AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Lelucon



"Ha-halo, ma-maksud Bapak apa ya? Saya tak faham." Elak seseorang di ujung telepon.


"Pangeran Enver, Anda tak perlu mengelak lagi. Saya yakin kalau kamu adalah pangeran Enver Xzavier, ya 'kan?"


"Anda salah orang Pak Agam."


"Mister X, tolong mengerti keaadaan saya. Hidup saya sudah banyak tekanan. Saya tidak mau masalah ini menambah beban lagi. Saya dan LB butuh ketenangan. Orang yang mencari Anda mengancam akan mengganggu hidup saya dan keluarga saya jika dalam waktu 1x24 jam saya tidak memberitahu keberadaan Anda," tegas Agam.


"A-apa? Tapi, Pak. Pangeran Enver sudah mati. Saya bukan pangeran Enver." Mister X mengelak.


"Oke, silahkan Anda katakan secara langsung kalau Anda bukan pangeran Enver pada mereka. Tapi, kalau Anda tidak segera mengambil sikap, perlindungan rumah itu dari pencitraan satelit, bisa saya perintahkan untuk segera dinonaktifkan. Mister X, kita sudah lama bekerja sama. Anggap saja kalau masalah inipun termasuk ke dalam kerja sama kita," tambah Agam panjang-lebar.


"Baik pak Agam, akan saya usahakan tidak sampai melibatkan Anda dan keluarga Anda. Tapi tolong beri saya waktu. Sebab, saat ini, saya juga sedang melindungi seseorang, "terang Mister X.


Lalu Mister X mengakhiri panggilan secara sepihak. Agam menghela napas. Ia yakin jika gosip yang merebak selama ini tentang pangeran yang terbuang itu ternyata benar adanya.


"Pak Yudha, bisa mengemudi lebih cepat?"


"Bisa Pak." Pak Yudha segera tancap gas.


"Ada masalah apalagi, Pak?"


"Hmm, ini tentang pangeran Enver, apa Pak Yudha pernah dengar?"


"Tidak, Pak."


"Ya sudah, lanjut mengemudi saja."


"Siap," sahut pak Yudha.


Walaupun sedikit penasaran tentang pangeran Enver, tapi pak Yudha tidak berani bertanya lagi karena melihat wajah Agam yang berubah dingin dan kaku.


...***...


Bahkan saat mereka tiba di rumahpun, pak Dirut masih saja dingin.


"Linda mana?" tanya Agam saat bu Ira membantunya melepaskan jas kerjanya.


"Sedang berenang, Pak."


"Berenang?"


"Ya Pak, katanya sudah lama tidak berenang."


"Keivel aman?" Agam lanjut bertanya.


"Aman Pak, kan sudah ada suster Dini dan ners Sinta juga."


"Baik. Pak Yudha, tolong jangan ada satu orangpun yang boleh mendekat ke area kolam renang."


"Baik Pak."


"Oiya, untuk sementara, tolong matikan seluruh CCTV yang menghadap ke kolam renang. Boleh diaktifkan lagi setelah ada perintah dari saya."


"Siap, Pak." Pak Yudha sigap sedia. Memberi hormat sambil mengulum senyum.


Bu Ira sedang pura-pura serius. Padahal hatinya ingin tertawa. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pak Yudha dan bu Ira.


Pak Dirut lantas bergegas dengan langkah cepat. Setelah dipikir-pikir, ia juga tenyata sudah lama tidak berenang.


.


Saat kakinya sudah mendekati area kolam renang. Pak Dirut mematung. Matanya tertuju pada sosok yang saat ini tengah berenang dengan gaya bebas indah nan gemulai.


Linda tak menyadari keberadaan sang suami. Ia tetap asyik dengan dunia airnya. Agam mendekat dengan cara mengendap. Tangannya sibuk melucuti apapun yang melekat di tubuhnya. Hanya disisakan satu kain penutup di bagian inti tubuhnya.


Bibir tipis pak Dirut yang kemerahan itu tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai nakal.


Saat Linda menjauh dari tepi kolam, pak Dirut meluncur dalam senyap. Sebagai mantan anggota BRN, Agam jelas telah menguasai teknik berenang di bawah permukaan air tanpa menimbulkan riak ke permukaan.


Agam berenang di dasar kolam mengkuti liuk dan lekuk tubuh sang istri yang tentu saja terlihat begitu seksi. Sesekali, pak Dirut juga jahil. Ia mengelus kaki Linda.


"Hhh, a-apa itu tadi?"


Linda menepi. Ia yang ngos-ngosan segera melihat sekitaran. Linda berpikir ada ranting yang terjatuh dan menimpa betisnya.


Sementara di kedalaman kolam renang, pak Dirut merayap, tangannya menyentuh lantai kolam. Ia mendekat ke kaki indah jenjang milik Linda. Setelah dekat, betis Linda digigitnya perlahan.


"Aaaa, apa itu?!" teriak Linda.


Linda menggerak-gerakan kakinya. Ia kaget luar biasa. Berniat ingin naik ke sisi kolam, namun di bawah sana pak Dirut telah terlebih dahulu memegang kedua pergelangan kakinya.


"Aaa, tolooong, tolooong, bu Iraaa, tolooong!" teriaknya sambil berusaha menggerakan kakinya dan memeluk erat tembok tepian kolam renang.


Sang pelaku mengatupkan bibir. Agam menahan tawanya. Ternyata asyik juga mengerjai Linda.


"Lepas!"


Linda terus meronta. Ia berpikir di kolam ini ada jin pengganggu karena sudah lama tak digunakan.


Saat Linda lengah, kepala Agam muncul ke permukaan untuk mengambil udara. Lalu tenggelam lagi saat Linda nyaris melihatnya.


Agam melepaskan kaki Linda, memberi kesempatan pada Linda untuk tenang sejenak.


"Manusia itu sebaik-baiknya bentuk daripada makhluk lainnya! Aku tidak takut sama kamu! Pergi sana jin pengganggu!" teriak Linda. Lalu memukuli air sambil membaca doa-doa yang ia yakini dapat mengusir jin.


Selesai berdoa, Linda beteriak lagi karena pahanya ada yang memeluk.


"Aaaa."


Spontan meraba pahanya sambil memejamkan mata. Dan Linda semakin ketakutan karena ia bisa merasakan sebuah lengan berotot tengah memeluknya.


"Tidaaak, tolooong!" jelas saja ketakutan karena setahu Linda tidak ada siapun di kolam renang ini kecuali dirinya.


Kejahilan pak Dirut berlanjut. Tak tanggung-tanggung, ia menarik Linda hingga tenggelam saat istrinya itu masih larut dalam keterkejutan.


'Glupgup gup.'


Linda tenggelam. Sosoknya menghilang ditelan air kolam.


Tolooong.


Batin Linda menjerit saat ia merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang oleh sosok kekar yang terasa begitu nyata. Dan Linda yakin jika sosok ini bukanlah jin. Melainkan manusia yang hendak menjahatinya.


Linda gelagapan, ia berusaha meronta dan berenang. Namun ia kalah kuat. Tangan kekar sosok itu telah mengusai tubuh bagian atasnya. Bahkan berani melakukan gerakan-gerakan nakal pada tubuh Linda hingga mata Linda membeliak ketakutan dan hampir putus asa.


Saat Linda hampir lemas karena kehabisan napas, sosok itu membalikan tubuh Linda untuk memberikan napas buatan. Linda terhenyak. Walau matanya terpejam, ia hafal benar siapa pemilik bibir tipis ini. Aroma mint itu tak bisa membohonginya.


Kurang asem! Berani sekali menjahiliku! Linda kesal.


Jadi digigitlah kuat-kuat bibir pak Dirut yang sedang beraksi itu hingga pemiliknya mengaduh dan muncul ke permukaan.


"Awh, auh, El?" Agam memegang bibirnya.


"Pak Agam! Anda jahil sekali! Kenapa melakukan itu?! Aku tak suka ya diprank seperti ini! Tidak lucu, tahu!" sentak Linda sambil cemberut.


"Hahaha, maaf sayang. Saya sengaja," sama sekali tak merasa bersalah.


"Awas ah! Jangan dekat-dekat!" Linda merajuk, menepis Agam.


"Begitu ya, tapi saya maunya dekat-dekat." Agam kembali memeluk Linda.


"Pak! Lepaskan!"


"Tidak akan!" Malah memeluk semakin erat.


"Anda mau apa, Pak?!"


"Mau kamu sayang."


"Mau apa?!"


"Mau ini," kata Agam.


Pipi Linda memerah. Entah apa yang terjadi. Sebab tubuh mereka hanya terlihat sebatas dada.


"Mari kita berenang sambil bersenang-senang sayang," bisik Agam.


"A-apa?"


Linda menutup mulutnya. Lalu perlahan membalikan badan dan memeluk Agam. Tangannya melingkar di leher pak Dirut. Agam menyeringai. Linda telah tunduk dan luluh. Lalu Agam membawa Linda berenang ke ujung sana. Pak Dirut menggunakan gaya punggung, dan Linda berada di atas tubuh Agam.


Pemandangan ini sangatlah indah. Untungnya tidak ada yang melihat.


Di ujung sana, di area air yang teduh karena terlindungi oleh rindangnya pohon, Linda dan Agam tampak berbicang. Mereka berhadapan. Tangan Linda di mengalung di leher Agam. Sementara tangan pak Dirut melingkar di pinggang Linda.


Entah apa yang mereka bicarakan. Sesekali mereka saling berbisik. Lalu Linda seperti sedang menelusuri keindahan tubuh suaminya. Mereka kemudian berpandang-pandangan.


Lalu ....


Bibir keduanya perlahan menyatu, terjalin lekat, terpaut, dan seperti enggan terpisahkan.


Adegan selanjutnya, mereka terlihat berpelukan erat. Lalu Linda sejenak menatap wajah pak Dirut dengan tatapan ketakutan.


Lantas pak Dirut mengecup kening Linda dan menggelengkan kepalanya seolah tengah mengatakan pada Linda jika semuanya akan baik-baik saja. Linda mengangguk pelan, yang berarti ia telah mengerti dan memahami maksud pak Dirut.


Adegan selanjutnya .... Skip.


...❤...


...❤...


...❤...


Mister X melamun. Hujan deras di sore ini seolah sengaja turun untuk membasahi relung hatinya. Ia bingung harus melakukan apa. Kehidupan nyamannya akhirnya terusik jua saat Agam Ben Buana menduga jika dirinya adalah pangeran Enver Xzavier.


"Apa yang harus kulakukan?" gumamnya.


Ia jelas tidak ingin membahayakan Agam Ben Buana dan terus bersembunyi. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin kembali ke negaranya.


"Kak Exam?"


Senja memanggilnya. Gadis itu selalu ingin ke halaman depan saat mendengar hujan turun. Selalu ingin menyentuh air hujan dan merasakan kesejukannya.


"Senja? Kemari," Mister X berdiri, memapah Senja untuk duduk di sampingnya dan menatap hujan.


Kursi di halaman depan yang dipenuhi tamaman ini sangat pas untuk mereka berdua. Bahu Senja menyentuh lengan Mister X. Dan keduanya sama-sama canggung karena merasa jika lengan yang bersentuhan itu terasa hangat.


"Hujannya ---." Mereka berkata bersamaan.


"Kak Exam ---." "Senja ---." Lagi, mereka berbicara bersamaan.


"Hahaha," tergelak bersama.


"Ladies first," kata Mister X.


"Ya ampun, hahaha, aku hanya ingin mengatakan hujannya terdengar lebat," jelas Senja.


"Ya memang lebat, aku juga senang dengan hujan, karena di negaraku hujan itu jarang."


"Oh, begitu ya."


"Hmm," nada bicara Mister X mulai lirih.


"Kak Exam, aku merasa kamu sedang sedih. Adakah sesuatu yang mengganjal pikiranmu?" Sambil melirik, walaupun Senja tahu kalau dirinya tak dapat melihat sosok di sampingnya.


"Begini Senja, sepertinya ... kita harus pindah dari rumah ini."


"Apa? Pindah? Apa karena uang sewanya belum dibayar? Apa karena ada aku?"


"Mau pindah ke mana, Kak? Kak, kalau Kakak pergi, la-lalu aku bagaimana? Apa akan mengantarkanku ke rumah pamanku?" Senja telihat khawatir.


"Senja," Mister X memegang tangan Senja.


"Maukah kamu tetap bersamaku?"


"Maksudnya?"


"Maksudku, kemanapun aku pergi, kamu harus ikut. Apa kamu mau?"


"Emm, boleh tidak kalau aku ikut sama bibi Miss saja?"


"Kakakku tak ada kabar, aku bahkan tak tahu rumahnya berada di mana." Mengarang cerita.


"Kalau memang Kak Exam yakin aku tidak membebani Kakak, a-aku mau ikut."


"Benarkah?" Mata Mister X berbinar.


Senja mengangguk.


"Terima kasih, Senja." Spontan memeluk Senja.


Jedug, saat sadar menempel, jantung keduanya berdegupan.


"Kalau begitu, kita siap-siap ya."


"Siap-siap?"


"Ia Senja, kita akan meninggalkan rumah ini sekarang juga."


"A-apa?! Sekarang?"


"Ya, sekarang."


"Terus bagaimana dengan komputer-komputer itu? Bagaimana cara bawanya? Apa kita mau naik mobil truk?"


"Senja, aku tidak akan membawanya. Kita hanya perlu membawa pakaian yang dibutuhkan. Kamu percaya padaku?" Memegang tangan Senja.


"Kak, a-aku takut, kenapa kita harus pindah? Apa Agam Ben Buana mengusirmu?"


"Tidak Senja. Jika aku jelaskan detailnya kamu juga belum tentu percaya. Kamu kekasihku, Senja. Sungguh, aku tidak akan menipumu."


Tak ingin mengulur waktu lagi, Mister X meraih tangan Senja dan membawanya ke dalam rumah.


"Aku akan membantumu merapikan pakaian," tawar Mister X.


"Jangan, Kak. Aku malu. Nanti pakaian dalamku kelihatan."


"Senja, apa kamu lupa? Selama ini, yang menjemur, mengangkat jemuran, dan menyetrika pakaianmu termasuk pakaian dalammu, siapa?"


"Oh, hahaha. Oiya, ya. Aku lupa." Senja tertawa. Pipinya merona karena merasa malu.


"Jadi, sampulnya sudah sering aku lihat dan aku sentuh, tapi dalam ---."


"Ssstt!" sela Senja. Wajahnya merona.


"Hahaha," Mister X tertawa lepas.


Ya, begitulah Mister dan Senja. Senjapun sadar diri jika dirinya sering merepotkan Exam dalam banyak hal. Atas pertimbangan itulah, saat Mister X menyatakan cintanya, Senja langsung menerimanya. Ia menerima Exam karena yakin jika pria ini adalah sosok yang mau menerima dia apa adanya.


Setelah perlengkapan Senja selesai dikemas, barulah Mister X mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Lalu Mister X pun menelepon seseorang.


Dalam percakapannya, Mister X berpesan ....


"Kemanapun mereka pergi, kamu harus mengetahuinya. Sekalipun itu ke lubang jarum. Jika suatu saat aku membutuhkan mereka, mereka harus ada untukku."


Siapakah 'mereka' yang dimaksud Mister X?


Mereka adalah pamannya Senja dan anak istrinya. Sebenarnya, Mister X ingin sekali membantu pamannya Senja secara ekonomi. Namun sayang, paman Senja bukanlah pria baik.


Dia senang berjudi, dan jika kebetulan menang, ia akan menghamburkan uangnya untuk berfoya-foya dan mabuk-mabukkan. Dia juga menafkahi anak istrinya dengan uang hasil judi dan taruhan.


"Senja, kamu sudah siap?"


Mister X menghampiri Senja yang tengah meraba-raba layar monitor yang selama ini menjadi sumber mata pencahariannya.


"Jadi, Kak Exam berhenti bekerja?"


"Tidak, aku bisa bekerja di manapun," jawabnya. Sambil meletakan tongkat tuna netra di telapak tangan Senja.


"Miau, miau ...."


Kucing hitam menghampirinya. Mengelilingi kaki Mister X.


"Ya ampun Black, kamu tetap di sini, oke?"


"Kak, memang tidak apa-apa kalau Black ditinggal?" Senja meraba-raba, ingin menyentuh kucing tersebut.


"Tidak apa-apa, dia sebenarnya kucing liar. Sudah ada di rumah ini saat aku datang. Jadi, tanpa akupun, dia bisa mencari makan sendiri."


"Black, jaga dirimu baik-baik ya," Senja mengelus punggung Black.


"Dia pasti akan baik-baik saja. Istri dia itu banyak. Aku sering melihat dia bercinta dengan beberapa kucing. Baik kucing liar, kucing peliharaan maupun kucing jenis keturunan."


"Ya ampun Black, kamu ternyata nakal ya! Menyesal aku mengelus kamu!" Senja cemberut, kesal sama Black.


"Hahaha, dunia kucing memang seperti itu." Mister X menuntun tangan Senja.


"Kita akan jalan kaki sampai jalan raya, kamu tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa, Kak."


Sebelum pergi, Mister X menatap layar dan sepeda kesayanganya. Andai tidak harus membawa barang-barang dan Senja. Mungkin, ia akan pergi menggunakan sepeda.


Saat hujan mereda, merekapun meninggalkan rumah tersebut. Mereka berjalan berdampingan, Mister X yang memegang payung. Mereka sepayung berdua.


Di tengah perjalanan, mereka berbincang.


"Senja, nanti aku mau pinjam kartu identitas kamu, ya."


"Untuk apa, Kak?"


"Emm, untuk membeli mobil."


"Apa?! Mobil? Kenapa tidak pakai kartu identitas milik Kakak saja?"


"Aku punya alasan. Jadi, nanti mobilnya atas nama kamu."


"Tidak mau, Kak. Kalau nanti orang bank menagih hutang, bagaimana? Mereka pasti akan mencariku."


"Hahaha, kita tidak akan berurusan dengan bank. Aku akan membeli mobil secara tunai," jelas Mister X.


"Wah, baiklah. Aku setuju." Senja mengangguk.


Sampailah keduanya di sisi jalan raya.


Mereka kemudian menaiki sebuah bus besar yang hendak melaju ke arah utara.


Bus pun melaju kembali membawa Mister X, Senja, dan penumpang lainnya.


...❤...


...❤...


...❤...


"Aku diperintah oleh seseorang yang identitasnya telah diketahui polisi untuk melakukan wawancara itu. Aku juga disarankan olehnya untuk menggunakan wig dan menggunakan identitas reporter atas nama Brilliant," terang Linda di hadapan media dan polisi.


Saat ini, tengah berlangsung preskon di depan gedung pengadilan pusat kota.


Awak media begitu ramai. Mata kamera membidik LB.


Jangan lupakan sosok di samping LB yang tampak gagah dengan kaca mata hitam dan paras tampannya yang terlihat dingin bak kutub utara. Sosok itu tak berkomentar sedikitpun, hanya melipat tangan di dada dan terus menatap ke arah LB. Siapa lagi kalau bukan Agam Ben Buana.


Walaupun ia hadir hanya untuk memberi dukungan pada Linda, ada juga awak media yang ingin mewawancaranya. Namun pak Dirut bukanlah orang yang mudah diwawancara untuk sesuatu yang bukan kapasitasnya. Alhasil, media yang bertanya pada Agam hanya bisa gigit jari.


"Bagaimana dengan status hukum Anda?" tanya salah satu wartawan.


"Akan dijawab oleh pengacaraku," ujar Linda.


"Klien kami atau LBB alias Linda Berliana Brilliant, dari awalnya tersangka, kini sudah mendapat penurunan status menjadi saksi," jelas Vano.


...***...


Setelah preskon selesai, Linda kembali menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik dan tim cyber pencari fakta didampingi Vano dan pak Dirut pastinya.


Selama proses pemeriksaan, tangan Linda dan Agam tak henti terpaut. Agam Ben Buana benar-benar memberi dukungan sepenuhnya hingga Linda percaya diri dan berani membeberkan fakta-fakta yang ia dapatkan.


Dalam kesaksiannya, Linda juga menyebutkan nama-nama oknum pejabat tinggi negara yang sempat melobi dirinya untuk makan bersama hingga tidur bersama. Ada juga oknum pejabat yang menawarinya menjadi wanita simpanan dengan iming-iming uang ratusan juta tiap bulannya.


"Kurang ajar!"


Pak Dirut tak kuat menahan emosi saat mengetahui fakta jika stasiun TV KITA ternyata sengaja menjadikan Linda sebagai tumbal untuk melobi para pejabat hidung belang.


"Apa Anda pernah dilecehkan? Maksudnya, walaupun tidak sampai melakukan hubungan badan, apa ada pejabat yang berhasil melecehkan Anda?" tanya polisi.


"A-ada," jawab Linda sambil menunduk.


"Apa?! Siapa manusianya?! Siapa, El?!" Agam sewot. Vano pusing tujuh keliling.


"Tenang Pak, tenang." Vano menahan Agam.


"Lanjutkan keterangan Anda, Bu LB," kata polisi.


"Bukan hanya dilecehkan, kesucianku bahkan diambil oleh pejabat itu."


"APA?!" Semua yang hadir melongo tak terkecuali.


"Pejabat mana yang sudah menodai kamu?! Bukankah saat saya menjahatimu kamu masih suci?!" Agam terbakar cemburu yang berkobar hingga ke ubun-ubunnya.


"Pak Agam, mohon tenang," kata polisi.


"Emm, orang itu ... saat dia menodai dan melencehkanku, dia ... dia ... menjabat sebagai ... sekretaris utama HGC," jelas Linda sambil menutup bibirnya karena menahan tawa.


Puas rasanya bisa balas dendam mengerjai suaminya setelah kemarin sore ia juga dijahili, dikerjai, dan digauli oleh pak Dirut di kolam renang.


"Apa?!" Pak Dirut mengerjapkan mata.


"Hahaha, hahaha."


Keterangan Linda mengundang gelak tawa. Tim peyidik, tim kuasa hukum dan Lindapun tertawa puas.


"Sayang, kamu ---."


Karena tanggung malu, tanpa diduga Linda, Agam memaksa mencium bibir Linda di hadapan semua orang. Sontak semuanya tak lanjut tertawa. Mereka mengganti tawa mereka dengan mengintip adegan romantis itu dari balik jemari.


Sekarang giliran Linda yang malu.


Aku di mana? Aku siapa? Batin seorang asisten penyidik yang kebetulan masih suci dalam pikiran, perkataan, dan perbutan.


Cukup Maga, cukup! Aku malu. Batin Linda.


Lanjutkan! Batin Vano.


...~Tbc~...


...Yuk komentar yuk!...