
"Momca dan Paren tidak akan lama-lama kok, hanya semalam. Besok pulang lagi. Keivel baik-baik sama dokter dan suster ya."
Linda dan Agam berpamitan pada putranya. Saat ini, Alf berada dalam dekapan Agam, mata bayi yang menggemaskan itu sedang menatap Agam sambil mencucukan bibirnya. Agam senyum-senyum, sangat bersyukur karena Keivel tumbuh sehat dan sempurna.
"Pulangnya, nanti Paren bawakan oleh-oleh," lanjutnya. Menciumi bayi Alf dengan sepenuh hati.
"Ini kotak obat dan kotak P3K-nya, Pak. Saya simpan di bagasi ya," kata seorang suster.
"Ya, terima kasih," sahut Agam.
"Tunggu, ini mobil siapa? Apa aku tidak salah lihat? Pak Agam, bukannya kita mau sewa mobil?"
Linda memperhatikan surat-surat kelengkapan mobil yang diberikan oleh Ayah Berli kepadanya. Di situ tertera jelas jika pemilik mobil atas nama ayahnya.
"Pak Dirut membelikan mobil ini untuk Ayah. sudah Ayah tolak, Nak. Tapi malah diambil dari showroom oleh Hikam."
"Pak Agam, kenapa tidak meminta pendapatku dulu? Aku juga bukannya tidak bisa membelikan mobil pada Ayah, bisa kok sebenarnya, tapi untuk apa?" Linda kesal, wajah cantiknya cemberut.
"Oke, maaf sayang kalau kamu tidak suka, besok kita jual lagi. Tapi sekarang bisa kita gunakan, kan?"
"I-iya juga sih," kata Linda. Ia tersenyum sambil mencebikkan bibirnya.
Sok sederhana, sok bijaksana. Batin Yuli. Ia sedang memasukkan barang-barang yang akan dibawa oleh Linda ke dalam bagasi.
"Nah begitu dong sayang, jangan langsung marah," sahut Agam sembari mencium pipi Linda di hadapan banyak orang. Yang tidak tampak hanya Yolla, Yolli, dan Hikam.
"Uhhuy," seru dokter Rita. Mencubit bahu suster, melihat kemesraan Agam dan Linda, hatinya turut berbunga-bunga.
Ayah Berli dan Bu Ana tersenyum. Ketakutannya pada Agam sedikit demi sedikit menguap jua.
Kasihan sekali kamu Pak Agam, Ayah LB pasti memakai pengasih supaya anaknya disukai oleh orang kaya dan pejabat.
Lagi, Yuli menebar fitnah dan sekam di benaknya. Hati ART ini ternyata busuk. Apa mungkin dia haters LB? Entahlah.
"Yuli, perlengkapan Linda tidak ada yang tertinggal, kan? Kamu cek lagi ya, aku mau siapkan bekalnya," kata Bu Ana.
"Baik, Bu. Sepertinya semuanya sudah lengkap," jawab Yuli sambil tersenyum hormat pada Bu Ana.
Setelah semua perlengkapan dimasukan ke bagasi dan puas memomong bayi Alf, Agam dan Linda akhirnya berangkat juga.
.
.
Destinasi mereka adalah villa modern yang memadukan konsep modernisasi dan villagisasi. Agam memilih villa karena ingin suasana yang berbeda. Setelah dipikir-pikir, bagi Pak Dirut hotel berbintang sudah biasa.
Selain itu, keinginan Agam selaras juga dengan keinginan Linda. Linda merindukan suasana alam yang asri setelah sekian lama hiruk-pikuk dengan bising dan gemerlapnya pusat kota.
Tidak lupa berdoa kepada-Nya agar Yang Maha Kuasa senantiasa meridhoi dan melindungi perjalanan ini. Selamat sampai tujuan, serta bisa kembali dan berkumpul lagi dengan keluarga tercinta.
Aamiin.
...❤...
...❤...
...❤...
"Jangan ngebut-ngebut sayang, sudah tidak sabar ya?" goda Agam.
Saat ini Linda yang mengemudi, awalnya Agam menolak, namun Linda beralasan jika dirinya lebih faham rute daerah Pulau Jauh daripada Agam.
"Apa sih, jangan ganggu, Pak. Aku lagi konsentrasi," sahut Linda.
"Oke cantik."
Bukannya melihat pemandangan, Agam malah asyik menatap yang sedang mengemudi.
"Supir tercantik dan terseksi yang pernah saya lihat," gumam Agam.
"Pak Agam, bisa diam tidak?" Cemberut.
"Tidak bisa sayang." Lalu tangan Agam berjalan ke sana mengusap sesuatu yang terlihat menantang.
"Pak Agam! Bahaya tahu!"
"Hahaha, maaf sayang."
"Nah, begitu dong. Bisa kan tidak mengganggu? Lihat Pak, kita sudah memasuki jalur pegunungan, indah ya Pak?"
"Pak lihat deh, di lereng itu ada perkebunan bunga matahari," seru Linda. Sambil mengemudi matanya beredar.
"Sedari tadi saya sudah melihat gunung yang indah, sayang."
"A-apa?"
Linda berpikir sejenak. Baru faham setelah sadar suaminya sedang melihat apa.
"Pak Agam, cukup! Aku marah," keluh Linda. Karena kesal, Linda sampai menepikan mobilnya.
"Hahaha, makanya sekarang gantian saya yang nyetir ya, El. Perjalanan kita kan 3 jam, kamu cukup dua jam saja, sisanya saya, oke?"
"Hmm, baiklah," Linda akhirnya mengalah. Turun dari mobil, pun dengan Agam.
"Pak Agam, hehehe, apa aku boleh meminta foto bersama?"
Melihat pemandangan lereng gunung yang menguning karena bunga matahari, Linda ingin mengabadikannya. Agam menatap Linda, setelah diingat-ingat, mereka memang jarang berfoto bersama. Agam memeluk Linda dan meminta maaf.
"Sayang, maaf ya."
"Ma-maaf untuk apa?"
"Karena saya jarang mengajak kamu berfoto."
"Hehehe," Linda malah tertawa, membelai rambut Agam yang tersibak angin.
"Kok tertawa sih?"
"Bukan jarang lagi, Pak. Tapi tidak pernah sama sekali."
"Oya, masasih?"
Bibir tipis Pak Dirut hampir saja mendekat, tapi Linda menahannya. Menempelkan dua jari di bibir Agam.
"Malu, Pak. Ini di pinggir jalan, banyak yang lalu lalang," kata Linda.
"Maaf sayang, saya tidak ada niat sih, spontanitas," kilahnya.
"Terserah Pak Dirut deh," kata Linda.
Linda mengambil ponsel dari tasnya dan mulai berfoto.
Gaya Agam sangat misterius, memeluk Linda dengan posesifnya. Gaya Linda jangan ditanya. Namanya juga artis, bintang iklan pula, pasti bagus lah.
"Lihat deh, Kak. Yang foto-foto itu, kok mirip LB ya?" ujar seorang pengguna jalan yang melintas.
"Mana sih? Eh iya, kok bisa mirip sekali?"
"Kak ini serius. Itu suaminya, Kan? Pasti tidak salah lagi, pria itu mirip sama yang di TV," serunya. Hingga sang kakak menghentikan laju kemudi.
"Kak, ayo ke sana, aku mau foto sama LB," ajak sang adik.
Yang sedang asyik foto-foto kaget.
"LB ya? Aku penggemarmu. Mau foto, boleh?" tanya gadis remaja itu. Kakaknya melongo, terpesona oleh LB setelah melihatnya lebih dekat.
"Ya, a ---."
"Maaf, kamu salah orang," sela Agam secepatnya menarik tangan Linda dan membawanya ke dalam mobil.
"Pak, tunggu. Lepaskan, kasihan dia, Pak," tolak Linda.
"Pilih suami atau dia?!" tegas Agam saat mereka berada di dekat pintu mobil.
"Oke, maaf."
Tak mau berdebat, Linda membuka pintu mobil, dan masuk. Tidak lupa melambaikan tangan terlebih dahulu pada gadis remaja itu sambil melemparkan senyum.
.
.
"Nah, kalau saya yang nyetir, kamu bisa tidur sayang."
Linda diam saja, masih terbayang wajah si gadis remaja.
"Sa-yang," Agam meraih tangannya." Dikecup-kecup, ditiup-tiup, tapi Linda masih membisu.
"Kenapa, hmm?"
"Aku tidak suka sikap Bapak seperti tadi. Itu namanya sombong, Pak. Apa Bapak merasa lebih unggul dari mereka? Merasa lebih kaya? Lebih pintar? Ingat ya Pak, manusia tidak pantas menyombongkan diri," katanya sambil memalingkan wajah, menatap pemandangan.
Linda melihat sungai yang mengalir jernih, pesawahan yang menghijau indah, kerbau bule yang bermandikan lumpur, dan kerbau hitam yang sedang buang air kecil sambil memamah rumput.
"El, saya tidak terpikirkan sedikitpun untuk menyombongkan diri. Saya melihat pria yang bersama gadis itu menatap kamu, saya tidak suka," jelasnya.
Linda masih terdiam. Sekarag ia menunduk, menatap dadanya.
"Maaf sayang," kata Agam. Linda masih diam.
'Ckiiit.'
Agam menepikan mobil.
"El, kenapa?" Agam khawatir.
"Ini Pak, sepertinya ASI-ku sedikit merembes," keluhnya.
"Ya sudah, pompa sekarang ya sayang, saya ambil dulu peralatannya," mengecup kening Linda.
"Nanti saja, Pak. Sebentar lagi kita sampai. Aku mau pumping di villa saja."
"Baiklah, terima kasih ya sayang. Terima kasih karena sudah ikhlas menyusui Keivel."
"Ini kewajibanku, Pak ...."
"Kita sudah berdamai kan sayang?" Agam mengulurkan tanganya. Linda meraih tangan itu dan menciumnya.
"Ya, Pak. Aku juga minta maaf untuk masalah yang tadi." Linda luluh. Membalas pelukan Agam saat pria itu mendekapnya.
"Ap mau dicium?" tawar Agam?"
"Hah?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, sayang."
"Pak Agam, jangan sekarang ya, bibirku sedikit sakit, dari semalam kan diserang terus," keluh Linda.
Linda mencubit gemas bahu suaminya. Jika sedang tersenyum Agam semakin tampan.
...❤...
...❤...
...❤...
Tibalah mereka di villa tujuan. Villa itu berada di kaki gunung. Di bagian depannya menghadap langsung ke area pesawahan yang sangat luas.
Kiri vila diapit oleh lereng gunung yang masih asri dengan pepohohonan menjulang tinggi bak hutan belantara. Di sisi kanannya ada ngarai terbentang yang terbentuk dari batuan kapur dan berbatasan langsung dengan laut lepas kepulauan Pulau Jauh.
Unit villa yang dipesan Agam adalah yang paling ekslusif. Bangunannya paling tinggi di antara yang lainnya.
Dari kamar utamanya, Linda dan Agam bisa melihat empat view sekaligus. Lautan, pegunungan, pesawahaan, dan ngarai. Pemandangan yang sangat memukau dan luar biasa. Villa ini juga dilengkapi dengan private pool.
Linda masih terpukau dan menatap ke sana-kemari saat Agam dan petugas villa menurunkan barang-barang. Lalu petugas mengantarkan Agam dan Linda ke kamarnya.
(MasyaaAllah)
Linda memuji nama-Nya. Ini hanya dunia fana, tapi pemandangannya sudah luar bisa. Lalu ... bagaimana dengan surga-Nya?
.
.
"Kamu suka sayang?"
Semilir angin membelai rambut Linda, lalu menggerakkan gaunnya hingga tersingkap.
Cantik sekali. Puji Agam.
Agam memeluk Linda yang saat ini tengah berdiri di balkon kamar.
"Suka," hanya satu kata yang terucap dari bibirnya.
"Kamu pernah kesini?" Agam bertanya lagi sambil melingkarkan tangan di pinggang Linda.
"Setelah jadi seperti ini belum pernah, Pak. Oiya Pak, aku mau pumping dulu ya."
"Oke sayang, setelah kamu pumping kita makan ya."
Linda mengangkat jempol tanda setuju.
~Beberapa saat kemudian~
"Pak Agam, Pak Agaaam!" teriak Linda.
"Ada apa sayang? Agam yang sedang menonton televisi terkejut.
"Alat pumpingnya ketinggalan, Pak. Bagaimana ini?" Linda panik.
"Apa?! Kok bisa? Oke, tenang ya sayang. Kita cari lagi. Saya bantu." Agam bergegas, membuka satu persatu barang bawaan, mencari, memilih, dan memilahnya.
"Tadi kamu simpan di mana sayang? Apa kamu yakin sudah membawanya?"
"Yakin Pak, aku letakan di tas ini. Sudah lengkap. Ada dot steril, pumping elektrik, kantung ASI, dan gelly ice-nya," terang Linda. Tangannya masih sibuk mencari. Airmatanya mengenang.
"Mungkin kamu salah mengambil tas, sayang."
"Mu-mungkin iya sih, tapi aku merasa yakin sudah membawa tas yang tepat. Tapi kenapa tas yang dibawa malah berisi baju Keivel? Huu ... huuks," Linda menangis putus asa. Memeluk baju bayi Alf.
(Astaghfirullah)
"Kok malah nangis sih sayang? Ssstt," Agam mengusap air mata Linda.
"Pak Agam tidak menyalahkan aku, kan? Ma-maaf aku lalai," gumamnya. Air matanya makin deras.
"Manusia itu tempatnya salah dan lupa, kita beli yang baru ya sayang." Agam mencium air mata Linda.
"Saya akan pesan sekarang, jangan menangis lagi, oke?"
"Ta-tapi Pak, ja-jadi boros, kan?"
"Sayang, uang saya banyak. Tak masalah, cek ya sayang takut ada yang tertinggal." Agam menyodorkan ponselnya pada Linda untuk mengecek list pesanan.
"Tambah steam sterilizer dot, Pak. Ini paling mahal harganya, yang di rumah kata pak Yudha empat juta. Beli yang paling kecil saja, Pak. Huuu ... padahal aku sudah menyiapkan semuanya." Menangis lagi.
"Sayang, sudah dong, jangan menangis lagi. Kita ke sini untuk bersenang-senang. Sudah dipesankan, sabar menunggu ya," bujuk Agam, lalu memeluk Linda.
"Ahh ..., sakit Pak," keluh Linda saat dadanya tertekan.
Agam terkejut, mengeceknya.
"Ya ampun sayang, ini bengkak!" Agam terkejut.
"I-iya, Pak .... Makanya aku nangis, ya karena mulai terasa sakit, huuu ...."
"Selagi menunggu saya kompres ya sayang, atau perah manual saja? Bisa berbahaya kalau sampai terjadi bendungan ASI," Agam kian panik, ia menelepon dokter Fatimah untuk mencari informasi.
.
.
"Ya ampun, lagipula kok ceroboh sih, ketinggalan segala. Cara yang paling utama ya segera menyusui bayi atau memompanya. Coba kompres hangat dulu, terus pijat. Keluarkan secara manual saja, kalau terlambat dan tidak dikeluarkan LB bisa demam dan sakit."
"Jangan disepelekan ya Pak Agam, bendungan dan pembengkakan ASI bisa menyebabkan mastitis lho, Pak. Makanya harus ditangani dengan prosedur yang benar. Harusnya Keivelnya dibawa. Pak Dirut cari gara-gara sih," kata dokter Fatimah di ujung telepon.
"Dok, ini juga sudah dikompres. Masalahnya adalah Linda tidak mau dipijat, katanya sakit, Dok. Saya sedang pesan alat pumpingnya, tapi belum sampai."
Agam mondar-mandir di depan kamarnya. Sesekali mengintip Linda dari balik tirai, Linda sedang mengompres sambil terisak. Linda terlihat kesakitan, produksi ASI-nya memang banyak.
"Ya ampun, kalau LB tidak mau dipijat, kenapa tidak Anda saja yang jadi Keivel? Bisa kan?"
"A-APA?! Halo, halo, halo dokter Fatimah!" teriak Agam. Panggilan terputus. Signal hilang.
"Argh, s i a l !"
Agam dilema. Namun tiba-tiba dadanya naik-turun, Agam sepertinya mengingat sesuatu. Wajah tampannya seketika memerah. Ia sempat melihat bu Ana memberikan tas yang dimaksud Linda pada Yuli.
"K u r a n g a j a r !!" geramnya.
Setelah menenangkan diri, Agam menelepon guru spiritualnya. Sedang mencari pembenaran atas saran yang diberikan dokter Fatimah.
"Pak Agam, agama kita itu sempurna, pembahasan terkait aturan kehidupan telah ada dan sangat lengkap. Mulai dari membuka hingga menutup mata."
"Termasuk hal menyusu pada istri. Sepanjang tidak terkait dengan deskripsi praktik dan detailnya, maka semua terbuka dan boleh untuk ditanyakan. Tidak perlu sungkan atau malu."
"Ya, Pak."
Agam menyimak. Hampir setengah jam pesanannya belum datang. Hatinya kian kalut saja.
"Dalam agama kita ada sebuah hukum yang berlaku, bahwa di antara saudara sepersusuan berlaku hukum mahram. Salah satu larangannya, yaitu menikahi saudara sepersusuan."
"Sebenarnya, dibolehkan bagi suami untuk menyusu pada istrinya. Bahkan hal ini dianjurkan, jika dalam rangka memenuhi kebutuhan biologis pasangan. Sebagaimana pihak lelaki juga menginginkan agar istrinya memenuhi kebutuhan biologis dirinya."
"Saat istri dalam kondisi tengah menyusui, kemudian suami sengaja atau tidak sengaja meminum ASI istri, maka ada beberapa pendapat terkait hukumnya."
"Dalam hal ini perselisihan pendapat. Ada yang mengatakan boleh dan ada yang memakruhkan."
"Hemat saya, sikap yang lebih tepat adalah suami berusaha agar tidak meminum ASI istri dengan sengaja. Ada dua sebab yang menjadi alasannya."
"Pertama, keluar dari perselisihan ulama karena ada sebagian yang melarang meskipun hanya dihukumi makruh, dan yang kedua perbuatan ini disebutkan sebagai sesuatu yang menyelisihi fitrah manusia."
"Jadi, jika dikaitkan dengan kasus Pak Agam, saya rasa di sini ada unsur daruratnya."
"Jika pompanya tidak datang dan istri Bapak semakin tersakiti dan bisa membahayakan kesehatannya, saya rasa saran dari dokter Fatimah bisa dilakukan dengan syarat Anda tidak boleh menelan ASI-nya, kecuali tidak sengaja tertelan," jelasnya panjang lebar.
"Ba-baik, Pak. Terima kasih pencerahannya." Agam terpekur di lantai setelah selesai mendengar penjelasan itu.
Lalu ke kamar menghampri Linda.
.
.
"Pak Agam ... sa-sakit sekali, a-aku merasa badanku panas dingin," keluh Linda. Wajah cantiknya memerah, Linda juga menggigil.
"Ya ampun, sayang."
Agam memegang kaki Linda, terasa dingin. Lalu memegang kening dan lehernya. Terasa panas. Cepat-cepat mengambil termoter dan mengukur suhu Linda.
Agam terkejut, Linda demam. Suhunya 38,8 derajat celcius. Saat diraba, dadanya kian bengkak dan terasa keras.
Keringat Linda bercucuran, ambang batas sakitnya memang sangat rendah. Bibirnya bahkan mulai memucat.
"El, kenapa jadi begini? Saya menyesal sayang .... Saya egois. Maafkan saya El, harusnya kita tidak pergi." Agam menyelimuti Linda.
"Saya akan pastikan kamu mendekam di penjara! Berani kamu ya bermain-main degan saya! Kamu tidak tahu saya ya? Dasar wanita b o d o h!" Agam membalikan badan sambil mengepalkan tangannya.
Linda terkejut mendengar ucapan Agam dan salah faham.
"Pak Agam, ma-maksud Anda apa, hah? S-siapa yang bodoh? Siapa yang akan dipenjara?"
"Sayang ... jangan salah faham, maksud kalimat saya untuk ART baru itu. Dia biang kerok masalah ini," jelas Agam.
"Maksudnya?"
"Nanti saya jelaskan, yang terpenting sekarang kamu sembuh dulu. Saya tahu caranya, El. Cara ini bisa kita lakukan sambil menunggu kurir."
"Ca-caranya?" tanya Linda dengan suara lirih.
"Ehm, begini sayang ...." Agam menjelaskan.
"A-apa?!"
Linda memeluk tubuhnya. Serius, mendengar penjelasn Agam, ia semakin panas dingin.
"Cepat putuskan sayang," bujuk Agam sambil menelepon kurir untuk menanyakan keberadaannya.
"Berapa lama lagi bisa sampai villa, Pak?!" teriak Agam.
.
.
.
.
Pak Dirut kembali diuji, Linda kembali dilema. Apakah ia harus mengikuti saran Agam? Atau menunggu kurir saja? Jika berkenan, boleh memberi saran pada Linda di kolom komentar dan vote.
...~Tbc~...