
"Senja, aku harus pergi, ini darurat, kamu tolong jaga bayi ini."
Mister X bersiap. Ia tidak mungkin membiarkan Agam Ben Buana berjuang tanpanya. Setelah mendapati signal jika Agam berada di kantor BRN, ia memutuskan untuk terjun ke lapangan.
"A-pa?! Exam, k-kamu tidak serius, kan? Aku ini buta, tidak mungkin bisa mengurus bayi," protes Senja. Ide gila pikir Senja jika Exam meninggalnya dan Keivel.
"Senja, aku hanya pergi sekitar dua jam, bayi Keivel biasanya tidur 3 sampai 4 jam, jadi ini waktu yang tepat untuk aku pergi. Berdoa saja semoga saat aku pergi, Keivel tetap tidur dan baru bangun saat aku datang."
"Tidak bisa Exam, tidak bisa! Aku tidak bisa menjaganya," tolak Senja.
"Senja, kamu pikir aku bisa menjaganya? Aku juga sebenarnya tidak punya keahlian menjaga bayi. Kalau membuat bayi, ya mungkin aku bisa walau tanpa diajari. Aku menerima pekerjaan ini karena modal nekad."
"Apa katamu? Membuat bayi?" Senja menelan saliva.
"Iya, aku pernah belajar caranya saat pelajaran biologi."
"Apa?!"
Senja kembali menelan saliva. Jujur, di sekolah luar biasa, ia belum pernah diajarkan tentang itu. Jadi penasaran bagaimana caranya. Di sekolah luar biasa, fokus utama pembelajaran adalah mempelajari huruf Braille dan bahasa isyarat.
Setelah lulus tingkat dasar dan bisa membaca, Senja tidak melanjutkan lagi sekolahnya karena alasan biaya. Melihat aksi melongonya Senja, di tengah ketegangan itu, Mister X pun tak kuasa menahan tawa.
"Hahaha, apa mau aku jelaskan teorinya? Kalau kamu penasaran, nanti aku ajari setelah misi ini selesai. Sekarang pegang ini, masukan ke sakumu. Jika saat aku tak ada bel rumah ini berbunyi, kamu tekan ujung benda ini."
"A-apa?! Tunggu Exim, eh maksudku Exam, benda apa ini?" Benda itu berbentuk oval, dan menyala-nyala.
"Ini semacam alat kejut jarak jauh, kalau ditekan tombolnya, maka gerbang rumah ini akan dialiri listik. Siapapun yang memaksa masuk akan tersengat listrik tekanan rendah, tapi lumayan bisa membuat jatuh pingsan," terangnya.
"Exam, tidak bisakah kamu menyuruh bibi ke sini? Serius, aku tak berani menjaga bayi mahal itu seorang diri. Kita kan tidak bisa menjamin bayi itu akan tidur 3 jam atau 4 jam lagi."
"Bagaimana kalau sebelum kamu datang dia menangis? Misal mau 'Pup' atau 'Pap.' Atau mau mimi, bagaimana? Aku tidak bisa menolongnya. Huuu," Senja lanjut menangis. Ia tiba-tiba sedih atas keadaan ini.
"Senja, ssshhh. Hei jangan nangis, itulah salah satu alasan kenapa aku ingin melakukan operasi pada mata kamu. Selain ingin kamu bisa melihat indahnya dunia, aku juga ingin agar kamu bisa menggunakan penglihatanmu untuk menolong sesama." Mister X perlahan mendekati Senja untuk mengusap pundaknya.
"Ta-tapi ... aku takut melihat keburukan."
"Senja, untuk hal itu kembali lagi ke diri masing-masing. Seberapa besar usaha kita dalam menjauhi kemungkaran? Nah, jawabannya ada pada diri kita sendiri."
"Huuu, i-iya juga sih, a-aku akan pikir-pikir lagi. Kalaupun aku menyetujui untuk operasi, kurasa aku tidak akan melakukan operasi di kedua mataku. Aku akan membiarkan satu mataku tetap buta," katanya sambil tertunduk dan mengusap airmatanya.
"Baiklah, aku bahagia kalau kamu mau operasi, sekarang aku akan pergi. Ingat, jaga baik-baik alat ini."
"Tidak Exam, tidak! Aku tidak mau kamu pergi, aku ingin kamu tetap berada di sini bersamaku dan menjaga bayi Keivel. Aku pernah mendengar bagaimana rumit dan mengerikannya kehidupan anggota Haiden Grup, aku tidak mau kamu terluka gara-gara Dirut HGC. Menjaga bayinya saja sudah berisiko. Kamu tidak perlu terlibat masalah lebih pelik lagi."
Senja memegang kuat ujung baju Mister X. Dari tatapan matanya jelas sekali jika dia begitu khawatir.
"Kenapa kamu peduli padaku?"
"Karena kamu dan bibi adalah malaikat penolongku. Kamu dan bibi hadir begitu saja dan memberikan warna dalam hidupku. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan paman padaku jika saja aku tidak bertemu dengan bibi dan kamu. Huuu, kumohon jangan pergi ya. Aku merasa tak mampu menjaga bayi itu. Aku takut bayi itu celaka jika tak ada kamu."
"Se-Senja, maaf ... aku tak menyangka kamu akan setakut ini. Bolehkah aku memelukmu untuk menenangkan hatimu?"
"Apa? Ti-tidak, tidak boleh!"
"Kenapa?" tanya Mister X.
"Aku juga tidak tahu alasan jelasnya, yang jelas, kalau aku dekat-dekat kamu, penyakit jantungku suka kambuh, tiba-tiba berdebar begitu saja. Tapi setahuku, nenek tak pernah mengatakan kalau aku punya penyakit jantung." Dengan polosnya Senja mengatakan itu. Di balik maskernya, Mister X tersenyum.
"Begini saja, kamu tunggu dulu sebentar, aku mau mengkonfirmasi info terbarunya. Setelah itu, aku akan memutuskan untuk pergi atau tidak." Mister X beranjak menuju ruang kerjanya.
"Baik," ucap Senja.
Tangan lihai Mister X siap di depan monitor, ia melacak kembali titik lokasi Agam Ben Buana, dan terkejut saat didapati jika Agam telah menjauh dari gedung BRN. Iapun lantas melakukan panggilan rahasia dengan tuan Deanka.
"Hallo Tuan, mohon maaf mengganggu, apa benar di gedung BRN tidak ada pak Buana? Mohon dicek Tuan."
"Hhh, hhh, ti-tidak ada! A-Agam sudah pergi dari Gedung BRN," jawab Tuan Deanka dengan suara terengah-engah.
"Maaf Tuan, silahkan dilanjut, salam untuk nona Aiza," kata Mister X. Lalu cepat-cepat mengakhiri panggilan. Ia mengira jika tuan Deanka dan nona Aiza sedang beradegan ranjang. Mister X geleng-geleng kepala.
"Gila, apa dia melakukan itu di gedung BRN? Dia membawa nona Aiza ke kantor BRN hanya itu itu? Ck ck ck," duganya. Mister X tak habis pikir. Ia tidak tahu jika tuan Deanka terengah-engah karena sedang bertarung.
Mister X lantas memantau kembali signal pergerakan sabuk milik Agam, terlihat bekedip cepat menuju luar kota bagian utara. Sebenarnya sudah berulang kali ia menghubungi Agam, namun nomornya tidak aktif.
"Kenapa pak Buana mematikan ponselnya?" gumamnya. Mister X menautkan alis. Lantas ia menyadari jika ada pesan suara dari nomor yang ia simpan dengan nama 'Pak Buana.'
"Apapun yang terjadi, tetaplah bersama putraku. Kamu jangan keluar dari rumah itu, jika stock ASIP menipis segera kabari. Oiya, saya sengaja mematikan ponsel karena sebuah alasan."
"Jangan tanya kenapa? Fokus utama kamu adalah menjaga keselematan Keivel dengan nyawamu. Jangan lupa doakan saya agar berada di pihak yang mendapatkan kemenangan."
Pesan suara dari pak Dirut benar-benar menakutkan. Suaranyapun terdengar begitu berat dan begetar. Pertanda jika saat membuat pesan suara ini, Agam Ben Buana tengah marah besar dan emosi.
Mister X menghelas napas, jika Agam sudah mengambil keputusan, ia dan jaringan anonymous tidak mungkin merubahnya.
Ting, ada sebuah ide yang membuat bibir merah delima di balik masker itu menyeringai.
Sebuah ide yang akan ia gunakan untuk mengambil keuntungan secara pribadi. Secepatnya menuju ruangan di mana Senja berada. Berjalan mengendap agar Keivel tidak terbangun.
"Senja," panggilnya.
"Ya, bagaimana Exam?" Senja berbalik. Tapi malah membelakangi Mister X.
"Hei, aku di sini." Senja berbalik lagi.
"Cepat jelaskan! Jangan membuatku takut," desak Senja.
"Aku sebenarnya diharuskan mengikuti misi ini. Tapi demi kamu, aku menolaknya."
"Be-benarkah?" Senja sedikit ragu.
"Benar Senja. Jika aku rela meninggalkan tugasku demi kamu, apa kamu juga rela melakukan sesuatu untukku?" tanyanya.
"Sesuatu? Apa itu? Aku harus melakukan apa?" Senja jelas penasaran.
"Jadilah kekasihku, maka aku akan tetap di sini bersamamu, bagaimana?"
"Apa?! Ke-kekasih?" Senja terkejut. Baru kali ini ia mendapat pernyataan cinta dari seseorang.
"Jawab, akan kuhitung sampai tiga. Kalau tidak ada keputusan, aku akan ikut misi ini," ancamnya. Senja masih melongo, ia yakin jika pria di hadapannya sedang berguyon.
"Satu, dua," Mister X mulai berhitung.
...❤...
...❤...
...❤...
"Lepaskan! Huuu."
Linda hampir putus asa, tangannya diikat di sandaran ranjang. Kakinya meronta sedari tadi. Pada akhirnya ia tahu siapa dalang penculikan ini. Dia adalah Tuan Reynaldi, pesaing Agam pada rapat luar biasa pemilihan Dirut HGC.
"Seksi dan cantik sekali kamu, LB. Pantas kalau Agam sampai memperkosamu. Hahaha, dan kamu adalah wanita bodoh yang ikhlas diperkosa. Kamu bahkan menikah dengan pemerkosamu. Aku yakin kasus diperkosa Agam hanya akal-akalan kamu saja supaya bisa jadi nyonya Buana!" tuduhnya sambil sesekali mengelus kaki Linda yang terus meronta.
"Huks, kurasa aku tidak perlu menjelaskan apapun pada orang sepertimu! Karena jikapun aku jelaskan kamu tidak akan mengerti!" teriak Linda.
"Masih sombong kamu ya?! Rasakan ini!"
Tuan Reynaldi menjambak rambut Linda, lalu memaksa mencium bibir Linda dengan beringas. Tanpa ragu Linda segera menggigitnya kuat-kuat hingga pria itu memekik kesakitan.
"Aargh! Dasar wanita munafi!"
'PLAK.'
Linda ditampar hingga tersungkur. Karena tamparnnya teramat kuat, bibir Lindapun pecah hingga berdarah.
"Awwh," keluh Linda.
Sementara batinnya terus-menerus memanggil nama Agam. Lalu iapun tak ingin melawan lagi karena kelelahan. Linda diam, ia tak lagi meronta. Hanya saja airmatanya terus mengalir. Hari ini, akankah ia ternoda oleh pria itu? Tidak, Linda berharap semua berjalan sesuai kehendaknya.
"Pelayaaan!" teriak Tuan Reynaldi yang masih memegang bibirnya yang bengkak. Pria yang berstatus duda itu rupanya sudah tidak bisa menunggu lama lagi.
"Ya Tuan," seorang pelayan masuk ke dalam kamar.
"Cepat pasang kameranya! Lalu kamu bawa topeng wajah milikku. Aku ingin membuat filmnya sekarang juga!"
"Ba-baik, Tuan." Pelayan yang berpakaian seksi itu terlihat gugup.
"A-apa yang akan kamu lakukan?" Tubuh Linda gemetar.
"Aku akan membuat film dewasa. Pemerannya kamu dan aku. Aku akan menghancurkan Agam Ben Buana dengan menyebarkan vidio kita. Hahaha."
"Kenapa Anda kejam sekali Tuan?!" teriak Linda saat para pelayan tengah memasang kamera dan menyiapkan properti.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa?! Hei, karir dan kehidupan pribadiku hancur gara-gara suami kamu!" sentaknya.
Usut punya usut, setelah kalah dalam pemilihan itu, istri Tuan Reynaldi menggugat cerai dan dua putra mereka hak asuhnya jatuh pada istri Tuan Reynaldi. Lalu jabatan Tuan Reynaldi di HGC diturunkan atas rekomendasi komisais HGC tuan Bahir Finley Haiden karena kinerjanya dianggap menurun.
Selain menuduh Agam mencuranginya dalam pemilihan itu, Tuan Reynaldi juga mengira jika jabatannya diturunkan karena ada campur tangan dari Agam. Ia merasa hidupnya hancur dan terpuruk gara-gara Agam.
'PLAK.'
Linda ditampar lagi. Tuan Reynaldi benar-benar kejam. Ia tidak pernah mau disalahkan atas kasus perceraian itu. Ia berpikir alasan utama istrinya menggugat cerai karena dirinya tidak menjadi Dirut HCG.
"Buka bajunya!" titah Tuan Reynaldi.
"Pak Agam, Keivel ...," lirih Linda.
Ia merasa begitu dihinakan saat para pelayan wanita itu memaksa membuka bajunya. Yang disisakan hanya bagian dalaman saja. Tangisan Linda kian kencang. Ternyata seperti ini rasanya menjadi istri seorang Agam.
"Tuan, permisi, Tuan."
Tiba-tiba ada yang datang. Dia adalah seorang pengawal pria. Ia menelan saliva dan membelalakan mata ketika melihat Linda terikat di tempat tidur dalam keadaan yang sangat aduhai.
"Kenapa?! Kendalikan matamu! Setelah aku, kamu juga bisa mencicipinya!" teriak Tuan Reynaldi, kalimat itu membuat Linda kian gemetar karena ketakutan.
"Mereka mengatakan dari HGC, Tuan. Lebih Tuan ke sana dulu agar mereka tidak curiga."
"S i a l! Baiklah, tunggu ya seksi. Jika urusanku telah selesai, kita akan bersenang-senang di kamar ini."
"Cuih, aku tak sudi!" teriak Linda sambil meludah.
"Hahaha, sudi tak sudi, kamu akan tetap aku habisi!
Tuan Reynaldi dan pengawal itu kemudian pergi. Linda menghela napas, kepergian pria itu membuatnya sedikit tenang.
"Huuu, apa kamu bisa membantuku?" tanya Linda pada pelayan yang menjaganya.
"Maaf LB, saya takut dibunuh, saya tidak mau menghianati tuan Reynaldi."
"Huuu, please, tolong aku, lepaskan ikatannya. Apa kalian sadar telah berada di pihak yang salah? Jika kalian menolongku, aku akan memberikan imbalan berapapun kalian mau. Kumohon bermurah hatilah, aku memiliki bayi yang membutuhkanku, aku dan pak Agam baru merintis kebahagiaan kami. Tolonglah, please ...." Ratap Linda.
Tiga orang pelayan itu saling menatap.
"Sebelum tuan Reynaldi datang, mari kita kabur bersama-sama. Aku yakin pak Agam akan menjamin kehidupan kalian bila berhasil menyelamatkanku. Apa kalian akan selamanya menjadi budak se ks tuan Reynaldi?"
Deg, ucapan Linda menohok hati mereka. Mereka kaget karena Linda berani mengatakan itu.
Linda bukan wanita bodoh, ia tahu siapa itu Reynaldi. Pria itu dikabarkan merekrut pelayan-pelayan cantik untuk mengurusnya sekaligus menghangatkan ranjangnya.
Awalnya Linda tidak percaya begitu saja pada kabar tersebut. Namun setelah ia menemukan beberapa kejanggalan pada ketiga pelayan itu, Linda yakin jika apa yang ia dengar bukan isapan jembol.
Di leher ketiga pelayan itu terdapat tanda cinta yang membekas kehitaman. Lalu di pergelangan salah satu dari mereka terdapat bekas kekekerasan dan luka lebam pada betis.
"Sekarang adalah saat yang tepat untuk membebaskan diri. Suamiku tidak akan diam saja. Aku yakin polisi juga akan segera datang." Linda terus membujuk.
"Huuu," salah satunya menangis. Bujukan Linda mulai membuahkan hasil.
"Saya takut LB."
"Takut apa? Takut mati?"
Mereka mengangguk.
"Sekarang mari pilih, lebih baik mati di jalan yang benar? Atau mati konyol karena membiarkan kejahatan? Oke, sebelumnya mungkin kalian bisa diam saja karena takut dan tidak ada kesempatan. Nah, sekarang ada aku yang berani. Dan aku mengajak kalian untuk berani. Mari bekerjasama," kata Linda.
"Aku ikut LB," salah satu dari mereka mengangkat tangan.
"Lani, kamu yakin?"
"Yakin Maria, aku yakin."
"Namamu Lani? Ayo Lani cepat lepaskan aku! Kumohon," rayu Linda.
Lani bergegas, dia melepaskan Linda. Yang lainnya saling menatap. Lalu keduanya mengangguk dan sepertinya akan mengikuti jejak Lani.
Alhamdulillah.
Linda bersyukur. Segera memakai bajunya, tapi belum juga sempat ia memakai celana panjang. Pintu kamar terbuka. Pengawal pria datang. Linda kaget, pun yang lainnya.
"Apa yang akan kalian lakukan?!" teriak pengawal itu.
"Bagaimana ini LB?"
"Ayo kita serang saja, serang dengan cara yang sedikit licik," bisik Linda.
"Bagaimana caranya?" tanya Maria.
"Lihat aku!" kata Linda.
Lalu Linda berlenggok bak model mendekati pengawal itu. Pengawal membelalak, bagian bawah tubuh Linda dan segenap kemolekannya membuat ia tak berkedip dan lengah. Di saat lengah itulah, Linda mengambil kamera dan dipukulkan ke kepalanya.
'BUGH.'
"A ---." Tersungkur dan pingsan seketika.
"Wow," puji para pelayan sambil tepuk tangan.
"Sekarang bukan waktunya tepuk tangan, ayo kita keluar dari kamar ini!"
"LB, apa kita juga harus membuka rok sekarang?"
"Jangan dulu, saat kita kepepet kita baru gunakan cara itu. Para laki-laki sagat menyukai paha mulus," kata Linda sambil tersenyum lalu cepat-cepat memakai celana panjangnya. Lalu mereka keluar kamar, mengendap-endap.
"LB, kenapa celana kamu dipakai lagi? Kan musuh bisa oleng kalau lihat kaki kamu, aku saja yang wanita suka lihatnya, apalagi mereka," ujar Lani.
"Hahaha, masih ada bagian lain yang bisa aku jadikan umpan," bisik Linda.
"Ssst, Yosie, jangan ke sana! Ada pengawal."
Yosie mundur. Keempat wanita itu lalu bersembunyi. Linda dan Yosie di balik pintu. Lani dan Maria di balik lemari.
"Kita harus membawa senjata apapun untuk jaga-jaga," kata Linda.
"Aku bawa asbak kaca."
"Aku ini saja, tongkat golf."
"Bagus, aku mau benda tajam, kalau bisa pisau," kata Linda.
"Berarti target kita ke dapur dulu. Di dapur banyak perkakas tajam. Dari dapur kita langsung ke pekarangan belakang dan kabur," jelas Maria.
"Sip," Linda mengacungkan jempol.
"Hei, mau kemana kalian?!" Ada yang datang.
"Lari!" seru Linda. Lalu mereka berlari ke arah dapur.
"Kejaaar! Hei, LB kabur! Dia bersekongkol dengan pelayan tua Rey!" Pengawal yang pertama melihat memberi tahu teman-temannya.
"Satu orang cepat lapor pada bos!"
"Baik."
"Maria, Lani, Yosie, cepat!" seru Linda.
"Hhh, LB kamu cepat sekali larinya, aku lelah," keluh Lani.
"Benar kamu cepat sekali," timpal Yosie.
"Aku sering olah raga," kata Linda.
Sementara tangannya sibuk memilih pisau yang paling besar. Apa yang dilakukan Linda, diikuti oleh para pelayan, walau ragu dan dengan tangan gemetar mereka memberanikan diri mengambil pisau.
"Itu mereka! Hahaha, besar juga nyalimu LB! Berani sekali kamu mempengaruhi budaknya tuan Rey!" Para pengawal datang. Mereka mengepung Linda dan para pelayan itu.
"LB, ba-bagaimana ini?" Lani gemetar.
"Tenang jangan takut, kalaupun kita mati, insyaaAllah termasuk mati syahid karena kita melawan mereka demi mempertahankan harga diri dan kehormatan kita," kata Linda.
Linda seolah tegar. Padahal di lubuk hati terdalamnya, ia juga ketakutan. Bukan takut mati, tapi masih belum rela jika harus meninggalkan keluarganya terutama Keivel dan orang yang sangat ia cinta, Agam Ben Buana.
...❤...
...❤...
...❤...
Di waktu yang bersamaan, Vano, Pak Yudha dan Aiptu Joey tengah bergegas menuju tempat yang telah diinfokan titik lokasinya oleh Agam.
Sementara sang pemeran utama, Agam Ben Buana saat ini telah dekat dengan titik lokasi.
Untung saja, Agam telah mengantisipasi keadaan ini jauh-jauh hari dengan cara memasang cip pelacak berbentuk anting-anting di telinga Linda. Jika tidak, ia pasti tidak dapat menemukan tempat persembunyian milik tuan Reynaldi.
...~Tbc~...