
Pak Dirut tepaksa harus beranjak dari puncak kesenangan duniawi itu dengan wajah muram durja. Segera meraih piyama tidurnya untuk menutup seluruh tubuh yang terbuka. Mungkin Agam merasa ingin bersin tapi tidak jadi. Atau bisa jadi merasa lebih menyebalkan daripada itu.
Linda juga sama kesalnya. Ia yang hampir saja meraih bintang, harus terhempas lagi ke permukaan bumi gara-gara kehadiran Vano. Linda mengurung dirinya dengan selimut. Membekap mulutnya agar tidak cekikikan.
Agam membuka pintu. Untung saja piyamanya longgar, kalau tidak? Entah seperti apa reaski Vano saat melihatnya.
"Akan saya bunuh kamu Vano kalau berani main-main dengan saya! Masuk!" teriaknya.
Vanopun masuk.
"Tundukan kepalamu, Vano! Lihat ke lantai saja!" titah Agam. Ia tidak ingin Vano melihat kesemerawutan yang terjadi di daerah tempat tidur dan sekitarnya.
"Siap!" ucap Vano sigap.
"Cepat katakan! Ada apa, hahh?!" teriak Agam.
"Fi-firma kita kebakaran, Pak!"
"APA?!" Agam kaget, pun dengan Linda.
"Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, Pak. Sebab seluruh lawyer yang lembur di firma sempat ikut ke rumah sakit. Kebakaran terjadi saat kita semua berkumpul di rumah sakit," terang Vano.
"Saya yakin ini bukan kebakaran! Ini konspirasi! Kejadiannya terlalu kebetulan, ketua BRN ditangkap, firma terbakar. Ini pasti disengaja," duga Agam.
"Ya, Pak. Bisa jadi. Terus apa yang harus kita lakukan, Pak?"
"Apa tuan Deanka sudah tahu?"
"Sudah Pak, tapi tuan Deanka menyerahkan semuanya pada Anda. Tuan Deanka tidak bisa menangani masalah ini sebab katanya sedang sibuk mengurus bayi."
"Lah, itu hanya alasan dia saja. Masalah firma tidak perlu dipikirkan, toh bangunannya sudah kita asuransikan."
"Masalahnya datanya, Pak. Seluruh berkas hangus terbakar."
"Vano! Apa kamu b o d o h?! Bukankah seluruh data wajib di copy ke e m a i l? Kenapa kamu bingung?!" Agam geram.
"Oiya ya Pak. Maaf, mungkin saya jadi bodoh karena terlalu lama menjomlo," Vano mengakui kejomloannya sambil memijat tengkuk. Serius, sedari tadi menunduk membuatnya pegal.
"K u r a n g a j a r kamu Vano! Masa begitu saja tak terpikirkan?!" Pak Dirut emosi, sebenarnya tidak serta-merta marah pada Vano, tapi kesal karena geloranya tertunda.
"Baik, saya mohon maaf, Pak. Sekarang tolong berikan komando pada kami, Pak."
"Ya ampun Vano! Begini saja, sekarang kamu bagi tim untuk memprint ulang berkas-berkas yang dibutuhkan segera, maksud saya berkas yang akan dijadikan priotitas di persidangan. Kamu sewa saja lima atau tujuh warung internet dan mesin foto copy."
"Oiya, kalau bisa berkas untuk kasus LB diprint terakhir saja. Hahaha, hapus kalau perlu."
"Kenapa namaku disebut?" Linda berkicau dari balik selimut.
"Kamu diam, sayang. Jangan menyia-nyiakan suara kamu. Setelah ini kamu masih butuh banyak energi untuk beteriak. Saya sudah membayar mahal perdetiknya, jangan mengecewakan saya," tegas Agam.
"Baik ...." Cicit Linda. Sementara otak Vano langsung traveling.
"Maaf, untuk masalah itu tidak bisa, Pak. Dari awal Bapak sendiri yang mengizinkan kami menerima klien yang akan menggugat LB."
"Ya, saya tahu. Hahaha, lucu ya, mereka tidak sadar telah meminta bantuan hukum pada musuh, saya jadi tahu langkah hukum yang akan diambil oleh tim penuntut."
"Mereka tahunya firma itu milik tuan Deanka dan tuan Bahir. Tidak tahu kalau Bapak juga pemiliknya."
"Hahaha, sepertinya dewi fortuna sedang berada di pihakku." Pak Dirut menyeringai.
"Pak Agam, boleh kan saya tidak menunduk terus? Pundak saya sudah pegal," keluh Vano.
"Tetap menunduk sampai kamu keluar dari kamar ini, dan kamu cepat hubungi media N&T untuk membuat kontrak berita. Saya ingin nama istri saya terus jadi tranding topik."
"Pak, mau membuat berita apa?" tanya Linda.
"Kamu diam sayang. Sekarang manajer kamu itu saya, Agam Ben Buana."
"Untuk judulnya, mau Anda yang membuat?" tanya Vano.
"Ya, judulnya emm ... 'LB Ternyata Agresif, Dirut HGC semakin Bahagia,' cocok, tidak?"
"Saya setuju," sahut Vano.
"Pak Agam, aku tidak setuju! Agresif apa maksudnya? Kalimat itu ambigu," protes Linda.
"Sengaja saya buat ambigu, El. Tujuannya ya agar pembaca penasaran. Ya sudah Van, sekarang kamu boleh pergi! Cepat pergi!" usir Agam. Ia bahkan menarik belakang baju milik Vano dan mendorongnya keluar kamar.
"Pak Agam, hari ini Anda akan pasang penyangga, kata dokter Cepy jangan banyak begerak," sayup suara Vano masih terdengar saat Agam mengunci pintu.
Linda kembali yang kalang-kabut, tidak ada keraguan lagi, Pak Dirut pasti akan menuntaskan yang tadi sempat tertunda.
Benar saja, mata Linda membulat saat selimut yang dipakainya ditarik kuat hingga terbang ke udara.
"Bangun sayang," suara itu menciutkan nyali Linda. Tapi tak bisa berkutik, ia bangun dengan pipi merona.
"Naik!" Lagi, suara itu sangat berkuasa.
"Hah? Na-naik? Naik ke-mana Pak?" Kebingungan melanda Linda.
"Ke sini, setelah dari sini, lalu naik ke sana!" Pak Dirut menunjuk tempat-tempat yang ia maksud.
"Ba-baik," Linda patuh.
Sepertinya akan ada gempa lokal susulan. Mari menjauh dari kamar ini agar tidak terkena dampaknya. Tidak, jangan terlalu jauh, mari mengintip saja.
Beberapa saat kemudian terdengar rintihan dan tangisan Linda. Mungkin LB telah terdampak gempa. Kemudian suara gumaman Pak Dirut.
"I'm so sory, sayang."
"Huuks, don't try it again, Maga ...," lirih Linda.
"I can not promise," suara Pak Dirut.
"A-a**re you, crazy?" Suara Linda, terdengar gemetar.
"Yes, sayang. Aku memang crazy. I' m crazy rich. Hehehe," suara Pak Dirut.
"Tidak lucu, Pak," Linda.
"Memang tidak lucu sayang, tapi ka-kamu suka, kan?" Suara Pak Dirut, berbisik.
"Mmh ... MM-Maga ...."
"Ya sa-sayang ...."
Selanjutnya hanya ada gumaman-gumaman samar. Apa yang mereka obrolkan? Entahlah.
Krik, kriiik .... Sunyi.
"B o d o h kalian! Semuanya b o d o h! Aku kecewa!" bentak seorang pria paruh baya pada anak buahnya.
"Ma-maaf Tuan."
"Aku menyuruh kalian membakar rumahnya Agam Ben Buana! Bukan firmanya!"
"Maaf, Tuan. Kami pantas mati."
"Tidak! Jangan mati dulu! Kamu hanya boleh mati setelah berhasil membunuh minimal satu dari empat target! Istrinya Agam Ben Buana, adiknya, anaknya atau ibunya. Masa satu saja tidak becus! Kalian payah! Ingat, aku sudah membayar kalian dengan uang yang tak sedikit!"
"Ini kesempatan terakhir! Jika masih tidak berhasil, kerja sama kita cukup sampai di sini, dan jangan harap kalian akan mendapat bonus!" tegasnya.
"Ba-baik, Tuan."
"Aaargh! Kenapa susah sekali mengalahkan Agam Ben Buana?!"
"Bagaimana kalau langsung diracun atau tidak ditembak mati saja, Tuan?"
"Diam, kamu! Aku inginnya dia merasa putus asa, stres, gelisah dan sakit hati. Kalau dia langsung mati ya percuma saja!" bentaknya.
Entah dendam kesumat seperti apa yang menyebabkan pria itu begitu membenci Agam Ben Buana.
"Ma-maaf Tuan, apa saya boleh mengajukan ide?"
"Ide apa? Cepat katakan!"
"Bagaimana kalau kita pura-pura jadi sutradara atau produser film yang ingin merekrut LB dengan bayaran besar?"
"Ngaco kamu! Agam Ben Buana itu kaya-raya! Aku tidak yakin Agam Ben Buana mengizinkan istrinya untuk main film!"
"Maaf Tuan, dari biografi LB diketahui kalau main film adalah cita-cita LB sedari kecil, dan Agam Ben Buana katanya sulit menolak keinginan LB karena dia terlalu mencintai LB. Jadi tugas kita adalah merayu LB agar tertarik dengan proyek film kita. Bagaimana, Tuan?"
"Hmm, lumayan juga. Jika dengan senjata dan kekerasan Agam Ben Buana sulit dikalahkan, maka langkah selanjutnya memang harus dengan cara yang lembut dan cerdik. Hahaha, mari kita mainkan ide itu."
"Siap, Tuan."
"Bagi tim, dan mainkan hari ini juga."
"Siapa, Tuan."
Anak buah pria itu kemudian bergegas. Mereka melewati anak tangga dengan tergesa. Di dinding rumah itu terpajang foto tower HGC, dan foto pria tersebut saat bekerja di kantor HGC.
Di sudut lain, ada foto pria itu sedang berjabat tangan dengan Agam Ben Buana. Mereka terlihat akrab. Pada keterangan foto itu tertulis, 'Rapat Luar Biasa Pemilihan dan Pelantikan Direktur Haiden Gruop Corporation.'
Betapa malunya Freissya saat ini. Bagaimana tidak, seluruh rekan kerjanya tiba-tiba bergosip tentang hubungannya dengan Gama yang saat ini telah dipindahkan ke ruang pemulihan.
Sementara di ruang pemulihan, suster dan dokter yang merawat Gama kini mengalami kesulitan. Gama tidak mau makan, minum, bahkan mandipun tidak mau. Suster atau perawat yang akan mengelap tubuhnya terkena imbas. Saat diantar ke kamar mandipun, Gama menolak.
"Lapor, Dok. Tuan Gama tidak koperatif, dia berubah jadi emosional. Kami bahkan tidak bisa memberikan injeksi therapi. Kami mohon sarannya, Dok."
Seorang dokter jaga tengah melaporkan kondisi Gama pada dokter kepala melalui pesawat telepon.
"Apa kalian sudah CT-Scan ulang?"
"Sudah, Dok. Hasilnya sedang dibaca oleh dokter spesialis syaraf."
"Baiklah, kita tunggu hasil terbaru dari spesialis syaraf saja. Hasil sebelumnya kan memang jelas kalau sistem syarafnya ada yang tergangu akibat cidera itu."
Dari keterangan dokter kepala dapat ditarik kesimpulan bahwa Gama memang benar-benar mengalami gangguan syaraf. Artinya, apa yang terjadi pada Gama jelas tidak dibuat-buat.
"Dok, kalau tuan Gama tidak mau makan, bagaimana dengan kebutuhan nutrisinya? Masa harus dipaksa pasang OGT?"
Dokter tersebut sepertinya tidak puas dengan keterangan dokter kepala. Ia merasa masalah pada Gama belum teratasi.
"Kalau memang sulit, ya sudah berikan nutrisi dari cairan infus saja."
"Tapikan Dok, dokter spesialis syaraf justru menganjurkan agar tuan Gama sering mengunyah. Kalau dibiasakan hanya dapat makanan dari infusan, refleks mengunyah dan menelannya bisa terggangu lagi," jelas dokter jaga.
"Ya ampun, kalian ini! Ya sudah, nanti saya ke sana untuk mengeceknya. Perasaan saat masih dirawat di ruang ICU, saya belum pernah mendapat laporan seperti ini. Artinya, dia tetap mau makan dan mandi."
Nada bicara dokter kepala terdengar penuh penekanan, mungkin merasa kesal pada dokter jaga.
"Ya, Dok. Dokter ke sini saja, tadi pagi dia hanya mau sikat gigi. Tapi untuk mandi, makan, dan disuntik tetap tidak mau," tambah dokter jaga.
"Baru juga sehari kalian merawatnya, tapi sudah banyak keluhan," protes dokter kepala.
Saat membuka mata, Sea terkejut, ia telah berada di rumah sakit. Tangannya terpasang infus. Terlihat Pak Widi duduk di sampingnya, menatapnya dan tersenyum.
"Bapak?" Sea bangun.
"Tidak perlu bangun Nona Sea, Anda istirahat saja."
"A-aku baik-baik saja, Pak."
"Saya bahagia karena Anda bisa ditemukan, maafkan saya karena telah bertindak gegabah dan hampir saja mencelakai, Anda."
"Aku tidak apa-apa, Pak. Aku kok yang salah. Memang aku sendiri yang mau kabur dari sisi tuan Yohan," ucap Sea seraya mengedarkan pandangan seolah tengah mencari seseorang.
"Apa Anda mencari tuan Yo?"
"Emm, i-iya," Sea menunduk. Gadis itu terlihat malu-malu saat mengatakan iya.
"Tuan Yo baru saja pergi Nona. Semalaman dia menemani Anda dan sangat menghawatirkan Anda. Dia bahkan tidur di sisi tempat tidur Anda."
"Be-benarkah? Kok aku tidak sadar ya?"
"Anda sengaja diberi obat tidur oleh dokter agar bisa istirahat dan melupakan trauma Anda."
"Oh, be-begitu ya? A-apa tuan Yohan akan pergi lama?"
"Katanya mau menjemput ibunya Dirut HGC dengan penerbangan khusus. Mungkin tidak akan terlalu lama. Jadi, saya diperintahkan untuk menjaga Anda."
"Nona Sea, tolong jangan berpikir untuk pergi lagi. Tuan Yo sangat bergantung pada Anda. Dia tidak pernah seperti ini sebelum bertemu Anda. Oiya, terima kasih karena Anda sudah ditemukan. Sebab kalau tidak, tuan Yo berencana akan membunuh saya."
"Benarkah?"
"Serius Nona, dia tidak pernah main-maian dengan ucapannya."
"Ya, Pak. Ke-kemarin malam, tuan Yohan menembak orang-orang yang akan menjahatiku. Tapi tidak sampai mati, yang ditembak kaki mereka."
"Baiklah Nona Sea, sekarang Anda makan dulu, minun obat, terus setelah itu Anda harus cerita pada saya tentang maksud dan tujuan Anda berlayar menuju kota ini hingga diculik tuan Yo. Saya suapi ya?"
"Ya ampun, Pak. Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri. Oiya, kamar ini megah sekali, pasti biaya perawatanku sangat mahal. Tuan Yohan terlalu baik, bagaimana caraku membayar semua ini?"
"Nona Sea, rumah sakit ini milik keluarga Haiden. Tuan Yo punya saham di rumah sakit ini. Anda tidak perlu khawatir, tuan Yo akan memberikan apapun pada orang yang ia sukai."
"Pak, aku tidak bisa terus mendapatkan fasilitas seperti ini. Begini saja, izinkan aku bekerja menjadi pembantu di apartemen tuan Yohan."
"Jadi pembantu? Tidak mungkin Nona, tuan Yo mencintai Anda. Saya yakin tuan Yo pasti menolak."
"Pak, aku dan tuan Yohan berbeda keyakinan, kami tidak bisa saling mencintai. Aku hanya bisa menjadi teman tuan Yohan, dan aku juga sudah memaafkan perbuatan tuhan Yohan," jelas Sea sambil menunduk. Jika teringat lagi kejadian itu, Sea selalu bersedih.
"Oh, jadi seperti itu alasan Nona Sea selalu menolak tuan Yohan? Kalau misalnya tuan Yo sekeyakinan dengan Anda, apa Anda akan menerimanya?"
"Em, a-aku belum bisa menjawabnya, Pak," lirih Sea. Menunduk.
"Nanti saya akan membicarakan masalah ini pada tuan Yo. Saya permisi ya Nona." Pak Widi meninggalkan Sea.
"Uhhuk, uhhuk." Mister X batuk-batuk.
Ia sedang berbaring di sisi keranjang di mana ada Keivel di dalamnya.
"Hatcim." Mister X juga bersin.
Lalu telihat Senja keluar dari kamarnya. Ia berjalan lancar tanpa harus memegang tali. Rupanya sudah terbiasa dan hafal dengan seluk-beluk rumah yang pekarangannya sangat rimbun itu.
"Exim, kamu batuk ya? Flu juga?" tanya Senja. Hari Minggu, toko bunga libur. Jadi, Senja tidak bekerja.
"Hmm, aku kan manusia, kalau batuk, flu, ya wajarlah," kata Mister X sambil merapikan maskernya. Ia khawatir bayi Keivel ketularan.
"Exim, bibi kemana sih? Kenapa tidak pulang-pulang?"
"Mana kutahu," timpal Miter X.
"Suara kamu serak, coba aku raba kening kamu," Senja meraba-raba. Ia bersimpuh, merangkak perlahan. Mendekati Mister X.
"Ahh, Senja! Jangan asal sentuh!" Mister X kaget saat Senja memegang lututnya. Ia spontan duduk dan menahan tangan Senja.
"Ya ampun Exam! Ta-tanganmu panas! Ka-kamu demam gendut."
Senja kembali meraba, sekarang tangannya berada di leher Mister X. Lalu ke atas menelusur ke telinga dan kening Mister X. Yang diraba merinding si bulu roma. Jantungnya hampir loncat.
"Senja, cukup! Kamu dilarang menyentuh kepala seorang pangeran," kembali menahan tangan Senja.
"Pangeran? Hahaha, maksudmu pangeran kodok? Kamu demam Exam, di mana tempat obatnya? Kamu harus segera minum obat anti demam."
"Kebetulan obatnya habis. Tapi aku juga tidak bisa kemana-mana karena harus menjaga bayi pak Agam."
"Exam, aku yang ke apotik, kamu tetap di sini, tunggu ya." Senja beranjak.
"Tidak, Senja. Jangan! Kalau kamu tersesat bagaimana?"
"Hei, tidak akan. Aku pernah ke apotik seorang diri." Senja bersikeras. Ia tetap ingin pergi ke apotik. Namun saat hendak membuka pintu, pintu rumah ini telah terkunci.
"Exam, buka pintunya!" Kembali ke rumah dengan bibir mencucu menahan kekesalan.
"Kubilang tidak, ya tidak!" tegas Mister X.
"Huuu," Senja langsung menangis. Mister X kaget.
"Senja, ssst ... tidak perlu menangis, aku baik-baik saja, ini hanya sedikit meriang. Nanti juga sembuh lagi, kok."
"Huuu, ka-kalau kamu sakit, si-siapa yang memasak? Siapa yang mengurus bayi itu? Kan bibi tidak ada, huwaa huuu."
"Apa?! Jadi kamu menangis gara-gara itu?! Bukan karena mengkhawatirkanku?" Mister X kesal, iseng mendorong tubuh Senja dan menghimpitkannya ke dinding.
"E-Exim? A-apa yang akan kamu lakukan?" Sambil mencubit sembarang perut Mister X.
"Owha, owhaaa," Keivel terbangun.
"Tak bapaknya, tak anaknya selalu saja mengganggu kesenanganku," gerutu Mister X saat Senja mengatur napas dan membelalak.
Ada apa dengan Senja?
Tadi, saat ia tak sengaja memegang perut Mister X. Senja kaget sebab di balik baju Mister X, ia tidak merasakan adanya tumpukan lemak, justru malah merasakan sebuah pahatan pejal yang mendebarkan jantungnya.
Dag dig dug, jantung Senja berdegup kencang.
...~Tbc~...
...Vote, jika berkenan. Terima kasih. Di tunggu kunjungannya.
...