
Gama gelisah, baru kali ini ia merasakan tidur di kasur yang menurutnya keras dengan backsound bunyi kipas angin.
'Kretek-kretek, kretek tek tek tek.'
Begitu kipas angin itu berbunyi, terus-menerus, berulang-ulang dan membuat Gama terjaga.
"Aaaa," teriaknya.
Ia memang pernah menginap di rumah temannya, tapi semua teman Gama kaya-raya. Otomatis kasurnyapun nyaman. Ingin rasanya mematikan kipas angin, tapi panas. Dan kipas anginnya tidak bisa di mode diam.
"Ya ampuuun, oh Ice .... apa kamu sudah tidur?"
Gama menatap jam di tangan kanannya. Waktu menunjukkan pukul 21.14. Gama akhirnya membuka kembali jendela kostsan dua lantai itu untuk memantau aktivitas di halaman belakang rumah Freissya. Lagi, ia membidikkan teleskopnya.
Namun baru saja hendak mengintip, ponselnya bergetar. Diraihnya cepat. Ada pesan dari Agam.
"Gama, kamu menginap di rumah siapa? Gama, tolong menginap dulu di rumah teman kamu sampai Kakak memperbolehkan kamu pulang. Tolong jangan protes ya. Suatu saat kamu pasti faham."
Begitu isi pesan dari Agam. Gama menghela napas, ingin rasanya menelepon kakaknya dan marah saat ini juga. Namun yang ia lakukan hanya membalas pesan Agam dengan dua huruf singkat.
"Ya."
Pesan terkirim.
Tidak ada aktivitas apapun di pekarangan belakang rumah Freissya. Seluruh pintu kandang ayam yang bentuknya bersusun-susun sudah tertutup rapat. Tiba-tiba Gama merasa lapar. Iapun turun ke bawah bermaksud untuk membeli makanan.
"Mau kemana Nak ganteng?"
Bu kost belum tidur rupanya. Ia sedang menonton televisi bersama putra kecilnya yang terlelap di pangkuan. Ruang menonton TV kostsan yang menyatu dengan rumah itu berada tepat di samping tangga.
"Lapar Bu, mau makan. Jam segini masih ada yang jualan kan, Bu?"
"Masih dong ganteng, ada di simpangan depan. Tapi kalau kamu malas, Ibu ada mie instan dan telur. Kalau kamu mau, ke dapur saja. Masak sendiri bisa, kan?"tawar ibu kost.
"Aku tidak pernah makan mie instan Bu," jawabnya sambil berlalu.
"Apa? Serius?" Menatap tak percaya.
"Permisi," jawab Gama. Seolah tidak peduli dengan keheranan ibu kost.
Karena jarak ke persimpangan dekat, Gama memilih untuk jalan kaki. Pikirinya, dengan berjalan kaki, ia bisa leluasa mengamati daerah itu.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Sesampainya di persimpangan gang, Gama terkejut. Ia melihat plat motor yang ia kenal. Gama bersembunyi di balik tembok sebuah bangunan untuk menguping.
"Sampai kapan kamu mau bekerja sampingan bersama ayam-ayam itu?" kata pria yang duduk di atas motor.
"Kak, itu bukan sampingan. Aku bekerja untuk membantu bapak," jawab gadis cantik yang berdiri di sampingnya.
"Tapi Frei, aku maunya kamu bekerja sampingan di klinik papaku, bukan bersama ayam-ayam itu," tegasnya.
"Memangnya kenapa? Kakak tidak suka kalau aku dekat ayam? Apa karena aku bau ayam? Atau Kakak malu punya pacar anak tukang ayam dan kotoran ayam?"
Gama yang menguping memasang telinga. Sesekali ia melongokan kepala untuk melihat apa yang terjadi. Tampak jika pria itu turun dari motor, lalu memegang bahu gadis cantik itu.
Ice .... sapa Gama dalam hati.
Dugaannya benar. Mereka adalah Freissya dan kekasihnya.
"Aku tidak masalah dengan latar belakangmu, aku hanya ingin agar kamu bekerja sesuai passionmu. Gaji suster di klinik papaku lumayan besar. Papa dan mamaku pasti senang kalau kamu bekerja di sana. Kita bisa sering bertemu Frei," kata pria itu sambil membelai rambut Freissya.
Kemungkinan profesinya adalah dokter. Batin Gama.
"Mau ya?"
"Maaf, Kak. Aku tidak bisa. Aku anak sulung, adikku masih kecil-kecil. Yang bisa diandalkan untuk membantu usaha bapak hanya aku. Tolong fahami," Freissya berbicara sambil menunduk.
Saat berbicara dengan pria itu, dia seperti gadis pada umumnya. Tapi kenapa saat berbicara denganku galak sekali? Batin Gama.
"Frei, aku akan bicara pada bapak. Bapak pasti setuju. Aku yakin. Oiya, papaku juga menawarkan kamu untuk melanjutkan kuliah. Jangan hanya diploma tiga. Kamu harus kuliah lagi. Aku yang biayai, oke?"
Kali ini sambil mengelus pipi Freissya. Pipi yang di mata Gama sangat menggemaskan hingga ia ingin menggigitnya. Dada Gama panas, ia cemburu.
"Kak, tidak perlu repot-repot. Dari hasil menjual ayam kampung dan pupuk kompos, bapakku bisa kok menguliahkanku lagi. Aku sudah ditawari, tapi aku menolak. Kenapa? Karena aku ingin membantu bapak mengumpulkan uang untuk masa depan adik-adikku," terang Freissya. Ia menepis tangan kekasihnya yang hendak memeluk.
Pria itu menghela napas, lalu berkata ....
"Oke, kalau begitu, bagaimana kalau kita menikah saja?"
DEG. Gama kaget begitupun dengan Freissya.
"Apa? Kakak ti-tidak se-serius, kan?"
"Aku serius Frei, setelah kita menikah, aku berharap kamu mau mengikuti saran-saranku. Istrikan harus patuh pada suami," katanya sambil tersenyum.
Dan di luar dugaan, respon Freissya pada kalimat itu membuat Gama dan pria itu kaget.
"Oh, jadi kamu mau menikahiku karena mau mengekangku?! Kamu tidak usah beralibi ya! Jujur saja kalau kamu sebenarnya malu punya calon istri yang hanya lulusan diploma tiga. Malu karena bapakku hanya penjual ayam dan tidak berpendidikan tinggi! Sementara kamu, kamu dokter dan papa mamamu juga dokter!" teriak Freissya.
Ia membalikan badan hendak pergi namun kekasihnya menarik dan memeluknya.
"Frei jangan salah faham." Mendekap Freissya.
"Lepas! Lepaskaaan!" Freissya meronta.
"Hei jangan berteriak, nanti orang-orang berpikir kamu dijahati." Ia membekap mulut Fressya dengan tangannya.
Freissya berusaha melepaskan diri. Namun tidak berhasil. Ia diseret ke dinding yang letaknya dekat dengan persembunyian Gama.
"Kalau marah, kamu menggemaskan," katanya saat ia berhasil menghimpit tubuh Freissya ke tembok bangunan.
Gama segera berjongkok.
"Lepaas! Tolooong, tol ---."
Teriakan Freissya kembali tercekal. Ia kembali dibekap.
Jika Freissya minta tolong, artinya ... dia tidak suka dengan perlakuan kekasihnya. Gama berpikir ke arah situ. Ia melongokan kepala. Sontak terkejut karena jelas sekali kekasih Freissya sedang memaksa untuk mencium Freissya.
"KURANG AJAR!!"
Gama berteriak sambil menendang pundak kekasih Freissya hingga menimbulkan bunyi, 'BUGH.' Dan sasarannya tersungkur.
"Aaaa."
Freissya berteriak sambil menutup wajahnya. Kondisi sekitar sedikit remang-remang. Jadi, ia tidak mengenali Gama.
"SIAPA KAMU, HAHH?!"
Kekasih Freissya bangkit. Secepatnya melakukan serangan pada Gama. Terjadilah perkelahian di antara keduanya. Saling serang tanpa basa-basi.
"Hentikan, cukup ... huuu huuu ...."
Freissya bingung, ia tidak berani melerai, juga tidak berani berteriak minta tolong karena takut mengganggu warga dan mempermalukan bapaknya. Bagaimana jadinya jika para tetangganya geger saat tahu ada dua orang pemuda berkelahi gara-gara dirinya?
Gama dan pria itu benar-benar adu jotos, pacar Freissya tentu saja tidak terima kesenangannya diganggu. Karena ia merasa yang dilakukannya pada Freissya adalah cara romantis untuk meredam kemarahan Freissya.
"Stop!"
Freissya akhirnya memberanikan diri melerai dengan cara berdiri di antara Gama dan kekasihnya saat ada kesempatan.
"Ka-kamu?" Freissya terkejut.
"Kamu kenal dia?"
Pacar Freissya keheranan, ia yang sudut bibirnya berdarah jelas terkejut.
"Aku teman baiknya," jawab Gama asal. Ia nengusap pelipisnya yang sempat terkena serangan. Sedikit kebiruan jika dilihat dari dekat.
"Benar dia teman kamu?"
Freissya awalnya kebingungan. Namun setelah ia pikir-pikir, mungkin dengan mengakui bocah ini sebagai teman, keadaannya akan membaik.
"I-iya, Kak. Dia temanku. Sudah ya aku lelah, aku mau pulang."
Freissya berlalu begitu saja sambil terisak.
"Frei tungguuu." Kekasihnya mengejar.
"Maafkan aku ya, aku antar."
"Tidak perlu diantar, kalau Kakak memaksa, aku marah," jawab Freissya.
Freissya diam saja. Malah mempercepat langkahnya. Kalut hatinya. Penuh dengan tanya, kenapa bocah itu ada di sini?
"Hei, kamu mau kemana?!" teriak kekasih Freissya saat Gama menyusul Freissya.
"Aku tinggal di daerah sini, ya mau pulang lah," jawab Gama.
Kekasih Freissya menatap punggung Gama dengan keheranan. Sebab selama dua tahun menjalin kasih dengan Frei, ia merasa belum pernah melihat keberadaan sosok seperti Gama di daerah itu.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Ice, kamu tidak apa-apa kan?"
Gama menghadang Freissya.
"Minggir! Kenapa kamu ada di sini, sih?"
"Aku sekarang tinggal di sini."
"Apa? Tinggal di sini?"Freissya terdiam.
Pada akhirnya, ia malas berdebat lagi dengan bocah ini. Ia tidak mengatakan apapun saat Gama mengikutinya melewati gang sepi yang di sisi kiri dan kananya dipenuhi semak. Area gorong-gorong di jalur ini memang ditumbuhi ilalang dan semak belukar.
"Ice, aku serius tinggal di sini. Aku disuruh kakakku keluar dari rumah," lanjut Gama.
"Memangnya kamu pikir aku akan percaya? Sudahlah, jangan banyak alasan. Di manapun kamu tinggal, aku tidak peduli," ketusnya.
'Krosak.'
Tiba-tiba ada bunyi di balik semak.
"Hah, apa itu?"
Spontan Freissya berhenti. Hingga Gama hampir menabrak punggungnya.
Lalu seekor ular berwarna hitam seukuran pergelangan tangan bayi keluar dari semak dan melintas cepat di hadapan Freissya. Keduanya kaget.
"Aaaa ular!"
Spontan Freissya berteriak dan melompat ke pelukan Gama. Gamapun refleks mendekap Freissya. Jantung Gama berdegup kala merasakan tubuh Freissya menempel di dadanya.
Freissya mengeratkan tangan di leher Gama. Napas Freissya terdengar tersenggal, dadanya naik turun dengan cepat. Freissya juga memejamkan matanya. Di leher Gama, tangan Freissya terasa dingin.
"I-Ice, are you o-oke?" tanya Gama.
"A-aku takut u-ular, aku trauma. Kakekku meninggal gara-gara dipatuk ular. Dan a-aku juga pernah hampir mati gara-gara dipatuk ular, takuuut," ucapnya dengan suara gemetar, dan matanya masih terpejam.
Apa aku harus berterimakasih pada ular itu? Ya ampun, memeluk dia rasanya nyaman sekali. Batin Gama.
"Ularnya sudah pergi, kamu tenang ya."
'Tid tiiid.'
Tiba-tiba ada motor lewat. Pengemudinya mengumpat dan berteriak.
"Woy, jangan mesum di jalan! Mau ditabrak ya?!" teriaknya.
Teriakan itu dan lampu depan motor yang menyala terang menyadarkan Freissya. Terkesiap Freissya saat membuka mata dan sadar sedang memeluk bocah yang dibencinya.
"Ka-kamu?"
"Ice?"
Kedua mata mereka bertemu pandang. Baru juga Freissya akan melepaskan diri, suara itu muncul lagi.
'Krosak.'
"Jangan bergerak, ada ular lagi. Aku lihat yang ini lebih besar dari yang tadi," kata Gama. Ia menarik Freissya agar bersembunyi kembali di balik dadanya.
Karena memiliki trauma, Freissya tentu saja terpengaruh. Tangannya mencengkram kuat punggung Gama karena ketakutan. Gama menyeringai, ia tersenyum sambil menatap rembulan yang seolah mentertawakannya. Rasa laparnya hilang seketika.
Ice ... kamu nyaman dipeluk. Kamu membuatku merasa tenang. Aku akan merebut kamu dari pria itu.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Agam sedang dilepas infusnya oleh dokter kepala. Pagi ini, ia kembali diizinkan pulang dengan syarat harus ada tim medis yang mendampingi.
"Tubuh Anda luar biasa. Responnya terhadap obat-obatan sangat baik," puji dokter kepala.
"Mungkin obatnya cocok," jawab Agam.
Matanya beberapa kali menatap pintu keluar. Ia sedang menunggu kedatangan Linda. Satu jam yang lalu Linda pergi dengan nona Aiza.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Jadi begitu, sekarang tergantung pilihan kamu. Mau sabar menunggu, atau mengakhiri pernikahanmu dengan Agam. Maaf kalau aku ikut campur. Intinya, aku hanya ingin mengatakan kalau Agam sangat tulus," kata Deanka.
"Aku tahu dia tulus. Oiya, Tuan Muda tidak tahu bagaimana sulitnya perjuanganku selama ini. Untuk masalah cinta dan kesetiaan, harusnya Anda tidak perlu menanyakannya lagi padaku."
Linda menatap Deanka dengan tatapan sinis.
"Harusnya Andalah yang mawas diri Tuan Deanka."
"Maksudmu?"
"Baiknya keluarga Anda tidak perlu mengorbankan kehidupan pak Agam untuk mengurus HGC sampai nona Aiza dewasa. Kenapa tidak Anda saja yang menjadi Dirut HGC?" tegas Linda sambil berlalu.
"Hei, tunggu. Bukan aku yang memutuskan! Agam jadi Dirut HGC karena terpilih secara demokratis," teriak Deanka.
Ia mengepalkan tangan. Baru kali ini ada wanita yang berani melotot, dan membentaknya selain Aiza.
Berani sekali wanita itu, dia bahkan menyalahkan mertuaku sebagai orang yang paling berperan membahayakan nyawa Agam. Dia mengatakan Agam menjadi anggota BRN gara-gara ayahku. Gila, sepertinya dia memiliki beberapa info penting yang bahkan Agam sendiri tidak mengetahuinya.
Linda Berliana Briliant, aku harus mengecek sepak terjang dia selama jadi presenter. Kenapa dia bisa tahu kalau ayahku yang mendelegasikan Agam menjadi anggota BRN?
Deanka memijat batang hidungnya.
"Kak Dean, susu kambingnya."
Tiba-tiba nona Aiza datang ke ruang kerjanya sambil membawa segelas susu yang masih mengepul.
"Hai, baby."
"Kak Lindanya mana, Kak?"
"Sudah pergi. Kamu jangan bermain dengan dia. Dia bukan wanita polos," terang Deanka sambil mengambil gelas susu, meletakannya di nakas, lalu memeluk Aiza.
"Ya iyalah Kak. Kak Linda tidak polos. Kan sudah dewasa."
"Hmm ... kamu tidak faham." Deanka mengurung Aiza dan menggiring istrinya ke atas sofa.
"Kak Dean, ma-mau apa? Katanya, tadi mau minum susu kambing, kan?"
"Ya benar, tapi sekarang berubah pikiran, bukan susu kambing lagi."
"A-apa? Kak ... ja-jangan ...." Aiza meronta.
"Kamu dengar apa kata dokter Fatimah, kan? Stimulasi rutin itu baik untuk ibu hamil. Apa kamu lupa?" bisiknya.
"A-apa? Tapi Kak ... stimulasi yang terlalu sering juga ti-tidak baik, kan?"
Aiza lemas. Bibirnya menolak, tapi ... tubuhnya selalu merespon dan welcome. Bahkan tangannyalah yang bergerak sendiri untuk menyuguhkan keranuman itu pada suaminya.
Deanka bahagia. Waktu berputar, Deanka tidak akan berhenti sampai Aiza memohon kepadanya.
"Kak Dean ... lanjutkan sayang ...." Lirih Aiza dengan tatapan polosnya.
Setelah sampai ke titik itu, Deanka akan menarik ulur waktu untuk menggoda Aiza. Tiada hari tanpa gelora cinta. Begitulah kehidupan Aiza dan Deanka pada saat ini.