AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Thief of Hearts (Pencuri Hati)



Sambil menyeruput kopi, dokter Cepy menjelaskan kekhawatirannya terhadap sosok Linda.


Sama seperti Linda, Agam juga baru saja mendapatkan suntik vitamin dan obat anti nyeri. Saat Agam diculik para pria menjijikkan itu, tubuhnya memang beberapa kali diseret. Dan terakhir jatuh menghantam lantai ketika Linda mengeluarkannya dari mobil.


Agam cuek bebek, ia lebih asyik membaca buku daripada menanggapi ucapan sahabatnya itu.


"Oke, kamu bilang saat kamu menidurinya dia masih suci, tapi apa hanya karena masih suci kamu lantas percaya begitu saja? Kamu pernah cerita jika ada sekelompok penjahat yang ingin membunuh LB. Artinya, kehidupan presenter itu tidak baik-baik saja, Ben."


"Kenapa kamu tidak mengambil jalan landai saja? Kamu sendiri tahu kan kalau kamu punya banyak musuh dan saingan bisnis? Lantas kenapa harus menempuh jalan terjal dengan menyembunyikan LB di sini? Kenapa tidak disembunyikan di luar negeri saja sampai dia melahirkan, mudah kan?"


"Sluruup, aaah ... kopi apa sih, Ben? Ini enak sekali."


Agam hanya mengangkat bahu, lagi-lagi tetap fokus pada buku.


"Ben, Mia itu fakultas kedokterannya sama denganku. Aku dan Mia satu alumnus. Kurang apalagi dia, Ben? Cantik, anaknya baik, di sekolah kedoktreran juga dia berprestasi. Kamu tidak ada minat sama sekali? Latar belakang orang tuanya juga jelas. Bisa kita cek sekarang juga. Lha, ini orang tua LB ada di luar pulau, kan? Kita tidak tahu seperti apa kehidupan mereka di sana."


Agam masih diam, sama sekali tidak tertarik ataupun mau menanggapi ucapan dokter Cepy. Lebih memilih berdiri mendekati rak buku dan mengambil buku di barisan yang dilabeli "Religi." Buku itu berjudul, "Hukum Menikahi dengan Wanita Hamil Akibat Zina."


Agam mengernyit, siapakah yang membeli buku ini? Ia tidak merasa, Gama juga tidak mungkin. Pasti dia. Ibu Nadia. Ibunda Agam.


"Ben, kamu dengar aku tidak sih?!"


Dokter Cepy mengambil salah satu buku untuk dipukulkan ke kepala Agam, tapi sebelum buku itu melayang. Agam telah terlebih dahulu menyikut tangan dokter Cepy hingga pria itu meringis dan mengaduh.


Padahal, Agam sama sekali tidak menengok ke arah dokter Cepy. Tapi serangan dokter Cepy sudah terbaca oleh Agam.


"Wah, kemampuanmu makin hebat, Ben. Aduh tanganku linu sekali. Ben, tolong tanggapi pendapatku tentang LB. Maaf ya Ben, bukannya aku ikut campur, aku cuma takut kamu jadi semakin banyak musuh setelah kedekatanmu dengan LB diketahui publik."


Sambil meringis-ringis, dokter Cepy rupanya belum menyerah juga.


"Kamu tahu kan politisi Rufino Federik? Nah, dia itu sempat dekat dengan LB dan ingin menikahi LB karena istrinya mandul."


Sejenak. Agam menoleh.


Oh, jadi seperti itu hubungan mereka. Batin Agam.


Agam jadi faham hubungan Linda dan Rufino Federik. Namun menurut Agam yang menjadi masalah bukan Rufino Federik, melainkan Angga Raya Permana. Kekasih rahasianya Linda.


"Aku takut hubungan kamu dan LB akan nemperkeruh hubungan antara HGC, keluarga Haiden, dan keluarga tuan Gunatara."


"Tuan Deanka kan sepupunya Rufino Federik, dan dia seperti ayahnya berkomplot dengan petinggi Haiden. Setelah status Tuan Muda Deanka terungkap, hubungan tuan Bahir dan petinggi Haiden sedikit membaik. Tolong jangan dipersulit lagi, Ben. Jangan sampai ada pertumpahan darah lagi."


"Ingat posisimu sekarang, kamu itu Dirut HGC. Apapun yang kamu lakukan, mau tidak mau pasti akan berimbas juga pada kestabilan saham HGC."


"Mau aku buatkan kopi lagi?" tanya Agam.


"Sialan kamu, Ben. Aku bicara serius Ben! Tidak, aku tidak mau kopi lagi!" bentaknya.


"Begini saja deh. Semua terserah kamu, Ben. Sebagai sahabat, aku hanya kasih pendapat, selebihnya terserah kamu. Aku mau pulang."


Lama-lama dokter Cepy tidak tahan juga dikacangin.


"Cep, tunggu."


Dokter Cepy yang berada di ambang pintu langsung menoleh.


"Apa," sahutnya.


"Bayaran hari ini aku transfer ya. terima kasih untuk saran, waktu, dan semuanya." Agam mendekat dan menepuk bahu dokter Cepy.


"Oke, nanti aku kirim nomor rekeningnya."


"Aku sudah tahu," kata Agam.


"Aku punya rekening baru. Nanti aku kirimkan nomornya."


"Berap tarifnya?" tanya Agam saat mereka menuruni anak tangga.


Agam memang selalu mengantar siapapun tamunya sampai ke depan gerbang rumahnya.


"Kali ini lebih mahal dari biasanya," lalu berbisik di telinga Agam untuk menyebutkan nominalnya.


"What's, sebesar itu?!"


"Hahaha, kamu kan kaya, salah kamu aku dikacangin."


"Oke, untuk seorang sahabat, apapun itu," kata Agam, sambil membuka pintu keluar di lantai satu yang menghadap langsung ke halaman rumahnya yang sangat luas.


Mereka berpelukan saat dokter Cepy berpamitan. Ternyata dokter Cepy dijemput seseorang. Seseorang yang menjewer telinga dokter Cepy saat turun dari mobil untuk bertukar posisi duduk.


"Lama sekali sih, Bee! Katanya sebentar," gerutunya sambil melirik ke arah Agam dan menganggukkan kepala.


"Maaf, istriku," kata dokter Cepy saat menutup pintu kemudi dan melambaikan tangan pada Agam seraya mengucap salam.


"Wa'alaikumussalaam," sahut Agam sambil menutup pintu gerbang. Lalu tersenyum hambar. Melihat kebersamaan dokter Cepy dan istrinya saja ia sudah iri.


Apalagi saat Tuan Muda Deanka curhat kalau istrinya menolak bercinta. Atau Tuan Muda Deanka tiba-tiba mengatakan sesuatu pada Agam.


"Gam, handle semua pekerjaanku, aku mau pulang."


"Memangnya ada apa, Tuan Muda?"


Saat itu Agam sering panik, takut terjadi apa-apa. Tapi apa jawaban si Tuan Muda sangat absurd.


"Aku tiba-tiba saja mau bercinta, Gam. Jadi, aku harus pulang cepat. Aduh, Gam. Ini sudah mulai bereaksi. Harus segera dilampiaskan."


Sambil menuju basement, Agam terkekeh. Mengingat semua itu, ia jadi merindukan lagi masa-masa ketika masih menjadi sekretaris HGC.


Agam lalu duduk di tepi kolam renang, di sebuah kursi santai berbentuk bulan sabit. Berniat untuk membaca buku di tempat ini, sambil mengingat kembali kejadian menegangkan di tempat ini.


Ia lalu meraih ponsel di saku untuk diletakkan pada meja kecil di sampingnya. Tiga jam yang lalu, ponsel itu diantar ke rumahnya oleh staf keamanan HGC.


'Tring.'


Ada pesan masuk, ternyata dari dokter Cepy. Berisi nomor rekening, dan ingin dikirim sekarang juga.


Senyumnya tersungging sempurna saat mengetahui nama dari nomor rekening tersebut.


"Rekening Donasi Kemanusiaan, OH MY GAZA."


Transfer berhasil.


Setelah melakukan transaksi itu, Agam mulai membuka buku yang dibawanya dari perpustakaan. Entah berapa menit telah berlalu.


".... Mereka justru menghalalkan pernikahan tersebut, baik dilakukan laki-laki yang menjadi ayah dari si bayi ataupun laki-laki lain yang bukan ayah si bayi."


"Penting untuk dijadikan catatan, meski kedua mazhab ini membolehkan terjadinya akad nikah, namun kebolehannya berhenti hanya sampai pada akadnya saja. Sedangkan untuk hubungan intim suami-istri hukumnya haram dilakukan sampai masa nifas selesai."


Agam lalu menutup buku itu. Pendapat di buku ini sefaham dengan pendapat guru spiritualnya.


Namun, masalahnya adalah ....


Apakah Linda mau ia jika nikahi?


Apakah Angga mau menikahi Linda?"


Sebuah pertanyaan besar yang mengganjal batinnya. Jika memang Linda bahagia bersama Angga dan Angga mau menerima Linda, Agam berpikir akan belajar untuk mencintai tanpa harus memiliki.


Pasti menyakitkan, Agam mengusap dadanya.


"Apa aku bisa merelakannya? Jika itu terjadi, aku akan menyibukkan diri untuk bekerja dan mengurus anak kembarku," gumamnya.


Tapi ... aku belum memperbaiki mahkotanya. Aku akan mengatakan pada Angga agar dia tidak perlu khawatir, karena setelah melahirkan ... prosedur itu akan dilakukan.


Agam menatap riak air kolam yang bergerak perlahan tertiup angin malam. Lalu menatap langit, tidak ada satupun bintang yang terlihat, hanya ada sang rembulan yang meredup karena sinarnya terhalang awan.


DEG.


Hatinya tiba-tiba berdesir. Mengelus bibir tipisnya perlahan. Ingat benar jika seseorang telah mencium bibirnya saat ia tenggelam. Walau tidak sepenuhnya sadar, ia yakin jika kejadian itu bukan halusinasi. Sebab kehangatan itu begitu nyata.


Dan yang tenggelam selain dirinya adalah dia.


Dia yang diberi salah satu keistimewaan oleh Yang Maha Kuasa karena mampu menghasilkan dua sel telur sekaligus hanya dalam satu kali pembuahan. Linda.


Sambil tersenyum, Agam mengirim pesan.


"Apa Anda sudah tidur?" Pesan pada pukul 22.01.


"Saya ingin menanyakan sesuatu. Apa Anda mencium saya saat saya tenggelam?" Pada pukul 22.05.


"Kalau boleh tahu, motifnya apa ya?" Pukul 22.10.


Tidak ada balasan. Mugkin Linda sudah tidur.


"Oke, saya faham. Motifnya, karena Anda ingin menolong saya, kan?"


Isi pesan terakhir dari Agam untuk Linda pada pukul 22.16 sebelum ia menaiki lift menuju ke kamarnya. Dan berhenti beberapa menit di depan kamar Linda.


***


Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh Agam dan seluruh staf HGC. Hari ini brand baru HGC akan dirilis ke publik.


Hari ini, iklan yang dibintangi Linda mulai ditayangkan.


Di kamarnya, Linda begitu murung. Saat Bu Ira yang telah kembali mengantarkan makanan ke kamarnya, Linda sedang terbaring.


"Nona, sarapannya," tawar Bu Ira.


"Letakkan saja Bu, tadi saya sudah minum susu kok."


Bu Ira dan Pak Yudha telah mengetahui tentang Linda setelah diberi penjelasan panjang lebar oleh Agam dan Bu Nadia. Dan mereka harus merahasiakan masalah itu.


"Bu Ira ...."


"Ya, Nona." Tidak jadi keluar kamar.


"Kapan ya, bu Nadi pulang?"


"Saya kurang tahu Nona, coba tanyakan ke pak Agam."


"Kalau Gama, kapan Gama pulang?"


"Nah, itu juga saya tidak tahu, coba tanya saja ke pak Agam."


"Tadi sih belum. Saat Ibu ke sini sedang sarapan. Kemungkinan sekarang masih sarapan," jawab Bu Ira.


Dan Bu Ira terkejut saat Linda mengekorinya menuju lantai satu.


"Pelan-pelan saja." Suara maskulin dari bawah tangga mengagetkan Linda dan Bu Ira.


Agam menghentikan suapannya saat mendengar derap langkah di atas tangga.


"Saya sudah bilang Anda lewat lift saja, kenapa harus lewat tangga?"


Menatap Linda seperti tengah menghakiminya.


"Maaf Pak, tadi tanggung," jawabnya sambil menunduk.


Sedangkan Bu Ira langsung melanjutkan aktivitasnya di ruangan yang lain.


"Kenapa Anda selalu diantarkan makan ke kamar? Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko Anda terjatuh," tegasnya.


"Iya, iya, maaf," katanya.


"Jangan diulangi lagi ya Bu Linda." Masih dengan suara tegas dan membahas topik yang sama.


"Cukup Pak Agam, saya baik-baik saja." Linda cemberut.


"Oke, saya minta maaf. Sekarang Anda makan ya. Saya siapkan."


Agam sibuk mengambil piring, nasi, sayur, ikan dan dan lain-lain hingga piring itu penuh tak bercelah.


"Pak Agam, ini telalu banyak," keluhnya.


"Tidak, malah masih kurang untuk porsi tiga orang."


"Pak, kebanyakan, mubazir Pak." Meamandang piring dengan ekspresi sedih.


"Em, begini saja, Anda makan sekenyangnya, nanti jika tidak habis saya yang habiskan."


"Apa?!" Kaget, seorang Agam kok mau-mauanya menghabiskan sisa makanan.


"Ba-baik, ma-mari makan," kata Linda.


Ajaib, Linda makan begitu lahap. Menikmati makanan sambil sesekali bersitatap dengan Agam membuat Linda merasa nyaman.


Agam tersenyum. Pada akhirnya ia tidak perlu membantu menghabiskan.


Linda mengusap perutnya.


"Alhamdulillaah, kenyang sekali."


.


.


.


"Pak Agam, saya ingin mengatakan sesuatu."


Kata Linda saat ia dan Agam berada di dalam lift.


"Boleh, ada apa?"


"Boleh saya pinjam mobil Bapak? Saya mau pergi ke suatu tempat. Kalau bisa mobilnya yang tidak pernah Bapak gunakan. Kan nanti orang-orang curiga kalau saya ketahuan membawa mobil Bapak."


"Boleh, memangnya mau ke mana?" Sambil mempersilahkan Linda untuk keluar dari lift terlebih dahulu.


"Saya harus menemui seseorang, Pak."


"Siapa?! Siapa yang akan Anda temui?"


Spontan memegang pergelangan tangan Linda. Yang katanya mau ikhlas sepertinya hanya gimik belaka.


"Angga."


"Apa?!"


Spontas melepaskan tangan Linda.


"Tadi Bagas menelepon saya, katanya Angga pulang dan ingin bertemu saya, kebetulan saya juga ingin menemuinya."


DEG.


Ada hawa panas di dada Agam, ia berusaha keras untuk tetap tenang. Malam ini, ia juga sebenarnya sudah mengatur ulang pertemuan dengan Angga. Tapi, diluar dugaan jika pagi ini ternyata Linda mendahuluinya menemui Angga.


"Boleh tidak, Pak?" tanyanya lagi.


"Boleh, saya ambil kunci mobilnya." Berjalan cepat mendahului Linda dengan dada yang kian sesak dan membara.


***


Linda berdiri di parkiran menatap mobil Agam yang berbaris rapi. Ia menunggu Agam.


"Tangkaap."


Tiba-tiba ada sebuah suara dan kunci mobil yang terbangnya ke arahnya.


"Ya ampun."


Linda terkejut namun spontan menangkapnya, dan .... Berhasil.


"Setahu saya tidak boleh lho memberikan sesuatu sambil dilempar," kata Linda.


"Ya saya tahu," jawab Agam singkat. Ekspresi wajahnya datar.


'Tid tid tiiid.'


Pak Yudha ternyata sudah siap untuk mengantar Agam ke HGC.


"Saya berangkat, hati-hati, jaga anak saya, dan selamat bersenang-senang," ketusnya.


Lalu melangkah panjang-panjang melewati Linda yang masih melongo keheranan.


'BRUK.'


Masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Pak Yudha dan menutup pintu dengan kencang. Sangat kentara jika Agam sedang marah.


"Pak Agam kenapa ya?"


Dengan polos dan bodohnya Linda belum faham jika Agam tengah cemburu. Linda hanya mengangat bahu lalu masuk ke dalam salah satu mobil.


.


.


.


"Kok, menepi di sini, Pak?"


Pak Yudha heran karena Agam menyuruhnya belok ke sebuah gang dan berhenti di sana.


"Begini Pak Yudha, tolong Bapak ke HGC dan berikan berkas ini ke Bu Fanny, katakan saya ada urusan mendadak."


Sebelum Pak Yudha menjawab, Agam sudah turun dari mobil.


"Pak, terus Bapak ke HGC lagi jam berapa? Saya menunggu Bapak di HGC atau pulang ke rumah?" teriak Pak Yudha.


"Bapak tunggu saja di HGC, jam berapanya ke HGC, saya belum tahu," sahut Agam.


Pak Yudha masih kebingungan.


"Cepat-cepat, maju maju maju." Agam malah beralih fungsi menjadi kang parkir.


Pak Yudha semakin kebingungan tapi tidak bisa membantah. Ia melajukan kemudi sambil menatap Agam dari spion yang terlihat sibuk memainkan ponselnya sambil mengeluarkan topi dan masker dari tasnya.


Selanjutnya, Pak Yudha tidak bisa lagi melihat Agam karena mobilnya harus berbelok.


***


"Mau kemana Pak?" tanya pengemudi taksi pada Agam."


"Ikuti mobil itu?"


"Hahh, mobil yang mana?"


"Itu lho Pak, yang warna putih, cepat Pak! Tapi usahakan jangan sampai mencurigakan," kata Agam. Matanya sudah fokus pada mobil yang dimaksud.


"Oh, yang itu. Kenapa tidak langsung ke sana saja Pak? Itu mobilnya sedang berhenti."


"Ssstt, Bapak ikuti intruksi saya saja. Di dalam mobil itu ada pencuri, saya tidak boleh sembarangan."


"Hahh? Pencuri? Bapak serius?!"


"Serius," kata Agam.


"Kenapa tidak lapor polisi saja, Pak?"


"Emm, saya tidak bisa melapor, Pak." Jawab Agam sambil tersenyum.


"Lha, kenapa?"


"Karena yang dia curi hati saya, dan ...." Agam tidak melanjutkan ucapannya.


"Hahaha, ya ampuuun. Saya kira serius." Pengemudi taksi tepuk jidat.


"Dan apa tadi Pak?


Pak pengemudi melirik ke arah Agam sambil mengernyit, baru sadar jika penumpangnya sangat wangi, sayangnya penumpangnya itu memakai topi, masker, dan kaca mata. Jadi, wajahnya tidak terlihat.


Dan mencuri keperjakaan saya. Jawab Agam dalam batinnya.


❤❤ Bersambung ....