AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kembali Memendam Rindu



"Sudah kubilang, aku tidak suka Kakak menguntitku!" sentak Gama.


"Hei, Gama tenang, El masih sakit, pelankan suaramu."


Di ruang tamu kamar tersebut, Agam dan Gama terlibat perdebatan.


Lindapun mendengarnya, namun enggan berkomentar apapun. Saat ini, menjadi pendengar yang baik adalah hal yang bisa dilakukan oleh Linda sambil menutup kembali kancing-kancing yang tadi telah terbuka.


Wajah Linda masih bersemu merah, kata-kata 'Ingin menjadi bayi' kembali terngiang. Sungguh, ia tidak menyangka Agam akan seberani itu. Untung saja Gama datang, kalau tidak? Entahlah, Linda sendiri tidak yakin bisa menolak keinginan Agam.


"Siapa yang menguntit?! Berapa orang?"


"Gama, Kakak tidak menguntit, hanya sedang menjalankan kewajiban untuk menjaga dan mengawasi kamu."


"Cukup, Kak! Aku tidak suka, aku sudah besar." Gama masih berapi-rapi.


"Oke, silahkan kalau kamu tidak ingin diawasi, asalkan kamu tinggal di asrama sekolah. Bagaimana? Setuju?"


"Apa? Asrama sekolah? Ya tidak mau lah," sentaknya.


Gama masih berdiri menantang, saat Agam sudah duduk tenang.


"Gama, duduk," titah Agam.


"Tidak," kilah Gama.


"Kakak heran sama kamu, kenapa pacar kamu banyak sekali? Menurut laporan, hampir di setiap kelas kamu punya pacar." Agam geleng-gelang kepala.


"Sampai kapan Kakak memata-matai urusan pribadiku juga, hahh? Itu berita bohong, aku tidak punya pacar sebanyak itu, sudah diputuskan semua," sanggahnya.


"Serius? Mana ada play boy jujur?" tuduh Agam.


Linda yang mendengar percakapan itupun turut geleng-geleng, ia tidak menyangka kalau Gama se play boy itu.


"Jujur, berapa orang yang belum kamu putuskan?" selidik Agam.


"Aku jomblo, Kak."


Gama berkelit lagi.


"Mulai besok, kamu ke sekolah barengan dengan Kakak berangkat kerja, tidak boleh bawa mobil sendiri," tegas Agam.


"Apa?! Oke aku mau jujur, ada lima gadis lagi yang belum aku putuskan, yang lainnya hanya mengaku-ngaku. Aku sudah memutuskan, tapi mereka masih menganggap aku sebagai pacarnya."


"Wah, wah, wah, kamu bilang lima? Ya ampun, Gama. Poligami saja maksimal empat, kamu kenapa sih? Cukup, mulai sekarang Kakak melarang kamu pacaran. Kalau mereka menganggap serius, bagaimana? Kalau orang tuanya menuntut, bagaimana? Kakak tidak mau direpotkan oleh hal-hal seperti itu."


"Melarang? Apa hak Kakak melarang-larang? Hello, negara kita sudah merdeka, Kak. Pacaran itu dari era penjajahanpun tidak pernah dilarang," elaknya.


"Ya ampun Gama. Ya sudah, untuk saat ini terserah kamu. Kakak kasih toleransi sampai kamu lulus. Selanjutnya, jika kamu tidak berubah, maka Kakak akan cabut semua fasilitas kamu," ancamnya.


"Silahkan saja, aku tidak takut."


Gama berdiri lalu pergi begitu saja meninggalkan Agam.


"Gama, Gama, tunggu! Kamu mau kemana? Mau pulang, kan? Gama, Kakak masih ingin bicara," panggil Agam.


Agampun beranjak, hendak menyusul. Dan ....


'BRAK.'


Gama menutup pintu kamar perawatan itu dengan kekuatan penuh. Artinya, dia memang marah.


"Gamayasa Val Buana," geram Agam dengan rahang mengeras dan tangan mengepal.


"Sabar, Pak."


Suara parau yang terdengar seksi itu mengagetkan Agam. Lantas Agam kembali menghampiri Linda.


Mungkinkah ada kesempatan lagi untuk melanjutkan adegan yang tadi? Terbesit di hati Agam ingin kembali bermain peran menjadi bayi jadi-jadian.


Namun ....


'Ding.'


'Dong.'


'Ding.'


'Dong.'


Dengan langkah gontai, Agam membuka pintu, Bu Ira dan Pak Yudha telah kembali dari kantin. Hapus dan terkuburlah sudah keinginan itu untuk sementara waktu, sampai batas waktu yang belum pasti, tentatif.


Dan yang cantik di tempat tidur sanapun tersenyum getir.


Kini, kancing bajunya sudah tertutup kembali, rambutnyapun sudah disisir rapi, tapi ... serius bibirnya masih terasa bengkak. Dan tanda cinta itu benar-benar menjadi momok menakutkan.


Takut terlihat oleh orang lain selain Agam, pasti malu, bukan?


"Saya mau susu jahe merah," jawab Agam cepat.


"Aku bubur kacang saja, Bu."


Sesekali Linda dan Agam saling melirik dan melempar senyum. Sekarang, Bu Ira dan Pak Yudha yang tertipu. Ya, mereka tidak tahu kalau Agam dan Linda sudah tidak merahasiakan lagi pernikahan siri itu.


"Saya bertemu Gama di depan lift, saya sapa tidak menyahut, seperti sedang marah," beber Pak Yudha.


Pak Yudha dan Agam saat ini tengah menikmati minuman susu jahe merah.


"Dia marah sama saya, Pak."


"Kok bisa?" Pak Yudha menautkan alisnya.


"Hmm, saya menyindirnya. Dari mata-mata yang saya tempatkan di sekolahnya, dia itu play boy. Sekarang saja katanya punya pacar lima. Gila itu anak, cita-citanya sih mau jadi atlit nasional, tapi ...." Agam menghela napas.


"Saya pernah ngobrol dengan wali kelasnya, Pak. Dia anak yang berprestasi. Ya, memang sering ganti-ganti pacar, tapi tidak mempengaruhi prestasi akademik dan ekstrakulikulernya," papar Pak Yudha.


"Ya, alhamdulillah sejauh ini memang tidak mengganggu prestasinya. Saya juga bangga, dia cerdas dan ulet. Hanya saja saya khawatir kebiasaannya ganti-ganti pacar dan mempermainkan wanita akan terbawa sampai dia dewasa," keluh Agam.


"Hahaha, Gama ganteng dan keren sama halnya seperti Pak Agam. Pasti sulit sih mencari wanita yang tidak menyukai Gama atau Pak Agam. Wajah Bapak dan Gama seolah tercipta untuk memanjakan mata para wanita, saya saja yang pria merasa kagum, apalagi kaum hawa," terang Pak Yudha.


"Hahaha, Pak Yudha berlebihan," Agam memukul bahu Pak Yudha.


"Ya, kan Bu Linda?"


Pak Yudha melirik ke arah Linda yang saat ini tengah disuapi bubur kacang hijau oleh Bu Ira.


"A-apa? Iya, apa?"


Linda terkejut. Mungkin tadi tidak begitu mendengarkan obrolan Agam dan Pak Yudha.


"Pak Agam itu ganteng dan memikat? Benar, kan?"


"Ti-tidak, tuh. Biasa saja," kata Linda.


Sebuah jawaban yang sebenarnya untuk menggoda Agam.


Dan mendengar ucapan Linda, Agam hanya mengulum senyum.


"Saya sangat beruntung Pak Yudha, saya biasa saja, tapi bisa mendapatkan yang secantik LB."


Linda jadi malu mendengar ucapan Agam, di saat ia mengatakan Agam biasa saja, Agam tidak membalas, pria itu malah menyangjungnya.


My bonanza, batin Linda sambil tersenyum saat ia dan Agam bertemu pandang.


"Ehem," Bu Ira berdeham.


"Apa perlu kita ke kantin lagi Bu Ira?" sindir Pak Yudha.


"Jangan," sahut Linda cepat.


Padahal, Agam baru mau mengatakan 'Boleh, Pak.'


Seketika Pak Yudha terbahak, wajah Linda dan Agam bersemu merah. Seolah tahu apa yang telah terjadi Pak Yudha bergumam ....


"Semoga Bu Linda cepat diperbolehkan pulang."


"Iya, dirumah lebih nyaman, aman dan leluasa," timpal Bu Ira.


Tiba-tiba ....


"Saya keluar dulu," kata Agam.


Wajah Agam berubah dingin. Ada apa gerangan?


Ternyata, Agam melihat ponsel Linda yang ada di tas kerjanya menyala. Tidak ada yang menyadari dan mendengar nada deringnya karena oleh Agam telah disilent.


"Anda tidak lama-lama, kan? Perlu saya dampingi?" tawar Pak Yudha.


"Tidak perlu," sahut Agam sambil berlalu cepat. Ia bahkan tidak menoleh pada Linda yang menatapnya penuh kekhawatiran.


Ada apa ya? Batin Linda.


Linda menghela napas, selepas Agam pergi, ia kembali memendam rindu, ia berharap Agam segera kembali.


Lalu Linda berdoa dalam hatinya.


Semoga Allah memberikan kebaikan padamu, di mana pun kamu berada. Ya Allah, berikan suami hamba perlindungan serta keselamatan. Aamiin.


Aku menitipkan amanah-Mu kepada-Mu.


Ampuni dan hapuskanlah dosaku dan suamiku. Aamiin.


Kiranya Engkau memberikan ia akal, kekuasaan, dan jabatan, semoga ia dapat menggunakan akal, kekuasaan dan jabatannya untuk hal yang baik, dan untuk perbuatan yang baik. Maka jauhkanlah ia dari pikiran-pikiran jahat yang akan menjerumuskannya. Aamiin.