
"Linda maafkan saya."
Sambil memeluk Linda yang masih kejang, Agam berurai air mata. Ia tidak menyangka Linda akan mengalami hal seperti ini.
Sebagai orang yang pernah bekerja di tim darurat 911, Agam tahu betul jika yang dialami Linda saat ini sangat berbahaya, bisa mengancam nyawa keduanya, baik Linda ataupun bayinya.
"Jangan seperti ini sayang ..., bertahanlah, please," lirihnya bersamaan dengan lelehan air mata di pipi.
Lalu terdengar derap keributan yang berasal dari langkah kaki Paman Yordan, Pak Yudha, Ayah Berli dan Hikam.
"Ya Allah Agam!" Paman Yordan melotot sempurna.
Dan di ambang pintu kamar mewah itu, Ayah Berli langsung lemas, kakinya terkulai, hingga ia jatuh terpekur dan berlutut.
"Lindaaa," teriak Ayah Berli.
"Tenang, Pak. Tenang. Pamannya Agam dokter militer, Linda akan baik-baik saja," kata Pak Yudha.
"Ini semua gara-gara kamu!" pekik Hikam.
Tanpa diduga, Hikam langsung menendang punggung Agam yang sedang memeluk Linda. Agam bergeming, pusat pikirannya hanya fokus pada Linda. Ia seolah tidak peduli dengan tendangan itu.
'BUGH.'
"Hei, are you crazy (apa kamu gila)?!" Linda kejang eklampsi, bukan gara-gara Ben, ini kegawatan pada kehamilan! Bisa terjadi pada siapun. You go away (pergi kamu)!"
Paman Yordan naik pitam, tindakan pria yang kemungkinan seumuran dengan Ben itu, benar-benar tidak sopan, dan tidak manusiawi.
Merasa tidak terima, Paman Yordanpun menendang Hikam sambil berteriak memberikan instruksi.
"Ben, baringkan dulu Lindanya, jangan menahan gerakannya terlalu keras. Gunakan bantal untuk menyangga kepalanya, cepat!"
"O-oke," dengan suara yang masih gemetar, Agam mengikuti intruksi dibantu oleh Pak Yudha.
Paman Yordan berlari lagi ke luar kamar.
"Paman mau ke mana?!" teriak Agam.
"Paman mau ambil sudip lidah darurat, untuk sementara kita bisa menggunakan sendok," sahutnya.
"Linda, El, Linda ...." Agam tidak berhenti memanggil namanya.
Lalu Paman Yordan datang membawa sendok yang sudah terbungkus kasa steril.
"Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulutnya selama ia kejang," kata Paman Yordan.
"Tapi Paman, lidahnya hampir jatuh. Saya menahan lidahnya agar tidak terjatuh, ataupun tergigit," kata Agam sambil membantu Paman Yordan membuka mulut Linda.
"Ya kamu sudah benar, maksud Paman jangan memasukan makanan atau minuman."
Paman Yordan berusaha keras memasukan sudip darurat itu ke mulut Linda, bersamaan dengan Agam yang menarik jarinya.
Hikam dan Ayah Berli melongo, mungkin bingung, mereka sadar tidak bisa membantu apapun.
"Kak, mobilnya sudah siap. Cepaaat!" teriak Gama yang baru saja datang dari lantai satu.
"Oke, biar saya yang membawanya." Agam merengkuh Linda.
"Ben, tunggu! Kamu tenang dong! Jangan gegabah! Pasien kejang tidak bisa dibawa seorang diri. Posisinya harus tetap sejajar. Hei, kamu! Ayo bantu!" teriak Paman Yordan pada Hikam.
"Ba-baik."
Hikam gelagapan. Ia mendekat. Lalu bersama-sama memboyong Linda bersama Agam, dan Paman Yordan. Pak Yudha berlari untuk membuka pintu lift sambil meneriaki Ayah Berli.
"Pak Berli, cepat! Kita akan ke rumah sakit."
Ayah Berli yang terpukul dan syok, segera menguatkan diri, ia bangkit menguntit Pak Yudha. Perasaannya saat ini tidak terdefinisikan.
Agam merengkuh Linda di bagian b o k o n g dan pinggangnya, Paman Yordan di bagian kepala, dan Hikam di bagian kaki.
"Cepat!" teriak Gama yang sudah berada di dalam sambil memanggul tabung oksigen kecil dengan keringat bercucuran di keningnya.
"Pak Yudha, pasangkan oksigennya, 10 liter," teriak Paman Yordan.
"Baik, Pak."
"Gama, roda oksigennya di mana? Kenapa kamu panggul seperti ini?" Agam protes, air matanya masih berderai. Agam menangis tanpa suara.
"Aku panik, Kak. Tadi saat lihat oksigen langsung dipanggul saja, tidak terpikirkan kalau bisa didorong."
"Ya Allah, Kakak Ipar, huuu huuu," akhirnya Gama jua menangis.
"Paman, dia bisa diselamatkan, kan?" tanya Gama.
"Bisa! Berpikir positif, tetap berprasangka baik pada-Nya, dan yakin. Sudah jangan nangis!" bentak Paman Yordan. Sebenarnya fokus ucapannya adalah untuk memotivasi Agam.
Di basement, Enda dan Maxim sudah bersiap. Pintu mobil sudah terbuka, Linda dimasukan ke dalam mobil. Tubuhnya direbahkan perlahan, kejangnya sudah berhenti tapi Linda tidak sadarkan diri.
"Cepat Max, cepat!"
Agam tidak sabar. Tatapannya tetap fokus pada Linda.
Dan air mata Agam kembali meleleh saat mobil yang dikemudikan Maxim melesat cepat disusul oleh satu mobil lain di belakangnya yang berisi Ayah Berli, Pak Yudha dan Hikam.
.
.
.
.
"Ayah, jika Linda kenapa-kenapa, kita harus tegas. Kita laporkan dia pada polisi," kata Hikam sambil memegang tangan Ayah Berli yang dingin dan berkeringat.
Ayah Berli diam saja, entah kenapa saat melihat Hikam menendang punggung Agam, ada perasaan tidak nyaman di hatinya.
"Linda seperti itu pasti karena dia tidak menjaganya dengan baik. Bisa jadi kandungannya jarang dikontrol," tambah Hikam. Matanya fokus ke depan menatap mobil yang membawa Linda.
Dan tangan Pak Yudha yang saat ini sedang mengemudi tampak memegang setir dengan erat seperti tengah marah. Ya, Pak Yudha menguping ucapan Hikam.
Namun ia tidak memiliki kapasitas untuk mengatakan apapun pada saat ini. Apalagi kondisi Ayah Berli terlihat sangat terpukul.
"Kalau Linda sudah sehat, kita harus memaksanya pulang, Yah." Hikam masih mempengaruhi Ayah Berli.
"Cukup Hikam, Ayah sedang galau dan panik. Kamu bisa diam, kan? Kita fokus untuk kesembuhan Linda dulu."
Deg.
Ucapan Ayah Berli jelas menyiratkan ketidaksetujuan. Hikam kian kecewa, akhirnya pria itupun terdiam.
Tetap terdiam hingga mobil yang di dalamnya terdapat Linda berhenti di sebuah rumah sakit terdekat dari lokasi rumah Agam.
...*...
...*...
...*...
...*...
"Ben, kamu tunggu di mobil. Paman yang tangani," ucap Paman Yordan.
"Ta-tapi, Paman. Saya harus bertanggung jawab, dia hamil dan menjadi seperti ini karena saya."
Agam bersikeras hendak keluar dari mobil saat petugas IGD sudah siap menyambut pasien baru.
"Kak Agam, tenang dong! Apa jadinya kalau orang-orang rumah sakit jadi geger gara-gara Dirut HGC mengantar LB. Jangan membuat masalah baru."
Gama yang duduk di kursi paling belakang menahan Agam.
"Lindaaa," teriak Agam saat Enda, Maxim dan Paman Yordan membopong tubuh lemah tidak sadarkan diri itu ke atas brankar, tanpa dirinya.
Lantas Linda didorong masuk ke dalam IGD di dampingi Paman Yordan, Maxim dan Enda kembali ke dalam mobil.
Di dalam mobil Agam sedang dilumpuhkan oleh Gama karena pria itu tetap memaksa keluar.
"Lepaskan! Gama!" Agam meronta.
"Hei, kalian cepat bantu! Aku tidak kuat menahan dia." Gama meminta bantuan pada Maxim dan Enda.
Secepatnya Maxim dan Enda bertindak, manahan kaki dan tangan Agam dengan kekuatan mereka. Dan percayalah mereka kewalahan.
"Maxim, Enda lepaaas, atau kalian saya pecat!"
"Maaf, Pak. Ini demi kebaikan Bapak dan nona Linda," kata Enda.
"Pak Yudha, cepat bantu! Max dan Enda hampir kalah."
Gama meminta tolong pada Pak Yudha yang baru saja keluar dari mobil bersama Hikam dan Ayah Berli.
"Ada apa?"
"Kak Agam memaksa ingin masuk ke IGD, tapi sama paman dilarang," jelas Gama.
"Ya ampun."
Pak Yudha bergegas, namun saat Pak Yudha tiba, Agam sudah berhasil lolos dari mobil dan saat ini hendak berlari ke IGD dengan berjalan tertatih.
"Pak Agam, tunggu." Pak Yudha menahan bahunya.
"Saya tidak peduli lagi dengan apapun! Lepas!" Agam menepis tangan Pak Yudha.
Ayah Berli dan Hikam jadi penonton. Maxim dan Enda keluar dari mobil sambil meringis. Mereka babak-belur diserang Agam.
"Pikirkan baik-baik akibatnya, Pak. Jangan sampai kenekadan Bapak menimbulkan masalah baru. Yang penting nona Linda baik-baik saja, kan? Tolong tenang, sabaaar." Pak Yudha kembali membujuk Agam.
Agam memegang tangan Pak Yudha dan memohon, matanya berkaca-kaca, bibir merahnya gemetar. Agam terlihat begitu putus asa, rapuh dan menderita.
"Setidaknya kita tunggu dulu kabar dari pak Yordan."
Pak Yudha masih menahan bahu Agam dengan kedua tangannya, keringat Pak Yudha mulai bercucuran. Ternyata, ia sudah menggunakan separuh tenaganya untuk mencegah Agam bergerak.
Dan kondisi Agam yang seperti itu, pastinya ditonton juga oleh Ayah Berli.
Perlahan tapi pasti, Ayah Berli menjadi sadar sepenuhnya jika Agam Ben Buana benar-benar mencintai putrinya dengan tulus.
Lalu, apa yang harus ia lakukan?
Sejenak, Ayah Berli hanya mematung dan menatap Agam dalam-dalam.
Dan seolah ada dorongan batin, Ayah Berli melangkah ke depan, berdiri di sisi Pak Yudha, lalu ... memegang bahu Agam.
Deg.
Agam kaget, Hikampun demikian.
Ayah, apa yang akan kamu lakukan? Batin Hikam.
"Pak Dirut, tolong tenang, jika Anda gegabah dan tidak bisa mengendalikan diri, aku jadi berpikir dua kali untuk merestui Anda menikahi putriku," ungkap Ayah Berli.
"A-apa?" Saat itu juga Agam mematung.
Apa benar kalimat barusan terucap dari bibir Ayah Berli? Agam belum percaya sepenuhnya.
Tapi kalimat itu ampuh membuat Agam tenang dan mengurungkan niatnya untuk memaksa masuk ke IGD.
Lalu Pak Yudha mengajak mereka ke taman rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari halaman depan IGD.
"Kak, minum dulu." Gama memberikan minuman pada Agam.
Mereka sudah duduk di bangku taman, untungnya hari sudah malam, jadi ... keberadaan Agam di area itu tidak kentara, ditambah dengan pencahayaan taman yang tidak terlalu terang.
Terlihat di bangku taman di sisi lain, Maxim dan Enda sedang berkutat dengan kotak obat, tengah mengobati bibir mereka yang pecah akibat serangan Agam.
Dan Hikam sedang melamun menatap lalu lalang kendaran di depan rumah sakit. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Jadi, Ayah merestui saya?" Agam bertanya setelah mengumpulkan keberaniannya.
Sementara itu, setelah memberikan air pada Agam, Gama langsung menarik tangan Pak Yudha untuk menanyakan identitas dua orang tamu yang sebelumnya ia duga sebagai koleganya Agam.
"Oh, jadi begitu?"
Gama mengangguk perlahan setelah Pak Yudha menjelaskan. Lalu mereka memandang dari kejauhan interaksi antara Agam, Hikam, dan Ayah Berli. Ayah Berli duduk di antara Agam dan Hikam.
"Jujur, aku juga bingung untuk mengatakan apakah merestui Anda atau tidak, tapi ... aku juga kesulitan untuk menolak," jawab Ayah Berli.
"Ayah, tidak bisa begitu. Kalau Ayah bingung, artinya Ayah masih ragu," tegas Hikam.
"Hikam, maafkan Ayah. Ayah mau ke IGD. Kamu tunggu di sini saja." Ayah Berli berlalu meninggalkan Agam dan Hikam.
"Ayah." Hikam memanggilnya, tapi ... Ayah Berli tidak menoleh.
"Sudahlah, kita berdamai saja," ucap Agam seraya menatap rembulan yang seolah mengintip di balik gedung tinggi.
"Tidak bisa. Aku tetap akan meyakinkan ayah Berli untuk menolak kamu."
Hikam bersidekap menyembunyikan tangannya dari kemarahan.
Serius, ia sebenarnya ingin menghajar Agam, namun saat ini di sisi Agam sudah ada empat pendukung. Gama, Pak Yudha, Maxim dan Enda.
Sedangkan di sisi dirinya hanya ada tiga buah tong sampah. Tong sampah organik, anorganik, dan tong sampah beracun.
Hikam kalah jumlah, dan kalah segala-galanya. Ia pasrah. Lalu kembali duduk dan melanjutkan lamunannya yang tadi sempat tertunda.
"Pak Agam jam 8 malam kan ada rapat, sekarang sudah jam 8 malam," Pak Yudha mengingatkan.
"Mana mungkin saya bisa ikut rapat sebelum mengetahui kondisinya." Agam berdiri, mundar-mandir, gelisah.
"Pak Agam, ini ponselnya," kata Enda.
"Kak, handphonenya kok pakai yang itu sih?" tanya Gama.
"Yang biasa hilang," jawab Agam singkat. Lalu ia menjauh ke sisi yang lain dan melakukan panggilan entah dengan siapa.
Setelah itu, ia kembali ke kursi taman untuk menuggu informasi dari paman Yordan dengan harap-harap cemas.
"Pak, yakin tidak ke HGC sekarang? Apa perlu saya ke sana dan menyampaikan pesan?" Pak Yudha masih khawatir.
"Saya sudah izin terlambat, Pak. Lagipula, di HGC sekarang sedang genting."
"Genting kenapa?"
"Lihat headline news," kata Agam.
Spontan mereka membuka headline news di ponselnya masing-masing, kecuali Hikam. Pria itu masih larut dalam lamunannya.
"Tuan Muda Deanka Kavindra Byantara telah melakukan preskon untuk menyanggah beredarnya vidio syur yang diduga melibatkan Dirut HGC dan sekretarisnya."
"Berikut pemaparannya, "Aku memiliki rekaman asli vidio itu, ABB sama sekali tidak terlibat dalam vidio itu. Aku sudah mengajukan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) untuk kasus ini. Untuk pihak-pihak yang telah menyebarkan dan memfitnah ABB, siap-siap saja," ungkapnya."
"Fy, pemeran wanita dalam vidio itu, tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi."
"Menurut Vano Rendra Resamara (pengacara ABB), vidio asli dari vidio syur tersebut telah diserahkan ke Pusat Laboratorium Forensik dan Badan Reserse Kriminal untuk diidentifikasi."
"Wah, tuan Deanka gerak cepat, ya." Puji Pak Yudha. Ia merasa lega.
"Perasaan, punya kakak kok difitnah terus." Gama tampak kesal.
"Kak, aku boleh lihat tidak vidionya?"
"Tidak lucu!" sentak Agam pada Gama sambil menonjok perutnya.
"Aduh," Gama mengaduh, hendak menyerang balik, namun Pak Yudha segera melerai.
...*...
...*...
...*...
...*...
Di depan ruang IGD maternal, Paman Yordan dan Ayah Berli tengah duduk berdampingan.
Linda sudah ditangani. Saat ini, Linda tengah dilakukan pemeriksaan intensif untuk melakukan upaya meminimalisir risiko kegawatan.
Apakah kondisi kehamilannya memungkinkan untuk dilanjutkan? Atau ... terpaksa harus diakhiri demi menyelematkan Linda.
"Begitu, Pak. Jadi ... aku atas nama pamannya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas dosa dan kelalain dia," ucap Paman Yordan.
Sementara Ayah Berli masih serius membaca email yang dikirim Agam untuk Paman Yordan.
Email itu ternyata berisi tentang kronologi awal pertemuan Linda dan Agam, motif Agam memperkosa Linda, alasan tidak segera menikahi Linda dan lain-lain.
Sangat panjang lebar. Intisarinya berisi curahan hati Agam tentang hubungannya dengan Linda.
"Awalnya, dia tidak mencintaiku. Jadi, aku sengaja menyekapnya dan membuat perjanjian agar dia tidak pergi. Aku mengira dia akan menggugurkan kandungannya. Tapi, aku salah."
"Aku sedih saat tahu dia memiliki kekasih. Aku berpikir untuk merelakan dia pada kekasihnya, tapi ternyata Linda sendiri yang memutuskan hubungan mereka. Linda sudah ingin putus dengan kekasihnya sejak lama. Sebelum bertemu denganku."
Ada banyak curhatan Agam yang dibaca Ayah Berli. Salah satunya itu, dan ada juga yang bunyinya seperti ini ....
"Paman, aku sangat mencintai dia, aku sulit hidup jika tanpa dia. Aku ingin dia jadi istriku yang pertama, terakhir dan satu-satunya. Aku meminta bantuan Paman untuk meminang dia untukku. Aku tidak berani meminangnya sendirian."
"Aku selalu berdoa agar orang tua Linda mau menerimaku dan memaafkanku."
"Tidak ada alasan untuk tidak merestui mereka, Pak. Ben dan Linda saling mencintai. Ben bukan orang jahat, aku jamin. Bila suatu saat Ben menyakiti Linda, aku sendiri yang akan menghajarnya."
"Huft ...." Ayah Berli menghela napas.
"Lantas bagaimana? Diterima atau tidak?"
"Baik, aku merestui mereka," tegas Ayah Berli.
"Apa?! Alhamdulillah," Paman Yordan berbinar, spontan memeluk Ayah Berli dan berterimakasih.
"Ayo kita rencanakan tanggal pernikahannya," kata Paman Yordan saat ia masih memeluk Ayah Berli.
"Tidak perlu direncanakan."
"Lho, kenapa?" Paman Yordan kaget.
"Kita nikahkan mereka malam ini juga," jawab Ayah Berli.
"APA?! Se-serius?"
"Serius, kita nikahkan secara agama dulu," ucap Ayah Berli seraya mengusap linangan bening di sudut matanya.
"SETUJU," tegas Paman Yordan sambil melakukan hormat prajurit pada Ayah Berli bersamaan dengan kedatangan seorang dokter yang tadi menangani Linda.
___
PPKM diperpanjang, punten kalau nyai telat up lagi, tapi ... demi para kesayangan, nyai selalu berusaha menyempatkan diri mengintai mereka.
Oiya untuk yang sempat syok karena bu Linda eklampsia, tolong jangan menyalahkan nyai, nyai juga tidak menyangka kalau bu Linda akan kejang. Serius, nyai juga syok dan tertekan 🤷♀️🤷♀️
Oke, semuanya, i love you 🥰🥰🥰
Tetap patuhi prokes ya.