AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kenapa Terus Mencitai Jika Pada Akhirnya Akan Membuatmu Terluka



"Baik, tidak dijawab juga tidak apa-apa kok. Hmm ..., Bapak harum sekali. Saya baru mencium keharuman seperti ini."


"Ah, masa?" kata Agam, matanya fokus pada mobil yang dikemudikan Linda.


Dan kini jalanan mulai lenggang. Terkejut Agam saat Linda melaju dengan kecepatan lumayan tinggi.


"Hsss, apa dia tidak memikirkan keselamatan?" umpatnya.


"Wah, kita harus tancap gas juga, Pak."


"Ya, Pak. Cepat kejar, jangan sampai kehilangan jejak," Agam mulai panik.


Kini rute yang mereka lalui padat merayap. Mobil Linda terhalang oleh satu mobil lain. Dan tiba-tiba mobil itu berbelok dan menepi di bahu jalan.


"Lho, kok berhenti di situ? Bagaimana ini Pak?" kata pengemudi.


"Kita juga menepi Pak, tapi di sisi yang lain." Agam menujuk ke sebuah halaman pertokoan.


"Pak, kalau kita belok ke sana jalan bisa macet," keluhnya.


"Terus Bapak mau ke mana? Pokoknya saya tidak mau kehilangan pencuri itu," tegas Agam.


'Tid.'


'Tiid.'


'Tiiid.'


Klakson di belakang taksi yang ditumpangi Agam bersahutan.


"Wooy, jadi belok tidak, sih?!" teriak pengemudi di belakang.


Agam kian panik, takut kehilangan jejak mobil Linda.


Dan wanita itu keluar dari mobil.


Hah, dia mau apa?


Sementara si pengemudi, sibuk berbelok menuju halaman toko yang dimaksud Agam dibantu oleh petugas parkir.


"Kanan, kanan, kanan, terus kanan, mundur sedikit, kiri sedikit. Stop," kata petugas parkir.


Agam menghela napas, tidak menyangka jika mobilnya akan menjadi sumber kemacetan.


Setelah mobil taksi itu terparkir, Agam melanjutkan pengintaian. Ternyata Linda turun hanya untuk membeli buah mangga di pinggir jalan. Agam terus memperhatikan interaksi Linda dengan pedagang buah.


"Wah, pencurinya itu? Ya ampun, Pak. Penampilan dan bodynya seperti artis," decak pengemudi taksi.


Agam tidak merespon.


"Siapa yang tidak mau dicuri hatinya kalau bentuknya seperti itu, sayangnya pakai masker. Paras aslinya tidak terlihat."


"Cukup, Pak." Tegas Agam. Seperti tidak suka pria manapun memuji keelokan Linda.


"Oh, maaf Pak."


"Maju, Pak. Kita buntuti lagi." Titah Agam.


Dan sayangnya saat mobil taksi itu akan memasuki jalan utama, ada mobil truk yang akan masuk ke area itu, dan kekacauanpun terjadi. Terulang lagi kemacetan yang lebih parah dari sebelumnya. Klakson kembali bersahutan.


"Aarrgghh," teriak Agam ketika menyadari jika ia kehilangan jejak karena terkepung kemacetan.


"Selanjutnya bagaimana, Pak?" Pak pengemudi tampak cemas.


Dan di saat seperti ini, ia baru ingat jika seluruh mobilnya terapasang cip pelacak. Seketika Agam tertawa sambil memegang kepalanya.


"Hahaha, hahaha," gelaknya. Membuat Bapak pengemudi terbengong-bengong.


"Ke-kenapa, Pak?" tanyanya. Melirik pada Agam.


"Saya baru ingat sesuatu. Bapak lanjut, di jalan yang lurus-lurus saja," kata Agam.


Lalu Agam menelepon seseorang, ada beberapa pembicaraan, salah satunya berbunyi seperti ini, "Tolong koneksikan ponselku dengan titik koordinat mobilku yang berwarna putih."


Dan setelah menutup panggilan, Agam geleng-geleng kepala.


Sungguh, Linda telah meracuni kemampuan otaknya sampai-sampai ia lupa kalau bisa melacak keberadaan Linda melalui cip yang ada di mobil. Serta baru teringat jua, jika ponsel Lindapun telah dipasang cip tanpa sepengetahuan Linda.


Andai sadar sedari tadi, ia tidak akan serepot ini. Tapi ya, namanya juga lupa. Kalau lupa itu suka tidak ingat.


"Ke kiri Pak," sambil menatap layar ponsel.


"Lho, kata Bapak jalan yang lurus-lurus saja."


"Untuk jalan kehidupan baiknya memang yang lurus-lurus saja, kalau ini kan jalan raya, bukan jalan kehidupan," terang Agam.


"Hahaha, Bapak bisa saja. Oiya, Bapak sepertinya masih muda, tampan, terlihat baik hati dan gagah."


"Aamiin, terima kasih," kata Agam.


"Kalau belum punya pacar, mau saya kenalin sama anak saya tidak, Pak?"


"A-apa?!"


Dejavu, jadi ingat pada pak Barata yang ingin menjodohkannya dengan Mia.


"Ti-tidak, Pak. Maaf, bukan saya menolak, tapikan sudah saya katakan hati saya telah dicuri sama wanita yang tadi." Kali ini langsung ditolak. Tidak ingin ada Mia kedua, cukup Linda saja satu-satunya.


"Dijadikan yang kedua juga sepertinya anak saya suka kalau sama Bapak. Anak saya cantik kok Pak, mau lihat fotonya?"


"Ti-tidak perlu."


Ya ampun kok jadi begini. Batin Agam.


"Saya serius, Pak."


Oh ya ampun, Bapak ini membuatku ingin marah.


Agam menghembuskan napas.


"Pak stop sampai di sini," kata Agam.


"Lho, kenapa Pak? Kita belum berhasil mengejarnya, kan?" Sambil menepi dan berhenti di bahu jalan.


"Saya ada urusan lain Pak. Ini untuk Bapak, kembaliannya ambil saja." Agam bergegas turun.


"Pak, Pak, boleh minta nomor teleponnya," teriak pengemudi itu.


Agam terkejut, dan saat menoleh ke belakang, supir taksi itu mengejarnya.


"Pak, tungguuu."


"Ah, siaaal." Dengus Agam.


Segera ia berlari di trotoar untuk menghindari Bapak tersebut. Setelah dirasa aman, Agam berpikir hendak memesan mobil taksi lagi, tapi urung. Khawatir kejadian serupa terulang lagi.


Terpaksa Pak Dirut HGC idaman para calon mertua itu berjalan kaki untuk mencari rental mobil atau motor. Sayangnya, dari keterangan orang-orang yang ia tanya, letaknya sangat jauh.


Orang yang ia tanyapun terus menatapnya saat Agam berlalu, dan membuat Agam tidak nyaman. Padahal, wajah Agam tidak terlihat, tapi keberadaanya di jalanan ternyata menjadi pusat perhatian.


Ya, penampilannya memang mencolok dan di atas rata-rata. Dari ujung rambut hingga ujung kaki terlihat mahal. Sepatunyapun sangat mengkilat. Belum lagi saat ia lewat, wangi Agam semerbak.


Putih bersih pula, dan sopan. Agam membungkukkan badan saat melewati kerumunan, dan mencubit pipi anak kecil yang berpapasan dengannya.


"Itu siapa?"


"Baru lihat pejalan kaki bening begitu."


"Dia cari apa ya?"


"Ya ampun, harum sekali."


Agam hanya tersenyum getir, andai ia membuka maskernya, mungkin banyak di antara mereka yang menatapnya dengan sinis. Karena hampir semua orang di kota ini banyak yang percaya dan termakan berita hoax fitnah keji itu.


Sebenarnya ada angkutan umum yang lalu-lalang, tapi tatapan para penumpang membuat Agam membatalkan niatnya menaiki angkutan umum.


Ia terkejut melihat titik kordinat mobil Linda sudah berhenti di sebuah tempat. The Princes Restaurant and Hotel. Sebuah hotel sekaligus restoran mewah yang letaknya sekitar empat kilometer lagi.


Agam semakin kebingungan, dan matanya tiba-tiba melihat mesin ATM dan motor matic yang terpakir di depannya.


Langsung mendekat saat seorang remaja memakai seragam sekolah menengah pertama keluar dari ATM. Maksudnya, keluar dari tempat yang di dalamnya ada mesin ATM.


"Hallo, De." Sapa Agam.


"Ya, hallo juga." Menatap heran pada Agam.


"De, Kakak boleh pinjam motornya tidak, nanti dibayar."


"Eh, kamu siapa?! Untuk apa?! Kamu mau maling ya?!" Melotot pada Agam sambil menaiki motornya.


"Kakak serius. Kalau tidak percaya ayo kita ke ATM sama-sama. Kakak mau ambil uang tunai 50 juta untuk sewa motor kamu. Tapi minta alamat kamu juga untuk mengembalikan motornya."


"Apa?! Lima puluh juta, untuk pinjam motor, kenapa tidak naik motor online saja?! Dasar aneh!"


"De, tolong saya serius. Seratu juta deh, mau ya." Agam memegang bahu anak itu.


"Apa?! Seratus juta, Kakak ini ganteng tapi aneh lho. Kakak maling ya?!"


"Bukan, De. Bukan." Agam kebingungan.


"Wah, maling motif baru nih. Sengaja menggunakan kegantengan untuk maling."


"De, kamu salah fa ---."


"Maliing! Maliiiing! Woooy di sini ada maling!" teriak anak tersebut.


Sontak orang-orang di sekitaran menoleh dan berlarian ke arah anak itu dan Agam pun panik.


Jika diam saja, bisa jadi dikeroyok. Dijelaskanpun belum tentu ada waktu dan dipercaya. Tapi kalau dia lari, seolah-olah yang diteriakan anak itu benar adanya.


Lari kena, diam kena.


Oh tidak.


Tidak rela juga wajahnya babak-belur, tidak baik juga menyerang warga yang salah faham. Untuk meminta bantuan pada anak buahnyapun tidak memungkinkan.


Mereka semakin mendekat.


Aduh bagaimana ini?


Ada satu cara untuk menyelamatkan diri dengan cara cepat. Tapi warga sudah terlanjur berkerumun. Mereka menyerang Agam ramai-ramai, istilah lainnya mengeroyok.


Pada saat seperti inilah kekuasaan, kemampuan, dan kekayaan terkadang boleh disombongkan. Agam mengambil pistol dari tasnya dan menarik si anak yang menjadi biang kerok untuk dijadikan tameng.


"Berani bergerak? Maka anak ini." Hanya sampai di situ ucapannya, karena memang tidak ada maksud jahat.


"Tahan semuanya, tahaaan," teriak warga. Mereka mematung dan tidak berani medekat.


"Kalau ada yang lapor polisi, maka anak ini," kata Agam.


Warga hanya bisa melongo.


"Saya bukan orang jahat. Tapi saya butuh anak ini," sambil menyeret dan memaksa anak itu naik kemballi ke atas motornya.


"Mingiiir!" teriak Agam sambil mengacungkan senjata.


"Cepat nyalakan motornya!"


Dengan tangan gemetar ia mengikuti perintah Agam.


"Kenapa kalian diam saja?! Bisa jadi ini pistol bohongan." Si bocah rupanya masih bernyali.


Saatnya Agam beraksi.


Tap, tatapan Agam terkunci pada botol kaca yang tergeletak di jalanan akibat tangan jahil yang membuang sampah sembarangan.


Sebelah matanya memincing, menggigit sendiri bibir bawahnya.


Dan .... Peluru melesat secepat kilat.


'DOR.'


Rip botol. Hancur-lebur menyatu dengan serpihan tanah dan kerikil-kerikil kecil, bersamaan dengan warga yang membeliak, melongo, terkejut dan berteriak histeris. Bahkan ada yang jatuh pingsan.


"Mamaaa, huuu huuu ...." Anak itu menangis setelah tahu pistol Agam adalah asli.


"Cepat antar saya ke The Princes Restaurant and Hotel. Sekarang!" teriak Agam sambil menahan senyum sekaligus merasa bersalah karena telah mengagetkan warga.


"Cepat, De!"


"Ba-baik, Kak. Huuuks ...."


'BRUUM.' Motor itu melaju lambat.


"Ya ampu, De. Menuduk!"


"Simpan tanganmu di dada," kata Agam sambil memasukkan pistol ke tasnya.


"Ba-baik, Kak."


Agam mengambil alih kemudi. Motor itu melesat. Si bocah menunduk, tubuhnya masih gemetaran.


"Kejaar!" teriak salah satu warga.


"Oh ya ampuun."


Agam menambah kecepatan, dan tangan kirinya melakukan panggilan cepat pada seseorang untuk menghalau warga yang mengejarnya.


***


The Princes Restaurant and Hotel


Jantung Angga berdegup, siapap sih yang tidak senang akan bertemu dengan pujaan hati?


Apalagi kekasihnya itu super cantik, terkenal, dan ia sudah tidak bertemu dengannya hampir dua tahun lamanya.


Rindu ....


Angga sangat merindukan Linda. Rasanya ingin segera membelai rambutnya, mencium tangannya dan memeluk tubuhnya yang terakhir ia lihat semakin cantik dan seksi.


Angga sudah memesan tempat. Satu hal yang membuat Angga bingung adalah Linda melarang Bagas untuk memberikan nomor barunya. Saat ini yang ia kirimi pesan adalah Bagas.


"Katakan pada Linda kalau aku menunggu di lantai 5, kursi nomor 8."


"Oke." Balasan dari Bagas.


"Dia sudah sampai di mana?"


"Sekarang sudah ada di lantai satu. Kak Angga tunggu saja."


"Kenapa Linda tidak mau nomor barunya diketahui olehku, hahh?"


"Kak Angga tanya saja langsung sama orangnya, saya juga tidak tahu, Kak."


Bagas mengakhiri percakapan setelah minuman yang ia pesan sudah tiba. Ia memesan dua minuman yang berbahan dasar kopi, dan mix fruits.


"Kak Bagas ...." Suara yang ia rindukan memanggilnya


Linda sudah berada di belakangnya. Ia menunduk, memegang baju seraya menahan tangis yang sebentar lagi akan membucah.


"Linda."


Angga berlari tak sabar ingin memeluknya. Tapi apa yang ia dapatkan? Kekasihnya itu malah mundur dan menjauh. Lalu duduk perlahan di kursi, dan menangis menundukkan kepalanya pada meja.


Angga melongo kebingungan. Tidak biasanya Linda seperti ini. Ada apa gerangan? Bukankah Linda sudah terkenal?


"Kamu kenapa, Nda?" Mungkin 'Nda' adalah panggilan sayang Angga untuk Linda.


"Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku, Kak?" Masih membenamkan kepala pada meja.


"Kamu yang tidak pernah menghubungiku. Sampai saat ini aku masih menyimpan nomor lamamu. Aku hafal nomor lamamu, yang ganti nomor kan kamu. Bukan aku."


Angga menggeser kursi untuk mendekat. Tangannya mengambang di udara. Ingin mengelus kepala Linda tapi ragu. Syak wasangka menyeruak. Linda telah berubah. Jika dugaan Angga benar, maka pria itu harus menerima balasannya.


"Kenapa kamu seperti ini, kamu tidak merindukanku?" Memegang tangan Linda yang halus.


"Aku bingung harus mengatakan apa Kak. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini."


Linda mengangkat kepalanya, dan perlahan menatap Angga dengan air mata yang terus berurai.


"Linda, tolong jangan seperti ini, jangan membuatku bingung." Angga mengusap air mata Linda.


"Kamu minum dulu ya ...."


"Tidak mau Kak."


"Bukannya ini minuman kesukaan kamu?"


Aku hamil Kak. Aku tidak minum yang berkafein. Batin Linda.


"Aku tadi sudah minum."


"Kamu kenapa? Tolong katakan, aku berkunjung ke rumahmu, tapi tidak ada siapa-siapa. Sekarang kamu tinggal di mana? Ayo kita perbaiki hubungan kita. Aku rela kuliah jauh-jauh salah satunya adalah demi kamu dan masa depan kita." Menatap Linda dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan.


"Maafkan aku, Kak .... A-aku menemui Kakak karena ingin membahas hubungan kita," lirih Linda.


"Maka dari itu, ayo kita perbaiki. Aku pulang untuk melamarmu, Nda. Aku ke rumahmu untuk melamarmu pada ayah, tapi ... rumahmu kosong."


"Ti-tidak perlu repot-repot melamarku, Kak ...."


"Kenapa? Walaupun kita jarang berkomunikasi, tapi dari awal aku memang serius ingin menikahi kamu." Angga memegang bahu Linda.


"Maafkan aku Kak ... se-sepertinya a-aku ti-tidak bisa melanjutkan hubungan kita."


"Maksud kamu?!" Angga berdiri.


"Aku ingin mengakhiri hubungan kita. A-aku ma-mau kita putus." Linda menunduk, dan terisak.


Jujur, ia merasa bersalah pada Angga, tapi ... saat ini di hatinya sudah ada satu nama. Walau nama itu tidak untuk dimiliki, tapi ... Linda tidak ingin membohongi Angga dengan berpura-pura mencintainya.


Ya, dulu ia memang menyukai Angga, tapi cintanya pada Angga sudah memudar bahkan sebelum ia mengenal Agam. Niat untuk mengakhiri hubungan dengan Angga ternyata sudah terbesit sejak setahun yang lalu. Namun karena hilang kontak, niat itu belum terucap.


"Tidak, Linda. Kita tidak boleh putus. Aku mencintai kamu. Alasannya apa, hahh? Tolong jelaskan."


Angga memegang kedua tangan Linda, lalu mencium tangan itu laksana musafir cinta. Matanya berkaca-kaca. Ini di luar dugaan, terasa menyakitkan, dan ia tidak akan menyetujuinya.


"Alasannya ... karena aku merasa su-sudah tidak mencintai Kak Angga lagi?"


"Apa gara-gara mama dan papaku?! Aku bisa menentang mama dan papaku demi kamu," tegasnya.


"Jangan bawa-bawa mama dan papamu, Kak. Aku sudah memaafkan mereka."


"Lalu apa masalahnya? Kemarin, saat aku mengatakan ingin melamarmu, mama dan papaku sudah setuju. Aku serius."


"Selain aku tidak nyaman, aku juga punya alasan yang kuat, Kak. Dan untuk alasan yang ini aku tidak menjelaskannya."


"Linda, tolong ... jangan begini, please ... apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa menerimaku lagi?"


"Tidak ada, Kak. Semuanya sudah berakhir. Cukup sampai di sini. Maaf jika selama ini aku sering merepotkanmu, atau membuatmu bersedih dan kecewa."


"Terima kasih atas cinta, kebaikan, pengalaman, dan harta yang telah kamu berikan untukku atau adik-adikku. Semoga Kakak bisa mendapatkan wanita yang baik. Kak Angga pria baik. Sudah sepantasnya menadapatkan wanita yang baik juga."


"Tidak Linda, aku tidak mau putus."


Angga menarik Linda dan mendekapnya. Kali ini Linda tidak menolak, pikirnya ini adalah pelukan terakhirnya untuk Angga.


"Tekadku sudah bulat, Kak. Tolong Kakak fahami aku. Kenapa harus terus mencitai jika pada akhirnya akan membuat kamu terluka. Aku takut melukai kamu, Kak."


Linda menatap Angga dalam-dalam. Sedangkan tangan Angga masih melingkar di pinggannya.


Linda dan Angga tidak sadar jika di sudut meja nomor lima, ada seorang pria tegap yang tengah menatap mereka. Manik di balik kaca mata itu sebenarnya sangat teduh dan menenangkan. Namun entah kenapa saat ini seolah telah berubah menjadi sorot mata elang yang tajam dan siap nenerkam.


Pria tegap itu adalah Agam. Ia baru saja datang saat Linda dan Angga berpelukan.


Agam menyembunyikan kepalanya di balik lembar balik menu restoran. Ingin rasanya memotong tangan Angga yang melilit di pinggang memesona itu sekarang juga.


Agam murka, tapi ... kemudian tersadar jika posisinya ada di pihak yang salah.


Dengan hati yang sakit dan rapuh, Agam branjak meninggalkan ruangan itu di saat minuman pesanannya baru saja tiba.


.


.


.


Linda melepaskan diri dari dekapan Angga.


"Aku harus pergi Kak. Semoga kamu sukses, aku tidak akan melupakan kebaikamu."


Linda menepuk bahu Angga di saat pria itu masih mematung. Lalu meraih tasnya dan pergi.


Angga tersadar dan mengejarnya.


"Linda, tungguuu."


Linda berjalan cepat tanpa mempedulikan panggilan Angga.


Dan saat ia hendak masuk ke dalam lift di sisi kanan, sebuah tangan dari dari lift di sisi kiri tiba-tiba menarik tangannya. Saat Linda akan berteriak, tangan sosok itu membekap mulutnya.


Dan di dalam lift itu hanya ada Linda dan dia.


❤❤ Bersambung ....