AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
LB is Back and She is So Stunning



Terkejut ketika sadar ia sudah berada di dalam kamar dan Agam menatapnya. Linda berusaha bangun, tapi Agam menahan bahunya.


"Kamu istirahat saja, oke?"


"Tapi Pak, syutingnya ...?"


"Jangan bahas itu dulu. Kesehatan Anda lebih penting. Ingat, di tubuh Anda ada raga yang lain," kata Agam dengan suara pelan.


DEG, Linda tersadar akan kejadian sebelum ia jatuh pingsan. Semua ucapan pedas nan menyakitkan dari mulut Ririn terngiang kembali. Dengan mata berkaca-kaca seraya menatap langit-langit iapun mencoba mengatakan sesuatu.


"Pak Agam," gumamnya.


"Ya, kenapa? Perlu sesuatu?"


Agam menatapnya lekat. Tersirat jelas jika pria ini begitu khawatir dengan keadaan wanita di sampingnya.


"Saya mau membatalkan kontraknya." Dengan berat hati Linda mengutarakan isi hatinya.


"Em, boleh. Karena Anda pingsan saya bisa memaklumi," kata Agam.


Jawaban Agam justru membuatnya semakin gelisah. Semudah itukah membatalkan kontrak ekslusif? Apa ini karena ia diistimewakan oleh Agam? Sebenarnya, penilaian seperti apa yang disematkan oleh Agam untuk dirinya?


"Bapak serius?" tanya Linda seraya mencuri pandang.


"Saya serius. Jika Anda mau seperti itu, saya tidak memiliki kuasa," kata Agam.


Dan saat itulah Bagas datang.


"El, kamu sudah sadar?"


Bagas meletakkan teh manis dan minyak hangat di samping Linda.


Linda lalu duduk, dan Agam membantunya. Agam meletakkan beberapa bantal di punggung Linda yang mana membuat Bagas menoleh curiga.


"Bagas, ambil draft kontrak yang saya berikan tempo hari," kata Agam.


"Untuk apa, Pak?"


"Bu Linda harus tanda tangan poin pembatalan kontrak."


"APA?! El, kamu sudah gila ya?! Kamu serius mau membatalkan kontrak?!"


"Bagas, jangan membentaknya. Atau leher kamu saya cekik," ancam Agam.


"Bagas, aku serius. Lagipula tadi kata Pak Agam tidak apa-apa. Ya kan Pak?"


"Benar, memang tidak apa-apa," kata Agam.


"El, tunggu di sini aku mau ambil dulu surat perjanjian kontraknya. Tunggu sebentar." Bagas berlari keluar dari kamar.


Kok Bagas panik sih? Batin Linda.


"Maaf ya Bu Linda. Niat awal saya menjadikan Anda bintang iklan, tadinya ya untuk menaikan popularitas Anda. Selain itu, Anda juga sangat berbakat. Saya sudah melihat kinerja Anda saat pemotretan dan saat review rumah makan sederhana itu.


.


.


BRUK, pintu kamar terbuka keras, tampak Bagas terengah-engah membawa map berisi perjanjian kontrak iklan.


"El, baca poin terakhir bab pembatalan kontrak oleh aktris atau aktor." Bagas menyodorkan berkas tersebut ke hadapan Linda.


"Apabila aktor/aktris/bintang iklan melakukan pembatalan kontrak secara tiba-tiba, maka biaya produksi iklan yang telah dikeluarkan HGC akan dibebankan pada aktor/aktris/bintang iklan yang dimaksud pada bab 2."


"Pembatalan tanpa alasan yang jelas, terkecuali sengaja dibatalkan oleh HGC, maka aktor/aktris/bintang iklan yang dimaksud pada pada bab 2, tidak akan lagi mendapatkan kesempatan iklan produk HGC di masa mendatang."


Itulah dua poin yang dibaca Linda. Ia menghela napas dalam. Ia juga ingin melanjutkan proyek ini, namun rasa tak layak itu mengganggu batinnya.


"Pak Agam, berapa kira-kira denda yang harus saya bayar?"


"El, please kamu jangan gila! Ini peluang emas untuk karir kamu, El."


Bagas gusar tingkat dewa. Ingin rasanya menyiram temannya yang cantik nan molek itu dengan air es agar tersadar jika dirinya telah menyia-nyiakan kesempatan.


"Emm, laporan biayanya ada di sekretaris. Data terbarunya belum saya lihat. Di data lama, saya lihat HGC telah mengeluarkan biaya sekitar 600 juta untuk proyek iklan ini."


"APA?! 600 juta?!"


Linda memegang dadanya dan melotot tak percaya.


"Apa kataku El, itu data lama lho, El. Data terbarunya bisa jadi sudah mencapai 1 M. Sadar dong, El. Kamu jangan membuat aku mati mendadak El." Wajah Bagas begitu putus asa.


Linda merenunung. Bibirnya mengerucut, matanya berkedip berkali-kali. Agam menatap ekspresi itu. Bagi Agam Linda terlihat menggemaskan.


"Kalau Anda yakin ingin membatalkan, biar saya yang membayar dendanya."


Ucapan Agam membuat Linda dan Bagas saling menatap. Bagas semakin yakin jika Linda dan Agam terlibat hubungan tidak biasa. Sejenak yang tercipta hanya keheningan.


.


.


Linda dilema, dari mana ia bisa membayar uang denda sebesar itu? Hmm, iapun garuk-garuk kepala.


"Pak Agam, tolong beritahu wanita ini agar sadar." Bagas menatap Agam penuh harap.


Agam hanya mengangkat bahu, yang artinya terserah. Semua keputusan ada di tangan Linda.


"El, alasannya apa? Tolong jelaskan kenapa kamu ingin membatalkan kontrak? Ini hampir selesai El. Kamu tinggal ambil take untuk iklan saja."


"Saya merasa tidak layak untuk mendapatkan kesempatan ini, Gas."


"El, tolong jangan panggil Gas, nanti kalau aku meledak bagaimana?"


"Bagas, tolong kamu keluar dulu," kata Agam.


"Tapi Pak."


"Bagas."


"Ba-baik, Pak." Bagas beranjak.


.


.


"Minum," Agam menyodorkan teh manis.


Sruluup, Linda meminumnya sambil menatap aneh pada Agam.


"Jadi, alasan Anda menolak proyek iklan ini karena merasa tidak layak?" Agam membalas tatapan Linda dengan tajam.


"I-iya, Pak."


Langsung tertunduk. Aura membunuh dari punggung Agam seakan muncul tiba-tiba, berwarna merah menyala laksana api yang berkobar.


"Jadi Anda menyepelekan saya ya Bu Linda. Dengarkan saya, saya memilih Anda menjadi bintang iklan itu tidak mudah. Saya telah melakukan survey secara mandiri untuk meyakinkan tim pemasaran bahwa kamu itu layak. Asal kamu tahu ya LB, saat Anda review di rumah makan sederhana itu saya sudah menilai Anda," tegasnya.


"Lho, ke-kenapa Pak Agam marah? Tadi Bapak bilang tidak apa-apa, kan?" Masih tertunduk.


"Saya mengira Anda ingin membatalkan kontrak karena khawatir dengan kehamilan Anda."


Linda malah menunduk, mengatupkan bibir dan menahan tangis.


"Bu Linda, bintang HGC tidak boleh cengeng. Mari kita bekerja profesional. Ayo lanjutkan syutingnya." Ia menarik tangan Linda.


"Pak Agam, sebenarnya ... saya juga ingin melanjutkan proyek ini, tapi saya merasa tidak layak. Honor saya juga terlalu besar, padahal sayakan pendatang baru."


"Gara-gara saya, artis-artis yang telah terlibat iklan di HGC tidak dikontrak lagi, padahal mereka lebih layak daripada saya."


Agam menyimak dengan kening mengkerut.


"Saya juga tidak mau kedekatan saya dengan Bapak memunculkan asumsi negatif. Saya takut kedekatan kita disalahartikan," ucap Linda.


Linda semakin menunduk, suaranya lirih, tangannya terlihat mengusap sesuatu yang berlinang di pelupuk matanya.


"Tunggu, saya merasa ada yang aneh. Saat kita di HGC, Anda begitu bahagia melihat nilai kontraknya. Kenapa Anda tiba-tiba berubah? Apa ada seseorang yang memprovokasi?"


"Ti-tidak, Pak. Ti-tidak ada." Suara Linda gemetar.


"Jangan berbohong. Tatap mata saya Bu Linda." Agam mendekat.


Linda yang duduk di tempat tidur tampak kikuk. Tidak mungkin ia menjelaskan jika dirinya merasa tidak nyaman akibat ucapan Ririn.


"Bu Linda," tak sabar Agam mendongakan dagu Linda.


"Jawab dengan jujur, cepat."


"Be-begini Pak. Saya ma-mau bertanya dulu. Ada banyak pertanyaan tolong Bapak juga jawab jujur ya." Perlahan Linda melepaskan tangan Agam.


Tak nyaman rasanya dagunya dipegang oleh Agam. Bukannya tidak mau, tapi ... sentuhan tangan pria itu semakin kesini semakin terasa hangat dan memicu jantungnya untuk berdebar semakin cepat.


.


.


"Mau bertanya tentang apa?" Agam, duduk di kursi kerja dan menatapnya.


"Begini, pertama ... sebutkan alasan Bapak memilih saya menjadi bintang iklan? Kedua, apa Dirut HGC tidak apa-apa terlibat langsung dalam proyek iklan?"


"Begi ---."


"Tunggu Pak, masih ada pertanyaan lain," sela Linda.


"Oh. Lanjutkan." Agam mempersilahkan.


"Keempat ---."


"Ketiga dong, tadi baru kedua." Agam protes.


"Oh ya, maaf Pak. Ketiga, apa dengan keberadaan saya artis-artis HGC dirugikan?"


Hmm, yakin pasti ada seseorang yang mempengaruhi dia. Siapa ya? Kurang ajar. Rahang Agam mengeras. Alisnya bertaut.


"Keempat ---."


"Masih ada?"


"I-iya Pak, masih."


"Keempat, apa Bapak memilih saya karena saya mengandung anak Bapak?"


"Ada lagi?"


"Ti-tidak ada Pak. Untuk sementara cukup."


"Baik, akan saya jawab. Pertama, alasan saya memilih Anda karena Anda memang layak, titik. Kedua, saya terlibat langsung karena proyek iklan ini adalah bagian dari visi dan misi saya sebagai Dirut baru HGC."


"Salah satu misi saya adalah the sea has given, then give the sea something (laut telah memberikan, maka berikanlah sesuatu pada laut). Dirut baru diberikan kebebasan mempromosikan programnya termasuk memilih aktris atau aktor yang diinginkan untuk mendukung program tersebut."


"Sungguh?" tanya Linda. Ada seulas senyum di bibir merahnya.


"Saya serius, bagian pemasaranpun tahu jika Dirut HGC bertanggung jawab atas keseluruhan visi dan misinya selama saya tidak menugaskannya pada orang lain."


"Em ... keberapa sekarang?"


"Ketiga, Pak."


"Ketiga, keberadaan Anda sama sekali tidak ada hubungannya dengan artis-artis HGC sebelumnya."


"Kenapa? Karena setiap masa jabatan baru Dirut HGC, memang selalu ada pergantian bintang iklan."


"Jadi, kontrak mereka tidak diperpanjang bukan gara-gara ada saya?"


"Hahaha, kenapa Anda bisa berpikir seawam itu? Kontrak mereka memang sudah selesai tahun ini. Hak paten HGC untuk memilih siapapun yang akan jadi bintang iklan. Tidak ada istilah bintang iklan tetap di HGC, yang ada itu karyawan tetap."


"Begitu rupanya."


Linda menautkan alis. Artis Ririn ternyata licik juga pikirnya.


"Keempat, proyek iklan ini akan tetap ada jikapun saya dan Anda tidak pernah bertemu. Hanya saja, saat ada deadline untuk menentukan bintang iklan, yang terlintas di kepala saya adalah LB," jelas Agam.


"Tidak terpikirkan artis atau aktor lain?" Linda tersipu.


"Tidak, nah setelah itu, saya dan tim melakukan observasi, mengecek profil Anda, prestasi Anda, penampilan Anda saat membaca berita, sampai penampilan saat menjadi host, jadi bintang tamu dan reality show."


"Setelah saya dan tim pemasaran melakukan evaluasi, hasilnya ... Anda memang orang yang tepat dan sesuai dengan kriteria kami."


"Jadi, Bapak memilih saya bersama tim?"


"Ya iya lah, masa ya iya dong? Saya hanya mengajukan nama Anda, selebihnya manajemen pemasaran yang menentukan."


Agam berdiri sepertinya ia akan bersiap melanjutkan kembali ativitasnya.


"Pak tunggu, untuk honor bagaimana? Kenapa nilai kontrak saya sama dengan artis papan atas?"


"Bu Linda, honor itu bukan saya yang menentukan. Nominal honor berubah setiap tahunnya sesuai dengan nilai tukar rata-rata mata uang negara kita terhadap dolar."


Linda mengangguk-angguk.


"Di HGC itu tidak ada istilah artis lama atau baru, jumlah honor sudah ditetapkan oleh perusahaan. Siapapun artisnya akan mendapatkan nilai yang sama sesuai lamanya kontrak. Itulah bedanya HGC dengan perusahaan lain."


.


.


"Eh, sepatu saya di mana ya?" imbuhnya.


Ia sampai berlutut dan mencari ke kolong ranjang.


"Aaaa!"


Linda tiba-tiba berteriak histeris, Agam terkejut.


Namun sejurus kemudian Agam harus bersiap menerima tubuh Linda yang melompat ke pangkuannya.


"Ke-kenapa? A-ada apa?" tanya Agam saat wanita itu memeluknya, memejamkan mata, dan bersembunyi di dadanya. Senangnya bisa memeluk wanita pujaan tanpa harus ada usaha.


Ya, Linda yang datang sendiri ke pelukan Agam.


"Di-di ko-kolong ranjang ada u-u-ular, Pak."


"Apa?! Ular?!"


"Ssssttt, jangan keras-keras Pak, takut dia terganggu."


Spontan Linda menempelkan jari telunjuknya di bibir Agam yang tipis dan merah alami.


Wanita ini, benar-benar ya. Ingin rasanya Agam menggigit jari yang indah lentik itu untuk memberinya hukuman karena telah berani menyentuh bibirnya.


"Apa Anda yakin itu ular? Mungkin ikat pinggang," bisik Agam.


Sambil menyelam minum air.


Agam menghidu telinga itu penuh penghayatan. Bahkan matanyapum sampai terpejam.


"Saya yakin Pak. Tadi ... mata kecilnya bersitatap dengan saya."


"Apa mungkin ular bisa masuk ke kamar ini?" Bibirnya semakin menempel di telinga Linda.


DEG, Linda panas dingin begitu merasakan hempasan napas Agam Ben Buana seperti membelai telinganya.


Ini gila. Tapi ... ini menyenangkan. Rasanya hangat dan menggelitik. Batin Linda.


"Sangat mungkin Pak. Lihat celah itu, dan daun pohon cemaranya menempel ke jendela. Di belakang biro iklan ini tadi saya lihat ada lahan kosong yang dipenuhi semak belukar, jadi wajar kalau ada ular masuk ke sini."


"Kenapa dia masuk ke sini ya?" bisiknya. Fix, Agam mencium telinga Linda.


Sedari tadi leher Agam menekuk demi mensejajarkan diri dengan telinga Linda. Tapi, pria itu belum menunjukkan tanda-tanda kepegalan.


"U-ular itu berdarah dingin, ma-masuk ke kamar ini pasti ingin mendapatkan kedinginan, Pak."


Ularnya ingin mendapatkan kedinginan? Memangnya, tidak ada ya ular yang ingin mendapatkan kehangatan? Batin Agam.


Lucu. Agam tersenyum.


Ular itu suka dengan tempat yang teduh dan lembab, Pak. Di luarkan panas, udara di sini mungkin sesuai dengan suhu yang ia inginkan," gumam Linda.


Aku sudah gila, aku merasa dia bukan berbisik di telingaku. Tapi ... menciumi telingaku. Ahhh ..., aku ingin mengeluh. Rasanya geli sekali. Batin Linda meracau.


"Emm, mungkin ular mulai bosan," kata Agam. Bibirnya masih setia di telinga Linda yang mulai memerah.


"I-iya Pak, mungkin ... karena habitatnya dirusak oleh manusia. Bisa jadi ular yang di kolong itu adalah penghuni lahan ini sebelum dijadikan biro iklan."


"Benar .... Saya setuju dengan Bu Linda, dia pasti mencari kedinginan, keteduhan dan kelembaban di tempat ini."


.


.


"Permisi, apa saya boleh masuk?"


Suara Bagas mengakhiri adegan manis tersebut. Berakhirlah sudah kesenangan Agam dan desiran di tubuh Linda.


"Masuk," sahut Agam.


Ia bergegas ke kursi, segera mengambil kotak khusus untuk membersihkan kacamatanya. Agam tampak gugup.


Linda membuka pintu, iapun sama kikuknya. Tangannya gemetar saat memegang handle.


"Bagas, aku akan melanjutkan kontraknya."


"Apa?! Serius?!" Bagas berbinar.


Linda mengangguk.


"Yeeey, alhamdulillah." Tak sadar Bagas memeluk Linda.


BRAK, terdengar suara meja yang dipukul kuat.


Linda dan Bagas terperanjat, bersamaan dengan sesuatu yang muncul dari kolong ranjang.


"Hessshh ...."


Sambil menjulur-julurkan lidahnya, sang ular keluar.


"Hahhh!! U-ulaaaaar."


Bagas lari tunggang-langgang ke lantai satu. Sedangkan Linda hanya mematung, ia tidak jadi berlari saat seseorang mendekapnya dan mengatakan, "Tidak perlu takut, kan ada saya."


"Pak Agam, ularnya ...."


Agam dan Linda melongo ketika sang ular berlalu begitu saja meninggalkan kamar melalui roster pintu atau ventilasi udara yang ada di bagian atas bingkai jendela.


Sampai bagian ekornya menghilang mereka masih berpelukan, hingga tidak menyadari jika staf dan kru biro iklan sudah berada tepat di depan kamar dengan senjata masing-masing.


Sorot mata Ririn yang ada di barisan belakang tampak tak ramah, rahangnya mengeras, tangannya mengepal.


Tidak diragukan lagi, LB adalah wanita murahan yang merayu Dirut HGC.


"El," Bagas memanggil.


"Ba-Bagas?"


Linda tersadar, melepaskan diri dari dekapan Agam dengan pipi memerah. Langsung berjalan cepat menuju lantai satu tanpa alas kaki alias nyeker.


"Lanjutkan syutingnya, sekarang." Tegas Agam.


"Ba-baik Pak." Seluruh staf balik kanan.


.


.


"Ririn, saya perlu bicara."


DEG, Ririn melongo. Ia tidak jadi turun bersama yang lainnya.


"Devi, kamu boleh pergi," kata Agam.


Ya, Agam, Ririn dan Devi memang sudah saling mengenal.


"A-ada apa, Pak?" tanyanya saat yang lain sudah pergi.


"Kenapa badanmu gemetar? Saya bahkan belum mengatakan apapun," selidiknya.


"Sa-saya baik-baik saja Pak."


"Kamu kenal LB?" tanya Agam.


"Ya, Pak."


"Bagaimana penilaianmu? Saya yakin kamu sudah melihat penampilannya saat foto shoot. Apa menurutmu dia bagus?"


"Ba-bagus, Pak."


"Ya, selain cantik, dia memang bertalenta, saya berharap kamu bisa berteman dengan dia. Dari sisi akademis LB juga lebih tinggi pendidikannya daripada kamu. Saya berharap kalian bisa sharing."


"Ba-baik, Pak."


"Satu hal lagi, saya bisa melenyapkan kamu dari dunia hiburan."


"Ma-masksud Bapak? Sa-saya ti-tidak mengerti."


"Di kamar mandi saya mencium bau parfum kamu. Penciuman saya sudah terlatih. Kamu tahu, kan?"


"A-apa?"


Ririn kian tertunduk. Lututnya lemas seakan kehilangan tulang dan sendi.


"Sa-saya memang ke kamar mandi, Pak. Ti-tidak ada yang salah, kan?"


"Oke, memang tidak ada yang salah. Untuk apa kamu ke kamar mandi?"


"Bu-buang air kecil, Pak."


"Di toilet nomor berapa kamu buang air kecil?"


Ririn semakin panik.


"Nomor dua, Pak." Dia menjawab asal.


"Hahaha, ada empat toilet, yang basah hanya toilet nomor tiga. Di toilet nomor tiga saya menemukan LB sedang menangis dan bersimpuh di lantai."


Ririn panik, keringat dingin mengalir di pelilipisnya.


"Ma-maaf Pak, sa-saya sedang datang bulan, kurang enak badan. Pe-permisi."


Wanita seksi itu berlalu dengan gontainya.


***


Tepuk tangan gegap-gempita terdengar riuh dari seluruh kru dan staf. Produser tersenyum bangga. Bagas berbunga-bunga. Proses syuting selesai dan LB benar-benar di luar dugaan.


"You are amazing."


Produser memuji Linda, disambut dengan ucapan selamat dari staf dan kru. Mereka menyalami LB secara bergantian.


.


.


.


Agam menatapnya lekat-lekat dari sebuah ruangan. Iapun bertepuk tangan dan tak sadar mengecupkan bibir saat fokus kamera berpusat pada Linda. Langsung memukul bibirnya sendiri tatkala menyadari kekonyolannya.


***


Agenda selanjutnya adalah preskon, suasana di halaman biro iklan menjadi tegang ketika para wartawan melihat kedatangan beberapa petugas kepolisian yang memasuki gedung biro iklan.


"Wah, ada apa ini?"


"Apa LB mau ditangkap?"


"Apa salah satu pegawai biro iklan terjerat kasus?"


"Apa ...?"


"Apa ---?"


Desas-desus menyeruak, semua penasaran.


Petugas keamanan terlihat kewalahan, namun beberapa saat kemudian suasana menjadi terkendali saat beberapa orang petugas militer mendatangi gedung biro iklan dan membantu mengamankan situasi.


.


.


Seluruhnya terdiam, saat Linda Berliana melenggang dengan anggunnya menuju area preskon didampingi Bagas.


Disusul dengan kedatangan Dirut HGC yang gagah, tampan, nan memikat bersama produser, kepala departemen media, beserta beberapa staf yang bebaris di belakang.


Preskon akan segera dimulai. Suara kilatan kamera sudah menyilaukan dan membisingkan sedari tadi.


Linda melemparkan senyum, ia menatap satu persatu mata kamera yang membidiknya.


Saat ini wajah cantiknya tengah muncul di layar kaca, mendebarkan jantung para penggemarnya, dan mendidihkan isi kepala para pembencinya.


Lb is back.


❤❤ Bersambung ....


...-----...


...Special untuk my reader yang merayakannya....



...Semoga dapat bersua dengan Ramadhan di tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya. Semoga berkah Ramadhan menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi....


...Aamiin....


...Mohon maaf lahir dan batin....


...🥰🥰🥰...


...-----...