AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Pulang Lebih Cepat



Entah di jam berapa, Senja terbangun. Bunyi keyboard yang ditekan, benar-benar mengganggu tidurnya. Ya, malam ini MisterX memang bekerja hingga larut malam. Misi kali ini sangat penting. Jika gagal, maka keselamatannya akan dipertaruhkan.


Senja melangkahkan kaki perlahan menuju ruang monitor yang ada di rumah itu. Senja memegang tali plastik yang digunakan sebagai petunjuk.


"Bibi," sapanya.


"Aku Exam, Bibi tidak ada," jawab Mister X. Matanya tetap fokus pada layar monitor.


"Oh, jadi Bibi belum pulang?"


Senja meraba kursi lalu duduk menghadap Mister X. Walaupun faktanya, Senja tidak tahu arah mata angin. Ia mulai terbiasa dengan keberadaan pria unik yang bernama Example itu. Kata Bibi Miss, Exam itu baik. Jadi, Senja tidak merasa khawatir.


"Kenapa Bibi belum pulang? Ini kan sudah malam. Apa kamu tidak khawatir?" tanya Senja.


"Bibi sudah bilang, kok. Katanya ada urusan penting. Dia menitipkan kamu," jelas Mister X. Lagi-lagi matanya tetap fokus pada layar.


"Aku tidak bisa tidur," keluh Senja.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa sih," Senja berdusta. Ia tidak mungkin kan mengatakan kalau terganggu oleh suara keyboard?


"Ya sudah, kamu duduk saja di situ, hati-hati ya, jangan banyak begerak, tidak jauh dari tempat kamu duduk ada banyak kabel."


"Baik," jawab Senja.


Beberapa menit berlalu, Senja tiba-tiba merasa ingin buang air kecil. Ia berdiri dan melangkah entah ke arah mana tanpa disadari oleh Mister X.


Dan ....


'Bruk.' Kaki Senja tersandung kabel.


'Klik.' Detik itu juga layar monitor di hadapan Mister X mati.


"Apa?! Ya ampun!" teriak Mister X.


Spontan ia memasygul kepalanya dengan dua tangan. Data yang telah ia susun hilang dalam satu detik. Sebagian ia belum disave. Untuk memulihkannya sebenarnya Mister X bisa, tapi itu perlu waktu yang tidak lama.


"Senjaaa!" teriak Mister X. Tak sadar beteriak pada gadis itu.


"Ya? Ke-kenapa?" Senja yang tidak tahu apa-apa tentu saja kebingungan, ia berusaha bangun dari jatuhnya.


"Aku sudah bilang kan kamu harus hati-hati?! Kenapa begerak? Kamu mengacaukan pekerjaanku!" bentak Mister X, ia tak sadar telah berbicara kasar. Karena terdorong oleh keadaan dan rasa lelah.


"Ma-maaf Exam, a-aku tidak melihat, maaf ya ...," Senja beringsut. Posisi gadis itu masih terpekur di lantai. Mata hampanya menggenang dengan cepat.


"Bibi," lirihnya. Berharap bibi segera pulang. Ia takut pada Mister X.


Astaghfirullah.


Mister X mengusap dadanya. Sadar jika ia mungkin saja telah menyinggung dan menyakiti perasaan Senja.


"Maaf," ucap Mister X. Medekat pada Senja.


"Tidak perlu minta maaf Exam, a-aku yang salah, aku tidak melihat apapun. Maaf ... harusnya akau tahu diri." Senja menunduk, airmatanya menetes.


"Senja, ini salahku, aku menyesal. Maaf kalau ucapanku menyakiti perasaan kamu. Aku hanya panik, yang aku kerjakan itu laporan penting untuk seserang. Ayo, kamu mau kemana? Aku bantu."


Alih-alih segera memulihkan data yang hilang, Mister X lebih memilih meraih tangan Senja. Tapi, Senja menolak.


"Tidak perlu," Senja berdiri sendiri.


Ia menjauh dari Mister X. Mister X menguntit. Lucunya, Senja kembali masuk ke kamar milik Mister X.


"Dasar pria botak, gendut! Apa dia lupa kalau aku buta?! Tega sekali dia memarahiku, mana ku tahu kalau di kakiku ada kabel, awas saja kalau bibi pulang, aku mau laporkan prilakunya. Eh, tapi kan di rumah ini aku hanya numpang singgah. Kalau aku melaporkan si gendut, berarti aku tidak tahu terima kasih. Ya sudah, aku pendam saja lah," rutuk Senja saat ia sudah berada di kamar Mister X.


Mister X yang mendengar umpatan itu hanya bisa menahan tawa, menutup maskernya.


Setelah memastikan Senja masuk ke kamar mandi tanpa kendala, Mister X kembali ke ruang kerjanya. Ia menghela napas berat. Malam ini pasti sangat melelahkan. Ia harus memulihkan data.


"Kalau Pak Buana minta data itu secepatnya, bagaimana? Ya ampun, ada-ada saja," gumamnya.


...❤...


...❤...


...❤...


"Suster! Suster!" teriak Yohan.


"Tuan, jangan beteriak, kepala Anda baru saja dijahit," kata supir Yohan.


"Aku tidak peduli, kamu cukup diam saja Pak Herlans." Ternyata, nama supir Yohan adalah Pak Herlans.


"Apa yang Anda inginkan, Tuan? Hari ini tidak ada jadwal penerbangan. Anda mendapat lima jahitan di kepala, setidaknya istirahat dulu," harap Pak Herlans.


"Aku mau pulang paksa. Rawat di rumah saja. Pak Herlans cepat urus administrasinya. Aku harus meminta maaf pada Sea. Gadis itu pasti salah sangka padaku. Mungkin dia berpikir aku akan melencehkan dia. Padahal, aku kan terpengaruh obat," jelas Yohan dengan terburu-buru. Ia mondar-mondar di ruang perawatan, gelisah. Wajah memelas dan ketakutan Sea, terbayang-bayang di pikirannya.


Pak Herlans menunduk, jadi dilema. Apa ia harus berbohong dan mengatakan kalau Sea kabur? Mau jujur juga tidak mungkin, ia bisa ditembak mati oleh Yohan jika mengatakan Sea diberi kesempatan kabur olehnya.


Bagaimana ini?


Serius, Pak Herlans bingung.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Suster datang.


"Aku mau pulang paksa, Sus. Cepat buka infusnya. Aku tidak betah lama-lama di sini," keluhnya.


"Baik Tuan, tapi Anda harus tanda tangan surat pulang paksanya dulu."


"Ya, ya, cepat, cepat," desak Yohan.


.


.


Sea merasakan jika tubuhnya mulai lemah, letih, lesu, lunglai, dan lalai. Ia berjongkok di lobi rumah sakit, bersembunyi di antara taman hias yang menghijau. Ia berharap bisa bertemu dengan supir Yohan.


Setiap mobil yang melintasi lobi di area pintu keluar, ia amati. Tapi, yang diharapkan tak kunjung tiba.


Tidak, ini tidak bisa dilanjutkan. Sea yakin jika dirinya membutuhkan asupan makanan. Fix, ia akan menggunakan uang pemberian pak Herlans untuk meredakan perut ratanya yang keroncongan.


Sea memaksakan diri ke depan rumah sakit. Rencanya akan ke mal untuk membeli makanan. Sebenarnya, untuk lebih irit, Sea bisa ke minimarket dan membeli roti. Tapi, Sea tidak merasa kuat jika belum makan nasi.


Ketika Sea beranjak, di saat itulah mobil yang ditumpangi Yohan dan Pak Herlans melintas.


Kaca mobil terbuka, terlihat dengan jelas jika pria yang berkulit sangat putih itu tengah melamun. Yohan tidak sadar jika wanita yang ada dalam lamunannya ada di depan mata. Pun dengan Sea, ia tidak tahu jika mobil yang melintas di belakangnya adalah mobil yang ditunggunya.


Sea menolehkan leher kala mobil itu sudah menghilang dari pelupuk matanya. Dan di dalam mobil percayalah, Yohan merasa jika ia melihat sosok Sea berada di lobi rumah sakit.


Tidak, ini tidak mungkin.


Yohan menepis perasaan itu. Ia yakin jika perasaannya itu muncul karena terlalu merindukan gadis itu.


Gadis yang membuatnya berpaling dari wanita malam yang sering merongrongnya. Gadis yang tatapannya mampu menggetarkan hati dan mendebarkan jantungnya. Gadis yang telah menodai bibirnya. Gadis luar biasa yang membuatnya mati rasa terhadap wanita j a l a n g.


Sea ... aku merindukanmu.


Yohan memanggil nama julukan untuk Sea sambil menatap jalanan yang masih basah akibat sisa-sisa hujan yang semalam mengguyur pusat kota.


Suasana pusat kota pagi ini terasa dingin, tapi tidak sedingin hati Yohan. Kehampaan selalu menyelimuti hari-harinya. Hanya dengan melihat Sea, Yohan merasa bahagia. Dan saat melihat senyuman Sea, hati Yohan menjadi hangat.


Lalu, pria itu menatap beberapa gedung terkenal yang ia lintasi. Gedung-gedung itu adalah milik keluarga besar Haiden. Dulu, ia adalah pemilik salah satu gedung itu. Tapi saat ini, kepemilikannya telah diambil alih oleh negara.


Sebenarnya, bukan kehilangan gedung itu yang membuat Yohan sedih. Tapi, kehilangan keluarga dan sanak saudaralah yang membuatnya terpuruk. Semenjak ia menjadi pesakitan dan keluar dari penjara, keluarga besarnya menjauhinya.


Yang saat ini dekat dengannya justru adalah musuh bebuyutannya. Agam Ben Buana.


Dan Yohan kaget karena nama yang ia ingat itu malah meneleponnya.


"Halo, Gam. Ada apa?"


"Saya mau pulang dari Pulau Jauh, apa kamu bisa menjemput saya? Tapi saya butuh dua heli. Bisa tidak?"


"Untuk kapan?" tanya Yohan.


"Untuk sore ini," jawab Agam.


"Aku kabari nanti ya, Gam."


"Oke, secepatnya ya Tuan Yohan."


...❤...


...❤...


...❤...


Gamayasa Val Buana, pria itu mulai merasa berada dalam titik bosan. Bosan menjalani aturan selama di asrama, bosan diperintah, bosan diperlakukan berbeda, dan bosan jua akan kemewahan yang diberikan BRN untuknya. Sejak menandatangani surat itu, ia memang tidak pernah memakai lagi uang bulanan pemberian dari Agam.


Hari ini, ia meminta pada polisi yang menjaganya untuk menginap di rumah.


"Boleh Sultan Yasa, tapi kami harus menemani Anda."


"Terserah," jawab Gama.


Ia memasuki mobil pengawalan dengan wajah ditekuk, dan sepanjang perjalanan tidak mau berbicara sepatah katapun. Alasan ia bertahan selama ini adalah karena BRN mengancam Freissya. Jika ia tidak menjadi anak yang patuh, keselamatan Freissya akan terancam.


Ancaman ini setelah ditelaah oleh Gama, ternyata sangat tidak mendasar.


BRN itu milik negara, bukankah setiap negara memiliki kewajiban untuk melindungi warganya? Jika BRN adalah bagian dari negara, lalu kenapa BRN malah mengancam Freissya yang merupakan warga negara?


"Pak, berhenti di sini," titahnya.


"Anda mau apa, Sultan Yasa?" tanya polisi. Nama paten Gama di BRN adalah Sultan Yasa.


"Aku mau nongkrong dulu, sudah lama tidak nongkrong di taman itu."


"Apa?! Tidak Sultan, mana ada calon anggota BRN bisa nongkrong, Anda jangan mengada-ada," sanggah polisi.


"Aku bosan! Apa kalian tahu, hah?!" Gama mulai menunjukkan sifat aslinya.


"Tidak Sultan! Anda tidak boleh nongkrong." Mobil tersebut tidak berhenti, tetap melaju melewati taman yang ditunjuk oleh Gama.


"Hah, sudah ku bilang kan aku ingin berhenti di sana?!"


"Bye!" teriaknya. Saat tubuhnya bermanuver di bahu jalan.


'Ckiiit.'


Suara rem mobil lain terdengar. Mereka kaget. Mobil polisi itu otomotis berhenti mendadak untuk mengejar Gama.


'Brak.'


'Tiiid.'


Klakson bersahutan. Tabrakan beruntun tak terelakan. Untungnya, tabrakan beruntun itu tidak parah.


"Pak Polisi bagaimana sih?! Kok berhenti mendadak?!" teriak pengguna jalan yang tidak terima.


"Iya ni, polisi harusnya jadi teladan dong!" teriak yang lain.


Jalur jalan mulai tersendat. Hingga akhirnya kemacetanpun terjadi. Sementara pelaku utamanya sedang tertawa lepas menikmati kesemrautan itu dari atas jembatan penyebrangan jalan.


"Hahaha, rasakan! Siapa suruh tidak mengikuti keinginanku," seru Gama.


"Maaf, maafkan kami atas kekacauan ini. Tahanan kami kabur," jelas polisi.


"Cepat kejar! Itu dia di sana!" Menunjuk pada jembatan penyebrangan.


Sontak pengguna jalanpun melihat ke atas.


"Wah, itu buronannya?! Masih muda ya, cepat kejar Pak!" teriak warga.


"S i a l! Enak saja aku dibilang buronan!" umpat Gama. Dan segera berlari saat dua orang polisi mulai mengejarnya.


"Hei, ayo kita bantu polisi! Tangkap penjahat itu!" teriak salah satu pejalan kaki.


"Oke, kejaaar!" teriak mereka.


"Apa?! S i a l!"


Gama lari tunggang-langgang, menabrak apapun yang menghalanginya dan menepis siapapun yang berusaha menahannya.


"Itu dia, larinya cepat sekali!"


Gama kini melewati area ruko, pertokoan, dan pedagang kaki lima. Ia kaget saat melihat ada petugas polisi di depannya.


"Pak, dia maling," teriak warga.


Dari mulai tahanan, penjahat, dituduh buronan, kini jadi maling. Gama terfitnah. Polisi di depan siaga. Gama hampir terkepung.


"Berhenti, Sultan!" teriak polisi yang tadi mengawalnya.


Mata Gama beredar, sedang mencari celah. Nah, ada kesempatan, ia melihat ibu-ibu berdaster hendak menaiki motornya, mungkin baru saja belanja dari pasar. Gama lari ke sana. Polisi dari dua arah mengejar.


"Maaf Bu, nanti aku ganti semuanya," teriak Gama sambil merebut helm dan kunci motor milik ibu-ibu tersebut.


"Hei, siapa kamu?!" teriak ibu itu. Tapi ....


'Bruuuum.' Motornya raib. Gama berhasil kabur.


"Maliiing," teriaknya lagi.


"Sabar Bu, sabar. Dia buronan kami. Akan kami kejar," kata polisi.


"Huuu hwaa, motorkuuu." Ibu-ibu berdaster menangis histeris, terpekur di trotoar.


'Vrom, vrooom.'


Gama memacu motor matic itu dengan kecepatan tinggi, menyelinap dan menyalip kendaraan di depannya.


'Tot, tooot.' Sirine polisi mulai dinyalakan. Gama dikejar.


"Hahaha, asyik juga," kata Gama sambil melihat ke arah spion. Ia melihat polisi menodongkan pistol ke arahnya.


"Apa dia berani menembakku? Kita lihat saja nanti," gumamnya. Ia menggeber motor kian cepat.


'DOR.'


Tembakan peringatan satu telah dibunyikan. Tapi Gama tidak peduli. Ia tetap melaju.


"Berhenti Sultan!" teriak polisi.


"Tolong lakukan pencegatan, target menuju pusat kota, arah barat daya, ganti," jelas Pak Polisi pada rekannya yang berada di pos depan.


"Siap, laksanakan."


Gama tahu ia sudah dikepung, dan bibirnya tersenyum saat melihat mobil polisi di depannya sudah mencegat. Melirik kiri kanan. Ia ternyata ada di jalur jembatan. Gama menepi, sepintas ia melihat truk melintas di jalur yang ada di bawah jembatan. Ide barupun kembali muncul.


'DOR.'


Tembakan peringatan berbunyi bersamaan dengan tubuh Gama yang mendarat tepat di atas truk yang tengah melaju. G i l a, dia meloncat dari jembatan itu, meninggalkan motor ibu-ibu dan decak kaget para polisi yang mengejarnya.


"Sultan Yasaaa," mereka hanya bisa beteriak.


Di sana, Yasa dadah-dadah, sosoknya mengecil dan menghilang ditelan terowongan.


"Bagaimana ini? Kita harus melapor pada ketua, dia bukan kandidat biasa," keluh polisi pengawal.


Yang lain hanya bisa melongo. Mereka bisa saja mengejar mobil truk itu, tapi tidak yakin bisa menemukan Gama.


"Terpaksa kita harus berbagi tugas, kamu ke sekolah dia, kamu dan kamu ke rumahnya."


"Siap," serempak.


...❤...


...❤...


...❤...


Drama es krim telah berlalu, namun efeknya masih tersisa. Setelah shalat Subuh, si cantik kembali terbaring di tempat tidur, padahal aktivitas penghuni lain di rumah ini tengah sibuk.


Pak Berli sudah pergi ke kedai buahnya sebelum adzan Subuh. Bu Ana dan Yuli sibuk di dapur bersama dua orang asisten rumah tangga yang baru. Dokter Rita dan suster sedang berjemur bersama bayi Keivel. Hikam sedang menyiram bunga di taman. Yolla dan Yolli mengganggu Hikam.


"Kak Hikam siram aku juga," pekik Yolla dan Yolli.


"Ya," kata Hikam, sambil melirik ke arah lain dari taman tersebut.


Ia sedang memperhatikan tingkah dokter Rita. Ada rasa senang saat ia melihat dokter muda itu. Tapi, Hikam tidak muluk-muluk. Ia sadar posisinya, ia hanyalah lulusan sarjana ekonomi syariah, tapi ... pengangguran. Belum mempunyai pekerjaan tetap. Selama ini hanya menggantungkan hidup pada mama dan babanya yang merupakan juragan tanah.


.


.


"Kamu gegabah X! Ini jam berapa?! Mana datanya!" teriak Agam. Ia memaki teleponnya sendiri. Sengaja menelepon di kamar mandi agar tidak mengganggu belahan jiwanya.


"Saya manusia biasa Pak Buana, saya baru kali ini telat, tapi Anda sudah marah. Apa Anda tidak menghargai kerja bagus saya yang sebelum-sebelumnya?" protes Mister X.


"Apa?! X, kamu sekarang berani ya!"


"Berani lah Pak, hehehe."


"Begini saja, saya beri kesempatan sampai jam sebelas, bisa?!"


"Saya usahakan."


"Baik, saya pegang kata-katamu."


Panggilan berakhir, Pak Dirut menghela napas seraya becermin. Eh, bibir merahnya tiba-tiba tersenyum. Mungkin sedamg mengingat kembali drama eksperimen es krim yang wah itu. Ia menengadahkan kepalanya, demi melihat tanda cinta yang tersemat di sana. Lagi-lagi, rambut Pak Dirut basah. Ia menggeleng kepala untuk menepis ingatan indah itu.


Segera berwudhu untuk melaksanakan shalat Dhuha. Yaitu, shalat yang jika dikerjakan secara rutin akan mendapatkan pahala berupa istana megah di surga.


Selesai shalat Dhuha, Agam naik ke tempat tidur. Menatap wajah cantik istrinya seraya senyum-senyum. Menelusuri bibir lembutnya, lalu mengecupnya berkali-kali.


"Lelah ya sayang? Maaf ya," gumamnya.


"Sore ini kita pulang sayang, tinggal menuggu kabar dari Yohan. Saya sudah izin sama ayah dan ibu kamu, tapi mereka belum mengizinkan. Hmm," berbicara seorang diri. Entah didengar atau tidak oleh Linda.


Kemudian masuk ke dalam selimut dan memeluk Linda. Tidak hanya memeluk, tangan Pak Dirut juga aktif. Membelai sana-sini. Linda bergeming.


Lalu ponselnya berbunyi. Segera diraih tanpa melepas pelukannya. Ada telepon dari Vano.


"Pak Agam cepat pulang!" Suara Vano terdengar gemetar dan panik.


"Vano? Kenapa? Ada apa?"


"Ga-Gama Pak, Ga-Gama ...."


"Apa?! Adik saya kenapa?!"


"Ga-Gama ke-ke-celakaan, Pak."


"A-apa?!"


Agam terkejut. Seketika itu Agam merasa badannya lemas.


"Kondisinya bagaimana?! Kenapa bisa kecelakaan?! Bukankan dia dijaga BRN?!"


Teriakan Agam membuat Linda terbangun.


"Pokoknya, Bapak cepat pulang." Vano mengakhiri panggilan.


"Pak Agam, kenapa?" tanya Linda. Ia aneh melihat wajah Agam yang berubah dingin dan murung.


"Sayang, saya harus pulang sekarang. Gama kecelakaan."


"A-apa?!" Linda menutup mulutnya.


"Ya sayang, saya harus pergi sekarang, tapi kamu ikut ya."


"A-apa? Sama Keivel? Mendadak?" tanya Linda.


"Emm, ya sayang kita berangkat sekarang. Kita harus pulang lebih cepat."


...~Tbc~...