AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
With Him, With Her



"Pak Agam ... ma-maaf ya ...," cicit Linda saat pria itu benar-benar masuk ke dalam selimutnya.


"To-tolong diam Bu Linda, sa-saya tidak bisa tenang," kata Agam. Tangannya gemetar dan meraba.


"Aaaa! Pak Agam kenapa memegang itu?!" teriak Linda.


Spontan Linda menendang Agam dan menendang selimut. Lalu duduk sambil menutupi bagian dadanya dengan bantal.


"Auwwh," keluh Agam, ia duduk bertumpu pada lutut sambil memegang bibirnya. Agam merasa ada yang hangat di bibirnya.


"Hahh."


Linda membelalak. Bibir Agam pecah, dan berdarah. Ternyata tendangan kakinya mengenai bibir pria itu.


"Pak Agam, ma-maaf."


Linda mendekati Agam dan meninggalkan bantal yang menutupi dadanya. Otomatis disain kaca mata kain yang dipakai di dadanya terekspose sempurna. Begitu padat, pipih, masif dan ..., dan sebagainya.


Kali ini Agam yang spontan, ia sepontan menutup mata.


"Cepat pakai selimut dan halangi itu! Apa Anda senganja menggoda, hahh?!" bentak Agam.


"Upps," pipi Linda merah padam. Segera melilitkan selimut ke tubuhnya.


"Ma-maaf Pak Agam, lagipula Anda yang mencari dan mencuri kesempatan. Kenapa memegang di situ?" ketusnya.


"Hei, saya tidak cari kesempatan ya. Saya tadi tutup mata dan langsung meraba. Ini salah Anda ya Bu Linda! Harusnya Anda tertelungkup kalau risletingnya ada di belakang, kenapa malah terlentang?!"


Tidak mau kalah, Agam juga ketus. Bahkan sampai menjunjuk-nunjuk Linda.


"Hei."


Linda tidak ingin disalahkan. Ia sampai berdiri di tempat tidur.


"Harusnya Pak Agam beri aba-aba dulu kalau mau membantu, huuhh." Dengus Linda kesal.


"Ya ampun, Anda lancang sekarang ya, mentang-mentang sudah menjadi artis," kata Agam.


"Maksudnya apa, hahh?! Saya tidak pernah memohon dan meminta jadi bintang iklan! Hatcim, hatchiiim." Diakhiri bersin-bersin.


Dan mereka baru sadar, jika keduanya belum berganti pakaian, dan Linda tahu juga kalau risleting roknya masih slip.


"Emm, cepat kemari, saya akan bantu memperbaiki risletingnya." Suara Agam mulai pelan.


"Ba-baiklah," Linda pelan juga. Perlahan turun dari tempat tidur dan memunggungi Agam.


Agam menghela napas, lalu perlahan jua menarik selimut yang menghalangi tubuh Linda.


DEG.


Jantung keduanya bersahutan. Linda berdegup kencang karena takut Agam menodainya lagi. Sedangkan Agam berdegup kuat karena melihat seluruh bagian punggung sampai ke bawah. Saat Linda berdiri bentuknya semakin sempurna.


Tubuh Agam kembali panas-dingin dan bangkit. Rasanya ingin melukis penuh punggung indah itu dengan jejak cinta tanpa meningglkan celah sedikitpun.


Glup. Agam menelan salivanya.


"Cepat dong, Pak." Linda menyadarkan.


"O-oke." Agam gugup dan gagap.


"Langsung ke risleting ya Pak, jangan menyentuh bokong saya."


"Sa-saya usahakan."


Agam berlutut, lalu memicingkan mata mencari keberadaan pengait risleting. Tangannya gemetar.


"Cepat dong, Pak! Kenapa lama sekali?!"


"Bu Linda, saya tidak bisa membuka tanpa memegang, Anda gunakan gunting saja."


Agam beranjak sambil mengambil kembali selimut untuk menutupi Linda.


"Tapi, roknya sayang, Pak." Sambil menghadap Agam.


"Saya bisa membelikan yang baru, dengan pabrik tekstilnya sekalian."


Agam berlalu. Namun saat menghadap cermin, matanya membulat sempurna.


"What's! My ears, my lips."


Terkejut. Baru sadar bibirnya pecah dan berdarah. Telinganyapun terluka bahkan ada gambar gigi di sana. Sontak membalikkan badan dan menatap tajam pada wanita yang saat ini berdiri di pojokan sambil mengurung seluruh tubuhnya.


"Bu Linda, ini kekerasan lho! Saya paling tidak suka kalau wajah saya terluka." Mengurung Linda. Kedua tangannya bertumpu pada dinding.


"Pak Agam! Dengar ya!" teriaknya, hingga Agam ngarencod atau terlonjak.


Linda membuka selimut sampai batas leher, sekarang ia yang terkejut, wajah Agam begitu dekat dengannya. Sesaat merekapun saling menatap lekat.


Nyali Linda seakan menciut melihat ketampanan yang paripurna itu. Begitupun dengan Agam, jika saja tidak berusaha menahan diri, ia sudah ....


Pikiran Agam melanglang buana sesuai dengan namanya, Agam Ben Buana.


"Kenapa Bu Linda melakukan ini? Oke, yang di bibir saya maklumi. Tapi ini yang di telinga, saya tidak terima ya Bu."


"Pak ... bi-bisa tidak bicaranya jangan terlalu dekat?"


"Emm, oke. Baik."


Agam mundur seperempat langkah.


Itu sih tidak niat mundur. Batin Linda.


"Saya menggigit telinga Bapak, karena saya melindungi diri. Saat Bapak mabuk, Bapak cium-cium leher saya, ya sudah saya gigit."


"Apa?! Ja-jadi itu bukan mimpi?" Agam menutup mulutnya. Malu.


Kalau itu bukan mimpi, berarti saat dia mendesah, asli juga dong.


Agam mengulum senyum. Jadi gemas dengan wanita di hadapannya ini.


"Hmm, oke yang ini saya maklumi juga. Jika alasannya untuk melindungi harga diri, saya rasa boleh-boleh saja. Maaf jika Bu Linda tidak nyaman," kata Agam.


"Sayangnya hukum di negara kita kadang tidak adil. Ada saja orang yang melakukan kekerasaan hingga tega membunuh demi mempertahankan harga diri, keluarga dan hartanya malah dihukum juga," kata Linda.


"Anda benar Bu. Padahal, menurut pasal 49 Wetboek van Stafrecht, memang tidak dipidana barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, demi kehormatan kesusilaan atau harta-benda diri sendiri maupun orang lain," terang Agam.


"Pak Agam faham Kitab Undang-undang Hukum Pidana?" Linda menatap kagum.


"Emm, tidak juga. Tapi, saya dan Tuan Deanka memang memiliki firma hukum," terang Agam.


Terdengar seperti tengah memamerkan kekuasaannya.


Dan Linda merespon dengan kata, "Wah, Pak Agam keren."


Tanpa sadar sudah menunjukkan jika dirinya kagum pada Agam.


"Apa?! Keren?"


Serius, hidung Agam sedikit mengembang.


"Sa-saya permisi," kata Agam.


Sebelum Linda menjawab, Agam sudah meninggalkan kamar itu dengan terburu-buru.


Agam ternyata gugup saat Linda mengatakan keren kepadanya.


"Hmm ...."


Linda menautkan alisnya. Merasa aneh dengan sikap Agam.


Berakhirlah sudah drama ketidakjelasan di kamar itu, dan setelah Agam pergi, Linda terpaksa menggunting roknya dengan berat hati.


***


'BRUG.'


Agam menjatuhkan tubuh yang hanya tertutup handuk ke tempat tidur. Ia baru saja mandi dan melakukan perbuatan tidak terpuji di kamar mandi. Sebuah kegiatan pelampiasan hasrat yang dilakukan secara manual. Solo karir.


"Huuhhh." Ia menghembuskan napasnya.


Terbayang lagi kegiatan yang baru saja ia lakukan. Sangat menjijikkan dan memalukan, pikirnya.


Apakah Agam berdosa karena melakukannya?


Tuhan Yang Maha Esa mengharamkan seseorang bercumbu selain pada suami atau istrinya. Jika seseorang melakukannya hanya untuk membangkitkan syahwat, hukumnya secara umum adalah 'Haram.'


Agam memukul bantal. Ia menyesali, tapi ... tidak bisa menghindarinya. Ia dijebak dan dicelakai orang lain hingga terpaksa melakukan ini.


Ya, Agam tahu jika dalam agamanya perbuatan ini haram karena dapat mendorong pelakunya untuk melakukan yang lebih real.


Namun, ada juga yang mengatakan boleh dilakukan untuk menekan syahwat dan takut akan terjerumus zina.


Kondisi itu berarti ... melakukan yang terlarang di saat darurat atau terpaksa mengerjakan tindakan mudhorot yang lebih ringan daripada berzina.


"ARGH," teriak Agam.


Agam adalah orang yang meyakini jika aktivitas itu adalah 'HARAM.' Titik. Tidak ada alasan apapun pokoknya 'HARAM.'


Dan ia termasuk orang yang meyakini jika aktivitas itu boleh dilakukan asalkan oleh pasangannya. Pasangan yang sah alias suami-istri.


"Harusnya ... tadi itu dilakukan oleh tangan istriku, atau tubuh istriku. Bukan dengan tanganku sendiri," gumamnya. Sambil mengusap barang berharganya yang hari ini ... teramat sangat kelelahan.


"Ada yang mengatakan boleh jika merasa khawatir akan melakukan zina, dan tidak punya mahar untuk menikah. Tapi, secara pinansialkan aku sangat mampu untuk menikah." Agam merutuki perbuatannya.


Tadi sebelum mandi, ia sudah menghubungi dokter Cepy dan dokter Fatimah.


Dokter Fatimah adalah orang asing. Jadi, ia mengatakan pada dokter Fatimah jika sepupunya yang sedang menginap perlu diUSG.


Agam lalu menelepon seseorang untuk membatalkan pertemuannya dengan Angga. Harusnya malam ini ia bertemu Angga. Tapi, karena merasa tidak sehat Agam mengurungkan niatnya.


❤❤ Bersambung ...