Wanita yang elok rupa itu tersenyum.


Lalu burung kecil yang hinggap di jendela terbang kembali ke sarangnya saat pasangan serasi itu perlahan tapi pasti kembali menyatukan bibir mereka sambil memejamkan mata.


Dan tangan sang wanita tampak menarik selimut hingga menutupi kepala mereka. Tapi ... sayupan suara di balik selimut itu masih terdengar jelas.


"Bo-boleh saya mencoba lagi?" Suara pria.


"Emmh ... me-mencoba a-apahhh?" Suara wanita.


"Mmm mmuach ... mmm ... Yang tadi dianggap gagal sayang, kan kamunya tiba-tiba mau buang air kecil. Boleh?"


"Bo-bolehhh, emmh ... Pak ... eh ... MM--Maga."


Dari siluet di balik selimut, sepertinya sang pria bangun dan mengurung wanitanya.


"Saya ge-gerah, boleh buka baju?"


Tidak terdengar jawaban. Tapi beberapa saat kemudian, kemeja mahal sang pria terlempar keluar dari dalam selimut. Tunggu, ada baju lain juga yang terlempar. Dari bentuknya sih seperti baju wanita.


Lalu sayup-sayup terdengar ....


"Emmh ... Ma-Maga ...." Suaranya seolah merintih.


"OHHH ... El ... i-indah sekali sayang, i-ini milik saya, kan?" Suara pria itu terdengar gemetar, dan gugup.


"Emm, ka-kalau bukan bagaimana?" Suara wanita yang parau nan seksi itu terdengar menggoda.


"Saya akan mencurinya dari kamu, kamu akan saya kurung seumur hidup. Dalam hal ini, saya tidak mau kamu berguyon, faham?"


Kali ini suara si pria terdengar tegas. Bahkan terdengar ada gigi yang gemeretak, lalu terdengar rintihan kesakitan ....


"Mm-maaf ... Pak Agam ... ssshh ... ss-sakiiit," keluhnya. Entah apa yang terjadi.


"Jangan panggil bapak, call me ...."


"MMM-Maga ... sakiiit ... slowly ... please ...."


"Oke, maaf ... tapi ... akan saya pastikan lagi, i-ini, ini, dan ini, milik saya, kan?"


"I-iyahh ... Ma-ga. Yes, yours mine ...."


"Terima kasih cantik. I Love you ... my El, my Linda, my Berlina, my Briliant, my wife, my beautifully."


Lalu terdengar suara merisaukan dari dalam selimut. Awalnya seperti tertahan dan tersendat. Tapi lama-lama semakin meresahkan saja. Siapun, tolong tutup telinga dulu.


"Hmm ... mmhh ... i-i love you too, my Maga ... My handsome, my husband."


"My Briliant ...." Sapa sang pria.


"Ya, Ma-Maga. Ke-kenapa?"


"Saya tidak tahan sayang .... Saya harus pergi."


"Pfft ...."


Yang dipanggil Briliant malah terkekeh. Jelas sekali tengah menahan tawa.


"Kamu mentertawakan saya? Dan selimut ini membatasi ruang gerak saya. Boleh dibuka?"


"Ja-jangan, a-aku malu."


"Kenapa harus malu? Hanya ada saya, buka ya?"


"Tidak mau."


"Kalau saya paksa?"


"Ja-jangan Maga."


Tapi pria yang dipanggil Maga seolah tidak peduli, perlahan selimut mereka bergerak ke bawah, tapi tidak seluruhnya.


Tampak wanita jelita itu tengah menutup wajahnya dengan bantal. Tapi ... di manakah sang prianya? Kenapa tidak tampak ya?


Dan selimut yang terlihat sangat lembut itu kembali menutupi tubuh mereka.


Lalu ... ada pergerakan lembut dan perlahan di baliknya. Ada gumaman-gumaman manja di sana. Ada percakapan intim, teramat intim. Sayangnya ... tidak bisa terdengar dengan jelas.


Tapi ... jika didengarkan dengan seksama, percakapan mereka yakin bisa mendebarkan hati siapapun. Jadi penasaran, apakah yang sebenarnya terjadi di balik selimut itu? Entahlah.


Mari tinggalkan kamar mewah ini, yuk pergi ke perpusatakaan.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Di perpustakaan, Gama sedang sibuk memilih buku. Tepatnya buku-buku bertajuk cinta dan cerita roman koleksi ibunya. Ia sedang mencari referensi buku untuk menaklukan gadis dingin yang ia sebut sebagai Ice.


Gama sudah memilih banyak buku. Ada lima judul buku yang dipeluk di dadanya. Namun ia masih mencari-cari.


"Seribu Cara Membuat Pujaan Hatimu Bertekuk Lutut."


"Keajaiban Cinta; Si Dia Terlihat Seperti Coklat yang Manis."


"Trik Cinta Masa Kini; Cara Mendapatkan Ciuman Pertama."


"Siaat Cinta; Cara Menikung? Jika Ditikung?"


"Cinta Terlarang; Menjadi Orang Ketiga, Meraih Cinta Sang Mantan."


Itulah beberapa judul buku yang akan dibaca Gama. Saat membaca judulnya Gama senyum-senyum. Ia tidak menyangka jika ibunya akan mengoleksi buku-buku semacam ini.


Apa mungkin ibunya sudah memprediksi jika buku-buku ini akan dibutuhkan olehnya? Gama sempat berpikir ke arah sana.


Lalu ia keluar dari perpustakaan dengan berjalan cepat sambil memeluk buku-buku itu.


'BRUGH.'


Di perjalanan, ia bertabarakan dengan seseorang. Cukup keras rupanya. Hingga tubuh Gama dan dia terjatuh. Buku Gama berhamburan, tercecer di lantai.


"AHH." Keduanya mengaduh.


Rupanya, Gama dan orang itu sama-sama sedang berlari saat tubuh mereka berbenturan.


"Gama!" bentaknya.


"Kakak! Kenapa di dalam rumah har ---."


Harus lari-lari! Lanjut Gama dalam hati.


Kalimat teriakan Gama tercekal saat ia melihat penampilan kakaknya. Mata Gama membulat. Mulut Gama bahkan menganga.


Agam tetap tampan, tapi sedikit berantakan. Kakaknya tidak memakai baju. Rambutnya berantakan, bibirnya lebih merah daripada biasanya. Dadanya kemerahan. Di kiri kanan lehernya ada tanda cinta. Kepala sabuknya terbuka.


"Minggir!" sentak Agam.


Agam menghentak bahu Gama yang masih terkesima dengan bahunya. Dan Gama kembali membelalak saat ia menyadari ada penampakan.


"WHAT'S!!"


Gama membeliak sambil menahan tawa. Namun tak luput dari melihat Agam yang berlari cepat menuju kamar Linda.


"Hahaha, kasihan sekali, dia pasti tersiksa. Hahaha, tapi aku puas melihatnya, rasakan!" kata Gama sambil mengambil kembali buku-bukunya yang terjatuh.


"Kakak dan kakak ipar pasti tadi ... tapi tidak bisa naik level, hahaha." Gama terus tergelak.


"Ga-Gama?" sapa seseorang.


"Kak Linda?"


Lagi, Gama harus menahan tawa. Penampilan Linda jauh berantakan dari Agam. Rambutnya tergerai dan kusut, bibirnya jelas selali membengkak. Pakaiannya sih lengkap. Tapi tangan di dada yang memeluk baju Agam tampak gemetar.


"Kakak ipar kenapa? Kok seperti baru saja melihat hantu?" goda Gama. Ia menatap lekat pada Linda.


Jujur, kakak iparnya terlihat semakin cantik dan menggemaskan dalam kondisi seperti itu. Deg, Gama langsung teringat pada Ice.


"Ti-tidak, perasaan biasa saja. Permisi, aku mau mengantar baju ganti untuk Pak Agam," terangnya sambil berlalu dengan langkah cepat.


"Oh, silahkan," jawab Gama.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


'Tok, tok, tok.'


Linda mengetuk pintu, tangannya masih gemetar, entah apa alasan yang membuatnya bisa sepanik itu.


"Ada apa lagi Ga ---."


Saat membuka pintu, Agam terkejut. Ia pikir pelakunya Gama, tapi ternyata si dia. Dia yang baru saja membuatnya hampir gila. Dia yang begitu indah menggoda tapi belum bisa diraih sepenuhnya.


"El?"


Agam mematung, ia sudah memakai handuk mandi yang ada di kamar Linda.


"I-ini ba-bajunya, Pak. Bapak terburu-buru, ja-jadi ketinggalan." Linda menyodorkan baju pada Agam dengan tangan gemetar.


'Greb.'


Agam memegang pergelangan tangan yang gemetar itu dan menariknya hingga Linda berada di kamar.


"A-ada apa dengan tanganmu, hmm? Kenapa masih gemetar? Ada yang kamu takuti? Kamu tidak sakit, kan?"


"Ti-tidak, Pak. Pak, aku harus keluar dari sini. A-aku juga mau mandi," kata Linda. Lalu ia cepat-cepat melepas tangan Agam dan meninggalkan kamar itu.


Agam menghelas napas, kepalanya seolah berdenyut, pusing berkeliling keliling. Ingin rasanya ia mengatakan ....


"Mari mandi bersama, sayang ...." Atau mengatakan hal panas lainnya.


Setelah melewati momentum indah yang mengguncangkan seluruh hormonalnya, Agam jadi berpikir untuk tidak sering-sering mendekati Linda. Serius, wanita itu mengandung candu dan madu.


Sedangkan pesan dari dokter Fatimah dan dokter penanggung jawab yang merawat Linda, jelas-jelas melarangnya untuk mendekati Linda secara biologis. Ya, dokter di rumah sakit itu memang tidak ada yang tahu kalau Agam suami LB. Tapi, Agam tidak bodoh, ia sudah membaca secara lengkap copy resume rekam medis milik Linda.


Pun untuk meminta cara lain pada Linda, Agam merasa malu. Lucunya, Linda juga belum ada inisiatif. Entah itu malu, tidak mengerti, atau Linda memang tidak ada niatan ke arah sana.


"Apa harus aku yang inisiatif memintanya? Tapi, itu memalukan. Aaarghh!"


Agam berteriak seorang diri sambil terlentang di atas kasur. Kasur yang sebelumnya ditempati Linda.


"Ya ampun, dan sprei kasur inipun wangi tubuh kamu sayang, jadi rindu lagi," rutuknya.


Seperti kehilangan separuh akal sehatnya, Agam menatap langit-langit, tersenyum-senyum dan pipinya memerah. Mungkin ia tengah membayangkan keindahan yang tadi sempat dilihat dan direnggutnya.


Dulu ... saat aku menodai kamu, aku tidak peduli dengan kecantikan dan rupamu. Saat itu, yang ada di pikiranku hanya n a f s u dan kemarahan. Tapi ... sekarang aku sadar, kamu lebih dari sekedar cantik. Kamu teramat sangat indah dan ....


Agam kembali tersenyum, menggerak-gerakan kakinya seperti anak lecil, lalu beranjak ke kamar mandi.


.


.


.


.


"Apa?! Serius kamu Vano?"


Agam yang baru saja selesai mandi terkejut saat mendengar sebuah kabar dari pengacara Vano melalui sambungan telepon.


"Benar, Pak. Pelakunya kemungkinan putra tuan Gunatara."


"Maksudmu Rufino Pederik?!"


"Saya belum selesai bicara, Pak. Ya, dalangnya bisa jadi pak Rufino Federik atau istrinya. Nyonya Clara Mahcota."


"Apa alasanmu sampai menyimpulkan ke arah sana, hahh?"


"Tenang dulu, Pak. Begini, artikel pertama yang menyebutkan LB kumpul kebo ternyata pernah terpublish sebelum LB didemo pada waktu itu. Tapi setelah saya selidiki artikel itu dipublikasikan hanya bebera jam. Nah, kreator artikel itu adalah salah satu karyawan yang bekerja di tabloid model milik Clara Mahcota, tapi di publishnya di tabloid online milik tuan Rufino Pederik."


"Kurang ajar mereka! Tega memfitnah istriku. Malam ini saya mau ke rumah tuan Rufino."


"Pak tenang dulu, pelakunya kan masih belum jelas bisa istrinya bisa juga tuan Rufino. Saya tidak mengizinkan Anda pergi. Anda masih ingat pesan dokter kepala, kan? Kalau Anda kecapean, bisa mimisan lagi. Berbahaya, Pak."


"Tapi saya tidak terima Vano! Saya kesal! Apa sih motif mereka?"


Sambil mondar-mandir, tangan Agam mengepal. Ia juga memutar mata untuk mencari keberadaan samsak. Agam menghela napas saat sadar bukan berada di kamarnya.


"Kalau pelakunya tuan Rufino, jelas karena sakit hati, Pak. Kan dulu lamarannya ditolak mentah-mentah oleh LB."


"Jika pelakunya Clara, ya jelas ia ingin memperburuk citra LB di mata semua orang terutama di mata suaminya. Soalnya menurut kabar burung, tuan Rufino sampai saat ini masih penasaran ingin menikahi LB. Kabar lain menyebutkan bahwa tuan Rufino ingin mengadopsi calon putra Anda."


"Enak saja! Sembarangan mau mengambil putraku! Memangnya dia siapa?!"


"Tenang Pak. Masalahnya sekarang adalah, yang mau kita somasi siapa?"


"Bodoh kamu, Vano! Ya tabloidnya lah. Laporkan kedua tabloid itu sekaligus!"


"Mohon maaf lagi Pak, di sini yang mau jadi pelapor siapa? Sementara LBnya kan belum tahu kalau dia difitnah."


"Vanooo, pelapornya ya saya lah, kamu bagaimana sih?!"


"Pak Agam tolong tenang dulu, tidak semudah itu Pak. Status Bapak dan LB kan masih dirahasiakan. Ingat posisi Anda, Pak. Anda masih anggota BRN. Jangan esmosi. Maaf, maksud saya jangan emosi."


"Saya sudah muak, Vano! Muak! Saya tidak tahan Vano!"


'Bugh.' Agam menonjok bantal karena emosi.


"Tidak tahan apa ni, Pak? Hehehe," ledek Vano.


"Apa?! Tidak lucu kamu Vano! Mau saya pecat?!"


"Maaf, Pak. Maksud saya begini. Bapak jangan sembarangan mengambil sikap dan cepat-cepat mempublikasikan hubungan Bapak dan LB sebelum ada keputusan dari federasi BRN internasional. Ingat baik-baik Pak, keselamatan LB dan keluarganya dipertaruhkan."


Agam menunduk, ucapan Vano benar. Ia tidak boleh gegabah.


"Begini saja, Van. Malam ini kamu ke rumah sakit The Number One, temui ayah Berli. Dia ayahnya Linda. Jadi, kita setting seolah-olah ayah LB yang mensomasi tabloid itu. Di sana juga ada paman Yordan. Untuk berbicara dengan ayah Berli, kamu bisa meminta bantuan paman Yordan. Mengerti?"


"Siap, nah begitu dong Pak. Bapak tetap di rumah saja dengan LB, biar saya dan tim yang bertindak. Anda harus pulih total, Pak. Oiya, bagaimana rasanya punya istri seseksi itu? Hehe, terus terang saya iri."


Agam menjawab kalimat Vano dengan cara menutup telepon.


"Dasar laki-laki! Perasaan hanya tuan Deanka yang sepertinya tidak tertatik dengan istriku," gerutunya.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Setelah melaksanakan ibadah shalat Isya, Linda merebahkan diri di tempat tidur super nyaman yang seharusnya membuatnya bahagia.


Tapi ... kamar ini terlalu besar. Perlengkapaan di dalamnya juga begitu lengkap. Akibatnya, Linda jadi merasa sedang berada di sebuh rumah seorang diri.


Sudah merubah posisi tidur dengan berbagai posisi, tapi tidak berhasil.


Linda benar-benar kesepian. Apalagi saat ini ia tidak memegang ponsel dan tidak boleh menonton berita. Ia sudah mencoba menyalakan televisi, namun seluruh saluran tidak ada singnal.


Linda ada ide, ia berniat untuk menonton DVD. Akhirnya, ia bangun lagi dan mendekat ke area menonton TV.


Linda memilih beberapa kaset DVD yang mungkin ia sukai. Sayangnya tidak ada satupun yang menarik. Semua kaset tampak aneh, sampul kaset tidak bergambar, hanya berisi tulisan-tulisan dengan bahasa asing.


Apakah ini film dokumenter? Entahlah.


Karena merasa kesepian dan belum mengantuk, Linda mengambil salah satu kaset secara acak. Ia berselonjor, siap untuk menonton sambil memeluk bantal.


Televisi menyala, kaset DVD mulai memutar. Serius, bahasa dan tulisan yang muncul di layar sama sekali tidak dimengertinya. Namun dari gambar yang dimunculkan, Linda faham maksudnya.


Ada puluhan pria tegap yang berbaris rapi. Mereka memakai celana panjang dan sepatu, tetapi tidak memakai baju. Matanya tertutup kain berwarna hitam. Sepertinya latar kejadian dalam vidio itu tidak terjadi di negara ini.


Lalu ada sekitar sepuluh orang wanita cantik dan seksi berseragam dokter masuk ke dalam camp. Dan pria yang berbaris itu masuk satu persatu ke dalamnya.


Tidak dividio apa yang terjadi di dalam, namun beberapa orang yang keluar terlihat tertawa-tawa dan tersipu malu saat diwawancara.


"Acara apa sih ini? Tidak jelas sama sekali," gumam Linda.


"Kaset DVD nya aneh semua."


Lalu Linda mempercepat vidio yang ia putar. Ia terkejut saat vidio itu menunjukkan adegan perkelahian menggunakan senjata tajam. Mereka saling menyerang membabi buta.


"Ih, mengerikan. Ini film apa, sih? Bisa-bisanya ibu hamil menonton film seperti ini."


Linda bergidik saat beberapa orang yang berkelahi terkena sabetan senjata di perut dan punggung mereka. Darah segar yang terlihat asli tampak mengalir deras dari luka yang menganga.


"Serius filmnya real sekali," decaknya.


Dan mata Linda membulat sempurna kala ia melihat sosok yang ia kenal terekam kamera. Sosok itu tengah dipukuli oleh beberapa orang dalam keadaan mata tertutup.


"A-apa aku halusinasi? Ke-kenapa Pak Agam jadi figuran film? Bagian disiksa lagi. Apa hanya mirip?"


Linda mempausenya untuk memperjelas.


"Hahh?"


Linda melongo. Tertulis di name tag pria yang mirip Agam itu ... 'MAGA.'


Linda mematikan televisi karena takut. Ia berpikir benar-benar halusinasi. Tanpa pikir panjang, ia menelepon seseorang melalui telephone pararel yang ada di kamar tersebut. Ia hafal betul nomor kode kamar yang ia tempati sebelumnya.


Di dering ke dua langsung diangkat.


"Ya? Hallo?"


"Pak ... aku takut tidur di sini sendirian, kamarnya terlalu luas. Aku sampai halusinasi. Aku melihat Bapak ada di film. Pak Agam ...."


"El ... tarik napas, dan tenang, oke? Ta-tapi kamu tidak apa-apa, kan?" Suara di sana terkesan panik.


"Pak ... aku tidak bisa tidur di kamar ini, ta-takuut .... Aku mau tidur di kamar bu Ira, bo-boleh?"


"Di kamar bu Ira? Ti-tidak boleh, El. Saya yang temani kamu, oke? Saya ke sana sekarang."


Panggilan berakhir, dan Linda merenung.


"Dia mau menemaniku?" gumamnya.


Sepertinya kesabaran Agam Ben Buana dan Linda Berliana Briliant akan kembali diuji.


___