AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Variety of Love [Bagian 3]



"Pak Berli, mari kita bicara baik-baik. Ini sudah malam, Anda mau kemana?" Paman Yordan menahan Ayah Berli.


Sementara pengacara Vano terlihat sibuk melakukan panggilan. Vano sedang menelepon Agam, sudah berulang kali, tapi tidak diangkat.


"Pak Agam kemana, sih? Kok tidak diangkat?" gerutunya.


"Lepaskan aku! Lepaskan Dokter!"


Di depan kamar komite medik rumah sakit The Number One, Ayah Berli bersikeras untuk pergi. Bisa jadi tekadnya untuk membongkar skandal Agam Ben Buana memang sudah bulat.


"Pak, Ben itu sudah mejadi menantu Anda. Kalau Anda membongkar keburukannya, apa Linda akan setuju? Bisa saja Linda tidak setuju. Linda sangat sangat mencintainya, Pak." Paman Yordan berusaha membujuk Ayah Berli.


"Aku tahu, Dok! Aku tahu! Tapi aku bosan seperti ini terus! Putriku sebentar lagi akan melahirkan, tapi keseriusannya sulit terbukti. Buktinya sekarang, saat Linda dihujat, dia tetap diam. Dirut HGC kebal hukum, beda dengan anakku. Kalaupun aku membeberkan fakta tentangnya ke publik, publik belum tentu percaya. Tapi setidaknya aku telah melakukan hal yang benar untuk membela putriku."


Ayah Berli bersikukuh. Dia serius pergi meninggalkan pengacara Vano dan Paman Yordan.


"Pak Vano, cepat lakukan sesuatu," desak Paman Yordan.


"Dok, saya bingung, pak Agam tidak mengangkat panggilan. Ponselnya sih aktif."


"Ya ampun, mungkin dia sudah tidur. Ya sudah, Anda ada nomor anak buahnya, kan?"


"Ada, Dok. Apa yang harus saya lakukan?"


"Terpaksa kita harus bertindak tegas pada pak Berli," kata Paman Yordan.


"Maksudnya?" Vano belum faham.


"Suruh anak buahnya Ben untuk menangkap pak Berli. Sampai waktunya kondusif, kita harus menahan dia dulu."


"A-apa? Tapi Dok, kalau pak Berli kita tangkap, lalu siapa yang akan mensomasi berita? Dalam hal ini kan harus ada pelapor dan terlapornya."


"Pak Vano, kita hanya menggertak pak Berli. Setelah itu, kita jelaskan pelan-pelan tentang Ben dan hubungannya dengan BRN."


"Tapi Dok, ini berbahaya, terlalu beresiko. Bagaimana kalau pak Berli malah ketakutan? Saya rasa malah akan memperburuk hubungannya dengan pak Agam."


"Benar juga sih. Ya sudah, sekarang Anda perintahkan saja anak buah Ben untuk menangkap pak Berli. Langkah selanjutnya kita pikirkan lagi nanti."


"Baik, Dok."


"Cepat lakukan, aku akan mengirim pesan pada Ben untuk membahas masalah ini. Kemana dia ya? Kok tidak biasanya susah dihubungi."


"Dok, sebenarnya pak Agam sedang sakit, Dokter lanjutkan saja urusan Dokter yang belum dituntaskan, biar saya saja yang menangani masalah ini."


"Wah, beruntung sekali Ben memiliki pengacara seperti Pak Vano, Anda sangat berdedikasi. Masih muda, tampan pula," puji Paman Yordan sambil menepuk bahu Vano.


"Hahaha, itu karena saya dibayar dengan gaji yang besar. Kalau gratis, mana mau saya, Dok."


"Hahaha."


Dan merekapun akhirnya tertawa bersama.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Kamu juga kemana sih? Hikaaam, cepat angkat teleponnya," seru Ayah Berli.


Ia mondar-mandir di lobi rumah sakit dengan wajah gelisah. Kondisi saat ini mulai senyap dan sepi. Waktu sudah sudah menunjukkan pukul 23.57 waktu setempat.


"Ya ampun, sekarang nomornya tidak aktif," gerutunya.


"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya seorang scurity yang menghampiri Ayah Berli.


"Aku sedang menunggu seseorang, Pak. Tapi ponselnya tidak aktif."


"Oh begitu, untuk menunggu silahkan di sana, Pak. Di pojok sebelah kiri ada banyak kursi, Bapak lebih nyaman kalau menunggu di sana."


"Oh, ya aku ke sana. Terima kasih." Ayah Berli berlalu dari lobi.


"Sama-sama."


Setibanya di tempat yang dimaksud scurity, Ayah Berli melangkah cepat menuju salah satu kursi, namun tiba-tiba dua orang pria mencekal tangannya.


"Hei, siapa kalian?" Ayah Berli kaget karena mereka memakai penutup wajah.


"Hei, lepaskan! Tol ---."


Mulut Ayah Berli sudah terlebih dahulu disekap dengan kain basah yang sepertinya mengandung obat bius karena Ayah Berli melemas seketika.


Dua orang itu kemudian menyeret Ayah Berli melewati jalur gelap taman rumah sakit yang pencahayaannya temaram.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Apa enak?" tanya Agam.


"Emm, iya Pak. Nikmat sekali," jawab Linda.


"Pelan-pelan Pak, saya kewalahan," harap Linda sambil membuka mulutnya.


"Ini sudah perlahan sayang, cepat sedikit tidak apa-apa ya, supaya kamu puas dan kenyang," pungkas Agam.


"Hmm," Linda cemberut.


"Buka dong El, ini masih banyak," bujuk Agam.


Linda kembali membuka mulutnya, spageti buatan Agam rasanya memang lezat, sulit untuk ditolak.


"Bapak juga makan dong."


"Tadi saya sudah icip. Tapi untuk memakannya lagi, no."


"Kenapa, Pak? Ini enak sekali lho."


"Takut otot perutnya rusak," jawab Agam sambil mengusap lelehan saus spageti di sisi bibir Linda.


"Kalau aku gendut memangnya tidak apa-apa?"


"Kamu hamil sayang, gendutpun tidak masalah."


"Oh, jadi kalau aku tidak hamil tidak boleh gendut?"


"Em, kalau tidak hamil harus ideal sayang," jawab Agam sambil kembali menyuapi Linda.


"Tunggu, kalau aku sudah tidak hamil dan gendut, berarti Bapak tidak suka? Jadi, Pak Agam tidak tulus mencintaiku, dong?" Linda kembali cemberut. Bibirnya dikatupkan.


"Hahaha, dengar sayang, saya pria realistis. Ya, saya suka yang berat badannya ideal, maksudnya supaya sehat. Tidak ada maksud lain. Dan saya juga kurang suka dengan wanita yang kekurusan, maunya yang seperti kamu. Kamu selera saya," tegasnya seraya mencubit pipi Linda.


Yang dicubit makin kesal saja, Linda menerima suapan dari Agam sambil berdecak kesal hingga saus tomat kembali meleleh di bawah bibirnya.


"Sebentar sayang," kata Agam.


Ia memegang dagu Linda, lalu membersihkan lelehan itu dengan bibirnya.


"Emm, gurih," selorohnya.


Linda akhirnya tersenyum apalagi ketika ia mengingat kembali kejadian memalukan yang baru saja mereka lewati.


Tadi, saat Agam mengatakan ingin melihat sesuatu, bising ususnya malah berbunyi.


"Katamu tadi tidak lapar, kok berbunyi sih?" protes Agam pada saat itu.


"Emmh, Pak ... ta-tapi serius aku memang lapar. Aku tiba-tiba mau spageti. Pak Agam bisa memasakan spageti untukku? Mau spageti saus kacang almond," ucap Linda.


Seketika itu, Agam langsung memasygul rambutnya. Entah kesal atau marah, Agam segera turun dari tempat tidur dan menyerang samsak.


"Pak Agam, maaf." Linda mendekatinya.


"Pakai autermu, pakai lagi!" teriak Agam kala itu di sela-sela serangan membabibutanya pada samsak.


"Spagetinya?" tanya Linda.


"Nanti akan saya buatkan setelah saya berkeringat."


Lalu saat Agam tumbang dengan keringat bercucuran, Linda mengelap keringat dan mencium bibir Agam agar pria itu lebih tenang.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Agam.


"Emm, ingat kejadian tadi Pak. Bapak lucu. Hehehe."


"Suatu saat bukan samsak yang saya serang, tapi kamu. Aaa," titahnya lagi.


"Kenyang Pak."


"El, ini masih banyak."


"Disimpan di kulkas saja, Pak. Besok setelah dihangatkan, aku mau makan lagi.


"Oke."


Agam menyimpannya di kulkas. Lalu mengambil air mineral untuk Linda. Dibantunya Linda saat meminum air tersebut dengan hati-hati. Ia memperlakukan Linda seolah masih sakit. Padahal sejatinya, Agamlah yang sebenarnya masih sakit.


Bahkan Agam telah melanggar perintah dokter yang menyuruhnya untuk tidak berolahraga dulu minimal 7 hari ke depan. Namun ia malah menyerang samsak untuk meredam hasratnya pada Linda.


"Mau saya temani atau tidur sendiri?" tanya Agam saat Linda baru saja selesai gosok gigi.


"Aku tidak apa-apa sendiri, tapi pindah ke kamar yang lama," jawabnya.


"Hmm, berarti saya temani. Tenang, saya tidur di sofa. Kamu yang di kasur," ucap Agam sambil membuka bajunya. Sebuah kebiasaan sebelum tidur yang menurut Linda sedikit aneh.


"Kamu tidak ada yang dibuka saat tidur?" tanya Agam ketika ia sudah merebahkan dirinya di sofa.


"Tidak ada," jawab Linda.


Dan iapun merebahkan tubuhnya di kasur setelah menyelimuti Agam. Matanya belum lepas dari menatap Agam. Ada perasaan kasihan pada pria itu karena harus berpuasa sampai masa nifas berlalu.


Tapi ... apa memuaskan suami harus selalu dengan penyatuan tubuh? Tentu tidak bukan? Linda merenung.


Apa ia berdosa membiarkan Agam seperti itu? Tentu saja berdosa. Ya, walaupun Linda tidak pandai dalam masalah agama, tapi ... ia sedikit tahu tentang hal itu.


"Pak Agam," panggilnya pelan.


"Hmm ...." Ternyata Agam belum tidur.


"Apa Pak Agam tidak tidur bersamaku? Kasurnya masih luas."


"Tidak."


"Kenapa? Kita kan suami istri."


"Pak ... emm ... a-aku mau menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri," lirih Linda. Suaranya sangat pelan karena malu.


"A-apa?"


Yang tadi mengurung diri dengan selimut langsung bangun. Tapi segera tidur lagi dan mengatakan ....


"Sudah malam, cepat tidur El. Yang tadi sudah cukup. Saya puas kok, mimpi indah sayang," katanya.


"Ya sudah kalau Bapak tidak mau, yang penting aku sudah menawarkan. Tadinya aku ingin melakukan sesuatu. Aku wanita dewasa, Pak. Bukan remaja polos," kata Linda.


"A-apa?"


Agam melongokan kepala menatap Linda. Jantungnya berdegup kuat. Tiba-tiba jadi penasaran dengan penawaran istrinya. Sayangnya, Linda sepertinya sudah tidur.


"El," panggilnya untuk memastikan. Tapi Linda diam saja. Padahal, Linda belum tidur. Ia sedang berpura-pura.


"Sayang," Agam memanggilnya lagi.


"Hmm."


Agam menghela napas, sekarang ada perasaan menyesal karena menolak. Ia jadi gelisah dan resah. Posisi tidurnya berubah-ubah beberapa kali, dan kalimat Linda terus terngiang di telinganya.


"Ya sudah kalau Bapak tidak mau, yang penting aku sudah menawarkan. Tadinya aku ingin melakukan sesuatu. Aku wanita dewasa, Pak. Bukan remaja polos."


"Ssshhh," desisnya. Kembali mengintip Linda, tapi istrinya bergeming.


.


.


.


.


Fiew minutes later (beberapa menit kemudian) ....


"El ...."


Agam tidak tahan. Ia naik ke tempat tidur. Lalu memeluk punggung Linda.


"Sayang ... sudah tidur ya? Hmm ... maaf ... saya sebenarnya tidak biasa dan tidak bisa tidur di sofa. Maaf tadi menolak tidur denganmu. El ... saya boleh peluk kamu ya."


Agam merapatkan tubuhnya pada punggung Linda, lalu mengangkat perlahan kepala Linda agar tidur di lengan kokohnya. Ia menciumi rambut Linda yang mewangi. Lalu tangan kanannya membelai lembut perut Linda. Dalam batinnya Agam berkata ....


"El ... sesuatu apa yang ingin kamu lakukan, sayang? Saya penasaran, saya mau kamu melakukannya ... sekarang."


"Apa yang kamu katakan tadi membuat saya tidak bisa tidur."


"Linda," panggilnya. Kali ini sambil menciumi pundak Linda.


Linda yang sebenarnya pura-pura tidur berdebar-debar. Ia bisa saja berakting seperti orang tidur, tapi jantungnya tidak bisa berbohong. Jedag, jedug dengan kerasnya. Harapnya, Agam tidak mendengar degupannya.


Tapi ... Linda merasakan ada sesuatu yang tengah mendesak dan menekan punggungnya, hal ini jelas membuat Linda tidak bisa menghiraukan suaminya.


Kasihan juga dia ya .... Batin Linda.


Dan sentuhan bibir Agam di pundaknya yang semakin intens, pada akhirnya membuat Linda menggeliat.


"Maga ...," lirihnya.


Pak Dirut tentu saja kaget. Pipi dan telinganya memerah seketika.


Malu.


Tapi ... mau bagimana lagi? Dulu, saat Agam sadar belum menikahi Linda, ia masih kuat menahan landaan hasratnya.


Tapi ... sekarang Linda adalah istri sahnya. Kehalalan itulah yang membuatnya tidak bisa menahan diri.


Dengan suara gemetar, Pak Dirut akhirnya berbisik ....


"Sayang ... lakukan sesuatu, saya tidak bisa menahannya lagi. Saya tidak mau terus berdosa. Sayakan sudah memiliki kamu. Maaf ya ... sebenarnya malu mengatakan hal ini. Tapi ...."


Sebelum Agam menyelesaikan kalimatnya, Linda sudah terlebih dahulu membalikan badan, memeluk Agam, dan menyambar bibir merah tipis pria itu.


Bagai mendapat durian runtuh.


Agam berbunga-bunga. Sejenak ia mematung, namun saat Agam mulai aktif, Linda berkata ....


"A-apa Anda bisa pasrah? Tolong diam saja ya, aku bisa melakukannya sendiri," kata Linda.


Ia berbicara sambil menyembunyikan kepalanya di dada Agam. Serius, Linda juga sebenarnya malu, tapi ... kecanggungan ini harus segera diakhiri, ya kan?


"Ba-baiklah," gumam Agam.


Agam memejamkan matanya sambil tersenyum, lalu berdoa di dalam hatinya agar pagi ini sang mentari datang terlambat saat menjemput malam.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Saat ia membuka matanya, Ayah Berli terkejut. Ia berada di kamar mewah sebuah hotel. Ada banyak makanan di atas nakas.


Sambil mengingat apa yang terjadi, ia mengitari kamar itu. Pintunya terkunci, dan saat Ayah Berli membuka balkon, ia melihat pemadangan pusat kota dari ketinggian.


Gedung pencakar langit berdiri kokoh seolah tengah menunjukkan keangkuhannya. Deretan mobil tampak terparkir di bawah sana dengan ukuran yang sangat kecil. Lampu malam menyemai menghiasi sisi-sisi jalanan.


Ayah Berli sadar jika saat ini ia sedang berada di puncak tertinggi kamar sebuah hotel.


Lalu ia mengambil tas miliknya yang tergeletak di tempat tidur. Isi di dalamnya lengkap, namun ponsel miliknya raib.


Ayah Berli mengepalkan tangannya. Apa ada menantu baik yang tega mengurung ayah mertuanya? Ayah Berli bertanya pada dirinya sendiri sambil meratapi fakta ini.


Ia bingung, apa sebenarnya yang dipikirkan menantunya? Ia yakin jika keberadaannya di kamar ini pasti atas perintah Agam. Agam juga pasti menyuruh anak buahnya untuk menyita ponsel miliknya agar tidak bisa berkomunikasi.


"Benar kata kamu Hikam, sebaik apapun Agam Ben Buana, ia tetap saja antek Haiden. Dia tega mengurung ayah mertuanya demi nama baiknya. Dia hanya menginginkan putriku dan putranya, tapi dia tidak ingin kejahatannya terbongkar ke publik. Kamu munafik Agam Ben Buana!" teriak Ayah Berli.


"Buka pintunya, bukaaa!" teriaknya. Ia menendang pintu hotel.


Lalu dua orang yang tidak ia kenali masuk ke dalam kamar.


"Siapa kalian? Kamu anak buah Agam Ben Buana, kan?! Katakan padanya jangan sombong! Aku ingin bertemu dengan dia."


"Hahaha, maaf Pak. Kami bukan anak buahnya pak Dirut," jawab salah satu dari mereka sambil menutup pintu.


"APA KATAMU?!"


Ayah Berli kaget. Matanya membulat.


"Tenang Pak. Kami tidak akan menyakiti Anda asalkan Anda mau bekerja sama dengan bos kami."


"A-apa?! Si-siapa bos kalian?!"


"Nanti beliau akan ke sini, Bapak istirahat dan makan dulu saja ya. Kami permisi."


Dua orang pria itu pergi sambil meniup moncong pistol. Dari tatapannya seperti bukan orang jahat.


Tapi ... siapakah mereka?


Ayah Berli dirundung kebingungan.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Adzan Subuh berkumandang dengan merdunya.


Teramat merdu hingga siapapun yang mendengarnya akan enggan untuk beranjak dari peraduan.


Pun dengan pria tampan yang satu ini. Ia masih bertelanjang dada dan terlelap tenang sambil memeluk wanita elok di dalam dekapan.


Yang didekapnya mulai menggeliat, ia menatap sang pria dan tersenyum-senyum seolah tengah membayangkan sesuatu yang indah atau menyenangkan. Wajahnya merona.


"Pak Agam ... bangun," katanya.


Lalu pria yang dibangunkan membuka matanya. Langsung menatap wajah jelita dan tersenyum seraya berbisik ....


"You are naughty baby, but i like it, do it again now like last night. Oke?"


(Kamu nakal sayang, tapi saya suka, lakukan lagi sekarang seperti yang semalam. Boleh?).


"Pak ... aku tidak mau ada kata baby nya. Cukup tuan Deanka saja yang memanggil baby pada nona Aiza.


"Hahaha, oke." Ucapnya. Lalu mengurung istrinya dan memberikan morning kissnes.


"Terima kasih untuk yang semalam istriku," bisiknya lagi.


"Sama-sama," jawab sang istri dengan wajah memerah bercampur meringis seolah tengah membayangkan sesuatu yang mengerikan atau menakutkan.


"Kenapa? Masih syok? Takut? Oiya, saya juga bisa melakukannya, mau dicoba?" godanya.


"A-apa? Ti-tidak Pak. Ja-jangan sekarang, aku belum siap."


"Siapnya kapan sayang? Kamu curang," protesnya sembari menyatukan kening mereka.


"Nanti saja, setelah selesai masa nifas."


"Apa? Tidaaak, itu terlalu lama sayang ...."


"Sabar Pak." Sambil membelai rambut suaminya.


"Hmm ... semoga bisa ya. Atau saya akan menonton vidio dukumentasinya."


"Vidio? Vidio dukumentasi apa, Pak?"


"Hahaha, vidionya masih ada di dokter Fatimah. Kata dokter Fatimah hanya boleh dilihat satelah saya dan kamu menikah."


"Apa?!"


Wanita cantik yang memakai piyama tipis nan minimalis itu ... terkejut.


Tiba-tiba ....


"Pak Agaaam, mohon maaf, ada tamu. Ada polisi juga, Pak. Ibu takuuut."


Terdengar suara Bu Ira dari rekaman interkom.


___


Next ....