
"Ice tungguuu."
Gama mengejar sampai lift, tangannya menahan pintu lift yang hendak ditutup Freissya.
"Kenapa kamu ke kamar LB? Apa kamu merindukan aku? Mau tahu namaku ya? Namaku Ga ---."
"Stop, jangan mimpi, aku tidak mau berteman dengan buaya, apalagi sampai rindu, tak sudi. Minggir!"
Freissya mendorong tangan Gama, lalu cepat-cepat menekan tombol lift.
"Ice tunggu, jangan seperti itu. Aku mau mengenalmu," teriak Gama.
"Dadah crocodile, blwee," ledek Freissya saat pintu lift tertutup perlahan.
Bibirnya yang dicebikkan saat meledek Gama, membuatnya semakin menggemaskan di mata Gama.
"Crocodile? Maksudmu? Ice, Ice ---."
Gama terus memanggil padahal pintu lift sudah tertutup.
"Crocodile? Siapa yang dia maksud crocodile? Tidak mungkin aku, kan?" tanyanya pada diri sendiri.
Sama sekali tidak sadar jika dirinya adalah crocodilenya.
Gama merenung di depan lift, dan ia baru tersadar saat seorang anak kecil mengatakan ....
"Hihihi, piyama Kakak warnanya lucu, merah sekali seperti buah apel," ocehnya.
"Hai Ade, kamu juga lucu kok, cantik lagi," sahut Gama.
Si anak kecil langsung salah tingkah. Ia memegang baju Gama dan menatapnya.
Namun seorang pria langsung menarik tangan anak kecil itu.
"Lulla, ayo," ajaknya.
Pria itu hanya menatap Gama sambil mengernyitkan dahi. Mungkin merasa lucu karena Gama salah kostum.
"Aku seperti ini karena mengejar seseorang, belum sempat ganti baju," sanggah Gama.
Ya, dalam urusan penampilan, Gama jangan ditanya lagi. Ia sangat fashionable.
"Dah, Kakak ganteng," kata bocah kecil itu saat berlalu.
Gama meresponnya dengan melambaikan tangan dan memberi kiss jarak jauh.
Lalu ia bergegas, kembali kamar Linda.
.
.
.
.
"Cieee."
Bu Ira langsung menyapa Gama dengan menciecie.
Sementara Pak Yudha tampak sedang memainkan kotak kecil berpita kuning yang diletakan oleh Freissya.
Tadi saat Gama pergi, Pak Yudha dan Bu Ira sudah menjelaskan pada Linda jika suster belia itu ingin bertemu Linda. Namun Linda membantah dan mengambil kesimpulan sendiri dengan mengatakan ....
"Aku yakin suster itu mau ada perlu dengan Gama, bukan denganku. Lihat saja tadi, dia dan Gama sepertinya sudah saling mengenal," kata Linda.
"Oh ... begitu ya," jawab Bu Ira dan Pak Yudha kala itu.
"Buka, buka, buka," kata Linda yang saat ini sedang disisir rambutnya oleh Bu Ira.
Bu Ira sangat menyayangi Linda. Bu Ira adalah seorang janda. Ia memiliki dua orang anak laki-laki yang saat ini sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Sedangkan suaminya sudah lama meninggal dunia.
Karena mungkin tidak memiliki anak perempuan, kasih sayang Bu Ira pada Linda terlihat begitu tulus. Ia memperlakukan Linda layaknya anak sendiri.
"Apa itu, Pak?" Gama malah bertanya.
"Lho, ini kan yang tadi dibawa suster muda itu. Gama panggil siapa tadi? I-I-Ice?" kata Pak Yudha.
"Ini dari dia? Ya ampun, berikan padaku, Pak. Cepat!"
Gama langsung merebut kotak itu dari tangan Pak Yudha, lalu membawanya ke kamar mandi sambil meraih handuk dan baju ganti.
Linda, Bu Ira, dan Pak Yudha kembali saling bertatapan.
Pak Yudha mengangkat bahu. Setahunya, Gama sering mendapatkan hadiah dari para kekasihnya, namun baru kali ini ia melihat Gama seexcited itu.
.
.
.
.
Di kamar mandi Gama mengatur napas, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan bersiap membuka kotak.
"Feelingku tidak akan salah, dia sebenarnya menyukaiku, hehehe. Terbukti, kan? Langsung memberiku kotak hadiah. Hahaha, tidak akan ada yang bisa menolak pesona seorang Gamayasa Val Buana, termasuk kamu," gumamnya.
Dan ....
Mata Gama membeliak setelah melihat benda yang berada di dalam kotak dan membaca tulisan panjang lebar yang tersemat di sana.
"Aku kembalikan sapu tanganmu, bocah. Sudah dicuci, kok. Ini pemberian kakak kamu, kan? Tolong hargai pemberian orang lain. Apalagi yang memberikannya kakak kamu sendiri. Mahal lagi sapu tangannya. Terima kasih tumpangannya, ku harap kita tidak bertemu lagi."
"Dari gadis kurang gizi yang tidak ingin bertemu kamu lagi, Freissya Shaenette Leteshia."
"Apa?! Aaa, aku tertipu," teriaknya.
Teriakan Gama sampai terdengar keluar.
Selesai mandi, ia pun izin pada Pak Yudha untuk pergi bermain. Namun Linda tiba-tiba mengatakan sesuatu.
"Gama, apa kamu tidak khawatir dengan kakak kamu?"
"Khawatir? Untuk apa? Dia kuat, punya banyak uang, dan punya kuasa. Nanti juga pulang," jawabnya santai, sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Bisakah kamu bantu, Kakak?" tanya Linda.
Gama menatap Linda.
"Hehehe, aku susah menolak kalau diminta bantuan sama orang cantik," katanya. Jiwa buayanya seolah sudah mendarah daging.
"Tolong temukan kakak kamu, lalu ajak pulang, bisa?"
"Kecuali untuk hal itu, Kak. Maaf aku tidak bisa membantu."
"Apa? Kenapa?" Linda heran.
"Kak Agam cinta mati sama Kak Linda, tidak mungkin dia meninggalkan Kak Linda tanpa alasan. Kak Linda sabar saja, jangan banyak pikiran dan satu hal lagi, jaga baik-baik calon keponakanku, oke kakak ipar?" kata Gama sambil bersalaman dan mencium punggung tangan Linda.
Lalu ia pergi cepat dan mengabaikan ajakan Bu Ira untuk sarapan terlebih dahulu sebelum pergi.
...*...
...*...
...*...
...*...
"Jam berapa ini?" ujar pria teramat tampan itu saat ia terbangun dari tidurnya.
"Apa? Jam 9?" Ia kaget dan terbangun.
Namun beberapa orang langsung menahan bahunya.
"Pak Agam, jangan duduk dulu. Sampai 24 jam, Anda harus bedrest, ada perdarahan di kepala, Pak."
"Perdarahan?" Agam terkejut, lalu kembali berbaring.
"Benar, Pak." Pengacara Vano datang.
"Kalian tunggu di luar dulu, ya." Lanjut Vano.
"Mimisannya ternyata akibat dari perdarahan itu. Tolong sayangi tubuhmu, Pak. Ya, bisa jadi Bapak tidak merasakan apa-apa, tapi kepala Bapak saat ini sedang tidak baik-baik saja," terang Vano.
"Saya mendapat info itu dari dokter Cepy. Oiya, tadi saat Bapak ditidurkan, dokter Rama dan tuan Bahir ke sini."
"Kenapa mereka ke sini? Siapa yang mengabari?"
"Pak, pelankan suaranya, yang mengabari Tuan Besar, tuan Deanka. Tuanka Deanka berang, saat tahu Bapak mengalami perdarahan di kepala, dia benar-benar tidak terima. Dia langsung memberitahu Tuan Besar untuk mendapatkan dukungan."
"Apa yang dia rencanakan?" tanya Agam sambil meraba-raba sesuatu.
"Sekitar tiga puluh menit yang lalu, Tuan Muda dan Tuan Besar sudah berangkat ke markas pusat BRN. Katanya akan melaporkan kesewenang-wenangan pak Wakil pada pak ketua dan federasi BRN tingkat internasional."
"Hmm, saya tidak enak. Ini harusnya bisa saya atasi sendiri, tapi ..." Agam memejamkan kembali matanya.
Lalu ....
"Vano, siapa yang memasang kateter? Oke, tidak apa-apa saya dibius, tapi kenapa harus dipasang kater segala?" protesnya.
Vano hanya nyengir kuda.
"Aku yang pasang, Ben? Mau apa kamu, hahh? Hahaha."
Tiba-tiba dokter Cepy datang sambil membawa banyak berkas di tangannya. Berkas itu berisi hasil pemeriksaan milik Agam, seperti hasil lab, rontgen, dan lain-lain.
"Gila kamu, aku tidak ikhlas, buka!" bentak Agam.
"Ben jangan egois, lihat ini! Aku melakukannya demi kebaikan kamu. Pemasangan kateter urine ini di sarankan juga oleh dokter kepala. Kamu mimisan terus akibat perdarahan di otak, Ben. Sampai anemia, tuh lihat hasilnya!"
Dokter Cepy memperlihatkan hasil pemerikaan darah rutin pada Agam.
"Apa? 7,8 gram %?" Agam kaget.
"Benar Ben, sekarang Juan sedang mengambil darah ke bank darah. Kamu harus ditransfusi. Lihat kulit kamu, pucat seperti putri salju."
Agam menghela napas, ia tidak menyangka serangan itu benar-benar membuatnya separah ini.
Linda ... maaf sayang ... maaf belum bisa menemui kamu. Aku takut kamu khawatir jika sampai tahu kondisiku. Aku merindukan kamu, sayang .... Ratap Agam dalam batinnya.
"Oiya, Pak. Mobil Bapak sudah saya ambil dari markas BRN. Sekarang sudah aman, ada di sini, di parkiran milik Tuan Muda," jelas Vano.
"Terima kasih, Vano."
"Kalian sebenarnya menyembunyikan apa sih? Kok dari tadi yang dibahas BRN? Ada hubungan apa antara kalian dan BRN?" Dokter Cepy tampak penasaran.
"Sudahlah, Anda fokus saja jadi dokter," jawab Vano, dan disambut senyuman oleh Agam.
"Oke, aku tidak akan ikut campur, tapi mau mengatakan sesuatu, ini penting sekali." Wajah dokter Cepy berubah serius.
Agam dan Vano jadi penasaran.
"Ada apa? Apa itu? Cepat katakan," desak Agam.
"Kemari, kita satukan kepala kita. Tapi ini rahasia kita ya. Jangan sampi ada yang tahu."
Dokter Cepy menarik bahu Vano untuk mendekat ke arah Agam yang tertidur dan menyatukan kepala mereka. Lalu dokter Cepy berbisik.
"Begini, tadikan aku diperintahkan memasang kateter oleh dokter kepala ---."
"Ya, terus ---." Vano tidak sabaran.
"Aku kaget, senjata milik Dirut HGC sangat wah, dalam keadaan tidur saja terlihat bongsor apalagi dalam keadaan ---."
'BUGH.'
"Awwwh," pekik dokter Cepy. Ia terjengkang ke lantai sebelum menyelesaikan kalimatnya karena ditoyor kuat oleh Agam.
"S i a l a n kamu Cepy! Dokter macam apa kamu! B r e n g s e k! Tidak lucu!" bentak Agam. Andai saja tidak sedang anemia mungkin wajah tampannya sudah memerah karena marah.
Sementara pengacara Vano malah terbahak-bahak.
"Hahaha, ahahaha, Pak Agam anemia dan sakit saja kuat sekali sampai dokter Cepy tumbang, bagaimana kalau tidak sakit? Pasti double kuat. Sadis benar, LB tahan tidak tuh, Pak?" goda Vano, dan tentu saja membuat Agam semakin meradang.
"Ka-liaaan," geram Agam. Ia mengepalkan tangannya. Ingin menghajar Vano juga, tapi ia tidak boleh bangun.
"Vano, bantu aku bangun, pinggangku terasa remuk," keluh dokter Cepy sambil merentangkan tangan pada Vano.
"Tega kamu, Ben. Bagaimana kalau pinggangku sampai tidak bisa bergoyang? Bisa kalang-kabut istriku, Ben. Sedangkan bergoyang adalah gaya andalanku," kata dokter Cepy saat pengacara Vano membantunya bangun.
"Tutup mulutmu dokter c a ***! Atau saya akan melaporkan kamu ke organisasi dokter negara agar izin doktermu dicabut," Agam masih berkoar-koar.
"Hahaha, tidak perlu marah kali Ben, kalau tidak merasa. Ya, kan?" Dokter Cepy masih saja meledek.
"Hahaha, Pak Agam marah pastinya karena merasa, Dok. Merasa kalau senjatanya memang bongsor," timpal pengacaro Vano, disambut tawa dokter Cepy.
"Diaaam!" teriak Agam.
Sontak teriakan Agam membuat perawat jaga yang tadi keluar masuk kembali ke dalam kamar.
"Ada apa, Pak? Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satunya.
"Dimana dokter kepala?" tanya Agam.
"Sedang konsultasi dengan dokter Rama, Pak."
"Kalian usir dua orang itu, mereka mengganggu kenyamanan saya," kata Agam sambil membalikan badan.
"Apa?"
Mereka hanya menunduk, mana berani mengusir dokter Cepy dan pengacara Vano?
Karena marah-marah, dan berteriak, Agam kembali misisan, Vano dan dokter Cepy panik.
"Ben, maafkan kita, Ben," ucap dokter Cepy saat Agam tengah diperiksa oleh dokter Cepy dan dokter Rama.
"Ya, Pak. Niat kita hanya untuk menghibur Bapak agar lekas sembuh," timpal Vano.
Agam diam saja.
Lalu ada panggilan masuk ke gawai milik dokter Cepy.
"Hallo, ya ada apa Juan?"
"Dok, stok darah untuk golongan darah AB sedang kosong, bagaimana ini?" kata Juan.
"Ya Tuhan, terus bagaimana? Apa pihak bank darah memberikan alternatif?"
"Sedang diusahan, Dok. Tapi ada baiknya dari pihak keluarga ada yang mendonor. Bukankah Pak Agam punya adik? Bisa jadi adik Pak Agam golongan darahnya AB juga, kan?"
"Baik, terima kasih infonya, Juan. Nanti aku mau umumkan juga di grup dokter, siapa tahu ada yang sukarela mendonor, atau mungkin mau menjual darahnya."
Dokter Cepy mengakhiri panggilan. Lalu mengabari dokter kepala dan dokter Rama jika stok darah AB sedang kosong. Semua tampak panik, namun yang mereka khawatirkan malam diam-diam saja.
"Ben, berapa nomor adik kamu? Golongan darahnya sama tidak dengan kamu?" tanya dokter Cepy.
"Ya sama, dia juga AB. Tapi saya tidak mau dapat donor dari dia," tolak Agam.
"Lho, kenapa Pak?" Vano keheranan.
"Dia play boy, saya tidak mau tertular play boy."
"Hahaha, ya ampun Pak Dirut," kali ini dokter Rama tergelak.
Lalu ada gawai yang menyala lagi. Kali ini milik Vano. Ternyata dari tuan Deanka.
"Ya, Tuan Muda?" Vano ke luar.
"Vano, ambulanceku sudah betul belum sirinenya?"
"Ya ampun Tuan Muda, masih membahas uwwiw uwwiw, nih?"
"Hahaha, becanda bodoh! Aku mau bicara dengan Agam, cepat! Tapi hanya berdua, aku dan dia saja."
"Baik."
Vano lalu memerintahkan agar semua orang keluar termasuk dirinya dan dokter Cepy.
.
.
.
.
"Ya Tuan Muda, ada apa?"
"Aku sudah dapat info dari Juan kalau golongan darah AB sedang kosong. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku sudah memerintahkan anggota anonymous yang memiliki golongan darah AB untuk mendonorkan darahnya ke bank darah pusat kota hari ini juga."
"Oke, terima kasih Tuan Muda. Lalu urusan dengan pak wakil dan pak ketua bagaimana?"
"Pak wakil terlibat pertengkaran sengit dengan ayahku, emm maksudku dengan mertuaku. Pak ketua jadi penengah. Oiya, pak ketua ada di pihak kita, Gam. Surat pengunduran dirimu sudah ada di tangan beliau."
"Pak ketua tidak keberatan kan, Tuan?"
"Nah, justru itu Gam. Masalahnya, dalam hal ini pak ketua juga tidak bisa mengambil keputusan. Kata beliau, kamu anggota spesial, kemampuanmu tidak dimiliki anggota lain. Jadi, untuk mendapatkan tanda tangan persetujuan pengunduran diri itu, pak ketua harus bertanya dulu pada federasi internasional."
"Hmm, ya ampun. Saya jadi menyesal menjadi anggota BRN."
"Jangan menyesal Gam, setidaknya kamu sudah bisa membeli pulau karena prestasimu di BRN. Ya, kan?"
"Oiya, ya. Ya, alhamdulillaah. Saya bahkan sudah membangun dua yayasan yatim piatu dari uang hasil bekerja sebagai anggota BRN."
"Nah, begitu dong Gam. Pak wakil akan disidang etik karena diduga menyalahgunakan wewenang. Dan ada hal lain lagi, pusat pengendali kontrol chip sedang genting. Basis system robotic dan main kendali chip system diduga ada yang meretas."
"Apa? Wah, kok bisa? Siapa pelakunya? Pasti bukan orang biasa?" Agam terkejut.
Agam jelas tidak tahu jika pelakunya adalah Deanka Kavindra Byantara karena saat Deanka menjalankan aksinya, ia pingsan.
"Pelakunya belum ditemukan, Gam."
"Apa yang dia retas?" Agam penasaran.
"Hahaha, tidak tahu Gam, sudahlah tidak perlu dipikirkan. Sekarang mari bahas masalah pribadimu. Apa ada yang bisa aku bantu? Maaf, aku sudah mengetahui masalahmu dengan mantannya LB dari Vano. Apa yang harus aku lakukan? Kamu yakin mau membunuh dia? Kalau kamu yakin, aku siap jadi tangan kananmu."
"Emm, tidak perlu, Tuan. Saat itu saya hanya emosi sesaat. Saya tidak mau membunuhnya, yang saya khawatirkan adalah ... dia nekad menyebarkan berita palsu, lalu Linda melihat berita itu dan tertekan, itu yang saya takutkan, Tuan."
"Baik, kamu fokus pulihkan dulu kesehatanmu, ya. Masalah siapa itu ... si Angga ya? Serahkan padaku."
"Terima kasih, Tuan. Tapi tolong jangan membunuhnya. Oiya, saya hanya izin tidak masuk kerja dua hari, bagai ---."
"Hahaha, tenang, tenang, selama kamu sakit, tugasmu di HGC akan aku handle. Kebetulan aku merindukan suasana kamar di lantai 88 dan kamar privat di lantai 89. Hahaha, aku akan membawa Aiza ke sana, mau ---."
"Stop, Tuan. Saya tahu maksud Anda. Tidak perlu dilanjutkan."
Di ujung telepon Deanka tertawa puas.
"Hahaha, kok kamu tahu sih? Luar biasa."
Agam hanya mengulum senyum sambil geleng-geleng kepala dan berharap semoga kebiasaan Deanka dalam hal itu tidak akan menular pada dirinya.
Kapan ya? Batinnya. Saat Deanka mengakhiri panggilan.
.
.
.
.
"Pak Agam, ini ponsel Anda, lowbath. Saya charg ya," kata Vano. Ia baru saja mengambil ponsel milik Agam.
"Terima kasih. Oiya Van, kamu cerita tentang Angga pada tuan Deanka?"
"Ya, Pak. Maaf, saya bercerita karena terlalu khawatir."
"Oke, tidak apa-apa. Saya tidak marah, kok. Tapi ... saya ada tugas untuk kamu."
"Tugas apa, Pak?"
"Kamu ke rumah sakit, belikan ponsel baru untuk Linda. Nomornya ganti yang baru."
"Apa?! Jadi saya mau bertemu LB. Yey, hore." Vano berjingkrak kegirangan.
"Saya fansnya, Pak."
"Kamu fansnya? Kalau begitu tidak jadi, saya mau menyuruh Juan saja." Agam kesal.
"Hahahaa, Juan juga ngefans dengan LB."
"Ya ampun, ya sudah kamu titipkan saja ponselnya pada Yudha. Saya tidak mengizinkan kamu menemuinya."
"Haha, baiklah. Padahal sudah senang saya Pak."
.
.
.
.
Pukul 15.00 waktu setempat
Akhirnya, Agam mendapatkan pendonor. Dan saat ini, ia sedang ditransfusi PRC (Packed Red Cell) labu atau kantung kedua.
Kondisi Agam pada sore harinya kian membaik, ia sudah bisa melaksanakan shalat Asar dan mengganti shalat yang tertinggal dengan posisi duduk.
Sayangnya, Agam belum bisa rukuk atau sujud. Sudah dicoba dilakukan, namun ia kembali mimisan saat dalam posisi itu.
"Dok, apa saya sudah boleh memegang ponsel?" tanya Agam pada dokter kepala.
"Boleh, Pak. Tapi jangan lama-lama ya. Dan sebaiknya posisi Anda juga terlentang saja. Saya mengizinkan Anda duduk hanya untuk shalat saja," terang dokter kepala.
"Baik, Dok."
Yes.
Pak Dirut girang.
"Assalamu'alaikuum. Ini aku, istri siri Pak Agam, Linda Berliana Briliant. Pak, ada di mana sih? Kenapa membiarkan aku menunggu tanpa kepastian?"
"Aku MARAH! Pokoknya, kalau Bapak tidak ada kabar sampai sore ini, aku akan menolak kalau Bapak tiba-tiba mau menjadi 'Bayi.' Camkan itu! Wassalaamu'alaikuum."
Deg, pesan dari Linda melalui nomor Pak Yudha benar-benar mengguncangkan jiwanya.
Harus, ia harus menelepon pak Yudha detik ini juga. Jangan sampai senja datang, sore berlalu, dan ia kehilangan kesempatan.
Di dering pertama, Pak Yudha langsung mengangkat, memberi salam, dan memberondong Agam dengan banyak pertanyaan.
"Pak Agam? Kemana saja Pak? Anda di mana? Baik-baik saja, kan? Kenapa tidak memberi kabar? Kita semua khawatir, kena ---."
"Pak, nanti saya jelaskan. Apa bisa bicara dengan istriku?"
Deg, jantung Agam langsung berjedag-berjedug.
Rindunya ....
"Baik, Pak. Tunggu ya, sebentar, kok.
Bahkan untuk menunggu sebentar saja, rasanya seperti sewindu.
Sayup-sayup terdegar suara Pak Yudha.
"Bu Linda, ini Pak Agam, mau bicara dengan Anda."
"Apa? Pak Agam? Serius?" Suara yang seksi itu terdengar jua.
"Serius," suara Pak Yudha.
"Katakan padanya aku tidak mau berbicara, Pak." Si suara seksi sepertinya merajuk.
"Lho, kenapa? Ini serius Pak Agam. Bukankah tadi Anda sangat ingin meneleponnya?" kata Pak Yudha.
"Karena aku maunya bertemu, Pak. Ber- te-mu, bukan cuma berbicara," teriak Linda.
Deg, jangtung Pak Dirut berzumba. Sama dengan dirinya, ternyata ... Linda juga teramat merindukannya.
Agam tersenyum.
Ternyata seperti ini rasanya dirindukan dan dicinta, rasanya ... sejuta rasa. Ada manisnya, berdebar-debar, bergejolak dan banyak rasa lain yang tidak bisa diurai dengan kata.
___