AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Satu Kamar? [Visual dan Gif]



Rasanya seperti mimpi manakala ia merasa benar-benar tidak ada artinya di mata seorang gadis. Bagaimana jadinya jika yang ia alami diketahui oleh teman-temannya? Bisa jadi akan di bully habis-habisan non stop 24 jam.


Main bersama teman, ternyata hanya akal-akalan Gama saja. Pada kenyataannya, ia memilih mematikan ponsel, lalu menepikan mobilnya di taman kota dan melamun. Ia sedang memikirkan ... apa ada yang salah dengannya? Kenapa Ice membencinya?


Bahkan untuk sekedar menjadi temanpun, sepertinya Ice sulit menerimanya. Lalu, apa yang akan ia lakukan untuk mengisi hari libur ini?


Hangout?


No, ia bosan.


Kencan?


No, tidak ada satupun kekasihnya yang menggemaskan dan semenarik Ice. Semuanya manja, matre dan menyebalkan.


Dan ada apa dengan Ice? Dia berusia 20 tahun, tapi kenapa imut dan menggemaskan sekali? Dia seperti bayi boneka Barbie, imut, lucu, dan cantik.


Saat melihatnya rasanya ... Gama ingin menguyel-uyelnya sepanjang hari, lalu menjadikannya boneka hidup yang bisa dibawa kemana-mana.


"Oh, Ice ... kenapa aku harus bertemu denganmu?" gumamnya sambil mendengarkan musik melalui headset, entah lagu apa yang didengarnya. Kemungkinan sih lagu galau.



Apa seperti ini rasanya tidak disukai?


Berbanding terbalik dengan perasaan sang kakak yang tengah bermekaran karena merasa dicinta oleh Linda, Gamayasa Val Buana sedang merasa ... sepi dan hampa.


Entah ada angin dari mana, ia kembali masuk ke dalam mobil dan berniat pergi ke rumah seseorang. Ke rumah siapa ya? Tentu saja ke rumah Ice.


"Terserah saja dia mau menerimaku atau tidak, pokoknya aku harus mendekatinya. Masa sih aku yang tampan ini ditolak? Yang benar saja," katanya saat mobilnya melesat meninggalkan taman dengan bayangan wajah baby face Freissya yang memenuhi isi kepalanya.


.


.


.


.


Namun apa yang ia dapatkan? Saat Gama tiba di tempat tujuan dan memarkirkan mobilnya di sisi gang, ia melihat Freissya atau Ice tengah berjalan berdua dengan seorang pria sambil bergandengan tangan.


Mereka terlihat akrab. Wajah Ice berseri-seri dan tampak ramah saat bercengkrama dengan pria itu. Mereka sepertinya tengah bersenda-gurau. Lalu Ice mencium tangan pria itu saat mereka hendak berpisah.


Dan pria itu mengacak-acak rambut Ice sebelum pergi dengan motornya. Motor pria itu sangat sederhana. Penampilan pria itu juga sederhana, memakai kaca mata, rambutnya tertata, tapi ... lumayan menarik dan rapi. Badannya proporsional.


Ice melambaikan tangan saat pria itu pergi. Gama mendekatkan mobilnya ke tempat Ice berdiri. Lalu turun tergesa.


"Kena kamu ya!"


Ia mengagetkan Freissya sampai gadis itu terlonjak.


"Kamu?! Ishh," dengusnya kesal.


Freissya menjauhi Gama dan berjalan cepat menuju sepedanya.


"Ice, mau kemana? Boleh aku ikut?" tanyanya.


"Mau kemanapun aku pergi bukan urusan kamu! Tidak boleh ikut!" sentaknya.


"Ice aku ingin berteman dengan kamu, bisa kan? Aku serius, mau ya?"


Freissya menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Gama.


"Dengar ya, aku sudah mengembalikan sapu tangan mahal milik kamu. Tidak ada lagi yang perlu kita bahas. Aku sudah tahu tujuan kamu mau berteman denganku yang miskin ini."


"Maksudmu? Tujuan apa? Aku tidak mengerti, Ice." Elak Gama.


"Tidak perlu berakting. Ingat ya aku tidak suka dengan buaya. Aku tidak mau jadi koleksimu seperti gadis-gadis itu. Lagipula aku sudah punya pacar," tegas Freissya.


Ia bahkan menuding dada Gama yang hampir mendekat. Lalu menaiki sepedahnya dan mengayuh dengan capat.


"Ice, kalau hanya kamu satu-satunya teman wanitaku, apa kita bisa berteman?" teriak Gama yang mematung menatap kepergian Freissya.


Awalnya ia ingin mengejar, tapi urung. Akhirnya ia kembali ke rumah sakit dengan wajah murung.


"Kenapa aku harus tertarik pada gadis yang tidak menyukaiku?" gumamnya.


...*...


...*...


...*...


...*...


"Presenter multitalenta sekaligus mantan penyiar berita stasiun televisi ternama berinisial LB, dikabarkan sudah melakukan pembohongan publik dengan memberikan keterangan palsu."


"Ternyata, LB hamil bukan karena diperkosa, namun karena kumpul kebo dengan seseorang yang disinyalir sebagai pengusaha kaya-raya. LB dan pengusaha itu dikabarkan telah tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. LB diduga menjual kecantikannya demi harta dan popularitas."


"Miris sekali, disaat ia telah mendapatkan simpati publik dan kontrak iklannya tidak diputus HGC, LB malah menyakiti publik dan para fansnya dengan kabar buruk dan memalukan seperti ini."


Sebuah tabloid online tiba-tiba muncul di pagi buta sekitar puku 02.00 dini hari ketika sebagian orang masih terlelap.


Dan Ayah Berli mendapat kiriman berita itu dari Hikam. Di malam kedua Ayah Berli menginap di rumah sakit menemani paman Setyadhi, ia ditelepon oleh Hikam.


Hikam mengatakan ia baik-baik saja, dan saat ini sedang berada di rumah seseorang yang ia sebut sebagai teman lama.


Alangkah terkejutnya Ayah Berli saat membaca kabar itu. Ia segera menemui Paman Yordan yang berada di kamar komite medik rumah sakit tersebut.


Ia tentu saja marah karena Agam Ben Buana ternyata tidak bisa melindungi putrinya dari berita-berita miring itu.


Berita itu juga sama sekali tidak melibatkan nama Agam, itu artinya orang yang menjadi narasumber berita ini faham benar jika Agam memiliki kekuasaan sehingga diperlukan nyali yang besar untuk melibatkannya.


"Ada apa, Pak?" tanya Paman Yordan.


Ia keluar sambil mengucek mata. Paman Yordan menginap di kamar ruang komite medik milik sahabatnya. Lusa, rencananya baru akan pulang setelah menyelesaikan beberapa agenda yang berhubungan dengan dunia militer kedokteran.


Ya, sambil menyelam minum air.


Selain datang karena permintaan Agam, ia juga ternyata ke negara ini untuk kunjungan khusus ke rumah sakit pusat penelitian nasional.


"Lihat ini, Dok. Anakku difitnah lagi! Bagaimana ini? Kenapa pak Dirut tidak bisa menjaga putriku?! Aku pikir dengan apa yang dia miliki dia bisa mencegah berita seperti ini terpublikasi!"


Napas Ayah Berli naik turun, wajahnya merah padam. Ya, ia marah besar.


"Sabar, Pak. Mari kita masuk. Aku akan menghubungi Ben."


Pada dering kedua, Agam langsung mengangkatnya. Agam memang belum tidur, saat ini ia justru sedang sibuk berdebat dengan Tuan Deanka dalam rangka membahas berita tersebut.


"Ya Paman ...."


Suara Agam terdengar lirih.


"Ben, kamu sakit? Ada apa dengan suaramu?"


"Ya Paman, saya sedang sakit."


Dan tanpa diduga, ayah Berli merebut ponsel Paman Yordan.


"Pak Dirut!" teriaknya.


Jelas, Agam di sana pasti kaget mendengar bentakan ayah mertuanya.


"Ayah?"


"Anda bagaimana sih?! Aku yakin Pak Dirut juga sudah tahu berita itu, kan?!"


"Ya, Ayah ... saya sudah tahu."


"Cepat lakukan sesuatu! Aku tidak rela lahir batin dunia akhirat putriku difitnah seperti itu."


Di sana Agam terdiam, suara Ayah Berli pastinya begitu memekik telinganya.


"Jangan sampai kasus ini membahayakan putriku. Anda kemana saja?! Kok bisa sampai kecolongan seperti ini?! Lagi-lagi putriku yang tersudutkan. Sedangkan Anda, posisi Anda justru baik-baik saja," teriaknya.


"Maaf Ayah, saya salah, saya lalai."


"Pak Berli." Paman Yordan mengusap bahunya.


"Ini, Dok. Cepat katakan sesuatu pada dia!"


Ayah Berli menyerahkan ponsel pada Paman Yordan dengan setengah dilempar karena emosi.


"Ben, Paman tahu kemampuan kamu. Benar apa kata Pak Berli, cepat bertindak, Ben. Jangan sampai berita itu terus beredar dan sampai ke telinga Linda."


"Ba-baik, Paman."


Panggilan berakhir.


...*...


...*...


...*...


...*...


"Tuan Muda, apa Anda yakin sudah mengamankan si Angga?!"


Agam yang ditubuhnya masih terpasang infus dan oksigen menatap tajam pada Deanka.


Tadi, setelah mendapatkan kabar berita itu dari Vano, Agam langsung menghubungi Deanka.


Wajah Agam sudah terlihat segar dan berseri. Tidak seperti tadi pagi dan sore hari yang terlihat pucat. Bibr tipisnya sudah kembali memerah alami. Kateter urinenyapun sudah dilepas. Siapa yang melepasnya? Rasanya tidak perlu dibahas.


"Kamu menyepelekan kemampuanku, Gam? Aku serius sudah memberi dia pelajaran. Dia sudah tanda tangan di atas materai dan menyatakan tidak akan mengganggu kehidupan kamu dan LB lagi. Dia juga sudah aku terbangan ke luar negeri," tegas Deanka yang saat ini hanya memakai celana pendek bermotif keropi di bawah lutut, tanpa memakai baju.


Bahkan tanda cinta yang terlihat baru tampak jelas menghiasi dada dan lehernya. Hmm, pelakunya pasti nona sultin, Aiza Bahira.


"Lalu siapa pelakunya kalau bukan si Angga?"


"Gam, jangan marah-marah, aku takut kamu mimisan lagi. Sekarang kamu pikirkan saja cara agar Linda tidak sampai tahu berita itu. Masalah penyebar berita itu dan tuntutan hukumnya, kamu serahkan saja pada Vano dan timnya."


"Tapi saya tidak bisa terus berpangku tangan seperti ini, Tuan. Saya harus pergi. Tolong bantu saya melepas infus," desak Agam.


"Jangan gila kamu Agam Ben Buana! Siapa bilang kamu berpangku tangan?! Kamu sakit! Kita sedang berikhtiar untuk kesembuhan dan kesehatan kamu," bentak Deanka.


Deanka mendekat, duduk di sisi Agam lalu memukul bahunya.


"Sabar, kamu sendiri yang selalu mengajariku untuk bersabar, ya kan? Tiga bulan lagi kamu mau menjadi papa. Apa tidak malu dengan calon anakmu? Aku juga empat bulan lagi akan menjadi papa, tidak sabar rasanya, Gam." Deanka berusaha menenangkan Agam.


"Linda akan dioperasi dua bulan lagi, Tuan. Dia tidak bisa hamil sampai cukup bulan." Suara Agam mulai mereda.


"Oiya ya, aku sudah dengar cerita itu dari dokter Fatimah. Sekarang kamu telepon pak Yudha, lalu pastikan pada pak Yudha agar LB tidak bisa mengakses media sosial, televisi, dan lain-lain. Oke?" Deanka memberikan solusi.


"Baik, tapi untuk besok saya benar-benar harus pergi, Tuan. Saya mau melanjutkan perawatan di rumah saja."


"Aku tidak bisa mengambil keputusan, Gam. Untuk masalah pemulihan kamu, aku sudah menyerahkannya pada dokter kepala."


"Saya merasa sudah sehat."


"Ya, kamu memang selalu begitu. Selalu saja merasa sehat. Gam, jaga tubuhmu. Jangan sampai saat tiba waktunya nanti kamu malah ngedrop."


"Waktu apa?!" Agam bingung.


"Waktu di mana kamu dan Linda diperbolehkan untuk bercinta, hahaha."


Agam memukul bahu Deanka. Ia tersenyum getir melihat deretan tanda cinta di tubuh Deanka.


"Banyak sekali," gumam Agam.


"Hahaha, ya dong. Aku yang meminta Gam. Yang inisiatif Aiza hanya dua. Sisanya sesuai pesananku, membentuk rasi bintang, hehehe," ucapnya dengan bangga.


Agam hanya tersenyum, lalu secepatnya menghubungi pak Yudha dengan perasaan harap-harap cemas. Khawatir pak Yudha tidak mengangkat teleponnya. Kalau pak Yudha tidak bisa dihubungi alternatif lainnya adalah bu Ira dan Gama.


Syukurlah, Pak Yudha masih terjaga.


"Assalamu'alaikuum, hallo Pak, ada apa?"


"Wa'alaikumussalaam, Pak Yudha, saya mau minta bantuan, tolong ambil lagi ponsel baru milik Linda, amankan dulu. Katakan saja saya yang menyuruh. Terus jangan ada yang menyetel televisi."


"Waduh, memangnya kenapa, Pak?"


"Ini tentang Linda, Pak. Ada berita yang beredar dan memfitnahnya. Saya khawatir kalau dia tahu bisa dia akan kepikiran, lalu membahayakan Linda dan calon bayi kami. Saya minta tolong Pak, tolong jaga Linda, jangan sampai terjadi apa-apa."


"Baik, Pak Agam. Lantas, Bapak pulangnya kapan? Kata dokter saat tadi visit malam, pagi ini sekitar jam 10 han, Bu Linda boleh pulang."


"Boleh pulang? Alhamdulillaah. Saya pulang secepatnya, Pak. Oiya, malam ini Gama tidur di mana? Suruh dia menyiapkan pesta kecil untuk menyambut kepulangan istriku dari rumah sakit. Pak Yudha juga beri pemahaman pada Gama dan Bu Ira, jangan sampai mereka membocorkan berita itu. Saya khawatir Gama membaca dan memberitahu Linda."


"Gama menginap di rumah sakit lagi, Pak. Seharian ini dia murung, seperti patah hati Pak. Makannya juga sedikit, sudah saya belikan makanan kesukaan dia, tapi katanya tetap tetap tidak berselera."


"Seperti patah hati? Apa Bapak yakin?"


Agam tidak percaya, karena setahunya Gamalah yang sering membuat para gadis patah hati.


"Baru dugaan, sih. Hehehe." Sahut Pak Yudha.


"Baik, itu saja Pak Yudha. Terima kasih." Agam mengakhiri panggilan.


.


.


.


.


"Agam!" teriak Deanka.


"Ya, Tuan. Ada apa? Saya kaget."


"Tadi kamu bilang pada Pak Yudha untuk menyambut kepulangan istriku dari rumah sakit. Maksudmu apa, hahh? Apa kamu dan Linda sudah menikah?" selidik Deanka dengan manik hazelnya yang menatap tajam.


"Emm, be-begini, Tuan. Sa ---."


"Benar sudah menikah? Kenapa kamu merahasiakannya dariku?!" Deanka terlihat kesal.


"Dengarkan saya dulu, Tuan. Ceritanya panjang, apa Anda yakin mau mendengarkan?"


"Yakin, lah. Cepat ceritakan."


Agam menghela napas, ia sedikit bingung untuk memulainya dari mana. Tapi ... sebagai sahabat sejatinya, Deanka memang harus tahu.


"Begini ...."


Agam menceritakannya seperti rumus luas persegi panjang, panjang kali lebar.


Deanka menyimak dengan seksama sambil beberapa kali berdecak, ia juga sempat berkaca-kaca saat Agam bercerita tentang baju pengantin dan ruang ICU.


"Nah, begitulah ceritanya, Tuan."


"Pak Dirut," Deanka berhambur memeluk Agam.


"Selamat ya kawan. Dramatis sekali ceritamu, Gam. Aku terharu sekaligus turut bahagia. Semoga pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan."


"Aamiin, terima kasih, Tuan Muda."


"Ngomong-ngomong, apa sudah malam kedua?" tanya Deanka setelah puas memeluk Agam.


"Ma-maksudnya?" Agam melongo.


"Halah, sok polos kamu Gam. Malam pertamanya kan sudah saat kamu memperkosa dia, ya kan?"


"Ya ampun Tuan. Sudah lah, jangan membahas itu."


Agam memilih merebahkan diri dan bersembunyi di bawah selimut.


"Hahaha, maaf, aku tahu kamu pasti mau sekali, kan? Tapi sayang kandungan istrimu lemah. Belum lagi nanti sehabis operasi kamu harus menunggu masa nifas dulu, perjalanan kamu masih panjang untuk sampai di titik itu, Gam. Sabar ya."


"Itulah alasan kenapa aku dan Aiza sering olah raga bersama. Alasannya ya untuk menabung kegiatan mengasyikan itu. Setelah Aiza melahirkan, aku kan harus berpuasa," ocehnya.


"Terserah Anda, Tuan. Apa Tuan bisa keluar?" usir Agam. Serius, ocehan Deanka membuatnya tidak nyaman.


"Hei, berani sekali kamu mengusirku, ini rumahku Gam."


"Hmm, oke oke, silahkan Anda cerita sampai puas. Akan saya anggap sebagai dongeng sebelum tidur."


Agam menyerah. Ia membiakan Deanka bercerita sesuka hatinya.


Akhirnya ... sambil mendengarkan Deanka bercerita, Agam mencoba memejamkan mata setelah memastikan pengacara Vano dan tim sudah bergerak cepat guna memblokir berita itu, dan melakukan somasi pada media yang pertama kali menyebarkan berita tersebut.


Harapnya, semoga besok kadar haemoglobinnya mencapai batas minimal 9 gram %, diperbolehkan pulang oleh dokter kepala, dan bisa segera bertemu dengan dia yang cantik, Linda Berliana Briliant.


"Tuan ...," sapa Agam saat ia tidak mendengar lagi ocehan Deanka.


Dan ....


Saat Agam melirik ke sofa, Deanka sudah tertidur.


Agam tersenyum sambil menepuk keningnya sendiri. Deanka ternyata bercerita untuk meninabobokan dirinya sendiri. Karena Agam yang menjadi pendengar justru masih tergaja.


Lalu Agam mengirim pesan pada Aiza.


"Nona Aiza, mohon maaf mengganggu. Tuan Deanka tidur di klinik. Tidak perlu mencari atau mengkhawatirkannya. Anda tidur saja, semoga tidur Anda nyenyak walaupun tanda Tuan Muda."


...*...


...*...


...*...


...*...


Dekorasi elegan dan prasmanan sederhana untuk menyiapkan kepulangan Linda telah rampung. Gama melakukan tugasnya dengan baik. Sebenarnya bukan Gama yang melakukannya.


Lalu siapa? Ya bayar orang lah.


Gama sampai izin tidak masuk sekolah demi tugas ini. Walaupun ia masih kesal pada Agam, tapi apalah daya, saat ini posisinya masih lemah. Bagai langit dan bumi jika ia dibandingkan dengan Agam.


Benar, Agam memiliki semuanya. Sedangkan Gama? Gama merasa jika ia hidup mewah dan bergelimang harta karena adanya belas kasih dari Agam.


Bukan Gama namanya kalau tidak iseng. Tanpa meminta izin dari Agam ataupun Linda, ia memindahkan barang-barang milik Linda ke kamar Agam.


Saat Agam atau Linda marah dan bertanya, Gama sudah memikirkan jawabannya. Ia akan mengatakan sengaja memindahkan kamar agar Linda tidak trauma. Lalu akan mengajak Agam untuk tidur bersama di kamar miliknya.


Ya, sampai saat ini, Gama belum tahu jika Linda sudah mengetahui status pernikahannya dengan Agan. Namun ia sengaja melakukan itu untuk menjahili dan menguji kesabaran kakaknya.


"Aku mau tahu, apa kakak bisa tahan melihat kak Linda? Secara, kakak ipar itukan cantik dan seksi. Hahaha."


Gama tertawa seorang diri sambil menatap jam dinding.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12.11. Namun kakak iparnya tak kunjung pulang, dan kakak kandungnya sudah dua hari dua malam tidak jelas rimbanya.


Tim dekorasi dan yang menyiapkan prasmanan telah pulang. Tinggalah Gama seorang diri di rumah mewah itu.


Kesendirian ini membuatnya kembali teringan pada Ice. Gama masih penasaran. Setelah ada kesempatan, ia berniat akan kembali berkunjung ke rumahnya.


.


.


.


.


Akhirnya yang dinantipun tiba. Linda, Pak Yudha dan Bu Ira telah datang.


Namun sayang, wajah Linda murung. Ia sama sekali tidak peduli dengan dekorasi lucu yang menyambutnya. Linda juga tidak berselera saat Bu Ira menawarkan beberapa kudapan padanya.


Linda terus menggelengkan kepala, dan memilih untuk naik ke kamarnya. Ia kaget saat kamarnya terkunci.


"Hehehe, kamar kakak ipar sudah aku pindahkan," ucap Gama.


"Maksudmu? Dipindahkan kemana? Jangan bercanda Gama." Linda kesal.


"Emm, kamar kakak ipar pindah ke kamar kak Agam."


"Apa?! Kenapa? Lalu dia nanti tidur di mana?" tanya Linda.


"Hahaha, di hatimu," jawab Gama sambil terkekeh.


"Bu Lindaaa," terdengar teriakan Bu Ira dari lantai satu.


"Pak Agam pulang," sayupan suara dari Bu Ira membuat Linda mematung, kaget, dan ... senang.


Deg, jantungnya langsung meronta, dan pipinya seketika memerah.


"Cieee ... ada yang mau satu kamar," goda Gama.


Satu kamar?


___


...❤...


...❤...


...❤...


Mungkinkah ada yang rindu atau penasaran dengan Tuan Deanka? Nah, ini dia orangnya. Ini saat Tuan Deanka seusia Gama.



Nah ini versi terbarunya setelah menikah dengan Aiza. Semakin aduduh saja ya Tuan Deanka. Sama seperti pak Dirut, Deanka juga rajin berolahraga dan menjaga penampilan. Bagaimana Aiza tidak pasrah kalau penampilan suaminya se uhhuy ini?



Kalau ini Aiza Bahira. Usianya saat ini 19 tahun. Tuan Deanka dan Nona Aiza memang terpaksa menikah di usia muda karena sebuah tragedi.


Untuk yang sudah membaca Bukan Darah Biru, dijamin pasti senyum-senyum saat ingat lagi bagaimana Aiza dan Deanka bisa menikah.




...❤...


...❤...


...❤...