
Kondisi Linda selama empat malam tiga hari disekap atau lebih tepatnya dirawat di mansion, kian membaik. Dokter sudah memperbolehkan artis multitalenta itu untuk melakukan aktivitas ringan seperti jalan-jalan kecil, berenang, atau mengerjakan tugas di depan layar komputer.
Yohan memperlakukan Linda dengan baik dan tidak lagi macam-macam saat ia tahu jika Linda memiliki peluang untuk menjadi penyanyi besar. Setelah malam itu ia menangis karena mendengarkan Linda bernyanyi. Hati pria itu luluh.
Yohan berniat akan merekrut Linda untuk bergabung di agensinya, dan membuat sebuah single lagu.
Pada hari ke empat berada di mansion, Linda sangat riang ketika Yohan memberinya sebuah ponsel. Dan yang membuat ia berjingkrak adalah saat Yohan mengatakan ....
"Ini ponsel untukmu, di dalamnya sudah ada nomor Dirut HGC. Malam ini, kamu mulailah bekerja untuk mengambil keuntungan lebih banyak dari dia. Jadilah wanita peliharaanku yang matre, oke seksi?"
.
.
.
Dengan hati berdegup Linda masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan mengatur napas saat melihat foto profil Agam di kontak ponselnya.
Pria itu sedang bersandar seorang diri pada pohon nyiur di tepi pantai, memakai kaus kasual, dan menatap matahari terbenam di suatu senja.
Tampan?
Jangan ditanya lagi.
"Aduh, aku mau mengatakan apa ya?"
Mulai mengetik, tapi hatinya masih bingung. Tapi akhirnya berani juga.
"Hai tampan, bisakah kita berkenalan?"
"Oh ya ampuuun, aku menjijikkan sekali."
Linda malu sendiri sampai pipinya memerah saat tahu jika pesan itu sudah terkirim. Tapi, tidak ada balasan. Lalu mengetik lagi.
"Aku pengagummu, Pak. Bisakah kita bertemu besok?"
Linda terkikik. Ingin loncat-loncat di atas kasur kalau saja tidak sedang mengandung.
"Aduh, tulis pesan apa lagi ya?" Jadi bingung sendiri sampai-sampai alisnya bertautan.
Ting, teringat sesuatu yang membuat Linda sampai menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. Sesuatu yang saat itu juga membuat tubuhnya berdesir dan memanas.
Pada hari ia nodai, tak sengaja melihat tanda lahir berwarna coklat muda berbentuk hati di bawah, bawahnya lagi pusar Dirut HGC. Tepatnya di atas simfisis.
Oh ya ampun, tolooong .... Bumil itu terkikik saat menulis pesan yang ini.
"Aku adalah seseorang yang mengetahui rahasia Bapak. Mau aku katakan?"
"Biar tidak langsung curiga, pakai kata aku saja," gumamnya.
"Tanda lahir milik Bapak bentuknya lucu. Kenapa berbentuk hati? Aku pikir itu tato."
Linda kembali tergelak sampai perutnya sedikit sakit. Tak menyangka jika dirinya sangat konyol. Tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Agam saat membaca pesan itu.
"Maaf sayang ...." Ia mengelus perutnya.
Dan terkejut manakala nomor Agam memanggil. Tentu saja ia tidak berani mengangkat, malah bersembunyi. Namun karena merasa senang mengerjai Agam, Linda mengirim pesan lagi.
"Tanda lahir berbentuk hati itu ada di ...."
Ia sengaja menulisnya dengan 'Titik-titik' agar Agam semakin penasaran. Namun sampai sepuluh menit berlalu, tidak ada balasan apapun dari Agam.
Ingin rasanya segera menulis pesan untuk memberitahu Agam akan kondisinya, tapi ... Linda mengurungkan niat itu. Ia khawatir jika Yohan juga memiki kemampuan meretas nomor ponsel seperti Agam.
Linda tidak ingin rahasianya dan Agam diketahui oleh Yohan apalagi sampai bocor ke publik. Ia akan berusaha sebaik mungkin berakting seolah tidak mengenal Agam dengan baik di hadapan Yohan.
Namun, masalahnya adalah ... bagaimana caranya Linda memberitahu Agam jika dirinya dimanfaatkan dan diculik oleh Yohan?
Tapi .... jika ia jujur pada Agam, bisa jadi Agam lebih memilih dirinya, dan masa depan Agam bersama HGC akan hancur. Sedangkan HGC, tentu saja sangat membutuhkan sosok seperti Agam.
"Aku tidak mau jika hubungan kita menyebabkan masa depanmu hancur. Bagaimanapun caranya ... nama baik Pak Agam harus tetap aman, dan tuan Yohan tidak membocorkan kehamilanku ke publik."
Linda merenung, lalu menyingkap gaun untuk mengelus perutnya.
"Sayang ... Mama harus bagaimana? Di satu sisi, Mama juga tidak mau jika kehamilan Mama diketahui oleh publik dan menyebabkan ibu serta ayah terguncang. Mama tidak mau ayah dan ibu Mama menanggung malu dan dipermalukan."
"Andai dulu aku tidak egois dan tidak menolaknya, serta Pak Agam tidak terlambat mengatakan perasannya, mungkin ... Mama tidak akan semalu ini jika Mama pulang ke kampung."
"Jalan satu-satunya untuk membuat pak Agam aman dan kehamilanku tidak diketahui publik adalah ...."
"Kembali ke rencana awal. Aku harus vacum dan pergi ke luar negeri. Melahirkan di sana dan kembali lagi ke negara ini untuk memulai hidup yang baru. Tapi ... tuan Yohan telah mengetahui kalau aku hamil. Sayang ... Mama bingung ...."
Linda kembali larut dalam kegamangan yang hakiki.
"Tapi sayang ... ini bukan berarti Mama tidak mencintai kamu. Mama menyembunyikan kehamilan ini karena Mama harus melindungi perasaan orang-orang yang Mama cintai. Kelak, jika Mama sudah siap, Mama akan memperkenalkan kamu ke semua orang."
Linda menarik selimut menutupi tubuhnya sampai batas leher. Lalu menatap kembali foto profil Agam di ponsel barunya. Ingin rasanya menelepon Agam dan mencurahkan isi hatinya, tapi ... ia takut disadap.
.
.
.
Karena kerinduannya semakin bergejolak, pada pukul 22.38 waktu setempat, akhirnya Linda memutuskan untuk menelepon tapi tidak akan mengatakan apapun. Setidaknya, ia bisa mendengar suara Agam.
Mulai memanggil. Jantung sudah sedari tadi tidak bisa diajak kompromi sebelum menekan call.
Pada panggilan pertama langsung diangkat, sayang seribu sayang, Agam bukan tipe orang yang mudah say hello. Di sana, Agam pun diam.
Bicara dong, please .... Batin Linda.
Tapi sampai satu menit berlalu, tidak ada suara apapun, sunyi ... sepi ... dan Linda merasa sendiri.
Bahkan suara napasnyapun tidak terdengar. Linda menajamkan telinganya tapi tetap saja sepi.
"Hatchiim." Eh, Agam malah bersin.
"Alhamdulillah ...." Kata Agam, sayup-sayup.
Linda terlonjak, terkejut, dan spontan mengatakan.
"Yarhamukallah ...." Guman Linda, pelan.
"Yahdikumullahu ...." Suara Agam.
Deg, Linda terkejut. Berati, Agam mendengar apa yang ia ucapkan.
Setelah itu, kembali sepi. Linda menghela napas, kerinduannya pada Agam sedikit terobati setelah mendengarnya bersin serta berbalas ucapan syukur dan saling mendoakan.
Ya, bersin memang merupakan salah satu karunia dan nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa kepada hamba-Nya, dan tentu saja patut disyukuri.
Tapi, Linda tidak tahu apakah Agam di sana menyadari suaranya? Entahlah.
Tidak terasa Lindapun terlelap sebelum sempat mematikan panggilannya.
Dan apa yang terjadi?
Di sana, Agampun tidak mematikan panggilan sampai ponsel Linda, mati.
.
.
.
.
Pagi yang cerah, sang mentari bersinar indah dengan sorotnya yang menyilaukan mata. Pijarnya menyala, menghangatkan dunia.
Sinar matahari begitu dinanti, untuk kelangsungan kehidupan dan juga nutrisi.
Ya, sinar matahari adalah sumber vitamin D yang memiliki berbagai manfaat untuk tubuh. Vitamin D ampuh untuk menjaga kesehatan tulang, sel darah, jantung, otak, dan daya tahan tubuh.
Linda sedang berjalan-jalan di taman mansion ketika mata beringas itu menatapnya penuh kekaguman dan nafsu. Yohan sebenarnya ingin memperlakukan Linda dengan baik, tapi ... pesona wanita itu kian hari kian memantik jiwa maniaknya.
Yohan ingin bertaubat pasca keluar dari penjara dengan tidak mabuk-mabukan dan bermain wanita lagi. Tapi ... menculik seorang LB nyatanya malah membangkitkan kembali hasrat jahat itu.
Ingin menerkam wanita cantik dan seksi itu sekarang juga, tapi ... ia kembali sadar jika saat ini LB adalah salah satu tambang emas yang bisa menguntungkannya.
Siapa pria yang menjamahmu untuk pertama kali? Benarkah kamu tidak mengingatnya sama sekali?
Aku sebenarnya tidak yakin dengan pengakuanmu tentang mabuk dan tak sadar hingga hamil. Tapi ... untuk sementara waktu aku harus pura-pura percaya. Demi uang, batin Yohan.
"Hai seksi, kemari," teriak Yohan sambil melambaikan tangan.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya saat Linda mendekat ke arahnya.
"Nyenyak, Tuan."
Linda berdiri saja, matanya menatap unit mansion paling ujung, milik Agam. Berharap ada keajaiban pria itu muncul di sana. Walaupun ia tahu jika itu tidak mungkin.
"Setelah sarapan, bersiap ya seksi, kita akan ke HGC."
"A-apa? Ke HGC?" Lututnya langsung melemas seketika.
"Ya, kita akan ke HGC bersama, aku sudah ada ide untuk melalukan penawaran khusus dengan si Agam songong itu. Dandan yang cantik ya, seksi."
Giginya gemeretak saat mengatakan Agam. Hubungan dia dan Agam sepertinya benar-benar sangat buruk.
"Tuan, tolong jangan memanggilku seksi, aku tidak nyaman, panggil LB atau Linda saja, atau panggil saja Ia. Bisa juga Lica," kata Linda ketus.
Sebenarnya ketusnya karena tidak senang pada Yohan saat pria itu menyebut songong pada Agam.
"Hahaha, nama panggilanmu banyak sekali, Ia dan apa itu tadi? Lica? Terdengar lucu." Pria itu tergelak, berpikir mau memanggil siapa pada artis barunya itu.
Linda memang baru saja menandatangani kontrak untuk bergabung di agensi milik Yohan, tapi Linda hanya menerima tawaran untuk rekaman saja. Tidak untuk kegiatan lain.
Ia pikir kalau hanya sekedar rekaman, pastinya tidak harus mengeluarkan banyak energi. Jadi, kesehatan janin di dalam kandungannya tetap terjamin.
"Ia itu panggilan sayang dari ayah dan ibuku, kalau Lica itu panggilan sematan teman-teman masa kecilku. Kepanjangan dari Linda cantik," terangnya.
"Hahhh? Lica, Linda cantik. Hahaha, aku setuju nama panggilan yang itu. Baiklah, mulai hari ini aku akan memanggilmu Lica. Kalau nama panggungmu tetap LB," tegasnya.
"Terserah Tuan Yohan." Linda bergegas untuk sarapan.
Ia tampak semangat, tidak menyangka jika Yohan akan langsung mengajaknya ke HGC.
.
.
.
Namun setiba di kamarnya, Linda jadi memikirkan rencana Yohan, ia khawatir jika rencana itu akan menekan Agam.
Kembali ia menghelas napas berat saat mulai bersolek. Linda memakai riasan sederhana. Hanya pelembab wajah, dan lipstik berwarna merah terang kesukannya.
***
"Pak Dirut, ini agenda hari ini," kata Fanny sambil membungkukkan badan dan menyodorkan lembar agenda pada Agam.
"Terima kasih, Fan." Ucapnya, tanpa menoleh.
Agam tengah menatap nomor tanpa nama yang semalam sangat lancang mengiriminya pesan menohok dan menghubunginya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Saya permisi, Pak." Fanny mundur. Agam diam saja.
"APA?!" Mata Agam membulat, Fanny telonjak.
"Ke-kenapa, Pak?" Fanny ketakutan.
"Kamu yakin hari ini saya ada jadwal pertemuan dengan CEO D'Cineas?"
Agam mengernyitkan dahi. Namun hatinya tengah terbang pada suara mirip Linda yang menanggapi bersinnya.
"Ya, Pak. Kan Tuan Yohan sudah bebas bersyarat."
"Apa?! Yohan?!"
"Saya, permisi Pak." Fanny berlalu.
"Untuk apa dia ingin menemuiku?" gumamnya saat Fanny sudah menghilang di balik pintu.
Lalu kembali mengingat kejadian semalam yang membuatnya hampir tidak bisa tidur. Suara wanita yang menanggapi bersinnya mirip dengan suara Linda.
Dan yang mengetahui tanda lahirnya di daerah itu selain ayah dan ibunya kemungkinan adalah dia. Dia yang telah mencuri keperjakaan dan kesuciannya. Dia yang pernah melihatnya tanpa sehelang benangpun.
"Ya ampuuun."
Agam meremas kepalanya. Mencoba merunut kejadian hilangnya Linda dengan pesan mencurigakan tersebut.
"Ja-jangan-jangan ---."
Tubuh Agam gemetar, ia mendapatkan kesimpulan sementara jika Linda bisa jadi memang diculik oleh seseorang yang ada hubungannya dengan keluarga Haiden.
Kesimpulan ini diperkuat dengan titik koordinat nomor itu yang berada di Haiden's Mansion.
Namun ada satu hal yang mengganjal Agam.
Jika dugaannya benar, kenapa Linda harus mengirim pesan seperti itu?
Kenapa tidak langsung mengirim pesan untuk meminta tolong?
Atau ... kenapa tidak menghubungi nomor darurat polisi saja?
"Linda, sebenarnya ada apa? Aku bingung. Kamu baik-baik saja, kan? Lalu anak kita?"
Agam memukul dadanya tatkala bayangan Linda yang kesakitan dan janin kecil mungil itu kembali terbayang. Ia lalu memutuskan untuk berkunjung ke Haiden's Mansion selepas pulang kerja.
Agam juga sudah memerintahkan pekerja di unit mansion miliknya untuk memata-matai keadaan di sana, tapi sampai saat ini mereka belum memberikan laporan.
.
.
.
Selesai rapat, Agam kembali ke ruangannya. Perangai Agam hari ini masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Dia dingin dan sulit ditebak.
Sementara itu pertemuanya dengan CEO D'Cineas akan berlangsung sekitar 7 menit lagi.
Agam sebenarnya malas bertemu dengan Yohan. Mereka bisa dikatakan sebagai musuh bebuyutan. Permusuhan di antara Agam dan Yohan sudah berlangsung sejak Agam masih menjadi sekretaris utama di HGC.
Fanny kemudian datang membawa tiga gelas jus buah mangga. Fanny pernah tidur bersama Yohan dan melepaskan kesucinnya pada pria itu. Saat tahu Yohan akan datang, Fanny sedikit gugup.
"Tenangkan dirimu, tuan Yohan sudah membayarmu, kan?" sindir Agam saat melihat tangan Fanny gemetar.
"Ja-jangan membahas i-itu lagi, Pak. Saya tahu saya salah. Tapi itu masa lalu." Fanny semakin gugup.
"Selama kamu bekerja dengan baik dan menjaga nama baik kamu dan HGC, saya dan tuan Deanka tidak akan melaporkan skandalmu dan tuan Yo ke bagian etik," tegasnya seraya tersenyum lalu tertawa getir.
"Terima kasih atas kemurahan hati Pak Agam dan juga tuan Deanka. Saya permisi, Pak. Saya tidak ingin sampai bertemu dengan tuan Yo." Fanny bergegas saat Agam masih tersenyum getir.
Sebenarnya, Agam tengah mentertawakan dirinya yang munafik. Bisa-bisanya ia mengatakan pada Fanny untuk menjaga nama baik dirinya dan HGC. Sedangkan, ia sendiri faktanya hanya sok suci.
"Apa bedanya aku dengan si berandal itu? Dulu, si Yohan hanya mengancam Fanny. Dan aku ... aku malah lebih parah dari si Yohan. Aku memperkosa dia. Yang merusak nama baik HGC sebenarnya adalah aku."
Agam menundukkan kepala pada meja kerjanya karena malu. Penyesalan yang sedalam samudra dan seluas jagat raya itu, kembali membebani dadanya.
.
.
.
'Ning nong.' Interkom berbunyi.
"Silahkan masuk," ajaknya sambil memutar kursi kerjanya membelakangi kursi tamu. Ia malas bersitatap dengan Yohan. Jika pembicaraan itu bisa dilakukan dengan saling membelakangi, kenapa tidak? Pikirnya.
Ya, hal itu adalah prilaku buruk dalam hal menerima tamu.
Namun kejahatan Yohan padanya dan pada Tuan Deanka, membuat Agam merasa jika Yohan pantas mendapatkannya.
"Selamat pagi menjelang siang, Pak Dirut?" sapa Yohan.
Ia dan seorang wanita cantik sudah berada tepat di belakang Agam. Wanita itu tampak gugup, beberapa kali menautkan jemari tangan dan memegang gaun cantiknya.
"Tidak perlu berbasa-basi, ada apa? Cepat katakan!" tegas Agam. Masih enggan membalikkan kursi.
"Hahaha, kamu sombong sekali Pak Dirut, mentang-mentang aku di ambang kebangkrutan, kamu tidak menghargaiku lagi. Oiya aku haus, aku duduk ya. Dan ini jusnya aku terima."
"Silahkan," kata Agam sambil menggedikkan bahunya.
"Lica, kamu duduklah di sampingku, dan nikmati juga jusnya." Ajak Yohan pada Lica, yang tidak lain adalah Linda. Wanita yang sudah membuat Agam mabuk kepayang.
Lica? Siapa dia? Batin Agam.
"Cepat katakan, ada apa?" Posisi masih membelakangi Yohan dan Linda.
"Artis baruku terlibat kontrak tidak adil dengan HGC, aku mau mengajukan nota keberatan," tegas Yohan.
"Artismu? Yang mana? Seluruh artis dari agensimu setahuku sudah selesai kontrak dengan HGC. Jika kamu kurang puas dengan jawaban saya, datang ke bagian pemasaran saja, bukan datang pada saya."
"Hahaha, sombong sekali kamu Agam Ben Buana! Kamu pikir siapa kamu, hahh?!" Yohan mulai kesal karena sikap Agam.
Linda menunduk saja, dan diam seribu bahasa.
"Pergi dari ruangan saya kalau Anda sudah tidak ada kepentingan lagi," tegas Agam.
"Baik, tapi aku akan memaksa artisku untuk mundur dari proyek iklanmu, kalau kamu tidak mau membayarnya lebih tinggi."
"Artis yang mana?! Sudah saya katakan tidak ada lagi bintang iklan HGC yang berasal dari agensi kamu!" teriak Agam sambil memutar kursinya karena marah.
Dan ....
DEG.
Agam terhenyak saat melihat sosok yang ia cari berada di hadapannya.
"Lin ---."
"Halo, Pak Agam, senang rasanya bisa bertemu lagi dengan Anda," Linda berdiri dan membungkukkan badan pada Agam.
Agam melongo kebingungan. Karena sebelum ia mengatakan apapun, Linda sudah menyelanya sambil menatap tajam pada Agam. Linda membelakangi Yohan dan mengendip-kedipkan matanya berulang pada Agam. Sangat berharap Agam memahami dramanya.
Tapi, Agam malah bingung.
"Ka-kamu?" tanyanya.
"Kalian sudah saling mengenal, kan?" sela Yohan.
Linda masih terus mengedipkan mata, pantang menyerah. Tapi Agam belum mengerti, nyaris saja berdiri dan menarik tangan Linda.
"Pak Agam, sekarang saya bergabung di agensi D'Cineas, saya ke sini untuk merayu Anda," terang Linda.
Yang mana membuat Yohan, tertawa.
"Hahaha, kamu lucu, Lica."
"Apa?!" kata Agam.
Ya ampun, bagaimana ini, dia tidak bisa diajak akting. Batin Linda.
Interaksi mereka mencurigakan? Batin Yohan.
Apa maksudnya ini? Aku tidak mengerti, apa jangan-jangan .... Agam conected.
"Silahkan Anda duduk lagi, saya tidak suka siapapun menghalangi pandangan saya," tegasnya pada Linda.
"M-maaf, Pak." Linda menunduk.
Apa dia faham? Semoga. Harap Linda.
Mugkin dugaanku salah. Batin Yohan.
Kita lihat saja siapa yang akan menang dalam permainan ini? Batin Agam.
Linda kemudian duduk kembali, sengaja memepet Yohan agar Yohan merasa di atas angin.
Tidak sedekat itu juga kali, El. Geram Agam dalam batinnya.
Drama dimulai~~
"Kesepakatan apa yang ingin Anda tawarkan, Tuan Yohan?"
Agam menatap tajam pada Yohan. Padahal, aslinya ingin membersihkan bibir Linda yang menurutnya terlalu merah. Membersihkannya dengan tissue basah ya. Tolong jangan berpikir akan dibersihkan dengan benda yang lain.
"Aku mau kamu menaikkan nilai kontrak, karena kontrak LB di D'Cineas saja lebih mahal dari itu," tegas Yohan. Padahal faktanya, Linda tidak dibayar sepeserpun, tapi ... diancam.
"Kamu mau berapa?" tanya Agam pada Linda, tapi yang ditanya malah gugup.
"A-apa? kata Linda.
"Saya mau 3 milyar pertahun," tegas Yohan.
"Apa?!" Agam sedang menunjukkan sisi lain dari dirinya.
"Artis selevel dia mau dibayar 3 milyar per tahun? Jangan harap! Memangnya bisa apa dia selain jadi presnter?!" tegas Agam.
Linda menunduk saja, ada perasaan ingin mentertawai Yohan, dan tepuk tangan yang gemuruh untuk Agam.
"Agam, dengar ya! Dia multitalenta. Suara dia bagus," jelas Yohan.
"Oh, jadi dia bisa bernyanyi? Hmm, baiklah. Untuk membuktikan kalau dia benar bisa bernyanyi, malam ini aku mau menyewanya untuk mememaniku pergi ke karaoke."
"Hahaha, silahkan." Timpal Yohan.
"Saya tidak mau," kata Linda. Aslinya sih sangat mau. Dan pastinya Agam tidak akan membawanya ke karaoke.
"Lica, kamu harus mau," bujuk Yohan.
"Ba-baiklah kalau Tuan Yo memaksa," kata Linda. Kepalanya semakin menunduk. Bahagia, senang, dan tegang bercampur menjadi satu.
"Kalau suaranya bagus, saya akan mepertimbangkan tawaran Anda Tuan Yohan. Tapi tidak semudah itu HGC menaikan nilai kontrak."
"Apa yang kamu ragukan, sih?" desak Agam.
"Hahaha, dengar ya Tuan Yohan Nevan Haiden, bagaimana mungkin saya bisa percaya suara dia bagus kalau dia saja tidak punya album."
"Anda harus buktikan dulu ucapan Anda kalau dia mampu. Buatkan dia singel lagu atau mini album. Kalau booming, baru saya berani menaikkan nilai kontraknya."
"Apa?!" Yohan terkejut.
"Kalau Anda tidak dapat membuktikannya, maaf ... walaupun saya membutuhkan LB, dan berkat iklannya produk dan program saya sukses, HGC tetap pada perjajian awal, 3 milyar untuk 3 tahun, dan tidak ada lagi perpanjangan kontrak," tegas Agam.
"Hahaha, kamu akan percaya kalau sudah dengar suara dia, Gam. Maksudku Pak Dirut. Aku saja sampai menangis saat mendengar dia bernyanyi."
"Apa?!" Agam berdiri dan menggebrak meja.
"Hei, apa masalahmu?!" teriak Yohan pada Dirut HGC.
"Berani-beraninya kamu bernyanyi di hadapan pria lain!" teriak Agam. Kecemburuan tampak jelas pada raut wajahnya.
"APA?!" Kali ini Yohan dan Linda terkejut.
Gubrak, Agam lupa kalau sedang berakting.
Aduh, bagaimana ini? Batin Linda.
Gawat! Batin Agam.
Menarik. Yohan menyeringai.
❤❤ Bersambung ....