AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Memanggil Namanya dan Mengkhawatirkannya



Agam dilanda kebingungan, bagaimana caranya ia harus menjelaskan? Mereka masih saling menatap, namun Linda selalu menjadi orang pertama yang memalingkan wajah.


"Ayo, Pak." Ajaknya. Ia tak sabar ingin segera bersua dengan ayah, ibu, dan adik kembarnya.


"Oke," jawab Agam. Keputusannya adalah ia akan pura-pura tidak tahu dan tetap pergi ke rumah Linda.


"Ayahku penjual buah, Pak. Ibuku ibu rumah tangga. Buah yang dijual buah lokal. Ayah membelinya langsung dari pemasok di desa bukan dari pasar induk," jelasnya.


"Hebat," puji Agam. Hatinya semakin kacau tatkala kedai buah yang menjadi tujuan mereka sudah tampak dari kejauhan.


"Kok seperti tutup ya," gumam Linda.


"Kita ke sana saja, dan pastikan," kata Agam.


"Ya harus lah, Pak. Harus ke sana. Mungkin hari ini ayah tidak melapak."


Linda langsung meloncat turun dari mobil, matanya berbinar saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Pak Agam tunggu di sini ya. Saya khawatir ayah dan ibu akan kaget saat melihat Bapak tiba-tiba. Biar aku jelaskan dulu pada mereka," ucapnya seraya sibuk mengambil dua kotak kado untuk Yolla dan Yolli.


Agam mengangguk. Saat ini, ia juga sedang menahan rasa kesal dan marah pada anak buahnya. Bagaimana mungkin mereka bisa kecolongan.


"AARGH," teriak Agam saat Linda sudah keluar dari mobil. Ia memukul setir berkali-kali.


Linda mematung di halaman. Benar saja rumahnya di samping kedai sudah disita, sedangkan kedainya sendiri tertutup rapat. Linda mengucap salam berkali-kali, namun tidak ada sahutan.


Agam yang masih berada di dalam mobil menatapnya dengan perasaan cemas. Tampak jelas raut kesedihan dan kebingungan di wajah Linda. Linda lalu mendekat ke arahnya. Agam segera turun dari mobil.


"Kenapa?" tanya Agam.


"Ayah dan ibu tidak ada, saya mau ke rumah tetangga yang di seberang jalan, mau tanya-tanya sama mereka," jawabnya.


Sebelum Agam mengatakan sesuatu, Linda sudah berlari. Tetangga terdekat Linda memang hanya ada di seberang kedai. Di sisi kiri dan kanan kedai adalah lahan kosong milik pemerintah.


Agam terkejut melihat Linda yang berlari begitu saja, ceroboh. Padahal jalan raya dua arah di depan rumahnya termasuk kategori ramai.


"Bu Linda, hati-hati!" teriak Agam.


Satu detik pasca Agam berteriak, sebuah mobil truk besar dengan kecepatan tinggi melaju dari arah kanan. Melihat ada seseorang yang berlari tiba-tiba, pengemudi truk terkejut. Ia menyalakan klakson berkali-kali. Berusaha menghindar dan mengerem secepatnya.


Linda terkejut, matanya membulat. Linda bingung, kakinya terkunci di satu titik.


Linda berada di jalur tengah jalan di mana mobil dari arah kiri dan kanannya sudah membunyikan klakson berkali-kali. Linda hanya bisa memejamkam matanya kuat-kuat dan memuji Tuhannya saat ia sadar jika mobil truk itu semakin mendekat.


BRUK, tubuhnya terpental dan jatuh. Seiring dengan decitan kuat suara rem mobil truk yang mengerem mendadak, dan PRAK ada suara lain yang turut serta. Rupanya mobil lain di belakang truk menabrak badan truk yang berhenti mendadak.


Beruntung hanya ada dua mobil yang terlibat, tidak sampai ada kecelakaan beruntun yang mengerikan. Namun kekacauan tetap terjadi. Bunyi klakson menggema, kemacetan tak terelakan, pengemudi truk berang. Amarahnya memuncak.


Ini semua gara-gara wanita yang berlari sembarangan itu. Mobil truknya kini melintang menghalangi jalan dari jalur kanan dan menutup sebagian jalan di jalur kiri. Sedangkan ban depannya slip di antara selokan air yang berada di bahu jalan.


"A-Anda tidak apa-apa, kan?" kata Agam. Ia masih mendekap Linda.


DEG, Linda terkejut.Ternyata tubuhnya terpental dan jatuh di atas tubuh Agam Ben Buana. Saat Linda membuka mata, yang pertama terlihat adalah leher putih bersih pria itu, dengan jakunnya yang naik turun perlahan.


Linda segera bangun dan merapikan maskernya meninggalkan Agam. Jantungnya masih berdegup kuat.


Agam masih tergeletak di aspal, ia menatap langit yang terbentang indah luas nan cerah, membiru tanpa awan, sambil mengatur napasnya. Ia bersyukur bisa menyelamatkan Linda.


Alhamdulillaah.


"Kamu mau bunuh diri ya?! Memangnya punya berapa nyawa?!"


Supir truk yang baru saja keluar dari mobilnya langsung membentak dan menunjuk-nunjuk Linda dengan wajah merah padam karena amarah. Sementara warga yang ada di seberang kedai tampak sedang membantu mengurai kemacetan.


"Tenang Pak. Dia tidak sengaja, mohon maaf," ucap Agam.


Mendengar Linda dibentak, Agam langsung bangun dan berdiri di depan Linda.


"Halah, diam kamu! Untung sih ada kamu, jadi dia selamat. Coba kalau tidak ada, pastinya saya yang mendekam seumur hidup di penjara. Padahal bukan saya yang salah, dia yang nyebrang sembarangan. Mobil saya ini kalaupun ngerem perlu waktu untuk berhenti!" jelasnya.


Linda mematung, jantungnya terus berdebar, ia hanya bisa menatap punggung sempurna milik Agam, rambut Agam yang kotor, serta lecet-lecet dan berdarah di kedua sikutnya.


"Berapa kerugian Bapak? Akan saya ganti," Agam melobi.


"Hei, Pak gimana nih?! Saya juga rugi! Ini bukan mobil saya lho, tanggung jawab dong!


Pengemudi minivan keluar dari mobil. Mobil bagian depannya rusak parah.


"Kamu pikir truk itu mobil saya! Kita korban kecerobohan wanita itu!" Pengemudi truk kembali menunjuk Linda.


"Ma-maaf Pak. Saya mengaku salah." Linda menunduk.


Karena kemacetan semakin parah, seorang warga akhirnya inisiatif menghubungi pos polisi terdekat. Kini beberapa petugas Polantaspun sudah berada di tempat kejadian.


"Saya akan bertanggung jawab pada anda berdua. Berapa kerugiannya?" tanya Agam.


Ia lalu memegang tangan Linda yang gemetar.


"Kamu tenang dong," kata Agam.


"Saya penyebab kekacauan ini," lirihnya.


"Ssshhh, saya yang salah," kata Agam.


Salah kamu apa? Batin Linda.


"Selamat sore," sapa seorang polisi yang mendekat.


"Tuh kan, gara-gara kamu nih! Duh, polisi lagi. Kacau deh." Mata supir truk memicing ke arah Linda.


Rahang Agam mengeras. Ingin rasanya menghajar supir truk itu.


"Anda supir truknya kan? Mari ikut saya ke Pos, kamu juga ikut," kata Pak Polisi.


"Pak, tolong jangan bawa saya. Saya gak salah."


"Iya Pak, ini gara-gara dia yang menyebrang sembarangan." Pengemudi minivan bersaksi.


"Pokoknya kalian berdua ikut saya. Em, Anda juga, dan Anda." Pak Polisi menatap ke arah Agam dan Linda.


"Kalian sudah menganggu ketertiban umum. Mari ikut ke Pos." Pak Polisi beranjak.


"Anda tenang, ada saya," kata Agam pada Linda saat mereka sudah berada di Pos terdekat.


Agam lalu menelepon seseorang. Entah siapa. Namun beberapa saat setelah Agam menelepon, seorang polisi langsung datang menghampiri mereka.


"Maafkan kami, Pak. Dan terima kasih," kata polisi tersebut.


"Pak kok Bapak yang minta maaf sih?! Bilang terima kasih segala! Wanita yang bersama laki-laki itu salah, Pak. Saya tak terima. Jangan mentang-mentang mereka putih bersih dan saya kumal!" bentaknya.


Supir truk tak terima. Ia berdiri, mencak-mencak karena merasa diperlakukan tak adil.


"Tolong Anda duduk kembali, Anda salah faham," kata polisi tersebut sambil membungkukkan kepala pada Agam.


"Wahh, rasis nih!!" teriaknya.


Tidak tahan dengan sikap polisi, dengan gerakan cepat, pengemudi truk langsung berlari ke arah Agam untuk menarik masker dan kaca mata Agam. Namun belum sampai tangan itu menyentuh Agam, Pak Polisi sudah menahannya.


"Biarkan saja Pak," kata Agam.


Linda hanya terdiam menggulirkan pandangan dan kebingungan.


"Baik, Pak."


Agam lalu berdiri dan memegang bahu pengemudi truk. Pak Polisi tidak rasis, saya juga sama seperti Bapak. Maaf kalau Bapak merasa tidak nyaman."


"Tidak perlu basa-basi. Coba buka masker kamu!"


"Benar nih, saya juga korban. Saya juga merasa diperlakukan tidak adil," pengemudi minivan juga kini turut berdiri.


"Pak Polisi, biar saya saja yang bertanggung jawab atas kekacauan ini, bagaimana kalau mereka dibebaskan?" ucap Agam sambil membuka masker dan kacamatanya.


Ia lalu melemparkan senyum ke arah pengemudi minivan dan truk. Seketika mereka mundur dan membelalakan mata. Mereka yakin wajah tampan itu sangat familiar, namun siapa?


Sungguh senyuman dan keramahan itu membuat mereka sedikit meleleh. Mereka duduk kembali secara bersamaan dan terdiam.


"Silahkan Bapak komunikasikan saja dengan mereka," kata Pak Polisi.


"Saya sudah melihat kerusakan mobil kalian, saya sudah memprediksi kerugiannya. Minta nomor rekeningnya, menit ini juga akan saya transfer."


Agam menggelengkan kepala.


"Saya ada m-banking," pengemudi minivan menyodorkan ponselnya untuk memperlihatkan nomor rekening pada Agam.


"Oke," kata Agam. Ia mulai melakukan transaksi.


Dan notifikasipun masuk ke ponsel pengemudi minivan.


"Astaghfirullaah," mata pengemudi minivan membulat. Ini adalah kali pertama saldo di ATMnya mencapai delapan digit.


Pengemudi truk merebut ponsel pengemudi minivan.


"Eh, busyet!" teriaknya.


"Mana nomor rekening Bapak?" tanya Agam.


"I-ini Pak," dengan tangan gemetar pengemudi truk menyerahkan ponselnya.


"Sudah saya kirim, Bapak tinggak cek saja di ATM terdekat. Sekarang Bapak-bapak boleh pergi, biar saya saja yang berurusan dengan polisi," kata Agam sambil memakai kembali masker dan kacamatanya.


"Be-beneran kami boleh pergi?" mereka ragu.


"Ya benar, silahkan." Kata Pak Polisi.


"Terima kasih, Pak Polisi dan untuk Bapak yang tampan, saya rasa uang penggantinya terlalu banyak, bagaimana ini?"


"Tidak apa-apa, saya ikhlas kok. Gunakan saja untuk kebutuhan yang lain, tapi ingat jangan digunakan untuk hal-hal yang tidak baik ya," kata Agam.


"Ba-baik, Pak. Sekali lagi terima kasih. Semoga kebaikan Bapak dibalas oleh Tuhan, aamiin." Dan merekapun keluar meninggalkan Pos dengan hati yang riang-gembira.


"Pak Agam, terima kasih. Karena kamera lengkap di mobil Bapak, kami dapat menyimpulkan jika pengemudi truk itu tidak bersalah. Saya tadi akan berterimakasih untuk masalah ini, tapi mereka salah faham sampai keluar kata-kata rasis."


Polisi itu menyerahkan benda berbentuk memory card pada Agam.


"Tidak apa-apa Pak," ucap Agam.


"Ma-maaf saya yang salah." Linda baru bersuara sambil menunduk.


"Kami maafkan Nona. Anda dan Pak Agam boleh melanjutkan perjalanan."


"Apa ada pasal yang kami langgar? Kalau ada berikan saja suratnya, nanti akan saya bicarakan dengan pengacara saya."


"Tidak ada Pak," jawab Pak Polisi.


"Baik, kalau begitu, kami permisi." Agam meraih tangan Linda.


Untuk saat itu Linda tak menolak, namun saat berada di luar Pos, Linda menarik tangannya.


"Saya masih harus mencari info pada tetangga, mungkin saja ibu atau ayah menitip pesan."


"Bu Linda, tunggu. Bisa tidak kamu tenang? Ingat ya, kamu sedang mengandung anak saya."


"Ya saya tahu." Linda memperlambat jalannya.


.


.


"Bu maaf, apa ibu tahu pemilik kedai itu pergi ke mana ya?" tanya Linda. Ia tengah berada di sebuah ruko milik warga.


"Gak tahu ya. Pokoknya pagi ini gak buka. Lagipula semenjak si LB hilang pak Berli dan istrinya jarang berkomunikasi lagi dengan para tetangga," jelasnya.


"Selama ini kedainya ramai gak, Bu?"


"Ramai-ramai saja tuh, malah kata si Juki yang kerja mengemas di kedai pak Berli, hampir tiap hari ada yang memborong."


"Apa saya bisa bertemu dengan Juki?"


"Eh, sebentar, kamu siapa ya? Kok mau bertemu si Juki."


Ibu-ibu itu tampak curiga, ia mendekati Linda, memperhatikan dengan mata membulat dan dengan gerakan cepat menarik masker Linda.


"LB?!" teriaknya. Ia mundur sambil menutup mulutnya.


"Ssst, Bu te-tenang," Linda menempelkan telunjuk di bibirnya.


Namun ibu-ibu tersebut malah berlari keluar ruko dan berteriak.


"Woooy, ada LB, ada LB, ayo cepat lapor polisi ada LB. Di dalam ruko saya ada LB," teriaknya.


"Apa?!"


Agam yang berada di luar ruko terkejut. Semakin terkejut saat warga dan pedagang yang berada sekitar ruko tiba-tiba saja berlari berduyun-duyun untuk masuk ke dalam ruko pastinya.


Linda panik, di balik kaca ia bisa melihat warga yang berduyun-duyun. Ia berlari ke arah dapur ruko tersebut untuk bersembunyi.


"Pak Agam, tolong ...."


Tak sadar bibirnya spontan memanggil nama Agam.


"Mana LB nya?! Mana?!"


Warga yang sudah berada di ruko marah-marah.


"Demi Tuhan, tadi ada di sini," kata pemilik ruko.


"Gimana sih Bu?! Padahal tadi anak saya sudah saya suruh ke pos polisi," kata seorang bapak-bapak sambil bertolak pinggang.


Kamu bersembunyi di mana? Batin Agam.


Di antara kerumunan warga, Agampun mencari Linda.


"Pasti ke dapur," kata pemilik ruko. Ia berlari ke dapur.


Namun Agam telah mendahului pemilik warung, ia ke dapur, terkejut melihat Linda sedang menangis dan bersembunyi di samping galon air.


"Hei kamu siapa?!" Ibu ruko menatap Agam.


Tak ada waktu lagi. Dengan gerakan cepat, Agam menarik Linda dan membawanya ke pintu keluar yang ada di dapur.


"Itu, LB. Wah iya itu LB. Woy siapa laki-laki itu?!" teriak warga yang ikut ke dapur.


"Kepuuung dia yang menculik LB," teriak pemilik ruko.


"Sial, pintunya dikunci," umpat Agam.


"Pak Agam, ba-bagaimana ini?" tanya Linda.


Linda berada tepat di depan pintu dapur, ia bersembunyi di balik dada Agam.


"Te-tenang, sa-saya sedang berpikir."


Agam melindungi Linda dengan menopangkan kedua tangannya di antara tubuh Linda dan bertumpu pada pintu.


"Benar, pria itu pasti yang menculik Linda, LB sadar, kamu dihipnotis sama pria itu!" teriak warga.


"LB lariii, Lindaaa lariii," teriak pemilik ruko.


Linda benar-benar kebingungan. Padahal ini adalah kesempatannya untuk terlepas dari perangkap Agam Ben Buana. Tapi kenapa, kenapa ada perasaan tidak terima di benaknya saat orang-orang itu meneriaki Agam sebagai penculik.


Linda masih kebingungan, dan Agam masih berpikir untuk menemukan ide.


Namun suara sirine mobil polisi sudah menggema, bersamaan dengan kedatangan tiba-tiba seorang warga yang membawa tabung gas tiga kilo gram di pundaknya berlari ke arah Agam sambil berteriak, "Dasar penculik!"


Mata Linda membulat, ia yakin warga itu akan menyerang Agam dengan tabung gas.


"Tidak! Jangaaan!" teriak Linda. Tanpa sadar ia memeluk Agam.


Agam terkejut, insting petarung tangguhnya bisa merasakan jika di belakang tubuhnya ada hembusan angin yang berasal dari gerakan cepat sebuah benda, namun apa yang dilakukan Linda malah membuatnya bergeming. Karena Agam diam saja, Linda berusaha mendorong Agam. Namun pria itu tetap teguh.


"Tidak apa-apa, asalkan kamu dan bayi saya baik-baik saja." Agam mendekap Linda dan memejamkan matanya saat tabung gas itu mendarat.


BUGH, suaranya sangat kuat.


"Tidaaak!" Linda histeris.


❤❤ Bersambung ....