
"Maaf Nona Ice, malam ini saya tidak bisa menjemput, anak yang saya yang paling bungsu sakit. Terima kasih." Pesan dari Pak Widi untuk Freissya.
"Tidak apa-apa, Pak. Semoga anak Bapak lekas sembuh, aku mau naik bus saja," balas Freissya.
Malam ini, tepatnya pukul 21.30, Freissya baru saja pulang dinas sore. Karena pak Widi tidak bisa menjemput, ia berdiri di sisi halte untuk menunggu bus. Freissya menanti sambil memainkan ponselnya.
Layaknya anak muda pada umumnya, ia menjelajahi dunia maya melalui akun media sosialnya. Freissya membuat status galau yang berhubungan dengan isi hatinya.
"Kata orang, cinta memang tak harus memiliki. Tapi sulit bagiku mencintai seseorang namun tidak bisa memilikinya."
"Biarlah aku menyayangi seseorang dengan caraku sendiri. Merelakan dia pergi mungkin jalan yang terbaik."
"Aku belum yakin kalau aku mencintainya, tapi ... aku merindukannya."
"Aku memendam rindu, semoga rinduku tidak menjadi jerawat. Hehee ...."
Kalimat itulah yang di tulis oleh Freissya di aku media sosialnya. Akun miliknya diberi nama 'Anak Sulung.' Foto profilnya sepeda tuanya.
Akunnya berisi foto-foto ayam, kandang ayam, bahkan ada foto kotoran ayam, baik yang masih basah, kering, ataupun yang sudah berbentuk pupuk kandang. Tak ada satupun foto dirinya. Intinya, ini akun rahasia.
Ia terus memainkan ponsel hingga tak sadar kalau bus yang ditunggunya telah berhenti dan berlalu lagi. Baru menyadarinya setelah bus itu menjauh.
"Aduh, gara-gara main HP. Frei, Frei, bagaimana, sih?" Memarahi dirinya sendiri.
Tiba-tiba, tanpa diduga, dan di saat area di sekitar itu sedikit sepi, sebuah mobil memepetnya.
Freissya kaget, mundur beberapa langkah. Namun ketika Freissya akan berbalik dan menjauh, sebuah tangan terulur dari mobil dan menariknya ke dalam.
Freissya spontan beteriak.
Tapi ... baru saja bibir mungilnya yang berwarna merah jambu itu akan beteriak, tangan itu sudah membekapnya.
'BRUK.' Freissya berhasil ditarik ke dalam mobil.
"Siapa kamu?! Lepaskan aku!" teriak Freissya saat dirinya sudah berada di dalam mobil, Freissya ketakutan.
Dia yang menariknya memakai topeng menyeramkan, berbentuk tengkorak. Dia tidak berbicara. Saat Freissya meronta, sosok itu segera melakban mulut Freissya dan mengikat tangannya.
Tubuh Freissya gemetar, ia takut setakut-takutnya. Air mata Freissya meleleh.
"Mmm mmm," Freissya berusaha berbicara, entah apa yang ia katakan.
Air mata Freissya semakin deras saat mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi, menerobos sepinya malam.
Siapa kamu?! Aku mau dibawa kemana?!
Jerit Freissya di dalam hati. Memberanikan diri melirik sosok yang menculiknya, dia seorang pria, topengnya sangat menakutkan.
'Ckiiit.'
Mobil itu berhenti di tepi jalan yang peneranganya minim. Pencahayaan di daerah ini tampak remang-remang. Freissya terisak sepanjang perjalanan, pun saat mobil ini sudah berhenti, Freissya masih terisak.
Freissya memejamkan mata, ia tidak ingin melihat pria bertopeng tengkorak itu. Pria bertopeng itu tiba-tiba menutup mata Freissya dengan sebuah sapu tangan.
Apa yang akan dia lakukan? Huuu.
Freissya putus asa. Tertegun ia, ketika tangan sosok itu mengelus pipinya. Dia memakan sarung tangan yang terbuat dari kulit.
B r e n g s e k !! Freissya marah, kesal.
Lalu tangan sosok itu membuka perlahan kain bekapan.
"Lepaskan aku pria gila!"
Freissya sesumbar setelah bekapannya di lepas. Namun sosok itu diam saja. Freissya tentu saja tidak bisa melihat aktivitas apa yang dilakukan pria tersebut.
"Tolong jangan menjahati aku, huhuuu ... aku tidak merasa perbuat salah padamu. Tolong katakan apa tujuan dan keinginanmu, ta-tapi tolong jangan melukaiku," harapnya.
Tapi, lagi-lagi sosok itu diam saja.
"Ja-jangan melecehkanku, a-aku sudah menikah, a-aku juga sudah memiliki anak." Freissya berbohong.
"A-apa yang akan kamu lakukaaan?!" teriak Freissya. Di balik penutup, matanya Freissya membelalak, kaget saat merasakan bibirnya di telusuri oleh jari si penculik.
"Lepas, lepaskan aku! B a j i n g a n! B r e n g s e k!" makinya.
Kepala Freissya meronta dan menggeleng, kakinyapun berusaha meronta. Pria bertopeng itu sepertinya melepaskan sarung tangannya saat menyentuh bibir Freissya. Freissya bisa merasakan dinginnya tangan pria b r e n g s e k itu.
Lagi, tangan nakal itu menggoda bibir Freissya dengan jarinya.
"Puih! Puhh!"
Freissya meludahinya. Tapi, sosok itu tetap terdiam dan tidak peduli.
"B R E N G S E K!! Siapa kamu, hah?!"
Freissya kesal dan naik pitam. Tangan dingin pria itu, kini menelusuri lehernya.
"Tolooong, tolooong." Freissya beteriak lagi.
Lalu kejadian tidak terduga terjadi. Tatkala bibir Freissya terbuka guna beteriak minta tolong, penculik b a j i n g a n itu, memagut bibir Freissya, menyesapnya kuat-kuat. Sejenak Freissya tertegun, bergeming, dan tentu saja merasa terhina.
"Kamu K E P A ---." Tercekal, karena dipagut lagi.
"Uhmm mmm hmmpp ...."
Freissya meronta, pagutan itu sangat menjijikkan, walaupun ya ... terus terang saja aroma si b e r e n g s e k itu tercium sangat wangi, jika diresapi seperti beraroma vanilla.
Freissya menggigit tonguenya. Tapi ... si b r e n g s e k tidak menyerah, terus meraih dan meraih.
"Huukks," Freissya terisak. Kain penutup matanya basah.
Lalu Freissya menggigit bibirnya. Sejenak si b a j i n g a n itu terdiam, mungkin dia kesakitan. Tapi selanjutnya, kembali melecehkan bibir mungil yang merah delima itu seolah tidak ingin berhenti.
Air mata Freissya meleleh, perlahan matanya terpejam, seolah tengah menikmati perlakuan si b r e n g s e k itu.
"V-Val ...?" Ketika pagutan itu selesai, Freissya memanggil nama itu.
"A-apa k-kamu Val Yasa?" tanyanya lagi dengan bibir gemetar.
Tidak ada jawaban. Sunyi ... sepi ... senyap. Yang terdengar hanya isakan Freissya. Gadis yang wajahnya menggemaskan itu menangis sendu dan memilukan.
Freissya tengah menyesali kebodohannya, bisa-bisanya ia merasa jika pria yang menculik dan menciumnya adalah Gamayasa Val Buana.
Dan tangan si penculik itu perlahan mengusap air mata yang mengalir di pipi Freissya.
"Ma-maaf jika aku salah menduga, ta-tapi to-tolong, tolooong ... siapapun kamu jangan merendahkanku seperti ini. To-tolong lepaskan aku, orang tuaku pasti menunggu dan khawatir." Suara Freissya gemetar.
"Tolong jangan mengulangi kejatahan seperti ini lagi, biarkan aku saja satu-satunya yang menjadi korban k e b i a d a b a n kamu. Please, jangan mengulangi kejahatan kamu pada siapapun," lirihnya.
Lalu pria yang sudah memakai kembali topengnya itu melajukan kemudi. Sesekali melirik pada Freissya.
Mobil itu berhenti tepat di gang menuju rumah Freissya. Lalu ia melepaskan ikatan di tangan Freissya. Kemudian mendorong pelan tubuh Freissya untuk keluar dari mobil.
Freissya masih mematung di tepi jalan dengan mata tertutup saat mobil si penculik b r e n g s e k itu meninggalkannya. Meninggalkan jejak-jejak kenakalannya yang seolah masih terasa dan tersisa. Freissya memukuli bibirnya berulang-kali. Lalu terpuruk, duduk di trotoar, memeluk lututnya dan kembali menangis, meraung-raung.
...❤...
...❤...
...❤...
"Kenapa, Nak? Ya Rabb, kenapa jadi begini?" Bu Ana histeris.
Siapa sih ibu yang tidak panik melihat anaknya di rawat di rumah sakit?
"Ibu, tenang dong Bu. Aku sudah baikan, kok," jawab Linda. Tangannya terpasang infus. Ia dirawat di ruang VVIP Rumah Sakit Rujukan Pulau Jauh.
Sepulang dari villa, Agam tidak pulang ke rumah, ia langsung membawa Linda ke rumah sakit karena istrinya demam. Agam merasa bersalah. Apalagi saat mengetahui hasil pemeriksaan dokter.
Kata dokter, apa yang terjadi pada Linda adalah efek samping dari aktivitas berat atau olah raga yang berlebihan. Olahraga itu menyebabkan kalori terbakar terlalu banyak, hingga mengakibatkan kelelahan dan demam.
Agam sedari tadi hanya menunduk. Memegangi tangan Linda. Mungkin merasa bersalah atas apa yang terjadi pada istrinya itu.
"Kok bisa sampai dirawat begini? Memangnya kenapa, Pak Dirut? Bukan akibat bendungan ASI, kan?
Merasa tidak puas dengan jawaban Linda, Bu Ana bertanya pada menantunya.
"Lho, kok salah Pak Dirut sih?" Bu Ana bingung.
"Saya bingung menjelaskannya Bu, em ... intinya Linda kelelahan." Agam akhirnya jujur.
Respon Bu Ana hanya menghelas napas.
"Terus itu kenapa bibir Pak Dirut pecah begitu?" Bu Ana salah fokus (salfok).
"Em, terbentur, Bu." Padahal digigit Linda.
Linda menggigitnya mungkin karena gemas atau apalah. Ada adegan di villa yang sepertinya terlewatkan. Dari peristiwa di kamar mandi itu, sebenarnya ada banyak lagi adegan manis dan romantis yang dilakuan oleh Agam untuk Linda, pun sebaliknya.
Tapi ... ada banyak adegan yang istilahnya, 'Tidak layak tayang.'
"Ya ampun, seperti pengantin baru saja kalian ini."
Bu Ana mengulum senyum. Melihat rambut Linda dan Agam yang masih terlihat basah, lalu melihat kodisi bibir mereka, Bu Ana jadi faham.
"Ibu ke sini sama siapa? Keivel bagaimana? Cadangan ASI-nya masih banyak, kan?" tanya Linda.
"Setelah di telepon Pak Dirut, Ibu langsung ke sini diantar Hikam. Ayah kamu hari ini ke gerai buah lagi. Oiya, ASI perah yang baru kan tadi sudah diambil Hikam. Jadi, kamu tenang saja, Keivel tidak akan kehabisan stock."
Bu Ana lalu beranjak untuk membuka bekal yang ia bawa dari rumah.
"Ini ada makanan dimakan ya," bujuknya.
"Siapa yang memasak?" tanya Agam.
"Yuli, memangnya kenapa?" tanya Bu Ana.
"Tidak apa-apa Bu," Agam tidak memberikan alasan apapun karena tangannya dicubit Linda.
Agam sebenarnya ingin segera memarahi Hikam karena merekrut pekerja yang tidak bertanggung jawab. Namun saat melihat Hikam antusias mau mengantarkan cadangan ASI untuk Keivel, Agam mengurungkan niatnya.
Lalu ponsel Agam menyala, ada pesan penting dari patnernya. Dari siapakah? Ternyata dari Mister X.
Ya, bagi Agam, Mister X bukanlah anak buahnya. Melainkan patner. Kenapa? Karena kerjasama antara ia dan Mister X, sama-sama menguntungkan.
"Tolong Anda hati-hati Pak Buana. Salah satu politisi yang merasa dirugikan oleh Briliant, sepertinya telah mengetahui identitas asli dari Briliant."
Deg, jantung Agam sedikit berdegup. Politisi manakah yang dimaksud Mister X? Terus terang, Agam belum mengetahuinya.
"Ada apa Pak?" tanya Linda.
"Tidak ada apa-apa sayang, kamu fokus istirahat ya."
"Tapi, Pak ... aku merasa sudah sehat. Bagaimana kalau kita pulang saja? Aku rindu Keivel."
"Sayang, tadi dengar kan dokter bilang apa? Kamu baru boleh pulang besok, patuh ya sayang, atau kamu saya ---." Lanjut berbisik di telinga Linda.
Linda merespon dengan mencubit bahu Agam. Bu Ana geleng-geleng kepala melihat pemandangan itu.
"El, saya mau membahas hal penting dengan kamu, tapi saya tidak bisa mengatakannya sekarang," kata Agam dengan suara pelan.
"Tentang apa, Pak?"
"Nanti saja sayang, ada ibu kamu," bisiknya.
Hmm, apa ya? Linda jadi penasaran.
Mau tidak mau, aku harus mendapatkan informasi dari Linda dengan siapa saja wawancara ilegal itu dilakukan, dan aku juga harus bisa mendapatkan hasil rekamannya. Batin Agam.
Agam lalu menyuapi Linda, tapi bukan dengan makanan yang dibawa bu Ana. Melainkan makanan dari rumah sakit.
Tak lupa, Agam juga mengirim pesan pada dokter Fatimah.
"Sudah dicek rekeningnya? Terima kasih ya, Dok. Saya sudah merasakan keajaibannya. Anda luar biasa. Ini seperti magic, saya tidak percaya jika prosedur itu benar-benar ada." Pesan terkirim.
"Kenapa, Pak? Kok senyum-senyum?"
"Tidak apa-apa sayang, saya baru saja mengirim pesan pada seseorang," jawabnya.
"Mana lihat, sini." Merebut ponsel Agam.
"Hei, tunggu sayang." Mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
"Pak Agam, aku mau lihat. Jangan membuatku curiga," Linda cemberut.
"Sayang, tenang dulu sebelum kamu boleh memeriksa ponsel saya, kita harus membuat peraturan dulu tentang ini."
"Ya, ampun. Pak Agam tidak adil! Siapa dulu yang meretas HP-ku, hah? Siapa?"
"Emm," Pak Dirut tersenyum.
"Ya sudah, silahkan dicek ya sayang, tapi janji ya, pulang dari rumah sakit, kita lakukan di ruang ganti," bisiknya.
"Hahh? Haish, kenapa Pak Agam sekarang jadi m e s u m, sih?" protesnya. Dengan suara pelan, takut terdengar ibunya.
"Bagaimana saya tidak m e s u m, kalau faktanya seajaib itu," bisik Agam.
"Di ruang ganti kan sempit, Pak."
"Hehehe, saya suka yang sempit-sempit sayang," bisiknya lagi.
"Apabila berkumpul tiga orang, maka janganlah dua orang di atara mereka itu berbisik-bisik tanpa menyertakan orang ke tiga," kata Bu Ana, menukil sebuah nasihat.
"Oh, ya. Maaf Bu."
Agam berdiri, segera membungkukan badan, lalu meraih tangan Bu Ana dan menciumnya.
...❤...
...❤...
...❤...
Dia menatap Senja tanpa berkedip, menikmati wajah cantiknya dengan seksama.
Penampilan Mister X kali ini terlihat berbeda. Tidak menggunakan topi, namun tidak melupakan hoodie dan masker hitamnya. Topi hoodie yang biasanya menutupi kepalanya, dibiarkan begitu saja.
Ia menggunakan kalung mutiara. Tapi percayalah, kalung mutiara itu hanya kamuflase, di dalam setiap butiran mutiara itu sebenarnya ada sesuatu yang sangat rahasia.
Rambut kecoklatnya yang lebat itu, terlihat senada dengan warna hoodienya.
Hari ini, ia baru saja berhasil membujuk si gadis senja untuk berkunjung ke rumah 'Bu Miss,' yang ia akui sebagai kakaknya.
Mister X menjemput Senja dari pengungsian. Setelah mencari informasi tentang pamannya Senja, tekad Mister X untuk melindungi gadis itu kian bulat.
Dari beberapa informasi yang ia dapatkan, pamannya Senja ternyata pernah memaksa Senja untuk menjadi P S K di sebuah klub malam. Sungguh biadab.
"Bu Miss?" tanya Senja.
"Ya, kenapa?" kata Bu Miss jadi-jadian.
"Apa adik Bu Miss bukan pria jahat?"
"Tentu saja bukan."
"Seperti apa dia? Usia berapa?" tanya Senja.
"Hahaha, dia masih muda dia, menurutku dia itu buruk rupa, kepalanya emm ... botak, hidungnya pesek, dan sedikit gendut."
"Oh, begitu ya, orang buruk rupa seperti apa? Hidung pesek, dan kepala botak seperti apa ya?" tanya Senja.
Mister X bingung menjelaskannya. Lagi, ia menatap Senja. Mereka sedang berada di dalam bus. Bangku mereka berhadapan. Ini adalah pengalaman naik bus terindah bagi Mister X.
Dan ini adalah penampakan paling jelas dari seorang mister X, semoga bisa mengobati rasa penasaran.
Ssstt, sebenarnya ini sudah melanggar kode etik anonymous. Tapi ... demi Senja Mister X rela membuka diri. Kenapa Mister X tidak khawatir? Ya, karena di hadapan Senja, ia merasa aman.
...~Tbc~...