
"Pak Polisi, tungguuu."
Linda menyusul sambil berpikir keras harus mengatakan alasan apa. Pikirannya benar-benar kacau, ia yakin polisi salah faham. Linda juga heran pada Agam karena pria itu tenyata sangat lemah, dia hanya melindungi wajah mulusnya agar tidak terluka. Sama sekali tidak melawannya.
Tunggu ya Agam Ben Buana, urusan kita belum selesai.
Linda masih berencana untuk kembali menyerang Agam dengan menggigit telinganya atau kalau bisa ia ingin sekali melukai wajahnya.
Aku harus membuktikan dulu kalau ucapan dia tentang sabuk itu fakta. Bisa saja dia menipuku dan berbohong.
Sebelum ia memastikan vidio itu benar-benar ada, berarti Linda harus membuat alasan tepat pada warga dan polisi jika ia menghilang dari dunia hiburan dan presenter karena sebuah alasan.
Tapikan pak Bima sudah melakukan preskon, dia bilang pada publik kalau aku sudah dilaporkan hilang pada polisi. Apa warga tidak akan curiga. Argh, semua kerumitan ini gara-gara dia.
Linda akhirnya kembali ke dapur, mau tidak mau ia harus meminta bantuan dari Agam. Ia mengedarkan pandangan, Agam tidak ada di sofa.
Kemana dia ya?
Dan terdengar suara keran air dari arah kamar mandi. Agam pasti berada di sana. Benar saja, saat pintu kamar mandi terbuka ia keluar dari sana, kepalanya dan rambutnya basah kuyup. Bahkan kaus hitam bagian dadanyapun basah hingga tampak jelas ada yang tercetak indah di sana.
Air dari rambutnya menetes, ia menyibakan rambut serta menyisir rambutnya dengan jari. Lalu dikibaskan perlahan sambil memegang sudut kacamatanya. Sungguh sangat menawan dan mempesona. Mata Linda melongo untuk sesaat.
"Astaghfirullah, Anda mengagetkan saya!" bentaknya. Agam terkejut, ia tak sadar akan keberadaan Linda.
"Apa Anda masuk ke kamar mandi orang tanpa izin? Wah wah wah, direktur HGC ternyata prilakunya buruk."
"Saya mau buang air kecil, kamu pikir saya harus pergi ke mana?! Ke pelukanmu?! Tidak, kan?" tegasnya.
"Ke-kenapa sampai basah kuyup begitu?" tanya Linda.
"Buka urusanmu," jawab Agam.
"Dasar aneh."
"Anda yang aneh Bu Linda, saya tak terima Anda menindih saya seperti tadi, tolong jangan diulangi lagi."
"Kalau tidak terima, kenapa tidak melawan?!" Linda mengekori langkah Agam yang sepertinya hendak bergabung dengan polisi.
"Saya tidak bisa melawan wanita lemah."
"Apa?! Hei, saya tidak lemah. Saya kuat," teriak Linda.
"Diam. Intinya jangan pernah menyerang saya dengan cara seperti itu, atau saya akan --."
"Akan apa?" Linda penasaran.
"Sudahlah Bu Linda, jangan bahas dulu masalah itu, sekarang cepat beri kesaksian pada polisi dan warga."
"Saya bingung mau mengatakan apa, ini gara-gara Pak Agam. Bi-bisa tolong bantu saya." Linda menarik baju Agam di bagian punggung.
"Hhm," Agam menghelas napas.
Ya, semua memang ulahnya. Berawal dari kesalahannya, berawal dari sakit hati, berawal dari fitnah itu.
Ia membalikan badannya.
"Baik, akan saya bantu. Tapi, Anda juga harus bekerja sama dengan saya."
"Maksud Bapak?"
"Jangan mengelak atau membantah pernyataan saya. Ingat, di sini ada polisi. Kamu faham, kan?"
"Ba-baik," Linda memundurkan kakinya, Agam begitu dekat. Auranya menghipnotis, hingga Linda tak sadar menatap wajah Agam dengan lekat.
"Kenapa? Apa ada yang ingin Anda sampaikan?"
"Ti-tidak ada, Pak." Linda memalingkan wajah.
"Semuanya harap tenang," kata Pak Polisi saat Agam dan Linda sudah berada di depan ruko.
"Pak Polisi, tolong pastikan tidak ada yang mengambil gambar saya dan LB, serta tidak ada lagi orang lain yang melihat kejadian ini," kata Agam.
"Siap."
Agam berdeham berkali-kali sebelum memulai pembicaraan.
"Saya dan LB mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamaman dan keributan ini, saya berjanji tidak akan menuntut siapapun atas tindakan penyerangan itu, tapi sebagai syaratnya bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir di sini harus tutup mulut. Anggap saja tidak pernah bertemu dengan LB," kata Agam.
"Tapi Pak, LB kan dicari polisi, kena --."
"Tunggu, saya belum selesai bicara." Agam mengangkat tangannya.
"Pak Polisi ada di sini, Pak Polisi punya alasan khusus kenapa LB tidak ditangkap. Untuk alasannya tentu saja rahasia, data rahasia tidak boleh disebarkan ke publik demi urusan keamanan. Jika bocor, justru akan menyebabkan masalah hukum yang baru, betulkan, Pak?" Agam melirik polisi.
"Ya benar," jawab Pak Polisi.
Kok bisa ya Pak Polisi mengiyakan saja, ini aneh. Sebenarnya alasan apa yang digunakan pria ini hingga polisi tidak menangkap dan mencari aku, benar-benar mencurigakan. Aku jadi penasaran. Batin Linda.
"Terus kenapa LB tidak menjadi penyiar lagi?" tanya salah seorang warga.
"Karena untuk saat ini LB terikat kontrak dengan HGC.
Apa katanya?! Mata Linda sedikit mengerling.
"Benar kan Bu?" Agam menegaskan.
"Be-benar." Linda menganggukkan kepalanya.
"Kontrak apa? Anda kita boleh tahu?"
"Emm, LB terikat kontrak iklan beberapa produk HGC, dan selama kontrak itu saya sebagai direktur HGC tidak mengizinkan LB melakukan aktivitas lain," tegasnya.
Apa?! Dia benar-benar menyebalkan. Sejak kapan aku jadi bintang iklan HGC.
"Kok iklannya belum tayang sih Pak? Sampai kapan kontraknya? Kita rindu LB baca berita lagi."
"Ya betul, tuh." Terdengar desusan.
"Iklannya masin proses, selama iklan itu ditayangkan selama itu pula LB tidak go public. Lamanya sekitar tiga tahun."
"APA?! Ti-tiga tahun?!" Linda terkejut, dan saat ini ia jadi pusat perhatian.
"Tu-tunggu, ma-maaf, saya perlu bicara dulu dengan Pak Agam."
Dengan kasar Linda menarik tangan Agam dan membawanya ke dalam ruko. Polisi dan warga saling menatap keheranan.
"Hei Pak, kenapa lama sekali hahh?! Kenapa sampai tiga tahun?" tanya Linda dengan suara pelan.
"Bukankah Anda akan setuju dengan semua keterangan saya?" kini Agam yang memegang tangan Linda.
"I-iya saya setuju, tapi gak sampai tiga tahun juga kali Pak, bukankah perjanjiannya sampai bayi ini lahir?"
"Dengar, apa kamu pikir anak saya tidak perlu ASI? Anak saya harus mendapatkan ASI, titik."
"Tapi, Pak. Saya bisa memompanya, saya bisa memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan. Tolong Pak Agam, sa-saya ... saya ingin menata kembali hidup dan masa depan saya. Saya juga ingin membahagiakan ayah, ibu, dan adik-adik saya." Linda menatapnya dengan mata memelas dan menggenang.
"Sa-saya bisa membahagiakan kamu dan keluarga kamu," ucap Agam tak sadar.
"A-apa?!"
Agam menghela napas.
"Baik jika itu maumu, tapi saya tidak mau anak saya minum ASI pompa. Anak saya harus mendapatkannya langsung dari su-su ma-maksud saya su-sumbernya langsung." Agam kikuk dan gelagapan, pipinya sedikit merona.
Sedangkan Linda sepontan memeluk dadanya sendiri sambil menunduk.
"Ba-baik, saya berubah pikiran, sampai 1 tahun 6 bulan saja. Jadi, anak saya dapat su-susu, maksud saya saya dapat ASI ekslusif selama 6 bulan dan ASI lanjutan selama 3 bulan. Kamu setuju?"
Linda mengangguk, padahal jujur ia masih bingung. Dan obrolan masalah ASI itu ternyata membuat mereka berdua terperangkap dalam lembah kecanggungan.
Pria ini benar-benar hanya menginginkan anak ini. Di-dia ... tidak pernah menginginkan aku. Tidak apa-apa ... toh ... aku juga tidak mencintainya.
Linda mengelus perutnya, airmatanya tiba-tiba menetes. Tes, jatuh tepat di punggung tangannya, dan Agam melihatnya.
"Bu Linda jangan menangis, saya akan membayar semua dosa-dosa saya. Saya akan menggaji Anda setiap hari sesuai dengan nominal yang Anda mau. Saya juga berjanji akan menemukan ibu, ayah dan adik-adik Anda. Seperti janji saya sebelumnya, karena kamu hamil, jadi ... setelah kamu melahirkan, saya baru akan mengembalikan mahkota Anda. Prosedur operasi itu akan tetap dilakukan."
Tanpa menunggu jawaban dari Linda, Agam kembali ke depan ruko dan meralat pernyataannya.
Linda hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan bingung yang entah sampai kapan akan berakhir.
Setelah mendatangi beberapa berkas, warga akhirnya dibubarkan. Saat warga sudah tidak ada, Agam terlihat berbincang serius dan lama dengan polisi. Entah apa yang mereka bicarakan. Linda hanya menatapnya dari dalam mobil.
Linda kembali terisak seraya menatap rumahnya yang sepi, sesepi hatinya saat ini. Ia mengusap air matanya saat Agam masuk ke dalam mobil.
"Mau ke mana kita?" tanya Agam. Ia memasang safety beltnya.
"Tanyakan saja pada peta," jawab Linda.
"Tanya peta? Kenapa tidak bertanya pada rumput yang bergoyang?" Agam menautkan alisnya, iapun mulai melajukan kemudi, berputar, berbalik arah.
"Rumputnya kan lagi sibuk bergoyang, mana sempat kasih jawaban."
"Em, masuk akal. Saya baru faham, pantas saja setiap saya bertanya pada rumput, dia tidak pernah menjawab."
Linda mengulum senyum mendengar ucapan Agam.
"Lain kali saya akan bertanya pada rumput yang tidak bergoyang."
"Jangan," sela Linda.
"Lho kenapa?" Agam meliriknya sesaat, tepat saat Linda juga meliriknya. Lalu keduanyapun saling berpaling.
"Bertanyanya pada rumput yang pengangguran saja, siapa tahu rumput yang Anda tanya sedang punya pekerjaan lain, sedang terinjak misalnya," kata Linda.
"Hahaha," Agam tertawa lepas memperlihatkan gigi-giginya yang putih bersih, dan rapi.
"Perasaan tidak lucu, kenapa harus tertawa seperti itu?"
"Ya karena lucu saja, saya jadi memikirkan bagaimana caranya saya tahu rumput itu pekerja atau pengangguran?"
"Cek KTPnya, lah," jawab Linda.
"Apa?! Hahaha," Agam kembali terpingkal.
"Selera lawak Anda sangat receh," kata Linda.
"Sepertinya iya. Saya hanya sebatas tahu kalau sebenarnya para cacing itu suka geli dan mual kalau mereka membicarakan manusia."
"Apa?! Seperti apa ceritanya? Kok saya belum tahu?" tanya Linda.
"Saya juga katanya sih. Konon, saat para cacing sedang makan, bapak atau ibu cacing selalu mewanti-wanti pada anak-anak mereka agar tidak membicarakan manusia supaya selera makan mereka tidak hilang."
"Jadi, bagi cacing kita itu menjijikkan? Huuh." Bukannya tertawa, Linda malah mendengus kesal. Kesal pada cacing.
"Anda tidak tertawa?"
"Sama sekali tidak lucu Pak, mana bisa saya tertawa."
Mobil yang dikendarai Agam kini memasuki pusat kota, bersatu padu dengan kendaraan lain, turut serta meramaikan hingar-bingarnya jalan raya.
"Bu Linda?"
"Ya."
"Setelah pesta pernikahan komisaris HGC, mari kita cek kandungannya."
"Ke rumah sakit? Saya malas sembunyi-sembunyi Pak."
"Tidak perlu ke rumah sakit, nanti saya datangkan dokternya ke rumah. Namanya dokter Fatimah. Dia juga menangani kehamilan nona Aiza."
"Baik, kapan?"
"Nona Aiza mau berteman dengan Anda. Apa Anda mau jika periksanya bersama-sama?"
"Tapi saya malu, Pak."
"Bu Linda, nona Aiza itu baik. Tuan Deanka dan Nona Aiza sudah tahu rahasia kita. Jadi, tidak perlu sungkan."
"Akan saya pertimbangkan. Oiya Pak, saya sangat khawatir saat Bapak pingsan. Takut Anda koma lagi."
"Terima kasih telah mengkhawatirkan saya. Tadi saya melupakan sesuatu. Saya melupakan titik lemah saya."
"Maksudnya? Titik kelemahan?"
"Hahaha, jangan berpikir yang negatif Bu. Maksud saya, bagian rahang memang salah satu titik yang disarankan untuk melumpuhkan lawan. Jika dilakukannya oleh profesional seperti saya, bisa menyebabkan sejumlah kerusakan di tubuh lawan."
"Anda mengakui sebagai profesional?"
"Saya kan manusia, jadi wajar dong kalau saya punya sisi sombong. Pukulan di titik rawan atau titik lemah bisa menyebabkan trauma pada otak hingga membuat tak sadarkan diri. Tadi ujung rahang saya terpukul, makanya saya pingsan."
"Wah, Anda hebat. Di mana saja titik itu? Apa saya boleh tahu?" Linda mulai serius.
"Untuk daerah yang lebih spesifiknya, saya tidak bisa menyebutkan, kecuali kalau Anda mau menjadi murid saya. Lagipula walaupun Anda tahu pasti tidak bisa melumpuhkan. Sebab perlu dilatih dulu. Dan latihannya itu memakan waktu bertahun-tahun."
"Hmm, setidaknya saya sudah tahu satu poin, ditambah saya juga tahu sembilan titik kelemahan pria."
"Apa?! Bu Linda, Anda vulgar sekali."
"Anda malu? Ya ampun, apa Bapak mau tahu di mana saja?"
"Ti-tidak perlu," kata Agam. Ia melambaikan tangan.
"Hahaha, ini baru lucu, sembilan titik itu ada di kaki, telinga, bagian belakang lutut --."
"Cukup," kata Agam. Tapi Linda tidak peduli, sesekali ia ingin tahu reaksi Agam.
"Bawah perut, paha bagian dalam, pikiran, kelopak mata, tengkuk leher, dan dahi," lanjut Linda.
CKIIT. Agam menepikan mobil.
"Ke-kenapa? Tidak vulgar, kan?" tanya Linda.
"Sekarang sebutkan titik kelemahan wanita, di mana saja? Apa kamu tahu?"
"Apa?! Sa-saya tidak tahu, Pak."
"Hmm, baiklah. Turun, ayo kita makan. Ingat jangan membicarakan cacing saat kita makan. Pakai maskermu." Agam geleng-geleng kepala. Fix, pola pikir Linda ternyata bar-bar juga.
Sangat menarik. Batin Agam.
Kenapa aku berani menyebutkan titik lemah pria di depan dia ya? Hmm, bisa jadi ini perbawa janin. Mungkin ..., janin ini ingin berkomunikasi dengan papanya.
"Bu Linda, cepaaat. Jangan melamun, saya lapar."
❤❤ Bersambung ....