AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Bersua Lagi



Gadis cantik itu tampak kikuk, ia tak biasa berada di rumah semewah ini. Kegundahan melanda, ia tak tahu kenapa gerangan harus datang ke rumah ini.


"Suster Freissya? Masih kenal aku?" Linda mendekat. Freissya menoleh dan teperangah. Siapa 'sih di negeri ini yang tak mengenal LB?


"LB?"


Sejenak Freissya termangu. Ya, Linda tampil cantik dan memukau. Pantas saja jadi incaran hidung belang. Freissya yang sesama wanitapun terpesona saat melihat Linda secara langsung.


Linda mengulurkan tangan pada Freissya, mereka kemudian bersalaman. Lalu Linda memeluk Freissya setelah menyadari jika gadis itu terlihat gugup.


"Tenang, semua akan baik-baik saja." Linda mengelus rambut Freissya.


Kemudian menuntunnya ke tempat yang lebih sepi. Menghindari halaman utama yang saat ini sudah dipenuhi keluarga inti Agam Ben Buana. Ya, mereka berkumpul untuk menyambut kedatangan si anak ajaib Gamayasa Val Buana.


"Yang sakit siapa? Apa aku ke sini karena harus memeriksa sesuatu?" Freissya memberanikan diri bertanya setelah ia dan Linda berada jauh dari keramaian.


"Tidak ada yang sakit, kok. Kamu lihat 'kan sedang ada pesta kecil-kecilan?" kata Linda sambil tersenyum.


"Emm, apa putra Anda dan pak Agam ulang tahun?" duga Freissya. Ia menebak-tebak. Sebab, tak ada spanduk apapun yang menerangkan pesta ini. Yang ada hanya dekorasi bunga dan buffet mewah.


"Kamu tak diberitahu? Sini, aku beritahu. Gama mau pulang," bisik Linda.


"Apa?" Freissya tercengang.


"Apa ada hubungannya dengan kedatanganku? Aku merasa tak ada gunanya aku berada di sini. Apa aku boleh pulang?"


"Hei, jangan dong. Begini, kami mengundang kamu secara khusus karena kamu adalah suster yang paling berjasa merawat Gama saat Gama sedang koma dan melewati masa pemulihan. Kamu juga pernah merawatku saat aku dirawat di ICU. Anggap saja undangan ini sebagai ungkapan terima kasih dari keluarga pak Agam untuk suster Freissya," jelas Linda panjang lebar.


"Tapi aku ikhlas Bu," kilah Freissya.


"Ssstt, tak apa-apa. Sekarang, kita ke kamarku yuk! Kamu harus berganti pakaian. Aku akan mendandani kamu," ajak Linda, dan sebelum Freissya mengatakan apapun, Linda sudah menarik tangan Freissya menuju lift yang terhubung langsung ke kamar utama.


Freissya melongo. Ini rumah apa hotel? Pikirnya.


"Bu, aku malu, aku tak pantas ke kamar Ibu," tolak Freissya.


Gadis itu benar-benar tak habis pikir karena tiba-tiba diperlakukan seakrab ini oleh Linda.


Setibanya di lantai tiga, mereka berpapasan dengan Agam dan bu Nadia. Freissya tentu saja semakin salah tingkah. Ia berharap ini mimpi, tapi ia yakin kalau ini adalah kenyataan.


"Suster Ice?"


Bu Nadiapun tak sungkan merangkul Freissya.


"Emm ...." Freissya kebingungan.


"Suster Ice, selamat datang di rumah kami. Maaf kalau kita membuat kamu kaget," ucap Agam.


Agam berbicara demikian, namun tatapannya tak lepas dari menatap Linda yang sore ini tampil elegan nan cantik bak bidadari. Andai saja Gama tak datang, pak Dirut berpikir akan melempar kembali istrinya itu ke tempat tidur untuk menikmati sekujur tubuhnya.


"Suatu kehormatan bisa datang dan diundang ke rumah Bapak, tapi aku bingung, kenapa aku diundang? Aku tak persiapan dan membawa apapun," ungkap Freissya.


"Ice, Ibu sengaja mengundang kamu karena kamu adalah gadis spesialnya Gama," sela bu Nadia.


"A-apa?"


Freissya tersipu. Ada perasaan malu saat ia disebut sebagai gadis. Freissya berpikir jika sebutan gadis itu tak pantas disematkan kepadanya. Kenapa demikian? Karena faktanya ia bukan lagi seorang gadis. Kesuciannya telah hilang oleh Gama.


"Pak Agam, lima belas menit lagi Gama tiba," seru pak Yudha. Ia sampai terengah-engah demi menyampaikan kabar itu.


"Baik, saya akan segera turun. Sayang, cepat bersiap." Setelah mencium kening Linda, Agam dan pak Yudha bergegas.


"Ibu juga harus siap-siap. Nak, kamu dandani suster Ice ya, maaf jadi menyuruh kamu. Ibu tak sempat mengundang penata rias," kata bu Nadia.


"Serahkan padaku, Bu." Linda meyakinkan ibu mertuanya.


Freissya hanya bisa pasrah dan patuh saat ia dibawa ke kamar utama milik Agam dan Linda, lalu didudukkan di kursi yang menghadap ke meja rias super besar. Meja rias itu berisi peralatan make up super lengkap. Freissya berdecak kagum. Ternyata seperti ini penampakan kamar milik artis.


Saat Freissya masih terpukau dengan kemewahan kamar ini, Linda sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan digunakan untuk melakukan make over pada Freissya.


"Cepat cuci muka dulu," titah Linda.


"Ba-baik," Walau gelagapan, Freissya tetap patuh.


Di kamar mandi, gadis itu membelalak. Tangannya gemetar saat mencuci muka karena di sisi bathup ia tak sengaja melihat sepasang borgol dan benda-benda yang membuat bulu kuduknya berdiri tegak.


"Freissya, cepat!" Linda menyusul ke kamar mandi.


"Ba-baik, Bu."


"Panggil kakak, saja. Kalau dipanggil ibu, takut tertukar dengan bu Nadia dan bu Ira," kata Linda.


"Ya, Bu, eh ma-maksudnya, ya, Kak." Freissya tak bisa fokus. Ia masih teringat dengan benda yang ia lihat di kamar mandi.


"Kenapa?" tanya Linda. Sambil mengeringkan wajah Freissya.


"Ti-tidak apa-apa, Kak."


Tak mungkin Freissya mengatakan kalau ia tak sengaja melihat benda-benda rahasia milik Agam dan Linda. Benda apakah yang dimaksud? Hanya Freissya yang tahu.


"Pejamkan matanya," titah Linda. Ia mulai mengusapkan berbagai kosmetik ke wajah Freissya mulai dari toner, susu pembersih, serum, pelembab, foundation, concealer contour, dan lain-lain ke wajah Freissya.


Beberapa saat kemudian ....


Tada, Freissya berubah semakin cantik dengan gaun yang sangat cocok dengan warna kulit dan bentuk tubuhnya.


"Cantik sekali," puji Linda.


"Hahh, apa itu aku?" Freissya sendiri kaget saat pertama kalinya ia melihat cermin.


"Ayo berdiri dan berputar," kata Linda.


"A-aku malu, Kak."


"Ya ampun, apa yang membuat kamu malu? Sekarang kita turun, kita sambut Gama, oke?" Linda menuntun Freissya menuju area utama penyambutan Gama.


"Bagaimana kalau Val tidak suka dengan kedatanganku, Kak?"


"Kamu ke sini kami yang mengundang. Bukan Gama. Yang ingin kami ke sini adalah aku, bu Nadia dan pak Agam," jelas Linda.


...***...


Tibalah mereka di area utama, Yanyan, Maxim dan Enda menganga melihat penampilan Freissya. Bu Ira sedang dijelaskan oleh bu Nadia jika gadis itu adalah mantan kekasih Gama yang paling spesial.


Tamu lainnya tak dikenali. Ada sekitar lima orang, kemungkinan adalah sanak-saudara Agam Ben Buana. Mereka sudah menempati kursinya masing-masing. Termasuk Freissya yang sudah duduk manis diapit oleh bu Nadia dan Linda.


"Rombongan sudah ada di depan," pak Yudha melalui HT memberi kabar.


Pak Dirut langsung berdiri dan gelisah. Hingga saat ini masih merasa bersalah pada adik semata wayangnya itu.


"Pak, duduk, dong," Linda mengingatkan suaminya.


Tampak juga Keivel yang duduk di kursi khusus didampingi suster Dini dan ners Sinta.


Lalu suara mobil yang disinyalir sebagai mobil BRN terdengar memasuki parkiran.


"Hadirin dipersilahkan berdiri," kata bu Ira yang hari ini bertugas memandu acara. Mereka berdiri cemas.


Langkah Gama mantap dalam balutan baju dinas anggota BRN. Penampilannya memukau, ketampanannya semakin terpancar. Mungkin banyak yang percaya kalau seragam dinas ala polisi dan sejenisnya itu menyilaukan dan membuat pemakainya terlihat lebih tampan.


Yang biasa saja jadi istimewa saat memakai seragam kedinasan. Apa lagi Gama yang notabene memang sudah tampan dan gagah.


Freissya menunduk. Setelah melihat Gama sepintas, ia tak berani lagi menatap pria yang telah membuatnya hilang kewarasan itu. Freissya memainkan ujung gaunnya. Jantung berdegupan.


"Silahkan duduk di kursi yang telah kami sediakan, boleh langsung mencicipi hidangannya," kata bu Ira. Sepertinya, di masa mudanya, bu Ira sering menjadi pemandu acara.


Gama duduk di kursinya. Kursi itu menghadap ke para tamu, dan tepat menghadap Agam, Linda, bu Nadia, dan Freissya. Terlihat aneh 'sih seorang anak yang pulang ke rumahnya sendiri disambut dengan acara seformal ini, tapi seperti itulah peraturan BRN.


Gama masih asyik dengan dunianya. Mengamati sekitaran dan mengabaikan orang-orang yang duduk berhadapan dengannya. Entah hal apa yang dipikirkan olehnya.


Agam menghela napas, ingin rasanya segera memeluk Gama dan menanyakan kabarnya, tapi ia belum berani bertindak. Hingga saat ini, ia masih sabar menunggu intruksi dari bu Ira yang akan membacakan rangkaian acara. Rangkaian acara sore ini ternyata telah disesuaikan dengan intruksi BRN.


"Acara selanjutnya adalah pemasangan kalung bunga yang akan dipasangkan oleh suster Freissya," kata bu Ira.


Percayalah, kalimat bu Ira membuat Gama dan Freissya sama-sama terkejut. Freissya tak diberitahu sebelumnya kalau ia akan mempunyai tugas mengalungkan bunga. Sekilas, Gamapun menatap ke arah Freissya, namun tatapannya langsung berpaling ke arah lain dan seolah tak mengenali Freissya.


"Kak, aku ---." Freissya ragu. Ia menggelengkan kepalanya.


"Ice, ayo lakukan saja," bujuk Linda.


"Aku tak siap, kenapa Kakak tak memberitahu sebelumnya?" protes Freissya.


"Ice, ini mendadak, baru ada intruksi beberapa menit yang lalu. Untung saja saya sudah menyuruh tim dekorasi untuk menyiapkan kalung bunga, cepat lakukan," desak Agam.


"Ba-baik," walau gugup dan ragu, Freissya akhirnya melakukannya. Ia berjalan ke depan sambil membawa baki yang berisi kalung bunga. Tangannya gemetar.


Gama tak berekspresi, tak sedikitpun menoleh pada Freissya. Pun saat Freissya tepat berada di hadapannya. Gama tetap kaku. Freissya bingung, saat ia sudah memegang rangkaian bunga itu, Gama tetap bergeming di tempat duduknya.


"Sultan Yasa, ayo berdiri," kata polisi pengawalan yang mendampinginya.


Barulah Gama mau mau berdiri, dan menunduk. Freissya berjinjit untuk mencapai pundak Gama. Setengah tahun tak bersua, Gama rupanya telah bertambah tinggi.


Kamu tambah tinggi dan tampan, puji Freissya dalam batinnya.


Setelah kalung bunga terpasang, Gama duduk kembali, sikapnya tetap acuh-tak acuh.


"Amnesianya makin parah," gumam Freissya saat ia duduk kembali di kursinya.


"Benarkah? Bukannya sudah sembuh?" celetuk Agam.


"Selanjutnya adalah acara ramah-tamah, keluarga diperkenankan untuk menemui Gamayasa Val Buana."


"Hahaha, gila! Apa-apaan ini?! Padahal saya ingin bertemu dengan adik saya sendiri, tapi SOAPnya rumit sekali," dengus Agam kesal.


"Sabar dong, Pak. 'Kan sekarang Gama milik negara," Linda mengingatkan suaminya.


Saat ini keluarga Agam sudah berbaris rapi, mereka mengantri karena hendak bersalaman dengan Gama. Bu Nadia ada di barisan paling depan.


"Suster Ice tak ikut?" Linda keheranan karena Freissya tetap duduk di tempat.


"Aku tak ikut, Kak. Aku bukan keluarganya," kata Freissya.


"Ayo ikut saja," bujuk Linda.


"Tak mau, Kak," Freissya bersikeras. Untuk apa pikirnya menemui Gama lagi, sebab Gama sendiri tak mengenalinya.


"Jangan dipaksakan, biarkan saja," sela Agam.


"Huuu, Gama ...."


Di tempat Gama berada, bu Nadia telah memeluk putra bungsunya. Ia menangis terisak-isak. Gama membalas pelukan bu Nadia tapi tak mengatakan apapun.


"Bu jangan lama-lama, keluarga yang lain masih mengantri," kata polisi.


"Ya ampun, dia anakku, bisa-bisanya kalian membatasi pertemuanku dengan anakku sendiri," ketus bu Nadia.


"Bu, Sultan Yasa masih masa observasi, selama masa itu, memang belum bisa dibebaskan," terang polisi.


"Ya, ya, ya, saya juga tahu!" teriak bu Nadia sambil berlalu meninggalkan Gama dan duduk kembali ke kursinya.


"Gama, maafkan Kakak, gini giliran Agam yang memeluk adiknya. Mendekap tubuh Gama, matanya berkaca-kaca. Lagi, Gama acuh. Agampun segera meninggalkan Gama setelah ada peringatan dari polisi pengawal.


Tiba saatnya Linda yang akan menemui adik iparnya. Tak lupa membawa Keivel dalam dekapan. Ada keajaiban, saat mata Gama tertuju pada sosok yang ada di pangkuan Linda, ekspresi Gama berubah. Ia menetap dalam pada Keivel. Tanganya mengepal pelan. Sepertinya, ia merasa gemas dengan kelucuan ponakannya itu.


"Ini Pamanmu, Keiv," kata Linda saat ia sudah berada di hadapan Gama.


"Sini," kata Gama.


Linda terkejut karena kesombongan Gama ternyata terkalahkan oleh pesona Keivel yang memang sangat menggemaskan. Linda menyerahkan Keivel pada Gama. Seluruh keluargapun tercengang saat Gama memangku Keivel.


Di pangkuan Gama, Keivel tampak nyaman, tersenyum-senyum sambil menggerakkan kedua tangannya.


"Sekarang acara santap-santap," kata bu Ira ketika seluruh keluarga telah bersalaman dengan Gama dan sudah kembali ke tempat duduknya masing-masing.


"Aku ke toilet dulu," kata Gama saat melihat Freissya tak ada di tempat duduknya.


"Saya akan dampingi," ucap polisi pengawal.


"Tak perlu! Atau aku akan kabur lagi dan tak akan pernah ditemukan!" tegas Gama.


"Baik, silahkan. Kami beri waktu sepuluh menit," kata polisi.


Setelah mendapat izin, Gamapun berlalu. Ia menuju ke area kolam renang sambil melihat-lihat. Mungkin merasa kangen dengan suasana rumah yang telah lama ia tinggalkan.


Saat Agam menyadari Gama beranjak dari tempat duduknya, ia memberi intruksi pada pak Yudha.


"Semua pengawal dan pekerja harus menjauh, jangan ada yang boleh mendekati adikku ataupun menyapanya kecuali suster Freissya," titah Agam. Ia berbicara melalui earphonenya.


...***...


Freissya gelisah. Jujur, ia ingin pulang tapi dilarang oleh Linda dan tak bisa keluar begitu saja. Untuk mengurangi stresnya, Freissya membawa beberapa kudapan dan segelas minuman bersoda. Ia duduk di tepi kolam renang sambil menikmati camilan. Gaunnya menjuntai, dan nyaris mengenai permukaan air kolam.


'Plung.' Sesuatu tiba-tiba dilempar ke tengah kolam. Freissya diam saja. Ia mengira itu hanya daun yang jatuh.


'Byur.'


Freissya terkejut saat seseorang tiba-tiba mendorongnya ke dalam kolam. Freissya jelas langsung tenggelam karena ia tak bisa berenang ditambah dengan gaunnya yang berat.


Freissya pasrah, hanya berharap pada keajaiban seseorang akan menolongnya atau setidaknya menyadari jika dirinya tenggelam.


'Byur.'


Ada sosok lain yang masuk ke dalam kolam, gerakannya sangat cepat hingga identitas sosok itu tak mudah dikenali.


Freissya yang hampir kehabisan napas terkejut kala seseorang menarik tubuhnya dan memberinya napas buatan.


Dasar bodoh, beraninya kamu membuatku hampir mati hanya karena ingin menciumku, batin Freissya.


Ia jelas mengenali siapa pemilik bibir beraroma vanila itu. Aroma itu ternyata tak berubah.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! Mohon maaf jika banyak thypo, nyai baru sempat mengintai, tapi belum sempat mengedit. Terima kasih....