
'Tok tok tok.'
"Permisi, saya mau memberi terapi."
Bidan magang berdiri dan mematung di depan pintu sebelum ada kata silahkan dari dalam kamar.
Sontak saja yang sedang melakukan adegan tidak senonoh di ruangan itupun terkejut. Tapi yang terkejut hanya Linda.
Agam?
Tidak, pria itu seperti telah kehilangan indra pendengarannya.
Masa sih? Katanya indra pendengarannya sudah terlatih, kan?
Entahlah.
Karena panik, malu, dan gugup, Linda akhirnya menggigit bibir Agam, sebab pria itu seolah tidak mendengar jika pintu kamar ada yang mengetuk.
"Awwh ...." Pekik Agam.
Langsung mundur, duduk di kursi, dan mengatupkan bibirnya. Rasanya sakit, serius mata Agam sampai berair.
Ahh, sakit sekali, ini namanya bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian, keluh Agam dalam batinnya.
Agam masih mengatupkan bibirnya saat Linda mengatakan ....
"Ma-masuk," sambil tersipu.
Dan bidan magang yang tidak diketahui namanya itupun masuk sambil menebarkan senyum cerianya.
Senyuman paling ceria di pukul 04.37 waktu setempat karena ia bangga diperbolehkan memberikan terapi pada pasien yang ia rasa sebagai pasien paling spesial.
"Ma-mau ganti cairan Bu, Pak." Namanya anak magang, dia gugup.
"Cairan apa?" tanya Linda.
Sementara Agam masih duduk dan terdiam, bibirnya mengatup, saat ini plus ditutup dengan telapak tangannya. Sampai bidan itupun melirik aneh pada Agam.
"I-ini di dalamnya ada obat anti mulas Bu, namanya isoxsuprine HCL. Fungsinya untuk merelaksasikan rahim agar tidak kontraksi atau mulas," terangnya sambil menunduk.
Ditatap oleh pasien yang mirip artis, ia benar-benar gugup.
"Oh, silahkan," kata Linda.
"Permisi," kata bidan magang itu pada Agam.
"Hmm," sahut Agam sambil menganggukkan kepala.
Seriusan, ia ingin segera mengecek bibir berharganya. Jangan-jangan berdarah. Pikir Agam. Sebab, ada rasa manis-manisnya.
"Apa Bapak sariawan?" celetuk bidan magang.
Sebuah pertanyaan tidak terduga yang membuat mata Agam membulat, dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Pfft," Linda menahan tawa. Melihat Agam terpojok, entah kenapa ia merasa begitu bahagia.
Ia memang pernah menggigit telinga Agam, tapi ... untuk sampai menggigit bibir Agam, ini di luar rencananya.
"I-iya sedang sariawan," kata Linda.
No no no.
Agam melambaikan tangan pada bidan itu yang berarti "Tidak, tidak, tidak." Dan sampai saat ini Agam masih mengatupkan dan menutup mulutnya.
"Nanti saya akan sampaikan pada dokter Fatimah supaya Bapak dapat obat sariawan." Rupanya Ade bidan itu tidak mengerti arti lambaian tangan Agam.
Linda kembali nenahan tawa, ada perasan menyesal juga sih karena telah menggigit bibir Agam. Tapi, penyesalan itu hanya sedikit.
Pikir Linda, sesakit-sakitnya gigitannya, tidak akan sebanding sampai kapanpun dengan rasa sakit yang ia rasakan saat lmelahirkan janin kecilnya.
"Oiya Bu, maaf kalau saya lancang, Ibu cantik sekali, sangat mirip dengan artis LB," katanya sambil mengatur tetesan cairan infus.
"Uuhhhuk, uhhuk," yang sedang menutup mulutnya langsung terbatuk-batuk.
"Memang banyak yang mengatakan begitu," kata Linda, tidak mau berdebat.
Matanya terlihat khawatir karena Agam meringis-ringis.
Ya, tadi memang kuat menggigitnya. Jadi penasaran efek sampingnya seperti apa. Terlebih sampai saat ini Agam masih menutupi bibirnya.
Apa parah ya? Bagaimana kalau jontor? Apa berdarah?
Linda jadi melamun, panik, khawatir dan satu hal lagi yang paling utama adalah ... malu.
"Apa ada keluhan lain, Bu?"
"Ti-tidak ada Bu Bidan, terima kasih."
"Sama-sama, saya permisi ya Bu. Kalau ada apa-apa bisa langsung telepon saja, maaf di sini belum ada bel darurat," terang bidan itu sambil terus menatap Linda penuh kekaguman. Sejatinya ia adalah fans LB, tapi sayang pasien ini hanya mirip LB.
Lagipula, LB yang ia maksud masih lajang dan belum memiliki kekasih, pasti bukan yang ini, yang ini sudah menikah, suaminya pelaut, sepupunya Dirut HGC.
Ia terus mencoba menepis kecurigaannya saat kakinya mulai beranjak meninggalkan kamar tersebut.
.
.
.
Setelah bidan itu pergi, Agam berdiri untuk becermin. Cermin itu menempel di depan pintu kamar mandi.
"A-apa?!"
Dia terkejut sendiri saat bibirnya bengkak dan berdarah.
"Tidaak, bibir bawahku jadi mirip bibir Tuan Muda Deanka."
Ia histeris, berlari ke meja, mengambil tissue basah dan mengelapnya perlahan.
'Sreet.'
Setelah mengintip, Linda menarik selimut untuk menutupi wajahnya karena malu dan bingung.
Apa yang akan ia katakan saat Agam bertanya, kenapa menggigit bibirnya. Satu hal lagi, kenapa Agam menciumnya?
Apa sekarang dia menyukaiku?
Apa dia menyukaiku setelah melihatku keguguran dan kesakitan?
Apa dia menciumku karena aku hampir mati?
Apa cinta seperti itu bisa dikatan tulus?
Lagi, Linda meragu. Lalu terkejut saat pria yang tengah ia pikirkan menarik selimutnya.
"Kenapa harus ditutup?" Sambil duduk kembali di kursi yang tadi.
"Tidak apa-apa," ketusnya. Memalingkan wajah ke arah lain.
"Terima kasih ya." Agam malah berterimakasih dan meraih tangan Linda.
"Terima kasih, karena mau menerima saya," sambungnya.
Sebuah penyataan yang membuat kepala Linda berdenyut, karena ia belum mengatakan apapun pada Agam.
"Me-menerima, apa?" cicitnya pelan. Masih memalingkan wajah, sementara tangannya dibiarkan digenggam Agam.
"Menerima perasaan saya," jawab Agam sambil mengelus tangan Linda.
Agam memperhatikan jemari lentiknya yang saat ini tidak ada warna. Henna merahnya sudah hilang sejak lama. Sejak kukunya memanjang dan dipotong tentunya.
"Perasaan apa?" tanya Linda, sambil menghela napas karena jantungnya berdebar-debar.
"Perasaan saya, saya menyukai kamu."
Agam langsung berterus terang. Kali ini, ia tidak ingin terlambat dan menyesal lagi.
"Saya tidak merasa menerima," jawab Linda. Posisi masih memalingkan wajah.
"Tapi ... saya merasa kamu menerima saya," timpal Agam, seraya mengecup tangan Linda.
"PD sekali," sela Linda.
"PD lah, kamu tidak menolak tadi." Maksud Agam, Linda tidak menolak saat ia menciumnya.
Linda diam saja, malah bertanya masalah yang lain, dan matanya kembali berkaca-kaca.
"Saya mau melihat jasad janinnya, Pak ...."
"Saya sudah melihatnya, sudah berdoa untuknya dan juga meminta maaf," kata Agam.
Suara Agam lirih, jadi teringat kembali bagaimana calon putranya yang teramat kecil itu tergeletak tidak bernyawa.
"Saya mau melihatnya juga Pak, huuks." Kembali menangis. Penyesalan dan rasa sakit itu menyeruak lagi.
"Kalau kamu melihatnya, saya takut kamu semakin sedih dan mempengaruhi kesehatan kamu dan bayi kita yang satunya lagi." Lagi, Agam menyebutnya bayi kita.
"Jam 8 pagi, nanti saya mau pulang dulu, mau memakamkan janinnya. Saya harus menjelaskan pelan-pelan masalah ini pada pak Yudha, dan bu Ira."
"Terutamanya pada ibuku dan Gama, kamu mengerti? Linda, tolong lihat saya," ucap Agam seraya mengelus daun telinga Linda.
"Sudah saya katakan, saya mau lihat janinnya dulu sebelum dimakamkan. Dia janin saya, kenapa saya tidak boleh melihatnya?! Pak Agam egois!"
"Apa? Egois? Masa sih?" sanggahnya. Sambil sesekali meraba bibirnya.
"Iya, Pak Agam egois, Pak Agam bisa melihat janinnya, tapi kenapa saya tidak boleh?" keluhnya lagi.
"Sebenarnya tidak masalah, tapi ... apa kamu tidak apa-apa? Kata dokter Fatimah, psikis kamu bisa terganggu kalau melihat janinnya. Please ... jangan egois."
"Ingat, masih ada satu janin lagi di tubuh kamu. Kamu juga harus bedrest sampai usia kehamilannya di atas 20 minggu," terang Agam.
"Dia laki-laki apa perempuan?" Tidak memalingkan wajah, tapi sekarang menatap langit-langit.
"Coba kamu tebak?" goda Agam. Kata dokter Fatimah, sepupu palsunya memang harus sering dihibur.
"Mana saya tahu," ketusnya.
"Kamu pasti tahu," kata Agam.
0Dia berpikir keras agar bisa mencairkan suasana percakapannya dengan Linda. Jujur, dia tidak pandai melucu. Selain di bidang bisnis dan manajemen, kelebihan Agam hanya di bidang olah raga.
"Tidak lucu, ya sudah kalau tidak mau kasih tahu nanti saya mau tanya saja pada dokter Fatimah." Masih dengan nada ketus yang tentu saja makin menggemaskan di mata Agam. Ingin mengulun lagi bibirnya, tapi ... dia tidak ingin dosanya kian bertambah.
"Saya beri kisi-kisi, mau coba tebak?"
"Tidak mau," jawab Linda.
"Hmm, padahal cluenya mudah, janin kita memiliki semua yang saya miliki, yang kamu tidak memilikinya," goda Agam. Serius, mencari topik yang lucu itu susah, kok jatuhnya jadi mesum, pikirnya.
"Apa?" Walaupun katanya tidak mau menjawab tapi Linda merespon juga.
"Sudah bisa menebak?" tanya Agam.
"Intinya saya sudah tahu," ketusnya.
"Hahahaa."
"Lucu saja," jawabnya singkat.
"Pak Agam sekarang jadi aneh," gumam Linda.
"Masa sih?" Sambil berpikir lagi untuk mencaci bahan lelucon.
"Ya, saya aneh kenapa Bapak sekarang banyak bicara?"
"Daripada banyak melamun," sela Agam.
"Saya lebih suka Pak Agam yang dulu. Jadi tidak aneh."
"Yang dulu yang mana? Yang saat di Green Seroja atau setelahnya?"
"Pak Agam!" bentaknya.
"Ya, saya di sini."
"Saya lelah, saya mau tidur jangan ganggu." Linda memejamkan matanya.
"Sebelum tidur, setidaknya kamu lihat dulu bibir saya. Ini sakit dan bengkak," keluhnya.
"Saya tidak peduli, lagipula salah Pak Agam. Kenapa tidak izin dulu?" Matanya masih terpejam posisi terlentang menghadap langit-langit.
"Tadi tidak izin karena saya tidak sabar. Saya terbawa suasana." Agam jujur.
"Pak Agam kebiasaan, selalu mengambil dan menikmati milik saya tanpa permisi. Dulu kesucian saya, tadi bibir saya," gerutunya.
"Tapi, tadi kamu tidak menolak, kan?"
"Tadi saya mau menolak, hanya saja belum sempat," sanggahnya.
"Apa?! Hahaha," tawa Agam pecah. Selain cantik, ternyata Linda pandai mengelak juga.
"Saya kira Anda juga menikmatinya. Oke saya minta maaf, sekarang saya mau minta izin, apa boleh saya meminta sesuatu?"
"A-apa? Minta apa? Sesuatu apa? Tolong ya Pak Agam saya mau tidur."
"Saya minta izin mau shalat Subuh dulu. Jangan salah faham, saya juga mau minta masker ke dokter Fatimah. Kalau bibir saya seperti ini pasti jadi pusat perhatian." Agam beranjak.
"Lama tidak perginya, Pak?" Saat Agam ada di ambang pintu, hingga kaki Agampun terhenti. Segera pria yang mengatupkan bibirnya itu membalikan badan.
"Kamu tidak ingin saya tinggal?" Kembali mendekati Linda.
Linda tidak menjawab, kembali menutupi wajahnya dengan selimut.
"Baiklah saya akan shalat di sini saja."
Mendengar ucapan Agam, Linda merasa tenang, ia mulai memejamkan matanya, dan mulai terlelap. Setelah beberapa menit sebelumnya ia mengingat kembali pengalaman menyakitkan sekaligus menyedihkan di dalam hidupnya.
"Ayah, ibu ... aku ingin bertemu kalian," gumamnya sebelu benar-benar terlelap.
***
"Pak, saya ingin berbicara empat mata dengan Anda. Saya tunggu di ruangan saya, sekarang ya." Pesan dari dokter Fatimah.
Saat ini, Agam tengah duduk di samping Linda yang masih terlelap.
"Baik, saya kesana. Tapi tolong perintahkan satu orang bidan untuk ke sini, harus ada yang menjaganya." Balas Agam.
"Ya, nanti saya suruh salah satu bidan untuk menjaganya."
.
.
.
"Pak Agam tidak bekerja? Oiya silahkan duduk."
"Saya izin sakit selama tiga hari," jawabnya.
"Lho, bibir Anda kenapa? Hahaha, kok saya jadi teringat bibir Tuan Muda Deanka, ya." Dokter Fatimah tergelak.
"Ya, saya juga sempat berpikir seperti itu. Tadi ada sedikit insiden," yang menyenangkan. Lanjutnya dalam hati.
"Kepentok pintu? Apa pintu ruang perawatan tidak cukup untuk Bapak?"
"Katanya Dokter mau berbicara empat mata, kan? Ayo," ajaknya. Tidak ingin berbas-basi karena jiwanya terus menginginkan untuk berada di samping Linda.
"Saya minta KTP dan KK nona Bulinda, untuk data registrasi klinik."
"A-apa?!" Agam terhenyak.
"Kenapa? Mudah, kan? Kalau tida ada aslinya dalam bentuk soft file juga boleh."
Agam tertunduk, dan menghela napas berat. Bingung sebingung-bingungnya.
"Beri saya waktu," ucap Agam.
"Pak Agam, ini hanya masalah administrasi, kenapa Anda tampak bingung? Atau ada yang Anda sembunyikan?"
"Saya harus membicarakan masalah ini pada sepupu saya. Ada masalah pelik yang terjadi di antara kami," terang Agam.
"Pak Agam, tolong jujur saja. Saya kan dokter pribadi Anda juga. Apa ada masalah dengan nona Bulinda. Lantas saya juga sempat kaget kenapa nona Bulinda mirip sekali dengan LB."
"Dok ...." Lirih Agam.
"Ya, Pak Agam."
"Apa Anda dapat saya percaya? Anda dokter, kan? Anda pasti bisa menjaga rahasia pasien-pasiennya."
"Iya, saya pasti jaga rahasia. Pak Agam, apa Bulinda adalan LB? Hahaha, saya hanya becanda Pak, tenang saja."
"A-apa?!" Agam hampir terkejut.
"Pak Agam, begini ya, sebagai dokter, saya tidak peduli dia LB atau Bulinda. Ya, saya tahu dunia artis seperti apa. Saya juga tahu beberapa skandal yang terjadi di HGC."
"Tapi sekali lagi, saya tidak peduli akan hal itu. Karena yang jadi prioritas saya saat ini adalah kesehatan nona itu dan kandungannya."
Tangan Agam gemetar, tapi belum bertindak dan mengatakan apapun.
"Saat Nona Bulinda tidur, saya sudah mengamati semuanya Pak. Saya sempat yakin kalau dia itu LB. Hehehe, dari ujung rambut sampai ujung kakinya tampak terawat dan cantik. Pokoknya sangat identik dengan image seorang publik figur," terangnya.
"Dokter Fatimah," panggilnya dengan suara tegas.
"Ya, Pak Agam." Tanpa ada rasa curiga.
"Jika saya katakan dia memang LB? Apa yang akan Anda lakukan?" Menatap tajam pada dokter Fatimah.
"Jika dia LB? Ya saya perlakukan sama saja. Toh dia pasien saya, kan?" ucapnya santai.
"Sekarang saya mau bertanya jika Anda tahu dia LB, lalu Anda tahu juga kalau dia hamil padahal belum menikah, apa yang akan Anda lakukan? Apa Anda mau menjual kabar ini ke publik atau wartawan?" Suara Agam mulai gemetar. Retraksi dadanya semakin terlihat.
"Hmm ..., Pak Agam, sudah saya katakan saya prbadi tidak peduli pada masalah itu. Sebagai dokter, saya hanya akan memberi kesaksian di persidangan atau saat dimintai keterangan oleh polisi untuk masalah hukum. So, kalaupun dia LB saya rasa tidak ada urusannya dengan saya."
"Baik, saya pegang ucapan Anda."
Agam kemudian menarik napas dalam-dalam. Sebelum akhirnya mengatakan sebuah kebeneran pada dokter Fatimah.
"Dia memang LB. Dia Linda Berliana."
"WHAT'S!!"
Dokter Fatimah melotot maksimal, lalu berdiri dan menutup mulutnya. Tubuhnya sampai goyah kalau saja tidak berpegangan pada ujung kursi. Setelah mengatur napasnya, dan mulai bisa mengendalikan diri, barulah dokter Fatimah mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang membuat hati Agam sakit, jika ia saja merasa sakit, bagaimana dengan Linda?
"Maaf ya Pak Agam, bukannya saya ikut campur, tapi kok mau-maunya Bapak dekat dengan presenter banyak skandal enak-enaknya seperti itu? Bapak dekat dia setelah dia hamil? Atau, dari awal tahu kalau dia hamil?"
"Apa?! Sekali lagi Anda menjelekkan dia, saya pastikan izin dokter Anda dicabut!" BRAK, teriaknya sambil memukul meja.
"Pak Agam, tolong tenang, Anda mau merusak barang-barang saya lagi?! Kalau Anda terus kasar seperti ini, saya akan lapor pada Tuan Deanka! Saya akan menolak menjadi dokter kandungan pribadi untuk keluarga Anda!" tegasnya.
"Silahkan! Silahkan Anda lapor saja pada Tuan Muda. Toh, dia sudah tahu semuanya!" bentak Agam. Lagi-lagi sambil menggebrak meja.
"Apa?! Tuan Muda sudah tahu? Ck, ck, ck, Pak Agam, dengar ya! Tuan Deanka tidak mungkin menjerumuskan Anda. Seharusnya Anda berpikir logis dong, Pak. Maaf sekali lagi, bukan saya ikut campur. Harusnya sebagai Dirut HGC Anda tidak sembarangan memilih wanita!"
"Dokter Fatimah! Dengarkan saya, Dok!" Tak sabar, Agam mencekal tangan dokter itu, dan menatapnya penuh amarah.
Namun ... di sudut mata pria itu ada butiran bening yang nyaris menetes.
"Dia bukan wanita sembarangan, dia wanita baik-baik. Dia adalah ibu dari anak-anak saya."
"A-apa?"
Dokter Fatimah mendadak merasa lemas. Tidak percaya jika Agam yang ia kagumi karena kehebatannya memimpin HGC berani melakukan hal senista itu. Padahal yang dia tahu Agam itu baik, santun, dan terlihat religius. Tapi ... ternyata oh ternyata.
"Ja-janin yang ta-tadi meninggal dan janin yang ada dalam rahimnya, a-adalah anak saya."
"Ka-kalian su-sudah menikah?" Suara Dokter Fatimah tercekal.
"Belum." Agam melepaskan tangannya, lalu duduk kembali.
"A-Anda dijebak atau bagaimana?" Dokter Fatimah pun kembali duduk di kursinya.
"Tidak, saya tidak dijebak. Saya memperkosa dia, dan dia masih suci." Suara Agam makin lirih.
'Grep.'
Dokter Fatimah memegang bahu Agam.
"Segera nikahi dia Pak Agam, apalagi yang Anda tunggu, hahh? Kasihan, kondisi kandungannya lemah, dia butuh dukungan. Kenapa Bapak tidak menikahinya dari dulu?"
"Karena aku dan dia terlibat kesalahfahaman."
"Pak Agam, saya syok mendengarnya. Tapi tenang saja, saya akan merahasiakannya. Saran saya, cepat nikahi dia, Pak. Lamar, datangi orangtuanya dan bicarakan baik-baik duduk perkaranya."
"Saya juga akan segera melamarnya, Dok. Terima kasih."
.
.
.
Agam menyunggingkan senyumnya saat berjalan kembali menuju kamar tempat Linda dirawat. Masalah dengan dokter Fatimah akhirnya bisa ditangani. Agam akan segera mengatakan pada Linda jika ia akan melamarnya dan menikahinya.
"Kenapa suka sakali sembunyi sih?" tanya Agam saat ia sudah berada di kamar perawatan.
"El ...." Panggilnya.
Karena Linda diam saja, Agam inisiatif menarik selimut yang menutupi Linda.
"APA?!" Agam terkejut bukan kepalang.
Yang tertidur bukan Linda, tapi Bidan Rani yang tangan dan kakinya sudah terikat, dengan mulut dilakban. Bidan Rani sepertinya dalam keadaaan pingsan sebab matanya terpejam dan di telinganya mengeluarkan darah segar.
"Tidaaak! Lindaaa," teriak Agam.
Tubuhnya gemetar, panik, dan dipenuhi amarah.
❤❤ Bersambung ....