AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Gelar Baru [Visual]



"Saya sangat mencintai kamu Linda, jangan menyerah sayang ... jangan ... please ...." Di depan ruang ICU, Agam terpekur.


Ia dikelilingi Ayah Berli, Pak Yudha, Hikam, dokter Rita, dan dokter Dani. Sementara dua orang perawat pendamping tidak terlihat keberadannya.


Linda telah melalui hari paling mendebarkan, yaitu operasi SC sito. Namun pasca operasi, ia mengalami perdarahan hebat.


Perdarahan itu kemungkinan disebabkan karena Linda pernah mengalami riwayat eklampsia, dan tensi darah saat ia masuk ke rumah sakit kembali tinggi.


Dari data medis yang ditulis dokter Rita dan dokter Dani, tensi darah Linda mencapai 180/120 mmHg. Setelah diberi obat anti hipertensi, turun menjadi 160/100 mmHg.


Awalnya, operasi akan ditunda hingga Agam datang. Namun kondisi janin tiba-tiba gawat karena air ketubannya hampir mengering.


Pada pukul 03.52, Linda didorong ke kamar operasi. Sesuai permintaan Agam, Linda ditangani oleh dokter perempuan. Yang mendampingi ke kamar operasi dokter Rita, dan ayah Berli.


Pukul 04.01 waktu setempat, putra Agam Ben Buana dan Linda Berliana Briliant lahir ke dunia pada usia kandungan masih 31 minggu 6 hari jika dihitung berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT).


Sesuai hasil USG, jenis kelaminnya laki-laki. Berat badan 2197 gram, dan panjang badan 47,3 cm.


Bayi prematur itu tidak menangis, saat ini sedang dalam perawatan intensif di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan belum bisa dijenguk.


Namun telah diadzani oleh ayah Berli dengan deraian air mata saat dilakukan resusitasi oleh dokter spesialis anak ketika masih berada di ruang operasi.


Agam mengetahui hal itu dari catatan penting yang ditulis oleh dokter Rita di dalam notes phonenya. Tim medis yang mendampingi memang telah diperintah untuk mencatat seluruh kronologi yang terjadi pada Linda, baik kronologi medis maupun non medis.


"Pak Dirut, jangan seperti ini, sabar."


Ayah Berli yang matanya sembab dan merah mencoba menenangkan.


Peraturan di rumah sakit ini sangat ketat. Karena kondisi Linda dan bayinya belum stabil, dokter penanggung jawab masih melarang anggota keluarga untuk melihat Linda ataupun bayinya.


"Saya tidak sabar, ingin melihat Linda dan putra saya," gumamnya.


"Anda tenang, ayo minum dulu," Pak Yudha menyodorkan air minum.


"Tidak, Pak. Saya tidak haus," tolaknya.


Mata Agam berkaca-kaca, ia teramat menyesal karena gagal mendampingi Linda di saat-saat tersulitnya.


"Pak Agam, kita harus bersyukur. Ahamdulillah, semuanya diberi kelancaran, ruang ICU dan NICU tersedia, itu juga nyaris tidak mendapatkan ruangan. Hanya ada satu bed kosong untuk ruang ICUnya," terang dokter Rita.


"Ya, Pak. Dan saat LB perdarahan, kebutuhan darah citonyapun tersedia, namun kita masih membutuhkan darah sekitar dua kantung lagi untuk persediaan," tambah dokter Dani.


"Ya, Dirut. Walaupun Linda harus melewati masa-masa sulit, kritis dan hampir kehilangan nyawanya, tapi ... semua hal yang dibutuhkan untuk keselamatannya, telah dimudahkan oleh Yang Maha Kuasa," kata Hikam.


"Ayo antarkan saya ke bank darah, saya mau donor, golongan darah saya dan Linda kan sama," desak Agam.


"Pak Dirut, jangan. Kata dokter Cepy, Anda baru saja pulih, kan? Jangan mendonor dulu, kita sedang mencari kok, Pak." Dokter Dani mengingatkan.


"Kalau tidak mau mengantar, saya bisa pergi sendiri. Jangan berani main-main dengan nyawa istri saya!" bentak Agam.


Ia beranjak meninggalkan tempat itu, Pak Yudha menyusul.


"Dia ternyata orang yang baik," kata dokter Rita saat Agam tidak tampak lagi.


Ayah Berli diam saja. Tadi, ia sempat melihat Agam meneteskan air mata di depan ruang NICU dan membuatnya tersentuh. Artinya, Agam sangat tulus.


Apa jadinya jika Agam mengetahui fakta bahwa dirinya telah membocorkan hubungan Linda dan Agam pada media TV KITA?


Jika sesuai jadwal, berita itu akan dirilis empat hari lagi.


Tapi, bagaimana caranya agar Ayah Berli mendapatkan informasi penting dari putrinya?


Ayah Berli merenung, kondisi Linda tentu saja tidak memungkinkan untuk dimintai keterangan tentang wawancara rahasia itu.


Aku tidak menyangka jika putriku akan terlibat pada masalah seperti ini. Maafkan aku pak Dirut, aku mengatakan semuanya karena ingin kesalahfahaman publik ini segera berakhir. Ya, walaupun nantinya kamu mungkin dihujat, atau bisa jadi akan kehilangan wibawa dan jabatan kamu. Batin Ayah Berli.


"Selamat ya, Pak. Cucu Anda sangat tampan, padahal masih orok (bayi baru lahir)," kata dokter Rita. Ia memang belum sempat mengucapkan selamat.


"Terima kasih, Dok. Mohon doanya ya, semoga cucuku bisa bertahan," lirihnya.


"Kapan kita bisa melihatnya? Coba tanyakan pada dokternya, aku tidak sabar mau lihat penampakan bayinya," sela Hikam.


"Anda siapanya Bu Linda?" tanya dokter Dani.


"Hahaha, aku? Begini-begini juga aku mantannya LB, Dok. Tapi bukan jodohnya," jawab Hikam, mengaku-ngaku. Ayah Berli sedikit tersenyum mendengar ucapan Hikam.


"Wah, berarti Anda rival pak Agam, dong. Ya beratlah kalau saingannya Agam Ben Buana," ujar dokter Rita.


"Hahaha, ya aku juga sadar sih," Hikam tergelak.


"Kita semua ingin melihatnya, tadi mau saya foto, tapi tidak boleh, huhh," celoteh dokter Rita.


"Mirip siapa kira-kira, Rit? Lebih mirip pak Dirut apa bu Linda?" tanya dokter Dani.


"Emm, tadikan sepintas melihatnya. Kurang begitu jelas, pokoknya tampan, anggota tubuhnya sempurna, belum jelas mirip siapanya."


"Ibu dan ayahnya tampan dan cantik, produknya pasti tidak akan gagal," timpal dokter Dani.


Obrolan mereka terhenti saat petugas ICU memanggil keluarga Linda. Mereka terperanjat.


"Apa kita boleh melihatnya?" tanya Hikam.


"Bu LB sudah melewati masa kriritis, boleh dijenguk, tapi hanya dua orang saja, itu juga harus bergantian," kata perawat ICU.


"Kita tunggu pak Agam dulu. Pasti beliau ingin segera bertemu istrinya," kata dokter Dani.


"Aku mau lihat, boleh ya," desak Hikam.


"Hei, Anda siapa? Yang masuk dibatasi, hanya pak Agam dan ayah Berli. Nanti saja kalau sudah di ruang perawatan," kata dokter Rita.


Hikam menghela napas, ia menyadari posisinya.


"Aku masuk dulu," kata Ayah Berli. Ia beranjak untuk menemui Linda, hatinya berdebar-debar.


Air mata Ayah Berli langsung berlinang, ia bersyukur pada Yang Maha Kuasa karena telah menyelamatkan putri dan cucunya.


Tadi, saat ia masuk ke ruang operasi, Ayah Berli tidak henti-hentinya bertasbih, tahmid, takbir, dan bertahlil demi keselamatan Linda dan buah hatinya.


Dan saat ini doanya dikabulkan. Ayah berli sangat bahagia.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Tampaklah Linda yang terbaring lemah. Infus 3 jalur melalui CVC (Central Venous Catheters) terpasang di bahunya. Ada 3 cairan yang tergantung di sana. RL netral, RL dan oksitosin 20 unit, serta transfusi darah.


"Nak ...."


Ayah Berli menghampiri, memegang tangan Linda dan menyimpan tangan itu di dadanya.


"A-ayah ... huuu ...."


Linda langsung menangis sambil meringis. Ya, bekas luka operasi pasti masih terasa di 24 jam pertama pasca operasi.


"Jangan menangis Nak, selamat ya putri cantik Ayah, kamu sudah menjadi ibu, gelar baru untuk kamu. Kamu berhasil menjadi wanita sempurna, Nak." Dengan air mata yang terus berderai, ia mengusap air mata Linda.


Lalu mengecup kening putrinya seraya memanjatkan doa.


"A-apa Ayah sudah memaafkanku?" tanyanya.


"Sudah, Nak. Sudah. Ayah sudah memaafkanmu, jangan meminta maaf lagi. Di mata Ayah, kamu tidak bersalah," Ayah Berli bahkan mengecup tangan putrinya.


"Terima kasih Ayah. A-apa Ayah juga sudah memaafkan pak Agam?" tanyanya lagi.


Dan Ayah Berli terdiam saat Linda bertanya tentang masalah itu.


Diamnya Ayah Berli membuat batin Linda berdesir, ia merasa sakit. Ia berpikir ayahnya belum memaafkan Agam. Padahal, Ayah Berli terdiam karena merasa bersalah pada Agam.


"Nak, kamu istirahat ya. Oiya, ada kabar baik, suami kamu sudah datang."


"A-apa ... benarkah?"


Mata Linda berbinar. Senyumnya langsung tersungging. Kerinduannya pada Agam akan segera terobati.


"Kenapa dia tidak segera melihatku?" keluhnya.


"Dia sedang mendonor darahnya. Tadi memaksa mau donor, Ayah baru tahu kalau golongan darah dia dan kamu sama-sama AB."


"Oh, begitu? Ya Ayah, golongan darah kita memang sama."


Linda terharu mendengar cerita Ayah Berli. Agam ternyata bersungguh-sungguh ingin mendampinginya. Tapi sayang, keinginan Agam tidak terlaksana.


"Ayah ... bagaimana kabar putraku?"


"Baik, Nak. Kamu tenang ya, sedang ditangani, putra kamu tampan sekali, kalau kata Ayah sih dominannya ke suami kamu, mirip pak Dirut," jelas Ayah Berli. Penjelasan ayahnya membuat Linda tersipu.


.


.


.


.


Selesai donor darah, Agam kembali ke depan ruang ICU.


Wajah tampannya tampak lesu, ia sudah tidak sabar ingin bertemu Linda dan putranya. Tiba-tiba menjadi seorang ayah, Agam merasa seperti mimpi.


Apa benar ia sudah menyandang gelar baru sebagai seorang ayah di usia tiga puluh tahun?


"Pak Agam, harusnya Anda istirahat dulu." Pak Yudha khawatir.


"Tidak bisa Pak, saya belum tenang sebelum bertemu Linda."


Ia melangkah cepat meninggalkan Pak Yudha. Kemejanya digulung, plester medis bekas donor masih menempel di lengannya.


"Anda makan dulu ya," tawar Pak Yudha, mengejar Agam.


"Saya tidak lapar," sanggahnya lagi.


Saat tiba di ruang ICU, Agam langsung ditatap khawatir oleh semuanya.


"Ayah mana?" tanya Agam.


"Pak Agam, LB sudah stabil, sekarang boleh dijenguk," terang dokter Dani.


Dokter Dani memberanikan diri memeluk bahu Agam sebagai tanda dukungan. Padahal, hatinya berdebar-debar. Harapnya, ingin lebih dekat lagi dengan Agam sebagaimana dokter Cepy.


"Lepas," kata Pak Dirut. Menepis dokter Dani, ia bukan tipe orang yang mudah akrab.


Respon Agam membuat SKSD dokter Dani gagal. Dokter Rita menahan tawa, ia tahu benar jika sahabatnya sedang carmuk alias cari muka pada Pak Dirut.


"Saya mau ke dalam," Agam tidak sabaran.


"Kita menunggu ayah Berli dulu. Harus bergantian," terang dokter Rita.


Agam mondar-mandir, yang lain duduk, hanya dia yang terus berdiri.


Selain itu, Agam juga menjadi bahan lirikan pengunjung lain, penampilannya yang gagah, tampan, dan berkelas membuatnya tampak berbeda.


Untungnya, warga Pulau Jauh tidak ada yang sadar jika pria itu adalah Dirut HGC, seorang pengusaha muda sukses yang wajahnya sering muncul di berbagai media, terutama media bisnis.


Akhirnya penantian Agam terbayar jua, Ayah Berli keluar, langsung menatap Agam seolah mengisyaratkan agar Agam segera masuk.


Tanpa kata apapun, Pak Dirut bergegas. Bisa dikatakan langsung berlari karena tidak sabar ingin bertemu Linda.


.


.


.


.


Aku datang, sayang.


Hati Agam terguncang, ia merasa bersalah dan gagal.


Deg, Agam menatap istri cantiknya dengan berjuta rasa. Linda memejamkan mata, entah tidur atau bukan, Agam tidak tahu. Perlahan ia mendekat setelah dipersilahkan oleh suster.


Agam duduk di kursi yang disediakan, matanya tak luput dari memandang wanita itu, wanita yang saat ini telah menjadi ibu untuk putranya. Wanita yang rela berjuang mati-matian demi melahirkan generasi penerusnya ke dunia yang fana ini.


"Sss-sa-sayang ...."


Agam tak kuasa menahan gejolak rindu, haru, dan bahagia yang bercampur menjadi satu. Selain rasa itu, ada juga rasa khawatir, ia takut kehilangan Linda atau putranya. Jiwa Pak Dirut benar-benar terguncang.


Tangannya gemetar saat hendak memegang tangan Linda, ia lalu menatap perut Linda yang kembali rata. Kemudian menatap bagian itu yang justru terlihat lebih membesar.


Kini tangan keduanya telah menyatu, merasakan sentuhan itu, Linda membuka mata, ia hafal benar tangan hangat itu milik siapa.


"Pak Agam," ucapnya.


Agam tersentak, ia sedang melamun dan menatap, jadi terkejut saat Linda memanggilnya.


"Linda," spontan merangkul Linda.


"Ahhh ...," Linda malah meringis.


"Kenapa, El? Kenapa sayang?" Agam panik, hampir saja memanggil suster.


"Bekas operasinya masih sakit Pak, tadi terkena lengan Bapak," jelasnya.


"Oh, iya ya. Maaf saya lupa."


Agam akhirnya hanya bisa memegang tangan Linda dan menatapnya lekat.


Lama keduanya saling memandang. Tengah menyelami hati masing-masing dengan rasa yang sulit terungkap dan terucap. Mata keduanya sama-sama berkaca.


Hingga pada akhirnya, untuk pertama kalinya, Linda melihat air mata Agam menetes. Pria itu langsung mengusapnya, lalu tertunduk sambil mencium lama tangan Linda.


Linda ingin membelai rambut Agam, namun tangan kirinya sulit digerakan karena terpasang CVC.


"Maga ...."


Linda memanggilnya dengan panggilan nama itu. Panggilan romantis yang biasanya hanya dikatakan saat mereka sedang bercumbu.


Tapi, Agam masih saja tertunduk.


"Maaafkan saya El .... Maaf tidak bisa mendampingi kamu. Saya merasa jadi suami yang jahat dan tidak berguna. Saya kesulitan mencari tumpangan, jadi terlambat." Posisi masih menunduk dan mencium tangan Linda.


"Pak Agam ... tidak ada yang perlu disesali. Semuanya sudah terjadi. Aku bisa melewatinya, yang terpenting aku sudah sehat. Tapi ... aku belum tahu kondisi anak kita," kata Linda.


"El, terima kasih ya, terima kasih sayang, terima kasih karena telah berjuang untuk putra kita."


Perlahan Agam mengangkat kepalanya. Matanya memerah.


Mereka kembali saling menatap. Agam kemudian mencium kening dan pipi Linda, di bagian bibir ia lewati. Sebenarnya mau juga sih, tapi ... Pak Dirut sadar diri, dan sadar tempat.


"Saya ingin memeluk kamu, El."


"Saya juga mau, Pak. Tapi, perutnya masih sakit." Sambil mengulum senyum.


"Kamu mau makan apa? Tidak, maksud saya, mau apa? Ayo katakan. Saya akan memberikan apapun yang kamu mau sebagai hadiah." Sambil tak henti mengecupi tangan Linda.


"Aku tidak mau apa-apa, hadiah untuk apa? Kalau itu hadiah untuk kelahiran putra kita, aku menolak. Melahirkan itu kodratnya perempuan. Aku ikhlas, tidak ingin menukarnya dengan hadiah apapun," tegas Linda.


"Sayang, kamu salah faham, hadiah itu maksudnya sebagai ungkapan rasa syukur. Saya tahu tidak bisa membayar perjuangan kamu walaupun dengan nyawa sekalipun," katanya.


Linda tersenyum mendengar ucapan Agam, ia menatap wajah Agam dan berkata ....


"Kata ayah, putra kita lebih mirip Pak Agam."


"Benarkah? Hmm, sudah saya duga."


"Kok Bapak tahu? Percaya diri sekali," goda Linda.


"Waktu membuatnya kan saya yang mendominasi," bisiknya.


"A-apa?" Pipi Linda bersemu merah.


"Pak ... emm ... apa pada saat itu Bapak berdoa dulu?" tanya Linda.


"Maksudmu?" Agam belum faham.


"Aku iri dengan pasangan lain, aku yakin Bapak tidak berdoa saat melakukannya. Artinya, putra kita terlahir dari air yang tidak disertai doa," kata Linda.


"Hmm."


Agam mengerutkan alisnya sambil tersenyum. Kalimat Linda menuntunnya untuk mengingat kembali hari bersejarah itu.


Dan jawaban Agam membuat Linda kaget setengah mati. Sangat di luar dugaan.


"Bisa jadi saya adalah satu-satunya pemerkosa di dunia ini yang berdoa dulu sebelum beraksi," bisiknya.


"A-apa? Se-serius?" Linda tidak percaya.


"Serius sayang, pada saat itu saya spontan berdoa. Kalau dipikir-pikir lucu juga sih."


"Bapak hafal doanya?" Lagi, Linda masih tidak percaya.


"Kamu tidak percaya? Saya hafal karena tuan Deanka. Saat dia sedang menghafal sesuatu, maka saya akan diperintah untuk menghafalnya juga. Saya juga tidak tahu motif dia menghafalkan doa itu. Padahal pada saat itu ia dan nona Aiza belum menikah," jelas Agam.


Linda jadi tersenyum-senyum.


"El ...."


"Ya," kata Linda.


"Apa masa nifas bisa dipersingkat?" tanyanya.


"Apa?" Dijawab oleh cubitan kuat di pipi Agam.


"Awwh, El sakit, tahu." Mengusap pipinya.


"Bapak tidak lihat aku masih tak berdaya seperti ini? Kenapa tanya-tanya masalah itu?" Linda cemberut, bibirnya mengerucut.


"Maaf sayang .... Kalau kamu tidak bisa menjawab, biar saya tanya dokter Fatimah saja," goda Agam.


"Jam besuknya sudah habis, Pak." Seorang suster datang.


Pertemuan dan obrolan manis itu harus berakhir untuk sementara waktu.


"Saya pergi dulu sayang, sampai bertemu kembali di ruang perawatan." Agam mengecup kembali kening Linda sebelum meninggalkannya.


Linda bahagia, tubuh dan hatinya seolah menghangat dan nyaman. Matanya kembali terpejam, bibirnya tersenyum.


Selamat atas gelar barunya untuk Pak Dirut dan Bu Linda, semoga putra yang dilahirkan disehatkan jasmani rohaninya, selalu dalam lindungan-Nya, dan kelak akan tumbuh menjadi generasi yang berguna untuk agama, bangsa dan dunia. Aamiin.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Maaf mengganggu Anda, Tuan Yo."


"Katakan cepat! Ada apa? Aku lelah nih, baru terbang dari tempat jauh," keluhnya.


"Tuan Yohan, kata Meta, nona Sea mau mukena," ucap asistennya.


"Ya ampun, belikan saja! Kenapa harus tanya dulu? Oiya, belikan satu untukku, aku mau mencobanya."


"Apa?! Hahahaha. Upps, maaf Tuan." Sang asisten menutup mulutnya.


"Berani kamu ya tertawa di depanku! Apa yang kamu tertawakan, hahh?!" bentaknya.


"I-itu Tuan, apa Anda yakin mau mencoba mukena? Mukena itu untuk perempuan."


"Apa?! Bukan makanan? Kukira makanan. Apa kosmetik khusus perempuan?"


"Bu-bukan Tuan, mukena itu busana beribadah khusus untuk wanita, selama ini nona Sea selalu menggunakan selimut," jelasnya sambil menunduk karena menahan tawa.


"Apa?! Begitu ya. Ya sudah belikan saja! Pergi!" usirnya.


Yohan menghela napas, jelas ia tidak mengenal istilah mukena. Artinya, kepercayaan Yohan dan gadis itu berbeda.


.


.


.


.


Ini penampilan terbaru Yohan Nevan Haiden. Warna rambutnya bisa berubah dalam beberapa jam sesuai dengan mood. Terlihat sedikit garang, ya dia memang seperti itu. Tapi setelah mengenal 'Sea' ia telah banyak berubah.





*Jangan lupa* ***vote***, *like, dan komen jika berkenan, terima kasih*.