
Sebelumnya ....
Ners Sinta awalnya tidak menyadari jika mobil taksi yang ditumpangi merupakan komplotan penjahat. Di dalamnya ternyata ada penumpang lain selain supir.
Yang dilakukan Ners Sinta hanya memeluk Keivel dan menangis. Ironis sekali pikirnya. Bayi sekecil ini sudah menjadi korban kejahatan hanya karena terlahir dari seorang ayah bernama Agam Ben Buana.
Saat sadar memasuki sarang harimau, Ners Sinta berdoa dan memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Pun, ketika ia ditodong senjata agar tak melawan, Ners Sinta hanya mengangguk pasrah.
"Kita dikejar!"
"Bagaimana ini?! Apa kita menyerah saja?!" tanya pengemudi yang sibuk melihat kaca spion.
"Jangan menyerah dong! Ya, Nyonya memang sudah tertangkap, tapi kan kita masih memiliki Tuan. Tuan menginginkan bayi ini untuk dijadikan tawanan agar Agam Ben Buana bertekuk lutut. Kita hanya perlu sampai ke persimpangan dan menyerahkan bayi ini pada Tuan."
'DOR.'
'DOR.'
Dari luar terdengar suara tembakan yang diduga sasarannya adalah ban mobil taksi tersebut. Tapi meleset. Pengemudi taksi itu sangat mahir, ia mampu berkelit dari serangan polisi tanpa mengurangi kecepatan.
"Owhaa ... owhaaa ...."
Keivel tiba-tiba menangis, suaranya melengking-lengking.
"Hei Suster! Cepat tenangkan bayi itu!" Sambil menodongkan senjata pada Ners Sinta.
"Maaf Pak, a-aku tidak bisa, a-aku tidak membawa susunya, tadi panik," jawab Ners Sinta dengan suara gemetar.
"Cepat tenangkan! Bagaimanapun caranya terserah kamu!" teriak pengemudi.
Ternyata suara tangisan Keivel mempengaruhi konsentrasinya.
"S i a a a l! Berisiiik!" rutuknya.
"Cepat masuk jalur tol saja!"
"Baik!"
'BRAK.'
Mobil taksi itu bahkan tak membayar biaya tol. Langsung menabrak palang pintu dengan kecepatan tinggi. Laju kecepatannya benar-benar tak terlampaui. Polisi yang mengejar sampai geleng-geleng kepala. Mereka yakin jika pengemudi taksi itu mantan pembalap profesional.
"Bekap mulut bayinya!" bentak penjahat yang berada di sisi kemudi.
"Tidak Pak, aku tidak berani," tolak Ners Sinta. Ners Sinta sebenarnya sudah berusaha menenangkan, namun tidak berhasil.
"Hei cepat lakukan! Atau kepalamu aku pecahkan!"
"Ta-tapi Pak ...." Ners Sinta tetap tidak tega.
"Tapi, tapi! Tidak ada tapi-tapian! Atau aku saja yang membekap mulut bayi itu!"
"Ja-jangan Pak, jangan. Ba-baik, aku akan melakukannya." Ners Sinta akhirnya patuh.
Perlahan ia membekap mulut Keivel dengan hati-hati sambil meminta maaf. Ia berusaha membekap seaman mungkin agar saluran pernapasan Keivel tidak terganggu.
.
.
Sementara iringan mobil polisi tampak keteteran. Bukannya berhasil penjahat, salah satu mobil patrol justru nyaris mencelakai mobil lain. Saat penjahat memasuki jalur tol. Aiptu Joey yang bertugas sebagai komandan operasi segera melakukan tindak lanjut.
"Lapor Pak Agam, mobil taksinya memasuki tol. Maaf, berarti titik lokasi yang kami share ke Bapak salah."
"Apa katamu?!" Suars Pak Dirut terdengar penuh amarah.
"Maaf Pak, kami tidak menyangka. Mereka ternyata melawan arus dan memasuki jalur tol!"
Aiptu Joey sedikit memucat. Agam Ben Buana pasti marah besar.
"Joey, mereka itu penjahat! Membunuh saja mereka merasa tidak berdosa, apa lagi hanya melawan arus! Ya ampun Joey, kamu bagaimana sih?! Kamu tahu?! Saya sudah mengerahkan anak buang saya ke titik lokasi yang kamu kirimkan!"
"Maaf Pak, saya mengaku salah. Saya akan meminta bantuan ke markas."
"Tidak perlu! Sekarang saya hanya membutuhkan kamu mengejar taksi itu agar tidak kehilangan jejak. Ingat! Jangan menyerang taksi itu! Saya mengkhawatirkan keselamatan Keivel!"
"Baik, Pak."
"Saya percayakan padamu Pak Joey. Jika Anda mengerahkan personil baru, saya takut ada yang bermuka dua."
"Baik Pak Agam." Aiptu Joey mengakhiri panggilan.
"Patrol dua, patrol tiga mundur! Operasi pengejaran hanya akan dilakukan oleh patrol satu, ganti!" seru Aiptu Joey.
"Baik, patrol dua, patrol tiga mundur, ganti!"
"Kembali ke markas, ganti!"
"Siap! Ganti."
"Interupsi Dan. Ganti."
"Interupsi diterima, kenapa?" tanya Aiptu pada anak buahnya.
"Pak Joey, kenapa kita kembali ke markas? Ganti."
"Sudahlah, kalian ikuti perintah saya saja," laksanakan! Ganti."
"Siap, laksanakan!"
...❤...
...❤...
...❤...
'Brak.'
Pak Dirut memukul meja kerjanya. Wajah tampannya memerah, bibir tipisnya gemetar. Awas, Pak Dirut sepertinya sedang marah besar.
Timbullah rasa kesal pada sang istri. Ia sudah mengusap dadanya dan berusaha tenang. Tapi tetap tidak bisa. Semua berawal dari Linda. Larangan Linda membuat doker Rita dilema dan ragu hingga akhirnya terlambat melapor padanya. Entah apa yang akan dilakukan pada Linda jika terjadi sesuatu pada Keivel. Tapi, ia tidak bisa berlama-lama marah dan diam saja dengan keadaan ini.
Selanjutnya, setelah mendapatkan informasi dari Aiptu Joey, Agam segera mengubah strategi. Ia menghitung kecepatan rata-rata mobil taksi penjahat itu dengan terlebih dahulu mencari infomasi panjang lintasan tol dari titik pintu masuk sampai pintu keluar.
Setelah didapatkan hasilnya, ia lantas memerintah agar Maxim, Enda, dan Yanyan agar memblokade jalur pelarian mobil taksi tersebut di pintu keluar tol. Pak Dirut ternyata jago dalam hal berhitung. Ia menyelesaikan perhitungannya dengan waktu yang sangat cepat.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?"
Seorang anggota anonymous menghampirinya.
"Tidak perlu, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian," jawab Agam sambil berlalu dengan wajah dinginnya. Tak lupa meraih kembali tongkat golf yang tergeletak dan memakai kembali masker full facenya.
"Mau kami siapkan makanan?" Anggota anonymous bertanya lagi.
"Emm, tidak perlu! Saya ada urusan penting! Jangan ada yang berani melintasi kamar saya, camkan!"
"Baik, Pak."
Sembari menatap Agam yang berjalan ke kamarnya sambil memutar tongkat golf dengan gerakan memukau bak sang mayoret profesional yang beratraksi dengan batonnya.
Sebelum membuka pintu kamar, Agam kembali menelepon anak buahnya.
"Mobil taksi itu akan tiba di pintu keluar tol sekitar 1 jam 14 menit lagi. Saya akan tiba di sana dalam satu jam. Jangan melakukan penyerangan sebelum saya datang," titahnya.
"Baik, Pak."
Agam mengakhiri panggilan.
Setibanya di kamar. Pak Dirut memutar pandangan. Yang ia cari tak ada di tempat. Sungguh, istrinya seksinya itu benar-benar harus diberi pelajaran saat ini juga.
Jarak dari sini ke pintu keluar tol hanya 10 menit. Artinya, ada waktu sekitar 50 menit untuk berbicara dan menasihati Linda.
.
.
Saat ini ....
Agam sudah beberapa kali memukul pintu kamar mandi dengan tongkat golfnya. Tapi Linda tetap tidak membuka pintu.
"Dasar cantik, kenapa tidak dibuka?!" guman Agam sambil melihat jam tangannya.
Semenit telah berlalu hanya untuk memukul pintu kamar mandi. Serius, ia ingin memarahi Linda. Agam tentu saja tidak ingin membuang waktu. Dari pada lama, ia memutuskan untuk mendobrak pintu dengan kekuatannya.
'BRAK.'
Tendangan pertama gagal.
'BRAK.'
Pak Dirut mengambil ancang-ancang. Dan ....
'BRAK.'
Pada tendangan ketiga, pintu kamar mandi berhasil terbuka.
Linda gemetar. Ia sudah menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bathup. Ketakutan menyeruak. Linda takut dugaannya salah dan pria itu bukan Agam. Linda mengintip sembari menghirup udara, tampak pria itu tengah membelakanginya. Melempar tongkat golf lalu membuka dasi.
Tidaaak, jerit Linda dalam batinnya.
Ia tidak bisa melihat dengan jelas karena matanya bencampur air. Yang jelas, pria itu masih memakai full masker. Linda menenggelamkan kembali kepalanya saat Agam membalikan badan dan mendekat. Linda panik, mau pura-pura tenggelam ternyata sulit. Ia merasa sesak napas.
Misi pura-pura tenggelam sepertinya gagal. Linda perlahan berdiri dan memohon ampun. Tangannya diletakan di dada, menunduk dan gemetar. Sekujur tubuhnya basah kuyup.
Lekuk tubuh Linda tercetak indah karena basah. Sontak mata Pak Dirut melongo, mau marah pada Lindapun jadi sulit. Penampakan Linda menggoyahkan seluruh ego dan kemarahannya, tergantikan oleh gejolak n a f s u hingga timbullah itikad itu.
Tiba-tiba ingin menghukum Linda dengan cara yang mengasyikan. Cara ini konon sering dilakukan oleh keluarga Haiden saat menghukum istrinya.
Bolehkah aku mencobanya? Pak Dirut berpikir sejenak.
"Ampun. Bunuh aku saja," lirih Linda tanpa menatap.
Agam tak ingin membuang waktu. Ia menarik paksa tangan Linda agar keluar dari bathup.
"Tidak, tolooong," teriak Linda.
Ia meronta. Tapi kekuatan Pak Dirut bukanlah tandingannya. Akhirnya hanya bisa pasrah dan menangis saat penculik itu mengangkat tangannya ke atas kepala lalu mengikatnya dengan dasi.
"Huuu ... Pak Agaaam, tolooong," teriak Linda. Meronta, menepis, dan menangis kencang saat si penculik membuka paksa baju yang ia kenakan.
"Pak Agam, aku minta maaf, ta-tapi ... ja-jangan seperti Pak ... a-aku takut," lirih Linda.
Agam kaget, apa Linda mengenalinya? Bukankah ia belum membuka masker?
Agam diam saja, malah memangku Linda dan mendudukkannya di sofa khusus kamar mandi yang didesain tahan air. Linda memejamkan mata dan terus terisak. Serius, ia sebenarnya belum yakin jika pria ini adalah suaminya.
Rindu, n a f s u, dan kekesalan bercampur menjadi satu. Pak Dirut lantas menciumi leher Linda sambil melepas satu persatu kancing kemeja miliknya dengan gerakan tergesa-gesa.
Deg, Linda terhenyak.
Aroma mint ini?
Apakah ada pria lain yang bibirnya beraroma mint?
Linda memejamkan mata kuat-kuat. Hembusan napas dan aroma pria ini sungguh tidak asing. Sejauh apapun ia berusaha mengelak, namun kata hatinya tetap mengatakan jika pria ini adalah Agam Ben Buana, suaminya.
"Pak Agam, huuu ... im so sory ...."
Linda memberanikan diri membuka mata untuk menatap penculik itu. Namun belum juga berhasil menatap, penculik itu telah terlebih dahulu membekap bibirnya dengan sesuatu yang manis dan lembut. Menyerangnya dengan tiba-tiba, merontokkan pertahanan Linda.
Linda tak berdaya, yang bisa begerak hanya kakinya. Kaki bercat kuku pelangi itu meronta pelan dan menggelinjang saat Pak Dirut menekan dagunya dan memperdalam daerah jajahannya.
Degupan jantung Linda seolah berhenti sejenak saat ia yakin seratus persen bahwa yang beraroma mint ini adalah milik Pak Dirut. Cara dia mempermaiankan indra pengecap dan pengucap milik Linda, benar-benar sama. So, Linda pasrah, tidak membalas, pun tidak melawan. Ia membiarkan pria ini berbuat sesuka hati. Menyesap seluruh madu yang ia miliki tanpa mengatakan sepatah katapun.
Air mata Linda terus meleleh. Setelah Linda tersenggal-sengal dan kehabisan oksigen, Agam baru berhenti. Ia mengusap bibir Linda sambil melihat jam di tangan kanannya.
Sepuluh menit berlalu, ada waktu 40 menit lagi untuk menuntaskan semuanya. Agam tentu saja tak sampai hati jika terus memperlakukan Linda seperti ini. Ia melepas masker full facenya, lalu membuka dasi yang mengikat tangan Linda.
"Sayang ... buka matamu," bisik Pak Dirut.
Deg, tubuh Linda seolah tersengat listrik. Tapi ... ia enggan membuka mata. Serius, Linda tak sanggup menatap wajah suaminya karena merasa telah melakukan banyak kesalahan.
"Huuu ...." Malah menangis sambil memalingkan wajah.
"El, lihat saya sayang," tegas Agam sambil menangkup pipi Linda dan mencium keningnya.
"Huuu ... ke-kenapa Pak Agam membohongiku? Huuu ... ke-kenapa Pak Agam membuatku ta-takut?" gumam Linda tapi masih memalingkan wajah.
"Hei sayang, dengar ya, siapa yang terlebih dahulu berbohong? Siapa yang terlebih dahulu membuat khawatir? Siapa yang berbuat seenaknya tanpa kompromi dan membahayakan Keivel? Siapa yang mengguncang publik? Siapa yang trending? Siapa, hahh? Saya, atau kamu?!" tegas Agam sambil menangkup wajah Linda.
Agam mencecar Linda dengan pertanyaan itu, Linda terpojok dan tentu saja menyesali perbuatannya. Saat nama Keivel disebut Linda mengerjap dan membuka mata. Segera bangun dan memeluk Agam.
"Huuks, maafkan aku .... Pak ... Keivel keadaannya bagaimana? Baik-baik saja, kan? Maaf, aku pantas dihukum. Aku bukan istri yang baik," kata Linda dengan tubuh yang mulai menggigil karena kedinginan.
Agam tidak menjawab, malah membopong Linda dan membawanya ke tempat tidur.
"Pak, putra kita bagaimana?" Linda menatap Agam. Ia teramat khawatir pada Keivel.
Lagi, Agam tidak menjawab. Malah membuka semua hal yang menyebabkan Linda kedinginan. Tapi tidak menyelimutinya. Linda justru semakin kedinginan karena hampir polos.
"Pak Agam, jawab dong!" bentak Linda sambil memeluk tubuhnya.
Namun Pak Dirut tetap membisu. Alih-alih menjawab, Pak Dirut malah menatap jam tangan lalu menatap Linda dengan tatapan tak biasa. Linda jadi kesal.
"Pak, jawab! Keivel baik-baik saja kan?!" teriak Linda.
"Saya tidak punya banyak waktu sayang," kata Agam. Ia menghempaskan Linda hingga terlentang dan kaget.
"Pak, A-Anda mau apa?!" Mata Linda mambulat sempurna, langsung memucat saat menyadari sesuatu yang selalu membuatnya takut.
"Pak ... haruskah sekarang?" Linda beringsut.
"Maaf sayang, saya harus cepat-cepat, maaf," bisik Agam sambil terburu-buru melucuti apa yang melekat padanya. Napas Pak Dirut pun terdengar tidak teratur.
"Pak ... setidaknya jawab dulu pertanyaanku, apa yang terjadi pada Ke ---."
Linda tak sempat bertanya lagi. Bibirnya telah dibungkam. Pak Dirut mengusainya, mengurung tubuhnya, lalu menjelajahi seluruhnya.
"Huu ---."
Bahkan untuk menangispun Linda kesulitan. Hanya bisa memasrahkan diri. Beberapa menit pun berlalu, hingga sampai jua pada titik itu. Titik dimana tubuh Linda merespon dan menikmati perlakuan Pak Dirut. Tubuh Linda mengalami pelepasan di tengah kegundahan dan keresahan itu.
Ini memalukan, kenapa aku jadi seperti ini? Sesal Linda.
"Huuu ... huuks."
Linda menangisi kebodohannya dengan pipi yang merona merah. Ingin rasanya menghilang dari penguasaan Agam Ben Buana detik ini juga. Tapi ... itu tidak mungkin, dan ia yakin tak akan sanggup.
"Maaf sayang, inginnya tidak sekarang, tapi ... sa-saya ti-tidak tahan," ucap Pak Dirut seraya mengecup kening Linda dan membisikan doa keramat itu.
Linda mengangguk pelan, membaca doa itu dalam hatinya, lalu meraih tangan Agam saat pria itu mengulur tangan dan membimbing Linda untuk duduk di pangkuannya.
"Keivel?" tanya Linda saat tangannya melingkari leher Pak Dirut.
"Setelah ini ... saya akan menyelamatkan Keivel," bisiknya. Hanya itu jawaban Agam.
Selanjutnya ....
"A ---."
Teriakan Linda tercekal. Pak Dirut siaga, secepatnya membekap bibir Linda agar tidak beteriak dan bermaksud mengurangi kesakitannya. Air mata Linda meleleh. Ya, ini menyakitkan. Ia mencengkram kuat bahu Agam hingga kuku-kukunya membekas. Karena terburu-buru, Pak Dirut terkesan memaksakan diri.
"Ma-maaf," Pak Dirut berbisik lagi, lalu membersihkan air mata Linda dengan bibirnya.
"Ja-janji ... se-se-lamat-kan Keivel ya ...." Lirih Linda.
"Pp--pasti sa-saya--nghhh ...." Pak Dirut mulai mengerang. Kenapa ya? Entahlah.
Linda terkulai pasrah. Ia membiarkan Pak Dirut merenggut dan menikmati tubuhnya sesuka hati. Linda laksana manekin hidup yang berada di bawah kendali Agam Ben Buana. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak bersuara. Linda sebenarnya ingin melenguh jua. Tapi ... ia terlalu malu dengan segenap kesalahan yang telah diperbuatnya.
"I love you ...."
"I love you too," jawab Linda.
.
.
Entah di jam berapa, saat membuka mata, Linda tersadar jika hanya ada dirinya di kamar ini. Tubuhnya tertutup selimut. Ya, Agam Ben Buana memang tidak ada di sisinya. Tapi ... apa yang telah dilakukan Pak Dirut masih membekas dan terasa hingga saat ini.
"Keivel ... maafkan Momca sayang .... Pak Agam ...," gumamnya.
...❤...
...❤...
...❤...
Pria itu berdiri dengan gagahnya. Ia menghadang sebuah mobil taksi yang jelas-jelas akan menabraknya.
"Pak Agam, AWAS!" teriakan dari beberapa pria yang ada di sisi jalan tidak dipedulikannya.
Tekad Agam sudah bulat. Ia rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan putranya, Keivel Agler Alf B. Buana.
Semoga berhasil.
...~Tbc~...