
"Kami sudah menjamin seluruh fasilitas Anda, Tuan Yasa! Tolong jangan membuat kami cemas!" bentak seorang polisi pada Gama.
Gama sudah berada di markas BRN. Malam-malam, dia datang dengan sendirinya. Di saat anggota kepolisian yang ditugaskan menjaganya masih sibuk mencari.
"Maaf, aku hanya bosan, itu saja," kata Gama.
"Kemana Anda pergi? Ada anggota yang datang ke rumah Anda, tapi Anda juga tidak ada di sana," tegasnya lagi sambil memeriksa Gama dari rambut hingga ujung kaki. Bahkan sepatu dan kaus kaki Gama pun tak luput dari pemeriksaan.
"Aku hanya jalan-jalan di sekitar sini, mencari vitamin, emm ... maksudku mencari udara segar."
"Stock vitamin dan kebutuhan gizi Anda sudah cukup Sultan, vitamin apa yang masih kurang?" tanya yang lain. Polisi yang ini sedang membuka baju Gama dan mengecek tubuhnya.
"Vitamin C," jawab Gama, spontan.
"Nanti saya akan ajukan ke pimpinan untuk mengecek kadar vitamin di tubuh Anda," tegas polisi yang dari tadi hanya duduk dan memperhatikan.
"Tolong jangan seperti ini lagi Sultan, kalaupun Anda mau kabur, ya boleh saja, tapi jangan mematikan cip signal yang sudah kami pasang di tubuh Anda. Kami sebenarnya stres menjaga Anda. Anda adalah satu-satunya anggota yang bisa mematikan sistem pelacak, kalau Anda tidak kembali, kami bisa mati."
"Hmm, aku tidak mematikan signal," sanggah Gama, santai.
"Jangan berbohong Sultan. Eh tunggu, bibir Anda lecet begini? Bengkak juga, kenapa?" Polisi yang baru menyadarinya terlihat kaget. Yang lainpun akhirnya ikut-ikutan mengecek.
"Aku alergi," jawab Gama.
"Alergi? Alergi apa?"
"Ah sudahlah, itu tidak penting, aku ingin segera istirahat, permisi." Gama berlalu.
"Sultan Yasa, tunggu!"
"Pak, aku mohon, malam ini cukup ya, aku lelah. Atau aku akan mematikan seluruh sistem keamanan yang ada di ruangan ini," tegas Gama.
Para polisi itu saling menatap.
"Ya sudah, yang penting Sultan Yasa telah kembali," kata salah satu dari mereka.
.
.
.
.
"Apa perlu kita lapor pimpinan?"
"Saya rasa tidak perlu, jika kita lapor, kita yang rugi. Kita pasti dianggap tidak becus menjaga dia. Lebih baik ini menjadi rahasia kita saja."
"Siap!"
...❤...
...❤...
...❤...
Di kamar asrama BRN, Gama melamun, entah apa yang ia pikirkan. Gama menatap langit-langit kamar, lalu sesekali tersenyum, sambil menggerakkan kedua kakinya seperti bayi mengamuk.
"Anda kenapa, Sultan?" tanya mesin.
"Rahasia," jawab Gama.
"Saya mendeteksi jika tubuh Anda sedang memproduksi zat kimia feromon."
"Jangan sok tahu! Diam kamu!"
Dan sampai saat ini, Gama masih berusaha agar robot bawel yang terpasang di saluran interkom itu bisa ia non aktifkan. Namun belum berhasil.
...❤...
...❤...
...❤...
"Ini pil kontrasepsi darurat, Bu. Setelah diminum, efeknya akan pusing dan mual," jelas dokter.
"Pusingnya tidak lama, kan?" tanya Agam.
"Bagaimana respon tubuhnya, Pak. Berbeda-beda," terang dokter.
Tadi sore, bu Ana pulang dari rumah sakit. Namun kata bu Ana, Yuli akan datang menemani. Agam ingin menolak, tapi lagi-lagi, Linda melarang Agam berlaku semena-mena pada Yuli. Karena kata Hikam, gadis itu yatim piatu. Yuli juga memiliki banyak adik yang perlu dibiayai.
"Sayang, dia ceroboh, kamu sakit gara-gara dia salah mengambil tas," protes Agam setelah dokter meninggalkan kamar perawatan.
"Pak, aku yakin ini ketidaksengajaan. Dia tidak mungkin sengaja menukar tas yang aku siapkan. Lagipula, masalah pembengkakan ASI itu sudah selesai, kan?" kilah Linda.
"Ehm, baiklah, terserah kamu. Tapi, jika dia melakukan kesalahan lagi, saya ingin dia dipecat."
"Pak Agam, rumah itu atas nama ayah dan ibuku, kan?"
"Iya."
"Berarti, yang berhak memecat pekerja di rumah itu ayah atau ibuku, kan?"
Agam tidak menjawab, hanya menghela napas sambil memijat kening Linda.
"Ya sudah, kita jangan bahas dia ya, saya takut kita berselisih faham gara-gara dia. Bagaimana, apa sekarang sudah terasa pusing?" tanya Agam.
"Belum Pak," jawab Linda, tersenyum. Jadi teringat lagi akan semua hal yang telah mereka lewati selama berada di villa.
Walaupun Agam mengelak dan tidak mengakui dirinya sebagai bagian dari keluarga Haiden, tapi dalam hal kebutuhan biologis, Linda bisa menarik kesimpulan jika Agam Ben Buana sebelas dua belas dengan keluarga Haiden.
"Kenapa senyum-senyum sayang?"
"Tidak apa-apa." Perlahan Linda duduk, lalu memainkan ponselnya.
"Oiya Pak, bagaimana kabar ibu?" Linda menanyakan kabar ibu mertuanya.
Agam menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Linda.
"Setelah saya keluar dari BRN, kata ibu sudah tidak ada lagi yang mengancamnya, jadi kemungkinan ibu akan segera pulang."
"Apa dari awal ibu tahu kalau Bapak anggota BRN?"
"Ya, untuk masalah saya ibu tahu, tapi ibu belum tahu kalau paman Yordan merekrut Gama menjadi kandidat anggota BRN."
"Tapi ibu tahu kan kalau aku sudah melahirkan?"
"Tentu saja sayang, hampir setiap hari saya mengabari perkembangan kamu dan Keivel."
"Ibu masih sibuk bisnis sarang burung walet?" Linda penasaran.
"Masih lah sayang, walaupun saya sudah melarang ibu bekerja, tapi ibu bersikukuh. Kata ibu, bisnis sarang burung walet itu warisan dari nenek moyang saya, jadi tidak bisa ditinggalkan. Keluarga saya sudah merintis usaha itu jauh sebelum ayahku menjadi pengawal tuan Bahir dan mendirikan The Purple."
"Oooh," Linda manggut-manggut, faham.
"Oiya sayang, ada yang ingin saya bicarakan. Sepertinya sekarang waktu yang tepat, selagi tidak ada siapa-siapa selain kita." Agam terlihat serius, menarik kursi dan duduk menghadap Linda.
"Boleh."
Linda mendekat. Jantung Linda langsung meronta, posisi berhadap seperti ini membuatnya dejavu. Selain itu, dari jarak dekat, Agam terlihat lebih tampan.
Sejenak keduanya saling menatap dan tersenyum.
"Cantik," gumam Agam.
"Te-terimakasih," Linda jadi gugup, merasa tersanjung, tapi ... malu.
.
.
"Begini sayang, maaf kalau masalah ini sedikit mengagetkanmu. Dulu, sebelum keluarga Haiden terungkap menipu publik, apa kamu pernah merasa mendapat tugas penting dari redaksi TV KITA?"
Walaupun Linda istrinya, mimik Agam saat bertanya sangat serius. Tangannya dilipat di dada, menatap tajam pada Linda. Sontak Linda menunduk, pantas saja jika selama ini Agam selalu disegani seluruh rivalnya. Vibesnya sangat mendominasi.
"Aku tidak bisa mengatakannya Pak, biar bagaimanapun, pada saat itu aku adalah seorang jurnalis. Aku harus berpegang teguh pada kode etik jurnalistik."
"Kamu melakukan wawancara ilegal, apa kamu tahu? Kamu pura-pura menjadi sosok lain saat melakukan wawancara, kamu juga menggunakan identitas palsu dengan nama Briliant, bukan sebagai LB, masih mau mengelak?" desaknya. Kali ini sambil mengangkat satu alisnya dan memicingkan mata.
"Apa? Maaf ya Pak Agam Ben Buana yang terhormat, saat itu aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan. Aku sudah bertindak secara independen, akurat, berimbang, dan tidak memiliki itikad buruk!"
"Sebagai jurnalis, aku tahu harus profesional. Saat itu, aku sudah menunjukkan identitas asliku, menghormati hak dan privasi narasumber, dan tidak menyuap narasumber."
Agam menyimak, menikmati pergerakan bibir Linda saat berbicara.
"Berita yang aku sajikan faktual dan jelas sumbernya, tidak plagiat ataupun menggunakan cara-cara tertentu. Bahkan hasil wawancara yang aku dapatkan pernah menjadi bahan pertimbangkan di persidangan untuk dijadikan bahan investigasi pada kasus-kasus pidana dan korupsi," tegas Linda
"Sayang, tenang dulu, ini tentang wawancara dimana kamu menggunakan identitas sebagai Briliant."
"Pak Agam, Briliant kan namaku, ada yang salah?!" sentak Linda.
"El, kamu dikambinghitamkan oleh TV KITA, mereka memalsukan identitas kamu. Apa kamu tidak curiga saat mereka menyuruhmu memakai wig?"
"Curiga? Pak Agam, wig itu aksesoris, apa salahnya kalau aku menggunakan wig?"
"El, saat kamu melakukan wawancara, kamu belum mengantongi izin."
"Cukup Pak Agam, cukup! Kenapa masalah ini dibahas lagi? Aku sudah berhenti jadi jurnalis, itu masa lalu, aku tidak mau terlibat lagi," ketusnya.
Linda merajuk, ia berpikir Agam tidak tahu menahu tapi malah menyalahkannya.
Padahal, pada saat itu Linda hanyalah seorang bawahan yang diperintah atasan untuk melakukan wawancara, masalah menggunakan wig, ia berpikir itu adalah hak penata rias yang kebetulan disetujui olehnya.
"Jangan marah sayang."
Agam melembut, berpikir dua kali. Jika Linda marah lalu tidak memberinya yang indah dan menakjubkan itu, bagaimana? Ia bisa gila mendadak.
"Begini saja sayang, saya mau datanya, apa boleh?" Sambil merentangkan tangan. Berharap Linda berhambur ke pangkuannya.
"Data apa?" Masih ketus.
"Data hasil wawancara kamu, atau kamu sebutkan saja, kamu mewawancara siapa saja?"
"Ck ck ck, mau Pak Agam apa sih sebenarnya? Aku tegaskan ya Pak, aku sudah tidak bekerja lagi di TV KITA, jika Bapak mau data itu, kenapa tidak langsung ditanyakan saja pada redaksi TV KITA?"
Linda kian kesal, menepis tangan Agam yang akan memeluknya, lalu mengurung diri. Menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.
"El, kata redaksi TV KITA, ada data yang belum kamu berikan, mungkin maksudnya data rekaman hasil wawancara itu." Agam malah mendekat, merebahkan diri di samping Linda.
"Sempit, awas," Linda mendorong bahu Agam. Tapi yang didorong tidak bergerak satu incipun.
"Linda, saya serius," Agam akhirnya memaksa. Menarik selimut Linda. Lalu mengungkungnya.
"Pak Agam, a-aku pasien, jangan main-main ya," Linda meronta.
"Sayang, saya serius di mana hasil wawancara itu?" desaknya lagi. Mencekal tangan Linda. Diletakan di disi kepala Linda.
"Pak ... a-aku sudah memberikan semuanya pada kepala redaksi melalui manajerku," terang Linda.
"Maksudmu pada Bagas?"
"Ya, Pak."
Agam menghela napas.
.
.
"Sayang, kepala redaksi TV KITA belum menerima data itu, dan ada masalah lain. Salah satu narasumber yang kamu wawancara, saat ini sedang melaporkan jurnalis bernama Briliant atas dugaan wawancara ilegal, dan penipuan," terang Agam.
"A-apa?!"
Si cantik baru tersadar. Bibirnya terbuka karena kaget. Agam tidak menyiakan kesempatan, segera dilahap selagi terbuka.
"HMPHH ...."
Linda memukul bahu Agam. Langsung protes setelah Agam melepaskannya.
"Pak Agam!"
"Hahaha, terima kasih sayang," godanya. Sama sekali tidak merasa bersalah.
"Pak Agam aku panik, bisa-bisanya Bapak santai, kalau aku sampai dipenjara bagaimana?" Linda kembali kesal.
"El, saya tidak akan tinggal diam, saya dan Vano sedang berusaha untuk mengatasi masalah ini. Kuncinya berarti ada di teman kamu yang tak tahu malu itu, Bagaaas! K u r a n g a j a r!" geramnya.
Agam mengepalkan tangan, saking kuatnya, urat nadinya sampai terlihat menyembul bak kawat.
"Pak Agam, Bagas belum tentu salah, jangan terlalu keras, dia temannku, dia punya dua anak yang masih balita, jangan dilebih-lebihkan," bela Linda.
Sedari dulu, saat istri Bagas menjahatinya, Linda memang selalu membela Bagas. Rumah Bagas bahkan tidak jadi disita karena Linda memikirkan kehidupan anak-anak Bagas.
"Ya ampun sayang."
Agam menatap istrinya. Salah satu kelemahan Linda, pikirnya. Istrinya itu terlalu baik dan setia kawan. Padahal, Bagas jelas-jelas telah menipunya tapi tetap saja dibela.
"El," memegang tangan Linda.
"Mari kita hadapi bersama-sama, sebenarnya bukan kamu saja yang sedang menghadapi masalah hukum, saya juga," jelas Agam.
"Sayang, kamu masih ingat kan saat saya menembak ban mobil itu?"
"Em, ya a-aku ingat." Linda menunduk, mengingat kembali kejadian itu.
"Kemarin, saya baru saja dapat surel dari Vano kalau penyidik sudah mengetahui identitas pemilik proyektil itu. Hasil tes DNA jenazah yang terbakar juga sudah diketahui, penyidik hanya perlu menunggu paman Setyadi sadar."
"A-apa?" Linda kembali kaget.
"Terus mereka sudah tahu kalau proyektil itu milik Pak Agam?"
"Untuk sementara belum sayang, yang mereka tahu proyektil itu milik anggota BRN, hanya itu. Setelah dilakukan penyidikan lebih lanjut, ya bisa jadi. Maksudnya, identitas pemiliknya akan terbongkar, dan saya kemungkinan jadi tersangka," ungkapnya seraya tersenyum.
"Serius? Kenapa Pak Agam bisa setenang ini? Kenapa malah asyik-asyik bersamaku? Cepat lalukan sesuatu Pak, aku tidak mau Bapak dipenjara, terus aku bagaimana? Kasusku bagaimana?"
"Asyik-asyik katamu? El, saya mengambil cuti panjang ya supaya bisa quality time bersama kamu dan Keivel. Masalah kasus ya kasus, tidak ada urusannya dengan kewajiban saya sebagai seorang suami," tegasnya.
"Oke, Bapak mungkin bisa tenang, tapi aku jadi kepikiran," Linda gusar.
Kembali bangun, kali ini melamun, memeluk lututnya.
"Sayang, jangan khawatir, sekarang kamu memiliki saya. Kita memiliki tim kuasa hukum yang handal. Saya yakin kita bisa melewatinya. Mau dipeluk?" tanyanya.
Sama sekali tidak ada raut kekhawatiran di wajah Agam.
Ya, selama ini, Agam memang sering terjerat kasus. Tapi, selalu lolos. Namum tidak tahu dengan kasus ini. Sebab, ini baru pertama kalinya Agam terlibat kasus yang mengakibatkan korban jiwa.
"Tidak mau," kata Linda.
"Apa mau dicium lagi?"
"Aku lagi merenung, Pak. Jangan diganggu."
"Apa kita bercinta saja?" goda Agam.
Langsung dibalas lemparan bantal oleh Linda. Tak habis pikir karena Agam bisa setenang itu.
"Sayang, kita berada di pihak yang benar, kamu hanya dimanfaatkan, dan saya juga menembak karena merasa terancam, sudah ya jangan dipikirkan. Selain itu, belum tentu juga kalau kebakaran itu terjadi akibat bannya tertembak. Setahu saya, ban yang saya tembak masih utuh," jelas Agam.
"Tapi ... bagaimana kalau aku atau Pak Agam dinyatakan bersalah?"
"Kita banding."
Lagi, Agam menenangkan Linda.
"Kemari sayang, dada saya bisa kamu gunakan untuk mencari ketenangan dan kenyamanan," katanya. Seraya menarik Linda ke dalam dekapan.
"Huuks."
Sebagai sebagai wanita yang kodratnya berhati lembut, wajar jika Linda menangis.
.
.
Saat mereka masih berpelukan, bel menyala. Agam membuka pintu dengan sedikit malas. Ia tahu siapa yang akan datang.
"Masuk," ajak Agam. Lalu memalingkan wajah.
Wanita bernama Yuli segera masuk dengan gaya yang menurutnya paling anggun.
"Jaga istri saya, saya mau pergi sebentar," ujar Agam.
"Mau ke mana, Pak?" panggil Linda.
"Saya mau beli buah-buahan sayang."
"Hati-hati," kata Linda.
Agam berbalik lagi ke tempat tidur demi menyalami Linda. Tak cukup bersalaman, Agam juga menyambar bibir Linda. Tak peduli walaupun Linda meronta dan menolak karena ada Yuli.
"Permisi sayang," berlalu dengan seringai puas di wajahnya.
Yuli mematung. Lagi, ia membayangkan jika yang dicium tadi adalah dirinya.
"Yuli, maaf ya, oiya kemari. Jangan melamun," sapa Linda.
"Ya, Bu. Apa ada yang bisa saya lakukan?" tanyanya.
"Em, apa ya?" Linda mengetuk-ketuk ujung dagunya dengan telunjuk. Sedang berpikir.
"Saya bisa memijat, Bu? Apa Bu LB mau dipijat?"
"Wah, ide bagus. Boleh, kamu cuci tangan dulu ya," Linda sumringah. Segera memposisikan diri.
Yuli terlihat senang.
"Bajunya harus dibuka, Bu. Nanti kan saya akan pijat punggungnya. Sisakan pakaian dalam saja," kata Yuli.
"Ehm, aku mau dipijat kaki dan tangan saja, Yul. Kalau buka baju malu, hehehe," Linda tersipu, ia takut tanda cinta dari Agam terlihat oleh Yuli.
"Ayolah Bu LB, tidak apa-apa saya akan jaga rahasia, kok."
"Hahaha, aku percaya, tapi cukup kaki datang saja ya."
"Baik lah, Bu LB tengkurap ya. Oiya, saya punya minyak khusus, pakai minyak dari saya ya Bu."
"Mana? Coba lihat," kata Linda.
Sebagai mantan artis, pastinya Linda tidak akan sembarangan mengolesi tubuhnya dengan produk asing.
"Maaf ya Yuli, aku mau pakai lotion yang biasa aku pakai saja, nah ini dia." Linda mengambil lotion itu dari tas kecilnya. Dan entah kenapa Yuli seperti kecewa.
.
.
Yuli tertegun saat mulai memijat kaki Linda. Jika wanita saja mengakui keindahan Linda, bagaimana dengan pria?
Yuli kembali iri. Ingin rasanya melukai kaki Linda dan meninggalkan noda di sana. Kalau bisa noda yang tidak bisa hilang.
"Yul?" sapa Linda.
"Eh, iya Bu. Maaf." Lanjut memijat.
Lama dipijat, Linda akhirnya tertidur jua.
"Bu LB, Bu LB," Yuli memanggilnya. Namun tidak ada sahutan.
Pada saat itulah Yuli mengambil ponselnya dan diam-diam memotret tubuh Linda. Perempuan itu bahkan menyingkap perlahan baju Linda, lalu memfotonya berulang kali dari beberapa posisi.
.
.
Saat mendengar suara Agam memberi salam, ia segera merapikan baju Linda, memasukan ponsel di ke sakunya, lalu kembali memijat kaki Linda, tidak membukakan pintu untuk Agam.
Agam berjalan pelan saat tahu Linda sedang tidur. Ia memasukan buah-buahan ke dalam kulkas tanpa mengatakan apapun. Lalu duduk di sofa dan memainkan ponselnya.
"Gama kabur dari sekolah, padahal dijaga polisi. Katanya, dia menonaktifkan cip pelacak yang terpasang di tubuhnya." Ada pesan dari Vano.
"Bagus, semakin banyak dia melanggar, maka kemungkinan dia lulus akan semakin kecil," balas Agam.
"Tapi, Pak. Polisi yang menjaga Gama, tidak melaporkan pelanggaran itu pada pimpinan BRN. Jadi, pak Ketua belum tahu."
"Begini saja Vano, coba kamu jebak dia."
"Caranya?"
"Libatkan gadis itu, maksud saya Freissya."
"Baik," balas Vano.
"Semoga berhasil Vano. Pokoknya, kamu harus gagal jadi anggota BRN," gumam Agam.
"Pak Agam, maaf ... apa Bapak mau dipijat juga?" tawar Yuli.
Ia turun pelan dari tempat tidur, lalu menghadap Agam sambil menunduk, memainkan ujung baju.
"Boleh juga," kata Agam.
Dan gadis itu langsung sumringah. Apalagi saat Agam bangun dan mendekat ke arahnya.
"Kamu lumayan cantik," gumam Agam. Tersenyum pada Yuli.
"A-apa?" Yuli gelagapan.
"Ssst, jangan berisik nanti istri saya bangun," goda Agam.
Yuli kian tertegun. Lalu Agam berbisik di telinga Yuli.
"Pijat tubuh saya di kamar mandi, kalau di sini, takut ada suster atau dokter," bisiknya.
Mata Yuli mengerjap. Benar ternyata, antek Haiden itu gila wanita. Yuli tersenyum, lalu menggigit bibirnya dan menatap Agam dengan tatapan tak biasa.
"Cepat," gumam Agam, pria itu berjalan ke kamar mandi. Yuli menyusul dengan hati berbunga-bunga.
Duduk di sini ya, saya mau mengambil sesuatu," kata Agam, sambil meraba pelan pinggang Yuli. Yuli terpukau, spontan menyingkap roknya, berharap Agam melihat dan tergoda.
"Pejamkan matamu," perintah Agam.
Yuli memejamkan mata, lalu dengan gerakan sensual, ia menarik kembali roknya agar semakin ke atas.
"Pak ...," panggilnya, lirih.
Tapi, tidak ada sahutan.
Tik, tok, tik, tok, tik, tok.
Enam detik berlalu, tidak ada yang terjadi. Akhirnya, Yuli membuka matanya.
Dan ....
Tidak ada siapapun di kamar mandi itu.
"Pak Agam ke mana?"
Wanita itu celingak-celinguk, sembari merapikan kembali roknya.
Lalu berjalan dengan perasaan bingung menuju pintu kamar mandi.
'Klak.'
"S i a l!" umpatnya.
Pintu kamar mandi terkunci dari, Yuli termakan jebakan.
"Ya ampun, bagaimana, ini?"
Dan ....
Nyamuk kecil itu kembali kaget, tubuhnya gemetar ketakutan.
"HP-ku?" Yuli kaget saat menyadari ponselnya raib dari saku.
Tubuhnya langsung merosot bersimpuh di lantai.
Sementara itu Agam Ben Buana tengah menahan amarah, rahangnya mengerat.
.
.
"J a l a n g kecil itu rupanya masih belum tahu siapa saya! Berani sekali dia mencuri foto istriku, dan menggodaku!"
Agam geram. Ia akan menyita ponsel Yuli sebagai barang bukti. Ternyata, Agam memergoki pergerakan mencurigakan Yuli saat menyimpan ponsel ke sakunya.
Agam gitu, lho. Yuli cari mati. Ia menggali kuburannya sendiri.
Untuk meredam kemarahan, Agam naik ke tempat tidur, lalu memijat Linda. Yang dipijat kian terlelap, tapi ... segera terbangun saat tangan Pak Dirut mulai tidak terkontrol.
"P-Pak Agam? Yu-Yuli mana? Aku kan tadi dipijat dia."
"Saya tidak tahu sayang," gelagat Pak Dirut mencurigakan, seperti menginginkan sesuatu.
"Pak Agam, ini di rumah sakit. A-aku belum pulih."
"Ini sudah malam sayang, dokter tidak akan ke sini. Lagipula pintunya sudah saya kunci."
"Pak, Yuli di mana?" Linda bertanya lagi.
"Dia tidur di ruang tunggu." Maksud saya di kamar mandi, sayang. Lanjut Agam dalam batinnya.
"Pak Agam, jangan ... besok saja di kamar kita. Serius, belum pulih Pak," ratap Linda.
"Saya akan percaya kalau sudah mengeceknya."
"Hah, apa? Ja-jangan, Pak ... jang ---."
...~Tbc~...