AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Gurindam Tak Bersyarat



Gama menatap Freissya dari kejauhan, dari arah yang tidak diketahui Freissya tentunya. Ternyata, pria yang dewasa sebelum waktunya itu tidak benar-benar pergi.


Tidak bisa dibayangkan bagaimana bahagianya perasaan Gama saat ini.


Bagaimana tidak?


Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Freissya kembali lagi. Memanggil namanya, mencari dan menagis untuk dirinya.


Tapi, Gama tidak ingin sembarangan menafsirkan prilaku Freissya.


Ia harus memastikan jika Freissya benar-benar mencintainya. Gama tidak ingin perjuangannya untuk mendapatkan Freissya sia-sia. Ia akan terus memantaunya, menjaganya, dan melindunginya dari jarak yang tidak bisa dijangkau Freissya.


Ia ingin membuktikan pada gadis yang telah menodai kesuciannya itu bahwa dirinya layak dicintai dan tidak ada hubungannya dengan keluarga Haiden.


Ingin rasanya saat ini juga ia menemui Freissya dan memeluknya.


Tapi ... ditahan-tahan.


Misi Gama adalah ... ia ingin Freissya sendiri yang datang kepadanya dan menyatakan cinta. Sebab dari sisi Gama, ia telah mengungkapkannya berkali-kali.


"Maafkan aku Ice ...," gumam Gama saat ia melihat Freissya berjalan gontai dan kembali ke dalam mobil. Sementara matanya masih mengitari area itu.


Karena melihat sinyal baik dari Freissya, Gama akan memohon pada Agam untuk tidak pindah ke luar negeri dan tinggal bersama paman Yordan. Gama akan melakukan apapun keinginan Agam Ben Buana, asalkan tidak harus melanjutkan kuliah di luar negeri.


Setelah mobil taksi yang membawa Freissya menjauh, Gamapun pergi. Tujuannya adalah firma. Ia akan tinggal bersama pengacara Vano untuk sementara waktu.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Yohan menatap keluar. Pagi ini, ia sedang berada di sebuah area pertokoan bersama asistennya.


"Jadi benar peci ini etikanya harus dipakai dengan celana panjang?" tanyanya pada diri sendiri. Karena asistennyapun tidak mengerti hal tersebut.


"Mungkin iya, Tuan."


"Hmm, ya sudah mari kita pulang. Aku ingin segera melihat wajah Sea," katanya.


"Baik, Tuan."


.


.


.


.


"Di mana dia?" tanya Yohan setelah ia tiba di apartemennya.


"Ada di balkon, Tuan."


"Di balkon? Sialan kalian! Kalau dia mau bunuh diri bagaimana?" sentaknya. Bergegas dengan langkah cepat untuk melihatnya detik ini juga.


Setibanya di sana, Yohan terhenyak. Ia melihat gadis yang dipanggilnya Sea itu sedang melamun. Menatap sinar mentari pagi sambil bergumaman.


"Terima kasih karena Kau telah memberiku kesempatan untuk melihat lagi matahari di pagi ini. Semoga hari ini, aku jadi lebih baik dari hari sebelumnya. Ibadahku semakin baik, dan Engkau semakin mencintaiku," katanya.


"Aku juga memohon agar pria bejad itu segera melepaskanku."


"Aamiin."


Pria bejad.


Kalimat itu membuat dada Yohan sedikit sesak, tapi ... ya ia memang bejad.


Dan Sea terkejut saat membalikan badan dan melihat Yohan.


"Tu-Tuan," katanya.


Langsung mundur dengan tangan gemetaran. Memegang pembatas balkon erat-erat.


"Tenanglah, aku tidak akan memakanmu Sea. Kenapa kamu di sini? Tidak ingin bunuh diri, kan?" Sambil mendekat menyandarkan punggung pada pembatas balkon.


"Ti-tidak Tuan, aku hanya mencari udara segar, matahari pagi baik untuk kesehatan," katanya. Menunduk, memainkan ujung bajunya. Dari bahasa tubuhnya, tampak jelas jika gadis itu sangat ketakutan.


"Aku memanggilmu Sea, tidak apa-apakan?"


"Ti-tidak apa-apa, Tuan." Tubuhnya kian mundur.


Belum juga Yohan mengatakan hal lain, Sea sudah berlari meninggalkannya.


"Sea, tunggu," panggilnya. Tapi ... gadis itu tidak mengindahkannya.


Yohan menghela napas, apa sesulit ini mendapatkan cinta sejati? Pikirnya.


Sea jauh berbeda dari wanita yang selama ini datang sendiri untuk menjadi budaknya demi puluhan gepok uang haram.


Apa masih ada harapan? tanya Yohan dalam batinnya sambil menatap langit.


Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Tapi ... ia sendiri tidak tahu penyebabnya.


"Yohan Nevan Haiden, akan seperti apakah hidupmu di masa depan?" gumamnya.


"Mama ...."


Tiba-tiba ia teringat mamanya, mama yang terbunuh oleh tangannya sendiri demi melindungi orang lain. Lalu teringat papa dan adik perempuannya.


"Kalian di mana? Apa kalian melupakanku?" bergumam lagi.


Pria itu menunduk sambil memegang dadanya, adakalanya ia juga butuh seseorang yang bisa diajaknya untuk berbicara dan mendengarkan keluh-kesahnya.


Tapi ... siapa?


Siapa yang bisa memahami perasaannya?


Sebenarnya, ada banyak kawan yang mengajaknya bermain dan berpesta.


Pun ada banyak wanita yang mengajaknya bercinta tanpa dibayar. Wanita-wanita j a l a n g itu berkata merindukan permainan Yohan yang sangat luar biasa.


Tapi ... Yohan menolak.


Karena yang ia inginkan bukan itu. Yohan ingin sesuatu yang membuat hatinya tenang.


Apa itu?


Ia juga bingung. Tapi ... di lubuk hatinya yang terdalam, selalu ada keyakinan jika suatu saat ia juga bisa mendapatkan ketenangan itu.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Pagi yang cerah, secerah wajah Agam Ben Buana. Ia menyambut pagi dengan senyuman. Kejadian malam ini tidak akan terlupakan. Yakin imunitas dan konsentrasinya naik drastis.


Ya, ia sadar dua hari lagi akan menghadapi sidang etik, tapi ... seperti kata Linda, ia pasti bisa melewatinya tanpa kendala. Sekarang sedang menatap wajah jelita yang semalam begitu patuh namun telah berhasil membuatnya meremang tidak berdaya.


Linda kembali tidur setelah menemani Agam shalat Subuh dan pumping.


"Lelah ya sayang?" gumam Agam, menelusuri wajah Linda, lalu mengecup kedua pipinya.


Ponsel Agam menyala, ada pesan dari Pak Yudha yang intinya menanyakan kabar apakah Pak Yudha dan yang lainnya boleh masuk ke kamar atau belum.


"Boleh." Pesan terkirim.


Agam beranjak membuka kunci kamar perawatan dan membukanya. Lalu mundur satu langkah saat mendapati pasukan di depan pintu.


Ternyata sudah ada Pak Yudha, Ayah Berli, adik iparnya atau si kembar, dokter Dani, dokter Rita, Hikam, suster, dan dokter penanggung jawab Linda di depan kamar tersebut.


Semua menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, pasti mereka melihat rambut basahnya, piyamanya yang belum dikancingkan, dan satu hal lagi, mereka pasti melihat dua buah tanda cinta yang terletak di leher dan dadanya.


Jedug, Pak Dirut mati kutu. Tersipu malu. Segera balik badan sambil berkata ....


"Lanjutkan, saya mau ke toilet," katanya.


Dokter Dani dan dokter Rita saling tatap dan mengulum senyum. Ayah Berli dan Bu Ana menghelas napas. Suster wanita menelan saliva, mungkin terkesima melihat bagaimana indahnya Agam Ben Buana.


Linda terbangun, karena mendengar ocehan Yolla dan Yolli. Iapun terkejut melihat di ruangan itu sudah ramai.


Tapi ... di mana dia?


Mata Linda mencari kesana kemari. Sedang memastikan keberadaan pria yang semalam seperti menjadi orang lain. Begitu manja namun sangat memesona hingga merontokkan batas rasa malunya.


Pria yang mampu membuatnya tiba-tiba ingin .... Segera mengakhiri masa nifas.


Ah, ini gila sih. Linda juga tersipu. Ia menutupi tanda cinta pemberian Agam dengan rambut yang digerai.


"Pak Agam ada di kamar mandi," kata Pak Yudha.


"Oh," kata Linda singkat.


"Yeey, Aka mau pulang," Yolla dan Yolli histeris.


Ada satu orang yang sedari tadi diam saja. Ya, dia adalah Hikam. Hikam sudah mengikhlaskan Linda untuk Agam, tapi ... melihat wajah berseri Agam dengan tanda cinta di tubuhnya membuat Hikam kembali memanas.


Kenapa hidup Agam Ben Buana begitu sempurna? Ia berpikir seperti itu.


Dan Agam keluar dari kamar mandi. Rupanya telah mengeringkan rambut dan merapikan kancing piyamanya.


"Aka Ben," panggil Yolla dan Yolli.


Bocah kembar itu cepat akrab. Wajah Agam yang sedap dipandang mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Mereka berhamburan ke arah Agam. Berjingkrak minta dipangku.


"Hallo cantik," sapa Agam. Segera memangku keduanya di kedua sisi tangan.


Yolla dan Yolli terlihat ceria.


"Aku suka Aka Ben, Aka Ben ganteng," ucap salah satu dari mereka. Entah Yolla atau Yolli, Agam belum bisa membedakan. Mereka kembar identik.


"Terima kasih, kalian juga cantik, tapi lebih cantikan Aka Linda," goda Agam sambil mengerling ke arah Linda yang tersenyum menatapnya.


"Cantikkan akuuu," teriak Yolla-Yolli.


"Oke," kata Agam. Mencium tangan bocah itu dan mengajaknya untuk melihat sesuatu.


"Aka Ben punya sesuatu, mau lihat?"


"Mau-mau."


"Nah ini dia, satu untuk Yolla satu untuk Yolli."


"Apa ini?" Bocah-bocah itu keheranan.


Bu Ana dan Ayah Berli menghela napas. Ia tahu menantunya kaya-raya, tapi ... memberikan kartu tanpa batas untuk Yolla dan Yolli sepertinya terlalu berlebihan.


"Pak Dirut, tidak perlu," tolak Bu Ana.


"Ya, jangan, Pak." Timpal Ayah Berli.


"Ayah, Ibu, saya sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari. Ini ada namanya, Yolla dan Yolli, untuk tabungan pendidikan dan kebutuhan mereka. Mereka sekarang adik saya," kata Agam.


Linda diam saja, yang lain menguping dengan sedikit iri pastinya.


"Kalau Yolla dan Yolli tidak mau, kartunya untuk Bu Dokter ya," sela dokter Rita.


"Hahaha, tidak mauuu, ini punyaku."


"Ya, ya, ini punyaku," kata yang satunya lagi.


Bu Ana berusaha mengambil kembali kartu-kartu itu, tapi Yolla dan Yolli menolak.


"Hasil pemeriksaannya dalam batas normal. Pagi ini boleh lepas infus, sore ini boleh pulang," jelas dokter penanggung jawab.


"Wah, alhamdulillah," seru Pak Yudha.


Semua tampak bahagia tanpa terkecuali.


"Bagaimana dengan bayinya?" tanya Linda.


"Bayinya juga boleh pulang, bisa dirawat dirumah," terang suster.


"Ya, tenang saja kan Pak Agam sudah beli inkubator," kata Pak Yudha.


"Ya sayang," sela Agam.


Linda merenung. Pikirnya, kok bisa ada inkubator di rumahnya? Daya listriknya pasti tidak mencukupi. Dan Linda sedikit bingung, apa Agam kerasan tinggal di rumahnya? Rumahnya sangat sederhana. Berbanding jauh dari rumah Agam.


.


.


.


.


Sore yang dinanti tiba jua. Linda diperbolehkan pulang. Putranya sudah berada di mobil ambulance yang membawa inkubator. Linda dipapah Agam saat keluar ruangan, dan entah dari mana datangnya, wartawan lokal tenyata sudah menghadang rombongan Linda di pintu keluar. Pak Yudhapun tidak bisa memprediksi hal ini.


"LB, LB, tolong katakan sesuatu," teriak wartawan.


Mobil Agam dan Linda dikerubuti. Suasana menjadi riuh. Untungnya rombongan mobil yang membawa bayi sudah pergi terlebih dahulu bersama ayah Berli dan tim medis.


"Bagaimana ini, Pak?" tanya Linda. Menatap Agam yang duduk di sisinya.


"Kalau saya tidak mengizinkan kamu menemui wartawan, apa kamu akan marah?" tanya Agam.


"Kalau suami melarang, aku bisa apa?" jawabnya.


"Emm, Pak Yudha lanjut saja, asalkan jangan ada wartawan yang tertabrak," tegas Agam.


"Baik," mobil lanjut melaju pelan, menyibak kerumunan wartawan.


Linda menatap mereka. Ia sebenarnya ingin menyapa, tapi tatapan suaminya begitu tajam. Agam juga mendekapnya kuat.


"Maaf ya sayang, bukannya saya melarang, tapi kondisimu baru pulih. Kamu butuh privasi," jelas Agam.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Kita mau kemana? Perasaan rumahku bukan ke arah sini?" protesnya.


"Ke rumah kita sayang, semalam saya sudah membelinya. Tapi, rumahnya sederhana, masih lebih besar rumah kita yang di kota," kata Agam.


"Katanya pengangguran, kok bisa beli rumah?"


"Hahaha, saya punya tabungan, El." Sambil menutup mata Linda dengan dasinya.


"Sebentar lagi kita sampai, kamu tutup mata ya."


"Apa?" Tapi Linda patuh. Membiarkan Agam menutup matanya.


Dan Linda yang tertutup matanya membuat Agam berdegup. Yang merekah merah seolah memanggil dan memggodanya.


"Pak Yudha, jangan menoleh," titahnya.


"Baik, Pak." Mata Pak Yudha langsung fokus ke depan.


Sementera Agam langsung beraksi. Apa yang dilakukan Linda semalam rupanya belum cukup.


Linda kaget karena tiba-tiba saja ada yang menyengat. Ingin protes tapi tidak ada waktu. Agam memejamkan matanya. Ia melakukannya dengan hati-hati, berharap agar Pak Yudha tidak mendengarnya.


Linda lemas, beberapa kali mencubit pinggang Agam, tapi ... sengatan itu malah semakin menuntut untuk dibalas.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


~Mister X POV~


Aku terpaksa harus menyimpan perasaanku sendiri. Pastinya perih memiliki perasaan kepada orang dengan cara diam-diam. Aku hanya sanggup melihat orang yang aku sayangi dari kejauhan bersama orang lain. Ya, bisa menyayangi namun tak bisa memiliki. Seperti itulah aku.


Profesiku yang berbahaya menuntutku untuk menyembunyikan identitas dari orang-orang baru yang aku kenal. Demi keselamatan mereka, maka akan lebih baik jika mereka tidak melihat rupaku.


Aku pernah dicintai dan jatuh cinta, tapi ... kekasihku terbunuh tanpa sebab. Sejak saat itulah, aku takut jatuh cinta dan dicintai.


Di keadaan ini, aku hanya mengharapkan cinta dalam doa tanpa berani mencari kekasih.


Memilih untuk diam, memperhatikan dari jauh, atau mendoakan diam-diam, adalah caraku mencintai.


Tapi ... beberapa hari yang lalu, aku menemukan dia. Dia yang tidak bisa melihatku.


Setelah menatap indahnya senja, diam-diam aku berdialog dengan Tuhanku. Aku curhat pada-Nya jika aku tertarik dengan gadis itu.


Gadis yang istimewa, gadis yang tidak bisa melihat indahnya dunia, bahkan dia tidak bisa melihat keindahan dan kecantikan dirinya sendiri.


Kutatap sahabat setiaku, 'Layar monitor.'


Tapi ....


Yang kulihat bukan data, melainkan dia.


Gadis itu ....


Gadis hujanku yang berkaki tiga, dua kaki nan indah dan satu tongkatnya.