AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Berkunjung ke Pearl Ocean Village [Bagian 1]



"Rumahnya ada sisi pantai tapi asri, kamu tahu hunian Pearl Ocean Village, kan? Nah, di sana mereka tinggal, saya juga punya unit di sana, ada dua buah, tapi masih dalam bentuk rumah saja belum ada propertinya. Kalau kamu suka, kamu bisa tinggal di sana. Nanti bertetangga dengan nona Aiza," jelasnya.


Tidak ada respon.


"El," Agam melirik pada Linda.


"Oh, ya ampun," gumamnya sambil tersenyum. Ternyata Linda tidur.


Agam meraih tangan Linda, mengusapnya, lalu mengecupinya. Mungkin ini satu-satunya kesempatan bagi Agam untuk bisa menyentuh Linda. Menyentuhnya saat Linda tertidur.


Sebelum pergi ke Pulau Jauh, aku harus mengambil tas Linda dari Yohan. Kukira setelah kejadian itu kamu bertaubat Yohan, ternyata aku salah. Kamu masih seperti dulu. Memanfaatkan orang lain dengan cara licik untuk mendapatkan keuntungan.


Tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan dari pengacara Vano.


"Ya Vano ada apa? Ini hampir tengah malam, kenapa menelepon saya?" ujarnya.


"Pak Agam, misinya berhasil, kan?"


Maksud dari pertanyaan Vano adalah misi membohongi Linda.


"Ya berhasil, tapi masalahnya saya jadi tidak bisa menyentuh dia sama sekali. Dia marah," kata Agam dengan suara berbisik.


"Memang sudah menyentuh LB sejauh mana, Pak? Hahaha. Asyik, nih." Ledek Vano.


"Diam kamu! Tidak penting saya membahas ini dengan kamu. Cepat katakan! Ada apa? Sebentar lagi saya akan sampai di rumah tuan Deanka."


"Hahh? Pak Agam mau ke rumah Tuan Muda di jam sekarang? Apa bagusnya bertamu di jam tengah malam?"


"Ya saya tahu etika bertamu, tapi tuan Deanka sendiri yang meminta saya datang malam ini juga."


"Oh, hahaha, saya tahu alasannya. Karena kalau sore atau sebelum jam sepuluh malam, mungkin takut mengganggu aktivitas favoritnya bersama nona Aiza, hahaha."


"Apa?"


"Hahaha, Pak Agam jangan pura-pura tidak tahu, Tuan Muda kan setelah menikah maniak."


"Hussh, Vano! Jangan sembarangan bicara. Gila kamu ya mengumpat Tuan Muda, mau dipecat dari firma?!" bentak Agam. Suara Agam yang keras membuat Linda terbangun.


Dan kebiasaan Linda saat bangun inilah yang membuat Agam memalingkan wajahnya.


"Langsung pada intinya, ada apa?"


"Ada artikel terbaru tentang LB."


"Saya sudah melihatnya Vano, yang ada enam itu, kan?" Suara Agam makin dikecilkan.


"Bukan, Pak. Ini hanya ada satu fakta. Tapi deskripsinya panjang. Fakta tentang kehamilan LB."


"Apa?!"


Agam terkejut, spontan mengakhiri panggilan. Bersamaan dengan itu, Lindapun membuka matanya setelah tadi garuk sana, garuk sini. Ya, itu memang kebiasaan Linda saat bangun tidur.


Siapa? Media mana? Kurang ajar!


Agam memukul setir.


"Pak, ada apa?"


"Tidak ada, sebentar lagi kita sampai, jangan tidur lagi, oke?" katanya sambil mengusap rambut Linda.


Lalu kembali melajukan kemudi dengan perasaan yang kembali kalut. Khawatir jika berita itu akan mempengaruhi sikologis Linda dan mengganggu tumbuh kembang bayi yang dikandungnya.


Sejauh ini, Agam memang belum tahu jika Linda memilih meninggalkan Yohan dan merelakan pria licik itu untuk menyebarkan berita tentang kehamilannya.


***


"Pak, ini Pearl Ocean Village, kan? Ya ampun, ini hunian impian seluruh keluarga di dunia," decak Linda. Terdengar berlebihan di telinga Agam.


"Biasa saja kali," guman Agam saat mobilnya memasuki gerbang dengan penjagaan berlapis dan super ketat.


Bahkan mobil Agam harus melewati beberapa kali sistem keamanan dengan teknologi mutakhir sensor laser system.


"Wow," mata Linda kembali membulat.


"Kamu suka tidak tinggal di tempat seperti?" tanya Agam.


"Suka sih suka, tapi pasti mahal Pak. Tidak mungkin artis remahan sepertiku bisa membelinya."


Matanya sibuk lihat sana-sini. Bahkan sampai membuka kaca mobil dan melongokan kepalanya.


"Selamat malam Pak," sapa Linda kepada beberapa penjaga yang duduk kaku di depan layar komputer tanpa ekspresi.


Saat Linda mengucap salampun, mereka tidak ada yang menyahut.


"Sombong sekali mereka. Menjawab salam itu wajib, tahu tidak sih?" ketusnya.


Agam hanya tersenyum-senyum.


"Padahal aku sudah buka masker, tapi tidak ada yang menyadari kalau LB, huhh," keluhnya.


Saat ini, mobil Agam telah melewati seluruh sistem keamanan.


"Hahaha, mereka tidak akan mengenalimu. Walaupun kamu menggoda mereka, tidak akan dipedulikan," kata Agam.


"Hmm, aku merasa tidak dianggap oleh penjaga-penjaga itu. Harusnya tadi aku bernyanyi di depan mereka. Mereka pasti menyukai suaraku."


"Hahaha, sudahlah El. Mau kamu bernyanyi atau membuka semua hal yang ada di tubuhmupun, mereka tidak akan tergoda."


"Wah, hebat sekali. Coba Pak Agam seperti itu tahan godaan," kata Linda. Berniat untuk mencandai Agam.


"Hahaha, saya dan mereka berbeda El, saya memiliki nafsu, mereka tidak."


"Tidak mungkin manusia tidak memiliki nafsu, Pak. Hanya malaikat yang tidak memiliki nafsu."


Linda malah mencebikkan bibir pada Agam. Gerakan itu membuat Agam sedikit gerah karena tiba-tiba ingin mengulumnya. Agam mengusap dadanya untuk menetralisir keinginan itu.


"Besok-besok, kamu harus memakai masker saat berhadapan dengan saya."


"Lho, kenapa?"


"Lakukan saja," jawabnya.


"Pak, merasa tidak sih kalau para penjaga tadi wajahnya hampir mirip semua? Apa perasannku saja ya?"


"Hahaha, ya memang mirip. Mereka satu jenis, satu pabrik."


"Maksudnya?"


"Mereka itu robot, El."


"Apa?! Kenapa Bapak baru memberitahu? Ugh, dasar." Wajahnya terlihat kesal. Sepontan tangannya memukul bahu Agam.


"Sudahlah, tidak perlu membahasnya lagi, itu rumah mereka."


Agam menunjuk ke sebuah rumah tiga lantai yang berada di barisan paling depan.


"Ya ampun, bagus sekali, ck ck." Linda berdecak kagum.


Agam tersenyum, bagaimana ekspresi Linda pikirnya jika ia mengatakan memiliki dua unit rumah di kawasan ini.


Tapi, Agam belum ada niat untuk mengatakannya lagi. Untuk apa pikirnya. Toh, tanpa Agam memamerkan hartapun, Linda sudah terbukti mencintainya.


***


Tidak bisa terdeskripsikan secara detail kemawahan rumah itu. Intinya, teramat sangat 'Wah' dan 'Wow.'


Gerbang rumah itu tampak dibuka oleh seorang pria keturunan yang dipanggil Agam dengan nama Juan.


"Juan."


"Pak Agam."


Mereka berpelukan.


"A-apa? Di-di-dia LB?!"


Juan yang baru menyadarinya tampak syok dan histeris versi pria. Jika wanita histeris akan berteriak, maka pria akan mematung dan kikuk.


Hal yang sama terjadi pada Juan. Dia mundur bebarapa langkah, melongo dan menelan saliva saat melihat LB dari jarak sedekat ini.


"Juan, kamu ---."


Agam menabrak bahunya. Tidak senang rupanya melihat jakun Juan naik-turun saat menatap wanitanya.


Sementara yang ditatap Juan tidak sadar, ia sibuk memperhatikan sekeliling, melihat taman bunga, gazebo, dan sebuah pohon unik tanpa daun yang meranggas seorang diri di antara pohon-pohon lainnya yang berdaun rimbun.


"Maaf, Pak."


Juan membungkukkan badan. Lagipula, siapa sih yang tidak terpikat dengan mutiara yang berkilauan di depan mata?


"Dia calon istri saya, jangan menatapnya seperti itu," tegasnya. Berbisik di telinga Juan.


"Ba-baik, Pak."


Juan mengangguk. Sebelumnya, ia sebenarnya sudah diberi peringatan oleh tuan Deanka jika malam ini akan kedatangan Dirut HGC dan LB.


"M-mari masuk," ajak Juan. Masih gugup melihat Linda.


Acara syukurannya besok pagi. Sengaja diadakan di akhir pekan agar Pak Agam bisa hadir," terang Juan.


"Semuanya sudah tidur?" tanya Agam saat ia sudah duduk di ruang tamu dan Juan membukakan jasnya.


Linda masih mematung di ambang pintu masuk, ia ragu, karena merasa jika dirinya bukan siapa-siapa. Sebelum ada ajakan khusus dari Juan untuknya.


"Ma-masuk Nona LB," kata Juan.


"Baik, terima kasih."


"Saya ke belakang dulu," lanjut Juan.


Linda masuk, menunduk, serta dengan santun dan elegannyan ia duduk di kursi tamu.


Dia semanis dan sesopan itu saat bertamu? Tidak dapat dipercaya. Kenapa saat di rumahku serampangan sekali? Ck ck. Batin Agam.


Agam memandangnya, jadi mau tersenyum melihat Linda semanis itu, baru ingat jika dulu Linda juga berpura-pura manis saat berhadapan dengan ibunya.


Lalu dari arah ruangan lain terdengar desas-desus.


"Cepat, siapa yang akan menyajikan hidangan?" kata Juan.


"Aku saja.


"Aku saja."


"Ibu saja."


Sepertinya para pekerja di rumah itu tengah saling berebut siapa yang akan menghidangkan minuman dan makanan untuk Linda dan Agam.


Dari sayup-sayup obrolan mereka semuanya terdengar ingin segera melihat Linda.


"Haish, mereka kekanakan sekali." Agam beranjak meninggalkan Linda.


"Pak?" panggil Linda.


"Tetap di tempat, lanjutkan akting sok manismu itu," katanya sambil berlalu.


"Sok manis? Siapa? Aku?" gumam Linda.


Kemudian terdengar jelas suara Agam yang menggema. Jadi tersenyum Linda saat mendengarnya.


"Bu Lela, Yanti, dan kamu Reni, semuanya boleh ke depan. Kalian boleh melihatnya sesuka hati."


"Serius Pak Agam? Boleh minta tanda tangannya?"


"Boleh."


"Minta berfoto?"


"Boleh."


Lalu Agam datang lagi menghampiri Linda bersama dua wanita muda, satu ibu-ibu dan Juan.


"LB?" Semua mata para wanita membelalak, Juan menunduk.


"Salam kenal," kata Linda setelah ia mengucapkan salam dan mereka serempak menjawabnya.


Lalu berebut menyalami Linda setelah meletakkan berbagai jenis camilan dan minuman di atas meja. Agam menghela napas, Juan hanya mengangkat bahu.


"LB, aku mau peluk, apa boleh?" tanya salah satu wanita muda.


"Aku juga mau peluk," ucap yang satunya lagi.


"*** ---."


"Tidak boleh," sahut Agam. Menyela ucapan Linda.


"Cantik sekali. Ih, Pak Agam kikir, masa tidak boleh peluk?"


"Ya nih, Pak Dirut. Kami kan sudah persiapan memakai baju terbaik kami untuk memeluk LB."


"Boleh kok, boleh peluk," kata Linda.


Sontak dua wanita muda atau Reni dan Yanti memeluk Linda.


Dan keduanya tiba-tiba mematung setelah memeluk Linda. Lalu satu dari mereka menatap aneh pada Linda sebelum akhirnya bertatapan dengan temannya.


"Yanti, ayo masuk, Pak Agam kita pergi, Bu Lela kita pergi," kata wanita muda yang pastinya bernama Reni.


Yanti dan Reni kemudian pergi sambil saling berbisik pelan. Linda menunduk, perasaannya berubah tidak tenang. Ia yakin kedua wanita muda itu menyadari kalau dirinya hamil.


Dan saat ini tatapan ibu-ibu yang dipanggil Bu Lelapun, seperti menelisik dan menembus bagian perutnya yang tertutup auter.


"Bu Lela, boleh tingglkan kami?" Agam menyadari hal itu.


"Baik Pak," ucap Bu Lela.


Pandangan wanita bernama Bu Lela tetap fokus pada perut Linda sesaat sebelum beranjak pergi.


Linda semakin merasa tersudutkan, ia menunduk sambil merapikan auternya.


"Juan, kamu juga pergi."


"Baik, Pak. Kata Tuan Deanka kalau sudah makan, silahkan langsung istirahat  saja. Kamarnya ada di lantai tiga."


"Yang menghadap kolam untuk Pak Agam, yang menghadap taman untuk Nona LB," terang Juan.


"Ya, terima kasih," kata Agam.


❤❤ Bersambung ....