
"Aku harus kemana lagi? Aku lelah."
Sea berjalan tak tentu arah. Posisinya sudah cukup jauh dari rumah sakit. Kemarin, saat ia keluar dari mal, Sea tersesat. Pintu keluar mal dan pintu masuknya berbeda. Sea tidak bisa kembali lagi ke rumah sakit. Terpaksa berjalan lurus entah kemana.
Semalam, ia menginap di sebuah moshola. Pagi harinya, ia bertanya pada seseorang agar bisa ke rumah sakit. Setelah mendapat jawaban, Sea berhasil ke sana, ia memberanikan diri bertanya tentang pasien atas nama Tuan Yohan Nevan Haiden ke bagian informasi. Namun petugas informasi tidak mau memberikan info karena Sea tidak bisa menunjukkan kartu identitas.
Lalu, Sea mengatakan kalau dirinya masih berusia 16 tahun dan belum memiliki kartu identitas. Petugas informasipun meminta kartu pelajar pada Sea. Lagi, Sea tidak dapat menunjukkannya. Alhasil, gadis belia itu diusir secara halus oleh petugas keamanan.
Karena pegal akibat berjalan lama, Sea memutuskan untuk berhenti di sebuah halte. Ia memperhatikan area sekitar, orang-orang tampak sibuk lalu-lalang. Ada yang bermain gadget, bercengkrama, ada yang menyetop bus lalu naik terburu-buru, dan aktivitas lainnya.
Sea bingung, kota besar ini terkenal keras. Ia takut ada orang jahat yang menipu dan memanfaatkan ketidaktahuannya.
"Ya Rabb, beri aku petunjuk," gumamnya sambil mengusap air mata yang mulai berlinangan.
Ingin rasanya bertanya pada seseorang tapi ia takut. Matanya kembali memandangi sekitaran. Sea berharap bisa menemukan polisi, tapi ... nihil.
Dan lapar itu menyerang lagi. Untungnya, masih ada sisa roti di tasnya. Segera disantap. Kemudian menghitung uangnya.
"Lumayan, masih ada 72.000 lagi," lirihnya.
Tiba-tiba ada pengamen yang bernyanyi di depannya. Saat mereka meminta uang, Sea memberikan yang dua puluh ribunya. Pengamen terlihat kaget tapi bahagia. Ia mengira Sea akan memberikan yang 2000.
"Apa yang harus aku lakukan? Walaupun masih kecil, suara pengamen itu terdengar merdu. Sangat berbeda denganku. Aku tidak bisa bernyanyi. Tidak ada yang bisa kutonjolkan. Aku tidak memiliki bakat apapun. Aku bahkan sudah tidak suci lagi. Kenapa nasibku seperti ini?" Sea terjerembab dalam kesedihan dan kebingungan yang tak berujung.
"Tuan Yohan, aku mengira akan bahagia kalau aku terbebas darimu. Ternyata ... aku salah. Aku merasa lebih tenang saat ada di apartemenmu."
Setelah merasa cukup istirahat, Sea melanjutkan langkahnya. Ia berjalan lumayan jauh. Hingga tibalah di sebuah warung makan berukuran besar yang berada di sisi jalan. Sea memutuskan beristirahat di warung ini untuk sarapan.
Semoga harga makanan di warung ini tidak semahal di mal, harapnya.
"Kak, mau nasi setengah, sama kerupuk dua," pesannya pada pelayan warung.
"Ikannya mau apa?" tanya pelayan.
"Emh, ti-tidak pakai ikan Kak, nasi dan kerupuk saja."
"Oh, kalau minumnya mau apa?"
Pelayan itu menatap Sea dari atas hingga ujung kaki. Mungkin merasa aneh karena baru kali ini ada pelanggan yang hanya memesan nasi dan kerupuk.
.
.
"Bu, ada pelanggan, wanita muda dan cantik. Lebih tepatnya masih remaja. Cepat Ibu lihat, kalau menurut aku sih dia sangat sesuai dengan tipe gadis yang kita cari," bisik pelayan itu pada ibu-ibu berpakaian gaul yang ada di ruangan lain warung tersebut.
"Wah, matamu biasanya tidak pernah salah. Baguslah, berarti target kita datang sendiri."
"Benar Bu, dia terlihat lugu dan udik. Tapi dia sedikit aneh, masa makannya hanya pakai nasi dan kerupuk?"
"Kamu serius?"
"Serius Bu, pelayan yang lain juga melihat, kok."
"Bagus. Hahaha." Ibu-ibu itu tertawa bahagia.
...❤...
...❤...
...❤...
"Huuu ... huu, Keivel, Ibu pasti kangen kamu."
Bu Ana tak kuasa menahan tangis. Tak menyangka jika putrinya akan kembali terlibat kasus hukum dan dijemput paksa oleh polisi. Bu Ana menangis meraung-raung saat melihat Linda mengemasi barang-barangnya sambil berurai air mata.
Keivelpun seolah merasakan kesedihan momcanya. Bayi tampan itu tiba-tiba rewel dan gelisah. Diberi ASI-pun tidak mau. Suster Dini dan Ners Sinta tengah mempersiapkan perlengkapan Keivel.
"Ssshh, ssshh, sayang ... ganteng ... jangan menangis, kita akan bertemu paren, kamu tenang ya," kata dokter Rita.
Ia menimang Keivel kesana-kemari. Batinnya turut merasakan kesedihan. Linda pasti tertekan pikirnya. Ia sudah menyayangi Keivel, pun menyayangi Linda.
"Dok, biar aku kasih ASI dulu, sini sayang," kata Linda.
Ia meraih Keivel dengan hati-hati. Tapi, bayi itu tetap rewel. Wajahnya sampai merah karena terus menangis.
"Sayang, cup cup cup, kamu kenapa? Jangan membuat Momca makin sedih Keiv ...," ratap Linda.
'Tok, tok.' Pintu kamar diketuk oleh Hikam.
"Linda, permisi. Apa sudah selesai? Kata polisi harus cepat soalnya jam penerbangannya sebentar lagi." Hikam mengabari.
"Ya, Hikam. Ini sebentar lagi kok," sahut Linda.
Linda kian gugup. Benar, di saat seperti ini ia sangat membutuhkan sosok Agam Ben Buana. Tapi, Linda tidak mau membebani Agam, setidaknya ia harus merahasiakan masalah ini sampai kondisi Gama membaik.
Satu jam berlalu.
Akhirnya, Ayah Berli dan Bu Ana harus merelakan jua kepergian putri dan cucu tercintanya. Lagi, tangisan Bu Ana dan tatapan sendu Ayah Berli mengiringi kepergian Linda dan Keivel.
"Pak, Bu, jangan terlalu khawatir. Keivel dan Bu LB akan baik-baik saja. Saya dan suster akan menjaga Keivel. Pak Agam juga memiliki banyak pengawal. Saya yakin Bu LB tidak akan merasa sendirian. Ibu dan Bapak cukup berdoa saja, dan yakilah jika masalah ini akan segera berakhir," kata dokter Rita sebelum pintu mobil polisi tertutup sempurna hingga Bu Ana dan Ayah Berli tidak bisa lagi melihat Linda dan Keivel.
Mereka hanya bisa melambaikan tangan saat mobil itu mulai melaju. Dan di dalam mobil, Lindapun melambaikan tangan pada ayah dan ibunya diiringi isakan.
"Apa Bapak-bapak tidak kasihan sama LB?" tanya dokter Rita, ketus.
"Kasihan Dok, kami bertiga sebenarnya fansnya LB, tapi mau bagaimana lagi? Kami hanya menjalankan tugas. Tidak ada alasan lain."
"Aku difitnah Pak, pada saat itu aku juga hanya menjalankan tugas dari TV KITA. Aku tidak tahu masalah perizinan itu, dan tidak tahu juga kalau identitasku dipalsukan," kata Linda seraya terisak, memeluk Keivel yang tertidur.
"Semuanya akan terbongkar di pengadilan Bu."
"Dokter Rita, coba hubungi lagi pak Vano. Aku harus bicara dengannya," kata Linda.
"Baik Bu."
Tapi lagi-lagi, Vano tidak mengangkat telepon. Bahkan sampai Linda dan rombongan duduk di kursi pesawat, Vano tetap tidak mengangkat panggilan. Baik panggilan dari Linda, polisi, Hikam, maupun dokter Rita.
"Pak Polisi, aku ingin dilindungi dari media. Jangan sampai berita penangkapanku tersebar. Aku tidak mau ibu dan ayahku digunjing lagi. Selain itu, aku juga kan punya bayi kecil. Aku ingin memiliki privasi, Pak," desak Linda.
"Tenang saja, Bu. Ini operasi senyap, kok. Kami tidak membocorkan masalah ini pada wartawan. Selain itu, tim penggugat juga meminta agar kasus ini ditutup dari publik. Salah satu penggugatnya kan memiliki kedekatan dengan kepala negara," terang polisi.
"Rival kamu seram ya, El. Lagipula mau-maunya kamu jadi penyiar berita, jadinya begini, kan?"
"Hikam, kalau kamu bukan di pihakku, lebih baik kamu terjun saja dari pesawat, tapi jangan memakai pengaman," sentak Linda.
"Hahaha, puas," timpal dokter Rita.
"Dokter Rita, aku ikut ke kota salah satunya karena ingin membantu Anda." Hikam menatap dokter Rita.
"Hahaha, saya tidak butuh pembantu, maaf ya," dokter Rita memalingkan wajah, padahal faktanya sedang menghindar dari tatapan Hikam yang mampu membuat jantungnya berzumba ria.
Lalu, ada apa gerangan dengan pengacara Vano? Kenapa tidak bisa mengangkat telepon?
Ternyata oh ternyata, hari ini pengacara Vano sedang menghadiri sidang salah satu kliennya. Di hadapan majelis hakim tentu saja tidak boleh membawa ponsel.
...❤...
...❤...
...❤...
"Aku serius, Jep, LB dijemput polisi."
Di kamar mandi, Yuli sedang menelepon temannya.
"Kamu jangan bohong, Yul! Buktinya apa?"
"Pokoknya kamu harus percaya. Begini saja deh, kamu kan ada kenalan wartawan, kamu beri tahu dia saja. LB sepertinya terbang bersama polisi sekitar pukul setengah sepuluh atau jam sepuluhan. Soalnya berangkat dari rumahnya jam sembilanan. Kalau kamu berhasil, dan berita ini tersebar, aku hanya minta 25 juta saja. Sisanya silahkan, kamu jual sesukamu."
"Baik, awas saja kalau kamu bohong."
"Jep, aku kan bekerja di rumah LB. Masa kamu tidak percaya sih? Nomor rekeningku aku kirim ya."
...❤...
...❤...
...❤...
"Globalisasi di bidang ekonomi telah mendorong munculnya perdagangan bebas lintas negara. Perdagangan bebas adalah suatu situasi di mana arus lalu lintas barang, jasa, dan manusia dari dan ke suatu negara di dunia ini tidak akan mengalami hambatan yang berarti."
"Keadaan itu akan menimbulkan peluang juga ancaman bagi bangsa dan negara kita. Peluang itu berupa makin mudahnya barang dan jasa produksi negara kita untuk memasuki pasaran luar negeri. Namun akan ada hambatan non tarif seperti kuota bagi produk negara kita yang akan diekspor ke negara lain."
Agam berusaha keras untuk konsentrasi, padahal hatinya tengah gundah-gulana. Khawatir pada Gama, bercampur dengan rindu pada Linda dan Keivel. Entah itu firasat atau bukan, Agam merasa batinnya tidak tenang. Lalu minum sejenak untuk melepas dahaga. Kameramen HGC berulah, Pak Dirut yang sedang minum dizoom. Hingga dekstop raksasa itu memperlihatkan keindahannya.
Telinga Pak dirut, bibir Pak Dirut, bahkan pergerakan jakunnya saat menelan air terbidik sempurna. Serius, anggota rapat jadi merasa sedang menonton break iklan.
Anak magang memukul dadanya, pesona Pak Dirut membuat mereka kesulitan bernapas. Anak magang laki-laki pun melongo. Lucunya, Agam tidak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian.
"Ehhm, saya lanjutkan. Demikian pula halnya dengan tenaga kerja lokal, mereka dapat bekerja dengan mudah di negeri asing tanpa hambatan ataupun peraturan imigrasi. Namun di sisi lain, keadaan ini dapat menimbulkan ancaman bagi negara kita."
"Alasan ancaman itu karena barang, jasa, dan tenaga kerja asing boleh masuk dengan leluasa ke negara kita. Lalu akan terjadi persaingan kualitas barang, jasa, dan tenaga kerja dalam negeri dengan tenaga kerja luar negeri dalam memperebutkan kepercayaan pasar."
"Oleh karena itu perlu dilakukan penyusunan strategi guna menghadapi tantangan globalisasi. Sehingga negara kita, khususnya perusahaan HGC mampu memperkuat posisinya untuk mengambil peluang dalam persaingan ekonomi secara global."
"Menurut saya, sebuah modernisasi pasti akan ditandai dengan kecepatan arus informasi, globalisasi dan ekonomi digital yang tidak dapat dilepaskan oleh pengaruh teknologi."
Agam menjeda sejenak kalimatnya demi membetulkan dasinya yang sedikit miring.
Pak Dirut, aku rela jadi budak n a f s u mu, batin seorang anak magang.
Penampilannya sih culun. Rambutnya diuntun dua, kacamatanya tebal dan besar, memakai kawat gigi warna hitam. Kemejanya rapi, bahkan terkancing seluruhnya hingga bagian kerah. Kaus kakinya panjang hingga menutup lutut. So, don't judge by the cover.
"Jadi, strategi HGC dalam hal ini adalah dengan meningkatkan keampuhan teknologi, kemudian mengintegrasi tradisi perdagangan yang bersifat abstraksi menjadi bentuk yang lebih sempurna, universal, dan spasio-temporal, atau istilahnya mampu menembus ruang dan waktu."
"Inovasi yang kami lakukan tidak lagi terbatas pada sektor teknologi tinggi, namun lebih jauh lagi. Yaitu semua hal yang menjadi fenomena global dan mempengaruhi semua sektor kehidupan."
Agam berbicara sambil memasukkan kedua tangan di saku kemejanya. Terkadang, Pak Dirut juga melipat kedua tangan di dada dan sesekali merapikan posisi kacamatanya. So cool, terlihat cerdas, gagah, bijak tapi juga seksi.
"HGC telah berhasil mengolah teknologi informasi yang mampu menggerakkan perdagangan barang melalui transmisi arus informasi dan gagasan. Arus data tersebut kemudian kami determinasikan dengan pergerakan barang, jasa, keuangan, dan sumber daya manusia yang inovatif, cerdas, kompeten, dan bermoral."
Agam mulai gelisah, namun tidak terdeteksi oleh siapapun.
"Mohon maaf, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Saya masih ada kepentingan lain. Untuk contoh program, target dan capaiannya akan dilanjutkan oleh Bu Aulia, sekretaris saya, terima kasih." Agam membungkukkan badan. Disambut standing applause seluruh peserta rapat.
Agam berlalu setelah menyalami beberapa investor dan kolega bisnis HGC.
"Ide Anda sangat brilliant, Pak Dirut. Saya percaya diri untuk bekerja sama dengan HGC," puji seseorang pada Agam.
"Saya merasa biasa saja," jawab Agam.
.
.
"Brilliant? Ya ampun, itu meningatkan aku padamu, sayang." Di ruangannya Agam mengingat kembali kata itu.
Setelah ini, rencananya akan ke firma untuk mengecek berkas tuntutan yang telah disusun oleh Vano sekaligus melakukan singkronisasi dengan data penting yang didapatkan oleh Mister X.
Rindu kian menggebu. Akhirnya menelepon sang tambatan hati sambil rebahan di sofa. Sayangnya, ponsel Linda tidak aktif. Lanjut menelepon dokter Rita, tidak aktif juga. Lanjut menelepon mertuanya tapi tidak diangkat.
"S i a a a l! teriak Pak Dirut.
"Kok bisa semua orang melupakanku?!"
Tak putus asa, Agam menelepon dokter Dani. Hasilnya, tidak diangkat juga.
"Ada apa sih?" gumamnya.
Terakhir menelepon Vano, dan tentu saja tidak diangkat.
Agam menghela napas, mengusap dada bidangnya dan berusaha tenang. Lalu iseng menyalakan televisi.
"Kabar mengejutkan datang lagi dari LB," kata pewarta.
Deg, Agam meletakkan kembali minuman yang akan ia teguk saat mendengar kata LB. Segera meraih kaca mata lalu memfokuskan pandangan pada layar televisi.
"Menurut sumber, hari ini LB telah dijemput paksa oleh pihak kepolisian kesatuan kota untuk dibawa ke kota dan ditahan."
"Apa?!" Telinga Agam langsung memerah.
"Wartawan dari berbagai media kini telah berkumpul di area depan bandara untuk melakukan wawancara langsung pada LB. Mereka akan menyambut kedatangan LB yang konon membawa serta putranya yang masih berusia 42 hari."
Astaghfirullahaladzim ....
Pak Dirut mengatur napas. Tangannya mengepal erat.
"Mari kita ikuti kabar langsungnya dari rekan kami Reza yang saat ini telah berada di lokasi. Hallo saudara Reza, silahkan dengan laporan Anda."
"Terima kasih saudari Vera, pemiarsa di rumah dan di manapun Anda berada, beberapa saat lagi LB dan petugas kepolisian yang menjemputnya akan melewati jalur ini."
Di layar tampak ramai. Puluhan kameramen dan wartawan berjajar. Rata-rata telah membidikkan kamera mereka.
"K u r a n g a j a r! Kenapa wartawan sampai tahu?! Awas kamu Pederik! Tuan Gunatara, aku akan menghancurkan kalian!" geram Agam. Lalu bergegas sambil menghubungi Maxim dan Enda.
"Enda, Maxim, kalian siap ya! Kabari juga Yanyan dan tim! Langsung ke bandara saja!"
...❤...
...❤...
...❤...
Di tempat lain.
"Dasar licik! Berani kamu bawa-bawa wartawan ya LB!"
"Ya Tuan, dia pasti ingin meraih simpati publik. LB sengaja menggunakan ketenarannya untuk memobilisasi para wartawan."
Mereka berada di sebuah gedung mewah. Dua orang pria itu tengah mengobrol. Mereka dikelilingi oleh puluhan orang lainnya yang berpakaian seragam pengawal berwarna hitam.
"Ini bisa jadi ada campur tangan Dirut HGC, Tuan."
"Ya bisa jadi, Agam Ben Buana rupanya sudah berani menabuh genderang perang. Padahal, awalnya saya tidak ingin melibatkan dia."
"Ya Tuan, tapi ini kesempatan bagus. Sekali tepuk dapat dua lalat. Kita bisa mendapatkan LB sekaligus menghancurkan Agam Ben Buana dan merebut HGC."
"Benar juga sih, ahahahah, hahahaha." Mereka terbahak-bahak.
"Siapkan senjata dan pasukan kita. Agam Ben Buana bukan lawan yang mudah," titahnya.
"Baik, Tuan."
"Hahaha, mari kita mulai perang dingin ini Agam Ben Buana. Oiya, cita-cita saya yang belum terlaksana adalah ... ingin menikmati tubuh LB di hadapan mata Dirut yang sombong itu! Hahahaha."
"Cita-cita Anda akan segera terkabul, Tuan."
"Hahahah hahaha."
Mereka kembali tertawa, dan disahuti oleh tawa dari para pengawalnya, hingga ruangan megah itu riuh dan bergemuruh oleh suara tawa.
...❤...
...❤...
...❤...
"Val ... bangun ...." Ratap Freissya. Ia sedang mengelap tubuh Gama yang dipenuhi banyak memar.
"Aku akan melapnya dengan perlahan, tidak sakit, kan? Kalau kamu sakit, tolong katakan sesuatu Val. Aku ingin mendengar suaramu. Val ... huuu ... sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Bangun Val ...."
Setelah melap tubuh Gama, kini akan melap wajahnya. Bagian wajah menjadi bagian terakhir yang dilap sebab pusat cidera Gama berada di kepala. Artinya, di bagian ini benar-benar harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.
"Val ... aku sudah tahu alasan kenapa bapak dan mamaku menentang keluargamu. Aku tidak bisa menyalahkan kamu lagi. Kamu tidak bersalah, begitupun dengan ayah kamu."
"Val, jika aku mengatakan aku mencintaimu, apa kamu akan bangun?"
"Val, jika aku mengatakan aku merindukanmu, apa kamu akan membuka mata lagi?"
"Val, aku tidak tahu perasaan apa yang ada di dadaku, aku belum yakin Val .... Tapi, ta-tapi a-aku takut kehilangan kamu."
Freissya melap pelan pipi dan leher Gama dengan sabun khusus. Wajah Gama mulus, tidak ada luka lecet sedikitpun Ya, yang cidera berat memang kepalanya.
Setelah selesai, Freissya menatap Gama, ia mengelus pipi Gama, dan entah ia sadar atau tidak dengan pelan namun pasti, Freissya mengecup sudut bibur Gama. Lalu berbisik ....
"Apapun yang kamu inginkan dariku, aku akan mengabulkannya. Asalkan ... kamu cepat sadar kembali."
...~Tbc~...