AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Terpesona VS Pembajakan



Rumah Sakit Internasional, The Number One


"Pak Agam ...." Sapa Linda.


Sapaan itu mengagetkan yang sedang perang batin. Agam langsung duduk, dan kikuk. Merasa bersalah pada Linda dan juga malu pada dirinya sendiri.


"Kenapa belum tidur? Kapan Bapak datang?" tanyanya.


"Datang baru saja, saya tadi sudah tidur di HGC," jawabnya. Lalu mendudukan diri di sofa.


"Oh," kata Linda, bingung mau mengatakan apa.


"Kamu kurang minum?" tanya Agam, matanya menatap tajam pada produksi urine yang terdapat para urine bag.


"A-apa?" Linda kaget.


"Air pipis kamu warnanya pekat," kata Agam. Dan tentu saja membuat Linda malu.


"Pak Agam, apa-apaan sih, untuk apa memperhatikan itu? Aku malu tahu." Spontan tangan Linda menutupi wajahnya.


Dia bahkan memperhatikan air pipisku. Idih, memangnya kamu dokter?


"Saya akan panggil dokter Fatimah, bisa-bisanya dia tidak peduli akan hal ini. Kalau kamu dehidrasi kan bahaya."


Agam hampir saja menekan bel, namun Linda segera meraih tangan Agam.


"Pak, aku kan tadi puasa, terus baru makan sekali. Sebelum operasi, puasa 6 jam, setelah operasi aku puasa 4 jam, jadi wajar kalau aku kurang minum. Tadi masih sedikit pusing, jadi makan dan minumnya belum banyak seperti biasa," terangnya.


"Ya, saya tahu, tapikan kalau suster melihat air pipis kamu pekat, harusnya suster lapor dokter dong, bisakan cairan infusnya dinaikan kebutuhannya?!" bentaknya.


Posisi Agam, sudah berdiri, wajahnya terlihat marah. Mungkin, karena Linda istimewa, Agam jadi lebih posesif. Hmm, bisa jadi.


"Pak Agam, ini hal sepele, kenapa harus marah sih? Lagipula akunya tidak apa-apa," kata Linda.


"Saya sudah bayar mahal seluruh fasilitas di sini! Huhh, saya tidak puas," dengusnya. Kembali, tangannya hendak meraih bel.


"Aku tidak suka Pak Agam seperti itu." Linda memalingkan wajah.


Tangan Agam menggantung di udara. Tidak jadi menekan bel. Sekarang jadi lemah saat melihat Linda kesal.


Aku tidak boleh membuatnya marah, aku harus menahan diri. Batin Agam.


"Maaf, jangan marah." Kini meraih tangan Linda, tapi ditepis.


"El," sapanya lagi.


"Aku sedang marah, jangan sentuh." Linda masih memalingkan wajah.


"Oke, saya minta maaf."


Agam menghela napas, kenudian beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan shalat malam, mengikuti kata hati kebaikan.


Linda menatapnya terpukau ketika melihat Agam memasuki ruangan khusus yang untuk beribadah. Dinding dari ruangan itu sebagian besar terbuat dari kaca. Jadi, Linda bisa melihat apa yang dilakukan oleh Agam.


Saat pria itu sedang beribadah, ketampanannya seolah bertambah jutaan kali lipat. Jika bisa, Linda ingin menjadikan Agam sebagai imamnya menit ini juga.


Spontan bibir cantik itu tersenyum, terkadang Linda merasa tersanjung karena dicintai oleh seorang Agam.


Kenapa tersanjung? Karena Agam memiliki segalanya. Sedangkan dirinya? Hanya memiliki cinta.


Beberapa saat kemudian, Agam keluar dari ruangan itu, wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya.


Lalu ia mengupas buah mangga. Buah itu berasal dari paket bingkisan yang dibelinya kemarin siang. Satu paket lagi diberikan oleh Agam kepada perawat yang berada di ruang ICU.


"Pak Agam, aku tidak mau makan buah di jam sepagi ini," kata Linda.


Agam tidak menjawab, ia hanya tersenyum.


"Serius Pak, takut sakit perut," tambah Linda.


"Hehehe, ini untuk saya, bukan untuk kamu. Ini manis, tidak akan membuat sakit perut. Memakan buat yang manis di jam-jam sepagi ini menyehatkan percernaan."


"Apa? Ya ampun, aku kira untukku." Linda sedikit malu, ia jadi tesenyum.


"Besok siang, eh maksud saya hari ini jika tidak ada kendala, ayah kamu akan tiba di pelabuhan kota pukul 4 sore."


Pria itu menghela napas, mulai menikmati buah mangganya sambil menatap tetesan cairan infus, namun dengan tatapan kosong.


"Pak ... aku bahagia, tapi ... aku juga takut. Aku takut ayah tidak merestui kita," lirih Linda.


Matanya menerawang menatap langit-langit kamar berwarna biru muda yang dihiasi oleh bola lampu kristal berwarna kuning di setiap sudutnya.


"Linda."


"Ya ...." Linda menoleh, Agam sedang mengelap bibirnya dengan tissue.


"Jika ayah kamu tidak merestui kita, apa yang akan kamu lakukan? Mau membantah, atau ... kamu akan patuh pada ayah kamu?"


"Aku bingung, Pak."


Linda membalikkan badan menghadap Agam. Kepalanya bertumpu pada sikutnya.


"Kenapa bingung?" selidik Agam.


Padahal, Agampun sama dengan Linda, ia juga bingung.


Awalnya, Agam bertekad akan melakukan cara apapun demi mendapatkan restu, tapi ... setelah tadi ia berdoa, tekad itu seolah menguap. Ada perasaan takut semakin dibenci oleh ayah Linda jika ia menggunakan gaya ala Haiden untuk mencapai sebuah tujuan.


Tapi ... perasaan cintanya pada Linda teramat dalam. Lagipula, janin yang ada di dalam rahim Linda adalah miliknya. Apa tega ayah Berli mengesampingkan kenyataan itu?


Agam mendekat, lalu meraih tangan Linda yang terpasang infus.


"Sebenarnya, saya juga bingung," keluhnya.


"Terus apa yang harus aku lakukan Pak? Aku mencintai Pak Agam, tapi ... aku juga tidak mau menjadi anak durhaka." Mata Linda mulai berkaca-kaca.


"Saya menyesal telah mengirim anak buah saya ke Pulau Jauh, harusnya saya sendiri yang menyempatkan datang ke sana." Sambil mengelus tangan Linda.


"Pak Agam kan kerja, harus mengurus HGC."


"Ya, tapi ... kata anak buah saya, ayah kamu mengumpat saya, dia mengatakan saya pecundang, sombong, angkuh, arogan, serta sengaja merayu kamu dan keluarga kamu dengan harta."


"Apa? Kok ayah bisa mengatakan itu?" Linda keheranan.


"Itu gara-gara saya. Saya menyuruh anak buah saya untuk membeli mainan untuk adik-adik kamu, dan perlengkapan lainnya. Ayah kamu marah karena anak buah saya memberikannya terlalu banyak." Agam menghela napas.


"Ayah kamu juga marah saat mengenali salah satu dari anak buah saya. Dulu, saat ayah dan ibu kamu masih ada di kota ini, setiap hari saya menyuruh orang-orang saya untuk memborong semua buah di kedai ayah kamu. Ayahmu semakin salah faham."


"Mungkin mengartikan saya sebagai pria yang membeli kehormatan kamu dengan harta. Padahal, dari awal saya memang ingin bertanggung jawab." Agam meletakan telapak tangan Linda di keningnya. Lalu memejamkan mata.


Rupanya hati pria itu benar-benar tengah dirundung kegundahan dan kekhawatiran. Dan Linda terkejut saat itu juga.


"Pak, Bapak demam lho." Linda hampir saja duduk, namun ....


"Auwwh," ia baru sadar belum pulih total.


"Perlu panggil dokter?" Kini Agam yang panik.


"Tidak perlu, Pak. Tapi aku serius kening Pak Agam panas."


"Ah, masa sih? Saya merasa baik-baik saja," elak Agam sambil mengangkat bahunya.


"Serius, Pak. Coba cek saja, di tas Bapak biasanya ada termometer, kan?" Linda memaksa.


"Hmm, tidak perlu," kata Agam. Bibirnya tersenyum melihat Linda panik.


"Ya sudah, aku mau panggil dokter." Linda memaksakan diri untuk duduk, walapun sedikit meringis.


"El, tidak perlu. Baik akan saya cek," katanya. Sambil membantu Linda untuk berbaring lagi.


"Kamu semakin cantik," bisik Agam.


"Semua perempun cantik, Pak." Linda malah cemberut.


Dengan malas, Agam meraih tasnya untuk mengambil termometer. Lalu menghisap ujung termometer itu di ujung bibirnya.


"Pak Agam, kok dipakainya di situ? Tidak di ketiak?" Linda melongo.


Agam hanya mengedipkan mata, tidak bisa mengatakan apapun sebelum termometer elektrik itu berbunyi.


'Tiiit ....' Selesai.


"Saya lebih suka menggunakannya seperti ini. Di mulut lebih hangat, jadi responnya lebih cepat," katanya. Matanya menyipit saat melihat hasilnya.


"Berapa?" Linda penasaran.


"Normal," Agam berbohong. Padahal hasilnya 38,4 °C.


"Em, oke ... saya jujur. Ya, memang demam. Tapi saya merasa baik-baik saja. Hahaha, mungkin ini efek mau bertemu calon mertua, namamya sindrom demam mertua efek," jelasnya.


"Apa? Memangnya ada sindrom seperti itu? Yakin tidak perlu obat?" Linda tetap khawatir.


"Yakin lah. Saya kadang suka seperti kalau gugup. Mungkin kalau memeluk kamu bisa sembuh," dalihnya. Seraya mendekat ke arah Linda.


Yang didekati langsung menarik selimut dan pura-pura tidur.


"Jangan mendekat," kata Linda di balik selimut.


"Hahaha, siapa yang mau mendekat? Saya mau tidur di sini."


Ternyata Agam merebahkan dirinya di sofa. Linda mengintipnya sambil tersenyum, namun sebelum memejamkan mata, Linda berkata ....


"Terima kasih telah memperbaiki mahkotaku," lirihnya.


"Hmm, tidak perlu berterima kasih, itu hak kamu," sahut Agam. Matanya mulai terpejam, sementara tangannya mulai merayap membuka kancing kemejanya.


Ya, dia memang selalu tidur tanpa baju.


"Kenapa bajunya selalu dibuka? Apa tidak kedinginan?" Linda masih mengintip ternyata.


"Hmm, saya mau pakai selimut kok, tapi tetap harus buka baju. Cepat tidur, El. Kenapa mengintip terus? Kamu suka dengan tubuh saya?" Agam melirik.


"A-apa? Tidak kok, aku tidak mengintip. Jangan asal menuduh ya."


Secepatnya Linda membalikan badan memunggungi Agam. Jantungnya berdegup. Tadi sudah terlanjur melihat badan Agam. Terlihat gagah, roti sobeknya pas, mulus dan aduduh sekali.


Linda mengatur napas, dan memegang dadanya. Tidak diragukan lagi, ia sudah tergila-gila.


Semakin sering melihat Agam, Linda merasa pria itu semakin tampan saja. Dan ketika Linda ingin melupakannya, ia malah merindu.


Jelas, Agam Ben Buana telah berhasil membuatnya terpesona.


***


Perairan Laut Kepulauan Tenggara


Ayah Berli tampak merenung di salah satu sudut geladak kapal feri berukuran kecil. Di saat penumpang lain tengah terlelap, Ayah Berli malah terjaga.


Suasana menjelang pagi di tengah lautan terasa dingin dan lembab. Mungkin, Ayah Berli merasa tidak nyaman, atau ... dia tengah memikirkan hal lain.


Matanya menatap nun jauh ke sana, pada lautan yang luas terbentang sejauh mata memandang.


Sesekali matanya beredar menyelidik titik-titik kerlipan pijar yang menyemai di samudra. Sungguh pemandangan yang menawan, mahakarya Sang Pencipta alam semesta.


Benar ternyata, saat ini pikirannya tengah terombang-ambing jua, layaknya kapal feri yang tengah terombang-ambing mengarungi lautan, menerjang ombak, menghalau badai.


Di sisi Ayah Berli tampak seorang pemuda, tinggi, sedikit kurus, berkulit putih dan berwajah menarik. Pemuda itu tertidur pulas dengan tas ransel sebagai bantalnya.


Sementara di buritan kapal, empat orang pria tegap tampak mengobrol dengan temannya. Salah satu dari mereka sesekali berjalan ke geladak untuk mengawasi Ayah Berli.


Tepat sekali, para pria tegap itu adalah anak buah Agam yang ditugaskan menjaga Ayah Berli sampai ke kota dengan selamat.


Dan pemuda di samping Ayah Berli adalah Hikam Masyhur. Pemuda yang katanya baik hati, siap menikahi Linda, dan mau menerima Linda apa adanya.


Hikam juga telah bersedia menjadi ayah sambung untuk anak yang dikandung Linda. Sebenarnya, Linda adalah cinta pertamanya Hikam saat ia dan Linda masih kanak-kanak.


Saat Linda kelas 6 sekolah dasar, Hikam kelas 1 sekolah menengah atas. Saat ia mau menyatakan perasaannya, Linda, ayah, dan ibunya sudah pindah ke kota.


.


.


.


Kembali lagi ke geladak, Ayah Berli kini mengalihkan pandangan pada pemuda di sampingnya, ditatapnya wajah Hikam dalam-dalam. Ia merasa jika wajah pemuda ini terasa menenangkan jiwanya.


Sangat berbeda dengan pemuda gagah yang satu satu itu. Ya, mata dia memang sayu, dia juga tampan dan mapan, tapi ... saat Ayah Berli menatap wajah itu di layar televisi, rasa sakit dan amarah di hatinya selalu tersulut.


Terbayang lagi kenangan buruk itu, saat putri sulungnya yang cantik diseret polisi, saat dia menangis dan mengatakan telah diperkosa, dan teringat jua saat istrinya bercerita jika sekujur tubuh putrinya dipenuhi oleh noda pelecehan dan penghinaan itu.


"Yah, tubuh putri kita sampai merah-merah dan membiru. Aku yakin jika pria yang memperkosa putri kita bukan manusia, tapi binatang buas."


Ucapan Bu Ana sang istri, kembali terngiang.


"Kita telah gagal menjadi orang tua Yah, aku melihat di tas Ia ada kartu tanpa batas. Apa anak kita jual diri? Atau dia benar-benar diperkosa?"


Ayah Berli menunduk, meletakan kepala di kedua lututnya. Lalu terngiang lagi kalimat lain dari istrinya.


"Aku tidak mau tinggal di kota ini lagi, Yah. Ayo kita pulang. Aku tidak sanggup mendengar olok-olokan para tetangga dan gosip-gosip di televisi. Mereka mengatakan kalau Ia wanita nakal. Ia menang nominasi desas-desusnya karena jual diri. Aku malu, aku gagal."


Ayah Berli meremas kepalanya, apa gerangan dosa yang pernah ia lakukan hingga diamanatkan putri seperti itu? Kenapa putri sulungnya selalu membuat masalah? Kenapa kecantikannya tidak diimbangi dengan kecantikan hatinya?


Lebih baik Linda terlahir biasa-biasa saja, pikirnya. Daripada cantik-jelita tapi selalu membuat ia dan istrinya membatin.


Dulu, setelah ia tahu jika Agam adalah pelakunya, Linda menolak melaporkan pada polisi karena alasan 'Pasti akan kalah di pengadilan.'


Namun baru-baru ini, putrinya malah tampil di depan publik dan mengatakan ....


"Ya, aku memang hamil, tapi ... hamil karena kesalahanku sendiri. Lima bulan yang lalu aku menghina seseorang, aku memakinya, memfitnahnya, mencacinya dengan kata-kata kasar, bahkan aku meludahi wajahnya."


"Pria itu akhirnya marah, ia tidak terima atas penghinaan dan fitnah itu. Dia melampiskannya dengan memperkosaku. Sebenarnya ... dia adalah pria baik, pria tampan, dan pria istimewa yang baru pertama kalinya aku temukan."


"Kenapa kamu menjadi seperti itu, Nak? Kamu sudah diperbudak oleh harta dan kekuasaan dia," lirihnya.


Ayah Berli tidak terima atas ucapan penghargaan berlebihan dari Linda untuk Agam.


Bisa-bisanya Linda mengatakan Agam pria baik, tampan dan istimewa. Padahal, jelas-jelas Agam lah yang telah menghancurkan masa depan dan kariernya.


Apa kamu begitu mencintai pria itu? Memangnya apa yang sudah dilakukan pria bejad itu sama kamu, Nak?


Kenapa kamu tega melukai perasaan Ayah dan ibu hanya demi dia? Apa karena dia kaya, dan ayah miskin? Apa benar motif kamu adalah harta? Apa menjadi selebriti menuntut kamu jadi semurah itu?


Nak, hidup hanya sekali, tidakkah kamu sadar jika kamu salah? Apa ini salah Ayah? Ya, ini salah Ayah. Ayah kurang membentengi kamu dengan pondasi agama.


Apa kamu tahu, kamu bisa menarik Ayah ke neraka, Nak? Bagaimana ini? Ayah takut akan suatu saat harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu di hadapan-Nya.


Kemarahan Ayah Berli kian menjadi saat rumahnya didatangi kembali oleh anak buah Agam yang mengatakan jika M. Setyadhi yang merupakan adik kandungnya ditemukan jadi pasien terlantar, dan saat ini telah dipindahkan ke sebuah rumah sakit internasional atas rekomendasi Dirut HGC.


Mentang-mentang dia kaya, seenaknya saja dia memindahkan adikku ke rumah sakit lain. Kenapa pria itu seolah memiliki kuasa penuh terhadap keluargaku? Kamu tidak sopan Agam Ben Buana.


Tangan Ayah Berli mengepal.


"Ayah ... perjalanan kita masih jauh. Tidurlah." Pemuda itu mengusap bahu Ayah Berli.


Ayah Berli menolah dan tersenyum ramah pada pemuda itu.


"Hikam, terima kasih ya. Semoga Linda mau menerima kamu." Ayah Berli mengusap rambut Hikam.


"Ayah, Linda itu anak baik. Hanya saja ... saat ini sedang terpengaruh oleh pria itu. Aku yakin dia akan patuh pada Ayah dan menerimaku. Linda seperti itu bisa jadi karena diancam."


Hikam lalu duduk, dan memeluk bahu Ayah Berli.


"Walaupun Linda mengandung anaknya, jangan sampai Ayah merestui mereka. Keselamatan Linda bisa terancam kalau menikah dengan dia, Ayah. Desas-desus yang beredar, Dirut HGC itu terlibat dengan sebuah organisasi gelap, organisasi bawah tanah," bisik Hikam dengan tatapan polosnya.


"Benarkah? Kamu tahu dari mana?" Ayah Berli menatapnya.


Belum juga Hikam membuka mulut untuk menjawab, dari arah buritan kapal terdengar suara tembakan.


'DOR.'


Dan dari dalam feri terdengar riuh keributan para penumpang. Samar-samar terdengar teriakan.


"Ada perompaaak!"


"Tolooong!"


"Ada perompaaak!"


Sontak Ayah Berli dan Hikam berdiri dan terkejut.


Lalu empat orang pria tegap dari buritan kapal berlari cepat dengan senjata api di tangan mereka masing-masing masuk ke dalam area penumpang.


"Raise your hands (angkat tangan)!" teriak salah satu dari mereka.


"Ayah ayo kita bersembunyi!"


Hikam secepat mungkin mengambil tasnya dan menarik tangan Ayah Berli untuk bersembunyi di dekat anjungan kapal, namun saat kaki mereka akan menaiki titian, seorang yang diduga perompak atau istilah lainnya bajak laut, tiba-tiba melompat dari haluan kapal dan memiting leher Ayah Berli.


Perompak itu juga menghunuskan pisau, matanya memutar dengan bola mata kemerahan, dan mulut yang berbau alkohol.


"Serahkan harta berharga milik kalian! Kapal ini sudah dibajak! Nahkoda yang saat ini membawa kapal adalah kawanan kami, hahaha," teriaknya.