AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
A Ray of Hope of Happiness (Seberkas Harapan Kebahagiaan)



[Warning! Adult Area]


.


.


.


"Pak Agam ... ha-haruskah seperti ini?"


Linda ragu. Tangannya gemetar. Rambut yang hitam kemilau ini ternyata sangat lembut saat disentuh. Serta kulit kepala Agam begitu putih dan bersih seperti kertas HVS.


"Memangnya kenapa? Kamu keberatan?" tanyanya sambil memejamkan mata saat tangan Linda mulai membelai dan menyusuri rambutnya.


"Pak Agam, kulit kepalanya bersih sekali, ti-tidak pernah ketombean?" tanya Linda. Daripada bingung, pikirnya lebih baik membahas hal yang saat ini tengah disentuhnya.


"Apa? Ketombean? Sepertinya tidak pernah. Saya selalu keramas tiap pagi," jawabnya.


"Pak ...."


"Ya, El ...." Gumamnya.


"Tuan Yohan tidak tidur di pangkuan saya, ataupun sebaliknya," protesnya.


Merasa tidak nyaman karena sedekat ini dengan Agam sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Agam diam saja, sambil tersenyum-senyum.


"Dan Tuan Yohan juga tidak membelai rambut saya selama ini," protesnya lagi.


"Hahaha," sekarang Agam malah tertawa, bahunya sampai bergerak karena sangat menikmati tawanya.


"Baiklah, kita ke tahap selanjutnya, elus pipi saya, El. Ayolah ...." Menyodorkan pipinya, serius sekali mau dielus sampai kacamatanya pun dilepaskan.


"Pak ... kenapa harus seperti ini? Ini tidak baik, kalau ada setan bagaimana?" Matanya beredar mengitari kamar.


"Ya saya tahu El, tapi bagaimana dong ya?" keluhnya. Menekan tangan Linda yang saat ini tengah berada di pipinya.


"Pak Agam, kan Tuan Yohan memasang kamera, nanti dia curiga kalau saya tidak tes vokal. Akan ketahuan kalau saya berlama-lama di HGC."


"Santai, setelah ini kita ke studio. Jika kita berdekatan dengan tas itu, kita harus pura-pura tidak akrab."


Sekarang tangannya sedang membimbing tangan Linda untuk mengelus wajahnya kesana-kemari, mirip seperti tengah memakaikan krim di wajah secara merata.


Mata Linda membulat saat Agam menggeserkan telapak tangannya ke bibir tipis itu. Lalu Agam mengecupi telapak tangannya secara mendetail, mata pria itu masih tertutup. Setidaknya, Agam tidak melihat jika dada pemilik tangan itu sampai kembang kempis akibat ulahnya.


"P-Pak, cu-cukup, sa-saya tidak nyaman." Wajah Linda bersemburat merah.


"Maaf ...," ucap Agam. Lalu menarik tangan Linda untuk diletakkan di atas dada kirinya.


"Apa terasa? Jantung saya menari-nari, kalau dekat-dekat kamu suka seperti ini, takikardi, berdetak lebih cepat dari biasanya," kata Agam.


Sedikit membuka mata untuk menatap Linda. Eh, tenyata Linda sedang mentapnya. Kembali terulang aksi saling tatap.


"Pak Agam, cu-cukup."


Linda memalingkan wajah seraya menarik tanganya dari dada Agam, lalu menggerakan pangkuannya.


Sungguh, ini tidak baik. Agam yang seperti ini membuat pikirannya sedikit keruh. Tadi sempat terbesit niat ingin membuka kancing baju Agam saat tangannya ada di dada pria itu.


"Baiklah, maaf kalau kamu tidak nyamyan."


Agam bagun, lalu duduk di sisi Linda sambil mengusap dada kirinya.


"Wahai jantung, apa kalian bisa tenang?" katanya.


Linda jadi senyum mendengar ratapan Agam.


"Pak Agam, sa-saya permisi."


Linda yang gugup, cepat-cepat berdiri, berniat hendak keluar dari kamar itu.


Namun Linda kehilangan konsentrasi, saat ia melangkah, ia tidak memperhatikan kaki Agam, maka tersandunglah.


"Aaaa," otomatis kaget dan berteriak.


Dan Agam spontan menarik tangan Linda, saat wanita itu on going jatuh.


Adegan selanjutnya tidak dapat dihindari. Linda terjatuh di atas Agam, dan Agam terlentang di tempat tidur karena terdorong oleh Linda. Kaki Agam masih menjuntai.


'Bruk.'


"Haahhh?"


Keduanya sama-sama kaget.


Tapi ... Agam tersadar kalau Linda hamil, segera ia memposisikan diri membalikan posisi. Gerakan itu terjadi begitu cepat. Kini Linda sudah berada di dalam kungkungan Agam.


Jarak mereka begitu dekat, tidak ada kata yang terucap, hanya napas keduanya yang saling memburu.


Jedag, jedug, tidak menentu.


Manik mata yang sayu dan bening itu, hidung yang mancung sempurna itu, dan bibir tipis yang terlihat manis dan merah alami itu, membuat Linda ... terpana.


Karena tidak kuat akan keinginan untuk memagutnya, Linda segera memejamkan mata dan memalingkan wajah.


Setidaknya, dengan dia berpaling ketampanan yang paripurna itu tidak terlihat.


Sementara Agam langsung terhenyak, ia baru saja terbebas dari visual wajah yang memesona, untung saja Linda memalingkan wajahnya. Jika tidak, mungkin ia sudah melahapnya.


Tapi, masalahnya adalah ....


Leher indah nan jenjang itu kini seperti melambai dan menggodanya. Dengan memalingkan wajah, Linda seolah memberi ruang agar Agam leluasa menjelajahi lehernya indahnya.


Aduh, bagaimana ini? Ini indah sekali.


Dan kenyataan bahwa Yohan telah mengendusnya, membuat Agam kembali panas dan cemburu. Perlahan tapi pasti, ia pun melakukan apa yang katanya telah dilakukan oleh Yohan.


"A-apa si Yohan melakukan hal seperti ini, hahh? geramnya.


"Hahhh, Pak A-Agam, he-hentikaan ...."


Linda terkejut saat Agam benar-benar mengendusi lehernya.


Saat Yohan yang melakukan, ia spontan menolaknya mentah-mentah, dan tubuhnya menjauh karena merasa jijik.


Tapi ... saat Agam yang melakukan, tubuhnya spontan menerimanya secara terang-terangan.


Linda menggelit, lalu perlahan menengadahkan kepalanya seperti sedang memberikan ruang pada Agam untuk mengeksplorasi lehernya lebih banyak lagi.


"Emmh ... hhhh ...."


Bibir Linda mulai terprovokasi saat Agam bukan lagi mengendus, tapi ... mengecupi lehernya perlahan-lahan.


"Hmm ..., mmm ... P-Pak A-gam, cu-cukuphhh ...." Racaunya. Tapi, lain di mulut lain direspon.


Dan ....


'Ding dong ding dong.'


Kemesuman itu harus berakhir saat interkom berbunyi


Bersamaan dengan jeritan Linda karena Agam yang cemburu dan gemas mengecup dan menggigit lehernya dengan kuat.


"Aaaagggh," teriak Linda.


Spontan juga tangan Linda memukul telinga Agam.


"Kamu nakal, Bu Linda," bisik Agam sebelum ia meninggalkan Linda.


Agam keluar dari kamar dengan langkah cepat sambil mengulum senyum dengan wajah yang merona.


Sementara yang lehernya digigit masih mengatur napas dan meringis.


"Apa dia gila?! Ini sakit sekali Agam Ben buasnya," gerutu Linda.


Perlahan linda bangun, sambil merutuki dirinya yang terkesan agresif. Menuju kaca untuk becermin.


Ya ampun, benar buas rupanya pak Dirut itu. Leher yang mulus itu kini ternoda lagi. Ternoda oleh pria yang sama.


Jejak cinta itu begitu nyata. Yakin, baru akan benar-benar hilang sekitar ... seminggu mungkin?


"Ini terlihat jelas sekali. Bagaimana aku menutupinya?" Linda berpikir.


Akhirnya dapat ide juga, ia menggerai rambutnya yang tadi terikat. Diulurkan ke sisi leher kiri dan kanan. Syukurlah rambutnya sekarang sudah memanjang. Sejak pertemuannya dengan Agam memang belum sempat potong rambut lagi.


.


.


.


Linda mengendap-endap dan mengintip di balik pintu ruang kerja Agam yang letaknya ada di bagian terdepan. Terlihat pria itu sedang menerima dua orang tamu, laki-laki dan perempuan cantik.


"Kami perwakilan mahasiswa dari daerah pesisir pantai, Pak. Tepatnya pantai di Teluk Selatan. Kami bermaksud mengajukan proposal untuk pembangunan mesin daur ulang pengelolaan sampah di kawasan pesisir pantai Teluk Selatan," kata mahasiswa itu. Linda menguping.


"Hanya di pesisir pantai?" tanya Agam sambil mengecek proposal.


"Ya, Pak." Sela mahasiswi yang sedari tadi terus memandangi Agam dengan intens.


"Benar Pak, untuk sementara hanya di sepanjang pesisir Teluk Selatan," tegasnya.


"Tolong kalian rubah programnya dengan membersihkan sampah yang ada di kedalaman lautnya juga."


"Minimal kalian membersihkan seperdelapan mil dari sisi pantai, bagaimana?" tanya Agam dan pria itu terkejut saat menyadari ada yang mengntip. Langsung melempar senyum pada Linda.


Eh, mahasiswa yang di depan Agam salah tingkah.


"Saya akan usahakan, Pak. Itu juga kalau HGC mau menggalangkan sedikit dananya," kata mahasiswi itu sambil menyelipkan rambut ke belakang telinganya.


"Cantik," gumam Agam tak sadar setelah melihat rambut Linda yang digerai.


"Te-terima kasih Pak Direktur." Mahasiswi itu tersipu.


"Hahaha, dia jomblo kok Pak, bisa diajak bermain-main," sela yang laki-laki.


"Apa?!"


Agam baru sadar, langsung melempar proposal. Kedua tamunya terkejut, pun demikian dengan Linda. Linda bersembunyi.


Agam berdiri.


"Saya tidak suka dengan sikap lancang dan kurang ajar kamu!" Agam melotot pada tamunya itu.


"Ma-maaf, Pak." Mereka menunduk, gemetaran.


"Saya juga tidak suka dengan sikap kamu. Saya mengatakan cantik bukan untuk kamu, faham?!" bentaknya.


"Maafkan kami, Pak." Keduanya langsung bersimpuh.


"Dengar ya, tugas kalian itu bukan hanya belajar di kampus. Sebagai mahasiswa kalian memiliki peran dan fungsi penting dalam kemajuan bangsa, mengerti?" tegas Agam.


"Me-mengerti, Pak."


"Peran dan fungsi kalian dalam masyarakat, di antaranya sebagai agent of change, sebagai penjaga nilai-nilai, sebagai iron stock, sebagai kekuatan moral, serta sebagai pengontrol kehidupan sosial, faham?! Sudah belajar bukan?!" tandasnya, dengan menggebu-gebu.


"Maaf atas kelancangan dan kesilapan kami, Pak."


"Proposal kalian saya tolak, silahkan perbaiki dulu sesuai dengan keinginan saya." Matanya mencari si cantik yang tadi mengintip, tapi tidak ditemukan.


"Kalian boleh pergi," usirnya.


"Te-terima kasih Pak Agam."


Mereka berlalu dengan wajah malu dan perasaan menyesal. Menyesal telah berusaha dekat dengan Pak Dirut dengan cara yang tidak elok.


Baru sadar jika Dirut HGC bukan sosok yang mudah ditaklukan tatkala mereka merasa terusir saat pintu ruangan itu terbuka lebar secara otomatis. Mereka keluar, dan Fanny masuk.


Fanny mengernyit saat melihat ada tas wanita tergeletak di sofa. Namun tidak bertanya, ya sudah lupakan saja dan berpura-pura tidak melihat.


"Kok bisa LB datang dengan tuan Yohan," sambil memberikan beberapa berkas pada Agam.


"Bisa saja, tidak masalah." Jawab Agam.


"Saya kira artis yang mau debutnya bukan LB." Lagi sambil melirik pada tas itu.


"Kenapa, kamu mau bertanya tentang tas itu? Itu tas milik LB," tegas Agam.


"Apa?! Milik LB? Ketinggalan?" Fanny langsung menebak.


"Ya, Yohan meninggalkan tas LB dengan orangnya juga," tambah Agam.


"A-apa?" Fanny tercengang.


"El," panggil Agam.


Linda yang masih gugup langsung mendekat. Mata Fanny membulat, sejak kapan Pak Dirut memasukan wanita ke dalam ruangannya?


Fanny masih melongo saat Linda mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Saya ada jadwal tes vokal bersama Pak Agam," terang Linda sambil menahan rambutnya. Khawatir jika sisa-sisa kemesuman tadi terlihat oleh Fanny.


"Oh, Anda mau nyanyi? Aji mumpung?"


Fanny langsung melakukan penilaian negatif, Agam diam saja, karena tahu kamera di tas Linda sedang merekam.


"Saya hanya memanfaatkan peluang, Bu." Tegas Linda.


"Hahaha, semoga beruntung ya LB. Saya tunggu single atau albumnya," sindir Fanny. Tatapannya pada Linda jelas menyepelekan.


"Terima kasih," sahut Linda.


"Fanny, saya dan LB harus pergi sekarang, jadwal saya juga sudah selesai, kan?" Agam beranjak, meraih jas dan tasnya.


"Ya, Pak. Semoga proyek barunya sukses. Jangan memaksakan keadaan, berikan penilaian secara objektif, jangan tergoda dengan kemilau, karena belum tentu juga kalau itu emas. Ya, kan?" sindir Fanny.


Kurang ajar kamu Fanny. Batin Agam, geram.


"Lain kali kita bisa karaoke bersama, semoga ada waktunya ya Bu Fanny."


Linda seolah ingin menunjukkan pada Fanny jika ia layak diperhitungkan.


"Semua orang berhak mencoba dan terus mencoba, sekalipun dia gagal, gagal, dan gagal lagi," kata Linda saat meraih tasnya dan berlalu mengejar Agam yang keluar terlebih dahulu.


Fanny hanya menggedikkan bahu sambil beranjak untuk merapikan meja kerja Agam.


Saat Fanny akan mengirim file dan membuka laptop kantor milik Agam, alisnya mengernyit. Ada tulisan tangan pada kertas HVS di balik laptop itu.


"Apa ini?" Ia mengambilnya.


"Cerpen."


Cerpen??


***


Agam menunggu Linda di dalam lift.


"Kenapa lambat sekali?"


"Langkah Anda terlalu panjang, Pak." Keluhnya.


Linda dan Agam saling menatap penuh arti keduanya sadar jika saat ini tengah diawasi. Jadi, harus berakting.


"Saya kurang yakin dengan kemampuan kamu."


"Kita buktikan saja, Pak. Pokoknya Bapak tidak akan menyesal berinvetasi di perusahaan rekaman milik tuan Yo."


Gemasnya. Batin Agam.


Leherku sakit, Agam Ben. Linda bermimik kesal.


Lift itu ternyata memiliki akses khusus menuju parkiran VVIP.


Saat tiba di parkiran, Agam segera membuka bagasi mobilnya, dan menatap Linda.


Agam menganggukkan kepala, Linda mengulum senyum dan ... faham. Linda meletakan tas ranjau itu di bagasi.


"Hahaha," keduanya tertawa saat bagasi tertutup.


Agam meraih tangan Linda dan mengantarnya ke pintu mobil sisi kiri, pria itu membukakan pintu untuk Linda. Linda tersipu-sipu. Merasa punya pacar yang sangat romantis dan peduli.


Pacar?


Sesaat Linda menautkan alisnya saat duduk di samping kemudi.


Statusku apa di mata dia ya? Linda menunduk.


Ia diam saja saat Agam memasangkan sabuk pengaman padanya.


"El," sapa Agam. Mulai melajukan kemudi.


"Maaf untuk yang tadi, nanti kita ke apotik, pakai salep khusus agar tidak merah dan bekasnya cepat hilang." Melirik pada Linda yang masih diam.


"El," memanggilnya lagi.


"Pak Agam," Linda balas memanggil.


"Ya," jawab Agam sambil tersenyum karena mengingat kembali kejadian tadi di kamar kantornya.


"Sebagai apa saya di mata Anda, Pak?" lirihnya, ada sesuatu yang mengganjal di hati Linda.


'Ckiiit.'


Agam menepikan mobil itu.


"Kamu calon istri saya, El." Menghela napas sambil menatap Linda.


"Pak Agam, saya bingung dengan posisi ini, saya tidak mau terus dibayangi perasaan bersalah dan berdosa seperti tadi contohnya. Anda tahu kan yang tadi kita lakukan?"


Linda menelan salivanya. Ada perasaan merasa dipermainkan oleh Agam.


"Linda," Agam memegang tangan Linda.


"Ada sesuatu yang sebenarnya ingin saya katakan di hari kamu duculik. Saya ingin melamar kamu, saya ingin menikahi kamu Linda."


"Be-benarkah?" Bibir Linda gemetar.


"Di apartemen Green Seroja, hari itu ... saya sudah mengajak kamu, tapi kamu menolak," Agam meraih wajah Linda agar tidak menunduk.


"Saya menolak karena masih membenci Bapak," Linda kembali menunduk.


"Linda, kenapa saya membawa kamu ke rumah saya? Salah satu alasannya adalah ... karena saya ingin mengambil hati kamu. Setelah merenggut semua hal yang kamu miliki, saya ... hari itu juga langsung jatuh cinta padamu, El ...."


Linda memandang Agam lekat-lekat.


"Kenapa Bapak tidak mengatakannya lagi? Selama di rumah Bapak ..., dengan bodohnya ... saya selalu menunggu Bapak menyatakan cinta, Pak Agam jahat, huuks huuks ...." Terisak sambil memukul bahu Agam.


"Linda, suatu hari saya hampir saja mengatakannya, tapi ... hati saya hancur saat tahu kalau kamu sudah memiliki kekasih."


"Saya tahu dari Gama, dan Gama tahu dari ibu. Linda ... saat itu saya berpikir kamu membenci saya dan mencintai kekasih kamu." Sambil mengusap air mata Linda.


"Saya hancur saat tahu semua hal tentang kekasihmu. Nah, pada saat itu ... saya berpikir untuk mecintai kamu secara 'Agape' yang pernah kamu bahas itu."


"Saya berpikir akan melepaskan kamu untuk laki-laki itu. Tapi ... ternyata tidak bisa. Awalnya saya berpikir bisa mencintai walau tanpa memiliki."


"Semakin saya ingin melupakan kamu, cinta saya padamu semakin menggebu. Semakin saya mencintai kamu, semakin sakit hati ini karena terluka."


"Luka itu berasal dari penyesalan karena telah menodai kamu, dan berasal dari cemburu karena ternyata kamu telah memiliki kekasih." Agam menghela napas.


"Ja-jadi seperti itu alasan Bapak terlambat mengatakannya?"


"I-iya, El .... Maafkan saya jika apa yang saya lakukan membuat kamu terluka."


"Pak Agam, saya merasa lega setelah tahu semuanya. Sama halnya dengan Bapak, saya juga merasa semakin mencintai Bapak, hati saya semakin sakit karena terluka."


"Luka itu berasal dari celaan dan hinaan orang-orang yang merendahkan saya. Keberadaan saya di sisi Bapak, bak benalu yang menggangu inang. Saya benalu, dan Bapak adalah inangnya."


"Linda ...." Agam segera melepas sabuk pengaman dan memeluknya.


"Saya akan meminangmu, lusa ... saya akan pergi ke pulau dan menemui orangtuamu. Saya akan meminta izin menikah denganmu sekaligus meminta maaf."


"Lusa?" Linda terkejut.


"Saya mau ikut, Pak."


"El, kamu tetap di sini. Jaga kandunganmu, perjalanan ke sana jauh. Walaupun memakai pesawat, tetap saja beresiko untuk kehamilanmu. Ingat, kita sudah kehilangan satu anak kita, saya tidak ingin kehilangan lagi."


"Tapi Pak, kalau saya tidak ikut, saya takut ayah memarahi Bapak."


"Saya akan menghadapinya, kamu tenang, oke?"


"Pak, bagaimana kalau ayah melaporkan Bapak ke polisi? Dulu ... saat saya menceritakannya, ayah berniat melaporkan Bapak, tapi saya menolak keinginan Bapak. Saat itu, saya takut malah dipermalukan karena saya tahu Bapak bukan orang biasa." Wajah Linda dipenuhi kekhawatiran.


"Linda ... tekad saya sudah bulat, apapun risikonya saya siap menghadapi. Jika ayahmu sudah setuju, saya mau langsung ijab kabul di rumah kamu." Mata Agam berbinar.


"Apa? Tanpa ada saya?" Linda cemberut.


"Hehehe, syarat sahnya ijab kabul adalah adanya calon pengantin pria, wali yang menikahkan, dua orang saksi, dan mahar. Pernikahan itu sah, karena kedua mempelai ada. 'Ada' itu, pengantin wanita tidak harus berada di tempat ijab kabul, faham?" Tangannya menyibak rambut Linda.


"Separah ini? Linda maaf ...." Mengusap tanda cinta itu."


"Iya, ini sakit tahu Pak."


"Maaf ... saya gemas tadi El ...."


.


.


.


Lalu Agam kembali melajukan kemudi. Linda tersenyum sambil menatap hiruk-pikuk jalanan yang ramai lancar. Kemelut di hatinya sedikit terurai, kini ia tahu alasan Agam terlambat menyatakan cinta kepadanya.


"El, sebutkan mau mahar apa?"


Tangan mereka saling bertautan, Agam menyetir dengan satu tangan.


"Apa saja, Pak. Tidak perlu berlebihan. Bapak dapatkan dulu restu dari ayah dan ibuku, nanti baru memikirkan maharnya," jawab Linda.


"Kamu benar, doakan saya ya. Saya gugup." Ujarnya.


"Bapak tidak ke sana sendirian, kan?"


"Tidak dong, saya akan diantar oleh dokter Cepy, Juan, Vano tim pengacara saya, dan yang paling spesial lagi akan diantar oleh tuan Deanka."


"Apa?! Bapak serius?"


"Iya dong, El. Saya sudah membicarakan niatan ini pada mereka saat kamu bersama Yohan. Tapi yang saya pikirkan sekarang adalah ... kamu harus lepas dari Yohan, kembali bersamaku atau ... tinggal di tempat yang aman."


"Lantas, saya harus bagaimana, Pak?"


"Tenang saja, oke? Untuk sementara waktu, kita ikuti dulu permainannya Yohan."


"Sekarang, saya sudah tidak sabar ingin mendengar suara kamu saat bernyanyi, apa semerdu desahanmu? Hahaha," goda Agam.


"Apa?! Pak Agam, Anda tidak sopan!"


Linda memukul-mukul bahu Agam, pipinya merona.


Agam masih terus tertawa mengiringi kecepatan laju mobil yang melaju lambat. Ia membiarkan Linda memukulinya.


"Linda Berliana Buana," sapa Agam.


"Hahh, kenapa ada Buananya?" protesnya.


"Sebentar lagi insyaaAllah kamu kan akan jadi istri saya."


"Aamiin," sahut Linda.


Kali ini tidak lagi memukul Agam, tapi ... menelisik rambut hitam lebat milik pria itu.


"Oiya, tanda cinta yang di mana yang kamu maksud berbentuk hati?"


"Apa?!" Terkejut.


"Hahaha, sebenarnya saya memiliki dua tanda lahir berbentuk hati," kata Agam.


"Hahh? Ada satu lagi? Di mana?" tanya Linda spontan.


"Kamu baru bisa melihatnya setelah kita menikah." Sambil tersenyum, dan tersipu. Daun telinga Agam memerah.


Lindapun sama-sama tersipu.


.


.


.


Ada seberkas harapan kebahagiaan di hati keduanya.


Semoga ... tidak ada lagi aral-lintang.


Semoga ... ayah Berli dan bu Ana bisa menerima Agam Ben Buana untuk menjadi imam bagi putri sulung mereka, Linda Berliana atau LB, alias El, alias Ia, alias Lica.


❤❤ Bersambung ....