AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kacau Meracau



Ternyata bukan hanya momen ijab kabul saja yang membuat hati Agam berdebar-debar, malam ini juga hati Pak Dirut berdebar-debar. Situasi ini terasa begitu menegangkan.


Saat ini, ia dan Linda bergandengan tangan menuju kamar. Percayalah, jantung keduanya sama-sama berdegup cepat.


Ini pertama kali bagi keduanya. Ya, walaupun dulu ia dan Agam pernah melakukannya, tapi ... situasi dan kondisinya tentu saja berbeda.


Dan ketakutan serta kekhawatiran itu, nyatanya masih menghantui Linda.


Kekhawatirannya itu datang karena teringat kembali akan pengalaman buruknya ketika ternodai. Tiba-tiba saja, wanita cantik itu mematung di depan pintu kamar. Agam jelas kaget.


"Ke-kenapa sayang?" tanya Agam.


Linda masih mematung, tangannya yang digenggam Agam berkeringat. Kenangan buruk itu terlintas, mengguncang batin Linda dan melemahkannya. Linda lemas, tubuhnya melunglai ke lantai hingga bersimpuh.


"El, kenapa?"


Linda menatap wajah tampan itu, membuka kacamatanya dan menangis tersedu.


Pemerkosaan yang dilakukan Agam tiba-tiba terlintas kembali. Bagaimana pria di hadapannya ini mengingkatnya, menyumpal mulutnya, melecehkan sekujur tubuhnya dan memaksa memasukinya dengan cara yang brutal.


Ya, walaupun pada akhirnya Agam berubah sangat lembut, tapi ... Linda seolah merasakan kembali kesakitan itu.


"Jangan mengingatku, ja-janji?" kata Linda. Dengan tangan gemetar ia mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan Agam.


"Sa-sayang? Apa yang kamu pikirkan? Ya, saya janji."


Walaupun bingung, Agam menyambut jari kelingking Linda. Mengkailkan jemari lentik itu dengan jarinya.


"Ja-jangan memukul b o k o n g ku, jangan mengikatku, ja-jangan menyumpalku," lirih Linda saat jari kelingkingnya dan milik Agam masih terpaut. Mata bulat indah itu menatap Agam, ada linangan yang mulai mengalir.


DEG, Agam mengerjap, ketakutan di mata Linda membuatnya tersadar jika trauma Linda akan hari itu kembali muncul dan membuat istrinya menjadi seperti ini.


"Ss-sayang ...."


Memeluk Linda. Agam berlutut, membelai rambutnya. Penyesalan itu kembali menghantui jiwanya. Dada Agam terasa sesak. Sakit.


"Sa-sayang, saya sudah mengaku salah, apa benar kamu sudah menerima saya? Sayang ... jika kamu belum bersedia menyerahkan tubuhmu, sa-saya tidak akan memaksa. Saya sadar diri," kata Agam.


"Huuu, huuu ... ma-maaf," kata Linda. Airmatanya berderai.


"El, saya yang salah, tapi ... kenapa kamu harus mengatakannya di malam ini? Malam ini sangat saya nantikan. Apa yang kamu katakan membuat saya berpikir, apakah selama ini kamu benar-benar ikhlas saat melayani saya?"


Dalam kondisi sama-sama melantai, Agam menengadahkan kepala Linda. Menatap mata Linda seolah ingin masuk ke dalamnya dan mengetahui seluruh isi hatinya.


"A-apa? A-aku ikhlas Pak, aku hanya takut, itu saja. Kenapa Bapak tega sekali menuduhku tidak ikhlas? Kalau saja aku bisa menolak, aku juga tidak ingin mengingat kejadian itu lagi, tapi ... perasaan tadi muncul begitu saja. Jangan salahkan aku, Pak. Itu bukan keinginannku. Huuu."


Linda mengurai pelukan Agam, melepaskan diri. Ia merasa dituduh dan tertuduh. Rasanya menyakitkan.


"Linda, bukan itu maksud saya. Niat saya hanya bertanya. Tidak menuduh, tidak meragukan kamu juga. Jangan marah sayang." Agam merentangkan tangan. Kembali memeluk Linda.


"Ta-tapi ... kalimat Pak Agam tadi seperti menuduhku dan tiak mempercayaiku."


"Ya ampun, El. Apa kita akan melewati malam dengan cara seperti ini? Kalaupun kamu belum siap, tidak seharusnya kita bertengkar seperti ini, kan?"


"Saya sudah mengumpulkan banyak keberanian demi meminta izin pada ayah dan ibu kamu untuk bisa menginap di sini. Kenapa saya meminta izin? Alasannya ... karena dulu saya mencuri kehormatan kamu tanpa izin dan tanpa sepengetahuan mereka," kata Agam.


Perlahan Agampun melepaskan pelukannya dari Linda. Lalu bersandar pada pilar villa, menatap langit seraya berkata ....


"Karena ibu saya sendiri tidak ada di samping saya, saya sangat senang ketika ibu kamu bisa menerima saya. Dan saya merasa ayah Berli juga sudah mulai menyukai saya. Kenapa di saat mereka mulai menerima saya, kamu seolah ingin menjauhi dari saya, El? Saya mengira trauma kamu sudah hilang. Maafkan saya, saya terlalu percaya diri. Saya sudah percaya jika hati kamu adalah milik saya. Tapi ... mungkin saya salah," lirinya.


"Pak Agam ...."


Linda memberanikan diri memeluk punggung Agam. Masih tidak menyangka jika malam yang romantis ini akan diawali oleh adu mulut dan perselisihan faham.


"Maaf, ma-maaf kalau aku salah," kata Linda.


"Pak Agam, sebuah biduk rumah tangga tidak akan selalu berjalan di air yang tenang. Sesekali pasti akan ada riak dan gelombang yang membuat biduk tersebut terseok-seok."


Agam bergeming. Asyik menatap bintang kecil yang mengerlip.


"Riak-riak kecil yang menerpa biduk rumah tangga, kata ibuku ... biasanya muncul dari pertengkaran suami dan istri. Asalnya seringkali dari hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele."


"Contohnya seperti ucapan yang tidak enak untuk didengar oleh pasangan. Kasus ini cocok dengan kondisi kita. Jadi ... sekali lagi aku mohon maaf. Dan tolong Pak .... Tolong bantu aku agar tidak trauma lagi. Huks ...." Linda menangis di punggung Agam. Terisak-isak.


"Agar tidak terjadi perselisihan, seorang istri harusnya bisa memilih kata-kata yang baik saat berbicara dengan suami. Jangn mengucapkan kata-kata yang menyulut emosi suami," tegas Pak Dirut, taringnya mulai keluar. Tapi tangannya perlahan mengelus tangan Linda yang melilit di pinggangnya.


"Ketika seorang istri mengalah, meski ia tahu suaminya itu salah, lalu ia datang kepada suaminya dan meminta maaf, maka ia sejatinya merupakan perempuan ahli surga," tambah Agam.


"Perseteruan suami istri itu hal wajar, sayang. Orang bilang, emm ... bumbunya hidup berkeluarga."


Linda menyimak sambil mengusap-usap punggung Agam dengan ujung hidungnya. Merasa bersalah dan menyesalinya.


"Jika terjadi lagi hal seperti ini, siapa sebenarnya yang harus mengalah?" tanya Linda.


Air mata Linda perlahan mereda. Berganti oleh desiran-desiran aneh saat Agam menarik tangannya dan mengecupi jemarinya. Tunggu, itu bukan kecupan. Pak Dirut sedang mencumbu jemari Linda dengan bibirnya.


"Emm, baiknya dua-duanya harus berusaha untuk mengalah. Atau salah satunya. Dengan mengalah, lambat laun persoalan akan terselesaikan. Jadi, berlomba-lombalah dalam hal kebaikan dan mengalah," kata Agam, ia berbicara sambil merayu Linda. Sekarang sedang mengulum jari telunjuk Linda.


Linda tak tahan, segera menarik tangannya. Mundur beberapa langkah, pipi Linda merona merah. Pak Dirut berbalik badan, menghelas napas.


"Apa kita sudah berdamai?" tanyanya pada Linda.


"Mu-mungkin," jawab Linda.


"Ya sudah, kalaupun kita mau bertikai lagi, mari selesaikan di dalam kamar sayang," ajaknya. Membuka pintu kamar, dan ....


.


.


"A-apa ini?"


Linda membelalak. Kamar itu sudah didekorasi layaknya kamar pengantin. Lampunya terang di bagian tempat tidur, temaram di bagian lainnya, bunga mawar bertebaran, ada banyak kado pernikahan yang disusun di salah satu sudut, wangi lilin aroma terapi menguar.


Spreinya telah berganti dengan warna putih, berpadu kontras dengan bunga mawar merah.


"Su-suka? Maaf kalau dekorasinya kurang maksimal."


Agam gugup, apalagi saat melihat lilin aroma terapi pemberian dari tuan Deanka benar-benar telah dinyalakan. Entah lilin jenis apa.


"Pak Agam ini terlalu berlebihan, terus kado-kado itu siapa yang menyiapkan?"


"Emm, sa-saya memesannya kemarin sayang, mendadak."


"I-isinya?" tanya Linda.


"Emm, isinya adalah semua hal yang biasa kamu pakai dan kamu sukai." Agam menunduk, tiba-tiba merasa tidak yakin akan berhasil mendapatkan Linda pada malam ini.


Tapi ... ya sudahlah. Kalaupun tidak berhasil, ia masih bisa tidur di sofa.


"Te-terima kasih," kata Linda. Sedang mencari cara agar tidak gugup.


"Pak Agam, a-aku pumping dulu," katanya. Dapat ide juga untuk mengalihkan kegundahan.


"Boleh, kamu pumping, saya mau mandi."


"Bukannya Bapak sudah mandi?"


"Saya mau mandi lagi. Ehm, supaya segar," kata Agam." Langsung beranjak ke kamar mandi.


Linda pumping, sesekali melirik ke kamar mandi. Merasa aneh karena Agam sangat lama. Mau memanggilnya, tapi ... malu.


Setelah selesai mandi, Agam memakai parfum yang ternyata sudah ia bawa ke kamar mandi. Disemprotkan ke seluruh tubuhnya. Memakai piyama tidur, lalu berwudhu.


Lalu keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang segar dan memikat. Linda tertegun melihatnya. Pak Dirut tak terbantahkan pesonanya.


Agam duduk santai di sofa, memainkan ponsel, mengibaskan rambutnya yang basah, dan seolah tidak peduli pada Linda.


Linda yang duduk di sofa lain menatap suaminya. Tiba-tiba merasa gerah dan ingin mandi jua. Apa karena efek pumping? Tapi, biasanya juga tidak segerah ini, pikirnya.


"Pak Agam, aku juga mau mandi lagi, Bapak kalau mau tidur duluan, silahkan," kata Linda.


"Hm," jawabnya.


Dia mempersilahkanku tidur duluan, yang benar saja. Gerutu Agam.


Linda bergegas ke kamar mandi.


.


.


Sial, teriak Linda di dalam hati.


Dengan bodohnya, ia melupakan handuk mandinya.


"Ya ampuuun, apa aku gila? Kok bisa lupa, sih?" Sambil menatap baju sebelumnya yang sudah basah dan berada di keranjang kotor.


"Bagaimana ini?"


Gugup, dan tiba-tiba saja wajah Agam tebayang. Ketampanan dan semua pesonanya menari-menari di pelupuk mata.


Dengan berat hati ia menutupi tubuhnya dengan baju basah, lalu melongokan kepala. Dari balik pintu kamar mandi itu Linda meminta bantun.


"Pak Agam, ma-maaf, bo-boleh ambilkan aku handuk?" tanyanya.


"Boleh," jawab Agam singkat. Tiba-tiba saja tangannya sudah terulur memberikan handuk.


"Terima kasih," kata Linda. Diambilnya segera. Handuk ini sangat minimalis. Tapi ... ya sudahlah. Linda memakainya.


Linda bergegas ke ruang ganti, Agam menguntit.


"Kan sudah shalat Isya," jawab Linda.


"Bukankah malam ini kita mau beribadah? Tapi, itu juga kalau kamu bersedia. Jika kamu bersedia, wudhu ya sayang, tidak diwajibkan sih, hanya dianjurkan," jelas Agam.


"Oh, begitu ya? O-oke deh a-aku mau wudhu dulu." Linda kembali ke kamar mandi.


"Yes," seru Agam saat Linda berlalu. Jika Linda patuh dan mau berwudhu, artinya ... malam ini ada harapan.


"Huft."


Pak Dirut menghela napas, lalu kembali ke sofa. Ia berniat akan tetap di sofa sampai Linda mengajaknya tidur bersama. Agam sadar jika sejauh ini, selalu saja dirinya yang mengiba dan meminta.


Linda keluar dari kamar mandi. Agam pura-pura tidak peduli. Padahal, sudut matanya mengintip. Andai tidak menahan diri, Agam sudah menerjangnya detik ini juga.


Bagaimana tidak?


Linda hanya menggunakan handuk kecil, terlihat begitu seksi. Sangat aduhay. Ditambah dengan aroma sabun yang menguar, berpadu dengan suasana kamar yang mendukung.


Ya ampun sayang, cantik sekali.


.


.


Di kamar ganti, Linda melamun. Merasa heran karena Agam tidak menggodanya. Padahal, saat di rumah Agam suka mengikutinya ke ruang ganti, menggodanya, bahkan sering membantu Linda memakai baju.


Kenapa dia jadi dingin. Apa karena ucapanku yang tadi?


Linda melamun, masih memakai handuknya, belum berganti pakaian. Ia berjongkok di lantai, memeluk lututnya.


Agam melirik ke ruang ganti, jadi berpikir ....


Kenapa dia lama sekali? Di lirik lagi, tapi belum keluar juga.


Intip jangan-jangan, intip jangan, batin Agam dilema.


Sementara itu, Linda Berlina Briliant akhirnya beranjak ke meja rias. Ia bersolek, melumuri seluruh tubuhnya dengan wewangian, menyemprotkan aroma buah ke mulutnya, lalu menggerai rambut indahnya.


Catat, Linda masih memakai handuk minimalis itu. Tulang selangka, bahu indah, dan kaki jenjangnya terekspose maksimal.


Kemudian memakai bedak tipis, lalu mengukir bibirnya dengan lip gloss. Hasil akhirnya terlihat natural, tapi ... tetap terkesan seksi.


.


.


Pak Dirut kian gundah, istrinya belum keluar juga. Karena khawatir terjadi apa-apa pada Linda, Agam pun beranjak. Niatnya ingin mengitip ke sana.


Agam mengendap.


Tapi secepatnya berbalik arah kala melihat pintu ruang ganti terbuka. Agam meloncat ke sofa dengan tergesa, ia tidak ingin tepergok Linda. Lalu pura-pura tidur, merem ayam.


Deg, dada Agam memanas. Apa yang ia lihat benar-benar meresahkan kejiwaan dan raganya.


Linda keluar dari kamar dalam kedaan masih menggunakan handuk yang minimalis itu. Jelas sekali jika istrinya itu kemungkinan tidak memakai apa-apa lagi selain handuk.


Linda melangkah anggun sambil memegang ujung lipatan handuk yang ada di dadanya. Detik itu juga Pak Dirut langsung bereaksi. Langsung tegak sempurna membentuk garis vertikal.


S i a l !! Apa dia sengaja hanya memakai handuk?


Agam membelalak, Linda ternyata naik ke tempat tidur, merebahkan dirinya, lalu meringkuk seperti bayi tanpa mempedulikan keberadaan selimut. Linda menggunakan sikut tangannya sebagai bantal.


Ya ampun El, kamu benar-benar mengujiku. Tidak, aku tidak akan tergoda, akan tetap di sofa sampai dia inisiatif.


Tapi, mata Agam tida bisa mengingkari keindahan itu. Ia masih mengintip. Sekarang, Linda sedang memainkan kelopak bunga mawar merah yang terhampar di kasurnya.


.


.


Sampai kapan dia akan terus di sofa? Dia yang mengajakku ke tempat ini dan menyiapkan semuanya, tapi ... kenapa sekarang dia tidak melirikku sama sekali? Apa masih kesal? Apa aku kurang seksi? Batin Linda berasumsi.


Lalu Linda bangun lagi. Duduk di sisi tempat tidur. Kaki indahnya menjuntai ke lantai.


Satu, dua, tiga.


Linda mengumpulkan keberanian. Ia akan bertanya pada Agam ....


"Kenapa tidur di sofa? Kenapa mengabaikanku? Apa masih marah?"


'Tap, tap, tap.'


Kaki elok yang kukunya berwarna-warni itu mulai mendekati sofa.


Dia mau ke sini? Oh, tidaaak? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan?


Agam gundah. Lalu berpikir keras agar Linda tidak menyadari kalau tubuhnya sudah on go in. Untung ada bantal sofa, yang on go in pun tersembunyi.


Dia wangi sekali, apa yang kamu pakai, El?


Linda kian dekat, keharuman tubuhnya semakin mengusik. Dan handuk itu, seperti akan merosot saja.


Apa yakin Pak Dirut tidak akan tergoda?


"Pak Agam, mau tetap tidur di sini?" tanya Linda, berjongkok, lalu mengelus rambut Agam.


"Ya, mau di sini saja. Kamu takut tidur dengan saya, kan?" ketusnya.


"Pak Agam, maaf ... aku tidak bermaksud seperti itu. Ya sudah, aku juga mau tidur di sofa." Linda naik ke sofa, merebahkan kepalanya di lengan Agam.


Tidaaak, aku tidak tahan lagi. Napas Agam jadi lebih cepat.


"Pak Agam, katanya ... jika seorang istri menawarkan diri untuk suaminya dengan suka-rela, maka (Allah) akan mengharamkan dirinya dari api neraka, memberinya pahala dua ratus ibadah haji dan umroh, dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan, dan diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga," kata Linda seraya mengusap dada Agam.


Pak Dirut jedag, jedug.


Nun dekat di bawah sana semakin pegal dan tersiksa. Agam memejamkan matanya rapat-rapat, tangannya mengerat pada sisi sofa.


"Emm, dan jika ada seorang istri yang masuk bersama suaminya ke dalam satu selimut, maka malaikat dari bawah Arsy akan memanggilnya dan berkata, 'Mulailah duluan olehmu perbuatan itu, maka (Allah) akan mengampuni untukmu dari dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, (Allah) akan mencatat untuknya pahala seorang yang memerdekan seratus budak, dan mencatat untuknya dari setiap sehelai rambut dengan satu kebaikan,' begitu katanya Pak," bisik Linda.


Linda mengecup cuping telinga Agam yang mulai memerah. Agam mati kutu, masih memejamkan mata. Tapi ... tangan Pak Dirut perlahan memasuki handuk.


"Pak Agam, aku ingin mendapatkan pahala, tapi ... untuk mendapatkan pahala itu aktivitas ini harus dilakukan atas dasar keikhlasan. Ka-kalau Pak Agam tidak ikhlas, a-aku juga tidak mau," lirih Linda. Seraya tersenyum saat merasakan jika tangan Agam telah sampai di sana, dan membelai tubuhnya.


"Sa-saya ikhlas sayang ...."


Pertahanan Agam goyah. Dengan sekali gerakan, Agam mengurung Linda. Detik selanjutnya, handuk si malakama itu terlempar ke udara, saking kuatnya hingga menyentuh langit-langit kamar.


Linda mengerjap, memegang sofa dan segera memejamkan matanya. Malu, Linda teramat malu.


"Li-lihat wajah suamimu sa-sayang, bu-buka matamu," rayu Agam sambil mengcupi leher Linda.


"Maga ...," Linda membuka matanya, tubuhnya gemetar.


"Ja-jangan takut sa-sayang, saya akan lembut," bisik Agam.


"Ja-janji?" lirih Linda.


Agam mengangguk, mengusap yang selembut sutra itu dengan penuh suka cita.


Linda menatap wajah Agam, lalu meraih tengkuknya untuk merenggut yang selalu beraroma mint itu. Agam menyambutnya dengan lembut dan mendamba, menyalurkan rasa itu dengan cara yang manis.


.


.


Satu menit berlalu, jalinan itu semakin tak terkendali. Menciptakan melodi cinta yang terdengar e r o t i s.


Perlahan Linda melenguh jua, dan suara Linda jelas membangkitkan api yang telah membara itu. Agam terus menghabisinya, hingga Linda hampir kehabisan oksigen dan mati lemas.


"Uhm ... sa-sayang, ka-kamu wa-wangi sekali," setelah menggila di pagutan itu, bibir Agam menggila jua daerah ini.


Tubuh Linda mulai memerah, Linda menggigit bibirnya, pikirannya melayang-layang, terombang-ambing dalam arus cinta.


"HMH ... Maga .... EMH ... Maga ...." Linda meracau.


"Ke-kenapa berhenti?" tanya Linda, mata nanarnya mengiba. Si cantik ternyata tidak ingin berlalu dari rasa itu.


Agam tersenyum penuh kemenangan, meraih tangan Linda dan mengecupinya. Lalu berbisik ....


"Kamu suka? Kita lanjutkan di tempat tidur ya sayang, jangan di sofa, sofa ini terlalu kecil."


Linda mengangguk pelan, lalu melingkarkan tangan di leher Agam saat tubuhnya dibopong ke tempat tidur.


Agam merebahkannya perlahan, laksana meletakan butiran mutiara di ujung jarum. Begitu hati-hati. Lalu menatap Linda yang tersipu dari ujung rambut hingga ujung kuku kakinya.


"I-indah sekali sayang," bisiknya.


Lalu melanjutkan kembali yang tadi sempat tertunda. Linda malu, ingin menolaknya, tapi ... tak mampu, ingin mengelaknya, tapi ... rasa ini teramat melenakan.


"Se-sekarang sa-saya ingin melihat dan menikmati yang sepuluh persen itu, bo-bolehkah?" tanya Agam.


Deg, seperti tersengat listrik. Tubuh Linda seolah memanas, ia merinding, pikirannya kaca-meracau. Pertanyaan Agam membuat Linda panik, tapi ... atas dasar keikhlasan, dan tidak ada tekanan dari pihak manapun, bibir yang merah-merekah itu menjawab.


"Si-silahkan, lakukan a-apapun ... se-sesukamu, su-suamiku ...," lirihnya sambil menatap Agam dengan mata yang berkaca-kaca.


...~Tbc~...