
"Kenapa Pak Agam murung?" ucap Linda sembari membantu Agam memakaikan baju dengan jantung berdegup. Bulu halus dan pahatan otot nan memukau itu membuat Linda sedikit limbung, gugup sudah pasti.
"Saya bahagia dengan kabar ini, tapi di balik ini semua pasti ada sesuatu yang dikorbankan," kata Agam dan ia tahu jika istrinya itu sedang gugup.
"Begitukah?" Linda mengancingkan kemeja dengan tangan gemetar.
"El, apa kamu sangat menyukai tubuh saya?"
"Ya, benar. Eh, apa? Tadi Bapak tanya apa?" Ceritanya Linda mengelak, tapi malah salah bicara.
"Hahaha, apa sekarang sudah tidak takut?" Agam menarik tangan Linda dan meletakan di dadanya.
"Takut? Takut apa? Perasaan aku tidak pernah merasakan apa-apa," kata Linda.
"Hmm, kamu selalu gemetar sayang, padahal sudah melihatnya lebih dari satu kali, ya kan?" goda Agam, yang saat ini sedang menyalakan laptop baru miliknya.
"A-apa? Sudah lah jangan dibahas, aku mau memberitahu ayah dan ibu kalau putra kita akan segera kembali. Aku permisi."
Linda berlalu sambil mendengus kesal. Bisa-bisanya Agam Ben Buana terpikirkan ke arah sana. Dan Linda juga merasa aneh pada dirinya sendiri. Hingga saat ini, ia memang masih gugup dan malu saat mencoba memberanikan diri menjalankan tugasnya sebagai istri Agam.
Apalagi saat Linda membayangkan hari itu. Hari di mana masa nifasnya usai dan Agam meminta haknya. Ya ampun, spontan wanita yang tubuh dan suaranya seksi itu bergidik ngeri. Entah apa yang ada di pikiran Linda.
.
.
.
.
"Nak, kamu yakin mampu bertahan jadi istrinya?" Ayah Berli mengagetkan.
"Maksud Ayah apa?"
Linda duduk perlahan di sofa mewah yang bentuknya baru pertama kali ia lihat. Pasti sangat mahal. Terbuat dari bulu domba asli yang berasal dari peternakan domba terbaik di dunia. Andai saja ia sudah memiliki keberanian, Linda pasti melarang Agam membeli barang semewah ini.
"Ayah tidak tenang memiliki menantu seperti dia. Kekayaan bukan segalanya, Nak. Ada hal lain yang harus kamu perjuangkan. Kebahagiaan, ketentraman, serta keselamatan kamu dan anak kamu."
Ayah Berli bicara serius sambil sesekali melirik ke arah Pak Yudha yang sedari tadi memantaunya.
"Aku bahagia, Yah. Kata Pak Agam, anakku sebentar lagi akan kembali."
"Kamu yakin, Nak?"
"Pak Agam tidak pernah ingkar janji," bela Pak Yudha.
"Ayah, tolong mengertilah, aku mencintainya setulus hati. Ini bukan masalah harta Ayah, ini masalah perasaan. Dia ayah dari putraku, biarpun caranya salah, tapi ... aku sudah memaafkannya."
"Dari dulu kamu memang selalu membela dia." Ayah Berli tampak kesal.
"Beri dia kesempatan Yah, aku sudah memperingatinya. Jika malam ini anakku tidak kembali, aku ingin berpisah," tegas Linda.
"Bagus," kata Ayah Berli.
"Anda tidak serius kan?" timpal Pak Yudha.
Linda diam saja. Diam lebih baik pikirnya daripada berterus terang pada semua orang kalau dia sebenarnya tidak ingin berpisah dari Agam. Namun jika kebersamaannya dengan Agam menimbulkan banyak prahara, Linda memilih akan mempertimbangkannya lagi.
"Aku serius," katanya.
"Setuju, Ayah tidak mau pernikahan kamu membuatmu dalam bahaya."
Linda tertunduk, ada perasaan sedih yang menyelimuti saat ia sadar jika ayahnya masih meragukan Agam.
Apalagi jika ayahnya tahu ia telah melakukan prosedur operasi, Linda berpikir ayahnya pasti akan semakin marah dan menuduh Agam melakukannya karena n a f s u. Padahal, keputusan operasi itu dilakukan karena Agam sudah berjanji untuk mengembalikan kembali mahkotanya.
"Ayah, ibu di mana? Aku mau persiapan menyambut putraku."
"Ada di dapur bersama adik kembar Anda." Pak Yudha yang menjawab.
Linda bergegas ke dapur, cara jalannya normal, luka jahitan pasca operasinya sudah pulih. Hanya tinggal ganti verban saja.
Dan ia kaget saat berada di dapur, Bu Ana pun ada di dapur dan sama kagetnya. Mereka terkejut karena di dapur sudah ada empat koki yang berbaris rapi, dan juga Hikam.
"Siapa kalian?" Linda menatap para koki.
"Sejak kapan ada di sini?" Bu Ana pun bertanya.
"Kami dari hotel Smart, disewa oleh Pak Yudha untuk bekerja sampai 3 hari ke depan, kami di sini sejak semalam."
"Apa?!"
Bu Ana dan Linda saling menatap. Mata merekapun beredar menatap berbagai menu yang telah tersaji.
"Lin ---."
Ayah Berli yang baru ke dapurpun terkejut.
"Maaf, aku lupa memberitahu keberadaan mereka," kata Hikam yang kali ini berperan sebagai pengasuh Yolla dan Yolli.
"Semua ini keinginan pak Agam, tolong jangan dipermasalahkan." Pak Yudha yang menyusul ke dapur memberikan keterangan.
Dengan perasaan sedikit kesal, Linda kembali ke kamarnya. Maksud Linda, tidak perlu berlebihan seperti ini, kan bisa beli makanan di warung depan, pikirnya.
.
.
.
.
Agam sibuk mengetik saat Linda tiba di kamar, ia memakai headset. Entah apa yang sedang dikerjakan oleh Agam.
"Pak Agam."
"Apa."
Agam langsung menyahut padahal memakai headset. Apa mungkin headsetnya mati? Pikir Linda. Linda mendekat. Berdiri di ujung meja kerja.
"Sayang, sini dong, kenapa di sana?" ajak Agam. Ia melambai sambil menepuk pangkuannya. Maksudnya apa coba? Apa Linda harus duduk di situ?
"Kenapa Pak Agam harus sewa koki segala? Berlebihan," kata Linda.
"Oh, masalah itu? Maaf sayang, kalau kamu tidak setuju saya akan cari lagi koki yang lain." Masih melambai dan menepuk pangkuannya.
"Aku duduk di sini saja." Linda menarik kursi lalu duduk di samping Agam.
"Sayang duduk di sini." Masih bersikeras rupanya.
"Ish," Linda kesal tapi patuh. Ia duduk menyamping dengan ragunya.
"Bisa tidak kalau duduknya menghadap saya?" Sambil memegang pinggannya.
"Tidak bisa," tolak Linda.
"Ternyata seperti ini rasanya di duduki artis," goda Agam seraya mengendusi pipi dan telinga Linda. Bahu Linda bergidik.
"Tiga puluh enam hari lagi. Lama sekali ya sayang?" keluhnya.
Linda diam saja, hembusan napas Agam di telinganya benar-benar mengganggu.
"Yakin karena itu? Saya pikir karena kamu merindukan saya, hahaha."
Agam tertawa, meraih dagu Linda, dan segera menyergap bibir yang sedari tadi membuatnya gemas. Terlalu bawel. Harus diberi pelajaran.
"Emmh ...."
Linda ingin menepis, tapi ... ini manis sekali, Pak Dirut selalu memperlakukannya dengan lembut dan hati-hati. Cara merenggutnya benar-benar apik, diiringi tatapannya yang penuh cinta. Siapa sih yang tidak meleleh diperlalukan seperti ini? Ditambah pelakunya begitu tampan dan gagah.
Linda lemas, dan pasrah. Tangannya bahkan terkulai tak berdaya. Ia begitu lemah di hadapan pria ini. Aroma mint yang khas itu menjadi candu untuk Linda. Perlahan ia memejamkan mata, apa yang dilakukan Agam benar-benar melenakan. Niat awal ingin tegas dan marah pada Agam, tapi ... di luar dugaan, Linda justru kalah telak.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Maafkan aku Ya Tuhanku, yang bisa aku lakukan hanya itu."
Pria gagah itu menunduk lesu di depan laptopnya. Lau memiringikan wajahnya menatap selembar berkas di tangan. Air mata berderai membasahi pipinya yang masih sangat bugar.
Lagi, ia gemetar saat membaca kembali berkas itu. Yang ia pegang adalah sebuah dokumen rahasia milik negara. Tidak mudah baginya untuk mendapatkan dokumen ini.
Berhari-hari bekerja keras untuk mendapatkan salinannya. Hingga kemarin malam, ia berhasil mendapatkannya dan syok.
Bagaimana tidak, dengan mata kepalanya sendiri, ia menemukan fakta bahwa ponakan kesayangannya direncanakan akan dieksekusi mati setelah sidang etik karena melanggar kode etik BRN, Malima.
"Organisasi macam apa ini? Aku tidak mungkin membiarkan dia mati sia-sia, Ben ... kenapa nasibmu seperti ini? Maaf, jika Paman ikut campur, tapi ... biar bagaimanapun, Paman adalah ayah pengganti bagi kalian."
Paman Yordan mengusap airmatanya. Ya, Agam memang telah melanggar. Di dalam draft tuntutan sidang etik, Agam Ben Buana atau Maga dituntut dengan lima pasal pelanggaran. Dua pasal fakta, dan tiga pasal lagi baru dugaan.
Pertama, fakta memperkosa publik figur. Kedua, fakta melakukan nikah siri tanpa sepengetahuan petinggi BRN. Ketiga, dugaan penyekapan, keempat dugaan kumpul kebo, dan kelima dugaan telah merencanakan tindak pelanggaran HAM berupa aborsi.
Hingga akhirnya, federasi merencanakan untuk melakukan hukum mati pada Maga agar prilaku menyimpangnya tidak terulang pada atau ditiru anggota lain. Namun federasi dilema karena belum mendapatkan kandidat pengganti Maga.
Nah, celah inilah yang dijadikan kesempatan oleh Pamam Yordan untuk menyelamatkan Agam. Setelah mempertimbangkannya dengan matang, tadi ... sekitar dua jam yang lalu, Paman Yordan melakukan panggilan rahasia dengan Ketua BRN dan mengatakan ....
"Saya memiliki info valid tentang orang yang bisa menggantikan posisi Maga. Jika saya berbohong, jaminannya adalah nyawa saya sendiri. Tapi, saya mengajukan beberapa syarat. Pertama, batalkan sidang etik dan seluruh tuntutan pada Maga, kedua jangan pernah mengganggu kehidupan pribadinya, dan ketiga tolong lindungi data pribadi saya."
Lalu Ketua BRN dengan antusias mengatakan ....
"Dari awal, saya tidak pernah berniat untuk melenyapkan Maga. Tapi saya tidak berdiri sendiri. Keputusan saya berdasarkan hasil permufakatan forum. Segera kirimkan profilnya," desak Ketua BRN.
Paman Yordan mengatupkan bibirnya menahan pilu. Kejadian dua jam yang lalu begitu menguras pikirannya. Dengan tangan gemetar, ia mengirim foto Gamayasa Val Buana pada Ketua BRN.
Maafkan Paman, Val .... Jeritnya dalam hati.
"Siapa dia?" tanya Ketua BRN pada saat itu.
"Dia adalah adik kandung Maga, saya serahkan dia pada Anda, tapi tolong ... tolong jangan terlalu keras padanya. Dia masih remaja, jika suatu saat dia melakukan kesalahan dan melanggar Malima. Jangan menghukum dia, bunuh saya saja."
"Maga dan dia adalah anak yatim. Maga telah berperan menjadi ayah sejak usia dini. Dia bekerja dan belajar keras untuk sukses demi keluarganya. Kelebihan Maga diturunkan dari almarhum ayahnya. Saya sudah melakukan riset secara diam-diam pada adiknya Maga, hasilnya ... dia memiliki kemampuan yang identik dengan kemampuan Maga."
Paman Yordan kembali merenung, apa yang ia lakukan benar-benar membuatnya terguncang, tapi tidak ada cara lain kecuali menyerahkan Gama dengan jaminan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan Agam.
Terlebih Paman Yordan sudah tahu jika Linda telah melahirkan bayi laki-laki. Ia berpikir keputusan ini bisa menyelamatkan putra Agam dari rongrongan BRN.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Saya mau bertemu dengan bos kalian!" teriak Gama yang saat ini sudah berada di depan gerbang kantor BRN.
"Anda siapa? Tidak bisa sembarangan masuk," kata petugas. Mereka menatap Gama dari ujung rambut hingga sepatunya.
"Aku Ga ---."
'Syuut.'
Satu tembakan berisi jarum suntik tiba-tiba mendarat cepat di leher Gama. Gama membelalak dan tidak bisa berkata-kata lagi.
Para petugaspun terkejut, namun saat ada beberapa orang mendekat, petugas yang berada di pintu gerbang memberikan hormat dan membiarkan mereka membawa Gama.
Gama sadar, tapi pengaruh dari suntikan itu menyebabkan ia tidak dapat berbicara dan lemah. Tubuhnya sulit digerakan, bahkan untuk sekedar menggerakan jari telunjuknya.
Kenapa aku jadi begini? Siapa mereka? Kemana mereka akan membawaku?
Gama bertanya-tanya dalam hati. Ia dibawa ke ruangan yang sangat luas. Di sana sudah ada beberapa orang yang berseragam dokter. Mereka menggunakan masker.
Gama dibaringkan di tempat tidur, ia diperlakukan bak telur yang mudah pecah. Mereka membuka sepatu Gama dan melucuti pakaiannya dengan sangat hati-hati. Gama ditutupi dengan kain putih setelah tubuhnya polos.
Gama meronta dan berteriak dalam hatinya. Ia benar-benar bingung dan berpikir akan mati detik ini juga. Ia menangis dalam hati, memanggil Nama Yang Maha Esa, ibunya, dan juga Agam kala seseorang dengan pisau bedah yang mengkilat tajam mendekat ke arahnya.
Gama lalu diinfus oleh wanita berseragam suster, tapi ... mereka memakai masker.
Ice ... aku akan mati .... Ice ... aku mencintaimu.
Melihat suster, ia jadi teringat pada Freissya.
Seseorang menyemprotkan sesuatu di belakang telinganya. Terasa sangat dingin. Lalu dokter yang membawa pisau bedah menyayat kulit belakang telinganya. Tidak sakit, tapi ... Gama merasakan dan mendengar setiap sayatannya.
Rupanya tubuh Gama akan dipasang cip. Sesuatu yang bentuknya tidak begitu jelas ditanamkan di belakang telinga Gama, lalu dijahit kembali setelahnya.
"Cip telah terpasang, selanjutnya lakukan uji lab dan medical check up." Suara itu terdengar dari salah satu interkom.
"Tidurkan saja, jangan sampai membuatnya kaget," ucap seseorang.
Lalu Gama disuntik, dan tiga puluh detik kemudian matanya terpejam. Gama melupakan apapun yang ada di sekitarnya. Gama tidak sadar.
Mari ke sana, ke alam bawah sadar milik Gama.
Ya ampun, di alam bawah sadarnya Gama sedang bercumbu dengan Freissya.
Oh tidak, Gama dan Freissya seperti akan mengulang kembali kejadian terlarang itu. Tangan mereka bertaut erat, rintihan Friessya membuat Gama tersenyum.
Ada cincin melingkar di jari keduanya. Di alam bawah sadar itu, mungkin mereka telah menikah. Gama melahap yang terlihat ranum itu penuh kelembutan. Freissya berserah diri.
Di sini tidak ada lagi penolakan, justru Freissya begitu patuh, seolah telah menjadi milik Gama seutuhnya. Gama mempermainkan Freissya dengan nakal dan liar. Dunia bawah sadar seolah hanya milik mereka berdua.
Mari kembali ke dunia nyata.
"Hahaha, secara fisik dia sempurna, dia pria tulen. Tidak perlu diragukan lagi," ucap seseorang.
Dokter-dokter pria itu terbahak melihat apa yang terjadi pada tubuh Gama. Entah apa yang mereka lihat, Ketua BRN yang memantau dari layar monitorpun turut terbahak-bahak.
Mereka bersuka cita, kemelut yang terjadi akibat ulah Maga, sepertinya akan segera berakhir.
"Setelah ini, persiapkan untuk tes bakat, kognitif dan akademik," kata Pak Ketua.
"Baik," jawab mereka secara serempak.